Chapter 4 : By UniGon
Note: Keterlambatan update dikarenakan kakek dari author UniGon yang meninggal 2 minggu yang lalu dan author harus mempersiapkan prosesi kematian untuk kakek sesuai adat di wilayah tempat tinggal yang berlaku T^T.
.
.
Korea Selatan
Suara dentuman keras terdengar di dalam alat angkut beroda 4 dengan cat hitam berkilat itu. Pertemuan antara kepalan tangan kanan pengemudinya dengan stir bundar berlapis kulit cokelat di hadapannya. Rahang namja berkacamata itu mengeras, nafasnya memburu seakan emosi yang menggebu-gebu mengambil alih kondisi logika jeniusnya. Samar, dari balik surai hitam berantakannya menetes keringat dingin bercampur kefrustasian diri. Mulutnya terus menerus bergumam 'tidak mungkin' dan kata kasar lainnya. Kemeja putih di balik jas hitamnya terbuka 3 kancing teratas, ujung bajunya pun menyembul dari balik celananya. Mungkin benar adanya jika seorang lelaki lebih sulit dalam menjelaskan dan melampiaskan emosinya. Mereka hanya tahu marah, memukul, bertindak keras, tertawa dan tersenyum. Tak ada lagi selain itu.
Ia membuang kacamatanya kasar ke kursi penumpang di sebelahnya. Kedua telapak tangan lebar itu beralih posisi menuju wajah pemiliknya, mengusap kasar hingga berujung pada sebuah jambakan kesal di surainya. "Bagaimana bisa ayah datang di saat-saat seperti ini?", gumam Namjoon dengan suara serak yang tertahan. Kukunya tertancap dalam di telapaknya, menimbulkan sedikit lecet dan kulit yang terkelupas.
Sedetik sesaatnya, suara kekehan kecil terdengar. Namjoon tampak kacau. Tampak senang bercampur emosi marah. Menakutkan. "Berkarir sesuai keinginanku katanya? Setelah aku berhasil ini, akhirnya ia menemuiku setelah membuangku? Lucu, Ayah! Lucu!", tawa hambar dan mengerikan Namjoon memenuhi mobil hitamnya itu. Tawanya cukup keras untuk sensasi tercekik di lehernya.
"Namjoon, kau tak bisa seperti ini. Kau sudah membatalkan meeting dengan klien penting dan sekarang kau membuang waktumu untuk menyakiti dirimu sendiri.", suara terdengar dari kursi belakang, tepat di mana seorang pria berwajah oriental dengan surai blonde terduduk dengan kaki menyilang.
Lewat spion dalam mobilnya, Namjoon mampu melihat rahut wajah dingin dan malas dari Jackson. Kedua netra mereka bertemu dari kaca tersebut. Namjoon mengalihkan pandangannya setelah lama menatap wajah bak bajingan saudara yang merangkap sahabatnya itu. Ia berdecih seraya menghidupkan mesin mobil Chrysler Mopar 300-nya.
"Kau harus menyetir mobil ini jika aku mabuk, Jack."
Jackson hanya bisa mendengus dengan tingkah Namjoon. Ia bisa jadi menganggap Namjoon itu layaknya bajingan dan bedebah berjas layaknya seorang berwibawa. Tidak! Namjoon memang seorang yang terlahir di orang yang beragama, kalau diibaratkan, Namjoon itu seorang putih, seorang malaikat yang dicintai entitas lainnya. Namun, Namjoon juga manusia, memiliki ketakutan dan batas kesabaran pada orang-orang tertentu. Dan ketika Namjoon harus berhadapan masalah 'benteng pertahanan' yang diancam untuk dirubuhkan, dirinya bukan lagi seorang malaikat. Bukan pula seorang penurut ajaran agama dan orang tuanya. Ia akan menjadi bajingan yang sebenarnya, seekor singa di dalam surai kebesarannya. Terbelit kenyataan yang menyedihkan.
