Helloo Helooo... Ini adalah chapter lanjutan dari (not) over. Sorry for late upload karena author jilan yang baru abis yudisium dan author UniGon yang baru abis ngurus karya tulis ilmiah yah wkkwkw /edisicurhat. So, check this out guys!
Chapter 3, By Jilan
.
.
.
Jungkook hanya seorang biasa, ia tumbuh di lingkungan yang baik dan berkepribadian baik pula. Ia tidak pernah semena-mena terhadap orang lain dan ia juga tidak pernah kurang ajar pada yang lebih tua. Jungkook tumbuh dengan sangat baik dan dikelilingi preatasi memukau yang membanggakan ayah dan ibunya. Ia sosok yang diidamkan oleh semua ibu di rumah untuk bersanding dengan putri mereka yang cantik.
Namun, semua nasib bergantung pada sang penguasa semesta. Penguasa jagad raya ini tidak mengizinkan Jungkook untuk mendapat kebahagiaan dengan semua kesempurnaannya. Tuhan tidak ingin Jungkook menjadi pribadi yang sombong dan nantinya ingkar. Oleh karena itu, Tuhan memberikan cobaan ini padanya.
Pembunuh kakaknya mereka bilang?
.
.
.
Taehyung bergegas bangun, sesegera mungkin mandi mengingat kamar mandi di sini sangat sedikit untuk ukuran banyak mahasiswa kesehatan di sini. Tentu saja Taehyung tidak ingin mengantri untuk mandi, ia lebih suka bangun subuh seperti ini ketimbang bangun nanti tapi mengantri untuk mandi.
Setelah menyegarkan tubuhnya, Taehyung berjalan pelan menuju salah satu ranjang temannya, sebut saja dia Hoshi. Namja berambut pirang yang jago menari. Kadang Taehyung juga bingung, kenapa orang seperti Hoshi bisa masuk dalam dunia kedokteran sepertinya. Mengingat Hoshi juga orang yang sangat ceroboh tapi Taehyung mengakui ketekunannya dalam menjalankan tugasnya, apapun itu.
"Hoshi, bagunlah." Taehyung menggoyangkan lengan kurus Hoshi tidak sadar jika lengannya bahkan lebih kurus dari pada Hoshi.
"Tae, aku masih mengantuk." ucapnya dengam mata setengah terbuka. Namun bukan Taehyung jika menyerah begitu saja.
"Bangunlah, apa kau ingin mengantri nanti huh? Harusnya kau berterimakasih padaku karena membangunkanmu." Hoshi hanya menganggukan kepalanya. Terlalu pagi untuk memulai pertikaian. Taehyung dengan pertikaian bukan kombinasi yang bagus. Mengingat ada saja hal yang Taehyung jadikan sebagai opininya. Byun Taehyung tak kenal menyerah dan akan selalu menang. Itu sudah diketahui oleh semua mahasiswa kedokteran dan para dosen juga tentunya.
"Baiklah ByunTae yang manis, aku akan bangun dan mandi secepatnya. Tunggu aku di ruang kesehatan Tim Korea Selatan oke? Aku akan bergegas." ujar Hoshi yang dibalas dengan anggukan patuh Taehyung.
"Aku akan menunggumu di sana. Dan.. aku tidak manis ataupun itu yang kau katakan. Aku Byun Taehyung itu tampan bukan manis." ujar Taehyung sebelum keluar dari kamar sementaranya itu bersama teman-teman yang lain.
.
.
Taehyung berjalan pelan menuju ruang kesehatan milik Korea Selatan. Ruangannya tentu saja tidak jauh dari kamar para anggota baseball negara itu. Seketika ingatannya kembali melayang tentang pertemuan konyol keduanya. Sebenarnya bukan salah Jungkook, ia saja yang tidak benar membawa barang sehingga perban tersebut menggelinding jauh darinya. Tapi ia terlalu malu untuk mengakui kesalahannya. Tipikal Byun Taehyung sungguh.
