'Ingat masa lalumu bersamanya, menyenangkan bukan? Lebih banyak hal menyenangkan daripada yang menyedihkan. Dan kau ingin merasakannya lagi, karena itu, berhenti berputar-putar di tempat yang sama dan lihatlah ke depan. Dan lihat, apa yang akan menantimu di ujung sana.'

Yang menantiku di ujung sana adalah … Penyesalan

Three Days

Boboiboy © Animosta Studio

Warn : Typo! OOC, Fem! Ice

Happy Reading ^^

Chapter 16 : Remorse ~

Ice POV

Hei, jika umur kalian telah ditetapkan, apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan menyesali hidup kalian karena telah terlahir di dunia ini? Hidup untuk lahir atau hidup untuk mati? Bagaimanapun juga kehidupan itu harus tetap dijaga. Walau sisa hidupmu hanya bisa untuk memandang dunia dari jendela.

Tiga hari berlalu sejak kondisi terburukku, aku pikir aku akan mati hari itu. Dari hari ke hari, aku semakin kehilangan kepekaan indraku dan terkadang tubuhku tak mau bergerak seperti kemauanku.

Suara derikan pintu mengalihkan duniaku, kulihat orang yang selalu menemani hari-hari kelabu muncul dari balik pintu. Meski 3 hari ini dia tidak menemuniku.

Aku hanya mengulas senyum, "Kau adalah satu-satunya orang yang paling sering menjengukku."

Ia bergeming, seikat bunga rosemary menghiasi sudut ruangan ini. Dan dalam diam dia duduk di sampingku, menatapku dari balik lensa nilanya.

Aku kembali menatapnya bingung, "Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Tidak, tidak ada apa-apa."

Aku kembali terdiam, tak ingin juga aku memaksa mengungkapkan apa yang dia pikirkan. Dan lagi pula aku juga bukan seorang yang punya kemampuan telepati untuk membaca pikiran seseorang. Aku pun ikut terlarut dalam diam, memandang tanganku sendiri yang masih terasa kehangatan seseorang.

"Fang, boleh cerita?" tanyaku penuh harap.

Seperti biasa, Fang memang pelit bicara. Dia hanya bergumam, walau begitu ini sudah cukup bagiku.

"Akhir-akhir ini aku takut tidur, hampir setiap malam aku mimpi buruk. Aku bermimpi kalian melewatiku begitu saja, mengabaikanku dan menjauh dariku. Ketika semuanya menjadi gelap, hanya aku yang tersisa. Dan saat aku terbangun, aku bersyukur masih bisa bernapas tapi di sisi lain, aku sangat takut jika hal itu terjadi."

Aku menghirup nafas panjang, "Hari itu, aku merasa Blaze menggenggam tanganku erat, tangannya terasa hangat. Aku khawatir kehangatan itu juga mimpi, satu-satunya yang tersisa selain rasa sakit."

"Apakah waktu itu kau juga merasa tengah bermimpi?"

Aku menggeleng singkat, "Entah, tapi rasa sakit dan genggaman hangatnya terasa sangat nyata."

"Fang, apakah Blaze membenciku?" tanyaku penuh harap.

Cukup lama ia terdiam, memikirkan dengan baik pertanyaanku. Kurasa di sini Fang merasa dialah yang menjadi tokoh antagonis.

"Tidak. Dia tidak pernah membencimu. Dia hanya belum siap untuk menemuimu lagi. Jika waktunya tiba, dia pasti akan menemuimu."

"Lalu bagaimana Blaze sekarang?"

"2 hari dia tidak berangkat ke sekolah, tidak mengikuti latihan di klub dan waktu penerimaan raport kemarin aku juga tak melihat batang hidungnya."

Aku tertunduk lesu, ini semua salahku. Sejak awal aku salah, seharusnya tidak perlu ada drama segala jika akhirnya menjadi seperti ini. Toh, aku juga bukan seorang aktris yang pandai mendramatisir keadaan, skenarioku gagal kumainkan.

Aku yang awalnya ingin menjauhinya sekarang malah berbalik menjadi Blaze yang menjauhiku. Ternyata seperti ini rasa sakitnya.

Suara ketukan pintu terdengar di kamarku, dan itu cukup untuk mengakhiri keheningan ini. Dan kejutan untukku saat yang datang adalah kedua sahabatku.

"Selamat pagi Ice," sapa Yaya muncul dari balik pintu, tersenyum hangat padaku.

Ying mengekor di belakangnya sesaat menatapku aneh.

Heh? Kenapa Ying memandangku seperti itu? Tunggu, ini kamarku. Sejak tadi hanya ada aku dan Fang di sini, dan sekarang ada Yaya dan Ying.

"Heh! Ying ini bukan seperti yang kau pikirkan. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Fang, beneran deh." Sanggahku cepat.

Ying memiringkan kepalanya, memandangku heran, kemudian dia tergelak setelah memahami apa yang aku katakan.

"Apa-apaan sih Ice? Aku memang sengaja meminta Fang untuk menemuimu duluan, agar dia tidak terlalu lama menunggu kami. Dan setidaknya kau punya teman bicara."

Aku membuang nafas lega, aku pikir akan terjadi salah paham lagi. "Kalau begitu jangan memandangku seperti itu dong."

"Memangnya kenapa?"

"Eh, itu.. Bukan apa-apa sih." Dustaku sweatdrop, sebenarnya aku masih ngeri jika teringat kesalahpahaman diantara kami. Tapi sudahlah, masa itu juga sudah lewat.

"Ah iya, kami membawakanmu sesuatu. Macaroon terenak di kota ini!" seru Yaya semangat sembari mengeluarkan sekotak macaroon penuh warna.

"Terima kasih. Seharusnya kalian tak perlu repot–repot seperti ini. Ah, yang pink untukku ya?" Ujarku sambil melahap macaroon yang dibawa Yaya tadi.

"Tidak apa-apa, kami juga kebetulan lewat toko kue."

Ying berjalan mendekat, "Lalu bagaimana keadaamu? Ku dengar dari Fang hari Rabu itu kondisimu drop lagi."

Netraku menatap tajam iris di balik lensa itu, 'Dasar ember!' keluhku dalam hati. Haruskah ia melaporkan setiap hal yang terjadi padaku? Mentang-mentang dia yang paling mengerti keadaan fisikku.

"Hm, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Hanya saja, mungkin aku akan menghabiskan liburanku di tempat ini. Ah iya, ngomong-ngomong, kalian liburan kemana?" Ujarku mengalihkan pembicaraan.

Mereka saling bertatapan dan menghela nafas bersamaan, "Tak akan sempat untuk liburan, 4 bulan lagi ujian kelulusan akan dilaksanakan dan kemudian ujian masuk universitas." Ujar Ying lesu.

