Three Days

Boboiboy © Animosta Studio

Warn : Typo! OOC, Fem! Ice

Happy Reading ^^

Chapter 18 : Promise

Sebelumnya ia tak siap, bahkan tak pernah siap untuk meninggalkan gadis itu lagi. Ia pikir sudah cukup ia meninggalkannya untuk keegoisan yang ia miliki. Dalam sisa detikan yang berputar dalam 24 jam, ia ingin menciptakan kenangan untuk mereka berdua.

Jarak memisah, langit terbentang dan bersamaan dengan tanah yang mengering, berdoa semoga harapan juga tak lapuk terkikis.

Sejak saat itu, tak ada air mata terbuang sia-sia, keringat yang lebih dari biasanya, rasa lelah yang tak terkira, hanya semangat yang mampu membuatnya bertahan di sini.

Drrtt…

Getaran dari handphone di genggamannya membuyarkan pandangan kosong iris berlian itu teralih,

1 Message

16.02, 22 Desember

From : Ice

Mau video call denganku? Aku punya kejutan untukmu.

"Eh? Kejutan?" pikir Blaze sejenak.

Hanya seperti ini setiap hari, bertukar pesan untuk saking berhubungan, meski bukan sekedar melepas rindu. Setidaknya dengan ini, kekhawatirannya yang menghantui Blaze setiap harinya bisa melebur.

Tak lama kemudian, notif video call muncul di layar ponsel Blaze. Padahal ia belum membalas, tapi tanpa pikir panjang ia segera menerimanya, tapi,

"Hei, kenapa hitam semua?" heran Blaze menatap layar ponselnya .

"Kau siap untuk kejutannya Blaze?" Ujar seorang gadis di seberang saja.

"Ayolah Ice, jangan membuatku penasaran." ujar Blaze, tak sabar.

Ice menghitung mundur dari 3-2-1, ia menyingkirkan jarinya yang menutupi kamera depannya dan …

"Jaaaa!" Seru Ice riang. "Bagaimana?" tanya Ice meminta pendapat.

Rasanya jantung Blaze ingin berhenti berdetak, kini nampak Ice dengan kepalanya yang tak ditumbuhi sehelai rambutpun. Dia benar-benar botak sekarang. Dan tentu saja kejutan Ice ini menohok jantung Blaze. Ia tak mampu berkata apapun,

"Di sini ada Yaya, Ying dan Fang juga. Mereka sering datang menemaniku sekarang, jadi aku tak pernah sendirian. Eum, bagaimana-?"

"Pffftt,"

"Eh…?"

"Bwahahaha! Kau botak, kau menjadi terlihat macho dengan penampilan seperti itu!" Tawa Blaze membahana.

Di sisi lain, Ice mempoutkan bibirnya mendengar respon Blaze yang berlebihan. "Kau mengejekku!?"

Blaze masih tertawa hingga air matanya keluar,

"Blaze? Kenapa menangis?"

Air mata itu lebih menuju pada kesedihan dari pada kegembiraan, sudah terlihat jelas dari ekpresi Blaze yang dibuat-buat. Siapapun tau, tawa itu, hanya untuk menyembunyikan kesedihannya yang mengalir bersama air mata.

"Hahaha, tidak. Aku tertawa terlalu keras sampai air ku keluar." Dustanya sambil mengusap air matanya dan tetap tersenyum.

Sebuah kebohongan terlontar, hatinya sakit melihat Ice yang botak seperti itu. Kalau saja, ia bisa berada di sampingnya saat ini. Kalau saja ia bisa menggantikan posisi Ice dan membiarkan dirinya yang merasakan rasa sakitnya. Semua itu bukan masalah, setelah ia sadar betapa penting gadis itu dalam hidupnya

"Sudah puas tertawa?"

"Hahaha, maaf-maaf. Oke, kita mulai dari awal. Hai Ice, bagaimana keadaanmu? Aku di sini baik-baik saja, yah walaupun memang sangat melelahkan melakukan tour dalam waktu singkat seperti ini. Ditambah latihannya tidak berperi kemanusiaan," Oceh Blaze berlebihan.

