Three Days

Boboiboy © Animosta Studio

Warn : Typo! OOC, Fem! Ice

Happy Reading ^^

Hello…

Aku membuka jendela dan dengan lembut berbisik

How are you?

Tak ada seorangpun di sini, Aku sendirian di ruang ini

Morning…

Pagi hari datang, sebuah pagi dengan hujan deras

Tick…Tock…

Seseorang, akhirilah lilitanku ini!

*Hello/How are you by Hatsune Miku

Senandung lirih terhapus oleh angin, kelabu tipis bergelung merintih. Gadis itu masih berdiri di sana, jemarinya menelurusi kaca transparan bertuliskan aksara dari titik hujan.

Jendela terbuka, rambut tipisnya tersibak diterpa sang bayu, menghirup aroma sang rinai yang beberapa hari ini tak mengasihi bumi.

Gadis itu rindu akan aroma tanah basah di pagi hari, lembutnya tetesan air yang menyetuh pipi, dan gemerisik dedaunan tersapa angin.

Terima kasih…

Walaupun hanya sekali, Itu akan lebih baik

Jadi, dari lubuk hatiku yang pergi menangis

Aku hanya ingin mengucapkan

"Terima kasih."

Gadis itu berhenti bersenandung, menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan pintu. Lelaki yang biasa menemaninya datang lagi, rambut indigonya sedikit basah akibat rintik air.

Ice mengulas senyum, "Wah wah, kau itu selalu up to date tentang keadaanku. Sampai rela kehujanan sepagi ini hanya untuk menjengukku, kurang kerjaan ya?"

"Diam kau. Orang khawatir malah di ledek, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sakit lagi?" tuntutnya penuh tanya.

Gadis itu terkekeh geli, "Whatever, memangnya aku harus? Memangnya kau siapaku?" ujarnya terduduk membelakangi lawan bicaranya.

"Hei, jangan begitu. Walau terkadang kau itu menyebalkan, aku sudah menganggapmu sebagai adikku." Ujar Fang terbuka.

Ice berbalik, "Hahaha, adik? Kalau menjadi adik Dokter Kaizo sih aku mau, tapi kalau menjadi adikmu. Hmm, ngga deh. Punya kakak sok narsis sepertimu malah bikin ilfeel sendiri." Kata Ice disusul tawanya yang menyenangkan hati.

Fang melipat tangannya di depan dada, mendengus kesal dengan pernyataan Ice tentang dirinya. Tapi di kala seperti ini justru terbesit pertanyaan di pikirannya,

'Dia bisa tersenyum lepas seperti itu, artinya ia tidak sakit, kan? Ya kan? Senyuman itu bukan senyuman untuk mengelabuiku bahwa sebenarnya ia sakit kan? Hanya supaya orang di dekatnya tidak menangis bersamanya?'

Bukan hanya sekali dua kali ia memikirkan hal itu tapi sering ia mempertanyakannya. Ia hanya berharap tawa itu benar atas keinginannya.

Bersikap sok kuat padahal manusia itu lemah.

"Selamat ya, atas hubunganmu dengan Ying." Ucapan Ice menghancurkan lamunan Fang yang sedari tadi memandanginya.

Iris gelap di balik lensa itu memandang tak percaya, "K-kau? Darimana kau tau? Sepertinya aku belum pernah menceritakan apapun padamu."

"Hmm, aku ini pencenayang tau."

Lelaki di depannya memutar bola matanya bosan, "Terserah apa katamu, tapi terima kasih sudah membantuku."

Ice kembali mengulas senyum, "Sama-sama. Tapi awas kalau kau sampai membuat Ying menangis!" acamnya.

"Tenang saja, aku pasti menjaganya. Sebagai balasannya aku juga akan membantumu."

Dahi Ice berkerut, "Membantu?"

Fang tersenyum, "Kau menyukai'nya' kan? Aku akan membantumu juga. Dengan begitu kita impas."

"Apa maksudmu? Aku memang akan membantumu setelah kau membantuku belajar, dengan begitu kita sudah tidak memiliki hutang lagi kan? Itu perjanjian kita. Lagi pula aku dan 'dia' hanya sekedar teman, perasaan seperti itu tak penting untuk kami." Ujar Ice dengan nada bicara yang ringan, seolah hal itu tak penting untuk di bahas.

Ekspresi Fang berubah datar, begitu juga pandangannya, "Untuk kalian atau untuk mu? Jangan membohongi perasaanmu sendiri Ice. Aku tau sebenarnya kau sakit saat 'dia' mengabaikanmu. Itu sudah terlihat sangat jelas. Jangan menyakiti dirimu lebih dari ini."

"Apakah aku pernah bilang padamu kalau waktuku sudah tak cukup banyak untuk melakukan segala hal yang ingin aku lakukan?" ucapan Ice juga terdengar datar dan dingin.

"Bukankah kau sendiri yang mengatakan 'Kau harus segera menyampaikan perasaanmu pada orang yang kau suka, sebelum ia pergi jauh dan kau tak bisa menggapainya lagi'? Apa kau tidak akan menyesal nantinya?"

Ice terdiam, ia sudah kehabisan kata-kata. Cahaya matahari yang menelusup melalui celah awan gelap menjadi waktu pelangi untuk menunjukan diri, sayangnya gadis itu memilih untuk berpaling dari keindahannya dan menunduk.

Sebuah ketukan pintu mengakhiri keheningan di ruangan putih itu. Beberapa perawat masuk bersama troli yang berisi berbagai obat yang telah disiapkan untuk sesi kemotherapi keduanya.

"Ice sudah siap untuk kemoterapi kedua anda?" tanya salah seorang perawat.

Gadis itu mengangkat kepalanya, seraya tersenyum, "Ah, iya. Aku sudah siap."

Ia kembali berbaring, sementara para perawat itu sibuk menyiapkan obatnya, Fang masih belum beranjak dari tempatnya membuat Ice terheran penuh tanya.

"Kenapa kau masih di sini?"

Fang berjalan mendekati ranjang Ice, sambil tersenyum ia berkata, "Aku yang akan menjagamu. Ayahmu ada kepentingan di luar kota yang tak bisa ia tinggalkan, kan? Karena itu beliau memintaku untuk menemanimu hari ini."

Ice menghela nafas panjang, padahal ia sudah bilang akan baik-baik saja sendiri. Tapi kenapa ayah malah meminta Fang untuk menemaninya?

"Hm, terima kasih. Padahal sebenarnya kau tak perlu repot-repot hanya untuk menjagaku."

"Ini tidak merepotkanku." Ujar Fang tanpa melepas senyumannya usai duduk di samping ranjangnya.

Obat mulai disuntikan ke dalam infuse, dan perlahan memasuki tubuh Ice melalui pembulu vena. Rasanya menyedihkan melihat wajah Ice yang pucat, walau ia hanya berbaring tanpa melakukan apapaun ia nampak sangat kelelahan. Belum lagi keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya dan nafasnya yang terasa menipis.

Perlahan Fang menggapai tangan Ice,

'Dingin'

Ice merasakan kehangatan lelaki bersarung tangan fingerless itu hanya bisa melirik, seraya tersenyum untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Fang mengerti maksud senyuman itu, semakin erat menggenggam tangan Ice dan tersenyum.

"Aku tau kau itu kuat. Tidurlah, aku akan menjagamu." Bisik Fang.