Sebenarnya sejak bertemu Jungkook, Taehyung merasakan perasaan asing masuk kedalam hatinya. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Terakhir kali ia merasakannya saat kekasihnya masih hidup. Perasaan yang mampu membuat dadanya berdesir nyaman namun takut secara bersamaan. Takut jika ia akan ditinggalkan lagi. Namun, bukan itu yang terpenting sekarang. Yang terpenting sekarang adalah memastikan. Memastikan perasaannya. Ia berharap ini hanya hinggapan sejenak dan akan hilang seiring waktu. Lagipula bukankah ia menyukai Jimin? Tapi.. apa Jimin juga menyukainya?
Taehyung menggelengkan kepalanya. Poni jamurnya bergerak lucu membuatnya terlihat menggemaskan dengan pipi tembam membuat siapapun tak tahan untuk mencubit pipi berisinya.
Taehyung mengatur kotak pertolongan pertamanya dengan isi selengkap mungkin. Mulai menata sedemikian rupa kasa, alkohol, plester, peniti, kapas, mittela dan teman-temannya agar muat ia masukan kedalam kotak kesehatan itu.
Ceklek
Pintu ruang kesehatan terbuka, memperlihatkan seseorang lelaki dengan postur tinggi dan berotot. Lelaki itu berjalan pelan menuju Taehyung. Kakinya nyeri dan ia butuh sesuatu untuk meredakan nyeri tersebut.
"Byun Taehyung obati lukaku. Kau harus bertanggung jawab." ujar lelaki tersebut. Jeon -Sempurna- Jungkook dengan segala kearoganannya yang sebenarnya hanya topeng untuk segala kelemahannya.
Taehyung menghela nafasnya pelan. Tanpa menjawab pertanyaan Jungkook ia segera mengambil perban, alkohol, plester dan kapas untuk mengganti luka Jungkook.
Sedangkan Taehyung sibuk mengganti lukanya dengan perban baru, Jungkook sibuk memperhatikan namja manis di depannya. Memperhatikan bagaimana caranya Taehyung mencuci lukanya kembali, meniupnya dengan pelan dan memperhatikan bagaimana bisa wajah Byun Taehyung sama persis sengan wajah Jeon Taehyung-nya? Bagaimana bisa seseorang lahir dengan wajah yang sama persis dan nama yang sama persis juga? Itu bukan kebetulan semata bukan? Bagaimana semua itu bisa terjadi?
"Apa ada sesuatu di wajahku hingga kau melihatku seperti itu?" Taehyung bertanya tanpa malihat kearah Jungkook. Taehyung tetep fokus dengan apa yang ia kerjakan sekarang.
"Kau mengingatkanku pada seseorang. Kau sangat mirip dengannya." ujar Jungkook tanpa sadar.
Taehyung terdiam. Mengingatkannya pada seseorang? Kenapa perasaannya berkecambuk seperti ini? Apa yang terjadi?
"Sudahlah tidak usah dipikirkan." ujar Jungkook kemudian. Melihat raut wajah Taehyung yang seakan-akan tidak tahu apa-apa membuat Dirinya sakit.
"Memikirkan apa? Aku tidak memikirkannya jika kau mau tahu. Untuk apa aku memikirkan hal-hal yang tidak berguna seperti itu." balas Taehyung ketus. Entah mengapa ia merasa sakit saat Jungkook melihatnya sebagai orang lain. Hatinya seperti diremas kuat hingga hancur. Lucu sekali bukan?
"Memang tidak penting untukmu, namun sangat penting bagiku. Karena orang itu sangat berharga untukku dan dengan bodohnya aku malah membunuhnya" Padahal Taehyung adalah orang baru bagi Jungkook, namun ia dengan gamblangnya dan tenang bahwa ia adalah seorang pembunuh.
Taehyung melihat mata teduh Jungkook, semuanya terbaca dengan amat jelas. Pancaran arogannya digantikan dengan tatapan kerinduan, kekacauan, penyesalan, dan rasa bersalah yang amat dalam. Taehyung tertegun beberapa detik dan tersenyum tipis mengusap punggung Jungkook pelan.