Ice nampak ceria dengan kepalanya yang plontos, tertawa bersama Yaya dan Ying. Mereka semua menemani Ice, setidaknya secuil rasa lega mampu menyelubungi hati Blaze.

"Kalian ingin bicara?" ujar Ice mengalihkan handphone kearah Yaya.

"Semangat sampai pertandingan Blaze, setelah itu jangan lupa traktirannya." Ujar si manis, Yaya.

Ying muncul dari bawah dan menghalangi Yaya, "Jangan lupa oleh-olehnya."

Beberapa obrolan membuat Ice tak henti-hentinya tertawa. Hanya dengan seperti ini atmosfer kebersamaan terasa sangat melekat.

Sore itu, jarak yang memisah terasa hanya seperti kabut tipis yang mampu di tembus cahaya. Waktu-waktu seperti ini, mereka ingin merasakannya secara nyata.

"Tanggal 27 nanti, aku akan pulang. Jangan lupa janjimu," ujar Blaze di penghujung obrolan.

Ice mengangguk, "Eum, pastikan juga kau menepati janjimu."

"Bye," ucap Blaze sebelum mengakhiri.

"Bye."

Sesaat setelah panggilan terputus, Blaze menghempaskan tubuhnya ke kasur. Menutup wajahnya dengan sebelah lengan, menyembunyikan air mata yang perlahan mengalir.

Lima hari lagi, rasanya semakin berdebar menanti waktunya tiba.

~Luckyra~

Tut.. Tut.. Tut..

"Ish, pergi kemana sih Ice. Sejak tadi siang dia sama sekali tak mengangkat panggilanku atau membalas pesanku. Padahalkan aku ingin diberi semangat untuk pertandingan terakhir besok." Gerundel Blaze.

"Apa jangan-jangan!?" Kini hanya pikiran negative yang menyelimuti otak Blaze. Harap-harap cemas ia kembali menelpon seseorang, bunyi dari operator membuatnya semakin tidak sabar.

Seseorang di seberang sana akhirnya menyahut panggilannya, "Halo,"

"Fang!? Kenapa kau lama sekali hanya mengangkat panggilan!? Kau tau dimana Ice? Dia tidak memberiku kabar hari ini, semua pesanku juga tidak di jawab. Apa dia baik-baik saja?" tanya Blaze cemas.

"Eum, itu.." sengaja Fang memberi jeda, berpikir sejenak kemudian menghela nafas, "Maaf Blaze, sebenarnya beberapa hari ini keadaan Ice memburuk lagi. Tubuhnya mengejang beberapa kali dan akhirnya hilang kesadaran. Dia tidak ingin memberitahumu karena khawatir akan mengganggu pikiranmu untuk pertandingan sesok, dia juga melarangku memberitahu hal ini padamu. Tapi bagaimanapun juga, ku pikir kau harus tau. Tapi tenang saja, dia akan baik-baik saja, sekarang dia sedang istirahat. Kakakku bilang kondisi Ice akan lebih cepat pulih."

"Fang, apapun yang terjadi pada Ice. Aku mohon jaga dia selama aku tidak ada."

"Yah, tentu saja. Aku tidak melakukan ini untukmu jadi jangan ke Ge-er an, tapi aku akan menjaganya."

"Terima kasih."

"Berterima kasih lah saat kau di depanku, dan aku akan tertawakan ekspresimu saat itu."

"Ugh, kau ini. Mau disaat seperti apapun kau tetap menyebalkan. Ah, sudahlah. Jaga saja si Ice itu." Blaze langsung memutus panggilan dan merebahkan kepalanya di meja, sesekali terdengar desahan putus asa dari bibirnya.

Gempa muncul dengan camilan ringan ditangannya, "Kau kenapa? PMS?" Canda garing dari pemilik iris emas.

