(not) Over
.
.
Chapter 5
.
.
By Jilan
.
.
HAPPY READING GUYS
.
.
Taehyung tidak tahu maksud dari lelaki tampan di depannya. Kencan dengannya? Dengan si pembuat onar yang membuatnya naik darah? Yang benar saja! Apalagi dilihat dari wajahnya sangat tidak mempercayai. Jungkook mengajaknya berkencan dengan sudut bibir yang terangkat ke atas khas sekali seringai devil yang ada di film yang Taehyung tonton minggu lalu.
"Jika kau tidak mau menerima kencan ini, berarti benar jika kau suka pada Jimin Park, kau pernah dengar pepatah sepandai-pandainya kelinci maka akan ketahuan juga bukan? Ku rasa Jimin akan menyukai kenyataan ini." Jungkook semakin mengembangkan seringainya. Bukan karena ia memang ingin memberitahukannya. Bukan. Mana mungkin Jungkook sebodoh itu? Ini hanya sebuah taktik. Kita lihat seberapa kuat Taehyung mempertahankan aroganitasnya.
Taehyung menggigit bibir bawahnya keras. Ia bingung akan menjawab apa. Di satu sisi ia tidak menyukai eksistensi bocah Jeon itu di sekitarnya. Namun di lain sisi ia tidak mungkin membiarkan Jungkook merusak hubungannya dengan Jimin. Perasaannya memang tidak mungkin disembunyikan lagi. Namun Taehyung belum mempunyai kesiapan untuk mengaku pada Jimin. Ia belum siap menerima kenyataan jika nantinya Jimin malah membencinya. Pemikiran konyol yang memang selalu hinggap di otak jenius Taehyung.
"Bagaimana cantik?" Jungkook kembali menyadarkan Taehyung dengan segala pemikiran yang tidak ada ujungnya.
"Err tidak ada syarat lain? Aku tidak mungkin pergi denganmu Jeon, bukankah kau harus latihan? Pertandingan akan dilaksanakan minggu depan. Kita tidak mungkin membuang-buang waktu bukan? Ah, benar kau harus mengganti syaratnya." Taehyung berusaha keras memutar otaknya agar tidak kencan dengan Jungkook tentunya.
"Tidak ada yang lain Byun. Lagi pula siapa bilang akan mengganggu latihanku? