Three Days

Boboiboy © Animosta Studio

Warn : Typo! OOC, Fem! Ice

Happy Reading ^^

Yaya POV~

Mampu ku rasakan, atmosfir yang terasa berat di dada, pandangan netra yang tertunduk dalam menahan luapan perasaan abstrak.

Dalam satu ruang tiga dimensi yang mengungkap fakta yang bahkan masih sulit untuk dipercaya. Entah egoisme masing individu atau nafsu menentang suatu tetapan garis takdir.

Kalau boleh memilih, ingin ku anggap semua ini gurauan April MOP yang sama sekali tidak menggelikan. Tapi di sisi lain, seperti anak panah yang tepat mengenai targetnya, kami telah mendengar semua ini langsung dari dokternya.

"Apa kami boleh melihatnya sekarang?" tanya Ying memecah kegalauan yang melanda. Dengan suara paraunya, aku tau betapa terkejutnya dia. Mungkin rasa bersalah semakin menyelimutinya karena beberapa hari yang lalu hubungan mereka sangatlah buruk.

"Dia belum bisa dipindahkan ke rawat inap sebelum kondisinya stabil. Jadi sebaiknya kalian datang lagi besok jika ingin menjenguknya." Ujar dokter Kaizo.

Saat itu kami hanya bisa menghela nafas panjang, sudah pasti kami kecewa. Setelah kejadian hari ini, secepatnya kami ingin bertemu dengannya.

"Kakakku benar. Sebaiknya kalian pulang saja, jika ada kabar pastiku kabari." Tambah Fang.

"T-tapi," Ying berusaha melontarkan alasan yang bisa membuatnya tetap tinggal di sini.

Langkahku berjalan mendekatinya, menepuk bahunya lembut untuk menenangkan sahabatku satu ini. Akupun sebenarnya tak kalah terkejut, tapi aku harus menjaga kepalaku tetap dingin untuk menghadapi situasi seperti ini.

"Kita pulang saja Ying. Aku yakin meskipun Ice sudah sadarpun, dia juga butuh istirahat. Kita akan menjenguknya besok." cegahku.

"Aku akan tetap di sini, -"

"-aku akan menunggunya." Tukas Blaze.

"Blaze!? Eh? Ah…"

Ekpresi Blaze saat ini bisa dibilang paling buruk. Di antara takut kehilangan, rasa bersalah dan perasaan lain yang tak bisa kumengerti.

Aku sedikit khawatir pada Blaze. Seperti bom waktu, semuanya meledak begitu saja. Seumur-umur baru kali ini aku melihatnya memohon dengan terisak seperti tadi. Isakan yang menyayat hati, suasana lalu yang masih terasa hingga saat ini.

"Baiklah, kalau begitu kami pulang akan pulang duluan. Kami tunggu kabar dari kalian." Ujarku kemudian berpamitan dengan ayah Ice.

"Kami pulang dulu, kami akan menjenguk Ice lagi besok." Pamitku pada ayah Ice tak lupa menyunggingkan senyum.

"Biar aku antar kalian pulang." Ujarnya ramah.

"Tidak perlu, sebaiknya anda menjaga Ice saja. Kami akan baik-baik saja jika pulang sendiri." Aku mencoba menolak tawarannya.

"Tidak apa-apa. Kalian teman Ice yang baik, lagi pula sudah ada yang menjaga Ice." Ujarnya seraya melirik Blaze dan Fang.

Aku tertegun untuk sesaaat, teman baik itu sekarang, jika saja beliau tahu apa yang selama ini kami perbuat pada Ice. Aku yakin beliau tak akan sebaik ini pada kami.

"Terima kasih, maaf merepotkan anda." Ujarku sedikit membungkuk.

Normal POV

"Baiklah, aku pergi dulu. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku akan kembali 2 jam lagi untuk memeriksanya." Kata Kaizo sepeninggalan Yaya dan Ying, menyisakan Fang dan Blaze yang masih dalam suasana yang sulit dijelaskan.

Tap… Tap… Tap…

Seperti tiada daya, Blaze berjalan lunglai menuju bangku yang tersedia. Terduduk lemas sambil menutup wajahnya, frustasi.

"Sekarang kau mengkhawatirkannya?" alih-alih Fang memulai pembicaraan.

"Aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan." Ujar Blaze masih kalut.

Fang terdiam sesaat, memberi Blaze waktu untuk menenangkan pikiran juga perasaanya. Sepanjang lorong itu cukup sepi, hanya beberapa orang yang melintas. Padahal matahari masih tinggi, tapi atmosfer ini membuat segalanya menjadi kaku. Kalau dipikir-pikir, sejak kapan ia bisa akur dengan rivalnya satu ini? Mungkin jika ini tidak berhubungan dengan Ice, hal ini tak akan terjadi di dimensi manapun.

"Kau, sudah berapa lama kau mengetahui hal ini?" tanya Blaze pada akhirnya.

Fang duduk di samping Blaze, menyandarkan punggungnya pada bangku sambil memandang langit-langit. Mengulang kembali kejadian lalu,

"Yah, sekitar 3 bulan yang lalu, itupun terjadi secara kebetulan. Aku masih ingat, waktu itu entah bagaimana bisa dia dibawa kemari dalam kondisi tak sadarkan diri dengan darah yang mengotori pakaiannya. Tapi itulah awal bagaimana aku bisa tahu penyakitnya dan menjadi lebih dekat dengannya. Maaf jika semua itu membuatmu cemburu." Jelas Fang flashback.

"Kurasa kecemburuan itu salahku yang terlalu berpikir aneh-aneh." Sela Blaze.

"Maaf, waktu itu aku berbohong padamu. Padahal aku tau dimana dan keadaan Ice, tapi Ice melarangku untuk menceritakan hal ini pada siapapun. Sejak saat itu Ice merasa putus asa dan dia ingin menjauh dari kehidupan kalian, dari Yaya, Ying dan juga kau. Dia selalu mengatakan bahwa 'kau tak tau betapa sakitnya kehilangan'. Dan ia tak ingin kalian ikut merasakannya kesedihannya, dia bilang cukup dia yang merasakannya. Tapi semuanya tak berjalan mulus karena ia tahu betapa menyakitkannya dibenci orang-orang yang ia sayangi," Iris gelap dibalik kaca itu bergerak melirik teman bicaranya.

"Termasuk kau. Tapi kau malah bersikap sepert itu." Lanjut Fang.

Deg…

Pandangan Blaze semakin tertunduk dalam. Dari sekian juta manusia di dunia ini, kenapa dia dan haruskah dia? Sialnya Blaze, rasa bersalah menelusup semakin dalam di hatinya.

"Jadi aku yang membuatnya menderita?" tanya Blaze lirih.