Perlahan kelopak mata Ice menutupi iris aquamarine itu, bersama kesadarannya yang memudar, membawanya ke alam bawah sadar yang tak terbatas.

Dan selama itu juga ruangan ini hanya diisi suara detikan jam di dinding. Fang masih terdiam, bahkan sampai para perawat tadi pergi meninggalkan ruangan itu. Netranya tak melepas pandang dari wajah damai Ice yang tengah terlelap.

Suara derikan pintu terbuka dan tertutup kembali yang menciptakan bunyi baru, tak membuat Fang mengalihkan pandanganya.

"Dia sudah tertidur ya?" ujar orang yang baru datang, siapa lagi kalau bukan kakaknya?

Fang hanya mengangguk singkat, "Jika dilihat lebih baik seperti ini daripada harus melihatnya terus menderita, hidup dengan senyuman palsu itu nampak menyedihkan."

"Tapi dia tak semudah itu menyerah pada nasib. Dia masih ingin melihat bagaimana dunia ini berubah."

"Padahal dulu aku tak ingin mengenalnya sampai seperti saat ini, bahkan aku cenderung membencinya karena dia yang selalu menduduki peringkat pertama paralel. Aku tau ini alasan bodoh, waktu itu masa bodo apa yang ia lakukan. Bahkan waktu ia sakitpun aku membentaknya." Fang memberi jeda,

"Tapi saat aku telah mengenalnya, ternyata dia sangat jauh dari yang pandanganku. Dan sekarang, karena ikatan ini aku juga merasakan rasa sakitnya. Dia itu orang yang baik, sangat baik malah. Tapi kenapa justru orang seperti dia yang harus menderita seperti ini?"

"Tidak semua manusia yang baik itu bahagia. Tuhan selalu memberi ujian sesuai kemampuan manusia itu sendiri. Jika Tuhan memberi cobaan seberat ini, artinya Tuhan percaya dia cukup kuat untuk melewatinya. Jika Tuhan saja percaya kenapa kau yang temannya tidak?" ucap Kaizo panjang lebar.

"…" Fang tak merespon,

Kaizo melangkahkan kaki mendekati sang adik, "Pulanglah, biar aku yang menjaganya. Kau juga butuh refresing setelah UAS kemarin."

Jemari Fang mengelus lembut tangan Ice yang bahkan ia bisa merasakan struktur tulangnya, sekarang Ice menjadi lebih kurus dari sebelumnya.

Fang menarik nafas berat, ia bangkit dari duduknya. Perlahan ia melepas genggaman tangannya, tak ingin membangunkan putri tidur itu.

"Get well soon ya. Terima kasih telah datang di hidupku." Gumamnya tak lepas dari senyum.

Sekilas ia membelai lembut surai rapuh Ice sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu. Walau hatinya merasa berat untuk meninggalkan tempat ini, tapi ia tetap percaya dengan ucapan kakaknya.

"Aku akan kembali setelah jam makan siang nanti." Ucap Fang diambang pintu.

Kaizo tidak merespon, hanya seulas senyum ia tunjukan atas empati Fang pada pasiennya satu ini.

Lelaki berkanta ungu itu masih bertahan di depan ruang rawat inap, memandang kosong pada pintu bercat putih. Ia menghela nafas,

"Ku harap kau tidak semudah itu untuk menyerah, Ice,"

Baru saja ia ingin melangkah meninggalkan tempat itu, tapi seseorang yang memanggil namanya menahannya untuk sekedar menoleh ke sumber suara. Iris netranya membulat, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya ketika ia menjumpai yang menyapanya adalah,

"Y-Ying!? Apa yang kau lakukan di sini?" Fang terkejut.

Gadis itu berjalan ke arahnya, "Oh, aku? Aku mengantar mamaku menjenguk temannya. Kau sendiri?"

Fang nampak enggan untuk menjawab pertanyaannya, tapi malah akan membuat Ying curiga. Memutar otak dia, untuk mencari alasan yang logis.

"A-aku, aku mengunjungi kakakku."

"Kakakmu? Kakakmu juga dirawat di sini? Sakit apa memang?" Tanya dengan serentetan pertanyaan.

"B-bukan itu yang ku maksud, ehem.. Kakakku seorang dokter, aku hanya ingin mengunjunginya saja. Ini hari Minggu, seharusnya waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Tapi kakakku malah sibuk dengan pekerjaannya, jadi hari ini aku ingin menemuinya."

Ying mengangguk-angguk, sepertinya alasan Fang bisa diterimanya. Ia bisa lebih bersikap biasa sekarang, walau sebenarnya ia juga malu-malu kucing menghadapinya.

Cklek…

Tiba-tiba orang ketiga muncul dari ruangan Ice, siapa lagi kalau bukan Kaizo.

"Fang? Kenapa kau masih di sini?" tanyanya.

"Ah, itu…" Kaizo membaca pandangan Fang mengarah ke Ying, dipandangnya sosok itu.

"Kakaknya Fang ya? Perkenalkan, namaku Ying." Ujar Ying memperkenalkan diri sedikit membungkuk.

"Ah, aku Kaizo, salam kenal juga. Kau satu sekolah dengan Fang kan? Apa dia sering berulah di sana?" ujar Kaizo sambil merangkul Fang yang hanya setinggi telinganya.

"Jangan anggap aku anak kecil kak." Berontak Fang dengan melepas rangkulan Kaizo.

Ying terkekeh melihatnya, "Tidak. Dia murid yang teladan kok."

"Heh? Benarkah? Padahal saat dia di rumah sikapnya seperti anak berumur lima tahun. Ah iya, aku jadi ingat saat dia masih kecil, dia bahkan tak bisa menyebutkan namanya dengan benar. Ya kan Pang?" Ucap Kaizo bernostalgia.

"Itu waktu aku masih berumur 5 tahun. Sekarang berhenti membuka kartu orang!" Protesnya.

Untuk sesaat atmosfer dipenuhi tawa, kecuali untuk Fang yang hanya mempoutkan bibirnya, kesal.

"Jadi anda ini dokter di bidang apa?" tanya Ying usai tawanya mereda.

Kaizo tersenyum, "Tidak perlu seformal itu, panggil saja kakak. Aku bagian subspesialis onkologi, bedah onkologi terutama."

Seketika mata Ying berbinar kagum, sedangkan Fang semakin memanyunkan bibirnya. Kaizo tak pernah bersikap semanis itu, bahkan pada adiknya sendiri.

"Jadi sekarang kakak sedang menangani seorang penderita kanker ya?"

"Ya begitulah. Sekarang sedang kemoterapi, dia menderita kanker otak stadium 4. Padahal dia masih sangat muda, seumuran denganmu."

"Heh, begitu ya?" gumamnya tak jelas, netra birunya memandang pintu bercat putih dimana Kaizo muncul tadi.

Fang dengan cepat menyikut kakaknya itu, seraya berbisik, "Dia itu sahabat Ice, ingat? Ice tidak ingin siapapun tahu keberadaannya." Seketika Kaizo menjadi canggung untuk kembali bicara.

"Kalau begitu semoga pasienmu itu cepat sembuh. Setelah lulus SMA nanti aku juga ingin mengambil jurusan kedokteran, spesialis neurologi."

