Three Days

Boboiboy © Animosta Studio

Warn : Typo! OOC, Fem! Ice

Happy Reading ^^

Chapter 17 : Referee

Hari itu dan hari-hari berikutnya, tak pernah ada harinya yang berlalu tanpa kehadiran lelaki yang entah sejak kapan ia memendam rasa.

"Selamat pagi!"

"Selamat pa,- Ahhhh! Kenapa kau membawa bunga itu!?" seru Ice sesaat kedatangan Blaze.

Blaze memandang heran bunga yang ia bawa, apa yang salah? Bunga mawar merah yang cantik, masih segar dan juga harum, romantis seperti yang ada di film-film.

"Eh, memangnya kenapa?" tanya Blaze

Ice menggembungkan pipi dengan imutnya, "Lihat mataku?" pintanya.

Dengan menajamkan pandangannya, Blaze menatap lekat iris aquamarine itu. "Ada apa dengan matamu?" dengan polosnya ia berkata.

"Tempat burung terbang adalah langit biru, cerminan langit adalah birunya laut, lukisan langit yang biru adalah lautnya langit, dalam lukisan langit terdapat air mata langit."

Blaze memiringkan kepalanya, "Intinya?"

"Mataku adalah cerminan langit, yaitu lautan. Setidaknya kau harus membawa bunga yang senada dengan itu" Ice malu-malu.

Tawa renyah terdengar di setiap sudut ruangan, "Kau hanya perlu mengatakan kau ingin bunga berwarna biru. Tidak perlu bahasa yang berbelit-belit, kau tau pemikiranku tak setinggi dirimu."

Tak ada jawaban, hanya ekpresi menggelikan Ice yang mempoutkan bibirnya

Sejak kapan dia jadi seperti anak kecil seperti ini? Apakah dia selalu seimut ini? Kemana sikap dinginnya dulu? Semua hal-hal itu satu persatu tergantung di pikiran Blaze. Ternyata Ice juga memiliki sisi manis ya?

"Ah, iya." Seru Ice teringat sesuatu, "Selamat ya, kau menjadi pemain inti tim U-18 kan? Kau berusaha sangat keras dan sekarang cita-citamu tercapai. Hah, senangnya bisa melihat teman sendiri berjaya." Ucapnya bangga.

"Yah, tentu saja. Terima kasih."

Pandangan Ice menerawang, "Eum, ngomong-ngomong tumben kau menjengukku sepagi ini. Kau tidak ada latihan pagi?".

Blaze menyadarkan punggungnya, "Karena itu aku kemari, hari ini aku akan ke KL lagi, besok ada latih tanding dengan Korea Selatan. Tapi aku janji, aku akan segera menemuimu besok setelah aku pulang."

Ice mengulas senyum, "Sebaiknya kau langsung pulang dan beristirahat." Sarannya.

Blaze menggeleng, "Kau tak tahu aku punya tenaga kuda nil?"

Tanpa sadar Ice terkikik, "Tenaga seperti itu?"

Blaze memutar pandang, berpikir sejenak, "Eum, mungkin seperti tenaga yang digunakan Halilintar untuk menghajar Taufan." Celetuknya.

Ini pertama kalinya Ice tertawa lepas setelah beberapa hari, terasa hangat seperti surya yang menembus tebalnya kabut.

Ketukan pintu terdengar ketika tawa mulai mereda, agenda pagi seperti biasa di tempat itu. Kaizo bersama beberapa suster hendak mengecek pasiennya

"Sudah mau pergi?" tanya Kaizo ketika Blaze mulai mengemasi barangnya sesaat setelah ia datang.

"Yah, aku harus segera pergi." Blaze berhenti, memandang Ice sejenak.

"Good luck, Blaze." Kata Ice memberi semangat. "Aku akan baik-baik saja, jangan terlalu mengkhawatirkanku." Katanya lagi seolah mampu membaca pemikiran Blaze.