Fang melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku tidak bilang begitu, tapi setidaknya kau yang menambah pendertitaannya. Tanpa kau sadar, kau menyakiti orang lain karena egomu sendiri. Itu manusiawi, kau berniat untuk memberi pelajaran pada orang itu, tapi sebelum itu apa kau tau yang membuat mereka dengan sengaja menyakiti perasaanmu?"

"Aku tak pernah memikirkan perasaan orang lain, selama itu menyenangkan bagiku, akan ku lakukan itu." Ujar Blaze tanpa mengangkat pandangan.

"Jadi tak ada yang salah dengan kalimatku tentang sikapmu yang kekanak-kanakan kan?"

Fang membuang nafas, kemudian bangkit dari duduknya, "Aku akan ke ruangan kakakku dulu."

Sesaat sebelum ia pergi, langkahnya terhenti, "Sebaiknya kau memikirkan apa yang harus kau lakukan. Sebelum waktu berhenti tanpa kau sadari dan kau belum bertindak apapun." Ujar Fang untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan Blaze di sana seorang.

'Kenapa? Kenapa Ice tidak pernah menceritakan hal ini padaku? Kenapa justru landak ungu itu yang mengetahuinya lebih dulu? Sebenarnya siapa di sini yang salah? Apa yang harus aku lakukan sekarang?' pikir Blaze kalut.

"Sial! Kenapa aku sebodoh ini?" gerutu lelaki di koridor UGD itu seorang. "Kenapa aku tidak tahu kalau Ice itu sakit!? Padahal sudah jelas selama ini ia tidak baik-baik saja." Geram Blaze, tanpa sadar suatu liquid mengalir dari pelupuk matanya.

Netra itu terpejam, air mata semakin deras membasahi pipinya. Walau dalam keheningan ini, sama sekali tak terdengar isakan, ia menangis dalam diam.

Wajah cerah itu,

Senyumannya itu,

Suara itu,

Dengan seiring waktu,

Semua itu sirna.

Ini terasa menyedihkan, sangat menyedihkan.

"Maafkan aku, Ice."

Pahitnya rasa keputusasaan dan rasa kesedihan membuat rasa kehidupan lebih berharga untuk dijalani.

~Luckyra~

Hari berganti, banyak yang menanyakan perihal tentang Ice, tapi mulut mereka seperti gembok yang kehilangan kunci, memilih untuk diam. Tak ingin juga membicarakan hal ini kepada orang lain.

"Bagaimana keadaan Ice?" Ying bertanya dengan pandangan kosong. Jemarinya saling bertautan menggenggam sebotol minuman.

"Ice baru dipindahkan ke rawat inap 2 jam setelah kalian pulang, dan baru siuman sekitar jam 4 sore. Walau keadaannya sudah cukup stabil untuk dipindahkan ke kamarnya, tapi dia masih butuh banyak istirahat. Jadi aku belum sempat mengobrol dengannya karena dia masih lemah dan tertidur lagi." Jelas Fang.

"Aku ingin segera bertemu dengannya." Gumam gadis yang duduk di depann Fang. Menyembunyikan wajahnya dalam bantalan tangannya sendiri, tidak biasanya gadis crewet ini menjadi lesu seperti ini.

"Tenanglah Ying, pulang sekolah nanti kita akan menjenguknya." Ujar sahabat kecilnya, sambil sesekali mengusap kepala Ying yang tak tertutup beany.

"Lalu bagaimana dengan Blaze? Aku sedikit khawatir dengannya karena dia terlihat sangat kacau." Tanyanya pada satu-satunya lelaki diantara mereka.

Tangan di balik sarung tangan itu meraih sebungkus donat kesukaan dan membuka perekatnya, "Apa yang kau khawatirkan dari pecundang sepertinya?"

Dahi Yaya berkerut, raut yang menanyakan perkataan Fang, "Apa?"

"Aku yakin dia sudah kehilangan muka di hadapan Ice." Jawabnya usai menelan segigit donat.

"Apa yang terjadi setelah kami pulang?" Tanya Yaya tak sabar.

"Banyak, dan aku baru tahu kalau Blaze itu ternyata sangat pengecut."

Tangannya beralih meraih jus anggurnya, "Mentalnya jatuh setelah bertemu Ice dan dia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun." Lanjut Fang.

"Kasihan Blaze," gumam gadis berhijab merah jambu itu.

Fang berdecak, "Heh? Sebenarnya apa yang kau kasihani dari lelaki pengecut itu?"

Kilatan tajam pandangan dari iris hazel Yaya, "Fang! Berhenti memanggil Blaze pengecut! Wajar jika dia terkejut setelah mendengar kabar Ice, aku dan Ying pun juga merasakannya. Kau ini tidak mengerti perasaannya ya!? Sudahlah, aku mau menemuinya, akan ku ajak dia menjenguk Ice nanti!" Serunya beranjak dari kantin, meninggalkan gadis berkuncir twintail dan lelaki berambut pacak ungu di sana.

Ying perlahan mengangkat kepalanya, bertompang dagu dan berkata, "Seharusnya kau tak mengatakan hal seperti itu Fang. Walau aku tau kau tidak terlalu menyukai Blaze, tapi setidaknya dukunglah dia. Hal yang menimpa Ice itu, aku yakin berat juga untuk Blaze."

'Karena aku merasakan rasa bersalah yang sama dengannya, dan ini menyakitkan." Gumam Ying dalam hati.

~LucKyra~

Salam perpisahan tak pantas bagi kita

Meski takdir berada di jalur yang berbeda

Setidaknya sejak awal kita sudah sering bersama

Meskipun semuanya menghilang, ikatan kita tak akan pernah hilang.

Kini, aku memikirkan tentang dunia lain itu

*Button

"Kau di sini rupanya, aku mencarimu kemana-mana."

Iris jingga nampak dari balik kelopak mata, memandang tempat di mana burung terbang. Musik yang sengaja ia putar dengan keras tak lagi bersuara. Lelaki yang sering menggunakan hoodie bercorak api bangkit dengan malas dan beralih menatap seseorang yang baru saja muncul.

"Apa maumu?" tanya Blaze malas.

Langkah kakinya mendekati Blaze yang berlindung pada bayangan bangunan atap sekolah, "Pulang sekolah nanti,"

"Tinggalkan aku." Potong Blaze sebelum Yaya mengakhiri kalimatnya. "Kalau kau ingin mengajakku menjenguk Ice, lupakan saja. Aku tak akan pergi." tebaknya.

"Kenapa? Bukankah kemarin kau sangat mengakhawatirkannya?"

Blaze membisu. Ya, memang tidak bisa dipungkiri kekhawatirannya pada Ice jauh dari apapun saat ini. Tapi untuk satu alasan yang membuat hatinya belum siap untuk bertatap muka dengan Ice.

