HALLO, Readers... ARE YOU READY FOR THE NEXT CHAPTER? ARE U WAITING FOR THIS CHAPTER, GUYS? And…. Jeng jeng jeng jeng *sound gagal* this is it! The next chapter of this fanfiction. So it's been a long time and long chapter since the last chapter I've published. Hope you won't feel bored with this fanfiction guys… Thanks for ur review(s), Favorites and follows, GUYS! LOVE U ALL!
NOTE! MUST READ!: Aku minta maaf sebesar-besarnya karena keterlambatan update FF ini. First semester in high school little bit busy T^T. Jadi, aku mau menjelaskan ulang disini kalau FF ini dibuat dan dikerjakan oleh 2 AUTHOR yaitu aku sendiri (UNIGON) dan author JILAN. Jadi kita buatnya selang seling gitu: chapter prologue by UniGon, chapter 1 by Jilan, and now chapter 2 by UniGon again.
NOTE TAMBAHAN: So, pada chapter ini bakal ada banyak istilah dalam permainan baseball ya, guys. Aku bakal kasih tau rincian di akhir chapter ini.
Chapter 2 by UniGon. Latar : Jepang.
Gak pake basa basi dan banyak cincong sampe tumveh-tumveh lagi, HAPPY READING!
.
.
.
Netra Jungkook masih tak mampu terlepas dari struktur wajah namja di hadapannya itu. Mulutnya sedikit ternganga konyol dalam keterkejutan, nafas yang memburu keluar dan masuk dari paru-parunya.
Apakah ini hanya sebuah kebetulan atau justru sebuah pembalasan dendam dan penghukuman?
Wajah itu…. Jungkook tak mampu menerka atau mencerna secara jelas apa yang sedang ada di hadapannya. Hidung yang mancung, jawline tegas, kedua netra beriris coklat yang tajam, alis yang tebal, dahi yang tertutup sedikit poni dari surai cokelat hazelnya, namun wajah itu terlihat manis, sungguh. Jungkook sungguh familiar dengan wajah itu, wajah yang pernah menghiasi hari-harinya yang manis dulu.
Apakah dunia memang sesempit itu? Ataukah Jungkook telah terlempar ke dunia parallel?
"Aku bertanya pada dirimu, Tuan Tuli, kenapa kau menginjak perban itu? Apa kau penderita rabun dekat hingga tak mampu melihat perban itu?", suara celotehan berbahasa Jepang itu sedikitnya mampu menarik Jungkook menuju dunia nyata, sadar akan kemurkaan namja di hadapannya itu.
"A…Aku.."
"Apa kau orang Korea?", tanya sosok namja itu berbahasa Korea, membuat Jungkook sedikit lega namun juga di sisi lain semakin merasa khawatir. Khawatir dengan bagaimana kehidupannya ke depannya setelah bertemu namja itu.
Jungkook mengangguk, "Ya, aku orang Korea Selatan, aku atlet baseball perwakilan Korea Selatan."
Namja manis namun sarkastis itu tersenyum –tepatnya menyeringai- penuh cemoohan pada Jungkook, "Kau… jujur saja aku tak pandai bahasa Korea tapi aku berharap bisa menyampaikan ini dengan benar. Kau… sudah menginjak peralatan berharga kami hingga tak bisa dipakai lagi…", namja itu mengacungkan gulungan kapas yang telah Jungkook injak. Terdapat noda kotor pada perban itu. "…dan kau tahu? Semua alat ini kupersiapkan matang-matang untuk timmu, dan dengan keacuhanmu, kau menginjaknya. Anggota macam apa kau?", celoteh namja bersurai dirty brown itu kesal.
"Aku tidak sengaja asal kau tahu itu. Lagipula itu hanya segulung perban, bukan sebox perban.", sahut Jungkook yang mulai tak habis pikir dengan kelakuan namja itu. Jangan terlalu melebih-lebihkan, batin Jungkook.