Jungkook menoleh kesamping. Melihat dengan jelas jika Taehyung tersenyum amat manis untuknya. Tidak ada senyum sinis ataupun menertawakan. Senyumannya... sangat mirip dengan hyungnya. Sangat mirip.
"Aku tahu maksudmu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kematian seseorang adalah takdir Tuhan. Bukan rencana seseorang termasuk kau. Aku tahu maksudmu bukan membunuh bukan? Tidak sengaja atau.. memang semua itu adalah pengorbanan? Aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan membunuh orang yang sangat berharga untukmu. Namun, tidak mungkin bukan kau membunuh orang yang sangat berharga tersebut? Itu adalah takdir. Takdir yang memisahkan dengan cara yang buruk. Aku percaya kau orang yang baik walaupun, kau cukup menyebalkan." Jungkook tertegun mendengar penjelasan dari orang asing yang sialnya sangat mirip dengam hyungnya.
"Terimakasih telah mempercayaiku. Aku.. tidak ada yang mempercayaiku. Bahkan hyungku mengagapku pembawa sial dan layak mati. Bukankah itu sangat kejam? Hanya mereka, hanya teman-teman tim yang percaya padaku hanya mereka yang tidak pernah memandangku dengan sebelah mata dan sekarang aku punya satu lagi orang yang percaya padaku," Jungkook tersenyum lebar. Memandamg Taehyung yang alis kanannya terangkat atas.
"Aku punya kau. Byun Taehyung. Baiklah, aku minta maaf atas kesalahanku beberapa hari yang lalu. Aku ingin berteman denganmu Tae, perkenalkan namaku Jeon Jungkook." Jungkook mengulurkan tangannya.
Taehyung tersenyum tipis namun amat manis, "Namaku Byun Taehyung. Senang bertemu denganmu Jeon Jungkook."
Dan dengan itu maka pertemanan mereka dimulai. Pertemanan yang mungkin akan membawa mereka pada takdir yang tak teduga. Siapa yang tahu rencana Tuhan?
.
.
.
Korea Selatan
Namjoon mempunyai kepribadian yang sangat menyenangkan. Dengan dimple yang membuatnya makin tampan jika tersenyum. Namjoon sangat menyayangi keluarganya, ia sangat menyayangi ibu, ayah dan adiknya. Kim Taehyung yang berganti menjadi Jeon Taehyung. Nama adiknya, adik manis yang selalu Namjoon jaga sejak awal ia membuka mata cantiknya. Adik manis yang memiliki celotehan lucu yang selalu membuatnya tersenyum. Ia bertekad untuk selalu menjaga adik manisnya itu.
Namun, semuanya berubah. Ibu mencintai laki-laki lain. Namjoon tidak mempermasalahkan semua itu. Jika ibunya bahagia, memang apa yang harus ia lakukan? Terlebih Taehyung sangat bersemangat. Taehyung memang tak pernah merasakan kehangatan seorang ayah, karena ayah mereka pergi sejak lama dengan alasan yang tidak mereka ketahui.
Namjoon mengusap foto keluarganya. Taehyung tampak sangat manis dengan setelan jas berwarna putih. Taehyung sangat manis dengan senyum memabukan. Ia rindu senyum menawan Taehyung. Sangat merindukannya. Apa Taehyung berbahagia di atas sana?
"Namjoon, ayo kita makan." ketukan pintu dan suara halus ibunya menyadarkannya. Ia menghela nafasnya pelan dan berjalan pelan menuju pintu. Tersenyum manis memandang ibunya yang selalu cantik di matanya.
"Kapan ibu dan ayah pulang?" tanya Namjoon.
Ibunya tersenyum kecil. Mereka berjalan perlahan menuju dapur yang terletak agak jauh dari kamar Namjoon. "Ibu dan ayah pulang subuh tadi sayang. Kita harus makan bersama, ibu rindu kau dan Jungkook. Walaupun Jungkook tidak ada di sini." ujar ibunya dengan usapan pelan dibelakang kepalnya.