"Thanks, kalau begitu aku pergi dulu. Jangan mencariku ya?" Goda Blaze sesaat sebelum ia meninggalkan ruangan itu.

Ice terkikik sesaat, "Dasar!"

~LucKyra~

Hari berikutnya, di waktu yang hampir bersamaan, Kaizo datang untuk memeriksa keadaan Ice. Sering Ice berharap kalau Kaizo akan mengatakan 'Kau bisa pulang hari ini', atau hal sejenisnya yang bisa membuatnya pergi dari tempat ini.

Gara-gara kejadian beberapa hari lalu yang membuatnya masuk ICU, penjagaan padanya menjadi lebih ketat. Bahkan Yaya, Ying dan Fang menjaganya secara bergantian, mereka benar-benar tak membiarkannya sendiri.

"Blaze tidak datang hari ini?" tanya Kaizo berbasa-basi.

"Dia akan datang, hanya saja akan terlambat. Ada pertandingan yang harus ia menangkan." Pandangan Ice kembali menerawang, seulas senyum nampak dari kulit pucatnya.

Sambil terus memandangi statistic kesehatan di tangannya, Kaizo berkata, "Kondisimu lebih cepat pulih dari perkiraanku. Bagaimana perasaanmu?"

Ice menghela nafas panjang, meratapi nasibnya, "Rasanya lelah, meski hanya berbaring ditempat ini seharian."

"Itu bukan lelah, tapi bosan. Kalau Fang datang nanti, minta dia untuk menemanimu ke taman. Baiklah, untuk hari ini sampai disini saja. Jangan lupa minum obatmu." Pesannya sebelum meninggalkan Ice.

Okke, Ice benar-benar muak dengan semua ini. Sekarang dia tak bisa pergi kemanapun tanpa bantuan orang lain, semakin banyaknya obat yang harus ia konsumsi dari waktu ke waktu, dan rasa sakit yang amat sangat yang membuatnya lebih lama memejamkan mata membuat waktunya terasa lebih sedikit.

Panjang umur, baru beberapa saat yang lalu dibicarakan. Sosok Fang telah berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah kotak dan bunga lavender di tangannya.

"Aku membawakan dark cokelat, yang ku tahu coklat ini kaya akan antioksidan dan baik untuk penderita kanker." Katanya tanpa mengucap salam atau sapa terlebih dahulu.

"Thanks." Balas Ice singkat.

"Fang," Panggilnya

Si empu tangan berlapis sarung tangan fingerless itu yang sibuk mengganti bunga hanya menjawab dengan gumaman tak jelas.

"Bawa aku keluar."

"A-apa? Jangan nekat deh! Kali ini mungkin bukan kau saja yang masuk ICU, bisa-bisa aku juga dirawat di ICU gara-gara mengeluarkanmu dari rumah sakit." Pikir Fang yang bukan-bukan, bisa dibunuh kakaknya kalau dia membantu Ice melarikan dari rumah sakit ini.

Ice memandanginya dengan tatapan aneh, "Kau ini bicara apa? Aku hanya ingin ke taman."

"Huh, ku kira apa tadi." Dengus Fang.

"Memangnya apa?"

Fang menggeleng, "Bukan apa-apa."

Ia segera membantu Ice pindah ke kursi roda, kakinya benar-benar tak bisa digerakan. Perlahan roda mulai berputar, terus bergulir hingga membawa mereka berdua ke taman.

Cuaca yang bagus, ketika itu suhu atmosfer terasa hangat, angin menyentuh dedaunan hijau dan menggugurkannya, langit menjadi terlihat lebih tinggi dan permukaan awan menjadi lebih lembut.

"Kau suka?"

Ice mengangguk singkat menjawab pertanyaan klise Fang.

"Apa sekarang kau sudah senang? Blaze sudah mau menemuimu dan sekarang dia benar-benar menghargai waktunya bersamamu." Celetuknya lagi.