"Aku, aku belum siap."

Yaya mengernyit tak jelas, "Apa?"

Blaze meringgkuk, raut kesedihannya ia sembunyikan dibalik pelukan lututnya, "Padahal aku sudah berteman baik dengannya, tapi ternyata aku sama sekali tidak mengenal Ice. Aku mencelanya, mengatakan hal buruk tentangnya dan bersikap ketus padanya. Apa aku masih punya muka untuk bertemu dengannya setelah semua hal yang aku lakukan padanya? Padahal dia hanya tidak ingin kita merasakan apa yang ia rasakan."

"Blaze! Kau tahu perlakuanku dan Ying padanya saat kelas 2? Mungkin kalau hal itu terjadi pada orang lain, orang itu tak akan dengan mudah memaafkan semua hal yang telah kami perbuat padanya. Tapi Ice? Dia dengan hati terbuka memaafkan kami. Kalau Ice saja bisa memaafkan kami, kenapa kau tidak?"

"Ini tidak semudah yang kau katakan! Membayangkan wajah pucat itu menyunggingkan senyum ramah padahal sebenarnya ia menyembunyikan rasa sakit, atau mengatakan bahwa ia baik-baik saja padahal sebenarnya ia ingin berteriak meluapkan semua yang ia rasakan. Walau ia menderita tapi ia tetap ingin tersenyum bersama orang-orang disekitarnya, dan apa yang aku berikan? Tatapan sadis dan celaan, apa kau masih sanggup untuk bertemu dengannya?" seru Blaze sperti orang frustasi. Tanpa ia sadari pipinya telah basah oleh suatu liquid, matanya lah yang terasa perih yang menyadarkannya.

"Maaf, tolong tinggalkan aku sendiri." Kata Blaze sambil menghapus air matanya. Mungkin memalukan menangis di hadapan seorang gadis, tapi tak bisa ia pungkiri perasaan itu. Jika memang menangis membuatmu lebih baik, tak ada salahnya menunjukan air mata itu.

Otot bahu Yaya melemas, "Tidak Blaze, aku yang seharusnya meminta maaf." Ujarnya dan kemudian meninggalkan Blaze di sana sendirian.

~LucKyra~

Lantai putih, orang-orang yang saling berpapasan dan tersenyum ramah, pemandangan yang umum di tempat berbau khas itu. Empat murid SMA tahun terakhir nampak menelusuri salah satu lorong di bangunan itu.

"Terima kasih ya sudah mau ikut menjenguk Ice." Salah satu gadis beriris hazel di antara mereka memulai obrolan singkat.

"Sebenarnya aku memang ingin menjenguknya setelah mengetahui kejadian kemarin. Awalnya aku akan mengajak Blaze, tapi dia menolak. Syukurlah aku bertemu kalian." Jelas lelaki beriris emas di samping Yaya.

"Sepertinya kau cukup dekat dengan Ice ya, Gempa?" tanya Yaya.

Gempa mengulas senyum, "Yah begitulah, kami sempat satu kelas saat SMP dan juga pernah satu tim dalam olimpiade sains, jadi kurasa kami cukup dekat."

Sementara Yaya dan Gempa mengobrol asik di belakang, sepasang insan yang berstatus sepasang kekasih memimpin langkah di depan. Tak ada suara, pasangan berkacamata itu hanyut dalam pikiran masing-masing.

Di lantai 3 bangunan itu, langkah kaki Fang terhenti di depan pintu bercat putih dengan papan nomor 301 dan nama pasien di bawahnya.

Etenia Ice

"Ini ruangannya." Ujar Fang, tangan berlapis sarung tangan itu beralih membuka pintu.

Dari balik pintu, nampak Ice tengah memandang dunia luar atau mungkin tengah melamun. Suara derikan pintu itu menyadarkannya, membuat pandangannya teralih pada asal suara.

"Selamat siang," Sapa Yaya ramah seperti biasa.

Ice tersenyum cerah ketika melihat teman-temannya datang menemuinya.

"Hai Ice, bagaimana keadaanmu?" Tanya Gempa klise.

"Lebih baik daripada kemarin. Maaf ya sudah membuat kalian khawatir." Jawab Ice tanpa melepas senyum.

"Kau tak perlu meminta maaf untuk hal yang bukan salahmu." Ujar Yaya, tangannya menggenggam seikat bunga sebagai buah tangan.

Yaya sembari menata bunga dalam vas terlarut dalam obrolan ringan bersama Ice, sesekali Gempa ikut menanggapinya. Fang meletakan parsel berisi buah yang mereka beli sebelum datang kemari.

Sedangkan Ying, ia masih terdiam di depan pintu. Iris biru di balik lensa bulat itu mengamati Ice dengan seksama. Apakah orang yang berada di ranjang itu benar-benar Ice? Apa mata Ying yang buta warna atau memang wajah Ice memang pucat? Apa pipi pucat yang pernah ia tampar itu setirus itu? Apakah senyuman itu palsu atau tidak?

"Ice, kau itu jahat sekali ya?" ujar Ying lirih, walau begitu tetap terdengar dalam ruangan itu.

"Eh?"

Ying memandang sosok Ice dengan pandangan yang sulit diartikan, matanya mulai berkaca-kaca, "Kau sudah tak menganggap kami sahabatmu lagi ya? Kenapa kau tak pernah memberitahu kami tentang penyakitmu? Kenapa kau harus menyembunyikannya?"

Seulas senyum terukir di wajah pucat Ice, "Aku hanya ingin kita bisa berteman seperti biasa, tanpa mengkhawatirkan penyakitku. Aku mungkin akan lelah dengan kehidupanku. Hidupku tak bisa diulang kembali, dan aku takut untuk menemukan hal-hal baru yang ingin aku miliki, aku akan menyesal dikemudian hari. Aku harap aku bisa menceritakan hal ini kepada kalian, tapi aku memilih menyimpannya sendiri untukku. Maaf ya." Iris aquamarine Ice bertemu dengan birunya iris Ying.

Perlahan, dari pelupuk mata menuju pipi dan jatuh. Air mata Ying tak tertampung lagi, tapi senyumnya terus berkembang. "Bodoh, apapun yang kau rasakan, kami juga akan merasakannya. Kau punya kami untukmu berbagi, jadi katakanlah jika kau merasa sakit. Jangan simpan rasa sakit itu sendiri. Berjanjilah?" Ying mengacungkan jari kelingkingnya.

Bagaimana bisa Ice mengatakan hal seperti ini pada orang yang ia sayangi? Orang yang selama ini ingin ia lindung harus ikut cemas karenanya. Tapi dengan begini,

"Janji." Ice mengaitkan jari kelingkingnya.