[-]
Tokyo, Jepang.
Jungkook itu serigala, tak jauh berbeda jauh dengan Namjoon walau tak ada benang merah yang menautkan mereka satu sama lain.
Buas.
Mengerikan.
Tak kenal takut.
Namun dari sisi yang berlainan dengan kebuasan serta bagaimana mengerikannya seorang Namjoon, kakak angkatnya.
Suara denting dari pertemuan bat dan bola keras berbalut kulit berwarna putih itu terdengar nyaring di telinga Taehyung. Satu-satunya reflek yang mampu ia berikan hanya menutup mata dengan bahu yang terangkat, menandakan keterkejutan dan ketakutan terkena bola hasil pemukulan Jungkook.
Bola mata Taehyung mengikuti arah bola yang melayang tinggi dan melengkung menuju ke tanah kembali. Bibirnya terbuka kecil, termangap konyol dalam rasa penasaran tentang bagaimana bola itu mampu melayang sejauh itu. Dari ekor netranya, ia melihat Jungkook berlari melewati satu kotak putih berisi penjaga kemudian berlari lagi ke kotak putih selanjutnya dan berhenti di sana. Terbesit di pikirannya, kenapa Jungkook tak lari saja lagi hingga kembali ke tempat semula, toh juga bola baseball itu jauh dari tempat berhentinya Jungkook.
Taehyung tepat berada di belakang jaring-jaring berwarna hijau yang berdiri tegak di belakang Donghae, si catcher team. Jari-jari panjangnya menelusup di lubang-lubang jaring-jaring itu. Wajahnya mengisyaratkan rasa kagum dan ingin tahu tentang baseball. Ia hanya tahu tentang memukul dan lari, hanya itu. Taehyung tak tahu banyak namun tak pula meminta penjelasan pada mereka yang mengerti.
Dalam diam dan ketidaksadaran, netranya terpaku pada sosok Jungkook yang ada di seberangnya. Cukup jauh namun netra baik Taehyung mampu melihat gerak gerik Jungkook dengan jelas. Bagaimana Jungkook mengambil ancang-ancang untuk berlari dengan kaki kanan yang berada di kotak putih dan kaki kiri di luar kotak putih. Bagaimana kedua tangan Jungkook bertumpu pada kaki kirinya yang ditekuk nyaris 90 derajat mungkin. Dilihatnya pula Jungkook melambaikan tangan padanya, tersenyum 5 jari seperti anak kecil.
"Apa-apaan bocah itu?"
Taehyung menundukkan kepalanya, menatap bagaimana Donghae berjongkok di sana, ber-helm merah dengan pelindung kaki dan tubuh berwarna merah pula. Ia berani bertaruh jika helm itu berat.
"Taehyung, awas!", suara teriakan berat setengah melengking itu masuk ke indra pendengaran Taehyung. Taehyung kenal betul suara itu adalah suara Minwoo, si pitcher kurus tim Korea.
Dalam waktu sepersekian detik, Taehyung dapat melihat bagaimana sebuah bola kecil berwarna putih terlempar dengan kecepatan tinggi menuju tepat di depan wajahnya. Samar terlihat pula wajah terkejut Minwoo yang baru saja meneriaki Taehyung tadi ada di belakang bola yang meluncur dengan kecepatan tinggi itu. Dengan reflek dan pandanan otak yang terlampau bodoh akibat panik, Taehyung menutup wajahnya dengann kedua lengannya. Tak butuh satu detik hingga Taehyung mendengar suara keras terdengar, namun dirinya tak terluka sama sekali.
Taehyung menjauhkan kedua lengannya dari wajahnya, mengantarkan cahaya kembali masuk ke dalam indra pengelihatannya. Ia mengerjap dengan wajah ketakutan. Namun didapatinya sosok Donghae tak ber-helm berdiri di hadapannya, berbatas jaring hijau. Namja itu menatap tajam ke hadapannya dengan nafas terengah.