"Kondisinya memburuk lagi,"

"Hm, siapa? Ice?" tanya Gempa dan dijawab anggukan lemah oleh Blaze.

"Padahal dia akan dioperasi besok." Jawabnya lirih.

Kini giliran Gempa yang khawatir, ia mengutuk siapa saja yang berani membocorkan kondisi buruk Ice pada Blaze.

"Jangan khawatir, Ice akan baik-baik saja. Aku tau siapa dia, dia gadis yang kuat. Sekarang lebih baik kau fokus untuk pertandingan besok, aku akan menemanimu ke rumah sakit setelahnya." Ujarnya sambil menepuk bahu Blaze.

~LucKyra~

27 Desember

Di rumah sakit… Ruang rawat inap 301…

"Tiba-tiba aku merasa sangat bodoh" keluh Fang ketika hanya dia dan Ice di kamar menunggu operasi. Ice sudah berada di bawah pengaruh obat bius, tapi kesadarannya belum hilang.

"Menceramahi, membujuk bahkan peduli pada seseorang itu bukan sifatku. Tapi entah bagaimana semua itu bisa kulakukan padamu. Apa ini karena hati nuraniku yang merasa bersalah atas masa lalu itu, atau apa aku juga tak mengerti." Celetuk Fang seorang.

Ice tersenyum lemah, "Kau yang sebenarnya itu memang baik, Fang." Suara paraunya terdengar lirih.

Ice menghirup nafas panjang, "Fang, bisakah kau menggenggam tanganku?" pintanya.

Jemari lembut Ice yang gemetar perlahan bertautkan pada jemari kokoh berlapis sarung tangan.

'Dia- takut,' pikir Fang ketika meraih tangan gadis lemah di depannya.

Sejenak mata aquamarine terpejam, "Tanganmu tidak sehangat tangan Blaze." Gumamnya lirih.

"Karena aku bukan dia," jawab Fang setengah berbisik.

Gadis itu melukiskan senyuman tanpa memberi balasan. Tidak lama kemudian, beberapa perawat datang untuk membawa Ice ke ruang operasi.

"Jangan pergi," kata Fang sambil menggenggam erat tangan Ice sebelum ia dibawa pergi. "Kau berjanji dengan Blaze kan? Pastikan kau menepatinya."

Untuk kesekian kalinya, Ice tersenyum dan bergumam, "Eum."

Langit-langit putih perlahan bergerak di pandangannya, matanya terasa berat, namun ia masih bisa merasakan hal di sekitarnya. Seperti orang-orang yang menggengam tangannya memberi semangat, sekilas ia bisa melihat wajah Yaya dan Ying tersenyum padanya meski jejak air mata tak bisa menutupi ketakutan mereka.

Orang-orang yang ia sayangi berada di dekatnya saat ini, mendoakan dirinya untuk kesuksesan operasi ini. Angin musim panas yang seolah bertiup dari rerumputan hujau nan jauh di sana berhembus padanya, seolah ia bisa merasakan lembutnya rumput, teriknya matahari, juga samar-samar seruan penonton di stadion.

Dia di sana, Blaze.

'Aku akan berjuang.'

~LucKyra~

Sebentar lagi pertandingan akan di mulai, ini merupakan pertandingan terakhir dari tur Asia yang dilakukan oleh tim U-18 dengan melawan Australia.

Tepuk tangan dan sorakan bergelora ketika kedua tim mulai memasuki lapangan. Terik bersamaan dengan hembusan angin ikut menyambut.

Blaze terpaku di tengah lapangan, "Di tempat ini, aku akan mengakhiri semuanya. Aku pasti menang dan membawa medali itu pulang, lalu…-" ia memejamkan matanya beberapa saat.

"Kenapa mukamu tegang begitu?" Seseorang menepuk bahunya, Axel telah berada di sampingnya.

Tirai kelopak mata yang awalnya tertutup menampakan berlian jingga menyala tajam, "Kita akan menang kan?" tanpa sadar Blaze meremas dadanya yang terasa bergemuruh.

