Sasuke muram. Wajahnya bagai jeruk purut. Kusut dan tidak enak dilihat. Kalau disenggol langsung balas bacok. Katakan saja Naruto yang iseng mengganggunya kena jitak dua kali. Naruto langsung mengadu ke atasan, malah dijitak lagi dua kali. Sasuke sedang kesal akut.
Bukan hanya tanah basah yang ia terima kemarin pagi, hari ini paku payung di sebarkan di pekarangannya, untung ia selalu memakai sandal kalau berada di pekarangan, imbasnya sih sandalnya jadi korban. Bersyukurlah kakimu selamat, bocah Uchiha. Siapa tahu besok malah lebih parah?
Tetapi bagaimana ia bisa sabar? Siapa pun yang melakukannya, Sasuke dendam kesumat jadinya. Mau dilapor polisi pun, Sasuke rasa ini hanya masalah iseng-iseng saja.
Dan yah, Sasuke belum coba bertanya pada Hinata tentang hal ini.
...
..
.
Hana no Himitsu (c) Eternal Dream Chowz
Naruto © Masashi Kishimoto
I gain no profits for making this fanfiction.
Genre: Romance
Rate: T
Pairing: Sasuke U. X Hinata H.
Warning: OOC, rush plot, AU
.
..
...
Sasuke menghela napas sekali lagi. Mobilnya diparkirkan di pinggir jalanan. Ia menatap toko bunga lamat-lamat, menghitung jari tangan apa ia harus masuk atau tidak. Susah juga. Ia diperingatkan jangan mendekati Hinata, di saat yang bersamaan Hinata jadi kunci untuk mengetahui pihak yang seringkali mengirimkan 'kejutan' untuknya di pagi hari.
Kalau-kalau yang bersangkutan tahu Sasuke mampir hari ini, sekiranya apa yang bakal terjadi. Sasuke berusaha membuang pemikiran anehnya. Mau bagaimanapun juga ia harus menyelesaikan masalah ini sebelum semuanya bertambah parah.
Sasuke juga tidak boleh lupa minta ganti rugi sandal. Ups, salah.
...
Toko bunga Hinata ada di jalan Konoha. Hanya sekitar tiga ratus meter dari kompleks perumahan Sasuke. Toko dengan warna cat pastel itu berdiri tegak dengan gaya bangunan yang klasik. Sulur tanaman ivy tumbuh rapi menutupi sebagian dinding depan. Pot-pot berisi bunga daisy diletakkan di dalam pagar pendek berwarna putih. Papan nama toko digantung di depan teras toko. HanaHyuu. Sasuke bersiap masuk.
Lonceng klasik yang digantung di dinding bata berbunyi saat daun pintu dibuka. Sasuke menengok ke dalam, menatap toko yang dihiasi banyak bunga gantung dan pot-pot berwarna ceria. Tanaman kering yang dilekatkan pada papan kayu digantung artistik pada sepanjang dinding. Beberapa tanaman yang butuh cahaya lebih dibariskan pada bangku panjang menghadap jendela. Beberapa bonsai kecil disusun di dekat meja kasir. Sasuke menemukan Hinata tengah berdiri di dekat ember berisi mawar segar, memotong beberapa tangkai mawar dan meletakkannya ke keranjang, sedang membuat buket pesanan pelanggan.
Sasuke berdehem, lantas menyapa. "Hinata-san?"
Hinata berbalik, "Selamat datang—oh, Uchiha-san ada yang bisa saya bantu?"
Sasuke menggangguk, "Um, ada yang ingin aku tanyakan sebentar."
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar," Hinata meletakkan keranjang mawar ke meja kasir, melepas glove dan menghampiri Sasuke, "Ayo, masuk ke dalam saja. Hana-san tolong jaga kasir sebentar."
Sasuke mengikuti Hinata masuk ke dalam ruangan di balik toko, ada meja bundar dengan beberapa krayon dan kertas gambar. Hinata tersenyum, "Maaf ruangan ini berantakan, tadi keponakanku mampir ke sini. Duduklah dulu."
"Tidak apa-apa." Balas Sasuke sambil menarik salah satu kursi dan mendaratkan bokongnya.
Hinata meletakkan dua cangkir teh dan duduk di seberang Sasuke. "Ada yang bisa saya bantu? Melihat wajah Uchiha-san, aku rasa ini sesuatu yang serius."
"Ah, ini. Aku pernah menceritakan tentang seseorang mengirimi bunga, bukan?"
Hinata berpikir, lantas mengangguk. "Ah, bunga Linaria! Ada apa dengan itu?"
"Sebenarnya aku tidak mau melibatkanmu tetapi aku mendapat surat ini sehari setelah aku mengantarmu pulang ke toko."