Ice tersenyum tipis, "Yah, rasa senang yang tak bisa terlukiskan. Aku bersyukur masih hidup hingga saat ini. Aku ingin terus seperti ini, setiap hari bertemu, mengobrol, dan menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang aku sayangi." Kemudian dengan cepat senyuman itu lebur.

Netranya memandang langit biru, "Tapi akhirnya pasti sakit. Padahal sejak awal aku sudah merencanakannya. Aku ingin mati perlahan, tanpa penyesalan, tanpa terikat dengan siapapun, atau apapun yang membuatku tak rela meninggalkan dunia ini. Tapi semakin aku ingin melepaskan diri, rasanya menjadi lebih sakit."

"Kalau sakit ya jangan di lepas." Potong Fang.

Pandangan Ice mendadak kosong, "Padahal sebentar lagi aku akan mati." Desahnya tanpa sadar.

Tangan Fang mengepal erat, ia tak suka dengan kata-kata Ice yang terlalu cepat menyebutkan tentang kematian, "Kau akan hidup! Bahkan lebih lama dariku! Dengar ya Etenia Ice, aku benci cara bicaramu yang seakan-akan tak ada harapan lagi. Masih ada operasi, kau masih bisa sembuh."

"Apa kakakmu tak pernah mengatakan sesuatu padamu?" Ice menoleh pada lelaki berambut pacak di sampingnya.

Fang mengernyit, "Mengatakan apa?"

Netra Ice kembali menerawang lurus, "Penderita kanker otak stadium akhir, meskipun dioperasi, keberhasilannya hanya 50:50, jika gagal, aku akan mati. Meskipun operasinya berhasil, kemungkinan untuk sembuh tak lebih dari 20%."

Nafas Fang tercekat, hampir saja jantungnya berhenti berdetak mendengar pernyataan gadis di sampingnya itu. Ia tertegun sesaat, memikirkan dengan baik apa yang harus ia katakan,

"Kalau aku," Fang berhenti sejenak, "Aku akan mengambil resikonya, meski harus mati di meja operasi. Kesempatan sekecil apapun yang memungkinkan aku bisa bersama lebih lama dengan orang-orang yang aku sayangi, aku akan mengambilnya. Setidaknya aku telah berjuang untuk mereka. Karena mereka, hidup menjadi layak untuk di perjuangkan. Ku rasa kau pun juga memikirkan hal yang sama."

Ice tertegun mendengar perkataan Fang, hingga ia tak bisa berkata-kata. Ia memikirkan hal itu baik-baik, mereka terdiam selama beberapa saat. Membiarkan gemerisik dedaunan yang mengisi keheningan ini.

"Mudah ya kalau ngomong? Aku tak suka mengatakannya, tapi kata-katamu membuatku terpana. Dan mungkin, sekali lagi, aku akan berjuang."

Fang tersenyum, "Memang seharusnya begitu."

Ice menunjukan senyuman samar dari bibir pucatnya yang gemetar.

"Ugh.." Sebuah lenguhan kecil lolos ketika pening perlahan mulai menghampiri kepala Ice. Jemarinya reflek menyentuh keningnya, matanya terpejam menahan sakit.

"Kau baik-baik saja? Obat-, kau sudah meminum obatmu?" Seru Fang cemas.

Ice menggeleng lemah, masih fokus dengan kepalanya yang nyut-nyutan.

"Bagaimana bisa kau melupakan obatmu?" Omel Fang sesaat, "Kita kembali ke kamar ya?" tanyanya yang hanya direspon dengan anggukan kecil.

Fang kembali mengantar Ice kembali ke kamarnya, kemudian membaringkannya dengan lembut dan menyelimutinya. Ia seperti kakak yang merawat adik kecilnya, apa Kaizo juga melakukan hal seperti ini padanya dulu?

Ia pun segera meraih obat dan segelas air yang tersedia di meja, ia menelan ludah. Banyak sekali obatnya, dan semua itu harus Ice minum untuk meredakan rasa sakitnya.