Namjoon hanya mengangukan kepalanya. Terlalu malas untuk menjawab nantinya. Karena ia tahu ibunya akan memberi petuah tentang pentingnya persaudaraan. Ibunya tidak buta dan cukup mengerti jika anak sulungnya belum bisa merelakan kematian anak bungsu kandungnya. Bukan berarti sang ibu melupakan anak manisnya itu. Tidak. Sampai kapan pun anak manisnya Jeon Taehyung selalu tinggal dihatinya.
"Pagi appa." sapa Namjoon. Chanyeol tersenyum hangat dan tanganya mengisyaratkan agar Namjoon dan Yura duduk dan segera memulai sarapan mereka.
"Pimpin doanya Namjoon." perintah Chanyeol.
Namjoon memganggukan kepalanya, telapak tangannya saling menggenggam satu sama lain dan diletakan didepan dada. Matanya terpejam khitmat. Dan mulutnya mengumamkan kata terimkasih pada sang pencipta. Chanyeol membuka matanya. Memandang Namjoon dengan pandangan bangga. Anak pertamanya memang mempunyai jiwa kepemimpinan yang bagus. Walaupun ia tahu dikeluarga kecilnya tidak sehangat dulu. Namun ia bersyukur untuk keadaan ini. Setidaknya tidak terlalu pecah. Walau rasa kehilangan masih hinggap dihati mereka yang ditinggalkan.
Setelah makan dengan khitmat tanpa adanya pembicaraan sama sekali, Yura menatap satu per satu suami dan anaknya. Haruskah? Haruskah ia mengatakannya?
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua." serempak kedua lelaki berbeda usia itu memandang kearah wanita cantik yang amat mereka sayangi itu.
Yura memandang keduanya cemas. Apalagi keduanya memandang Yura dengan tatapan penasaran mereka.
Kenyataan apa lagi yang harus mereka hadapi?
.
.
.
Jepang
Jimin bersiul pelan. Melangkahkan kakinya menuju kamar Taehyung. Jimin sangat merindukan senyuman manis Taehyung. Kemarin ia hanya berjumpa sebentar dengan namja manis itu. Sialnya ia harus mengantar salah satu temannya ke dokter, ia tiba-tiba demam tinggi dan tim kesehatan Jepang mengatakan bahwa Yuta -teman Jimin-harus dirawat di rumah sakit. Sebagai kapten Jimin merasa bertanggung jawab.
Asrama yang mereka tempati memang memiliki lorong yang panjang. Sialnya lagi tempat tim Korea Selatan dengan Jepang sama-sama berada di pojok. Terbentang jauh melewati koridor yang sepi. Dan hal itu tentu saja berdampak pada pertemuan Jimin dengan Taehyung.
Dari jauh terlihat seorang namja dengan rambut blonde berjalan dengan tertatih. Tangannya sibuk memegang kepala. Sesekali meringis menahan sakit. Jimin yang melihat itu langsung berlari menghampiri namja itu. Tepat sebelum namja itu pingsan, Jimin berhasil menangkapnya.
"Hai, bangunlah.." Jimin menepuk pipi namja tersebut berulang-ulang. Wajah namja asing ini sangat pucat. Itu pucat efek sakit atau dia memang seoramg albino?
Tak mendapat respon dari namja pucat tersebut, Jimin segera menggendongnya menuju ruang kesehatan yang jaraknya tidak jauh darinya. Namja ini walaupun pendek dan kecil ternyata cukup berat juga. Batin Jimin sembari meringis.
BRAK
Jimin menendang kuat pintu kesehatan Korea Selatan membuat dua pasang namja didalamnya memekik kaget. Taehyung yang lebih dulu sadar dari mode kagetnya membulatkan matanya melihat sahabatnya masuk sembari menggendong seorang namja berkulit putih pucat. Dengan tergesa Taehyung menghampiri Jimin dan namja tersebut yang ia ketahui bernama Min Yoongi.