Entah mengapa rasanya lega. Setelah semuanya terbongkar, ia tak perlu lagi bersandiwa, mencari-cari alasan ketika ia menghilang diantara mereka. Mungkin memang seharusnya sejak awal begini.

"Oh ya ngomong-ngomong, Blaze tidak datang bersama kalian?" tanya Ice tiba-tiba.

Seperti kapal yang diterjang ombak. Pertanyaan yang sebenarnya ingin mereka hindari, tak seorangpun berani menjawabnya. Bahkan Fang yang sering mengobrol banyak dengan Ice pun membisu, hanya suara jam dinding dimana jarumnya masih berdetik.

Atmosfer terasa lebih berat dari beberapa saat yang lalu. Entah bagaimana bisa, senyuman itu masih bertahan di sana. Sayangnya bukan suatu yang membahagiakan hati, melainkan sebaliknya.

"Be-begitu ya, dia sudah benar-benar tak peduli padaku." Gumam Ice.

Ice mengalihkan pandangan pada cahaya jingga yang secara perlahan mulai menyatu dengan birunya langit. Mencoba menyembunyikan rasa kecewa dari raut wajahnya.

"Ice, kau baik-baik saja?" Yaya nampak khawatir melihat bahu Ice yang bergetar, seperti menahan sesuatu.

Ice sadar, walau ia bisa menyembunyikan perasaannya, tapi ia tak bisa menyembunyikan air matanya, "Maaf, seharusnya aku tidak begini. Apa-apaan aku ini."

Ying tiba-tiba memeluknya dari belakang, "Tidak Ice, kau memang seharusnya begini."

Entah kenapa ruangan itu menjadi sangat senyap, semua memandang sisi lemah Ice itu dalam diam. Dan seperti senar yang bergetar, mereka juga merasakannya.

Seperti bunga evening primrose yang mekar di malam hari, tak seorang pun tahu. Sepasang iris jingga itu memperhatikan bangunan putih yang berdiri kokoh di depan matanya. Mencemaskan seseorang yang dirawat didalam sana. Hanya memandang, tanpa melangkahkan kaki ke dalamnya.

.

.

Panjangnya bayangan ketika tersinari cahaya jingga seiring rendahnya bintang di ujung barat sana, bersamaan dengan langkah kaki setapak demi setapak, rasa sesal yang kian membalut hati. Apa kau bisa melepasnya?

"Aku pulang." Sapa Blaze selangkah menapakan kaki di rumahnya.

Seorang wanita paruh baya muncul dari dapur, "Selamat datang. Kau pulang terlambat, bukankah kegiatan klub diliburkan usai ujian semester?" tanya Ibu.

"Klub akan dimulai kembali besok untuk mengisi waktu luang liburan. Aku mau langsung ke kamar, aku lelah." Ujar Blaze lesu.

"Kau baik-baik saja Blaze? Mau ibu bawakan camilan atau jus?" tanya ibu.

"Tidak, terima kasih. Aku baik-baik saja." Ujar Blaze sembari meniti anak tangga menuju kamarnya.

BRAKKK…

"Ada apa dengan anak itu?"

Blaze POV

Aku sengaja menutup pintu sedikit lebih keras, perasaanku tak menentu saat ini. Tanpa menghidupkan lampu kamarku, aku langsung merebahkan tubuhku. Padahal tak ada hal berat yang kulakukan hari ini, tapi rasanya lelah sekali.

Sebenarnya bukan tubuhku yang lelah, tapi hatiku. Ku raih ponselku yang tersimpan di saku.

{Menu Galery Camera}

Netraku memandangi foto Ice yang sengaja ku ambil saat kelas 2 tanpa disadarinya. Aku tersenyum saat menemukan foto Ice dengan ekpresi yang lucu, namun disaat yang sama juga terasa menyedihkan.

Gumaman yang bernada terdengar lirih di kamarku, lagu yang ku nyanyikan yang beresonansi dengan dinginnya malam yang mengisi atmosfer ruangannku. Jemariku terus menggeser layar ponselku,

Seperti biasa, Ketika aku menoleh ke belakang…

Aku masuk dalam keramaian manusia…

Dan kemudian menghilang…

Aku sepernuhnya kehilangan arah,

Dan tak mampu berkata apa-apa

Namun ada satu hal yang masih tersisa, yaitu suaramu..

Wajahmu saat tertawa, saat marah

Segalanya tentangmu membuatku-,

*Michi To You All

"Blaze, ada telepon untukmu!" seru ibu dari lantai bawah.

Nadaku hilang karena panggilan ibu, siapa yang menelpon disaat petang seperti ini? Yang terbesit dipikiran ku saat ini hanyalah 'dia', jangan-jangan-

"Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun." seruku yang masih sibuk dengan pemikiranku sendiri.

Dengan nada sedikit kesal ibu kembali meneriakiku, "Cepat turun! Ibu sedang masak, kalau gosong kau tak bisa makan malam!"

Oke, jika ibuku sudah berkata seperti itu. Aku menyerah, aku segera turun sebelum ibuku mengomel panjang lebar atau aku tak bisa mendapat jatah makan malam.

"Siapa?" tanyaku sebelum menjawab menjawab panggilan itu.

"Mr. Robert, dari persatuan sepak bola. Sudah cepat jawab." Perintah ibu yang langsung berlalu menuju dapur.

"Halo," suaraku serak menjawab telepon.

"Boboiboy Blaze?" balas seseorang bersuara baritone di sebrang san.

"Ya, dengan saya sendiri. "

"Saya Mr. Robert dari Persatuan sepak bola. Sebenarnya suatu kebetulan bahwa kami menyaksikan pertandinganmu di pertandingan antar sekolah beberapa waktu lalu. Permainanmu benar-benar mengesankan. Kami ingin kau mengikuti camp pelatihan perwakilan U-18" Ujar Mr. Robert.

"Anda pasti salah orang, bahkan di pertandingan itu timku tidak masuk semifinal." Balasku tak percaya.

"Kami tidak menilai dari permainan pertim, kami menilai masing individu yang kami anggap pantas untuk mengikuti camp ini."

"Jadi?"

"Jadi kami harap kau bisa mengikuti camp tersebut pada hari Sabtu nanti."

"Ya, tentu. Terima kasih."

Aku meletakan gagang telepon kembali pada tempatnya. Hembusan nafas aku buang, dan ibu menghampiri dari dapur.

"Ada apa?" tanya beliau sambil mengeringkan tangan dengan kain.

"Aku akan mengikuti camp pelatihan U-18 tahun ini." Seruku girang.