"Tentu saja, aku tak ada niatan untuk kalah." Jawab pemuda berambut putih dengan penuh percaya diri.

"Saat ini pertandingan yang kita tunggu-tunggu sudah di mulai."

PRIIITTTT…

.

.

~LucKyra~

Blaze POV

Hosh.. Hosh.. Hosh..

Panas…

Hosh.. Hosh.. Hosh..

Lelah…

Hosh.. Hosh.. Hosh..

Haus…

Hosh.. Hosh.. Hosh..

Rasanya seperti ingin pingsan…

Setiap menit terasa sangat lama…

Waktu seakan-akan berniat jahat, perlahan menjauhinya Menggertakan gigi sembari menahan diri agar tidak menangis adalah satu-satunya yang dapat ku lakukan selain berlarian di bawah radiasi.

Padang gurun musim panas yang tak terlihat di tengah lapangan hijau, waktu yang terbuang begitu saja, rasa lelah yang menyiksa, sedikit demi sedikit melemahkan hatiku. Kedudukan sementara, Australia memimpin dengan 2-0.

Aku mulai berpikir, apakah aku bisa?

Normal POV

Di ruang istirahat U-18

"Ada apa dengan kalian? Ini baru babak pertama. Kita pasti akan membalik keadaan!" Seru Mark mencoba menyemangati tim yang terlebih terpuruk akibat ketertinggalan poin.

"Mereka benar-benar kuat." Desah Taufan setelah menghabiskan hampir sebotol minumannya.

Begitu juga dengan pemain lain yang nampak kelelahan dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka masih belum berhenti menggerutu.

Coach melangkah ke depan, "Kalian tau sekarang kekuatan mereka, bukan hanya fisik mereka yang kuat, berlari mereka cepat dan juga pencetak angka. Tapi kita masih punya banyak kesempatan dalam permainan, jika saja ada yang mampu melakukan dribbling ke depan kemudian menciptakan satu kesempatan." Jelas pelatih diikuti dengan intruksi trategi berikutnya.

Beberapa menit sebelum babak kedua Axel pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Tapi betapa terkejutnya dirinya ketika menemukan teman satu timnya terpuruk memeluk lutut.

Ia segera berjongkok menyamakan tinggi dengan lelaki di depannya. "Blaze ada apa?" Pekik Axel terkejut.

"Aku tidak bisa,"

"Hah?" Jelas Axel bingung dengan ucapan Blaze.

Blaze mulai terisak, semakin dalam ia menyembunyikan wajahnya dalam pelukan lututnya, "Aku tidak bisa bermain lagi,"

"Blaze!? Apa yang terjadi padamu? Apa kau cedera?" Tanya Axel cemas.

"Dia akan pergi?" Blaze mulai meremas rambutnya frustasi.

"Apa? Siapa?

"Orang yang benar-benar aku sayangi. Kami bertaruh, jika dalam pertandingan terakhir ini aku menang, dia akan tetap tinggal bersamaku. Tapi jika seperti ini mustahil, dia akan pergi jauh, ke tempat yang tak bisa ku jangkau." Racaunya mulai terisak.

"Kau harus bermain!" Paksa Axel, tubuh Blaze libung tak berdaya ketika Axel menariknya. Seketika otot tubuh Axel melemas, baru sekali ini ia melihat orang yang sangat menyedihkan seperti Blaze. Tapi entah benang apa yang menghubungkan mereka, ia juga bisa merasakah kesedihan yang Blaze rasakan. Bahkan matanya ikut berembun.

Sekali lagi Axel menyamakan tinggi dengan Blaze, "Saat ini, mustahil atau tidak, biarkan kerja keras yang menentukan. Kalau kau mundur sekarang, itu berarti kau sendiri yang membuat kemustahilan itu."