Ice menghempaskan kepalanya di atas bantal dengan nyaman usai menelan semua obat itu, lalu memejamkan mata sesaat. Mungkin sudah merasa agak baikan dan sekarang ia harus istirahat. Dari balik lensa itu, netra Fang menerawang jauh.

"Maaf ya Fang, aku selalu saja merepotkanmu." Suara parau Ice memecah lamunan Fang.

"Ini tidak merepotkanku."

Angin yang melewati jendela memanja kulit. Ice menguap, sepertinya obat yang diminumnya mulai bekerja. Matanya terasa berat, ia mulai mengantuk.

"Kau itu sebenarnya orang baik, kau mau merawat gadis lemah sepertiku. Terima kasih, Fang." Katanya lagi saat kesadarannya hanya tersisa setengah.

Tak lama kemudian, suara nafas orang yang tertidur terdengar beraturan, aroma dari bunga lavender segar yang bercampur bau antiseptik, dan keheningan yang mengusai waktu bersama Fang.

"Bagimana bisa dia tertidur secepat itu?" gumam Fang seorang diri.

Melihat wajah polos Ice yang terlelap, ia hanya mengulas senyum, "Banyak orang yang menyayangimu saat ini Ice, jadi jangan menyerah hanya karena penyakitmu itu."

.

.

Ini adalah latihan pertandingan antara Tim U-18 dan Korea Selatan. Bola diumpankan pada Gempa Earthquake, dan berlanjut pada Taufan.

Dengan cepat, Taufan melewati 2 pemain sekaligus tanpa kesulitan. Tapi kemudian pemain bertubuh tinggi datang menghadangnya

Taufan menyeringai, "Biar kutujukan apa artinya Cyclone yang sebenarnya." Dengan gesit ia melewati lawan dihadapannya, dimana bola selalu nampak bagaikan melayang.

"Dia sangat cepat!" keluh pemain lawan.

Sampai di garis pertahanan, ia membuat umpan terobosan pada Blaze.

Goool…

Middle shot, tendangan jarak menengah Blaze mencuri satu angka dari Korea Selatan.

"Sepertinya kau berlatih banyak selama seminggu ini." Ujar Axel sesaat usai gol pertama.

Blaze tersenyum sinis, "Kau mengagumi perkembanganku yang pesat?"

"Tidak, kau masih belum bisa menandingiku." Ujar Axel dan langsung kembali ke posisi.

"APA!?" Teriak Blaze jengkel.

Gempa menepuk bahu Blaze, "Sudahlah, dia hanya memanas-manasi. Tadi itu bagus sekali, pertahankan itu."

"Kita lihat, siapa yang akan menjadi raja kali ini." Dengus Blaze kesal.

Pertandingan kembali dimulai, kini Korsel mencoba mengambil alih jalannya permainan. Namun bola kembali bergulir di kaki Taufan, sekali lagi ia mendribble bola dengan cepat. Kemudian beralih pada Aiden, dan berlanjut pada Xavier hingga area pinalti.

Tanpa menunggu, ia langsung menembak ke arah gawang, sayangnya sang keeper berhasil melindungi gawang. Tapi bola belum keluar, dengan cepat Blaze menghampiri bola dan langsung menendang.

Sekali lagi aksi penyelamatan dari kapten tim Korsel yang entah muncul dari mana menggagalkan tembakan itu, tapi bola masih terus bergulir, di sisi kanan Axel telah bersiap dan sekali lagi Korsel harus kehilangan satu angka.

Pertandingan kali ini tim U-18 menang telak, dengan point 6-0 tanpa memberi celah lawan untuk menyerang. Blaze berhasil membuat hat trick, sedangkan sisanya diciptakan oleh Axel dan Xavier. Permainan yang sangat menakjubkan untuk tahun pertama ikut dalam tim perwakilan.

.

.