Sebuah surat diletakkan di meja. Hinata mengernyit, Sasuke mengisyaratkan agar ia membacanya. Hinata meraih surat itu dan membukanya. Wajahnya kaget.
"Eh?! K-kenapa ada namaku?"
Hinata menatap Sasuke. Keduanya sama-sama kebingungan.
"Bersama surat itu, terasku juga dikotori dengan tanah basah. Esoknya, pekaranganku juga diisengi dengan sebaran paku payung." Sasuke enggan bercerita tapi keisengan seperti ini bisa saja bertambah parah kalau tidak segera diselesaikan.
"Ya ampun, siapa yang melakukannya. Hari itu aku kembali ke toko mengambil perkakas dan pegawaiku menjemputku lima menit kemudian. Oh astaga, siapa lagi yang ada di sana saat itu." Hinata mengambil memonya dan membaca lamat-lamat.
Ia kembali menengok surat itu.
"Menulis surat dengan huruf majalah agar tidak ketahuan. Oh, cerdik sekali." Hinata ikut gusar.
Huruf majalah, bunga Linaria, tanah, paku payung, Hinata.
Hinata memijit dahinya. Belum masuk di akal. Ia tidak bisa memikirkan siapapun.
"Sasuke-san, aku akan menghubungimu kalau ada yang aku ketahui. Aku belum bisa memikirkan seseorang yang melakukan ini karena pada hari itu aku bekerja sampai sore di sana."
Sasuke menggangguk.
Hari itu keduanya hanya duduk diam, berpikir. Sasuke menikmati teh yang disuguhkan Hinata dan undur diri untuk pulang. Di toko, Hinata masih terus memikirkan masalah itu. Ia baru bertemu Sasuke sekali, dan untuk memakai nama Hinata sebagai ancaman, tentu si pelaku mengenal dirinya dengan baik.
Siapa...
...
"Ne, ne, Hinata-nee! Lihat gambarku!"
Hinata terkejut dari lamunannya. Ia menatap keponakannya yang masih berumur 8 tahun.
Ia tersenyum lebar, "Um! Bagus sekali, Tenji-kun."
Keponakannya sedang membuat prakarya dengan menempelkan gambar-gambar hewan ke buku tugasnya. Hinata menemani anak Neji dan Tenten selama mereka masih bekerja. Anak itu dititipkan kepada Hinata sampai jam 8 malam di toko.
"Hinata-nee, lem-nya habis," ujar Tenji sambil mengayun-ayunkan botol lem yang kosong. Hinata mengangguk, membawa anak itu ke ruang perkakas Hinata untuk mengambil lem baru. Saat membuka lemari, Hinata keheranan, seingatnya di sana masih ada tiga botol lem cair yang masih baru. Ia mengernyitkan dahi, mengambil sebotol dan menyuruh keponakannya kembali duluan ke kamar.
Hinata kembali mengamati memo pengeluaran, jelas Hinata belum memakai lem yang baru dibeli itu. Aneh.
Apa salah satu pegawainya? Atau bukan?
"Hinata-nee?"
Hinata tersentak, keponakannya ada di pinggir pintu. Mengamatinya dengan wajah heran. Ia segera menutup memonya, ia meraih lengan keponakannya dan menemaninya ke ruangan lain.
Kelihatannya Hinata harus mengecek semuanya besok.
...
"Apa?!"
Sasuke menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Hinata ditambah speaker menyala membuat Sasuke nyaris tuli. Gadis itu kaget ketika Sasuke mengatakan bahwa hari ini lantai terasnya dilumuri dengan lem lengket.
Oh, sial. Sungguh pas.
Hinata pun membeberkan hasil penemuannya dan Sasuke lebih kaget lagi. Bagaimana tidak, Hinata menemukan bahwa ia kehilangan sebotol lem, dua kotak kecil paku payung, dan karung berisi tanah segar yang dicabik dengan gunting dan diambil isinya.
"Semua itu berasal dari tokoku. Oh, astaga aku tidak menyadari ini karena belakangan aku sangat sibuk bekerja. Para pekerjaku juga tidak menunjukkan gelagat aneh. Aku benar-benar bingung."
Sasuke menghela napas, "Setidaknya kita tahu bahwa oknumnya sangat mengenalmu. Buktinya dia punya akses ke tokomu."
Hinata mengangguk. Telepon diapit antara bahu dan telinga, tangannya sibuk membereskan duri mawar. "Aw!"
"Hinata-san, kau baik-baik saja?" Sasuke terdengar cemas.
"Uhm, hanya duri mawar. Bukan masalah besar. Aku tutup dulu, Uchiha-san."
"Baiklah, hati-hati, Hinata-san."