"Mungkin, jika kau bermain untuk orang itu, kau akan mencapainya. Bermain untuk seseorang itu jauh lebih berharga. Saat itu tiba, kau akan bisa bermain baik. Saat membagi hatimu pada orang lain, saat hatimu mencapai orang itu, ketika itu hatimu bersatu, karena hati melampaui kata-kata." Kata Axel sebijak mungkin.

"Akan jauh lebih baik jika aku tak merasakan apapun. Aku ini payah, padahal aku berjanji untuk selalu tegar dan kuat untuk memenangkan pertandingan ini, tapi kenyataannya aku tidak sekuat itu." Sesal Blaze terus merutuki kelemahannya.

"Meskipun kita sedih, hancur lebur ataupun jatuh ke titik terdalam, kita harus tetap bermain, karena kita pemain sepak bola, karena pendukung kita, kita bisa bertahan dilapangan yang seperti neraka itu. Mungkin saat ini orang yang kau sayangi juga tengah berjuang, apa kau membiarkannya berjuang sendirian?"

Blaze tak bersuara dalam waktu yang cukup lama, masih bergeming dengan segala ekspetasi yang dikatakan Axel. Netranya memandang tak percaya pada lelaki berambut spike di hadapannya.

"Apa aku bisa?" kata Blaze persimis.

Axel menarik sudut bibirnya, "Kau akan tau saat berada di sana nanti."

Blaze POV

Kata-kata yang ku karang, penyesalan yang tinggal sedikit, bersinar seperti kilauan laut, seperti iris matanya.

Lapangan yang terpapar radiasi terik matahari di depan mata, akankah aku kembali ke tempat itu? Rasanya sesak hingga setiap sendi ditubuhku ingin lepas.

"Ayo kita akhiri di lapangan." Sebuah tepukan tangan mendarat di bahuku, Axel telah berdiri di sampingku.

Aku di dorong oleh perasaan yang tak pernah terlupakan. Meski kakiku gemetar, aku tetap maju. Itu karena kau berjuang bersamaku. Benarkan, Ice?

.

Normal POV

Tendangan sudut dari Australia, bola pun bergulir menuju area pinalti. Gempa segera berlari dan melakukan penyelamatan dengan sundulan. Pemain yang menjemput adalah… Axel!

Serangan baru saja di mulai, Axel menggiring bola dengan cepat. U-18 terus menekan ke depan dengan serangan bertubi-tubi. Permainan yang sangat berbeda dari babak pertama tadi.

Aiden berlari ke depan, namun langsung dijaga oleh pemain lawan. Di saat bersamaan Axel mengoper pada orang yang berada di depan sana, Blaze, entah sejak kapan ia berada di sana. Blaze yang bebas dari penjagaan langsung menendang bola ke arah gawang.

'Aku akan menang!'

"GOL! LUAR BIASA! Pada menit ke 15 babak kedua. Menggunakan Aiden Froste sebagai umpan, Boboiboy Blaze mampu mencetak poin pertama."

Satu tendangan kuat berhasil membobol gawang Australia, Boboiboy Blaze mencetak gol pertama bagi U-18, mengejar ketertinggalan poin oleh Australia.

"Nice gol Blaze!" Seru para pemain yang langsung berhamburan menuju si pencetak gol.

"Kau hebat juga bisa menerima killer pass dari ku." Salut Axel.

Blaze hanya nyengir mendengar ucapan rivalnya itu, "Terima kasih Axel. Setidaknya dengan ini aku bisa berharap sedikit."

Gol berikutnya pada menit ke 32, dicetak oleh Axel Blaze dengan tendangan salto. Dengan ini kedudukan sama, sisa waktu yang tersisa tidak lebih dari 13 menit tanpa perpanjangan waktu.

5 menit tersisa di babak terakhir, kedua tim saling berebut bola untuk mencetak gol penentu.

One touch pass dari Shawn untuk Gazel di sayap kanan, umpan pendek dari Gazel diterima baik oleh Burn yang terus mengikuti. Tapi Autralia terus memburu bola, tapi 2 pemain berhasil dilewati tanpa masalah berati dan menembus pertahanan Australia seorang diri.