Ibu menatapku tak percaya, namun kemudian senyumnya mengembang. "Benarkah? Selamat Blaze, akhirnya jalan menuju impianmu terbuka." Bangganya sambil menepuk bahuku.

"Yah, aku akan berangkat hari Sabtu besok."

"Baguslah, ibu mendukungmu. Kalau begitu cepatlah mandi. Kita makan bersama setelah ayahmu pulang."

"Ya ya, baiklah."

Aku tak percaya, aku terpilih mengikuti pelatihan selama seminggu. Kalau diingat-ingat permainanku terakhir itu sangatlah buruk. Walau aku berhasil mencetak satu angka, tapi tetap saja hasilnya buruk karena aku terlalu emosi saat itu. Itu semua karena dia, ah sudahlah. Tak perlu mengungkit hari itu.

Aku hanya perlu melihat ke depan, dan berjalan di jalanku sendiri. Tanpa perlu melihat ke belakang, karena jika menoleh pasti akan ada yang menunjukan air mata. Tapi, apa aku bisa?

Normal POV

11.00 a.m. Memandang pemandangan yang selalu begitu saja dari atap sekolah tak pernah membosankan, karena bentuk awan dan angin yang berhembus selalu berubah setiap saat.

Juga tempat yang menyenangkan untuk menerbangkan angat atau menenangkan pikir. Dan itulah yang dilakukan lelaki berhoodi tanpa lengan, irisnya memandang kosong sejauh mata bisa memandang. Berlindung di bayangan bangunan di belakangnya.

"Tangkap!" seru seseorang pada Blaze. Sebuah kejutan untuknya, saat ia menoleh sebuah minuman kaleng melayang ke arahnya dan kalian pasti tau apa yang terjadi berikutnya.

Blaze terkapar dengan tidak elite, ada bekas kemerahan di keningnya akibat benturan dengan kaleng yang datang tanpa ia sadari. Ia yakin hanya dirinya yang ada di sini, mungkin karena lamunannya yang membuatnya tak peka dengan situasi di sekitarnya.

"A-aduhhh.. Kau ini kenapa sih? Tidak bisakah kau memberikannya dengan lebih baik?" keluhnya pada gadis yang entah sejak kapan ia berada di sini.

Netra di balik kanta bulat menatapnya dengan pandangan datar, "Kenapa kau tidak menjenguknya?"

"Tch, kau itu terlalu berisik. Itu bukan urusanmu." Decak Blaze, gadis di depannya itu bahkan belum meminta maaf atas perbuatannya.

"Kau sudah membuat Ice sedih, dan aku tak bisa membiarkannya." ujar Ying dingin.

"Aku kemari untuk minta maaf tentang foto yang aku kirimkan padamu waktu itu. Aku tahu itu membuatmu cemburu, karena itu yang aku rasakan saat itu. Karena perasaanmu, kau jadi menjauh dan membencinya. Itu yang membuatmu merasa bersalah pada Ice kan? Aku minta maaf soal itu." Tambahnya.

Pandangan Blaze teralihkan pada minuman digenggamannya, seolah itu adalah hal yang menarik untuk di pandang, "Kau tak tau apapun yang aku rasakan, jadi diam dan pergilah."

"Aku tak mengerti apa yang kau rasakan karena kau memiliki perasaan yang berbeda. Hal yang kau rasakan lebih dari sekedar teman, karena itu kekhawatiranmu melebihi apa yang kurasakan."

Seperti biasa, angin selalu terasa lebih kencang di atas twintail ikut terangkat karenanya. Keheningan selalu tercipta disaat-saat yang terduga.

Perasaan yang berbeda. Perasaan yang lebih dari sekedar teman.

"Kau ini bicara tentang apa? Aku tak mengerti yang kau bicarakan, apa itu hal yang penting? Kau menggangguku." Blaze yang kesal dengan segala ocehan Ying pergi meninggalkan tempat itu dengan membanting pintu menuju atap.

"Pergilah! Teruslah melarikan diri dari perasaanmu sendiri. Dan hanya akan ada penyesalan yang menantimu di akhir cerita ini."

Terkadang menyebalkan juga memiliki teman kepala batu. Sebaik apapun nasihatmu, mereka akan mengabaikannya jika mereka anggap itu tidak perlu, selalu memungkiri kenyataan yang ada.

~LucKyra~

Kegiatan klub masih berjalan untuk beberapa cabang olahraga, termasuk sepak bola. Walau latihan sudah diselesai beberapa saat yang lalu, para manager pun sudah selesai membereskan bola.

Tapi Blaze masih berlatih sendirian di lapangan dengan menendang bola ke mistar gawang. Ia nampak semangat dengan menerima kembali bola yang memantul.

"Pelatihan seminggu untuk menentukan pemain U-18, aku tidak sabar mengikutinya. Akan banyak pemain hebat dari berbagai daerah, tapi…" Blaze menahan pantulan dengan kaki kirinya.

"Aku yang akan jadi bintangnya." Bola melesat cepat menuju gawang dari tendangan Blaze.

Seseorang tiba-tiba saja muncul dan menghentikan tendangan Blaze menggunakan kakinya, bola yang seharusnya masuk ke gawang kini berada di kaki orang itu.

"Berlatih untuk seleksi U-18?" tanyanya sambil ber-juggling.

"Gempa? Eum, kau juga terpilih?" tanya Blaze.

"Tentu saja, ada 3 perwakilan dari klub kita. Aku, kau dan Taufan." Ujar Gempa yang memberi umpan balik pada Blaze dan berhenti mulus di kakinya.

"Begitu ya, Gopal tidak terpilih?" Bola kembali bergulir ke kaki Gempa.

"Sayangnya tidak, dia sampai menangis bawang tadi." Jawab Gempa sambil terkekeh. "Oh ya ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menjenguk Ice?" tanya Gempa tiba-tiba.

Nafas Blaze tercekat, bola berhenti bergulir, "Kenapa kalian ingin sekali tahu alasanku?"

Gempa terdiam untuk sesaat, "Kalau kau tidak ingin menjawabnya tidak masalah." Ia melangkah menuju tepi lapangan dimana ia meletakan tasnya.

Cukup lama untuk menanti jawaban dari Blaze, tapi pada akhirnya ia menjawabnya. "Aku menghindarinya."

"Kenapa?"

"Karena aku takut, salahku yang membuat Ice semakin menderita. Aku tak berani menemuinya karena rasa bersalah yang selalu menghantuiku." Ujar Blaze sejujurnya.

Senyuman tipis Gempa tunjukan, "Meski begitu, kau harus menemuinya. Meski kau anggap seburuk apapun dirimu. Orang yang ingin Ice temui itu kau. Apa kau masih berpikir bahwa kau yang membuatnya menderita? Menghindarinya tak bisa menyelesaikan masalah."