"Yang tadi itu hampir saja, Bocah.", ucap Donghae dengan nada dingin. Nampaknya Donghae juga terkejut sendiri dengan masalah error ball Minwoo.
Yang tadi itu sungguh gila! Ia hampir saja jadi tomat tak berbentuk bila Donghae gagal menangkap bolanya. Sudut netra Taehyung menangkap pemandangan di mana bola baseball sudah terperangkap di dalam glove catcher Donghae. "M..mianhae."
Selanjutnya, Taehyung merasakan bagaimana kerah baju belakangnya diangkat oleh seseorang, ditarik paksa menjauh dari jaring hijau itu. Ia yang masih dalam keadaan terkejut hanya bisa mengikuti arah ke mana dirinya ditarik.
"Kau harus menjauh dari tempat itu jika tak ingin kehilangan seluruh gigimu, Byun Taehyung.", suara itu menyadarkan Taehyung bahwa dirinya telah ditarik oleh seekor serigala. Ini bukannya semakin membaik namun semakin memburuk.
Taehyung memukul pergelangan tangan Jungkook, membuat Jungkook menghentikan langkahnya kemudian menatap bingung dengan kerutan di dahinya. "Apa?"
"Aku bisa jalan sendiri, Bodoh! Tak perlu menarikku seperti anak anjing!"
Jungkook melepaskan pegangannya pada kerah baju belakang Taehyung namun kemudian menggapai kedua bahu Taehyung, membuat mereka bersitatap tajam. "Kau bahkan lebih bodoh dari anak anjing. MANA ADA ANAK ANJING MENARUH DIRINYA DI TEMPAT YANG BERBAHAYA?", bentak Jungkook.
"Kau…", telunjuk Taehyung menunjuk wajah Jungkook dengan semena-mena. Kemudian sebuah tepisan keras dihadiahi Jungkook pada telunjuk yang semena-mena itu. Sebuah hukuman yang pantas kalau menurut si serigala.
"Apa? Kenapa denganku? Kau ingin sebut diriku bedebah, huh?! Aku tahu aku ini bedebah!", Jungkook dengan volume keras berucap seperti itu pada Taehyung. Sebuah provokasi tersendiri bagi seorang Byun Taehyung yang terlonjak untuk kedua kalinya akibat bentakan Jungkook.
Tangan Taehyung mendorong dada Jungkook keras, cukup untuk membuat tubuh tegap berotot itu tersungkur ke tanah. Debu tanah kecoklatan melekat di pakaian Jungkook, sedikit lainnya terbang terhempas angin. Taehyung berlalu tak peduli, bahkan entah secara disengaja atau tidak malah menginjak kelingking tangan kiri Jungkook. Entitas yang terinjak hanya bisa meraung kesakitan kemudian menatap tajam punggung entitas yang menginjaknya secara voluntir itu.
Jungkook mendengus, bukan kesal pada Taehyung. Ini lebih ke arah ia yang tak habis pikir bagaimana bisa dirinya malah membentak seorang seperti Taehyung seperti itu. Ekor mata Jungkook mampu menangkap bayangan samar tangan berurat yang terulur padanya. Jungkook mendongak dengan mata yang terpicing, memfokuskan bayangan dan menyaring cahaya mentari yang terlalu banyak menghantam indra pengelihatannya. Jungkook sedikitnya tahu entitas dengan wajah khas oriental yang diketahuinya berwargakenegaraan Jepang itu. Ia menggapai tangan berurat itu.
"Terima kasih…", ucap seraya membersihkan debu tanah cokelat dari celana latihan putihnya.
Sosok namja dengan jawline yang terekspos jelas itu menarik lollipop-nya dari dalam mulutnya. Terdengar suara kecipak nyaring dari mulutnya dan lidahnya yang sudah berwarna serupa lollipop di tangannya. "Membentak Taehyung itu bukan pilihan yang baik, tapi tidak buruk juga agar ia menjauh dari belakang jaring hijau."