"Dia berhasil lolos! Jaga dia!"

Pemain no 7 dari Australia melakukan sliding tackle dan berhasil merebut bola dari Burn. Ah, Ochobot datang dan melakukan penyelamatan. Bola yang bergulir bebas diamankan oleh Axel, sejenak ia berhenti untuk memperhatikan keadaan sekitar karena pemain bertahan merintanginya.

Umpan lengkung menuju sisi terdekat dari Blaze yang tak dijaga terlalu ketat, ia terima umpan itu dan melewati 2 pemain belakang terakhir sekaligus. Hingga tersisa dirinya dan keeper di daerah pinalti. Tanpa ragu, bola melesat cepat tanpa sempat ditangkap oleh sang keeper.

Skor akhir 3-2, berkat gol super dari pemimpin pertandingan ini, Boboiboy Blaze dan Axel Blaze dan dengan ini, kemenangan mutlak menjadi milik U-18.

"YOSHA! AKU MENANG ICEEEE!" Seru Blaze lepas, hingga rasanya ia ingin meledak. Terbayar sudah kegelisahan dan keputuasaan yang ia alami beberapa hari belakangan.

Usai jumpa pers, Blaze langsung melesat menuju rumah sakit untuk memamerkan medali yang ia peroleh atas keringatnya sendiri. Bersama Gempa dan Axel yang sengaja menemani dirinya.

~LucKyra~

Di salah satu sudut bangsal itu, terdapat ruang operasi dengan lampu merah yang menyala sebegai tanda operasi masih berlangsung. Di luar ruangan, beberapa orang terduduk cemas menanti padamnya lampu itu.

9 jam berlalu, ahirnya lampu merah itu padam di susul dengan pintu ruangan yang bergeser secara otomatis. Blaze mempercepat langkahnya ketika melihat Kaizo bersama beberapa perawat yang masih mengenakan seragam operasi keluar dari ruang operasi.

"Bagaimana operasinya, Dokter?" tanya ayah Ice setelah menunggu selama kurang lebih 9 jam.

Untuk sejenak, Kaizo melepas masker yang ia pakai, kemudian mulai bicara secara perlahan, "Tolong tenangkan diri anda. Operasinya berjalan lancar dan kami sudah berusaha semampu kami. Saya sangat menyesal mengatakannya, tapi Ice tidak bisa bertahan sesaat setelah operasi selesai. Saya benar-benar minta maaf." Ucapnya kemudian membungkukan badan.

Orang yang pertama kali lemas saat itu adalah ayah Ice, ia tak mampu berucap sepatah katapun. Pandangannya kosong, air mata deras mengalir dari kedua pelupuk matanya.

Blaze yang berdiri tak jauh dari tempat itu ikut mendengarnya, seketika membeku, "Tidak mungkin," lirihnya tak percaya sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.

Yaya dan Ying langsung terisak bersamaan, bahkan Ying tak mampu menguasai dirinya hingga menjerit histeris dalam pelukan Yaya.

"Tidak mungkin, aku sudah memenangkan pertandingan terakhir dan mendapat medaliya, tidak mungkin Ice-, kau..?" Pandangan nanarnya tertuju pada pintu yang masih terbuka, dimana sosok Ice masih berada di dalamnya.

"B-Blaze?" Panggil Gempa ragu, baru mengambil satu langkah untuk menenangkannya, Blaze berlari lebih dulu ke ruang operasi.

Ia tak mengerti, dimana letak kesalahannya? Ice bilang ia tak akan pergi meninggalkannya. Dadanya sakit dan sesak. Ia kecewa pada Ice yang telah mengingkari janjinya.

Dalam ruangan itu, langsung ia dapati pemandangan dimana Ice terbaring dengan mata tertutup, wajah pucatnya, bibirnya yang membiru. Tak ada tanda-tanda kehidupan di wajahnya. Lengkingan suara monoton dari ECG yang telah menampakan garis lurus di sana, sebagai tanda bahwa jantungnya telah berhenti bekerja, sebagai bukti bahwa Ice telah meninggalkan dunia ini.

