perfect places to steal kisses
[2]
lee seokmin (dokyeom) x hong jisoo (joshua)
au, ooc, fluff, yaoi, etc.
typo(s), gaje, etc.
I have my eyes on you
[]
Hong Jisoo memang belum pernah benar-benar mengenal Lee Seokmin secara langsung, belum pernah benar-benar menjabat tangannya dalam senyuman hangat dengan mengucapkan 'salam kenal' atau semacamnya. Ia hanya tahu kalau Seokmin itu adik kelasnya, si pemecah suasana bersama Kwon Soonyoung. Jisoo juga jadi tahu Seokmin karena ia pernah menjadi pembawa acara di ulang tahun sekolah mereka. Saat itu, Seokmin membawakan acara bersama seseorang bernama Choi Yuna dan Jisoo pikir mereka cocok.
Tapi tentang kecocokan mereka, itu memang hanya persepsi Jisoo saja. Nyatanya, rumor semerbak seperti aroma bunga musim semi, melewati kepala orang-orang yang terkaget-kaget mendengar berita itu, mengangkat alis, lalu tertawa tidak percaya.
Apalagi? Ya, rumor tentang Seokmin yang menyukai Jisoo.
Sungguh, Jisoo tidak ingin percaya dengan rumor itu. Ia ingin teman-temannya berhenti membicarakan itu karena ia merasa tidak enak dengan Seokmin, tapi yang namanya rumor segar pasti bertahan beberapa minggu setelah ini. Maksudnya itu, ia 'kan tidak kenal juga dengan Seokmin. Datangnya rumor itu saja ia tak tahu darimana.
Jisoo menghela napas.
Ia melihat Soonyoung menyenandung dan duduk di sebelahnya, hampir menghempaskan diri, menaruh kaleng soda dingin ke meja Jisoo yang penuh buku-buku, tipikal siswa tingkat akhir yang tekun. "What's up," sapanya, mengerling seperti menggoda dan Jisoo menyingkirkan soda itu.
"Terima kasih, tapi tenggorokanku agak tidak enak," kata Jisoo. "Kasih saja ke Junhui, atau siapapun."
"Oh iya, kemarin kau kehujanan, ya." kata Soonyoung. Ia memanggil Junhui yang ada di dekat meja Jisoo, lalu memberi soda itu cuma-cuma, yang diterima Junhui dengan senyuman lebar. Ia fokus lagi pada Jisoo yang sedang mengerjakan sesuatu seperti integral. "Bagaimana?"
Jisoo tidak bergerak, tapi menjawab, "Caranya seperti ini."
"Bukan itu, bro. Aku sudah selesai mengerjakan itu," Soonyoung mendengus. Julukan 'dewa matematika' padanya memang sesuai fakta. "Aku bicara soal adik kelasmu."
Adik kelas Jisoo itu ya berarti adik kelas Soonyoung juga. Jisoo diam sebentar, walaupun tahu apa maksud Soonyoung, tapi ia tetap mencoba menghindar. "Ada apa dengan adik kelas?"
Soonyoung tersenyum jahil. "Eii. Tidak tahu atau tidak mau tahu?"
Jisoo ingin mengumpat tapi ia adalah siswa yang baik maka yang keluar dari lingkupan indra perasanya hanyalah, "Berhentilah, Soonyoung. Bahkan aku tidak mengenalnya."
Soonyoung terkikik aneh. "Khukhukhu, mau kukenalkan? Dibalik segala kebawelannya dan tingkah konyol tidak tahu malunya, ia adalah orang yang baik, kok."
Jisoo bergeming. "Lupakan segala rencana yang kau susun di otakmu itu."
Soonyoung ingin membalas, tapi ia melihat Jihoon masuk kelas dari pintu. Ia tersenyum lebar melihat peri kecilnya itu berjalan menuju arah Soonyoung dan Jisoo, lalu duduk di depan mereka. Di tangannya ada plastik berisi tangkupan roti isi tuna yang dibeli di kantin.
"Hei, Babe."
Jihoon berekspresi jijik, membuat Soonyoung tertawa. "Kau harus berhenti memanggilku seperti itu."