"Wah! Itu bagus. Tapi kau harus belajar lebih giat, tidak mudah untuk masuk prodi seperti itu." Puji Kaizo

"Pasti." Seru Ying berapi-api.

"Ah ya, Ying. Setelah ini kau ada acara?" tanya Fang mengalihkan pembicaraan.

Ying menggeleng singkat, "Tidak, aku hanya mengantar mamaku saja."

"Ah itu bagus. Kau mau jalan bersamaku?" ujar Fang to the point.

Sebagai new couple sudah wajarkan mereka kencan, hanya saja first dating ini tanpa perencanaan dan sukses membuat Ying bersemu atas ajakan Fang.

"O-oke. Aku akan ijin dulu."

Ying permisi sebentar untuk menelfon mamanya, sedangkan diantara kakak beradik satu ini tengah terjadi perdebatan kecil.

"Kau ini jadi orang ngga ada romantisnya, ngajak ngedate langsung to the point." Sindir sang kakak.

Fang hanya memutar bola matanya saja, "Daripada kakak, udah berapa tahun jomblo mas? Mama mau cepet-cepet nimang cucu lhooo. Cakep-cakep kok jomblo," balasnya dengan kata lebih menusuk.

JLEB…

"APA KAU BILANG!? Kau…!"

Tangan Fang berkaca pada wajah kakaknya, menghentikan beruang yang hendak mengamuk dengan ucapan, "Kakak, ini rumah sakit. Kau itu dokter yang sudah mengganggu ketenangan pasien disini, dokter macam apa kau ini? Jagalah image sedikit." tambahnya.

Hanya berselang beberapa detik, Ying kembali dengan wajah ceriannya. Tanpa dijelaskan kalian pasti juga sudah tau artinya kan.

Dengan anggukan dibarengi dengan senyuman, "Uhm, aku diijinkan."

Seulas senyum Fang torehkan, menarik tangan Ying dan beranjak menjau dari kakaknya, "Aku pergi dulu," pamit Fang dengan salam dua jari.

Sementara itu,

"Anak itu, akan kupiting dia saat sampai di rumah." Tangan Kaizo mengepal erat dengan perempatan imajiner merah di sana.

~Luckyra~

Di ruang kelas yang hanya menyisakan dirinya seorang, angin jendela yang seolah membelai lembut gadis yang tengah memejamkan mata di atas tumpuan lengannya. Terlihat cantik dibawah bayangan dedaunan yang menembus kaca transparan.

Sayangkan ketenangan putri tidur ini terusik akan orang yang tak diharapkan.

"Hey, Ice kenapa kau di sini?" ujar orang yang nampak sangat familiar dengan pakaian serba ungunya itu mulai mendekati gadis yang duduk di dekat jendela.

Jelas saja ia terkejut melihat 'teman'nya sudah ada di kelas. Bahkan ia belum mendapat info dari kakaknya kalau Ice sudah diijinkan keluar dari rumah sakit.

"…"

Gadis itu hanya menggeliat tak nyaman karena gangguan kecil ini, tapi tetap enggan untuk membuka matanya.

"Kalau kau masih belum sehat, kenapa memaksakan diri untuk sekolah? Memangnya kakakku mengijinkanmu?" ucapnya lagi.

"Hmm, walau hanya classmeeting tapi tetap diabsenkan? Kau tau presentasiku buruk sekali semester ini." Jelas Ice singkat masih terpejam.

"Kalau begitu tidurlah di UKS, badanmu akan sakit nanti kalau tidur dengan posisi duduk seperti itu."

"Tidak, sama-sama bau obat." Tolak Ice.

"Kalau begitu berkelilinglah ke stand makanan atau menonton pertandingan. Biar aku temani, setidaknya gerakan sedikit tubuhmu agar tidak terlalu kaku." ujar Fang menawarkan diri.

Ice mengangkat kepalanya dan memandang malas pada lelaki yang duduk di depannya, "Lebih baik aku di sini saja, di luar sana pasti ramai sekali. Rasanya kepalaku sedikit pusing dan rasanya mual, lagi pula tubuhku terasa lemas."

"Ish, kau ingin banyak mengeluh." Protes lelaki itu. Sejenak ia berfikir untuk mengajak Ice keluar, "Hei, papan nilai ujian kemarin sudah di pasang lo. Ayo kita lihat!" Ajak Fang pantang menyerah.

Ice hanya menghela nafas jika kembali diingatkan tentang ujian minggu lalu, "Sudahlah Fang, jangan bahas soal ujian. Nilaiku pasti buruk sekali," ujar Ice lesu.

"Hei, kalau belum dilihat mana tau."

Iris aquamarine ice menatap Fang penuh selidik, "Jangan bilang kau mengajakku ke sana untuk menertawaiku jika kau melihat peringkatku di barisan paling bawah." Dengus Ice kesal.

"Tidak akan, aku akan mengerti keadaanmu. Kau juga penasaran kan? Makanya ayo kita lihat bersama." Ajak Fang seraya menarik tangan Ice.

Mau tak mau Ice harus meninggalkan singgasananya untuk menuruti lelaki berkacamata itu. Sebenarnya ia juga penasaran dengan hasil ujiannya, akankah dewi Fortuna masih berpihak padanya?

Tak sampai sedetik Ice berdiri, keseimbangannya goyah, bahkan nyaris terjatuh jika saja tangan kokoh Fang tak menompang massa tubuhnya.

"Kau baik-baik saja? Bisa berdiri, atau perlu ku papah?" tanya Fang cepat, raut wajahnya menunjukan ekspresi sangat khawatir.

Jangankan Fang, Ice sendiri juga ikut terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

'Tadi itu apa? Kakiku gemetar, apa yang terjadi?' Tanya Ice dalam hati.

Sekali lagi Ice mencoba berdiri walau dengan sedikit bantuan dari Fang, setidaknya untuk kali ini ia sanggup berdiri dengan tegap.

"Aku tidak apa-apa kok, hehehe. Maaf ya sudah membuatmu cemas, aku hanya terlalu cepat berdiri tadi. Maaf sudah merepotkanmu." Ujar Ice langsung tersenyum dan melangkah terlebih dahulu meninggalkan Fang di belakangnya.

"Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Fang masih diselimuti kekhawatiran.

"Iya, kau lihat sendirikan aku bisa berdiri sendiri sekarang? Ayo, kau bilang ingin melihat papan nilai?"

"…"

Senyuman itu membuat Fang takjub, walau sebenarnya ia tahu apa yang sebenarnya Ice sembunyikan. Ia tahu Ice hanya tidak ingin membuatnya khawatir. Tapi perubahan ekspresi yang barusan itu sungguh berlawan 180°.

Sesaat Fang mengulum senyum, "Kau ini memang pintar ya memakai topeng untuk mengelabui orang lain?"

"Heh? Kau bilang apa tadi?" tanya Ice yang seperti mendengar suara samar dari Fang.

"Tidak, tidak ada. Ayo!"

Ice mengendikan bahu, mencoba tak memikirkan apa yang Fang katakan tadi. Satu langkah terakhir sebelum ia keluar dari ruangan itu, sosok Blaze kembali muncul di hadapannya, bersama beberapa temannya yang juga mengenakan jersey yang sama, mungkin pertandingan futsal akan segera dimulai.