"Jimin, apa yang terjadi padanya?" tanya Taehyung dengen membantu Jimin meletakan Yoongi tempat tidur.
"Saat aku ingin menemuimu, aku melihatnya berjalan tertatih dengan memegang kepalanya. Kupikir dia sakit kepala Tae-ah. Dia juga berkeringat dingin dan wajahnya sangat pucat." jelas Jimin.
Taehyung mengangguk. Mendekati Yonggi yang memejamkan matanya. Mendekatkan tangannya untuk memeriksa suhu badan Yoongi. Matanya membulat saat punggung tangannya memegang dahi Yoongi yang luar biasa panas. Jika dilihat badannya juga kemerah-merahan dan napasnya sedikit lemah.
Dengan sigap Taehyung memasang infus yang memang disediakan secara lengkap disetiap unit kesehatan. Setelah mencari pembuluh darah dipergelangan tangan Yoongi, Taehyung segera memasang set infus untuk namja berkulit pucat tersebut.
"Annyeo-" Hoshi membulatkan matanya melihat Taehyung yang sedang menangani seseorang. Hoshi juga berkewarganegaraan Korea omong-omong.
"Apa yang terjadi Tae?" tanya Hoshi mendekat. Mencuci tangannya kemudian berjalan menuju Taehyung. Tangan Hoshi terjulur untuk mengecek denyut nadinya.
"Hyung sepertinya tekanan darahnya turun, bibirnya membengkak dan kulitnya merah-"
"Jungkook-ah apa Yonggi-ssi alergi udang?" Jungkook membulatkan matanya, mengangguk dengan cepat.
"Yoongi hyung memang alergi udang, astaga kenapa ia memakan makanan yang ada udangnya. Aissh." Jungkook menjawab cepat. Meraih ponselnya dan menghubungi Donghae.
"Sudah kuduga. Alergi udang memang sangat cepat menyebar, kupikir Yonggi-ssi baru mengkonsumsinya beberapa jam yang lalu. Kenapa ia mengkonsumsinya jika ia tahu alergi?" Taehyung bergumam sendiri.
"Hoshi, tolong pasangkan oksigen padanya." Hoshi hanya mengangguk.
"Bagaimana keadaannya, Tae?" tanya Jimin begitu melihat Taehyung mendekat ke arahnya dan namja di sampingnya.
"Dia akan baik-baik saja. Alerginya tidak begitu parah kurasa. Nanti jika sudah sadar akan kuberi madu dan jus lemon." Jawab Taehyung. "dan Jimin, kenapa kau mencariku?" tanya Taehyung bingung.
Jimin tersenyum tampan, "Tentu saja aku rindu Taehyungku ini," ujar Jimin dengan mengacak rambut halus Taehyung.
'Taehyungmu kau bilang?' batin Jungkook tak suka. Walaupun ia tahu jika Taehyung di depannya bukan Taehyung hyungnya, namun Jungkook tidak tahu kenapa hatinya tidak terima jika Taehyung dimiliki oleh orang lain.
"Kita bahkan bertemu setiap hari, Jim," ujar Taehyung sembari terlekeh lucu. Matanya pun menyipit dan pipi bulatnya bersemu merah. Kentara sekali dipipinya yang putih bersih.
"Ehem," Jungkook berdehem pelan. Mengabaikan Taehyung yang langsung menatapnya tajam. Jungkook tersenyum tipis. "Omong-omong namaku Jeon Jungkook dari tim Korea Selatan, salam kenal."
"Oh hai Jungkook-ssi. Namaku Park Jimin. Aku tim Jepang omong-omong. Aku sebenarnya asli Korea sama seperti Taehyung. Namun keluargaku sepakat untuk pindah kewarganegaraan." ujar Jimin yang hanya diangguki Jungkook.
"Baiklah Tae, nanti aku akan menemuimu lagi, mungkin sekarang anggotaku sedang mencari kaptennya yang tampan ini, bye sayang," Jimin mengacak surai Taehyung dan tidak lupa memberikan wink gratis pada namja manis di depannya.