"Aku tahu itu!" Seru Blaze. "Jikalau aku menemuinya pun, aku tak tahu apa yang harus aku katakan." Ujarnya melunak.

Blaze mengulum senyum, "Waktu yang akan memberitahumu segalanya. Kau hanya perlu menggerakan waktumu sendiri. Jangan menggunakan akal saat kau bicara dengan seorang gadis, tapi bicaralah dengan hatimu. Dengarkan hatimu yang bicara, karena hati itu tidak pernah bohong."

Tak bisa dipungkiri bahwa Gempa memang seorang yang sangat bijak, bukan hanya cerdas dan populer. Blaze saja sampai terpana dengan kata-katanya.

Gempa beranjak dengan meraih tasnya, "Aku mau pulang, mau bareng?"

"Tidak, aku masih mau di sini." Jawab Blaze.

"Oke, aku pulang dulu. Jangan terlalu memaksakan diri."

"Ya, sampai jumpa besok."

Gempa begitu cepat berlalu, kini hanya Blaze dan bolanya yang masih bertahan di sana. Kata-kata Gempa masih terus terngiang di pikirannya.

"AAAAAH! Apa yang harus aku lakukan, Tuhan!?" seru Blaze di tengah lapangan.

Tubuhnya libung berbaring di atas rumput hijau, memandang langit yang mulai menggelap dengan berjuta titik bersinar yang bertebaran.

Twinkle Twinkle Little Star

How I wonder what you are

Up above the world so high

Like a diamond in the sky

Matanya terpejam, merasakan dinginnya angin dingin yang menerpanya. Blaze bersenandung lirih, menyanyikan lagu yang pernah Ice senandungkan saat festival kembang api. Tentu masih tersimpan segar di memori Blaze setiap event yang mereka lakukan bersama.

Terdengar langkah kaki seseorang mendekatinya, bersamaan dengan ucapan yang terlontar dari pita suaranya.

"Orang bodoh yang tak berani menemuinya setelah mengetahui yang sebenarnya itu pengecut. Hanya terdiam dan menyesal."

Matanya terbuka, memandang sosok yang berdiri di sampingnya, memandang datar pada sisa cahaya matahari yang telah tertelan cakrawala. Tak sulit untuk menyadarinya, cara bicara yang pedas, jaket yang sengaja diikat di pinggang dan kacamata nila yang selalu bertengger di hidungnya.

Blaze mendengus, "Sekarang apa maumu?"

"Kalau aku jadi Ice, sudah pasti aku akan membencimu karena kau ini menyedihkan. Tapi Ice itu gadis yang baik, jadi jangan pernah membuatnya sedih. Karma itu selalu berlaku." Ucap Fang masih melanjutkan kalimatnya.

"Sebenarnya ada apa dengan kalian ini? Kenapa hari ini semuanya jadi menasihatiku?"

Kornea Fang melirik tajam dari ujung mata, "Hei! Berhentilah melarikan diri dan hadapi kenyataannya. Besok, usai latihan. Kutunggu kau di gerbang sekolah. Kita lihat, apa benar kau bukan seorang pengecut?" ujar Fang sesaat sebelum meninggalkan Blaze.

Yang dikatakan Fang terakhir itu tantangan atau apa? Mereka terus berkata pada Blaze seolah meminta pertanggung jawaban. Memang hanya pembicaraan singkat yang terlontar, tapi hingga langit menjadi gelap sepenuhnya pun Blaze belum bisa memilih diantara 2 pilihan.

Menemuinya atau tidak, bagaimana caranya memutuskan? Ini bukan hal yang bisa diputuskan dengan melempar dadu seperti permainan ular tangga. Ini menyangkut perasaan.

Ia tak bisa terus menghindarinya. Seperti yang Gempa katakan, 'Menghindarinya tak bisa menyelesaikan masalah'.

Blaze POV

Ying : 'Hal yang kau rasakan lebih dari sekedar teman,'

Yang merasakannya itu aku, kalian mana tahu apa yang aku rasakan. Tapi apakah karena pikiranku yang terlalu tumpul atau karena kehangatannya yang membuatku buta tentang perasaanku sendiri. Yang lebih dari sekedar teman itu, apa?

Gempa : 'Orang yang ingin Ice temui itu kau'

Kenapa harus aku? Kenapa tidak orang lain? Apakah jika aku bertanya seperti itu, ia akan menjawab, 'Karena kau adalah orang yang istimewa baginya'?.

Fang : 'Kalau aku jadi Ice, sudah pasti aku akan membencimu karena kau ini menyedihkan'

Memang seharusnya ia membenciku saja, jadi aku tak perlu merasa bersalah atas dirinya.

Aku mencoba menjawab setiap pernyataan yang terus mengganggu pikirannku, mencari-cari alasan untuknya memberanikan diri menemuinya.

Dari sekian juta bintang di sana, tempat dan bentuknya selalu sama. Hanya karena rotasi bumi, setiap malam rasi bintang berubah-ubah. Jawaban yang terus-menerus aku cari ternyata jawabannya sangat sederhana, bahkan sudah terjawab oleh Gempa.

'Dengarkan hatimu yang bicara, karena hati itu tidak pernah bohong'

Hatiku berkata, 'Ingat masa lalumu bersamanya, menyenangkan bukan? Lebih banyak hal menyenangkan daripada yang menyedihkan. Dan kau ingin merasakannya lagi, karena itu, berhenti berputar-putar di tempat yang sama dan lihatlah ke depan. Dan lihat, apa yang akan menantimu di ujung sana.

~LucKyra~

Di lain hari, di waktu yang hampir sama, di saat matahari nyaris tenggelam, ketika klub sepak bola Pulau Rintis telah mengakhiri latihan mereka. Ada waktu milik seseorang yang akan mulai bergerak.

"Gempa, aku pulang duluan ya?" pamit Blaze usai mengmasi barangnya sebelum meninggalkan ruang ganti.

"Eh, kenapa buru-buru? Ada urusan?" tanya Gempa yang masih menormalkan suhu tubuhnya.

Blaze mengangguk mantap, senyumannya yang menghilang beberapa hari ini telah kembali. Mungkin semalam ia bermimpi kejatuhan durian yang menyadarkannya.

"Oh, baiklah. Sampaikan salamku untuknya ya?"

Blaze mengacungkan ibu jarinya, dan dengan cepat menghilang dari tempat itu. Di gerbang seseorang telah menunggunya, siapa lagi kalau bukan Fang.

"Oh, akhirnya kau memberanikan diri juga," ujar Fang setengah mengejek.

"Aku juga tak ingin terus dikatakan pengecut olehmu. Karenanya juga aku terus mencari alasan untuk ini." Jawab Blaze. Kilatan matanya seolah ingin menantang orang yang sering menyebutnya pengecut.