Sosok namja bersurai dirty brown itu menatap Jungkook dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tangannya terlipat di depan dada. "Nampaknya kau dibesarkan oleh keluarga yang kaya, bukan? Itulah sebabnya kau tak mengerti seberapa penting segulung perban itu."
"Tak bisakah kau tak melebih-lebihkan situasi? Kenapa kesannya kau seperti berusaha membuatku emosi?"
Namja itu seketika melempar gulungan perban kotor itu hingga mengenai wajah Jungkook, "Kau yang membuatku emosi, kau tahu? Dan aku sangat muak berada di hadapan pangeran dari keluarga kaya sepertimu.", serunya.
Sosok namja itu hendak pergi menjauhi Jungkook namun Jungkook meraih pergelangan tangannya dan menariknya hingga mendekati Jungkook. Cukup dekat hingga rasanya ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. "Apa maksudmu berkata kau muak padaku karena aku pangeran dari keluarga kaya?", tanya Jungkook dengan suara seperti bisikan. Matanya berkilat dan tajam, menatap kesal pada namja itu
Tanpa diduga, sebuah tendangan keras seketika melesat mengenai tulang kering Jungkook, membuatnya meringis kesakitan dan melepas pegangannya pada pergelangan tangan namja itu. "Jangan kau kira mahasiswa kedokteran sepertiku tak punya tenaga yang cukup untuk membuatmu bertekuk lutut, yah!", ujarnya dengan seringaian.
Jungkook masih mengerang kesakitan seraya memegangi tulang keringnya yang telah ditendang oleh namja itu, "Kau! Dasar kau mahasiswa kurang ajar!"
"Persetan dengan ucapanmu, Pangeran Kaya!", seru namja itu seraya berlalu menjauhi Jungkook dengan alat-alat kesehatan di tangannya.
Jungkook nyaris tenggelam dalam pesona yang ditawarkan namja bersurai dirty brown itu, pesona yang hilang dan Jungkook rindukan selama ini. Andaikan namja itu berkelakuan manis seperti apa yang ia ekspektasikan, mungkin Jungkook telah menangis meraung-raung dalam pelukan. Jungkook merasa beruntung apabila namja itu berkelakuan menyebalkan seperti itu, walaupun di sisi lain, rasa nyeri pada tulang keringnya sangat menusuk dan tak bisa terelakkan.
Namja bersurai dirty brown itu meletakkan alat-alat kesehatan itu pada sebuah meja kayu setelah menutup pintu kamar asramanya. Ia melemparkan dirinya ke atas kasu meter dengan sprei putih yang terletak tak jauh dari meja kayu tersebut. Netranya tak terlepas dari langit-langit putih yang berjarak beberapa meter darinya itu. Ia termenung untuk beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja ia lakukan dengan pada atlet baseball perwakilan Korea Selatan itu.
"Bagaimana jika atlet itu cedera dan tak bisa bertanding di lapangan karena tendanganku itu?", gumam Taehyung penuh rasa bersalah.
"Tapi dia menyebalkan, wajar juga kalau aku memberikan tendangan sekeras tadi."
Taehyung meringis sedikit kemudian kembali bermonolog untuk kesekian kalinya, "Pasti akan sangat memalukan jika aku bertemu dengannya esok hari saat jadwal latihan tim Korea. Bagaimana nasibku esok hari astaga…", rancau Taehyung seraya berguling guling tak menentu di atas kasurnya.
"Bagaimana jika nanti ia melapor pada dosenku, kemudian dosenku menarik dari tim Korea dan memindahkanku ke tim lain? Atau buruknya mereka mengeluarkan dari kampus atas tuduhan penyiksaan dan kekerasan? Lalu aku dipenjara. Bagaimana ini haduh…", rancauan tak berakhir itu kembali berlanjut. Kefrustasiannya ia lampiaskan pada bantal itu. Dipukul berkali-kali bahkan hingga digigitinya.
"Lebih baik untuk tidur sekarang. Aku akan berpikir lagi esok pagi.", gumaman terakhir itu menutup hari Taehyung pada malam itu.