Nafas Ice tercekat dan hanya terdiam, untuk kesekian kalinya Blaze hanya meliriknya sesaat dan berlalu begitu saja. Ice pikir ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu dengannya. Kejadian yang sama terulang kembali, seperti déjà vu, tapi ini nyata.

Sekuat hati Ice untuk tidak menangis. Ini menyakitkan jika kalian ingin tau. Sampai kapan Blaze akan bersikap seperti itu?

"Boleh aku menghajarnya?"

Ice tersentak ketika mendengar penuturan Fang, "A-apa?"

"Lelaki brengsek seperti dia harus diberi pelajaran. Sudah berapa kali dia bersikap seperti itu padamu? Aku tahu kau terluka karena sikapnya yang selalu mengabaikanmu, karena itu biar aku ajari dia sedikit tata krama."

"Tidak, jangan! M-mungkin aku punya salah dengannya, jadi wajarkan Blaze marah? Sudahlah Fang, aku tidak apa-apa. Masalah seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan." Ujar Ice berusaha menahan lelaki berkacamata itu.

Jemari di balik sarung tangan fingerless itu mengepal erat, ia mulai muak dengan sikap gadis didepannya yang sering mengatakan kebohongan tentang perasaanya, "Kau tak perlu bersikap sok kuat di depanku, aku sudah berkali-kali melihatmu menangis. Tak semua manusia bisa terus menahan rasa sakit, jika kau memang sakit, katakan saja. Jika kau ingin menangis, menangislah. Kau tak perlu menyenangkan hati orang lain dan berbalik melukai hati sendiri. Semua itu bukan berarti kau lemah, manusia memang ada batasnya. "

Ice menggigit bibir bawahnya, menahan tangis sembari menahan isak tangis. Ia menghirup nafas panjang, kemudian tersenyum, "Kau ini bicara apa Fang? Aku baik-baik saja. Sudahlah Fang jangan bahas hal ini lagi, ayo kita lihat papan pengumumannya."

Ice mendahului lelaki itu dengan langkah riangnya, lelaki yang ditinggalnya hanya bisa menghela nafas berat. Ia ingin berkomentar tentang sikap Ice, tapi rasanya itu hanya sia-sia.

"Tch, aku diabaikan. Rasanya jadi seperti bicara dengan batu saja." Dengusnya.

Fang hanya bisa menggerutu kesal, pertanyaan sama dengan pertanyaan Ice, walau berbeda objek.

'Sampai kapan Ice akan bersikap seperti itu?'

Sepanjang koridor, tak ada pembicaraan apapun. Hanya decitan sepatu yang beradu dengan keramik putih. Fang berjalan di belakang gadis beriris aquamarine itu, berjaga jika sewaktu-waktu gadis itu pingsan, terjatuh, tersandung atau hal semancamnya.

Fang jadi merasa seperti kakak yang menjaga adik kecilnya.

Dipersimpangan koridor, tiba-tiba saja sosok yang masih Ice hindari muncul di depan matanya. Tubuh Ice langsung terkesiap ketika menjumpai sosok Ying yang hanya berjarak beberapa langkah dengannya. Ketika kedua iris mereka bertemu, Ice langsung menunduk, tak berani menatap Ying.

Langkah mereka sama-sama terhenti, seolah kejadian ini adalah takdir yang ditentukan. Iris biru dibalik kanta bulat itu menatap tajam Ice dan Fang secara bergantian.

"Yi-Ying? I-ni bukan seperti yang kau pikirkan. Aku dan Fang tidak memiliki hubungan apapun, kami hanya…"

"Sudahlah Ice," ujar Ying lirih tapi dengan nada menusuk.

Ying kembali berjalan, selangkah demi selangkah mendekati Ice yang membeku di tempat. Iris aquamarine gadis itu tertutup ketika melihat Ying mengangkat tangannya, seperti hendak menampar dirinya.

Tapi bukan rasa sakit yang ia rasakan,

Hangat…

Ya, hangat…

Itu karena Ying mendekap erat tubuh Ice seraya berbisik, "Maafkan aku Ice."

"Eh?"

"Ini semua salahku, jika waktu itu aku mendengarkan penjelasanmu dan mempercayainya, tak akan begini jadinya. Aku yang salah karena sudah merusak persahabatan kita. Aku juga minta maaf atas semua perbuatan kasarku selama ini. Aku tau aku tidak pantas untuk dimaafkan, tapi jika kau mau. Aku ingin memulainya lagi." Bisik Ying.

Ying melepas pelukannya, memandang Ice yang masih tertunduk.

"Aku tau aku, kesalahanku terlalu besar untuk dimaafkan."

Memang benar, memaafkan kesalahan seseorang tidak semudah menghapus tulisan di pasir pantai.

"Kalau kau membenciku tidak masalah, tapi…"

"Aku benci," potong Ice cepat

"Heh?"

"Aku akan benci pada diriku sendiri jika aku tidak memaafkanmu, karena kau adalah sahabatku. Aku tidak pernah membencimu Ying, sama sekali." Ungkap Ice.

Ying terdiam membisu, matanya yang berkaca-kaca memandang tak percaya dengan ucapan Ice. Padahal selama ini ia sudah bersikap buruk padanya, tapi bagaimana bisa Ice memaafkannya semudah itu?

Ice tersenyum, "Aku juga minta maaf karena membuatmu salah paham." Ujarnya sambil menghapus anak sungai yang mulai membasahi pipi Ying.

"Terima kasih, Ice."

Fang yang sedari sebagai penonton dari adegan drama ini hanya bisa mengulas senyum, dalam hati berkata, "Satu kebahagiaan lagi kau dapatkan Ice."

"Tapi, aku baru akan memaafkanmu 1000% setelah kau mentraktirku. Ehem, PJ nya jangan lupa."

*PJ = Pajak Jadian

Ying bersemu, "ICE!?"

"Ya baiklah. BTW, kalian mau kemana?" tanya Ying langsung mengalihkan pembicaraan.

"Melihat hasil ujiannya, kau sudah melihatnya?" tanya Fang.

"Belum, kalau begitu sekalian aku ikut ya?"

"Tapi jangan sampai kalian berdua kompak meledekku jika nilaiku turun drastis." Peringat Ice.

"Ujian kemarin itu memang sulit, yah ku harap nilaiku di atasmu Ice." Ujar Ying sejujurnya.

"Yah, aku harap juga begitu." Tambah Fang.

Nampak perempatan imajiner bertengger di pelipis Ice, "Kalian berdua ini,"

.

.

Di ujung koridor sana, terlihat beberapa orang berkerumun melihat hasil ujian mereka. Beberapa dari mereka nampak bangga dengan peringkat yang terpampang di sana, tapi tak sedikit juga yang mengeluhkan nilainya.

"Ah, peringkatku turun lagi. Ayahku pasti akan memotong uang liburanku,"

"Masih mending liburan, kalau nilaiku seperti ini, bisa-bisa liburanku diisi dengan soal-soal ujian."

Yah mungkin begitu sekiranya keluhan dari beberapa orang yang telah melihat peringkat ujiannya.

Fang, Ying dan Ice berdiri terpaku di sana. Mereka menatap lurus papan pengumuman, dan tak utuh waktu 1 detik untuk menemukan nama mereka. Kenapa? Sudah pasti karena nama mereka terpampang di nomor awal.