"Kami sedang membicarakan ia dan adik kelasnya," jelas Soonyoung tanpa diminta, menunjuk ke arah Jisoo. "Apa yang kau pikirkan?"
"Mereka cocok," jawab Jihoon tiba-tiba, membuat fokus Jisoo buyar. Si pemilik nama melotot ke arah Jihoon, tidak percaya.
"Jangan berkata sesuatu seperti itu!" katanya, sedikit berteriak sampai kelas memerhatikan mereka. Ia segera menjilat bibir, merasa malu sudah bicara sekeras itu.
Ia malu, tapi Jisoo tidak bilang bahwa ia tidak suka.
Sebutlah takdir, nasib, ketentuan—atau justru keberuntungan?—yang membawa Jisoo sampai pada satu kondisi dimana ia berhadapan dengan Seokmin. Sebenarnya tidak hanya mereka berdua, tapi Guru Yang ada di tengah-tengah mereka, menatap dengan ekspektasi pada dua murid favoritnya itu.
"Aku ingin kalian tampil di festival sekolah yang akan dihadiri oleh guru-guru tamu dari sekolah lain."
Jisoo merasa sangsi, menatap pada si adik kelas tinggi, alias Lee Seokmin, yang punya surai hitam mengesankan itu—rambut halusnya disugar dan membuat dahinya kelihatan. Tampilannya bagus dan ia punya bakat untuk membuat dirinya tampak makin bagus.
"Kami?" Seokmin menyahut.
"Ya, kalian. Kalian itu termasuk murid kebanggan, dan karena tipe suara kalian berbeda, aku ingin sebuah komposisi menarik."
"Tapi kenapa aku? Aku 'kan sudah kelas tiga." kata Jisoo—sedikit-sedikit mencoba agar ia tak disuruh tampil.
Guru Yang mengangkat bahu. "Kalau aku sebut nama kalian, ya kalianlah yang akan maju."
Guru Yang Yoseob sia—Jisoo menghela napas sepelan mungkin, tidak jadi mengumpat. Wajahnya saja yang seperti anak kecil, hatinya tidak.
"Kalian akan mulai latihan besok. Aku akan mengirim partiturnya lewat email, besok harus sudah dicetak dan kita akan gunakan untuk latihan. Sudah begitu saja, kembali sana ke kelas."
"Ya…"
Jisoo tidak mengucap salam apa-apa pada Seokmin dan ia berlalu saja, setelah membungkuk pada Guru Yang. Ya ampun, seandainya saja semua orang tahu bahwa dari tadi Jisoo menahan senyum setiap netranya tidak sengaja bertemu dengan Seokmin.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjadi akrab. Pada dasarnya, Jisoo adalah seorang pendengar yang baik, sementara Seokmin itu suka mengatakan hal-hal yang menarik perhatiannya. Dan lagi, mereka berdua sama-sama tidak membicarakan rumor, maka Jisoo pun merasa santai juga.
Jisoo dan Seokmin memang murid kebanggan Guru Yang—yang berarti adalah mereka sangat berbakat dalam bernyanyi. Dan hal itu dibuktikan di latihan setiap sore mereka yang lancar dan tidak menemukan hambatan berarti. Seokmin dan suaranya itu luar biasa, powerful sekali. Beda dengan suara Jisoo yang lembut.
"Kau cocok untuk menyanyi di atas panggung di depan ribuan orang selama berjam-jam, dan aku yakin suaramu tetap akan se-powerful itu." kata Jisoo, maksudnya adalah pujian. Seokmin tertawa, melepas sedotan dari sela bibirnya karena sebenarnya ia sedang minum.
"Kalau Seonbae itu tipe suara yang akan enak didengar waktu di pantai sepi saat senja, atau mungkin ketika sedang kemah dan acara api unggun." balas Seokmin, rekah manis senyumannya terpasang di wajah.
Jisoo mengulum senyum. Kalau Seokmin bilang begitu, mau tak mau ia jadi berpikir tentang rumor itu lagi.