Taehyung menutupi tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan selembar selimut biru mudanya. Dalam benaknya berharap jika esok pagi ada keajaiban yang dapat menolongnya dari segala hal buruk yang mungkin akan menimpanya.
Suara dentingan garpu, sendok dan piring terdengar dalam ruangan itu, berbaur dengan aroma makanan yang menguar dari segala penjuru. Di antara semarak keriuhan ruang makan besar itu, Jungkook menjadi salah satu orang yang tak menikmatinya. Ia terlarut dalam dunianya sendiri, dengan headset yang tersampir di kedua telinganya dan yah, kaki kanan yang masih merasakan 'nikmat' tendangan semalam. Langkahnya sedikit tergopoh, kentara dengan orang-orang di sekitarnya. Tangannya memegang piring poselin putih yang nyaris jatuh beberapa kali. Sesekali ia meringis, entah meringis kesakitan atau kesal akibat kesulitan berjalan.
"Kalau berjalan saja susah, bagaimana berlari nanti? Pasti akan memalukan.", rutuk Jungkook dalam hati.
Sebuah tepukan di pundaknya membuat Jungkook menoleh ke belakang, menatap seorang namja tinggi yang berbaris di belakangnya. Sosok itu membantunya melepas headset dari kedua telinganya.
"Apa terjadi sesuatu dengan kakimu? Nampaknya ada masalah hingga kau kesulitan berjalan.", tanya Mingyu.
"Hanya nyeri sedikit, aku akan mengobatinya nanti."
"Kenapa tak kau bawa ke unit kesehatan untuk tim kita? Lebih baik jika kau membawanya lebih cepat agar kau bisa bermain dengan optimal.", saran Mingyu.
Spontan Jungkook langsung menggeleng cepat, "Jangan… hehe… jangan… aku tak perlu itu. Aku akan memberi krim nanti setelah sarapan. Santai saja."
Jungkook langsung membelakangi Mingyu kembali seraya mengambil beberapa potong roti panggang dan mengolesinya dengan selai kacang dan cokelat. Terlintas di benaknya jika Mingyu benar-benar memaksanya, atau bahkan jika Donghae ikut memaksanya ke unit kesehatan tim Korea maka mau tak mau, ia pasti akan bertemu dengan namja bersurai dirty brown itu. Tak ingin rasanya bertemu dengan namja frontal itu untuk kedua kalinya, mengingat yah… kekurangajarannya dan wajahnya yang nyaris membuat Jungkook mati berdiri dalam kerterkejutan kemarin malam.
Di sisi lain dari ruangan itu, sesosok namja bersurai dirty brown melangkahkan kakinya dengan pandangan yang beredar ke seluruh sudut ruangan. Ia berusaha mengantisipasi kedatangan atlet baseball bersurai hitam legam kemarin itu. Dalam genggamannya –atau tepatnya pelukannya- terdapat sebuah mangkuk putih porselin yang hendak ia isi dengan cereal dan susu segar. Hingga langkahnya terhenti ketika ia tak sengaja entah menabrak atau ditabrak seorang namja yang tak jauh tingginya dengan dirinya.
"Jimin…"
"Aku mencari kemarin malam di café tapi mereka bilang kau tak datang. Kau ke mana tadi malam?"
Taehyung terkekeh canggung, "Aku membereskan peralatan kesehatan untuk tim Korea jadi aku tidak bekerja tadi malam.", jelas Taehyung dengan senyuman kotaknya yang khas.
Jimin mengangguk mengerti, "Tapi kau tampak seperti mencari sesuatu dari tadi, apa aku bisa membantumu untuk mencarikanmu hal itu?", tawar Jimin dengan sukarela.
"Ahh….", Taehyung menggeleng cepat, "Aku hanya sedang melihat-lihat situasi. Aku suka ruangannya.", sahut Taehyung yang tentunya hanya alasan penuh dusta belaka.
"Jadi di mana tempat duduk tim Korea?"