Yaya Yah 992

Prevet Fang 990

Etenia Ice 984

Ying Jean 983

Memandang puas pada hasil print out itu, mereka memasang mimic ekspresi yang berbeda.

"Hanya selisih satu poin." Gumam Ying tanpa ekspresi.

Ice menghela nafas panjang, "Kau lihat, peringkatku di bawahmu. Puas?" tanya Ice dengan nada meledek.

Fang tersenyum penuh kemenangan, sambil membenahi letak kacamatanya, "Akhirnya aku bisa berdiri di mu Ice... Muahahahaha." Tawanya menggelegar.

"Aku mendapat juara 1, 4 kali berturut-turut tiap semester. Dan baru mengalahkanku 1 kali. Aku masih unggul darimu 3 kali." Balas Ice tak langsung membuat pundung lelaki pecinta donat lobak merah.

"Justru karena itu, aku membuat rekor terbaru karena telah mengalahkan juara 4 kali berturut-turut."

"Jangan bangga Fang, kau baru juara 2. Yaya masih lebih unggul." Ujar Ying ikut membela Ice.

"Tapikan hanya 2 poin, coba saja jika bahasa lokal nilaiku lebih tinggi." Sahut Fang.

Ice yang mendengar pertengkaran kedua sahabatnya ini hanya bisa tersenyum simpul, senangnya bisa menikmati momen seperti ini.

HYUNG…

Dalam sepermili detik rasanya seperti ada palu godam yang menghantam Ice. Untuk sesaat pandangannya mengabur, keseimbangannya ikut terganggu hingga membuat tubuh ringkih itu terhuyung. Detik demi detik, ia bisa merasakan kepalanya yang berdenyut. Perlahan menjadi rasa sakit itu mulai menjalari setiap inchi kepalanya.

Ia hanya bisa memejamkan mata, "Kenapa harus disituasi seperti ini?" keluhnya dalam hati.

"Jangan sampai mereka menyadarinya." Batinnya merapal dalam hati.

Tepukan di bahu membuat Ice tersentak terkejut di sela rasa sakitnya. Gadis berhijab merah jambu itu datang dengan wajah cerah.

"Hallo Ice," sapanya.

"Hai Yaya," sapa Ying.

"Hai Ying." Balas Yaya.

"Ha-hai Yaya." Balas Ice sedikit terbata.

Ying dengan cepat membaca ekspresi Yaya yang terlihat sangat senang, "Wah wah, ada yang lagi seneng ni gegara dapet peringkat satu." Ujar Ying sedikit dengan nada meledek.

Yaya tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya sambil menunjukan tanda peace dengan jari telunjuk dan tengahnya.

"Yah selamat atas peringkatmu." Ujar Fang singkat.

"Terima kasih. Maaf ya Ice, aku merebut peringkatmu. Hehehe."

"A-ah, kau memang pantas mendapatkannya Yaya. Sepertinya aku harus berusaha lebih giat lagi." Ujar Ice dengan senyuman yang terlihat terpaksa.

Mungkin Yaya dan Ying bisa dikelabui dengan senyumann yang hampir sempurna itu, tapi tidak dengan Fang. Ia terlalu pandai membaca ekspresi, jadi dia memutuskan untuk bergeser sedikit mendekati Ice. Sekedar untuk berjaga jika tak mampu menompang massa tubuhnya.

"Hei, karena Yaya mendapat peringkat satu dan aku baru ehem, jadian, bagaimana kalau kita merayakannya. Biar aku dan Yaya yang traktir, bagaimana?" usul Ying.

"Ide bagus Ying, bagaimana menurutmmu, Ice?" tanya Yaya.

"A-aku? Emm, lebih baik aku di kelas saja."

"Jangan begitu, ini juga bagian dari permintaan maafku. Bukankah kau sendiri yang memintanya?" ujar Ying mempoutkan bibirnya.

"I-iya." Sekarang Ice merutuki kebodohannya sendiri membuat permintaan itu, tapi siapa yang tau akan begini jadinya.

"Kau juga ikut kan Fang?"

"Eh Aku?" tanya Fang sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku…" ucapan Fang terpotong akibat tepukan seseorang di bahunya.

"Di sini kau rupanya Fang? Kelas kita akan segera bertanding, cepat ganti bajumu." Ujar teman sekelas Fang yang tiba-tiba menepuk bahu.

"Eh, aku…" Fang ragu untuk meninggalkan Ice bersama dua gadis itu. Bagaimana kalau Ice tiba-tiba mimisan atau pingsan, bisa terbongkar semuanya.

Tapi Ice menunjukan raut wajah untuk tidak mengkhawatirkannya, seulas senyum Ice tunjukan seolah mengatakan 'Pergilah, aku akan baik-baik saja.'

"Maaf, tapi pertandingan basket kelasku akan segera dimulai. Kalian duluan saja, nanti aku akan menyusul setelah aku selesai bertanding." Ujar Fang.

"Baiklah, semoga sukses." Ujar Ying sambil melambaikan tangan ketika Fang beranjak pergi menjauhi mereka.

"Oke, ayo kita makan!" seru Ying semangat. Tangannya menarik tangannya yang terasa sangat dingin.

"Ice tanganmu dingin sekali. Kau sakit?"

Gadis itu tersentak, benar saja. Padahal ia juag tengah mengenakan hoodie biru yang biasa ia kenakan,"Eh? Ah, hari ini kan memang cuacanya berangin." Jawabnya sebagai alasan.

"Tapi kau memang terlihat pucat Ice, apa kau yakin baik-baik saja?" tanya Yaya, tangannya hendak menyentuh kening Ice tapi langsung di tepis olehnya.

"Aku baik-baik saja, percaya padaku. Aku hanya sedikit kedinginan karena cuaca hari ini. Karena itu aku ingin menghangatkan diri dengan makanan hangat di kantin, jadi ayo sekarang kita ke kantin." Ujar Ice panjang lebar, tapi siapa yang tau setiap ucapan Ice itu, ia juga harus menahan rasa sakit yang menusuk di kepalanya.

Ia hanya bisa berharap rasa sakit ini segera reda, agar ia bisa menghentika sandirawa yang menyiksanya ini.

"Baiklah, ayo." Ajak Ying.

Untuk sesaat Ice bisa menghela nafas lega, setidaknya untuk sekarang.

~LKyra~

"Hmm, kau mau pesan apa Ice?" tanya Ying yang tengah berdiri di depan counter memandang daftar menu yang terpampang di sana.

Suasana kantin saat itu sangat ramai, maklum lah, sekolah tanpa jam pelajaran seperti berdiri di atas awan.

Yang ditanya justru menunduk dalam, sekuat mungkin ia menahan rasa sakit yang kian menjadi tiap detiknya.

"Ice, hello!" panggil Ying sambil melambaikan tangan di depan Ice.

"…? Hah, ya? Ma-maaf, kau bilang apa tadi?" Tanya Ice terkejut.

"Mau pesan apa?" Ulang Ying.

"Aku? Terserah saja."

"Hmm, oke… Bu, kare ayam 3, sama…"

HYUUUNG…

Sesaat pendengaran Ice sedikit terganggu, pandangannya kembali kabur dan keseimbangannya goyah. Hingga tak sengaja ia menabrak seseorang di depannya, dan menumpahkan minumannya hingga mengotori seragam putihnya.