Hinata melepas glove, bersyukur duri bunga hanya menancap sebatas menekan kulitnya tanpa menimbulkan luka. Pandangannya jatuh ke rak-rak besar yang disusun dengan bunga-bunga pendek. Sebuah pot di rak bawah menarik perhatiannya.
Pot bunga Linaria yang kehilangan beberapa bunga.
Hinata berjongkok, menatap bunga yang dipetik tanpa perlakuan khusus.
"Sara-san, apa beberapa hari ini ada pelanggan yang memesan bunga Linaria?"
Seorang pegawai yang tengah menyirami bunga menoleh, "Tidak ada, Hinata-san. Kita hanya menerima pesanan pagar bunga dan dekorasi ruangan, pesanan terakhir kali oleh Nyonya Tsunade dari blok Ame yang memesan bunga anggrek."
Bunga Linaria, paku payung, tanah, lem.
Baiklah. Hanya tinggal satu hal lagi.
Hinata bergegas ke meja kasir, mengimbau salah seorang pegawai kepercayaannya, "Hana-san, aku akan menutup toko lebih cepat. Katakan pada yang lainnya."
Hinata perlu memastikan satu hal.
...
Sasuke kembali menerima telepon dari Hinata di malam hari. Ia disuruh bangun jam lima pagi dan mulai mengawasi pintu depan. Entah untuk apa, Hinata hanya bilang ia sudah menemukan siapa pelakunya. Tapi Hinata sendiri tidak begitu yakin dan memutuskan untuk awas selama masih belum menjatuhkan kecurigaannya.
Maka di sinilah Sasuke sekarang, mengikuti instruksi Hinata untuk mematikan seluruh lampu agar penghuni rumah kelihatan tertidur lelap. Ia hanya duduk di samping pintu sambil menyalakan ponsel dengan pencahayaan remang-remang.
Seram saja. Seperti mau menangkap hantu atau uji nyali malam-malam. Apa boleh buat. Kalau masalahnya bisa selesai, Sasuke mau tak mau menurut. Hinata tidak mengabarinya apa-apa lagi. Sudah nyaris setengah jam ia menanti. Pintu rumah diperhatikan lama-lama. Seram juga. Sasuke bergidik. Ah, lelaki mapan dan tampan sepertinya kalau masih bisa ditakuti hantu jelas tidak lucu.
BRAK!
Sasuke mengumpat tanpa berani mengeluarkan suara. Pintunya mengeluarkan suara gebrakan cukup keras. Ia kaget luar biasa. Matanya membulat heran. Tepat saat itu ponselnya berdering kencang, Sasuke yang sempat kaget melempar ponselnya ke tembok sampai ponsel itu mati. Oh, shit...
Pintu kembali diketuk, agak kuat tapi tidak separah gebrakan tadi. "Uchiha-san, ini Hinata."
Sasuke menyalakan lampu koridor, perlahan ia mengintip dari balik pintu. Terlihat Hinata di luar sana, wajahnya gusar dan ia sendirian. Ah, apa yang terjadi? Sasuke keheranan. Maka dibukanya pintu.
"Hinata-san, apa yang ter—agh!"
Baru saja pintu dibuka, Sasuke sudah dibuat kejang. Bagaimana tidak? Tulang keringnya dihadiahi tendangan kuat.
"Ya Tuhan! Tenji, apa yang kau lakukan padanya?!" Hinata memekik. Kelakuan keponakannya sungguh tak terduga.
Sasuke mengaduh kencang. Pandangannya jatuh ke bocah kecil dengan mata lavender dan rambut coklat. Astaga, siapa dia dan apa yang dilakukannya?
"T-tenji, minta maaf padanya."
"Tidak mau."
Bocah kecil itu begitu songong. Hinata menasihati anak itu berkali-kali, Sasuke memerhatikan dalam diam, dan bocah itu pun mulai menangis. Sasuke ingin marah tapi yah, menghadapi anak-anak tidak pernah mudah. Apa boleh buat. Setidaknya sekarang jelas siapa yang melakukannya.
Setelah itu, Sasuke menawari keduanya masuk, membicarakannya pelan-pelan. Dari situ Sasuke ketahui, bocah itu pernah melihat Sasuke membuat sketsa bangunan di taman tak jauh dari situ, kagum padanya lantas mengirimi bunga tiap pagi. Bocah itu memberinya bunga Linaria karena bunga itu diletakkan pada jarak yang bisa ia jangkau dan ia tahu kalau bunga itu tidak begitu terlihat jadi Hinata tidak akan menyadarinya. Jadi tidak ada arti khusus. Entah mengapa Sasuke langsung lega.