"Receh sekali temanmu itu Tae," ujar Jungkook mencebik. Menatap kepergian Jimin dan berganti menatap Taehyung yang memerah disampingnya. Entah mengapa ia tidak suka perlakuan Jimin pada Jeon Taehyungnya ah maksudnya Byun Taehyung.
"Jangan menghina sahabatku." Taehyung memberikan tatapan tajamnya pada Jungkook yang hanya memutar matanya malas.
"Aku tidak menghina astaga, kenapa kau selalu berburuk sangka terhadapku? Omong-omong sepertinya Park Jimin itu menyukaimu." Ucapan Jungkook sontak membuat Taehyung melebarkan matanya dengan shock. Apa Jungkook bilang? Jimin menyukainya? Astaga tidak mungkin sekali.
"Itu tidak mungkin. Kami sudah bersahabat sejak balita. Mana mungkin dia menyukaiku." sangkal Taehyung.
"Dan.. sepertinya kau juga menyukainya. Aku benar bukan?" Jungkook lagi-lagi menuding Taehyung.
"T-tidak. Kenapa kau sok tahu sekali? Menyebalkan." Taehyung menatap Jungkook sebal dan memalingkan mukanya. Kemudian berbalik keranjang Yoongi.
Diam-diam Hoshi juga meng-amini ucapan Jungkook. Dari awal ia mengenal Taehyung dan Jimin juga ia berpikiran bahwa kedua namja itu mempunyai hubungan special. Dilihat dari seberapa perhatiannya Jimin ke Taehyung, manjanya Taehyung ke Jimin dan hal lainnya. Bahkan media Jepang pernah mengangkat topik percintaan Jimin dengan Taehyung. Bukankah mereka juga terlihat cocok?
'Tidak ada hubungan katamu? Mengapa mengelak? Kalian berdua sungguh munafik. Dan apa-apaan bersahabat sejak balita? T-tunggu, jika mereka bersahabat sejak balita pasti Jimin mengetahui sesuatu tentang Byun Taehyung kan?'
.
.
.
"Kakimu sungguh sudah baikan, Kook?" tanya Donghae membuat seluruh perhatian mereka mengarah pada Jungkook.
"Tentu saja sudah, luka sekecil ini tidak ada apa-apanya bagiku." jawab Jungkook.
Hoseok mencebik, "Tidak ada apa-apanya. Lalu siapa yang kemarin tersungkur jatuh? Kau tidak ingat siapa yang menggendongmu? Astaga aku tidak menyangka jika kau sangat berat Jeon." ujar Hoseok dengan raut yang berlebihan.
"Lagi pula, sebenarnya kenapa bisa kau jatuh? Atau kau berkelahi? Memarmu itu seperti tendangan kuat." ucapan Minwoo membuat Taehyung keringat dingin di samping Jungkook. Jungkook menyeringai melihat Taehyung yang sepertinya ketakutan.
"Memang. Kau tahu orang yang menendangku itu samgat kuat padahal badannya sangat kecil dan kurus." Oke ucapan Jungkook ini membuat Taehyung mencebik kesal. Kecil dan kurus dia bilang?
"Yak! Aku tidak kecil dan kurus!" ujar Taehyung dengan sedikit pekikan. Sontak membuat semua orang yang ada di ruang makan -yang isinya hampir semua atlet dan mahasiswa kedokteran- menatap Taehyung.
Hening.
"Jangan bilang yang menendangmu itu Taehyung?" ucapan Mingyu membuat Jungkook memasang smirknya dan mengangguk.
"Hahaaha? Apa itu benar Tae? Beruntung sekali kau sudah menendang Jeon Menyebalkan Jungkook ini, astagaaa. Aku juga ingin sekali menendangnya atau memukul wajahnya yang datar itu. Astaga perutku sakit." sontak semua tim Korea Selatan tertawa dengan keras. Membuat Jungkook yang awalnya ingin mempermalukan Taehyung berbalik mempermalulan dirinya sendiri. See? Ternyata mereka lebih suka membela Byun Taehyung dari pada dirinya. Teman macam apa?