Di ruang ganti Blaze tengah membereskan barang bawaannya,

"Sudah mau pulang? Buru-buru sekali." Ujar Gempa yang masih menormalkan suhu tubuhnya.

Blaze mengangguk, "Yah, ada orang yang menungguku."

"Apa? Siapa? Ah, jangan-jangan Ice? Kau sudah berbaikan dengannya?" tanya Gempa lagi.

Blaze hanya meringis, dan bersiap menuju camp untuk mengambil barangnya di sana. Kemudian pintu terbuka, sang kapten, Mark Evans datang membawa kabar.

"Ah, kalian berdua masih di sini, cepatlah menuju ruang utama. Pelatih ada pengumuman untuk kita semua." Ujarnya dan langsung meninggalkan ruangan itu.

Blaze mengernyit sesaat, "Pengumuman?"

"Ayo, aku tak mau kena sembur pelatih karena terlambat."

Blaze hanya mendengus kesal, "Huft, pulang yang tertunda." Keluhnya dan mengikuti Gempa dari belakang.

.

"TUR ASIA!?" seru seisi penghuni ruangan itu.

"Ya, kita akan melaksanakan tur Asia sebagai persiapan awal untuk ASEAN Games. Jadi persiapakan diri kalian masing-masing."

"Baik!"

Tur Asia? Seharusnya Blaze senang dengan agenda ini, dia bersama timnya akan keliling Asia dan melakukan latih tanding. Tapi entah kenapa, ia menjadi khawatir sekaligus galau.

~LucKyra13~

Ice tidak tau sudah berapa lama ia tertidur, tapi ketika matanya terbuka, langit telah menjadi gelap. Sesuatu mengganggu pergerakannya, Ice menoleh, didapatinya sosok Blaze tengah terlelap dengan merebahkan kepalanya di ranjang.

"Dia menungguku?" Gumamnya.

Blaze benar-benar datang padanya setelah pulang dari Kuala Lumpur, walau orang yang temuinya bahkan tengah terlelap. Pasti perjalanan yang sangat melelahkan. Detikan jam menunjukan pukul 11 malam, itu artinya mungkin sudah 6 jam ia berada di sini.

Tangan kiri Ice perlahan membelai rambut Blaze yang tak tertutup topi. Rambutnya yang kaku ketika disentuh, Ice bisa mendengar desahan nafasnya yang lemah tapi beraturan, genggaman tangannya yang terasa hangat, dia ada di sisinya. Ice harap waktu berhenti saja.

"Eugh," Blaze menggeliat tak nyaman dan akhirnya terbangun.

"Ah, maaf. Apa aku membangunkanmu?"

"Tidak, bukan masalah." Ucap Blaze masih berusaha mengumpulkan kesadaran.

Selaput tipis mulai mengganggu penglihatan Ice, dari sudut netra itu air mata mengalir.

"Kenapa kau menangis? Ada yang sakit?" tanya Blaze cemas ketika melihat Ice tiba-tiba menangis.

Ice baru tersadar ia meneteskan liquid yang seharusnya tak ia perlihatkan, ia menggeleng lemah, "Tidak, aku hanya senang." Ujar Ice dengan suara serak.

Tangan Blaze bergerak lembut menghapus air matanya, "Kalau begitu jangan menangis," ujar Blaze setengah berbisik.

"Mana mungkin bisa." Ice menatap dalam iris jingga Blaze, hatinya bergemuruh, "Boboboi Blaze, terima kasih untuk semuanya."

Boboiboy Blaze, satu-satunya orang yang mampu menarik Etenia Ice dari dasar jurang bernama kesendirian dan membuatnya hidup kembali. Orang yang telah mencairkan hati Ice yang dulu beku. Orang yang menulis ulang jalan kehidupannya, yang memberi warna dan memberi liku di setiap kalimatnya.

"Sebaiknya kau istirahat saja di rumah, kau pasti lelah, kan?" pinta Ice.