"Memangnya kenapa aku harus tahu tempat duduk tim Korea? Aku bisa duduk di tempat lain sesuai keinginanku, kan?", tanya Taehyung seraya mengumpulkan banyak kepingan cereal cokelat dan menuangkan susu ke dalamnya.
Jimin yang berdiri di luar barisan pemakan cereal itu mengerutkan keningnya, "Memangnya kau tak tahu? Mulai hari ini, tim kesehatan dan tim atlet baseball akan berkumpul dalam 1 meja setiap ada acara formal ataupun nonformal. Kursi yang disiapkan pun sudah pas dengan jumlah anggota tim baseball ditambah tim kesehatan khusus tim."
What the hell?
Duduk satu meja dengan tim baseball Korea Selatan katanya?
Hah?
Yang benar saja?
Ingin rasanya Taehyung menyiram dirinya sendiri dengan cereal itu saat itu juga, detik itu juga di depan semua orang yang ada di sana. Sayangnya, ia tak memiliki nyali mempermalukan diri di hadapan semua orang saat itu. Ia merutuki kejadian semalam. Atlet itu pasti berjalan dengan tidak normal hari ini, batin Taehyung menyesal. Ia sudah merasakan bahwa hal-hal buruk akan menimpanya hari ini. Dimulai dari jatuh dari tempat tidur, terpeleset di kamar mandi dan terjatuh ke dalam kloset hingga harus duduk bersama tim baseball Korea Selatan. Ingin bagaimana pun, Taehyung harus mampu mentabahkan hatinya untuk kesialan bertubi-tubinya ini.
"Taehyung, aku akan menemui nanti di café jika kau bekerja yah, hubungi aku lagi nanti. Sampai jumpa dan semangat untuk pekerjaan hari ini.", ujar Jimin sebelum berlalu di antara kerumunan orang-orang yang mengantri untuk makanan lainnya.
Tak jauh di hadapannya, 2 buah meja bundar yang dikelilingi banyak kursi saling bersebelahan, keduanya tertempel logo bendera Korea Selatan. Mungkin di sinilah ia harus duduk dan menghadapai hukumannya. Ia berjalan mendekati kursi yang tak jauh dari sebuah pilar besar bercat krem.
"Are you one of South Korean health team?", tanya sesosok namja bersurai ber-jawline dan tulang pipi tegas yang juga duduk di bangku Korea Selatan itu. Mungkin ia tak tahu jika Taehyung bisa berbicara bahasa Korea.
"Matilah aku sekarang jika bocah itu mengadu pada timnya."
Taehyung melirik satu persatu orang-orang yang berada di tim itu. Tak ada namja kemarin itu, pikir Taehyung. Kemudian atensinya teralihkan pada bagaimana mereka menatap mengintimidasi pada dirinya. Mengerikan, hingga ia bergidik ngeri sendiri. Taehyung mengangguk kecil, "Ya…", gumam Taehyung pelan dalam bahasa Korea.
Sorak sorai seketika terdengar bersamaan dengan tepuk tangan meriah kedua bangku Korea Selatan itu, membuat Taehyung terkejut dan tak habis pikir.
"Akhirnya kau datang juga. Selamat datang di meja Korea Selatan. Duduklah, tak perlu khawatir pada kami. Mungkin kau berpikir kalau kami menakutkan, tapi kami tidak semenakutkan yang kau bayangkan.", ucap sosok namja bersurai ber-jawline dan tulang pipi tegas itu lagi.
Taehyung hanya mengangguk dan tersenyum canggung seraya menaruh mangkuk cereal dan duduk di salah satu kursi kosong yang tersisa. Kedua netranya kembali menyusuri tiap-tiap orang yang duduk di bangku Korea Selatan. Namja bersurai hitam pekat itu benar-benar tak ada di sana. Apa ia sesakit itu hingga tak datang hari ini? Atau ia masih tidur nyenyak di kamarnya?
Hingga suara derit kursi yang ditarik di sebelahnya terdengar, membuat nafas Taehyung tertahan sejenak bersamaan dengan netra yang membulat terkejut. Ia menundukkan kepalanya, membenamkannya dalam-dalam di hitamnya.