"Oh ya, kau sudah merencanakan akan melanjutkan kemana? Rencanaku sih mau melanjutkan sekolah khusus kedokteran di Cina." Ujar Ying.

Ah, benar juga. Sebentar lagi aku akan lulus, tak terasa masa SMA ku hampir berakhir. "A-aku… Aku belum memikirkannya." Bahkan aku tak tahu apakah saat itu tiba aku masih di dunia ini atau tidak.

"Heh, kalau bagi Ice masuk di universitas mana saja pasti mudah. Sudah berapa banyak prestasi yang ia peroleh, pasti banyak perguruan tinggi yang mengincarnya." Balas Yaya dengan nada jealous.

"Heh, mana mungkin semudah itu. Tidak ada hal mudah di raih di dunia ini asal kau tahu." Pipiku mengembang kesal, Yaya terlalu melebih-lebihkanku.

Ruangan ini terasa lebih hangat dengan tawa yang mengisi partikel udara di sekitarnya. Aku bersyukur masih bisa menikmati suasana ini.

"Kalau kau Yaya? Dan kudengar kau juga akan belajar mengurus perusahaan keluargamu ya Fang." Tanyaku kepo.

"Aku akan mengikuti jejak ibuku, jadi kemungkinan besar aku akan belajar fashion di Paris." Jawab Yaya

"Aku mungkin akan ke USA, aku akan belajar mengurus perusahaan keluargaku di sana dan kuliah di sana. Orang tuaku bahkan sudah mempersiapkan segalanya." Jawab Fang.

"Eh, kalau begitu kau akan berpisah lama dengan Ying. Kau di Amerika dan Ying di Cina." Ujarku.

"Ice benar, kalian bertolak belakang." Tambah Yaya.

"Bukan masalah. Selama bumi masih bulat, seberapa jauhpun jaraknya, aku hanya tinggal mengitarinya untuk menemukannya. Dalam fisika sudah sejak jaman azali, dimana 2 kutub magnet yang berbeda akan saling menempel. Walaupun aku di arktik dan Ying di antartika, kami akan tetap tak bisa dipisahkan." Ujar Fang sambil senyum-senyum gaje.

Yaya tergelak melihat wajah Ying bersemu merah padam akibat ucapan Fang.

"Fang, hentikan itu!" seru Ying malu-malu.

Aku hanya mengulas senyum, membicarakan masa depan yang tida terlalu dekat atau jauh. Membuatku menghargai masa lalu yang membuat hari ini menjadi lebih bahagia. Aku memikirkannya dengan serius tentang apa yang akan aku katakan pada diriku dimasa depan nanti. Misalnya mengapa aku begini, atau kenapa aku melakukan itu dan sebagainya.

Setiap manusia memiliki tujuan mereka masing-masing. Akan jadi apa aku di masa depan, aku belum memikirkannya. Memikirkan aku yang saat ini saja terasa sangat sulit, seolah hanya keberuntungan yang membuatku masih bernafas hingga saat ini.

Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, langit biru yang membentang luas seperti lambang kebebasan. Entah kenapa, aku jadi memikirkannya. Blaze, sekarang apa yang sedang kau lakukan?

~LucKyra~

Normal POV

Hosh… Hosh… Hosh…

"Maaf! Aku terlambat." Seru orang dari kejauhan.

Sambil berkacak pinggang, orang yang mengenakan topi biru mulai mengomel seperti ibu-ibu.

"Kau ini! Apa saja yang kau lakukan? Beruntung keretanya belum tiba!" Omel Taufan sesaat setelah Blaze tiba.

Sambil memegang lututnya, ia berusaha mengatur nafas setelah lari sprint dari rumahnya menuju stasiun. "Maaf, aku kesiangan."

"Aku sudah menghubungimu berkali-kali, tapi tak ada balasan apapun. Setidaknya beritahu kami sudah sampai di mana." Tambah Taufan.

Gempa menepuk bahu Taufan mencoba meredakan emosi rekan satu timnya, "Sudahlah Taufan, setidaknya hargai usahanya untuk sampai kesini. Lagipula keretanya juga belum datang."

"Hah hah, maaf. Aku tidak sempat melihat HP-ku. Eh-tunggu, HP ku…?" Blaze nampak kebingungan, ia memeriksa sakunya dan juga tasnya, mencari ponsel kesayangannya.

Kereta yang menuju Kuala Lumpur akan segera tiba, pastikan anda berada di belakang garis.

"Ada apa?" tanya Gempa penasaran.

"HPku tertinggal di kamar. GAWAT! Aku harus mengambilnya!"

Dengan cepat Taufan menarik hoodie bercorak api milik Blaze, "Aaaa! Tidak tidak tidak. Kau butuh waktu setidaknya setengah jam untukmu kembali kemari. Sebentar lagi keretanya akan datang, jadi aku tak akan membiarkmu kemana-mana." Tegas Taufan

Blaze meronta mencoba melepaskan dari cengkraman Taufan, "HUAA! TIDAK! Aku tidak bisa hidup tanpa ponselku! Ada game yang harus aku selesaikan!"

Perempatan merah imajiner muncul di pelipis kedua rekan Blaze itu dan berakhir dengan 2 benjolan di kepala Blaze. Kereta telah tiba, mereka berdua dengan menarik paksa Blaze masuk ke dalam gerbong.

"Alah, kau juga tak akan mati jika seminggu tanpa ponselmu! Lagipula kita ke sana untuk berlatih, bukan untuk menyelesaikan quest game!" Omel Gempa setelah kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun.

Blaze pundung di tempat menghadap keluar jendela. Gempa hanya menghela nafas panjang dan mulai berpikir, pantas saja Fang sering mengatainya kekanak-kanakan. Memang faktanya begitu, ia hanya bertukar pandang dengan Taufan.

"Blaze, dua hari kau tidak berangkat. Kenapa?" tanya Taufan mencairkan suasana.

Seketika ekpresi Blaze berubah, yang awalnya cemberut menjadi memancarkan pandangan yang menyedihkan.

"Tidak apa-apa." Jawabnya singkat.

"Apa ini ada hubungannya dengan Ice? Aku dengar dari Fang kondisinya menurun lagi saat kau menjenguknya." Jelas Gempa tepat sasaran. Ia tidaklah bodoh, dari kilat mata Blaze menunjukan ada rasa sedih dan bersalah, dan sangat mudah dibaca.

Tapi Blaze memungkirinya, "Tidak, tidak ada hubungannya dengan hal itu."

"Bohong, kau pasti memikirkannya." Terka Gempa.