Jungkook mengerutkan dahinya bingung, "Jika kau memang tidak ingin berucap hal lain selain masalah pribadi, maka kita bisa bicara setelah ini.", sahut Jungkook dengan nada dingin. Tak lagi ada keramahan dari nada bicara dan raut wajahnya.
Jimin tersenyum miring, berdecih nyaris tertawa hambar. Jimin menepuk bahu lebar dan kekar Jungkook, sedikit mengusap debu yang tersisa di kaos lelaki yang lebih muda darinya itu. "Aku hanya ingin menitipkan Taehyung padamu selama aku tak bisa menjaganya."
"Aku bukan seorang nanny yang bisa kau titipi seorang mahasiswa bermental bocah sepertinya begitu saja."
Jimin mengedikkan bahunya seraya memasukkan lollipop ke dalam mulutnya. Lidahnya membawa lollipop bulat itu ke bagian samping mulutnya, membuat benda itu menonjol dari balik pipi Jimin. "Tidakkah kau tertarik dengan entitas namja cantik sepertinya, hm?"
Jungkook merasa terprovokasi di sini. Terkadang ada suatu hal yang tak mungkin terjadi namun justru malah terjadi jika sebuah ucapan berbau provokasi menghampiri telinga dan benak seorang manusia. Dan nyatanya, Jungkook tetap akan berdusta ria walau ucapan provokasi seperti itu akan tetap berdengung di telinga dan benaknya entah bagaimana.
"Maaf tapi aku seorang namja yang normal. Tidak perlu menyamakan diriku dengan dirimu yang malah jatuh hati pada seorang namja cantik sepertinya."
Karena pada dasarnya, Jungkook memang seekor serigala. Ia yang tenggelam dalam gemerlap dunia bahagia dan kewibawaan di profesinya sebagai seorang atlet nasional berwajah tampan. Ditakuti, disegani dan dihormati istilahnya. Namanya diserukan banyak orang di negerinya. Harga diriya terlalu mahal, bukan? Namun di sisi lain, ia memiliki alasan tersendiri untuk bunuh diri atau melakukan tindak kriminal lainnya.
[-]
Namja manis yang dikenal dengan nama Taehyung itu kembali ke gedung asrama bahkan sebelum tim yang ada di bawah tanggung jawabnya selesai berlatih. Muak, kesal, marah melebur menjadi satu dalam perasaan yang menyesakkan di dalam sukmanya. Tangannya terkepal keras di dalam kantong hoodie kuningnya. Giginya menggerutuk, bergesekan antara rahang atas dan bawah.
Ia membuka pintu ruang kesehatan ruang Korea Selatan kemudian menutupnya dengan kakinya perlahan. Ruangan itu memiliki sedikit pasokan cahaya. Hanya 2 dari 8 lampu dengan watt kecil yang hidup di ruangan itu, sisanya mungkin Hoshi sengaja matikan. Di sana ia mendapati Hoshi yang tertidur di kursi tunggu di pojok ruangan sementara entitas pucat lainnya terduduk di pinggir kasur. Entitas pucat itu menumpu dahinya pada telapak tangannya. Ia tertunduk, sesekali terlihat mengucek netranya. Taehyung seketika kehilangan rasa muaknya saat itu juga mengingat bagaimana ada entitas kurus lainnya yang masih menjadi tanggung jawabnya di ruangan itu.
"Yoongi ssi, apa kau merasa lebih baik atau justru semakin pusing?", tanya Taehyung seraya mengangkat wajah Yoongi yang terbenam di telapak tangannya sendiri.