Mereka bertemu lagi sudah untuk kesekian kalinya, diiringi bisik-bisik dan cekikikan dari orang-orang yang peduli soal rumor tentang mereka, alias teman-teman Seokmin—tapi Jisoo harus memuji betapa Seokmin berusaha untuk bersikap biasa saja. Maka melihat adik kelasnya itu tetap santai, Jisoo pikir ia juga harus berlaku sama.
Mereka latihan dengan sukses, diiringi sedikit canda tawa yang muncul begitu saja dari Seokmin, mencairkan suasana. Begitupun, Jisoo masih merasa sesuatu yang tidak biasa ada di antara mereka, apalagi setelah digoda teman-teman Seokmin tadi. Maka setelah latihan, dan setelah pelatih mereka pamit, Jisoo memutuskan untuk menanyakan rumor itu sambil merapikan isi tasnya, tidak berani langsung menatap si adik kelas tinggi. "Seokmin."
"Ya?" Seokmin sedang menutup botol minumnya, menatap heran pada Jisoo.
"Kau itu tidak terganggu dengan rumor?"
Yang diajak bicara hanya tertawa. "Sudah kuduga Seonbae akan menanyakan hal yang ada sangkut pautnya dengan rumor itu. Kupikir kalau rumor itu tidak benar, maka bersikaplah biasa saja."
Jisoo tidak tahu kenapa ada bagian dari hatinya yang mendadak cekung. "Itu logis juga. Aku tidak tahu kenapa ada rumor seperti itu."
Seokmin mengangkat bahu. "Aku sebenarnya juga tidak tahu."
Jisoo tidak habis pikir. Tapi yang namanya rumor juga kadang tidak jelas penyebabnya apa. Mungkin teman-teman Seokmin yang mengawali, entah karena apa, dan akhirnya malah lelaki tinggi itu yang jadi bulan-bulanan.
"Seonbae?"
Jisoo kedapatan melamun. "Eh, ya?"
Seokmin kelihatan berpikir. "Hmmm, tidak apa-apa. Tidak jadi."
Jisoo menatapnya dengan pandangan datar karena ia sudah terlanjur heran, tapi Seokmin malah tersenyum dan berkata, "Ayo, pulang."
Kalau harus menyebutkan salah satu sifat terbaik yang dimiliki oleh Jihoon, maka Jisoo sudah pasti akan menyebutkan bahwa temannya itu sebenarnya sangat perhatian.
"Jisoo, kau sadar tidak, kalau akhir-akhir ini kau sering membicarakan Seokmin?"
Jisoo mengangkat wajah dari tumpukan kertasnya, menghadap Jihoon yang ada di kiri, "Apa?"
"Kau akhir-akhir ini sering membicarakan Seokmin," kata Jihoon, lagi-lagi tangkupan roti isi tuna ada di tangannya, sudah termakan separuh, dan ia akan melanjutkan makan karena guru mereka sedang keluar.
"Tidak, ah. Hanya perasaanmu saja," elak Jisoo, walaupun ia sendiri tahu bahwa yang dikatakan Jihoon itu kemungkinan besarnya benar.
Jihoon tidak menjawab, hanya binarnya mengamati Jisoo dari ujung mata. Mengunyah dan mengunyah, lalu ia menjawil Soonyoung yang ada di depannya, "Kwon."
Soonyoung menoleh, di pipinya ada bekas bolpoin tapi Jihoon tidak peduli, "Yup?"
"Akhir-akhir ini Seokmin bagaimana?" tanya Jihoon—membuat fokus Jisoo terpecah. Mengapa juga Jihoon harus bertanya soal itu?
"Hmmm… Sedang banyak pikiran. Ia bilang sendiri kemarin." jawab Soonyoung. Jihoon mengangguk-angguk.
"Sana kembali hadap depan."
Soonyoung menurut, ia tak lagi menatap Jihoon dan Jisoo. Sisanya, Jisoo menatap Jihoon. "Kau kenapa sih tanya begitu segala?"
Tapi Jihoon hanya tersenyum malas, dan ekspresi itu benar-benar membuat Jisoo kesal sehingga ia menjitak kepala yang lebih kecil.