"Tidak!"

"Kau masih saja menipu dirimu sendiri?"

"Sudah kubilang tidak! Berhenti membicarakannya! Tidakah kau tahu aku sedang fokus untuk camp ini!?" Seru Blaze keras dan itu cukup membuat Taufan dan Gempa tutup mulut. Beberapa penumpang menoleh kearahnya, sesekali terdengar bisik-bisik di antara mereka.

Sadar dengan apa yang barusan ia lakukah, Blaze menghela nafas panjang, "Maaf."

Blaze bukanlah tipe orang yang pandai berbohong karena sikapnya yang emosional. Ia hanya sedang ingin fokus dengan seleksi ini, ia tak akan membiarkan suatu hal menghancurkan mimpinya lagi.

.

.

Hari Pertama Camp

"Kenapa banyak sekali yang mengikuti pelatihan ini?" heran Taufan. Bagaimana tidak, mungkin jumlah orang yang berkumpul dilapangan itu sekitar seratus orang. Dan mereka juga orang terpilih untuk mengikuti pelatihan ini.

"Tentu saja, inikan seleksi dari seluruh penjuru negeri. Aku yakin kebanyakan dari mereka dari sekolah sepak bola." Jelas Gempa.

"Heh? Jadi mereka semua saingan kita? Aku jadi bersemangat." Blaze melakukan pemanasan, mulai berapi.

Mulai dari sini mereka akan berlatih bersama perwakilan dari daerah lain. Berjuang bersama dengan tujuan yang sama. Di dunia manapun hukum rimba selalu berlaku, kesalahan sedikitpun tak akan dimaafkan, kau harus menunjukan yang terbaik jika ingin bertahan.

"YO! Pemain dari Pulau Rintis." Sapa seseorang yang nampak familiar, "Jadi kalian juga terpilih."

"Ah, Ochobot. Pertandingan terakhir itu sangatlah hebat, sayangnya kami harus menelan kekalahan. Tapi lain waktu kami pasti menang. Ngomong-ngomong, apakah kau satu-satunya dari Vanlith." Ujar Gempa.

Orang itu mengulas senyum, "Tidak masih ada satu lagi, Boboibot juga di sini."

Blaze menggembungkan pipinya tanpa sadar karena ada orang yang namanya hampir sama dengan nama belakangnya.

"Perhatian!" Seru salah seorang staf dari tepi lapangan, meminta semua peserta untuk berkumpul.

"Selamat pagi. Aku salah satu staf pelatih, namaku Robert. Sebelum dimulai, pelatih Ricard akan memberikan penjelasan singkat." Ujarnya.

Kemudian seorang pria paruh baya maju kedepan dan mulai memperkenalkan diri, "Namaku Ricard. Jumlah kalian terlalu banyak di sini, dan aku yakin beberapa dari kalian bingung. Mulai hari ini, pada camp pelatihan hanya tersedia untuk 30 orang. 110 orang di sini, akan terbagi menjadi 10 tim dan bermain dalam mini game selama 15 menit."

"Ingat baik-baik! Bayangkan 15 menit ini adalah babak kedua final piala dunia. Jika kalian mau menang, bermainlah dengan serius. Buat kesempatan kalian sendiri, hancurkan kesempatan mereka, jangan biarkan mereka mencetak angka. Tunjukan kemampuan terbaik kalian! Pertandingan akan dimulai 10 menit lagi. Sekian." Jelasnya singkat.

Beberapa orang nampak terkejut dengan penjelasan ini. Pelatih berniat memilih siapa yang tetap di sini hanya dalam waktu singkat.

Setiap pemain telah ditentukan dalam satu tim dengan penempatan pemain yang tepat. Blaze berada di Forward bersama 2 pemain yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Ia bersama satu tim dengan Gempa dengan posisi Midfielder. Sedangkan Taufan berada di tim I yang menjadi lawan tim Gempa dengan menjabat posisi midfielder.

"Tim I dan J, masuk ke lapangan sekarang."

Pertandingan berlangsung dengan cepat, hanya dalam 15 menit mereka harus menunjukan seluruh kemampuan yang mereka miliki. Tak sampai dua jam, dari 110 pemain hanya menyisakan 28 pemain pilihan yang tetap bertahan.

"Mereka semua kuat." Blaze menghapus keringat yang mengalir deras dari pelipisnya sambil mengatur nafasnya. Walau hanya bermain selama 15 menit, tapi itu cukup menguras energinya.

"Baik fisik maupun kemampuan mereka berada di atas rata-rata untuk anak SMA. Apa ini yang disebut generasi emas? Beruntung kita bisa mencetak angka tadi." Ujar Gempa yang masih mengatur nafasnya.

"Aku bahkan tak percaya kalau kita bisa masuk ke dalam tim seperti ini." Komentar Taufan.

Sebuah kepalan tangan mendarat di lengan Taufan, "Kau ini meremehkan kemampuan kita?" protes Blaze. "Dengar ya, tidak ada yang namanya keberuntungan di lapangan. Hanya kerja keras dan tekad yang membuat kita masih bertahan di sini." Tegasnya lagi.

"Yah kau benar. Sudah cukup istirahatnya. Latihan akan dimulai sebentar lagi." Ujar Gempa.

"Heh!? Lagi!?"

.

.

Blaze POV

Satu kamar terdiri dihuni oleh 3 orang, memang ku sayangkan aku tidak satu ruang dengan Gempa dan Taufan.

"Ahh, padahal baru hari pertama, tapi latihannya sudah seberat ini." Ujar salah seorang berambut pacak.

"Hari ini memang rasanya berat sekali. Aku ingin segera tidur." Desahku sambil meletakan tas di pojok ruangan.

"Kau anak baru ya? Namaku Xavier Foster, pemain gelandang dari Aliea Academy." Ujar orang itu.

Eh? Ternyata yang dikatakan Gempa benar. Kebanyakan yang bertahan di sini adalah dari sekolah sepak bola. Aku tak begitu tau tentang Aliea Academy, tapi kudengar itu academy hebat yang telah mencetak pemain unggulan.

"Namaku Boboiboy Blaze, penyerang dari SMA Pulau Rintis." Ujarku memperkenalkan diri.

Sebenarnya masih ada satu lagi orang di sini, tapi melihat sikapnya yang dingin dan ketus sudah membuatku malas untuk menyapanya. Dari tatapannya yang tajam, aku tau dia adalah orang yang serius dan tidak menyenangkan.

"Ah, namamu hampir sama dengannya. Dia Axel Blaze. Penyerang dari SMA Raimon, kalian bisa saling bekerja sama nanti." Ujar Xavier.

Aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya. Yang benar saja, mana mungkin aku bisa bekerja sama dengan orang seperti itu.

Heh, tunggu. AXEL BLAZE!? Aku ingat sekarang, pemain tangguh U-17 bernomor punggung 10, seorang striker jenius. Dia menjadi top scorer tahun lalu. Masa depannya sudah terjamin dalam sepak bola. Aku harus bersaing dengannya demi posisi striker!? Luar biasa.

Hei hei, lihat! Dia melihatku! Aku harus menyunggingkan senyum untuk menarik perhatiannya. "Ha-hai, namaku Blaze. Mungkin nama kita hampir sama, tapi kita punya panggilan yang berbeda. Ku rasa kita bisa bekerja sama."

"…"

"😅"

Dia mengabaikanku! Sialan Kau Axel Blaze! Kau memandangku sebelah mata?

Seseorang menepuk bahuku, "Sifatnya memang begitu, jadi ku harap kau bisa cepat terbiasa dengannya. Walaupun begitu, tapi sebenarnya dia baik." Jelas Xavier

"Y-ya, kurasa begitu." -Mungkin-

Waktu makan malam segera tiba, dan sekali lagi kami bertemu secara keseluruhan. Cukup hangat suasanya, mereka semua ramah dan juga humoris. Walau ada beberapa orang yang terkesan kaku dan sadis.

"Bagaimana teman sekamarmu?" tanya Gempa saat aku duduk di sampingnya.

Aku menghela nafas. "Satu orang dari Aliea Academy bernama Xavier, orangnya cukup ramah aku akui. Dan satu orang lagi yang sifat dinginnya melebihi Halilintar, Axel Blaze," jawabku malas. "Kau sendiri?"

"Yah lumayan. Mark Evans, keeper dari SMA Raimon dan Jude Sharp dari Teiko Academy. Mereka pemain jenius yang pernah bermain di U-17. Sepertinya kebanyakan pemain di sini adalah pemain senior, ah maksudku pernah mengikuti camp tahun lalu." Jelas Gempa panjang lebar.

Malam itu, kami pendapat pengumuman baru. Agenda hari kedua adalah pertandingan merah dan putih, sebagai tahap untuk memperkecil tim. Awalnya aku pikir 28 orang yang berada di ruangan ini sudah pasti menjadi perwakilan, ternyata masih akan diadakan seleksi lagi.

Kami dibagi menjadi 2 tim, dan aku berada di tim merah, sedangkan Taufan dan Gempa di tim merah. Yah, bukan masalah sih dengan siapa aku satu tim, toh pada akhirnya kami juga rekan.

Tidurku sangat nyenyak malam itu, padahal ini baru hari pertama aku mengikuti perlatihan ini. Tak bisa kubayangkan akan jadi apa aku satu minggu ke depan.

Hari kedua pelatihan, tahap dua dalam seleksi ditentukan dengan pertandingan ini. Kami belumlah mengenal akrab satu sama lain, dan ini juga melatih kerja sama tim.

Pertandingan berjalan seperti biasanya. Axel mampu mencetak 4 poin, sedangkan aku hanya bisa menembus 2 kali gawang yang dijaga Mark. Pemain nasional memang hebat ya?

Usai Pertandingan...

"... Ochobot, Nathan Swift, Xavier Foster, Gempa earthquake, Taufan Cyclone, Shawn Froste, Aiden Froste, Axel Blaze, Boboiboy Blaze."

"19 nama yang telah disebutkan akan menjadi pemain perwakilan U-18. Mark Evans, kupilih kau sebagai kapten."

"Yosha!"

"Satu hal lagi, sepak bola kalian baru saja dimulai. Dan bagi pemain yang kami keluarkan, perwakilan olimpiade dan piala dunia masih belum diputuskan. Berusahalah lebih keras dan meraih kemenangan pada akhirnya." Pesan coach hari itu.

Aku menghela nafas panjang dan, "Gempa kau dengar itu!? Kita bertiga terpilih, aku tak percaya akan bermain di lapangan internasional." Seruku menggoncangkan bahu Gempa.

Sebanyak 110 pemain dari berbagai daerah kini hanya tersisa 19 pemain, termasuk kami bertiga. Mulai hari ini kami akan jadi rekan satu tim, rasanya berdebar.

"Dan besok kita akan melakukan latih tanding." Seru pelatih sekali lagi.

"Pelatih, siapa yang akan jadi lawan kita?" Tanya Mark selaku kapten.

"Jepang yang akan menjadi lawan kita kali ini., tunjukan jika kalian memang pantas untuk memakai jersey kalian masing-masing."

"Baik."

Besok adalah hari debut pertamaku di U-18.

Normal POV

Desiran lembut angin malam hari membelai lembut surai hitam yang nampak dari balik topi. Iris matahari senjanya menatap kosong pada kegelapan yang membentang di depan mata, wajah rembulan yang pucat dengan butiran debu yang terbang bebas memenuhi atmosfir.

Malam melenggang pelan, membahasakan sunyi puisi. Di atas sana udara memekat, rindu yang mengikat sepanjang malam menyerukan nama seseorang.

Gemerisik rerumputan menyambut kedatangan seseorang, "Mencemaskan pertandingan besok? Atau karena ini debut pertamamu?"

Blaze melirik dari ujung netra sekilas dan kembali memandang lurus, "Tidak."

"Ada hal yang mengganggu pikiranmu?"

Blaze yang awalnya rebahan di atas rumput beralih menjadi terduduk, "Entahlah, tiba-tiba perasaanku tidak enak. Seperti akan ada hal buruk yang akan terjadi." Jawabnya lesu.

"Kau memiliki intuisi yang bagus," ejek orang berambut spike.

"Eh? Kita bisa bicara akrab sekarang?" Tukas Blaze tak percaya.

Axel terkekeh lirih, "Apa menurutmu aku sekaku itu?" kilahnya dan beranjak ikut duduk di atas rumput.

"Yah, itu kesan yang pertama kali kau tunjukan. Tapi ternyata kau juga manusia," Balas Blaze.

Blaze memeluk lututnya sendiri, memandang sayu pada ilalang yang bergoyang diterpa sang bayu, "Axel, apa kau pernah membuat kesalahan yang membuatmu dibenci seseorang?" tanya Blaze tanpa sadar.

Netra tajam milik Axel mampu membaca jelas kebimbangan yang melanda rekan satu timnya. "Boleh cerita sedikit?" ujarnya dengan seulas senyum.