Didapatinya mata yang sayu dan wajah yang pucat itu dihadapannya. Salah fokus, Taehyung mengakui bagaimana mata hazel dan sayu itu memberikan efek candu pada dirinya. Sangat indah kalau boleh ia ucapkan. Rasa iri menghampiri Taehyung, ingin rasanya ia memiliki mata hazel seindah itu dengan iris cokelat muda serta bulu mata yang lentik. Bagaimana mungkin seorang yang justru bernetra cantik sepertinya malah menjadi atlet baseball nasional dibanding seorang model?
Yoongi hendak berucap ketika Taehyung kembali angkat bicara, "Nampaknya kau masih tidak baik. Aku akan bicara pada pelatihmu agar memberikanmu waktu untuk istirahat. Aku takut jika dipaksakan malah membuatmu semakin tidak baik dan harus mundur dari pertandingan.", jelas Taehyung seraya mengampil sebuah pil kecil berwarna kuning muda dari dalam lemari serta segelas air mineral.
Taehyung mampu mendengar suara helaan nafas halus dari pasiennya itu. Mungkin Yoongi merasa bersalah akibat masalahnya ini, pikir Taehyung. Ia melangkahkan kakinya menuju sosok pasiennya lagi untuk memberikan sebuah pil antihistamin dan segelas air padanya. Dengan tangan yang masih bergetar, Yoongi menerima pil dan segelas air itu kemudian menenggaknya tak tersisa demi sebuah kesembuhan.
"Seharusnya kau lebih berhati-hati jika ingin mengambil makanan. Untung kau dibawa ke sini tepat waktu, jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi. Terlebih reaksi tubuhmu sangat tidak baik."
"Siapa yang membawaku ke sini? Aku ingat itu bukan dari timku.", tanya Yoongi dengan nada dingin seraya menyerahkan gelas yang telah kosong itu.
Taehyung mengerjap beberapa saat. Dingin sekali lelaki ini, pikir Taehyung. Ia kemudian meraih gelas itu dari tangan Yoongi kemudian membantu entitas pucat pasi itu beristirahat di kasur, "Ah… ia dari tim baseball Jepang asal Korea Selatan. Temanku juga. Namanya Jimin."
"Sampaikan ucapan terima kasihku padanya."
Taehyung tak pernah sadar bahwa sosok namja dengan mata indah dan kulit seputih Yoongi memiliki suara yang rendah dan ucapan yang dingin. Benar-benar di luar ekspektasi. Mungkin ini saatnya bagi Taehyung untuk belajar agar tidak menilai buku dari covernya.
To the point sekali, Yoongi ssi
"Aku pasti akan sampaikan padanya. Sekarang istirahatlah dahulu.", tutur Taehyung seraya membenahi selimut di kasur Yoongi dan menariknya hingga sebatas ulu hati pasien bernetra indah itu.
Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, ada rasa kemanusiaan tersendiri yang menyelimuti sukma Taehyung. Dalam hati, ia berucap cepat sembuh pada pasiennya tersebut serta berharap agar ia bisa kembali ke arena pertandingan secepatnya. Taehyung memang merupakan salah satu dari gambaran remaja baik hati dan beretika yang pantas dipajang dalam poster-poster perdamaian dunia.
Getaran dari saku celananya membuat kendali otaknya mentitahkan perintah untuk mengambil sumber getarannya dari dalam saku celananya. Sebuah pesan masuk dari sahabatnya yang entah membuat jantungnya berdebar tak karuan. Oh, ajakan makan malam setelah jam kerja malam Taehyung di café ternyata. Ya, berhubung Hoshi nampaknya tak keberatan bila harus bekerja sendirian malam ini, mungkin sudah seharusnya Taehyung menerima ajakan makan malam Jimin. Toh, ia memerlukan setidaknya sedikit kesenangan setelah memiliki masalah berturut-turut dengan si Jungkook sialan itu. Padahal sudah lebih tenang rasanya saat itu sedikit lebih dekat dan akrab dengan si atlet itu, kenapa pula bocah itu harus menyamakannya dengan anak anjing? Bukan! Bahkan lebih rendah dari anak anjing katanya!