"Heh, ekpresi yang bagus. Baiklah, ayo pergi." Ujar Fang berjalan lebih dulu, meninggalkan Blaze yang mengekor di belakang.

Sepanjang perjalanan melalui jalan trotoar dan beberapa toko tak ada obrolan yang berarti di antara mereka. Wajar saja bagi Fang karena dia memang tipe yang pelit kata. Berbeda dengan Blaze yang notabenenya banyak bicara juga banyak tingkah, tapi dia sedang tak ingin berdebat dengannya.

Langkah Fang tiba-tiba saja berhenti di sebuah toko kecil, hampir saja Blaze menabraknya. Kan tidak keren kalau menabrak seorang lelaki.

"Tunggu sebentar," titahnya.

Dengan cepat Fang menghilang dari hadapan Blaze, memasuki toko itu. Blaze hanya memandanginya heran, netranya beralih pada papan yang terpajang di depan toko.

"Toko bunga Daisy?"

Ah, benar juga. Dia kan mau menjenguk orang sakit, sudah seharusnya ia membawakan buah tangan. Tak lama kemudian Fang keluar dari toko itu dengan membawa seikat bunga tulip berwarna putih.

"Ini, berikan padanya."

"Apa? Kenapa harus aku?"

Fang menunjukan senyum sinis, "Karena kau yang jadi tokoh antagonis yang ingin berubah menjadi protagonis di sini."

Blaze mengulas senyum dan menerimanya.

Dag… Dig… Dug…

Seperti jet coater yang membawanya kesana kemari, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Perasaan ini, namanya apa ya? Apa ini yang dimaksud Ying? Perasaan yang melebihi teman?

"Fang!" panggil Blaze, "Aku tak tau perasaan ini sebenarnya apa, tapi kurasa aku menyukainya. Aku menyukai Etenia Ice." Ucap Blaze sejujurnya dari lubuk hati terdalam.

Fang hanya mengulas senyum mendengar pernyataan Blaze, "Katakan itu padanya nanti."

Akhirnya, Blaze mengakui perasaanya. Satu-satunya yang membuatnya berani melangkah hanyalah karena Ice adalah orang yang istimewa baginya.

~LucKyra~

Ice POV

Perlahan aku membuka mataku, semuanya terlihat jelas dipandang netraku. Sekelilingku ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Sepertinya aku pernah kemari, tapi kurasa ingatanku sedikit terganggu.

"Ice!"

Seseorang memanggil namaku dari kejauhan, aku menoleh ke sumber suara dimana Blaze berlari tergopoh-gopoh menuju diri ku.

"Blaze?"

Aku tak mengerti apa yang terjadi saat ini, entah bagaimana bisa aku terdampar di tempat ini. Tapi semua ini terasa sangat familiar bagiku. Mungkin seperti déjà vu yang terasa sangat nyata.

Aku berbalik hendak menyapa, "Blaze apa yang terja-,"

Nafasku tercekat, baru saja Blaze melewatiku. Apa yang terjadi? Tubuhku tembus begitu saja, bahkan ia tak menyadari keberadaanku. Bukankah tadi dia memanggil namaku?

Kulihat dia menghampiri seseorang, siluet hitam yang mirip sepertiku yang dikelilingi oleh teman-temanku, Yaya, Ying, Gempa, Fang, bahkan Taufan dan Halilintar juga di sana.

Mereka nampak akrab dengan obrolan asik yang tak tak percaya dengan hal yang kulihat ini, tapi,

"Blaze apa yang terjadi? Aku disini. Blaze!" Aku yakin panggilanku sudah cukup keras, tapi kurasa mereka tak mendengarnya.

Ku coba mendekatinya dan menepuk bahu Yaya yang tertawa hangat, dan hal itu terjadi lagi. Aku seperti embun, tak bisa disentuh dan tak bisa menyentuh.

"Yaya, Ying! Aku di sini. Blaze lihat aku!"Aku mengibaskan tanganku dihadapan Blaze dan memanggilnya berkali-kali. Namun hasilnya sama saja, diriku maupun suaraku tak bisa sampai padanya.

Aku diabaikan.

"Siapa saja,sadari keberadaanku! Yang tersenyum bersama kalian itu bukan aku!" seruku frustasi.

Bayangan hitam yang berisi kekosongan itu menyeringai padaku, seolah senang dengan ke-invisible-an ku ini. Siluet itu meluas hingga duniaku sepenuhnya menghitam. Semua keramaian itu menghilang seketika bersamaan dengan para temanku yang menjauh, yang bahkan tak menoleh sedikitpun ke tersisa kini hanyalah kegelapan lekat yang bisa ditangkap netraku.

~FIN~

Normal POV

Tirai kelopak mata yang semula terpejam, perlahan menampak manik aquamarine sayu. Semuanya terasa berbeda, nafasnya terasa sangatlah berat. Ini memang sedikit aneh baginya.

Apa yang diimpikannya barusan cukup menakutkan bagi pemilik iris biru itu. Ia bermimpi tentang para sahabatnya yang tak bisa merasakan keberadaannya. Kristal cair perlahan mengalir dari ujung mata, tak ada isakan yang terdengar. Hanya saja, rasanya sesak. Ia menarik nafas panjang untuk membuatnya lebih tenang.

Tapi semakin dalam ia menarik nafas, semakin ia merasa sesak. Nafasnya memendek, membuatnya tersenggal-senggal.

Bahu dan lehernya mulai nyeri dan menjalar ke kepala. Matanya terpejam erat akibat pandangan yang berputar. Ice menggigit bibir bawahnya saat sakit kepala hebat muali menyerangnya.

Ia bisa merasakan cairan yang mengalir perlahan dari lubang hidungnya, ia berusaha meraih tissue di meja. Setiap gerakan yang ia buat membuatnya semakin tersiksa, jangankan untuk meraih tissue di meja, memencet tombol AIPHONE di samping ranjangnya saja tak bisa ia lakukan.

Tangannya fokus meremas kepalanya yang terasa mau pecah. Apa ada yang lebih buruk dari ini? Rasanya seperti ingin mati. Air matanya lebih banyak membasahi bantal, ia hanya bisa mengerang keras merasakan setiap tusukan di kepalanya, berharap seseorang mendengar dan mengakhiri rasa sakit ini.

Di sisi lain rumah sakit ini, Blaze bersama dengan Fang baru saja keluar dari lift menuju ruangan Ice.

ARRGGGHHHHH…

"Kau dengar itu?" tanya Fang mencari kesenyapan sesaat.

"Mendengar apa?" tanya Blaze kebingungan dan mempertajam pendengarannya.