Iris legamnya memandang lurus ke langit, "Ayahku itu seorang pendidik dan menolak bakatku dalam sepak bola. Ibuku sudah lama meninggal dan adik perempuanku bangga padaku. Suatu hari, kecelakaan menimpa adikku saat ingin menonton pertandinganku. Di sini aku merasa sangat bersalahdan akulah yang harus bertanggung jawab atas adikku.

Tentu saja aku tak punya uang sebanyak itu untuk membayar operasinya. Tiba-tiba seseorang menghampiriku dan menawarkan bantuan tapi dengan syarat tim ku harus kalah dalam pertandingan berikutnya."

"Dan kau menerimanya?" potong Blaze.

Axel kembali mengulas senyum, "Aku tak punya pilihan, hidup adikku berada di ujung tanduk. Dan pertama kali dalam hidupku, aku membuat gol bunuh diri. Sudah pasti timku kecewa padaku, aku memutuskan keluar dari tim dan berhenti dari sepak bola." Nafas panjang ia hembuskan.

"Tapi di suatu waktu tak terduga, Mark datang dan memintaku kembali. Aku menebus semua kesalahanku dengan membobol gawang lawan sebanyak mungkin dan membawa timku pada kemenangan." Kata Axel mengakhiri ceritanya.

Blaze termenung. "Ini pertama kalinya kau bicara sebanyak itu padaku. Yah, tapi cukup menyenangkan juga mendengar kisah dari striker andalan sepertimu. Tapi kenapa kau menceritakan hal ini padaku?" Herannya tak habis pikir.

"Karena kita sama-sama pernah membuat orang disekitar kita kecewa. Kau tau? Orang yang kita pikir adalah orang yang paling membenci kita, mungkin adalah orang yang pertama kali memaafkan kita." Ungkap Axel.

Ia bangkit sambil menyimpan tangannya di dalam saku celana trainingnya, "Udara semakin dingin, beristirahatlah agar besok kau bisa bermain maksimal."

"Sebentar lagi," tandas Blaze.

Tanpa sepatah katapun, striker itu pergi meninggalkan Blaze yang hanya menatap punggung saingannya itu menjauh.

"Heh, apa-apaan dia. Pandangannya sangat tajam, tapi sikapnya labil seperti anak kecil. Sekejap ramah sekejap sadis." Celetuknya seorang diri.

Ia kembali menggeleng cepat, "Tu-tunggu, apa yang aku pikirkan? Dia pemain unggulan, dia adalah sainganku untuk mendapatkan posisi itu, dengan kata lain musuhku! Ah sudahlah, tidur saja." Gumamnya sambil sesekali meregangkan ototnya.

"Apa dia sudah tidur ya? Apa dia baik-baik saja saat ini? " Netranya kembali memandang langit sedikit awan yang menghalangi cahaya bintang. "Dia tidak pernah menemuiku lagi, apakah dia tidak tahu kalau waktuku itu hanya sedikit?"

Di ruangan gelap, dimana hanya cahaya luna yang hanya bisa menyentuh wajah pucat nan ayu itu, iris aquamarine yang hampir kehilangan cahayanya menatap datar pada layar bersinar di genggaman tangannya.

"Aku merindukannya… Aku ingin melihatnya.. Aku sangat merindukan, matanya, suaranya, senyumnya, tawanya dan juga kehangatannya. Apakah sesulit itu menemuiku?"

Bulatan-bulatan kristal yang meleleh hingga ke pipi, tak mampu menghapus rasa di dada. Memeluk tanpa sadar dalam lingkaran diri, rindu yang bercampur rindu.

"Kalau dia benar-benar membenciku, setidaknya temui aku untuk terakhir kalinya." Suarapun tersendat sumbang.

~LucKyra~

Pagi itu mereka hanya melakukan pemanasan dan latihan ringan, dan siangnya akan ada pertandingan latihan dengan Jepang.

Kalau diingat-ingat juga, sudah seminggu. Tujuh hari Blaze benar-benar melepas kontak dengan Ice.

"Ah, hari ini cerah sekali. Aku jadi semakin semangat." Seru Mark semangat sambil menggerakan otot tubuhnya.

"Padahal sore nanti hujan akan turun." Ujar Blaze tanpa sadar terlepas dari mulutnya.

"Eh? Memangnya kau sudah melihat perkiraan cuaca hari ini?" tuntut Mark.

"Rumput kering, langit pagi berwarna merah, burung terbang rendah. Hari ini akan hujan."

"Ternyata kau pandai membaca gejala alam ya?" puji Nathan.

Seulas senyum terukir di wajah Blaze, "Seseorang pernah berkata seperti itu padaku."

Tak ada badai atau tsunami pagi itu, tiba-tiba saja pandangan iris itu menjadi sayu, atmofer pagi itu mengingatkan pada seseorang yang ternyata tak bisa ia pungkiri perasaannya sendiri. Perasaan yang mengganggunya sejak malam kian membesar bak balon yang ditiup memenuhi relung hatinya.

Sepasang iris legam memperhatihan kegelisahan yang tengah melanda rekan sesama penyerang tanpa disadari, hanya membatu di tempat.

.

.

Peluit berbunyi, U-18 lah yang mengawali bola pada pertandingan babak pertama ini. Axel mengoper bola pada Blaze dan dengan cepat meninggalkan garis tengah.

"Jangan biarkan mereka member umpan pada Axel!" Seru pemain no 10 di kubu lawan.

Blaze terus menggiring bola hingga setengah wilayah lawan dan langsung dihadang oleh 2 pemain sekaligus. Tapi dia langsung mengoper bola pada Nathan dan berlanjut pada Taufan. Taufan terus menggiring bola melewati sayap kiri yang kemudian membuat umpan trobosan pada Axel. Sayangnya umpan itu terlalu jauh dan tak bisa di jangkau hingga bola dikuasai lawan.

"Lol! Axel hanya seorang diri di sana! Seseorang keluarlah dari pertahanan dan buat celah!" Seru seorang dari pemain cadangan. "Pelatih, turunkan aku! Jika terus seperti ini, tim perwakilan akan kehilangan muka." Keluhnya pada coach.

"Tenanglah Burn, kau akan bermain di babak kedua nanti. Hal terpenting dalam pertandingan ini bukanlah masalah menang atau kalah. Ini adalah ujian untuk melihat bagaimana permainan anak baru." Ujar coach.

Blaze POV

Deg… Deg… Deg…

Jantungku berdegup lebih cepat dari biasa? Bukan karena mondar mandir mengejar bola, entah namanya apa, tapi ini lebih seperti, khawatir. Entah apa yang sedang terjadi, tapi perasaan ini membuatku tak fokus. Menyebalkan, menyebalkan tapi ini tetap menyedihkan

Perasaan yang berdebar karena telah menemukan hal yang buruk dalam sisi ku. Aku yakin itu yang namanya penyesalan.

