Title : (Not) Over

Genre : Romance & Hurt/Comfort

Main Cast : KookV

.

Chapter 1

.

By Jilan

Italic = Flashback

.

Jungkook berjalan dengan perlahan. Menikmati angin sore yang membuat hatinya nyaman. Tak ada duanya. Angin sore memang terbaik –bagi Jungkook-. Kakinya melangkah pasti menuju taman yang tak jauh dari kawasan rumahnya. Kawasan elite yang hanya mampu dihuni oleh orang-orang berkantong tebal. Bukannya sombong, Jungkook memang termasuk keluarga yang kaya raya. Pemilik Jeon Corp yang bergerak di berbagai bidang.

Memiliki wajah tampan, hidung mancung, mata tajam dan rambut sehitam arang membuatnya semakin memikat dan memesona. Ah, jangan lupakan suaranya yang merdu namun sayangnya Jungkook lebih memilih menjadi seorang atlet baseball bukan idol yang selalu dipuja gadis-gadis remaja.

Tapi bukan berarti seseorang yang memiliki paras sempurna juga memiliki kehidupan yang sempurna. Bahkan hidup Jungkook jauh dari kata sempurna. Sangat jauh sehingga Jungkook sangat ingin mengubah nasibnya ataupun mengulang hari itu kembali. Tapi ia sadar semua itu tak akan pernah terjadi. Aku tidak mempunyai mesin waktu doraemon, tentu saja. Pemikiran konyol yang terlintas di benaknya sembari tersenyum miris.

Jungkook mendudukan dirinya di bangku tengah taman. Melepas topinya hingga rambut hitamnya bergerak-gerak terkena angin. Banyak anak kecil yang memanfaatkan sore cerah ini untuk bermain bersama-sama. Dulu, Jungkook juga pernah merasakan itu. Dulu.

"Ayo hyung kejar aku!" Jungkook kecil berlari dengan cepat dan di belakangnya terdapat seseorang namja yang Jungkook sebut sebagai hyung mengejarnya dengan pelan. Nafasnya memendek dan tangannya memegang pinggang.

"Kookie! Hyung lelah!" serunya lemah kemuian terduduk di antara rerumputan hijau di taman.

Jungkook dengan cepat berlari kearah hyungnya. Menghampirinya dan memijat kaki hyungnya. Dalam hati Jungkook menyesal mengajak hyungnya berlari-lari. Seharusnya ia mengajak hyungnya bermain ringan saja tadi.

Diam-diam sang hyung tersenyum. Kemudian tangan mungilnya memeluk Jungkook dengan erat. "Hahaha! Kena kau!" pekiknya dengan senang.

"Ya! Kau menipuku hyung? Menyebalkan sekali. Rasakan ini!" dan Jungkook dengan cepat memeluk balik hyungnya dan menggelitiki yang lebih tua. Dan tawa terdengar dari bibir keduanya.

Jungkook masih mengingat saat itu. Saat-saat menyenangkan yang ia lalui dengan hyungnya. Ia tersenyum tipis tak ketara sama sekali. Pikirannya menjelajah masa lalu indah bersama sang hyung yang sekarang tak mungkin ia temui lagi.

Ponselnya bergetar samar. Tapi Jungkook masih bisa merasakan getaran itu disaku celananya. Mengambilnya dengan malas. Capten Calling. Itu yang tertera di ponselnya.

"Ya hyung?" tanyanya langsung.

"Bersiaplah besok pagi kita akan berangkat ke Jepang. Bersiap-siaplah." Jungkook hanya memutar matanya malas.

"Baiklah." Jawabnya singkat terlewat singkat bahkan.

PIP

Jungkook menghela nafasnya pelan. Berjalan pelan kembali ke rumahnya. Memakai topinya kembali dan berjalan santai dengan earphone di telinganya.

.

.

Namjoon bangkit dari duduknya dan mengambil gitar yang berada di sebelah televisi yang menyala tanpa suara. Kembali ke tempat semula, Namjoon mulai memetik gitar itu menjadi beberapa nada ringan yang enak didengar. Dengan memejamkan matanya Namjoon tetap memetik gitar itu. Orang bilang, Namjoon itu jenius dalam hal musik, ia bisa melakukan apapun tanpa belajar terlebih dahulu. Sungguh hebat! Tapi kehebatannya tidak dapat ia tunjukan begitu saja. Walau ia ingin, tapi tidak bisa. Mungkin bakat terpendam ini hanya akan menjadi angan-angannya saja.