Tidak ada Guru Yang membuat Jisoo hari ini malas-malasan latihan. Biasanya ia dan Seokmin akan bernyanyi lebih dari tiga kali, tapi untuk kali ini, Jisoo sudah malas padahal mereka baru latihan sekali. Seokmin sendiri tertawa saja melihat Jisoo yang menaruh kepalanya di atas meja di ruang musik itu, tapi selebihnya ia sibuk dengan ponselnya. Mumpung wi-fi sedang cepat, ia mau mengunduh beberapa video musik baru.
"Seokmin, kau lihat apa?" tanya Jisoo pada Seokmin di depannya.
"Aku lihat video liriknya Don't Go. Bagus." kata Seokmin, lalu menoleh ke Jisoo. "Mau mendengar juga?"
Sebenarnya Jisoo tidak begitu minat, karena ia sendiri sedang malas mendengarkan lagu. Tapi tangan Seokmin sudah terjulur, memberi sebelah earphone sehingga Jisoo merasa canggung jika mau menolak. Akhirnya ia memakainya di telinga kiri, lalu tangan kirinya menopang dagu, mencoba menikmati lagu itu. Jisoo menatap keluar jendela, dimana senja mulai muncul dan di atas tembok beton sekolah yang rendah, ia melihat kucing lewat. Ia mengamati kucing itu.
Lalu merasakan wajahnya ditahan agar menghadap depan—ditahan dengan lembut oleh tangan Seokmin, dan adik kelasnya itu menatapnya, membungkuk melewati meja, mendekatinya dan menciumnya.
Semua terjadi begitu cepat, tapi juga begitu lambat. Jisoo terdiam, tidak tahu harus berbuat apa ketika di bibirnya ada manis dan di telinganya teralun Don't Go.
Seokmin mundur perlahan dan tatapannya bukan tatapan biasa—Seokmin itu segala binar ceria dan terang, lalu sekarang ia menatap lembut dan…
"Seo—seonbae…"
Jisoo tersadar, sesak seolah bunga sedang bermekaran di paru-parunya. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap Seokmin yang linglung, mungkin juga bingung antara mau minta maaf atau apa.
"Seonbae, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf telah lancang. Maafkan aku."
Jisoo menelengkan kepalanya, berekspresi tidak percaya. Ia melepas earphone dan menaruhnya. "Kau sudah menciumku, Seokmin. Hanya minta maaf?"
"Maafkan aku, akan kulakukan apa saja agar Seonbae memaafkanku. Seonbae bisa membenciku sekarang, maafkan aku." Seokmin menunduk, kelihatan jelas kalau ia takut.
Jisoo memajukan tubuh. Kernyitan jelas terpampang di sela dua alisnya. "Jadi rumor itu benar?" tanyanya pelan.
Seokmin mengangguk-angguk. "Ya, aku sudah menyukaimu dari lama. Saat aku bilang kalau rumor tidak benar maka kita harusnya biasa saja, itu sebenarnya aku tidak pernah merasa biasa saja… Aku selalu menyukai Jisoo-seonbae."
"Lalu kau tidak akan melakukan apapun tentang itu?"
Seokmin mendongak, menatap Jisoo yang masih mengernyit. Ia bingung, pertanyaan seperti itu harus dijawab apa?
"Aku tidak tahu harus menjawab apa,"
"Kau tidak bilang padaku, mengajakku kencan, atau apapun?"
Seokmin terlihat makin bingung. "Seonbae… mau kencan denganku?" tanyanya ragu-ragu, atau mungkin malah tanpa sadar ia tanya begitu.
Jisoo mengalihkan pandangan, masih mengernyit tapi semburat kemerahan ada di pipi sampai telinganya.
"Mau."
end
seoksoo bcs I feel 'em so much.
pas di fansign dokyeom ditanyain dia paling nyaman sama siapa, dijawab 'shua' terus dua emot love.
and I'm like
GAAAHHH HELP.
[dan aku ngerasa di ff ini jisoo amat uke… tapi nggapapa deh ya]
p.s : doain ya usbn sama un-nya sukses. hehe.
semoga kalian yg juga mau usbn dan un sukses!
dan semoga diperlancar semua urusannya~
p.s.s : review and support? hehe.