DUAK!

Sebuah bola yang tanpa aku sadari datang dari mana tiba-tiba menghantamku dengan keras dan langsung membuatku tersungkur.

Diantara kesadaran yang hanya tersisa setengahnya, aku memaksa membuka mataku dan ku lihat Axel menghampiriku dengan mengepalkan tangannya geram.

"Kau pikir kau bermain untuk siapa!?" serunya.

"Hatimu sudah tak ada di sini. Mungkin ini hanya pemain U-18, tapi ini camp pelatihan pemain perwakilan. Jika kau di sini untuk main-main, kemasi barang-barangmu dan pulanglah. Kau tak akan bertahan dengan mental seperti itu!" tambahnya.

Sial, bicara apa dia? Aku tidak pernah bermain-main dalam sepak bola. Kucengkram kerahnya dan dia hanya menatap tajam padaku.

"Apa maksudmu? Hah!?"

"Blaze kau tidak apa-apa?" tanya Gempa khawatir, karena aku yakin Axel menendang bola itu dengan sungguh-sungguh.

"Axel apa yang kau lakukan?" Marah Nathan dan mendorongnya menjauh dariku.

Beberapa orang mengerubungi kami, mencoba melerai pertengkaran yang tidak jelas alasannya.

"Axel, kau ini kenapa? Tidak biasa kau bersikap seperti ini!" Geram Mark, sahabatnya.

Orang itu hanya berdecak dan pergi begitu saja kembali ke posisinya. Sementara aku dikeluarkan dari lapangan dan digantikan oleh Burn untuk sementara waktu.

"Kau baik-baik saja Blaze?" Tanya manager sambil memeriksaku, tapi aku menepisnya dengan alasan baik-baik saja.

"Kalau kau merasa tidak enak, lebih baik istirahat di kamar saja." Ujar coach.

Aku menggeleng singkat, "Tidak aku baik-baik saja, aku di sini saja." Ujarku sambil mengompres kepalaku dengan es.

Aku hanya menghela nafas, sebenarnya ini juga salahku. Aku tidak konsentrasi saat di pertandingan tadi dan Axel menyadarinya. Apa yang kupikirkan sebenarnya, sebesit terlintas di kepalaku tentang Ice.

Kenapa? Padahal aku tak pernah menemuinya lagi, tapi aku justru tak bisa berhenti memikirkannya. Rasa bersalah itu kembali menyelimutiku. Padahal baru senang sebentar dan dalam sekejap langsung terpuruk lagi, seperti jatuh ke jurang dalam.

Dan aku menjauhinya, aku ini benar-benar lelaki yang menyebalkan. Tunggu, apa yang aku pikirkan?

Aku menggeleng cepat, kembali memperhatikan pertandingan. Dan entah sejak kapan, tim kami ketinggalan 2 angka. Rasanya 45 menit babak pertama seperti petir yang menyambar di langit cerah.

Aku telah menangis, frustasi, berteriak, menderita dan berjuang untuk ini. Benar, aku sudah sampai sejauh ini. Ini mimpiku, harapanku, aku tak bisa begitu saja jatuh karena hal abstrak bernama perasaan. Simpan itu untuk nanti.

Aku bangkit dari bangku cadangan dan menghampiri orang yang kuanggap rival, "Seharusnya bukan aku yang mengatakan ini duluan, tapi akan aku katakan. Aku minta maaf untuk tadi, itu salahku. Pikiranku memang tidak berada disini."

Ia menatapku, "Seorang striker tidak pernah meminta maaf dengan kata, seorang striker meminta maaf dengan sebuah gol."

Yah, orang ini memang hebat. Dia mengajariku banyak hal, meski tidak secara langsung. Aku belajar banyak darinya.

"Tapi tetap saja! Kenapa kau melakukan hal itu padaku? Kau tak tahu sesakit apa rasanya?"

"Itu karena kau rivalku, kita bertaruh untuk mendapat posisi ini kan? Kalau musuhku lemah, itu akan membosankan." Ia mengulas senyum, lebih tepatnya senyuman mengejek.

Aku mendengus, tapi aku bersyukur pernah mengenal orang seperti dia. Bisa bermain bersama dalam satu tim dengan orang yang professional itu menyenangkan.

Di babak kedua, aku kembali diturunkan. Kami kehilangan 2 poin, dan dalam 45 menit ke depan kami harus menang. Di lapangan tak ada yang namanya keberuntungan, hanya usaha keras yang tak pernah berkhianat.

Babak kali ini, pencetakan angka sepenuhnya teralihkan pada kami berdua. Dengan tendangan jarak menengah dan jarak jauh, kami beradu dengan siapa yang akan jadi raja di lapangan hijau ini.

Perasaan ini, rasanya benar-benar ingin meledak. Dalam perpanjangan waktu, kami berhasil memimpin dan menang dengan skor 3-4. 2 poin dariku dan 2 point dari Axel, kami anggap ini seri.

.

Hujan yang turun di awal bulan Desember itu seperti angin yang berhembus di padang pasir, menerbangkan butiran pasir yang membuat mata perih dan membawa cita dari pelupuk mata hingga menyentuh lembut menyelimuti kalbu.

Seorang gadis berusia 17 tahun itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, mencoba menekan rasa sakit yang menjalar tiap inchi hatinya. Rintik liquid pertama di awal bulan Desember dari langit perlahan membuat permukaan aspal menjadi lebih hitam dari biasanya, kemudian menyatu dengan air mata dari iris aquamarine.

Hujan yang kian menghujam tubuh pucatnya, tak membuat hatinya luluh untuk meninggalkan tempat itu. Ia tetap akan menunggunya.

.

Kota malam yang hampir sepenuhnya gelap jika saja tak ada lampu-lampu yang menghiasi tempat ini. Hari ini pun tak ada cahaya jingga seperti senja biasanya.

Aku terhipnotis oleh gemercik hujan, netraku memandang dunia luar yang diselimuti kegelapan. Entah kenapa udara dingin ini terasanya lebih menyedihkan, aku semakin tak bisa meredam kegelisahan ini.

"Ekpresimu itu membuatku ingin menendang bola lagi ke arahmu." Ujar Axel membuyarkan lamunanku. "Maaf ya untuk yang tadi." Tambahnya seraya menyodorkan secangkir teh hangat.

"Kau meminta maaf dan mengulanginya lagi," dengusku.

"Mungkin." Balasnya santai, kemudian meminum tehnya.

Asap mengepul dari permukaan teh ketika aku sedikit meniupnya. Kilat menyambar memberi sedikit warna pada langit kota yang sepenuhnya gelap. Suara guntur terdengar sangat dekat sekali memekakan telinga.