Jungkook diam-diam tersenyum tipis. Dan Taehyung, astaga muka Taehyung merah sekali. Bahkan telinganya sangat merah. Taehyung menutup mukanya dengan telapak tangannya bahkan Hoshi yang ada di sebelah Taehyung tidak berhenti tertawa. Membuat Taehyung menatapnya tajam.
'Apa yang kulakukan? Memalukan sekali.'
.
.
.
Sebenarnya, Jimin tidak bisa menahan perasannya. Ia menyayangi seseorang yang berkedok sebagai sahabatnya dari balita. Ia menyayangi ah-tidak. Maksudnya ia mencintai sahabatnya. Byun Taehyung. Namja manis dengan sejuta pesona yang membuatnya nyaman. Taehyung memiliki magnet yang membuat orang-orang mendekat padanya. Wajahnya yang imut dan manis diiringi dengan kelakuannya yang manis dan baik hati.
Namun ia ragu jika mengatakan perasaannya. Apa Taehyung akan menerimanya? Jika tidak, bukan kah semuanya akan menjadi canggung nantinya? Dan Jimin tidak ingin semua itu terjadi. Jadi ia memilih untuk memendam perasaannya pada sang sahabat.
"Jim, kenapa Taehyung tidak berada di tim kita saja? Itu akan memudahkanmu bukan?" Yuta menepuk bahu Jimin pelan.
"Kenapa kau bertanya begitu? Memudahkan apa? Dan bukankah kau masih di rumah sakit? Kenapa kau disini?" tanya Jimin dengan mata memincing menatap Yuta yang disebelahnya.
"Mudah saja. Bukankah kau dan Taehyung mempunyai hubungan khusus? Itu akan memudahkanmu bro, dan temang saja aku sudah baikan, dokter memperbolehlanku untuk keluar walau aku tidak boleh beraktifitas terlalu berat." jawab Yuta.
"Aku dan Taehyung hanya sahabat dari kecil. Itu saja. Pertandingan kita akan dimulai minggu depan, kuharap kau bisa sembuh secepatnya." Jimin meluruskan kakinya. Menepuknya pelan dan kembali menatap Yuta yang disampingnya.
"Baiklah, aku akan istirahat dan sembuh secepatnya, Kap. Dan sekarang fokus dengan hubunganmu dan Taehyung," Jimin memandang malas Yuta. "Aku mengatakan ini sebagai sahabatmu dan saudaramu Park Jimin. Aku tahu kau belum menyatakan perasaanmu pada Taehyung. Tapi ayolah kau terlalu penakut untuk menyatakannya. Kau dan Taehyung itu cocok. Ingat jika Taehyung itu banyak digilai oleh lelaki disekitarnya jadi jangan sampai menyesal Jim,"
"Aku tahu, aku hanya-"
"Hanya tidak ingin hubunganmu dan Taehyung merenggang dan canggung? Ayolah alasanmu terlalu klise, Jim." Yuta memutar matanya malas.
"Baiklah, akan kucoba setelah aku mengumpulkan keberanianku. Terimakasih Yuta." Jimin tersenyum tipis dan terlihat sangat tampan. Yuta tertegun.
'Jimin memang tampan, ya ampun apa yang aku pikirkan.' Yuta menggelengkan kepalanya spontan.
"Kau tak apa?" Jimin menyentuh lengan Yuta.
"T-tentu aku tak apa. Kurasa aku harus istirahat. Bye Jim," dengan cepat Yuta berdiri dari tempatnya dan berlari kecil meninggalkan Jimin yang mengerutkan keningnya menatap kepergian Yuta yang tiba-tiba.
'Ada apa dengan anak itu? '
.
.
.