"Bukankah aku pernah mengatakan aku memiliki tenaga kuda nil? Aku akan menemanimu." Blaze tetap ingin berada di sini bersama Ice.

"Aku akan baik-baik saja, kau pulanglah dan istirahat." Kata Ice.

Blaze menatap dalam-dalam iris aqumarine milik Ice dan akhirnya mengalah, "Baiklah, aku pulang. Aku akan menemuimu lagi besok,"

Dengan jejak air mata yang masih kentara, Ice tersenyum untuk Blaze, "Tidurlah yang nyenyak." Pesannya pada Blaze yang tertahan di ambang pintu.

Blaze ikut tersenyum, "Kau juga. Selamat malam."

"Selamat

Blaze POV

Aneh ya? Saat mata kami bertatapan, jantungku berdebar dengan kencang. Sejak detik itu, aku tak bisa lagi memejamkan mataku lagi. Aku pulang ke rumah, mandi dan meminum segelas susu untuk membantuku terlelap, setelah itu akau mencoba tidur, tapi aku tidak bisa tidur.

Tubuhku benar-benar lelah, tapi saat aku menutup mata, aku melihatnya lagi. Aku sudah lama merasakan hal seperti itu. Dadaku terasa sesak dan juga tak tertahan, kepalaku serasa mau meledak. Sejak aku melupakan perasaan itu aku jadi merindukannya.

Tanpa sadar aku meremas udara dalam keheningan malam dan cairan hangat mengalir dari netraku.

"S-sial. Padahal aku baru bertemu beberapa hari dengannya." Desisku.

Apa yang harus aku lakukan?

~LucKyra~

Normal POV

Suatu pagi yang cerah cerah, Ice terbangun dengan tubuh yang terasa berat. Kepalanya terasa di tusuk paku tak kasat mata. Gadis itu mengerang kecil, bahkan membuka mata saja terasa berat.

Ia memaksa membuka mata, sesuatu dalam perutnya bergejolak dan memaksa untuk keluar.

"Selamat pagi tuan putri. Apa tidurmu nyenyak?" Sebuah sapaan langsung diterima pendengarannya. Sepagi ini ia sudah menemuinya.

"B-Blaze!? Hup-" Ice segera menutup mulutnya.

Melihatnya, Blaze segera mencari wadah dan menyodorkannya pada Ice.

HOEK… HOEK… OHOK…

Blaze memijat tengkuk gadis itu, tanpa rasa jijik Blaze membimbing Ice untuk membersihkan sisa muntahannya. Hanya cairan kuning kehijauan yang Ice muntahkan, selalu seperti itu setiap pagi.

"Kau baik-baik saja?" tanya Blaze cemas.

Ice belum menjawab, tubuhnya lemas, perutnya mual, mulutnya terasa pahit. Blaze memperbaiki posisi bantal Ice dan menyelimutinya, mencoba membuat Ice lebih baik.

"Mau ku panggilkan suster?" usul Blaze.

Ice menggeleng lemah, masih berusaha menormalkan nafasnya yang dangkal.

"Maaf, aku merepotkanmu." Ujar Ice lemah.

Hari beranjak siang, keadaan Ice semakin membaik seiring berjalannya waktu. Hanya ada mereka di ruangan itu, tempat yang dikuasai hanya oleh detikan jam dan ciri khas musim panas. Aneh, padahal beberapa hari lalu hujan tak henti mengguyur tanah kota itu

"Blaze, bisakah kau mengajakku jalan-jalan ke luar?" Ujar Ice dengan suara serak.

"Bukankah seharusnya kau istirahat?"

"Istirahat bukan berarti tidur seharian tidur kan, aku ingin ke taman kota. Ini hari yang bagus untuk jalan-jalan," tuntut Ice.

"Tapi-" Blaze masih berusaha mengelak, ia tidak seperti biasanya. Hari ia tak bicara banyak, beberapa kali Ice mendapati dirinya melamun.