JDEEERRR…

PYAR….

"Ice!"

Seperti ada ribuan pukulan yang menghantam dadaku. Bayangan wajah yang selalu tersenyum dengan mata aquamarine yang begitu terang melintas di balik pelupuk mataku. Tanpa sadar air mataku juga keluar dari tempat yang sama, membuat tubuhku benar-benar gemetar.

"Blaze!? Hey, ada apa!?" panik Axel.

Kepalaku jatuh tertunduk, air mataku tak bisa berhenti berlinang tanpa ada alasan yang jelas. Dan juga ada rasa sakit yang menjalari dadaku, rasa sesak yang tak bisa ku jelaskan.

.

Air yang tergenang menciptakan kecipak air yang mengisi kekosong dijalanan lengang itu. Di bawah cahaya luna, gadis itu berjalan seorang diri. Kulit pucatnya terbalut pakaian yang masih basah akan sisa hujan.

Tak ia pedulikan udara dingin menusuk, menguar dalam setiap sarafnya. Rasa sakit yang mulai menguasainya, tapi rasa itu tak sebanding dengan rasa sakit dalam hatinya saat ini. Penantiannya tak berbuah apapun.

Hingga ia tak sanggup lagi melangkah. Cairan merah perlahan mengalir dari lubang hidungnya. Pandangannya mengabur dan pada akhirnya dunianya menggelap sepenuhnya di ujung jalan dekat tempat biasa ia di rawat.

~LucKyra~

Satu minggu berlalu seperti mimpi, aku tak percaya kini statusku adalah pemain inti U-18. Kami meninggalkan camp siang itu usai latihan terakhir, aku merasa tubuhku sudah mau rontok. Satu-satunya hal terakhir yang ingin aku lakukan adalah menghempaskan tubuhku di kasur empuk.

"Aku pulang." Ujarku ketika kakiku melangkah masuk rumah.

Di dalam ibu sudah menyambut dengan wajah berseri, "Bagaimana latihannya?"Aku masuk tim inti U-18." Kuacungkan 2 jariku membentu huruf V.

"Selamat Blaze! Mimpimu menjadi nyata sekarang. Kau mau makan sesuatu? Kau pasti lelahkan?"

"Ya begitulah, aku ingin istirahat dulu." Pamitku seraya menaiki tangga menuju kamarku.

Cahaya langsung menerobos masuk ketika tirai terbuka, sudah seminggu aku meninggalkan kamar ini. Aku menghempaskan tubuhku diatas kasur dengan nyaman, memandang langit-langit untuk sesaat dan perlahan memejamkan mata.

Baru beberapa detik terpejam, netraku kembali terjaga, teringat sesuatu. Aku tidak mengecek ponselku selama camp, ah dan lihat! Batre lemah.

Tapi bukan itu yang aku perhatikan, layar ponselku berkedip menandakan ada pesan masuk, ah bukan hanya pesan, panggilan tak terjawab, notification BBM dan juga Whatsapp.

"Banyak sekali, dari siapa?" gumamku.

1 Message

19.25, 5 Desember

From : Ice

Hai…

2 Message

19.28, 5 Desember

From : Ice

Aku minta maaf soal hari-hari yang lalu. Aku baru berani mengirimu pesan setelah aku memikirkan banyak hal.

.

3 Message

20.47, 5 Desember

From : Ice

Blaze apa besok kau ada acara? Aku ingin bertemu denganmu, di taman dekat sungai jam 8 pagi. Ada yang ingin ku bicarakan, ini hal penting. Akan ku tunggu disana, aku tidak akan pulang sebelum kau menemuiku.

.

4 Message

07.39, 6 Desember

From : Ice

Blaze hari ini kau tidak ada acarakan? Aku sudah sampai di taman, langit hari ini sangat cerah. Aku menunggumu.

.

12 Message

12.09, 6 Desember

From : Ice

Kau akan datangkan? ^^ Aku tidak akan pulang sampai kau menemuiku

.

27 Message

19.43, 7 Desember

Blaze apa kau benar-benar membenciku sampai kau tak membalas satu pesan pun dariku? Sampai detik ini pun kau bahkan tak menemuiku. Aku benar-benar minta maaf atas semuanya, di sini aku yang salah.

Aku terbelalak melihat waktu pesan terakhir, tidak mungkin dia menungguku sampai malam kan? Padahal sore itu hujan juga sangat deras. Apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan!?

Ah, ada pesan suara.

Voice Message

"Blaze, jika kau bersedia mendengarkan pesan ini aku akan sangat senang. Walau hingga detik inipun kau tidak datang menemuiku. Sebenarnya yang ingin kukatakan mungkin bukan hal yang penting bagimu. Aku hanya ingin minta maaf, mungkin karena sikapku yang bodoh ini kau jadi membenciku. Dan semua hal yang terjadi padaku itu bukan salahmu,

Apa kau ingin tahu? Cahaya bulan setelah hujan reda sangat terang, dan bayangannya di permukaan air itu sangat indah, aku berharap bisa melihat ini bersamamu." Ponselku berhenti berbunyi, suara gadis itu terdengar, ah entah, aku tak bisa menjelaskannya.

Aku terdiam sejenak, menghirup udara yang tak bisa melepas sesak di dada. Kepalaku terjatuh tertunduk dalam, tanpa sadar jemariku meremas ponsel dalam genggaman.

"Apa sudah aku lakukan? Dasar bodoh!" teriakku frustasi.

Aku langsung melesat keluar kamar, panggilan ibuku tak kuhiraukan. Isi kepalaku penuh dengan namanya. Saat aku meraih gagang pintu dan membukanya, sosok Fang sudah berdiri di sana seperti hendak mengetuk pintu rumahku.

"Fang!?" Seruku tak kalah terkejut, "Apa yang kau lakukan?"

"…"

Tak ada jawaban yang terdengar, saat ingin kulontarkan pertanyaan yang sama, tanpa basa-basi ia langsung menyeret ku keluar dari rumah.

"AKH!" Aku memekik tertahan akibat cengkraman Fang sangat kuat pada kerahku. "Lepas! Aku ingin bertemu Ice." Rontaku.

Ia berhenti melangkah, memandangku dengan tatapan membunuh. "Bertemu? Memang kau peduli padanya?"

Aku hendak membuka mulut, tapi aku sadar, tak ada hal yang bisa ku katakan. Tentu aku peduli padanya, tapi tak pernah kutunjukan karena aku terus menghindar.