Musik membuatnya merasa lebih baik. Menjadi musisi adalah cita-citanya. Cita-citanya yang tak akan pernah tercapai. Ia ingin memberontak tapi ia rasa semuanya sia-sia. Ia tak memiliki kesempatan untuk melakukan semua itu. Garis takdirnya sudah Tuhan ciptakan sedemikian rupa membelenggu dirinya sehingga tak ada kesempatan untuknya pergi.

Dulu, keinginannya sudah tercapai. Ia diterima menjadi seorang produser disebuah perusahaan terkenal di Amerika. Tapi semuanya tak semulus yang ia kira. Ia dipaksa, diperintah mutlak untuk memegang dan meneruskan kejayaan perusahaannya. Kata-kata yang terngiang di kepalanya.

Kau tertua, kau harus bisa memimpin adik-adikmu.

Adik? Jangan bercanda! Bahkan adiknya sudah ada didalam peti mati dan tertimbun tanah dalam. Siapa lagi yang harus dipanggil adik olehnya?

"Brengsek!" umpatnya lirih.

Kilasan memori kembali teringat di dalam dirinya. Awal semuanya terjadi. Seharusnya dulu ia menolak bukan tersenyum lebar, seharusnya dulu ia memberontak bukan menerima dengan senang, seharusnya dulu ia tak mematuhi dan tak mementingkan keinginan ibunya maka saat ini ia masih bisa memeluk adik manisnya.

"Hyung merindukanmu.." lirihnya.

Petikan gitarnya terus memecahkan keheningan malam ini. Nada-nada lembut yang tercipta dari tangannya membuatnya tersenyum senang. Setidaknya ia merasa sedikit hidup jika bermain musik. Sayangnya hanya gitar dan sebuah piano saja yang tersisa dirumah besarnya.

"Hyung.." seseorang itu membuat petikan gitar Namjoon terhenti. Tak ada niatan sama sekali untuk Namjoon melihat kearah 'adik' nya itu.

Jungkook tersenyum kepada Namjoon, walau senyumannya dianggap angin lalu oleh Namjoon. Jungkook tidak peduli. Jungkook hanya berharap semuanya kembali seperti semula. Berharap tidak ada kata iam di dunia ini. Jungkook benci iam tapi kenyataannya ia suka berdiam diri. Tidakkah Jungkook munafik? Tapi ia iam bukan karena ia ingin. Ada sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain dan mungkin sampai kapanpun tidak akan dimengerti oleh orang lain.

"Aku akan berangkat ke Jepang besok." Ujar namja itu, Jungkook.

Namjoon tetap terdiam. Memasang wajah datar dengan aura penuh benci yang begitu ketara. Bangkit dengan cepat dan berjalan menuju kamarnya. Sekali lagi. Tanpa melirik kearah adiknya.

Jungkook sudah terbiasa dengan sikap Namjoon. Sudah bertahun-tahun rasanya hingga Jungkook mengerti. Semua memang sudah ditakdirkan seperti ini dan Jungkook ditakdirkan untuk dibenci oleh Namjoon, hyungnya sendiri.

Dulu, Namjoon pernah memperlakukannya dengan baik, menemaninya saat tidur, mengusap rambutnya lembut, mencubit pipinya dan memeluknya dengan sayang. Namjoon adalah tipe hyung yang baik bahkan terlampau baik. Hanya saja sekarang tak sama seperti dulu. Tak ada lagi yang melakukan semua itu. Namjoon telah hilang. Tak ada kasih sayang lagi dari Namjoon untuk dirinya. Ia pantas mendapat itu sungguh.

Mata tajamnya melirik ke arah figura foto yang terletak diruang keluarga. Terlihat pasangan suami istri dan tiga orang anak. Mereka tampak bahagia. Tersenyum begitu lebarnya. Sang kepala keluarga yang sangat berwibawa dengan senyum menawan dan sang ibu yang memancarkan kasih sayang yang keluar dari kedua bola matanya. Dua namja yang memiliki paras tampan dan seseorang namja yang memiliki paras manis dengan senyum kotaknya yang khas.