"Hei, dimana matamu? Lihat kau mengotori pakaiannku!" Seru perempuan yang di tabrak Ice, langsung reflek mendorong tubuh Ice yang kurang keseimbangan itu. Beruntung Yaya yang berdiri di belakangnya langsung menangkap tubuh Ice yang lemas.

Ying yang melihat kejadian itu tak tinggal diam, ia langsung menghampiri gadis itu. "Apa maksudmu mendorong sahabatku, HAH!?"

"Apa kau buta, kau tidak lihat pakaianku kotor gara-gara dia?" jawab gadis itu tak mau kalah.

"Kau hanya tinggal mencucinya. Atau kalau perlu kau buang seragam itu dan buat yang baru." Seru Yaya.

"Dan sepertinya kau juga harus mencuci dirimu sendiri." Ujar Ying dingin.

SPLASH…

Ying sengaja mengguyur gadis dihadapannya itu dengan jus yang tersedia di meja, kemudian mendekatinya dan berbisik.

"Dengar ya, kalau sekali lagi kau berani melukai sahabatku. Ku pastikan kau tak akan mengenakan seragam ini lagi." Ancamnya dalam bisik.

Tanpa mengatakan sepetah kata, Ice langsung berlari menjauhi keributan yang baru saja dibuat oleh mereka. Walau tubuhnya seperti tak kuat untuk berjalan, tapi ia justru memaksakan diri untuk berlari, untuk suatu alasan.

"ICE!?" seru Yaya dan Ying bersamaan.

Mereka berdua segera menyusul Ice yang sepertinya berlari ke arah kamar mandi.

BRAK…

Cekle…

Tanpa basa basi Ice langsung menutup pintu kamar mandi dan segera menghampiri wastafel.

HOEK… HOEK… HOEEEEKKK…

OHOH… HOEK…

Deg… Deg… Deg…

Snuttt…

Argh…

Kepalaku terasa mau pecah…

Kepalaku sakit…

Dadaku sesak…

Perutku mual…

Tubuhku terasa panas dingin…

HOEK…

TOK.. TOK.. TOK…

"Ice kau di dalam?"

Itu suara Yaya.

HOEK… HOEK… OHOOK…

"Ice kau baik-baik saja?"

Itu suara Ying..

"Buka pintunya! ICE!"

Kedua gadis itu terus menggedor pintu, karena orang yang berada di dalam tak kunjung menyahut. Yang terdengar hanya suara orang muntah dan air keran yang mengalir deras.

Nafasku terengah-engah, mual yang ku rasakan tak kunjung reda walau aku sudah memuntahkan semua yang ada di perutku. Dan apa ini? Amis..

Cairan merah pekat menghiasi wastafel porselen. Aku memandang diriku pada cermin, sangat mengenaskan. Darah segar terus mengalir dari hidungku, dan wajah pucat itu. Apa itu wajahku?

ARGH… Kepalaku seperti tertusuk ribuan jarum yang kasat mata. Siapa saja, tolong hentikan rasa sakit ini! Aku mohon!

Rasanya aku ingin menangis, kenapa saat berada di sekolahan? Kenapa ketika aku berada di sekitar orang-orang yang ku sayangi? Tidakkah puas penyakit ini terus menghancurkan hidupku?

TOK..TOK …TOK…

"Buka pintunya! ICE!"

Di luar sana mereka berdua pasti khawatir. Dengan sekuat tenaga aku berdiri, membersihkan sisa-sisa kekacauan ini. Perlahan darah mulai berhenti mengalir, sayangnya wajah pucat dan mata sayu ini tak bisa mengatakan bahwa aku baik-baik saja.

Dengan tubuh lemas aku berjalan gontai menuju pintu, bertumpu pada dinding untuk menjaga keseimbangan.

Cklek… Pintu terbuka,

"ICE!?"

"Maaf, sudah membuat kalian khawatir." Ujar Ice memaksakan untuk tersenyum.

"Astaga Ice, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali!" teriak Yaya histeris.

"Ya, aku baik-baik saja. Tenang saja." Kata Ice yang semakin lirih.

"Biar ku papah sampai UKS," ujar Ying hendak meraih tubuh ringkih Ice.

"Maaf, membuat kalian…"

BRUKKK…

Khawatir…

"ICE!"

Ice bisa merasakan dinginnya lantai, tubuhnya roboh karena tiada tenaga yang tersisa untuk menompang tubuhnya. Jangankan untuk berdiri, berbicara saja ia sudah tak sanggup.

Samar, ia bisa melihat sosok Yaya dan Ying di sekitarnya. Samar-samar ia masih bisa mendengar suara cempreng mereka yang memanggil namanya untuk tetap sadar.

Tapi apa daya, Ice sudah terlalu lelah. Perlahan iris aquamarine itu kehilangan cahaya, hingga kesadarannya benar-benar terenggut kegelapan.

~Lkyra~

Lelaki itu menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, iris cerahnya memandang langit biru dari jendela kelasnya.

"Apa yang harus ku lakukan ya?" gumamnya seorang diri.

"Mem-bo-san-kan." Ejanya.

Netranya perlahan terpejam, menikmati hembusan sepoi yang menerbangkan helaian rambut yang tak tertutup topi.

Terdengar samar, suara sirine mengganggu ketenangannya. Dari lantai 3 gedung sekolahnya, ia bisa melihat sebuah mobil ambulans yang terburu-buru meninggalkan kawasan sekolahnya.

"Ambulans? Siapa yang sakit sampai manggil ambulans segala? Hmm, mungkin ada yang cedera berat saat bertanding tadi." Ujarnya bermonolog.

Drap… Drap… Drap…

"BLAZE!" Seru seorang gadis yang berdiri di ambang pintu kelasnya, nafasnya terengah-engah karena berlari sepanjang koridor. Dibelakangnya di susul seorang gadis yang sangat familiar baginya.

"Yaya-Ying? Ada apa?" tanya Blaze heran melihat kedua teman gadisnya seperti dikejar iblis.

"I-Ice, dia masuk rumah sakit!" ujar Ying masih berusaha mengatur nafasnya.

"Ambulans yang barusan itu yang membawanya." Tambah Yaya.

"…, oh." Jawab Blaze singkat.

Mereka terkejut dengan respon Blaze yang bisa dibilang tidak niat untuk menjawab, di saat seperti ini ia malah bersikap seperti itu dan cukup membuat Ying untuk melepas amarahnya.

"OH!? Hanya itu responmu!? Kenapa kau sama sekali tidak cemas dengannya?" tuntut Ying dengan emosi.

Blaze membalikan badan, menghadap kedua gadis yang berdiri di belakangnya, "Memangnya kenapa? Kenapa kalian melapor padaku? Seharusnya kalian berdua melapor pada si landak ungu itu. Diakan pacarnya, sedangkan aku, kan bukan siapa-siapanya?"

"Hei! Siapa yang kau sebut landak ungu? Fang itu pacarku, kau tau!" ujar Ying semakin meledak.

"Heh, jadi landak ungu itu pacarmu? Hati-hati, bisa saja ditikung sahabatmu sendiri looo." Sindir Blaze sengaja membuat situasi makin memanas.

Wajah Ying sudah seperti kepiting rebus karena telah mencapai titik tertinggi amarahnya, "Ice tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Dia itu sahabatku, satu-satunya yang pengrusak hubungan adalah aku sendiri!" seru Ying.