Taehyung berharap saat itu juga bahwa malam nanti akan menjadi malam yang membahagiakan bagi insan yang saling menyukai namun berkedok dan bersembunyi dalam seucap kata 'sahabat' itu.
[-]
Korea Selatan
Ketika seekor hyena seperti Jackson harus bertanggung jawab atas tubuh seekor singa seperti Namjoon, hendak rasanya Jackson menelantarkan Namjoon di pinggir jalan agar Namjoon setidaknya berhenti melakukan hal seperti ini. Apa daya, Namjoon hanya meraung agar ia menyetir sampai di rumah dengan selamat bukan membuang tubuhnya di pinggir jalan. Di mata Jackson, Namjoon dan Jungkook memang sama-sama buas. Namun, kebuasan Jungkook itu sebuah konstruksi, sementara kebuasan Namjoon yang langka dan menggebu-gebu itu adalah destruksi.
Aroma alkohol menyeruak di dalam mobil tiap kali Namjoon angkat bicara. Ia tidak nyaman. Jujur saja, ketika Namjoon memintanya untuk meminum alkohol di bar tadi, Jackson hanya menumpahkannya ke baju dan hal itu cukup untuk membuat Namjoon yang telah kehilangan akal sehatnya gembira.
"Kau tahu, ayah bilang aku bisa ikut dengannya dan memulai pekerjaan sesuai kehendakku bersamanya.", rancauan itu berlanjut dengan sebuah kekehan yang berkembang menjadi tawa hambar yang menyakitkan perut pemiliknya.
Jackson tak berucap kata pun. Membalas sama dengan meladeni sama dengan memperpanjang masalah sama dengan menambah masalah baru dan sama dengan menyebabkan kelelahan lahir batin bagi dirinya.
"Ke mana saja dirinya selama aku belum menjadi pengurus Jeon Corp, eoh? Ke mana dirinya dan ajakannya itu? Dia pasti hendak memperbudakku dan mencari keuntungan dariku, bukan? Ah sayangnya aku terlalu pintar hingga menolaknya, Jack."
Jackson memutar kemudinya ke arah kanan, memasuki jalanan padat merayap hampir macet karena banyaknya kendaraan. Ini merupakan jam-jam pulang kantor dan sekolah. Mobil dari arah yang berlawanan pun terlihat tersendat. Kalau begini urusannya, Jackson butuh waktu lama untuk sampai di rumah dan dirinya cukup kesal karena ini merupakan satu-satunya akses menuju rumah Namjoon.
Sesekali Namjoon menunjukkan gelagat akan muntah di dalam mobil, sehingga Jackson harus menyodorkan kantong plastik yang ia temukan di jok mobil belakang. Untungnya, hanya gejala dan Namjoon belum muntah hingga sekarang.
"Dan kau tahu, ibu bilang jika Taehyung masih hidup…" sebuah tawa kembali membelenggu interior mobil itu. Terpantul dari satu interior lain ke interior lainnya hingga masuk ke dalam pendengaran Jackson. Ia terkejut untuk pertama kalinya sepanjang rancauan Namjoon kala itu. Taehyung masih hidup katanya?
Namjoon terbatuk-batuk akibat tawanya yang terlewat keras itu. "Jika Taehyung memang masih hidup, lalu yang mati itu siapa? Yang ibu tak mampu selamatkan itu siapa? Yang Jungkook bunuh itu siapa, huh?"
Detik berikutnya, Namjoon telah bermandikan air mata yang menggelontor dari pelupuk matanya. Jackson masih tak habis pikir di kursi kemudi. Jujur saja, Jackson sangat menyayangi Taehyung dan menjadi salah satu yang terpukul saat kematian adik kandung Namjoon itu. Turut pula ia datang pada pemakaman adik kandung Namjoon itu dan menyaksikan bagaimana sosok manis dengan senyuman candu itu berada di dalam peti mati. Lalu jika ibu Namjoon sebutkan bahwa Taehyung masih hidup, jadi yang ada di dalam peti itu siapa? Boneka kah?