Korea Selatan
Jackson Wang melangkahkan kakinya keruangan yang berada dilantai paling atas Jeon Corp. Melangkah dengan malas dan diiringi dengan gerutuan yang keluar dari celah bibirnya. Kenapa ruangan bos yang merangkap sebagai saudara dan sahabatnya harus dilantai paling atas? Astaga jauh sekali dengam ruangannya yang berada di lantai lima.
Knock Knock
Setelah mendengar teriakan dari dalam, Jackson segera masuk kedalam ruangan tersebut. Sebenarnya bisa saja ia masuk tanpa mengetuk pintu atau semacamnya namun ia masih mengikuti tata krama yang tertanam kuat didalam dirinya. Walau Namjoon sendiri tidak mempermasalahkan semua itu.
"Ada apa Jack? Apa ada masalah?" tanya Namjoon setelah mempersilahkan Jackson duduk di sofa berwarna merah terang yang terlihat sangat mahal.
"Tidak ada masalah sama sekali sebenarnya. Aku hanya menyampaikan bahwa ada seseorang yang ingin menemuimu secara pribadi." ujar Jackson sembari membuka kaleng soda yang diambilkan Namjoon dari lemari pendingin yang berada di pojok ruangan.
"Secara pribadi? Siapa orang itu?" tanya Namjoon dengan alis berkerut penasaran.
"Kim Hyungsik.."
Dan Namjoon tidak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya itu. Kim Hyungsik dia bilang?
.
.
.
Seorang namja dengan umur matang memandang ke arah jendela. Menatap bagunan yang tepat berada di depannya dengan seksama. Matanya terpaku pada tulisan besar yang terpampang dengan kokohnya disana.
Jeon Corp.
Bukankah dibalik singgah sana Jeon Corp adalah anaknya? Apa ia masih bisa menyebutnya anak? Tentu saja! Ayah mana yang membenci anak sejenius dia? Bukankah anak pertamanya ingin menjadi musisi? Kenapa sekarang ia berada disinggah sana si Jeon Keparat itu? Dan menyandang nama Jeon di depan nama pemberiannya?
"Tuan Kim.." lelaki tersebut mengalihkan pandangannya dan menoleh kekiri dimana seorang lelaki yang tampak masih muda itu berdiri dengan tegap dihadapannya.
"Kami sudah membuat pertemuan antara Tuan dengan Tuan Namjoon. Beliau menyetujuinya." ujar namja tersebut.
"Baguslah, aku merindukan anakku. Kau bisa keluar." namja muda tersebut menundukan badannya sebelum pergi dari ruangan tuannya.
Pandangannya kembali tertuju pada bangunan di sebelahnya. Menatap tajam dengan kilat kebencian yang begitu pekat. Membawa dirinya kedalam kenangan pahit beberapa tahun silam. Ia tidak menyesal berpisah dengan seseorang yang bahkan sampai sekarang masih menduduki hatinya. Namun ia menyesal tidak membawa anak-anaknya.
"Aku akan merebutnya. Aku akan merebut apa yang menjadi hak ku. Persetan dengan kesepakatan. Aku akan mencarinya karena kau sudah membuatku kecewa Yura. Aku akan mencarinya dan merebut Namjoon darimu." rahangnya pengeras dan semakin menajamnya matanya menatap bangunan Jeon itu.
TBC
.
.
.
Ada yang nunggu fanfic ini lanjut? Maafkan daku yang baru sempet selesaiin fanfic ini TT mungkin cerita ini emang flat kali yaa? Maaf kan kami yang baru belajar nulis reader semua, buat yang tanya itu tae asli atau baru dan apa tae amnesia atau sekedar lupain masa lalu kelam akan terjawab di chap-chap depannya yaaa, jujur ini baru awal.
Tapi secara pribadi kami ingin tau, menurut kalian Taehyung itu siapa? Dan kenapa? Wkwk ayoo guys tebak XD
Pokoknya big thanks buat temen-temen semua yang udah favoritin+follow dan pasti review fanfic ini, gomawo~~
Sampai jumpa di chapter depan, bye Jilan.
*Salam hangat Jilan dan UniGon*