Blaze tersenyum sinis, "Benarkah? Seharusnya kau buka matamu untuk melihat sisi gelap seseorang."

"Kau tidak mengerti!" jerit Ying frustasi.

BRAK…

"Fang!?"

"!?"

BUAGH!

"Ugh, apa maksudmu hah!?" seru Blaze yang tersungkur di lantai.

Tiba-tiba saja Fang datang dengan menggebrak meja dan langsung melayangkan tinju ke arah Blaze yang bahkan tidak mengerti apa-apa.

Iris gelap Fang di balik kacamata itu hanya memandang sadis sosok Blaze yang masih terduduk di lantai, "Tidak ada. Aku hanya ingin menggeser otakmu YANG MUNGKIN SUDAH MIRING ITU, BRENGSEK!"

"Apa maksudmu, HAH!? Tiba-tiba saja datang dan memukulku, mungkin kau yang sudah gila!" seru Blaze yang memegangi dagunya.

Tangan Blaze dengan cepat mencengkram kerah jersey Fang, bersiap untuk membalas pukulan tadi.

"Hentikan kalian berdua!" Seru Yaya yang mulai angkat suara.

"Blaze! Hentikan!" seru Ying.

"Apa kau tau selama ini Ice menderita karenamu?" ucapan Fang sukses membuat Blaze menghentikan serangannya sesaat sebelum kepalan tangannya menghantam mukanya.

"Apa kau sadar sikap sinismu yang tidak jelas itu melukainya? Padahal selama ini ia sangat berharap untuk bisa dekat denganmu. Tak taukah bahwa selama ini dia hanya memendam semua rasa sakit yang ia rasakan seorang diri? Dan kau malah menambah beban baginya!"

BUAGH…

"Kalau begitu, kenapa dia terus menghindariku? Dan justru malah mendekatimu? Jadi bukan salahku kan jika sewaktu-waktu aku juga berubah karenanya?" ujar Blaze usai melancarkan pukulan yang sebelumnya tertunda, membuat kacamata Fang terlepas.

"Itu karena kau yang selalu bersikap kekanak-kanakan yang membuatmu tidak peka!" seru Fang yang menahan nyeri di pipi kirinya.

"Hentikan!" Seru Ying yang sejak tadi hanya bisa menonton saja. Sebuah anak sungai mulai mengalir dari pelupuk mata biru itu.

"Ini semua salahku! Aku yang mengirim foto itu pada Blaze. Saat itu aku cemburu padamu Fang, karena kau sangat dekat dengan Ice. Aku pikir dengan begitu Ice akan mendapat balasan yang setimpal karena aku tau Blaze menyukai Ice.." ungkap Ying.

"Hiks… Tapi ternyata semua aku pikirkan ini salah. Ini semua salahku." Suara Ying mulai di selingi isak tangis.

Perlahan, atmosfer di sekitarnya mulai menghangat. Berterima kasihlah pada keheningan yang beberapa saat menyapa, cukup untuk semua orang di ruangan itu menjernihkan pikiran untuk kembali mengecap kata.

"Ini bukan salahmu Ying, ini bukan salah siapa-siapa. Ini memang permainan takdir yang sudah Tuhan rencanakan." Ujar Fang bijak.

Fang memejamkan mata sesaat, nafas berat ia hembuskan, menenangkan hati untuk bersiap berkata,

"Sebenarnya Ice melarangku untuk mengatakan hal ini pada kalian. Tapi tak selamanya rahasia akan terus menjadi rahasia." Fang memberi jeda sejenak, "Jika kalian mengikuti kemana ambulans tadi, kalian akan tau yang sebenarnya. Yang membuat Ice harus bermain drama dalam skenarionya sendiri, yang membuatnya harus menanggung beban itu sendiri, semua pertanyaan yang ada dipikiran kalian akan luntur satu persatu."

"Ambulans tadi, dari RS Central Pulau Rintis kan?" tanya Yaya cepat.

"Aku ingin ke sana, aku ingin bertemu dengan Ice." Ujar Ying cepat.

Tanpa mengucap sepatah katapun, Blaze langsung berlari keluar kelas. Ia ingin mengetahui yang sebenarnya, dan juga ucapan Fang tadi. Hal yang membuat Ice menderita, scenario, drama? Ia ingin mengetahuinya!

~LKyra~

Tap… Tap… Tap…

Suara langkah tak berirama memecah keheningan atmosfir di sekitarnya. 4 pelajar SMA itu dengan cepat memasuki koridor bernuansa putih itu.

"Tenanglah Blaze, dia tak akan pergi kemanapun." Fang reflek menarik hoodie jingga terang milik Blaze yang berjalan terburu-buru di depannya.

Dari kejauhan ruang UGD mulai terlihat, seorang pria paruh baya yang duduk di kursi tunggu sambil menunduk dalam, terlihat frustasi.

"Om?" panggil Fang sesampainya di sana pada pria itu.

Yap, pria itu adalah ayah Ice. Beliau baru kembali dari luar kota pagi tadi, awalnya ia berniat untuk pergi ke kantor sebentar, tapi sebuah panggilan dari sekolah membuatnya membatalkan niat dan langsung membanting stir menuju rumah sakit.

"Fang? Apa yang terjadi pada Ice?" Tanya ayah Ice cepat ketika menyadari orang yang baru datang.

"Sebelumnya aku minta maaf, karena tidak menjaga Ice dengan baik." Sesal Fang sesaat.

"Tadi saat kami berada di kantin, Ice tiba-tiba saja berlari menuju kamar mandi. Kami hanya bisa mendengar Ice yang muntah karena pintunya dikunci. Dan saat Ice keluar, wajahnya sudah sangat pucat dan tiba-tiba tak sadarkan diri." Jelas Yaya.

"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa Ice bisa berada di sekolahan, kurasa kakakku juga tidak akan mengijinkan Ice untuk berada berangkat ke sekolahan. Apalagi kondisi pasti labil usai kemoterapi" Ujar Fang.

"Kemoterapi!?" seru Yaya dan Ying bersamaan.

Pintu UGD masih tertutup, Blaze hanya membeku di sana. Memandang kosong pada di hadapannya. Entah kenapa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, di sisi lain berharap ia bisa segera mengetahui keadaan Ice.

Dia kenapa?

Apa dia baik-baik saja?

Apa semua ini salahku?

Sebesar itukah dia terluka karena sikapku selama ini?

"Fang bukankah kakakmu bekerja di bidang onkologi di sini?" tanya Ying.

Untuk sejenak Fang terdiam, dan dengan menjawabnya dengan lirih, "Memang, dan sebenarnya dialah yang merawat Ice saat ini."

Reflek, Ying membekap mulutnya sendiri, ia terlalu shock untuk menerima hipotesanya sendiri, "Tidak mungkin,"

"Ying, kau kenapa?" tanya Yaya cepat setelah melihat ekspresi sahabatnya yang dengan cepat berubah.

"Onkologi adalah sub-bidang ilmu kesehatan khusus penangangan kanker," Jawab Ying dengan suara parau.

DEG…

Kanker?

Rasanya jantung Blaze berhenti berdetak ketika mendengar penuturan gadis twintail itu. Ia langsung mendekati pria paruh baya yang masih terduduk di bangku tunggu.

"Om, sebenarnya Ice itu kenapa?" tanya Blaze.