Perlahan tapi pasti, tubuh lunglai Blaze seperti terdorong mendekati sosok itu, "Hey, Ice, bangun. Aku ada di sini." Jemarinya mengelus pipi pucat Ice yang mulai dingin.

Semua saksi hanya membisu, tak berani bersuara. Bahkan Fang dan Gempa pun ikut terdiam memandang di ambang pintu.

Fang tersenyum pahit, cenderung meremehkan, melihat pemandangan di sana, "Apa hanya seperti ini perjuanganmu Ice? Apa ini akhirnya? Bukankah kau tidak pernah ingin melukai hati orang lain? Tapi lihat, kau membuat orang-orang yang menyayangimu sedih. Kau ini jahat sekali." gumamnya diikuti anak sungai yang membasahi pipinya.

"Apa begini caramu menyambutku? Ice, aku menang, aku telah mendapat medalinya. Buka matamu dan lihat aku,"

Gempa berdiri di belakang Blaze menarik bahunya lembut, "Blaze, Ice sudah-"

"TIDAK! Ice bangun! Kau tak akan meninggalkanku kan?! Apa kau lupa pada janji kita? Bukankah kau akan tetap hidup?" Blaze mengcengkram seprai putih kasur Ice, kepalanya jatuh sisi ranjang Ice. Air matanya membasahi kasur putih.

"Aku tidak rela kau pergi. Bukankah kau sendiri yang bilag kalau kau akan tetap hidup? Aku mohon, buka matamu. Jangan membuatku semakin tersiksa seperti ini, hidupku tak pernah nyaman karena aku selalu memikirkanmu."

"Ada banyak hal yang belum aku sampaikan padamu, seperti betapa aku mencintaimu, atau seberapa aku sangat menginginkamu, lalu bagaimana aku menyampaikan semua itu?" Jerit Blaze frutasi.

Hanya isak tangis yang mewarnai ruangan putih yang masih di dominansi suara dari alat ECG serta ketegangan yang masih berlangsung. Entah apa yang merasuki Blaze, pisau bedah yang berada di nampan ia sambar dan mengarahkannya pada nadinya.

Fang yang melihat tindakan bodoh Blaze segera menerjangnya, begitu juga Gempa dengan cepat menahan tangan Blaze agar tidak menyayat nadinya sendiri.

"Apa yang kau lakukan bodoh?!" pekik Fang mencoba menahan tubuh Blaze yang berontak.

"Blaze hentikan! Apa kau pikir Ice akan senang jika melihat dirimu yang menyedihkan seperti ini!?" seru Gempa segera membuang pisau di tangan Blaze.

Blaze mencengkram kerah Fang kuat-kuat, "Kalau begitu bunuh aku Fang, tolong bunuh aku sekarang juga."

Dari balik kacamata itu, Fang menatap miris, "Itu tak akan pernah terjadi."

BUAGH!

Sebuah pukulan telak menghantam wajah Blaze cukup membuatnya tersungkur. "Sadar Blaze! Kau menghargai kepergian Ice dengan kematianmu sendiri. Ice akan membencimu, setidaknya kau harus hidup untuk kalian berdua. Untuk janji kalian, untuk semua hal yang telah Ice berikan."

Blaze kembali terisak, rasa ngilu di rahangnya tak sebanding dengan hatinya yang rasanya sudah benar-benar hancur. Ia terlarut dalam kesedihan setelah kegilaan yang membuatnya nyaris menyusul Ice.

'Ice, aku benci padamu. Kau pergi setelah semua hal yang kau katakan tentang perjuangan dan kehidupan.' ~ Ying

'Kenapa kau pergi secepat ini, ujian terakhir bahkan belum dimulai. Kau pergi tanpa meninggalkan apapun pada kami.' ~ Yaya

'Aku seorang ayah yang gagal, maafkan aku Deasy, aku bukan ayah baik.' ~ Ayah

'Kau kalah dengan penyakit itu? Kau payah Ice.' ~ Fang

'Maafkan aku karena gagal menyelamatkanmu Ice.' ~ Kaizo

'Orang sebaik dirimu, kenapa Tuhan tidak adil? Mungkin aku tak akan lagi bertemu dengan orang sepertimu.' ~ Gempa

Sosok Ice di sini, dia memang di sini, tapi dia telah meninggal.

~Waktu telah dijanjikan telah datang dan berlalu~

TBC…

Minna hounto ni arrigatou gozaimasu…

Ini kan bulan puasa, seharunya bisa update seminggu 2 kali, tapi kenapa malah jadi 2 minggu sekali? Saa, Kyra pun juga ngga tau. Mungkin karena kurang mood buat ngetik, dan juga ngga ada ide yang kunjung nyakut.

HWAAAA! ANCUR, iya ngga sih? Setting waktunya terlalu ngaco, kebanyakan skiptime, kurang baper #plak … Ah, kenapa hampir setiap chapter aku ngeluh sih? -_- #BaruNyadar?

Hwaaaa! Ice mati!

Jujur sih ya, chapter kali ini aku ngga berasa greget kaya chapter kemarin yang sampe bisa berkaca-kaca #Lebay :3

Sebenernya masih mau lanjut sih, tapi biar ngga kelamaan updatenya jadi cukup sampai di sini aja ya.. Silahkan meratapi kematian Ice terlebih dahulu ^^ #Plak

Oke oke, biar ngga bikin reader mati penasaran, Kyra usahain update kilat, sekilat-kilatnya. Usaha lo ya bukan janji…

Ma ma, gimana kalo lanjut review aja, Kyra juga udah capek ngoceh melulu.

Zahra123 : Tuh, nasib Ice. Udah ngga bakal disiksa sama Kyra kok… Makasih juga reviewnya, maaf juga lama updatenya ^^

Tika : Iee, daijoubu.. Makasih atas dukungannya ya, terus simak kelanjutannya ya ^^ .. Ah, soal judulnya.. Sebenernya referee itu bisa berarti pemisah. Jadi Blaze kan bakal ikut tur Asia ni, pasti kan ninggalin Ice kan. Jadi aku kasih title nya pemisah, hahaha garing yak

Salsabila Tasnim : Nama fb ku Medya Genexiz… Kayaknya yg punya nama ini Cuma aku ngga usah khawatir bakal salah orang hihihi.. Kalo kurang mantep, gambarnya anime pake gaun hitam.. Eum, jangan terlalu berharap sama yg di kronologi ya, soalnya aku jarang ngepost.

AthenaLatnova : Enggak! Udah selesai penderitaan Ice, serius deh.. Hahaha, maaf karena ini bagian dari planning, genrenya aja angst kan? Blaze juga ngga bakal mati secepat itu Cuma gara-gara Ice mati.. Eum, sebenernya aku ngga niat buat Blaze bunuh diri sih, Cuma karena baca review dari kamu jadi kepikiran buat Blaze nyaris bunuh diri tapi ngga sampe mati kok.. Hehehe, makasih pujiannya.. Hoh, semangat buat UASnya… ^^

Gadis Miring : Hihihi, kenapa penname kaya gitu? Jadi canggung buat nulisnya. Eum, menurutku pendek, soalnya biasanya sampe 6k kata, ini Cuma 3k…Hihihi, soalnya bagian itu aku buatnya pake hati, biar nyampe juga ke hati readers. Makasih buat dukungannya, ~Gyaaa… Bukan masalah itunya! /

Illiara : Eum, gapapa kok… Masih juga udah meu review, semangat juga buat UKKnya ^^ … Hihihi, iya, aku SMA kok, makasih dukungannya ^^

Jaa, sampai di sini aja ya ^^ Kyra tunggu reaksi kalian di kolom review #SmirkEvil

Sampai jumpa secepat-cepatnya ^^