"!?" Reflek, Fang langsung berlari menuju sumber suara, ruang 301. Ia membuka cepat pintu ruangan itu, dan…

Ia menemukan Ice dengan kondisi memprihatinkan, nafas yang tinggal setengah, tangannya dengan erat memegangi kepalanya sendiri, tak terbayang betapa sakitnya hingga ia mengerang, dan juga darah segar yang mengotori pakaiannya.

"ICE! Apa yang terjadi?" seru Fang. Tangannya meraih tissue untuk membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya.

Blaze terpaku di depan pintu, nafasnya ikut tercekat melihat kondisi Ice seperti. Ia memang ingin menemui Ice, tapi tidak dalam kondisi seperti ini, bukan ini yang dia inginkan!

"Blaze kau jaga Ice, aku akan memanggil kakakku. Aku segera kembali!" seru Fang dan langsung melesat keluar.

Sebenarnya Blaze ingin melarikan diri, tapi kakinya bergerak sendiri mendekati Ice. Memang seharusnya ia begini, bunga yang ia bawa ia letakan sembarang tempat.

Blaze menggenggam tangan dingin Ice erat, seolah tak akan mengijinkannya pergi kemanapun. Tangan dingin itu bergetar merasakan getaran kuat dari tubuhnya.

"Maafkan aku Ice,"

Kelopak matanya sedikit terbuka, melirik kearah seseorang yang tengah menggenggam tangannya. Walau hangat dan menenangkan, tapi tubuhnya sudah sepenuhnya dikuasai rasa sakit.

"Bla-ze? Ja-ja-ngan, ja-ngan pernah –tinggal-kan ak-ku." Pinta Ice terbata akibat pasokan oksigen yang kurang di paru-parunya. Air matanya kembali memenuhi pelupuk matanya dan mengalir dari ujung mata. Ia menggenggam erat tangan hangat Blaze, berharap ia akan selalu disampingnya seperti ini.

Ice tidak kuat, otot geraknya mulai melemah. Ia tak mampu menjaga kesadarannya lebih lama lagi. Tangan yang digenggam Blaze saat ini pun mulai kehilangan dayanya.

DEG…

Bak di sambar petir, jantung Blaze berhenti berdetak sepersekian detik. Air mata deras membasahi pipinya.

"ICE! ICE! BERTAHANLAH!" Seru Blaze mencoba mempertahankan kesadaran Ice. Tapi percuma, kegelapan telah menguasai gadis itu, matanya telah terpejam, tak nampak lagi aquamarine hangat yang biasa ia lihat. Tangan dingin yang ia genggam saat ini juga seperti tanaman layu.

Kaizo dan beberapa perawat terburu-buru masuk ke kamar inap no 301. Beberapa dari mereka menyiapkan alat kedokteran di troli dorong. Kaizo memeriksa kesadaran Ice dengan menekan jarinya, tapi tak ada respon. Tangannye beralih mengambil senter kecil dari saku dan memeriksa pupil Ice.

"Dia benar-benar tidak sadar. Pasang masker oksigen dan alat kardiografnya." Titah Kaizo bertidak cepat.

Salah seorang perawat meminta Blaze untuk keluar dari ruangan itu dan menunggu hasilnya nanti. Tidak seperti Blaze yang biasanya berontak, ia keluar dari ruangan dan duduk menunggu termenung.

Fang yang menunggunya di luar juga ikut membisu, ia jadi merasa bersalah karena memaksa Blaze untuk menemui Ice. Tapi siapa yang tahu akan jadi seperti ini akhirnya.

Iris gelap Fang memandang sendu pada rivalnya satu ini, terlihat kacau dan frustasi. Seperti jatuh dalam titik terburuk dalam hidupnya.

"B-Blaze, aku-,"

"Ternyata aku memang belum siap. Seharusnya aku tak menemuinya. Ini bukan hal yang aku inginkan." Ujar Blaze lirih, menyembunyikan kesedihan dalam kalimanya.

Iris jingganya memandang nanar kedua telapak tangannya, tangan yang digenggap erat oleh Ice tadi, yang kemudian melemas. Sial, masih melekat jelas di memorinya bagaimana detik-detik terakhir berjalan.

Blaze menghapus kasar air mata, kemudian beranjak meninggalkan tempat itu.

"He-hei, kau mau pergi kemana? Kau tidak mau tau keadaannya?" panggil Fang.

"Aku mau pulang. Tidak perlu, aku sudah tau keadaannya. Kau sudah puas kan? Aku sudah menemuinya." Jawab Blaze tanpa menoleh.

"Jadi hanya seperti ini? Kau itu memang seorang pengecut seperti apa yang aku katakankan?" ejek Fang walau ada makna dibalik kalimat itu.

"Terserah apa katamu," balasnya mengacuhkan ejekan Fang.

Blaze yang sebenarnya adalah orang yang hangat, dan karena suatu alasan dia berubah menjadi seorang yang dingin dalam kurun beberapa hari. Dan Blaze yang beberapa saat lalu kembali ke sifat asalnya, dalam hitungan menit hatinya kembali beku. Seperti tuts piano, hitam dan putih yang selalu ada.

TBC…

Tadaima.. Ternyata hiatus 2 bulan (lebih) bikin otaknya ngadet buat balik nulis lagi. Alhasil molor and kalimatnya klise banget, gomenne.. Padahal sebelum ini buat ceritanya lancar-lancar, kaya ada air terjun yang masuk ke otak..

Yokatta ne, Ujian udah kelar. Sebenernya waktu hiatus 2 bulan itupun banyak ide yang nyangkut, tapi mikirnya 'ah abis UN'. Dan sekarang udah UN idenya ngga tau pada ngilang kemana T3T …

Jaa, lanjut ke sesi bales review dulu ya ^^

Rampaging Snow : Semangat sih semangat, tapi kalo ngga ada idenya mau gimana lagi :3

Floral Lavender : Hello Floral, Emang bakal tamat sih, soalnya aku juga mau ganti story :3 ..

Illiara : Amin… Makasih doanya & semangatnya…

Zahra123 :Yah, kok baper? Eh, ya ngga papa sih, berartikan ceritanya sampai hati :D …Hahaha, makasih udah nunggu fic ini sampai hari ini. Penantian panjang. Semoga endingnya nanti makin ngena ^^

Zahra123 : Beda orang atau sama sih? Ah, itu emang aku buat sengaja, biar bikin penasaran, n dijelasin di chapter berikutnya… Makasih dukungannya..

Rasanya segitu udah cukup ya, chapter berikutnya akan diupdate secepat Lucky bisa…

Jaa na…

BTW, kok singkat bener ya? Biasanya pidatonya panjang x lebar x tinggi = ahhh, abaikan..

Sampai jumpa di chapter berikutnya! ^^