Sepasang manic yang dipercik sperktrum aquamarine itu bersitatap dengan berlian jingga, "Sebenarnya, meskipun aku sulit kemana-mana dan aku tak bisa melihat dengan baik, aku berharap bisa melihat lebih banyak hal lain sebelum dunia di sekitarku menjadi gelap. Jadi bisakah kita pergi jalan-jalan sekarang?" pinta Ice.

Blaze menatap mata Ice, ia baru sadar, mata yang dulu bersinar cemerlang seindah kilau dunia kini mulai kehilangan cahayanya. Ice nyaris buta.

"Yah, kita akan keluar." Kata Blaze kemudian

Blaze menarik kursi roda di sudut ruangan, kemudian mengangkat Ice dan membantunya duduk di atas kursi itu.

'Dia sangat ringan.' Pikir Blaze sesaat.

Orang-orang memilih berseliweran di taman, menangkap cidadas, berteduh dari radiasi yang terlampau terik, memakan es krim yang dijual di stan tepi taman atau bergenggaman tangan bersama menikmati air pancur di tengah taman.

"Ice, ada yang ingin ku bicarakan padamu." Blaze lugas berkata.

"Aku juga." Ice berpikiran hal yang sama.

"Tentang apa?"

"Kau dulu." Tolak Ice, ia tak akan mengatakan apapun sebelum Blaze bicara terlebih dahulu.

Perdebatan kecil mewarnai mereka, hingga akhirnya Blaze mengalah dan mengakhiri semua ini.

"Baiklah." Ia menghela nafas sejenak, "Aku akan pergi beberapa waktu, untuk tur asia. Dan akan kembali tanggal 27 nanti." Ujarnya tanpa berekspresi.

"Hebat, kau bisa keliling Asia dan melawan pemain nasional dari berbagai Negara." Seru Ice riang, kemudian senyuman di wajahnya langsung memudar. "Ada apa? Kau tidak senang? Bukankah itu mimpimu sejak dulu?" ujarnya ketika melihat ekspresi Blaze.

Blaze menatap Ice dalam diam, "Aku senang, tapi, apakah aku sanggup meninggalkanmu selama itu?"

Ice tersenyum sini, "Kau ini bicara apa? Sudah pasti aku akan baik-baik saja."

"…" Blaze terdiam, menahan air matanya agar tidak lolos,

Ice tersenyum lembut, menggenggam tangan Blaze, "Kau bisa, aku tau kau bisa. Karena, aku pun juga begitu. Kau harus berjuang untuk mimpimu, kau tidak berjuang sendiri, karena aku juga akan memperjuangkan hidupku. Tanggal 27 nanti, aku akan operasi pengangkatan sel kanker di otakku."

"O-operasi?" Kata Blaze tak percaya, pertahannya sepenuhnya runtuh. Air matanya yang menggenang telah membuat anak sungai tak bermuara, tapi Ice tetap tersenyum.

Hal yang paling menyakitkan baginya adalah ketika senyuman Ice hanya untuk menghentikan air matanya yang jatuh.

"Aku tahu resikonya, tapi aku ingin bersama teman-teman lebih lama lagi. Aku ingin bersamamu lebih lama lagi. Karena itu aku akan mengambil jalan operasi. Jikalau aku meninggal di meja operasi, setidaknya aku telah berjuang."

"Jangan! Kalau kau pergi, aku-" Nafas Blaze tercekat, "Aku rela menukar hidupku denganmu, yang ku inginkan hanyalah agar kau tetap hidup, bahkan jika aku harus mati- kalau kau bisa merasakan kehangatan sinar mentari pagi kalau kau bisa berlari di sepanjang padang rumput yang hijau, kalau kau bisa tersenyum tertawa, hal-hal itulah yang akan membuatku bahagia. Itulah arti dirimu untukku. Sebesar itu aku menyayangimu. Jadi, kalau begitu, bagaimana-bagaimana bisa aku," ia tak mampu lagi berkata, air matanya tak pernah berhenti.