Jungkook tersenyum miris. Andaikan keluarganya masih utuh seperti dulu pasti semua tidak akan serumit ini. Gelar pembunuh tak akan bersandang pada dirinya. Kedua bahunya memang kokoh dan tegap tapi tidak selamanya Jungkook bisa menopang itu semua. Ada saat di mana ia akan terlihat rapuh dan sakit.

.

.

"Baiklah. Aku sangat berharap kalian akan mendapat emas seperti biasanya. Pertandingan saat ini sedikit unik. Pertandingan diselenggarakan oleh mantan atlet baseball di sana yang diikuti oleh pemain internasional. Pengaruhnya juga besar bagi kita jika kita memenangkan pertandingan ini. Ia termasuk seorang pemain yang sangat disegani oleh banyak orang dimasa mudanya bahkan sampai sekarang rasa cintanya pada baseball tidak sirna walau sudah termakan waktu." Jelas pelatih tim.

Para anggotanya hanya menganggukan kepalanya paham. Berbeda dengan Jungkook yang memasang wajah malas dan tak berminat sama sekali untuk mendengarkan ocehan dari pelatihnya itu.

"Apa kau mengerti Jungkook?" ekor matanya melirik kearah Jungkook yang tidak bereaksi. Sibuk dengan pandangan jengahnya.

"Ne. Aku mengerti." Jawabnya singkat.

Mereka sudah terbiasa dengan jawaban Jungkook yang terlampau singkat itu. Mereka sebenarnya menyadari jika Jungkook hanyalah anak kesepian. Mereka bahkan paham dengan kondisi Jungkook selama ini. Mereka mengetahui apa yang menimpa Jungkook dan mereka tahu jika Jungkook tertekan.

"Bagaimana setelah ini kita ke cafe sebelah asrama? Kudengar interior cafenya sangat menarik. Bagaimana? Bolehkan pelatih?" tanya Minwoo dengan ceria. Ia tahu suasana iantara mereka sudah memanas dan canggung dan itu adalah keahlian Minwoo membuat suasana menjadi lebih hidup.

"Waaa! Aku juga dengar. Ayo kita pergi!" pekik Hoseok dengan semangat.

Pelatih yang mengerti tujuan dari anak didiknya hanya tersenyum kemudian menganggukan kepalanya menyetujui. Semua anggota berdiri dengan cepat kecuali Jungkook yang masih duduk dengan nyamannya di kursi.

Minwoo dan Hoseok berpandangan kemuian dengan senyum jahil yang mengembang di bibir keduanya, mereka mengapit lengan kanan dan kiri Jungkook, menariknya ikut bersama yang lain.

"Ya! Apa yang kalian lakukan." Pekik Jungkook kaget.

Hoseok dan Minwoo menghiraukan pekikan Jungkook dengan santainya mereka masih menarik lengan Jungkook. Sang pelatih dan anggota lain hanya tertawa membuat Jungkook diam-diam tersenyum tipis. Tim-nya memang paling mengetahui suasana hatinya. Keluarga keduanya. Ia menyebutnya itu.

Rombongan pemain baseball dari Korea Selatan itupun berjalan dengan santai sesekali bercanda dan menjahili sesama anggota. Mereka tampak bahagia. Kadang Hoseok dengan jahilnya menggelitiki Minwoo atau menepuk pantat Mingyu pelan. Astaga, Jungkook hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman satu timnya.

Tapi, Jungkook sangat bersyukur mempunyai mereka. Sangat bersyukur. Mereka seakan yang paling mengerti dirinya. Mereka adalah orang-orang yang tidak menjauhi dirinya saat mengetahui kejadian menyakitkan yang membuat Jungkook sakit. Mereka orang-orang terpercaya Jungkook dan Jungkook sangat menyayangi mereka.

"Ya! Bisakah kalian diam?" ujar ketua mereka bercanda, Donghae sendiri tidak bisa menahan tawanya mendengar lelucon dari para anggotanya.

"Hyung jika ingin tertawa maka tertawa saja." Celetuk Mingyu membuat yang lain tertawa keras termasuk Donghae.

Jungkook hanya meminum kopinya dengan pelan sesekali tersenyum dan menimpali ucapan teman-temannya. Ia menyukai saat-saat seperti ini. Matanya mengedar ke segala arah penjuru cafe. Interiornya sangat unik, pantas saja cafe ini sangat banyak dikunjungi, terutama para pelajar.

Matanya terpaku pada meja barista. Melihat sang barista yang dengan ahlinya meracik kopi untuk dihidangkan pada para pelanggan. Tapi, matanya terpaku pada sosok namja yang duduk di depan barista itu. Posisinya membelakangi Jungkook. Jungkook seperti mengenal namja itu. Entahlah semua seperti halusinasi tapi sekali lagi Jungkook seperti mengenal namja itu.

Namja itu berdiri dan melambaikan tangannya kearah sang barista kemuian pergi tanpa melihat kebelakang. Jungkook tersenyum miris. Mana mungkin itu hyungnya.

.

.

"Byun tunggu aku!" teriak namja dengan paras tampan. Berlari mengejar namja manis yang berjalan santai beberapa meter didepannya. Tapi namja itu tak menoleh sekalipun. Bibirnya sibuk menyanyikan lagu yang ia dengar dari ponselnya.

"Byun Taehyung kubilang tunggu!" namja tampan itu menarik bahu kecil namja lainnya yang ia sebut dengan Byun Taehyung.

Taehyung melepas earphonenya dan menatap namja itu dengan polos. "Kenapa kau berkeringat Jimin?" tanyanya polos.

"Aku mengejarmu Tae," Jimin menatap Taehyung sebal sedangkan Taehyung hanya tersenyum lebar.

"Maaf aku tidak dengar. Bukankah harusnya kau latihan sekarang? Sebentar lagi aku ada kelas, Jim." Ujar Taehyung dengan melihat jam yang melingkar manis dipergelangan tangannya.

"Sebelum latihan bukankah lebih enak jika aku bisa melihat wajah manismu ini, huh?" Jimin mencolek dagu Taehyung pelan, menggoda.

"Jangan pegang-pegang nanti aku laporkan pada Baekhyun hyung baru tahu rasa!" ujarnya galak yang hanya dibalas tawa hangat khas Park Jimin. "Sudah sana pergi, masa atlet kebanggaan Jepang telat latihan hanya karena mengunjungiku. Husst husst.." Taehyung mengibaskan tangannya seolah-olah mengusir Jimin.

"Kau kira aku kucing? Satu kecupan maka aku akan pergi." Jimin menyeringai membuat Taehyung menatapnya sebal.

"Ini area kampus bodoh! Nanti aku diserbu fans mu bagimana? Kau ingin wajah tampanku menjadi buruk rupa?" Taehyung memajukan bibirnya membuatnya semakin lucu.

"Jika ada yang berani menyakitimu maka laporkan padaku Tae, baik aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik nanti malam aku akan berkunjung ke cafe mu." Ujar Jimin dengan mengusak rambut blonde Taehyung.

"Jimin bodoh!" umpat Taehyung lirih dengan wajah yang memerah lucu dengan rambut yang acak-acakan.

.

.

"Jadi tiga puluh mahasiswa kedokteran terbaik di sini akan saya ambil untuk membantu penyelenggara dalam pertandingan baseball ini. Kalian tidak lupa bukan jika beliau merupakan donatur terbesar di Universitas kita? Maka dari itu saya harap tidak ada yang menolaknya." Jelas sang dosen dengan menatap lurus kedepan.

"Seperti pertolongan pertama, Sir?" tanya seseorang yang berada di pojok kelas.

Dosen muda itu menganggukan kepalanya. "Benar sekali. Jadi kuharap kalian bisa beradaptasi dengan para pemain. Karena bukan hanya pemain dari Jepang yang akan kita rawat tapi seluruh pemain yang mengikuti pertandingan ini. Ah, aku akan membagikan kalian kertas. Buka kertas itu maka kalian akan tahu atlet mana yang harus kalian rawat." Dosen itu langsung membagikan gulungan kertas kecil yang membuat seisi kelas heboh.

Taehyung menggenggam erat kertasnya. Ia takut sebenarnya. Ia takut jika tidak mendapatkan tulisan 'Jepang' di kertas yang digenggamnya erat. Ia takut jika nanti berurusan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya.

Dengan perlahan, tangan Taehyung membuka kertas tersebut. Sangat pelan hingga ia dapat bernapas lega melihat nama negara asalnya berada digenggamannya, Korea Selatan.

.

.

"Jungkook-ah, kita akan kedatangan tamu. Sekarang kau bersiaplah. Karena nanti akan bertemu dengan ibu baru." Jungkook kecil menatap appanya bingung.

Ibu baru?

"Ah kau juga akan mendapatkan dua hyung yang baik. Jadi sekarang berpakaianlah yang rapi dan sopan. Anak appa harus tampil tampan." Sang appa mencubit pelan hidung Jungkook. Jungkook mengangguk patuh dengan senyum lebar dibibirnya, gigi kelincinya terlihat lucu membuat siapapun ingin mencubitnya.

"Baiklah appa! Jungkook akan menjadi yang tertampan. Appa tunggu dulu disini Jungkook akan berubah menjadi pengeran." Teriak Jungkook sembari masuk kedalam kamarnya.

Tuan Jeon hanya terkekeh pelan melihat kelakuan anaknya. Ia senang Jungkook tumbuh menjadi pribadi yang baik walaupun ia tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu sedari kecil. Karena ibu Jungkook sendiri meninggal saat melahirkan Jungkook. Sang appa tersenyum bangga melihat malaikatnya.

TING TONG

Bel rumahnya berbunyi nyaring. Dengan cepat pria kepala empat itu berjalan menuju pintu utama rumah besarnya. Ia tersenyum melihat seorang wanita cantik dengan dua anak dibelakangnya.

"Yura-ya!" senyum tak pernah lepas dari pria itu melihat pujaan hatinya berada dihadapannya.

Wanita yang ia sebut sebagai Yura tersenyum cantik. Wanita yang berusia 38 tahun itu masih sangat cantik walaupun telah memiliki dua orang anak. Dulu Yura memutuskan untuk menikah muda jika kalian ingin tahu.

"Pasti ini Namjoon kan? Dan ini Taehyung?" Pria itu –Chanyeol- mengelus helaian rambut Namjoon dan Taehyung.

Dua anak itu tersenyum dengan lebarnya. Satu terlihat tampan dengan lesung pipit menghiasi kedua pipinyadan satu tampak manis dengan helaian rambut halus dan senyum kotak andalannya, matanya menyipit mengiringi senyumannya.

"Ne ajusshi.."jawab mereka bebarengan.

Chanyeol tersenyum tampan melihat kedua calon anaknya yang terlihat begitu rupawan. "Panggil ajusshi dengan sebutan appa okey? Karena mulai sekarang ajusshi adalah appa kalian." Chanyeol menyamakan tingginya dengan kedua bocah itu.

"Baik appa!" pekik keduanya senang.

Jungkook turun tergesa setelah mendengar bel rumahnya berbunyi. Setelah melewati tangga yang cukup banyak. Akhirnya Jungkook sampai dan melihat ibu dan saudara barunya. Satu kata yang Jungkook deskripsikan setelah melihat namja itu. Namja manis dengan senyuman kotak.

Ia terlihat berbeda.

Ia bersinar.

Ia memancarkan aura yang membuat Jungkook merasa ia harus melindungi, ia harus menemani dan ia harus berada di sekitar namja manis itu.

"Jungkook kemarilah!" perintah appanya dengan senyuman hangat.

Jungkook berjalan dengan pelan. Melangkah pasti menuju appanya dan keluarga barunya. Tersenyum manis pada ibu dan hyungnya. Ia menyukai senyuman hangat dari ibu barunya. Senyuman kasih sayang tanpa kepalsuan. Jungkook sungguh menyukainya.

"Perkenalkan dirimu sayang." Appanya mengelus rambut hitam arang Jungkook. Jungkook kembali tersenyum menunjukan gigi kelincinya yang lucu.

"Annyeonghaseyeo, Jeon Jungkook imnida." Dan diikuti bungkukan sembilan puluh derajat.

"Aigoo, kenapa adik baruku manis sekali.." pekik Taehyung dengan tak sabar menyubit pipi gembil Jungkook.

"Hyung, aku tidak manis tapi tampan. Dan yang manis itu kau hyung, ani, maksudku kau sangat cantik hyung seperti berlian appa.." ucapan polos Jungkook membuat Taehyung kesal. Perlu diketahui semua orang yang bertemu dengan Taehyung selalu menyebut Taehyung adakah lelaki manis dan imut. Bahkan dari pada perempuan Taehyung lebih sering iajak kencan oleh lelaki. Hei! Bagaimana perempuan akan mengajak Taehyung kencan jika si lelaki lebih cantik darinya? Ck. Untuk ukuran anak kecil tentu saja itu lucu.

"Kenapa semua orang senang sekali mengataiku cantik sih, aku kan tampan. Iya kan appa?" tangan mungil Taehyung menarik tangan besar Chanyeol yang dibalas anggukan kepala dan disertai ucapan, "Kau memang tampan Taehyung-ah, tapi paras cantikmu lebih mendominasi." Dan ucapan appa barunya suksesmembuat Taehyung bertambah sebal. Namjoon dan ibunya hanya tersenyum lebar.

"Sudahlah hyung jangan cemberut seperti itu, lebih baik kita main ayo hyung." Dan tangan Jungkook menarik tangan Taehyung dan Namjoon untuk bermain ditaman belakang. Sang ibu dan ayah hanya memandang ketiga anak mereka dengan pandangan senang. Mereka menyukai satu sama lain. Tidak susah membuat mereka saling menyayangi.

.

.

Jungkook selalu mengingat pertemuan pertama mereka yang lucu. Mengingat betapa manisnya hyungnya. Mengingat betapa bersinarnya hyungnya dan mengingat cengiran kotaknya yang lucu. Jungkoook tersenyum manis mengingatnya. Itu adalah kejadian yang paling menyenangkan yang dialami Jungkook. Bertemu dengan keluarga barunya.

Kakinya melangkah di koridor asrama yang sepi. Tentu saja sepi karena ini sudah lebih dari pukul sepuluh dan mereka lebih senang bergelung di selimut hangatnya. Mata Jungkook terfokus pada ponsel pintarnya. Mengetik pesan pada sang pelatih agar ia bisa berjalan-jalan sebentar sebelum tidur. Sungguh tempat ini sangat membosankan. Dan dengan bodohnya Jungkook meninggalkan PSP nya di rumahnya.

Jungkook tetap berjalan sebelum berhenti dan mengerutkan keningnya. Ia seperti menginjak sesuatu yang berbeda. Jungkook mundur satu langkah melihat sebuah perban putih yang sekarang sedikit kotor karena terinjak.

"Hei, kau!"

Mata tajamnya menatap seseorang yang berjongkok 10 langkah di hadapannya. Jungkook membatu beberapa saat.

Ia kembali?

Bagaimana mungkin?

Mata tajamnya tidak berkedip beberapa saat. Ia terkisap melihat hyungnya berdiri beberapa langkah didepannya. Sungguh semua ini seperti mimpi.

'Tidak mungkin. Ia tidak mungkin kembali, ia sudah meninggal. Kenapa ia ada di hadapanku?'

"Kenapa kau menginjaknya, huh?! Tidak punya mata?!", ujar sosok itu penuh kekesalan. Sejujurnya Jungkook tidak begitu pandai dalam bahasa Jepang.

Sosok itu mendekat. Meninggalkan tasnya yang berantakan. Mendekat dan semakin mendekat ke arah Jungkook.

"Kenapa kau di sini? Aku sudah membunuhmu." Lirih Jungkook dalam benaknya yang hanya bisa didengarnya seorang diri.

TBC

Hai hai haiiiii /lambai tangan/ adakah yang nungguin fanfic ini?.g

Jilan disini.. maafkan aku yang lanjutnya lama yaa, maklum maba harus ini dan itu/? /gaknanya/

Bdw, aku buat fanfic ini dua hari tanpa edit jadi harap maklum kalo ada Typo yaa^^ jalan cerita fanfic ini sudah direncanain sejak lama sama UniGon tapi baru sempat tertuang akhir-akhir ini.

Big thanks buat yang udah review kita berdua sayang kalian /cipok atu atu/

So, masih ada yang pengin ini lanjut? Review please karena review sangat berarti bagi kami berdua

*Salam cinta Jilan+UniGon*