Ayah Ice menghela nafas panjang, dan mengalihkan pandangannya, menatap satu per satu dari mereka secara bergantian, ia tahu apa yang ia rasakan juga dirasakan oleh mereka. Jadi, tak ada gunanya juga menutupi suatu hal, pada akhirnya tak aka nada rahasia yang tak terbongkar kan?

"Aku yakin kalian tidak mengetahuinya. Aku juga baru mengetahui kenyataannya beberapa bulan yang lalu, dan saat aku sudah mengetahuinya, ternyata sudah sulit untuk diobati. Entah sejak kapan Ice menderita kan..."

Cklek…

Semua pandangan tertuju pada pintu UGD yang baru saja terbuka, menampakan seorang dokter dengan perawakan tinggi semampai. Netra gelapanya menatap sekumpulan orang yang pasti menunggu laporannya.

Ayah Ice langsung menghampirinya, dengan tatapan datar Kaizo sudah bisa menebak pertanyaan yang akan ia lontarkan.

"Bagaimana?" tanya ayah cepat.

Sejenak Kaizo memandang Fang beserta temannya, kemudian mengalihkan kembali pandangannya, "Sepertinya jika aku mengatakannya di sini bukan masalah."

Ia menarik nafas panjang sebelum memulai bicara, "Kondisinya memburuk, sel-selnya semakin cepat membelah membuat rasa sakit yang ia rasakan semakin berat. Ku rasa kemoterapinya gagal, obat-obatan yang ku berikan seperti sudah tidak mempan untuk merusak sel-selnya. Ditambah lagi, sepertinya tubuhnya sudah tidak kuat untuk menerima obat itu lagi karena sel yang sehat ikut terserang. Dan dia akan drop seperti ini, seharusnya dia full bed rest."

Otak Blaze masih loading dengan semua penjelasan pemuda dihadapannya, "Intinya saja! Sebenarnya Ice itu kenapa?" tanya Blaze dengan nada tinggi.

"Kanker otak," Ujar Fang datar.

"DIAM kau landak anggur! Aku tidak bertanya padamu!" tuntut Blaze emosi.

Fang hanya mendecih ketika Blaze menatapnya sadis.

"Apa yang dikatakan Fang itu benar adanya Blaze." Ujar ayah mencoba menangnkan.

"Tidak! Aku tidak percaya! Tidak mungkin Ice sakit seperti itu, ya kan dok!? Katakan bahwa Ice itu hanya kelelahan saja!" Seru Blaze kesetanan.

Kaizo hanya menggeleng singkat, "Yang dikatakan mereka itu benar. Kanker otak, stadium akhir, itu yang diderita Ice saat ini."

Stadium akhir?

"Tidak mungkin." Reflek Yaya menutup mulutnya tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca.

"Bohong." Ying juga tak percaya.

Blaze menarik kerah dokter itu, "Tidak mungkin! Katakan bahwa ini hanya lelucon!" teriak Blaze.

"Blaze hentikan!" Seru Fang, memcoba menarik Blaze menjauh.

"Tidak! Ice itu,,, tidak mungkin!"

Cengkraman Blaze perlahan mulai melemas, "Selama ini dia selalu menderita. Apa tidak cukup dia menderita di masa lalunya? Kau dokter kan? Aku mohon, aku mohon. Selamatkan Ice, apapun yang terjadi aku mohon selamatkan Ice. D-dia, selama hidupnya dia sudah terlalu banyak menderita. Karena itu aku mohon…" Suara menjadi semakin parau, tanpa ia sadari pipinya telah basah oleh air mata.

Melihatnya, Kaizo tertegun. Begitu banyak orang yang menyayangi Ice.

Kaizo menepuk pelan kepala Blaze, "Aku juga pasti akan melakukan yang terbaik untuknya."

Mulai terbayang kembali di memori Blaze, sejak awal ia bertemu dengan Ice. Semua penderitaan Ice, bahkan hingga Ice ingin mengakhiri hidupnya, semua itu tergambar jelas di ingatan Blaze.

Ia bisa melihat bagaimana sebuah bunga yang layu dan hampir mati, kembali hidup dan tersenyum.

TBC..

Hmmm.. Berapa lama aku ngga nulis? Astaga,, 1 bulan lebih genks T,T #Lebay…

Okke okke.. Kyra minta maaf, habisnya mau ujian aja banyak banget persiapan.. Padahal udah 2x juga ngrasain gimana rasanya UN..

Tapi yang kali ini bener-bener ngajak berantem… Ya kali, materi ujian masih mentah gini udah disebarluaskan! Harusnya dimatengin dulu 100% jadi ngga bikin bimbang kaya gini..

Mana ada rumor ngga jadi UN lah.. UN diganti UNBK lah.. Malah ada USBN, masih ditambah US…

Astaga, kenapa angkatanku selalu dijadikan kelinci percobaan T,T? Kek dikira dalam 3 bulan ngejar materi dari kelas 1-3 semua mapel itu segampang mancing emosi Hali apa?

Halilintar : Ngapa bawa-bawa nama gua?

Kyra : Minjem bentar napa -_-

Okeh,, udahan curhatnya.. daripada readers pada kabur semua, mending lanjut ke bales review aja ya ^^

Rampaging Snow : Hahahaha,, setelah ini semuanya akan menjadi 'baik-baik' saja ^^.. Mungkin :3 … Makasih reviewnya ya ^^ Pasti semangat terus kok ^^

Addin Uchiha Sagakishiro : Ngga lah! Ice belum mati, belum lo bukannya ngga mati :3 *Susanoo* Hahaha jangan di edotensei donk, nanti Blaze malah ngga cinta soalnya udah dikendaliin sama Kabuto, buat make Suiton : Dai Bakusui Shoha, Blaze kan elemen api, nanti mati kalo pake gituan , *Eh, iya Kabuto kan? Maaf kalo salah, aku udah lama ngga nyimak alur ceritanya.* Heeh, kok malah jadi bahas naruto sih.. Oke, makasih udah mampir + kasih review..

Vanilla Blue12 : Hello Blue ^^ … Heh? Hounto? Yatta Yatta! Padahal bahasanya pasaran kek gitu .. Ya begitulah hubungan Blaze, syukur kan ^^ … Sippp, masih lanjut kok..

Illilara : Hihihi, padahal bagian cintanya itu ngga romantic banget sih menurutnya, soalnya aku bukan orang yang romantic.. Dan sekarang Blaze udah sadar kan, dan sekarang tinggal akhirnya aja, yah walaupun masih lama sih… Sippp,, pasti lanjut… Cieee, yang tambah umur… Walau telat, tapi tetep bisa ucapin Happy Birthday Illilara ^^

.

.

[PENGUMUMAN]

Sehubungan dengan sisa waktu yang Kyra miliki, Kyra ijin untuk hiatus sampai bulan April nanti.. Yah memang lama sih, tapi Kyra juga harus fokus dengan serentetan ujian nanti.. Padahal Kyra pengen cepet" nyelesein fic ini dan lanjut fic lain, soalnya udah kebanyakan ide yang numpuk segudang.

Sekian dari Kyra, mohon doanya ya supaya ujian nanti nilainya bagus dan bisa masuk ke Univ, and then bisa balik lagi ke fandom boboiboy tercintahhhh ^^

See You Next Time Genks ^^

Regard

Luckyra