[-]
Tokyo, Jepang
Malam itu, tepatnya pukul 8 lewat 48 menit, Taehyung menjadi entitas utama yang terpajang di depan kasir. Senyuman komersial terumbar pada pelanggan yang memesan minuman atau makanan ringan di café tempat dirinya bekerja. Diingatnya seorang pria tua berkumis tipis yang biasa datang membeli black coffee tidak datang ke café. Kemudian kumpulan remaja perempuan kembali datang dan memesan pesanan seperti biasanya. Dan terakhir, diingatnya pula Jimin yang datang tanpa memesan apapun, duduk di dekat kaca yang menghadap langsung ke trotoar. Lelaki itu membaca novelnya dengan headset yang terpasang di kedua telinganya. Kaos abu-abu tua dengan merk stussy yang tertulis jelas di bagian dada kiri dan celana panjang hitam membuat Jimin terlihat sedikit lebih putih, mungkin. Ia sangat tampan ketika seperti itu, pikir Taehyung.
Jimin sudah datang sejak 51 menit yang lalu, nyaris 1 jam sebelum perjanjian makan malam. Taehyung tak tahu apa esensi lelaki itu malah datang lebih awal dan memilih menunggu di café dibanding datang 5 menit sebelum jam perjanjian makan malam mereka. Terlebih café tempat Taehyung bekerja terletak tepat di sebelah asrama baseball, jadi tak akan perlu waktu lama bagi Jimin untuk menemui Taehyung. Ketika waktu pergantian shift, Taehyung segera membuka celemeknya dan bergegas menghampiri Jimin.
"Jim…"
Jimin langsung melepas kedua headsetnya, tersenyum lebar pada Taehyung. "Kau sudah selesai bekerja?"
Taehyung mengangguk antusias.
Jimin mengacak-acak rambut Taehyung gemas dengan ekspresinya. Sungguh manis. Jangan lupa senyum kotak yang khas itu mampu membuat semua manusia candu layaknya marijuana. "Jadi kau ingin makan di mana?"
"Aku ingin makan di restoran Korea. Aku rindu masakan Korea."
Jimin terkekeh "Kau memang punya selera yang sama denganku, Tae…"
"Oh ya, sebelum aku lupa. Yoongi mengucapkan terima kasih padamu karena membawanya tepat waktu tadi siang."
Sesaat kerutan bingung terpatri di dahi Jimin sebelum ia ingat namja yang Taehyung maksud, "Ah... si pucat yang kurus itu, kan? Dia terlihat sangat kurus untuk ukuran atlet kau tahu."
Setelahnya, yang terekam di dalam otak Taehyung adalah bagaimana Jimin mengangkat panggilan di ponselnya setelah sempat bergerutu ria. Dilanjutkan dengan perubahan raut wajah Jimin yang bertahap dari sumringah menuju terkejut dan akhirnya bingung. Sebuah seruan yang benar-benar terjelas terdengar di telinga Taehyung adalah, "Apa? Yuta terbentur bak mandi?". Dan setelah seruan itu, Taehyung sadar bahwa ia tak akan punya malam yang menyenangkan. Taehyung tak akan menyalahkan siapa pun atas ini, siapa juga yang akan tahu tragedi seperti ini akan terjadi, bukan?
"Tae… sepertinya…"
"Tidak apa-apa, Jim. Kembalilah ke asrama, anggota timmu sedang sakit. Kau harus di sana.", tutur Taehyung dengan senyuman yang dipaksakan namun dirinya yakin bahwa senyuman itu pasti akan terlihat normal-normal saja di hadapan Jimin.
Karena Taehyung tahu bahwa Jimin tak sepeka itu masalah perasaan tersembunyi Taehyung padanya.
"Kalau begitu pulanglah dengan hati-hati mengerti? Jaga dirimu baik-baik, Tae. Jangan lupa makan, mengerti?", Jimin berucap seraya bersiap-siap untuk pergi menuju asrama baseball.
Taehyung melambaikan tangannya pada Jimin, tanda ucapan selamat tinggal. "Kau juga."
Netra Taehyung tak lepas dari sosok Jimin yang berlari menuju asrama bahkan ketika Jimin sudah berlari di trotoar di luar café. Ia mampu melihat bagaimana kekuatan atlet yang Jimin miliki ketika berlari. Fokusnya jatuh pada punggung lebar Jimin yang ia ketahui cukup berotot karena efek gym dan latihan yang dilakukannya terus menerus. Jimin itu sosok yang manly entah dari tubuh atau perilakunya. Sayangnya, kedok sahabat tak pernah mampu Taehyung langkahi untuk memiliki Jimin seutuhnya.
"See? Kau itu memang memiliki perasaan pada atlet baseball Jepang itu."
Suara bass itu seketika menarik Taehyung ke dunia nyata kembali. Sesosok pria bersurai hitam pekat dengan mata setajam serigala terduduk di seberangnya, menggantikan entitas Jimin dengan secangkir coklat panas di depannya.
"Kenapa kau menatapku begitu, Tae?", tanya Jungkook.
"Karena kau membuatku muak."
Jungkook melahap satu gigitan dari donut cookies and cream pesanannya kemudian angkat bicara masih dengan mulut yang penuh dengan donut. "Mana lebih memuakkan ketika aku membentakmu atau ketika Jimin malah meninggalkanmu saat kencan?"
"Aku tidak kencan dengannya."
"Lalu apa namanya jika bukan kencan?"
Taehyung terhenyak sejenak. Hening menjamu keduanya, ditemani dengan suara dentingan khas café dan suara riuh pelanggan lainnya. Ia tak tahu harus bicara apa, toh Jungkook sudah menangkap basah dirinya tadi. Taehyung berani bertaruh pula jika Jungkook pasti tahu dirinya memperhatikan Jimin saat berlari tadi.
Jungkook menaikkan salah satu alisnya, mengumbar pesona tersendiri yang ia punya. "Jika memang kau tidak berkencan dengannya, maka buktikanlah."
Taehyung mengerutkan keningnya. Mengendus adanya hal buruk yang akan terlontar dari dalam mulut panas Jeon Jungkook. "Bagaimana caranya untuk membuktikan? Aku sudah katakan padamu aku tak berkencan dengannya."
"Berkencanlah denganku, Byun Taehyung."
Kedua netra Taehyung hampir lepas dari tepatnya. Rasa terkejut menjalar ke seluruh tubuhnya, memberikan dampak yang orang sebut dengan salah tingkah. "A…Apa? Kau pasti gila, Jungkook! Kau membuatku semakin muak sekarang."
"Berarti kau berkencan dengan sahabatmu itu, kan? Aku bisa saja bicara pada Jimin jika kau memang jatuh cinta padanya, siapa tahu Jimin bisa–"
"Cukup! Aku tekankan, aku tidak berkencan dengan Jimin."
"Kalau begitu, maafkan kesalahanku siang tadi dan terima ajakanku untuk berkencan. Bagaimana? Tak ada salahnya, kan?"
.
.
.
TBC
HALLOOOO! So, here I am. Aku udah selesaiin chapter ini yeay *tebar bunga dan confetti*. So, how is it, guys? Membosankankah? Gaje? Maksain? Kecepetan? Atau gimana nih? Put your review down bellow yah… Jangan lupa follow dan favorite kalau kalian memang suka FF ini. Love you guys and see u at next chapter. Bye bye *lambai-lambai bareng author Jilan dan Jimin oppa*