Dan seperti yang Sasuke duga, anak itu yang kemarin menjemput Hinata saat Sasuke mengantarnya pulang ke toko. Pantas saja, kiriman di hari esok berubah mengerikan. Surat teror itu juga sudah Hinata temukan sumbernya, majalah-majalah lama milik kakak iparnya digunting dan dipakai sebagai media. Hinata meminta maaf berkali-kali karena kelalaiannya menyimpan barang-barang di daerah jangkauan anak-anak. Lem, tanah, paku payung. Anak itu begitu iseng karena tidak suka melihat Sasuke mendekati Hinata. Yah, anak-anak memang begitu kalau sudah menyayangi seseorang, obsesif.
"Sekali lagi aku minta maaf."
Hinata mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya. Sasuke terkekeh.
"Tidak apa-apa. Hei, jagoan kecil."
Tenji gugup, menarik lengan Hinata dan bersembunyi. Ia sadar bahwa ia salah, dan ia malu karena sudah iseng pada Sasuke.
"Tenji," Hinata memanggil namanya lembut.
Tenji mengangkat kepalanya, berbisik dengan suara kecil, suaranya bergetar karena ia menangis, "M-maaf."
"Baiklah, kau menyesal dan itu bagus. Janji tidak melakukannya lagi?" Sasuke menjulurkan tangannya, menyodorkan kelingkinya untuk menaut janji.
"Um." Jari kelingking ditautkan, bocah itu mulai tersenyum kecil.
Sasuke berdiri, beralih ke rak-rak kaca dan mengambil sesuatu. Ia kembali ke tempatnya semula dan mengisyaratkan Tenji mengulurkan tangannya. Bocah delapan tahun itu takut-takut Sasuke akan menghukumnya.
"Baiklah. Terima kasih untuk bunganya, Bocah. Untukmu." Ujar Sasuke sambil menyodorkan sebuah miniatur bangunan pada Tenji yang menatap miniatur itu dengan kagum.
Bocah kecil itu menggenggam miniatur itu erat-erat, wajahnya sumringah, "T-terima kasih, Paman."
Dan yah, kening Sasuke berkerut tajam "Hei, jangan panggil aku paman."
Tawa Hinata dan Tenji terdengar. Sasuke kembali menggerutu karena tidak senang dengan panggilannya yang terlalu tua. Seusai itu Hinata dan Tenji pulang ke rumah kakak Hinata.
"Baiklah, aku permisi dulu, Uchiha-san. Maaf dan terima kasih banyak." Hinata menggendong Tenji yang terlelap dalam pelukannya. Sasuke memutuskan mengantar Hinata pulang.
"Panggil aku Sasuke saja, tidak usah formal." Balas Sasuke sambil melambaikan tangan.
"U-um, baiklah, Sasuke–kun."
Oh, rasanya ada jantung seseorang yang berdegup kencang.
"S-sampai jumpa."
Payah, Sasuke malah jadi malu dan kesemsem sendiri. Dasar om-om tidak tahu diri.
Dan akhirnya masalahnya selesai sampai di sini.
Tapi ...
...
Pagi kembali datang, cuaca cerah dan Sasuke bisa menghirup napas segar tanpa cemas diteror lagi. Pintu depan dibuka, Sasuke hendak mengambil koran pagi.
Cipratan air kencang mengenai wajahnya, Sasuke kaget setengah mati.
"HEH, SIALAN, JANGAN DEKATI ADIKKU!"
Wajah Sasuke masam.
Hinata ada di sana, menarik-narik seorang pria berambut coklat panjang yang mencak-mencak tidak keruan. Hei, sialan, ini masih pagi.
"Hentikan, Neji-nii!"
Tenji juga ada di sana, berdiri dengan wajah polos, menikmati drama pagi sambil menyeruput susu kotak dan tersenyum pada Sasuke. Anak bapak sama saja.
Sasuke kalap, "HEY SADAKO GILA, CARI MATI YA!"
"APA KAU BILANG, DASAR BOKONG AYAM!"
"Hentikan!" teriakan Hinata amblas dipendam teriakan maut Sasuke dan Neji.
Perjalanan Sasuke masih panjang, tentu saja.
Have a nice day, Sasuke! Kami mendukungmu sepenuh hati!
...
THE END
A/N: HAI HAI! Hahahah ngga nyangka banyak yang tidak bisa nebak endingnya. Saya terhura (?), terima kasih sudah baca ya~~~ :3 Nih saya tuntaskan kok ff nya, ahahaha~~~ kemaren ada typo saya mohon maaf soalnya tidak di-beta lagi, kali ini pun sama, saya tidak beta juga jadi kalau banyak typing error mohon dimaklumi dan diiingatkan, kalau sempat akan saya edit ulang. Sankyuu~~~ Selamat berlibur! /author masih mau ujian semester/
Salam,
Gina Atreya