"Kau tau!? 12 jam Ice menunggumu di sana! Padahal kau tahu keadaannya saat terakhir kau menemuinya. Padahal hujan deras turun sejak sore, tapi dia tetap menunggumu hanya untuk sebuah kata maaf! Dan kau tahu apa yang terjadi setelahnya?" Geram Fang, tangannya mengepal erat menahan luapan emosi yang bisa kapan saja meledak.

"A-apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada Ice?" Tanyaku bernada suram.

"Ice masih hidupkan!? Dia masih di sini kan!?" Aku menggoncangkan bahu Fang, menuntut jawaban secepat mungkin. "Katakan sesuatu!"

BUAGH

Rahang Fang mengeras, sebuah tinju mendarat di wajahku dan membuatku terhuyung ke belakang hingga akhirnya aku jatuh terduduk di atas trotoar.

"Brengsek! Kau mendoakan Ice cepat mati HAH!? Dia di rawat di ICU selama 3 hari. Dia diambang hidup dan mati, dan itu semua karena kau! Dia sekarat gara-gara kau!" Seru Fang penuh amarah.

Normal POV

Sepasang kaki kokoh itu bangkit dan berlari secepat ia bisa melewati jalanan trotoar, ia sempat menabrak bahu lelaki pemain basket di hadapannya yang hanya bergeming.

Matahari yang semakin rendah memperpanjang bayangannya. Ruas-ruas jalan ia lewati dengan cepat membawanya pada sebuah bangunan berwarna putih. Aroma khas langsung menyeruak mengisi parunya tak ia hiraukan.

Ia terus berlari bahkan di dalam gedung itu, lututnya bergetar, hatinya berdebar, pikirannya kacau. Bayang-bayang terus mengikutinya, melangkah mendekati gadis yang tengah duduk nyaman di atas kursi roda sambil memandang keluar jendela.

"Ice?" suara baritone miliknya terdengar parau memanggil nama gadis itu.

Kursi roda itu berbalik, aquamarine itu tak secerah dulu, tak secerah kilau lautan musim panas. Kulit pucat yang tersinari jingga menembus kaca, juga tak biasanya seperti itu. Dari semua itu hanya satu yang sama, senyuman itu tak pernah luntur dari bibirnya.

"Lama tak jumpa ya, Blaze?" suara lemah itu terdengar lembut terdengar.

Nafasnya tercekat, jantungnya berhenti untuk sepersekian detik. "Ice, aku." Seucap kata maaf tak tersampaikan, lidah terasa kelu walau hanya untuk ia gerakan.

Waktu membawanya pada Ice, melewati serangkaian kronologi dan juga perasaan.

"Kau ini jahat sekali ya? Padahal waktu itu aku memintamu untuk jangan pernah meninggalkanku. Tapi kau malah pergi tanpa memberi kabar apapun." Senyuman Ice membuat pertahanan Blaze runtuh.

Kedua mata jingganya disaput lapisan kaca tipis, perlahan terbawa hingga melewati pipi. Kakinya lemas tak berdaya melawan grafitasi.

"Maaf. Maafkan aku Ice." Lelaki itu kini mulai terisak pelan, kata itu akhirnya terlontar.

Roda itu bergulir mendekati sosok dihadapannya yang terduduk lemas, perlahan tangan kecil itu menggenggam tangannya.

"Ternyata tanganmu memang hangat ya?" Ice mengangkat kepalanya, memandang Blaze yang masih saja tertunduk.

"Ini pertama kalinya kau memperlihatkan air matamu padaku. Kau itu sangat kuat ya?" Disentuhnya wajah Blaze dengan telapak tangannya sambil mengusap air matanya.

"Maafkan aku, kau jadi seperti ini karena aku." Suara Blaze pecah, ikut meletakan telapak tangannya di atas tangan dingin Ice yang menangkup wajahnya.

Ice menggeleng singkat, "Ini bukan salah siapapun, ini memang jalan ku yang seperti ini." Ucapnya pelan. Bahkan dalam kondisi seperti ini, hanya senyuman itu, satu-satunya hal yang terus berkembang.

"Jika ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu, pasti akan kulakukan." Kata Blaze pelan.

"Kalau begitu," Ice menyatukan dahinya, "Dengan menemuiku setiap hari, itu sudah lebih cukup bagiku. Kau tak perlu merasa bersalah lagi, karena itu keinginanku."

Rasanya lega, ego yang selama ini membuat nyalinya ciut untuk menemui Ice sekarang lepas. Kekhawatiran yang sebelumnya menelungkupinya, kini sedikit demi sedikit mulai menghilang. Ice juga bersyukur, ia masih bisa bernafas hingga datang hari Blaze menemuinya

TBC…

GYAAAA! ANCUR 😭(╥_╥)

Jujur ya, sebenernya aku kesulitan di chapter kali ini. Menyatukan 2 scene dalam satu waktu sama buat pelatihannya. Jadi maaf aja kalo alurnya kecepetan atau bahasanya yang amburadul. BTW, yang pernah nonton Inazuma Eleven versi inggris pasti kenal sama tokoh-tokoh diatas. Soalnya aku ngambilnya dari sana, karena di aku jadi tambah bingung kalo ambil tokoh dari Boboiboy. Tapi bukan crossover ya, soalnya Cuma minjem namanya aja ^^

Gimana chapter kali ini? Kurang greget ya? *BANGET! Kyra aja masih scroll naik turun, banyak bagian yang bikin ngga enak di hati.. Rasanya kurang bumbu gitu :3* Masih merutuki sih karena bahasanya pasaran , … Ya, tapi ngga papa kan, maklumi aja masih amatir.. Dakara, kritikan kalian saya butuhkan di sini ^^

Oke oke… Lanjut Review aja ya ^^

Shidiq743 : Iya, maaf ya ^^' … Niatnya sih abis ujian terus langsung update, tapi ternyata kemampuan saya jadi memudar dan updatenya di luar perkiraan saya. Yups, sebentar lagi T,T

Floral Lavender : Gomen, tapikan aku emang pasang genre angst.. yah semoga endingnya tidak terlalu mengecewakan.

Illilara : Haiiii,, YATTA! Gomen, updatenya kelamaan.. Soalnya otaknya sering macet, jadi gini deh… Aku pikir kalo Hali ngga mempan di sini, soalnya mereka sejak awal emang ngga deket… Amin,, makasih doanya.. Semangat juga buat kamu ^^

Salsabila Tasnim : Jaa, kita lihat aja endingnya, bakal greget ngga ya? , Makasih ya dukungannya ^^

Oke.. Selesai, Reviewnya di chapter kemarin turun.. Hehehe tapi ngga papa sih, syukurin aja masih ada sider yang setia baca ,

Cukup sekian dari Kyra n Bye bye