"Bagaimana dengan kakimu, Kook?", tanya seorang namja dengan surai yang dicat biru yang duduk di seberang Taehyung.
Sosok itu duduk di samping Taehyung dengan nafas terengah, "Tidak apa-apa, hanya sedikit nyeri. Nanti akan hilang kuharap."
Dari petanyaan dan penyataan di atas, Taehyung mampu mengetahui bahwa namja itu adalah namja bersurai hitam legam yang kemarin malam ia tendang kakinya. Bukankah ini sebuah kesialan yang sangat sial untuk duduk di samping atlet baseball yang ia tendang tulang keringnya tadi malam? Terlebih ia sudah duduk di sekitar kerumunan tim baseball Korea Selatan. Tamat sudah riwayatnya.
"Dan.. karena semua sudah berkumpul pada pagi hari ini, aku ingin mengumumkan sesuatu pada kalian. Kita telah kedatangan seorang tim kesehatan Korea Selatan yang untungnya bisa berbicara bahasa Korea. Jadi, mohon perkenalkan dirimu…", ucap sang pelatih tim.
Taehyung dengan perlahan dan takut-takut memperlihatkan wajahnya pada halayak umum tim baseball Korea Selatan, termasuk namja yang baru saja duduk di sampingnya itu. "Ah… ne… namaku… Byun Taehyung. Aku seorang warga negara Korea Selatan yang berkuliah di jurusan kedokteran di Tokyo. Salam kenal.", ucap Taehyung gemetaran.
Tepuk tangan riuh terdengar dari sekelilingnya, kecuali namja bersurai hitam pekat itu yang tak sedikit pun menggerakannya tangannya dari dalam saku celana trainingnya. Taehyung mampu melihat bagaimana namja bersurai hitam pekat itu menatap tajam dengan kerutan di dahinya dengan sedikit lirikan secepat kilatnya.
Di sisi lain, Jungkook masih tak menyangka jika sosok namja itu bernama Byun Taehyung. Ia tak sedang bermimpi, kan? Bagaimana mungkin ada manusia yang terlahir dengan wajah mirip dan dengan nama yang mirip pula? Apakah ini cara dunia menghukum dan menghakimi Jungkook?
Ia berusaha mengacuhkan segala macam pemikiran dalam benaknya tentang namja bersurai dirty brown dengan nama Byun Taehyung itu. Ada saatnya Jungkook harus mengintrogasi Taehyung tapi entah kapan pun, Jungkook akan mencari waktu dan tempat yang tepat.
"Yah… Lapangan Baseball Meiji Jingu memang yang terbaik.", ungkapan kagum itu terlontar dari Hoseok yang berdiri tepat di samping Jungkook.
Hoseok menyiku pinggang Jungkook pelan, "Jungkook ah, bukankah ini stadium yang megah sekali. Hua…. Berapa banyak orang yang mampu ditampung di sini? Ya… benar-benar stadion yang luar biasa.", Hoseok kemudian berlalu dengan tepuk tangan bahagia dan kagumnyanya yang mengiringi.
Jungkook masih berusaha mengobservasi keadaan di sekeliling stadion itu. Megah memang, wajar saja rasanya karena stadion ini berada di jantung kota Tokyo. Tak mungkin rasanya jika tak megah dan sangat terawat.
Dengan langkah yang tergopoh-gopoh, Jungkook kemudian melakukan pemanasan bersama rekan satu timnya. Pemanasan itu penting atau kau akan mati di tengah pertandingan merupakan sebuah kalimat yang Jungkook selalu tertanam dalam-dalam di otaknya setiap waktu.
"Jungkook, apa kau yakin bisa mengikuti latihan pada hari ini?", tanya pelatih tim itu dengan nada khawatir.
Jungkook mengangguk pelan seraya mengambil sebuah bat (pemukul bola) berwarna hijau muda di dekatnya, "Tentu saja, Pak."
Jungkook bersiap dengan memasang kuda-kuda di samping home plate (kotak awal pemukul sebelum berlari ke base selanjutnya yaitu base 1). Walau rasanya kaki kanannya terlalu 'nikmat' untuk dibawa berlari, tapi ia tak ingin membuat anggota tim lainnya khawatir terhadap dirinya.
"Pelari 1. Dapat bola, lempar base 1.", seru Hoseok yang tak lain adalah seorang penjaga base 3 (third baseman).
Minwoo yang bertugas sebagai pitcher tim bersiap-siap dengan lemparan bola mematikannya. Siapa yang menyangka dengan tubuh kurusnya itu, ia mampu terpilih menjadi seorang pitcher nasional untuk tim Korea Selatan, berpasangan dengan Donghae yang bertugas sebagai catcher.
Bola kecil segenggaman itu melesat menuju catcher. Dengan mata kilatnya, Jungkook tahu detik-detik di mana ia harus menghantam bola itu dengan bat di tangannya. Suara detingan keras terdengar bersamaan dengan bola yang melayang ke bagian kiri lapangan. Jungkook berlari sekuat tenaganya menuju base 1 setelah bola itu berhasil ia pukul. Sedikit lirikan mata Jungkook mampu melihat Mingyu yang bertugas sebagai penjaga short stop bersiap melempar bola menuju base 1.
"Sial, kakiku sakit sekali….", gerutu Jungkook.
Jungkook nyaris menginjak base 1 ketika ia mampu melihat bola yang telah di lempar itu hamper sampai di base 1. Tapi, keberuntungan menyambut Jungkook. Bola tak mampu ditangkap oleh Yoongi, si firstbase man (penjaga base 1) itu.
"Error ball! Jungkook lari ke base 2.", seru sang pelatih yang berdiri di belakang Donghae.
Rasanya kaki kanan Jungkook sudah terlalu lelah untuk berlari lagi. Dengan nafas terengahnya setelah menahan sakit, ia membelokkan arah menuju base 2. Namun, tiba-tiba kaki kanannya terasa lelah hingga kaki kirinya tak sengaja menabrak kaki kanannya. Alhasil, tubuh Jungkook membentur lapangan dengan keras dan terseret beberapa centimeter. Ia bisa merasakan bagaimana perih di sekitar tulang pipi dan lengan kanannya serta bau debu yang menelusup ke dalam indra penciumannya. Di antara pengelihatannya yang kabur, ia dapat melihat Mingyu, Hoseok dan beberapa orang lainnya berlari menuju ke arahnya. Di pojok lapangan yang jauh di sana terlihat Donghae berdiri seraya melepas helmet-nya.
"Ya, Jungkook ah…. Apa kau masih hidup?", tanya Hoseok seraya mengangkat kepala dan punggung Jungkook.
Jungkook menyeringai dan terkekeh layaknya orang yang mabuk alcohol, "Menurut bagaimana, huh?"
Hal yang selanjutnya Jungkook sadari adalah ia berada dalam gendongan di punggung Hoseok dengan kepalanya yang bertumpu pada pundak lebar Hoseok.
"Tidak berat menggendongku?", tanya Jungkook pelan.
"Beratlah, Bodoh. Kau adalah orang pertama yang harus aku gendong sepanjang sejarah sebagai atlet, kau tahu?", omel Hoseok dengan nafas terengahnya.
Hoseok menurunkannya di kursi pemain tepat di samping pintu masuk khusus pemain. Jungkook terlentang lemas di sana dengan darah yang mengalir dari luka di pipi dan siku kanannya serta rambut dan pakaian yang penuh debu.
"Apa yang terjadi?", tanya Taehyung yang dengan sigap datang dengan beberapa perban, plester dan obat luka di tangannya.
"Bocah ini jatuh di lapangan karena kaki kanannya keram. Aku sudah katakan padanya untuk istirahat dan akhirnya kepala batunya itu membentur tanah lapangan.", jelas Hoseok gemas seraya menunjuk-nunjuk Jungkook yang terlentang dengan mata tertutup di kursi pemain.
"Aku akan menanganinya, kau bisa lanjut berlatih…", sahut Taehyung.
Taehyung mengambil beberapa kapas dan menyiramnya dengan air mineral yang berdiri di samping kepala Jungkook. Ia berusaha mengolesi kapas itu ke daerah pipi dan siku Jungkook yang terluka, berusaha membersihkan debu di lukanya.
"Byun Taehyung, kau bilang?", tanya Jungkook dengan mata yang tertutup.
Taehyung yang tengah mengolesi pipi Jungkook dengan obat luka hanya bisa ber-hm ria sebagai jawaban.
"Namaku Jeon Jungkook."
"Senang mengenalmu.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan padaku. See? Aku jatuh di lapangan dan wajah tampanku terluka. Bahkan siku kananku juga terluka. Bagaimana aku akan melempar bola jika tanganku terluka?", tanya Jungkook setelah membuka kedua matanya, menatap atap kursi pemain.
"Aku sudah mengobatinya dan memberi perban, kan? Sekarang tinggal memberikan hansaplast di pipimu itu.", ucap Taehyung seraya menempelkan hansaplast perlahan tepat di bagian pipi Jungkook yang terluka.
Ketika Taehyung hendak menarik tangannya untuk membereskan peralatannya, tangan kanan Jungkook dengan cepat menarik pergelangan tangan Taehyung hingga namja itu hampir terjatuh di atas tubuhnya. Lagi, ujung hidung mereka nyaris bersentuhan dan Taehyung mampu merasakan deru nafas cepat Jungkook.
"Dengar, Byun Taehyung, urusanku kemarin malam denganmu belum selesai. Kau harus membayar mahal atas apa yang kau lakukan padaku.", bisik Jungkook seraya menyeringai.
Taehyung menumpu tubuhnya pada pundak Jungkook, memberikan sedikit jarak antara wajahnya dengan wajah Jungkook. "Ingin membalas dendam? Don't you miss me?", sahut Taehyung dengan seringaian yang lebih mengerikan.
.
.
.
TBC
So, that's it. The end of this chapter, guyssss *tebar bunga bareng JK*. Gaje? Typo bertebaran? Aneh? No fell? Delete or lanjut nih? Don't forget to review yahh….
Salam damai dan sayang,
UniGon + Jilan /kiss bye lambai-lambai/
PENJELASAN ISTILAH:
Home plate = base awal tempat pelari pertama untuk mukul bola sebelum lari.
Base 1,2,3 = base itu sendiri kayak area pemberhentian gitu. Ya yang terdekat itu base 1 (ada di sayap kanan lapangan), terus base 2 (di seberang home plate), base 3 (di sayap kiri lapangan). Lapangan baseball itu bentuk belah ketupat.
Pitcher = pelempar bola yang ada di tengah lapangan. So, pitcher ini yang lempar bola ke pemukul yang rangkap bakal jadi pelari yah.
Catcher = pemain yang nangkap bola kalau bola gak bisa dipukul sama pemukul. Kerjaan catcher itu gak Cuma ini doang, tapi juga jaga home plate dan ikutan ngelempar bola juga kok. Tapi datengnya nama 'catcher' itu sendiri yah karena dia nangkep bola yang lepas dari pemukul itu.
Firstbase man = penjaga base 1 dan nangkap setiap bola yang mengarah menuju atau mendekati base 1. Nah, Secondbase man itu tempatnya dia base 2 dan thirdbase man itu yah di base 3.
Bat = pemukul bola.
Error ball = istilah buat bola yang gak tertangkap oleh penjaga base. Jadi error ball ini gak selamanya salah penjaga base, tapi tergantung yang melempar juga. Mengenai error ball sendiri, jadi kalo terjadi error ball, pelari yang ada di base bisa lari ke base selanjutnya nih kalau situasi mendukung missal kalau bolanya (yang udah error) itu menggelindingnya jauh.
So, ada yang mau ditanyain lagi? Silahkan comment yahh, aku bakal bales kok ^^.