Ice menarik lembut kepala Blaze dan menyatukan dahi mereka, "Hal yang ku percayai, aku juga ingin kau mempercayainya. Aku ingin berpegang pada harapan yang mungkin ada, walau sekecil apapun itu. Daripada senyuman yang hanya sesaat, aku lebih suka senyuman yang tak terbatas."

"Kalau begitu, berjanjilah! Kau akan kembali! Kau akan tetap hidup!" seru Blaze cepat.

Pandangan Ice meredup, "Aku tidak bisa menjanjikan hal seperti itu, aku bukan Tuhan-"

"Berjanjilah, kau akan kembali, untukku." Potong Blaze, "Dan saat itu tiba, jadilah kekasihku." Tangannya menggenggam erat tangan Ice penuh harap.

Ice tertegun mendengar pernyataan Blaze, ia tak bisa mengatakan apa-apa, mendadak semua kosa kata diotaknya menghilang. Lidahnya kelu untuk menjawab, hingga pandangan Blaze yang penuh keyakinan membuatnya sadar. Ia sadar, ia tak ingin meninggalkan siapapun di dunia ini.

"Sepertinya aku juga tak punya jawaban lain, aku juga ingin hidup. Tapi kau juga harus berjanji. Ketika aku kembali nanti, sambutlah aku dengan wajah bahagia sambil membawa medali." Pinta Ice sambil mengacungkan jari kelingkingnya, "Janji jari kelingking."

"Eum, janji. Janji itu hutang dan kau harus menepatinya" Blaze mengaitkan jari kelingkingnya.

Ice POV

Seperti badai yang datang mendadak, kau muncul di kehidupanku. Seperti hujan hangat di musim semi, kau memberiku cinta. Bahkan ketika aku sudah pasrah pada nasib, kau tak pernah membiarkanku menyerah."

Aku tak punya banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama orang yang ku sayangi seperti ini. Aku sangat menikmati saat-saat yang damai ini. Aku takut, aku akan jatuh cinta pada tempat ini.

Awalnya aku tak sanggup menghadapi hidup ini. Aku ingin istirahat, aku ingin melupakan semuanya. Dalam waktu seperti ini, di tempat keabadian, hati dan jiwa begitu terasa nyata bagiku. Seakan-akan aku memahami segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku sejak 17 tahun terakhir dan waktu yang akan datang terasa lebih berarti.

Hari ini kami berjanji, janji dimana hanya takdir yang menentukannya.

TBC…

Greget ngga? Greget ngga? Greget donk, aku sudah menulis ini sepenuh hati, sampe molor 2 minggu.

Taufan : Boong, orang dia melarikan diri dari fic ini. 😙😏

Kyra : Urrusai!😡😈

Seharusnya chapter ini update minggu lalu, tapi karena Kyra ngga kunjung mendapat ide untuk mengisi plot yang kosong jadinya kayak gini. 😳Maaf yang bagian sepak bolanya garing banget, soalnya lagi ngga mood bikin yang rame-rame *ngga kaya chapter kemarin yang bahkan bagian footballnya mengalahkan plot utama*😣

Hehehe, maap yak.. Chapter kali ini ngga sepanjang chapter" sebelumnya, setengah dati chapter sebelumnya malah, gomenasai 🙏 ^^ mood Kyra akhir-akhir ini ngga menentu 😊😂😡😢😤😣😍😜😫

Taufan : Gara-gara udah lulus, jadi ngga bisa ketemu doi lagi. Nasib naas.😂😂😂

Kyra : 💢💢CHIDORI! SUSANO'O! 😈 AMATERASUUUUUUUU!

Taufan : 😵😵🆘

Hahaha, ngga kok… Cuma lagi mikirin sesuatu aja, ma-ma, abaikan saja. Terima kasih yang udah setia membaca ^^

See You…🔜🔜(●´∀)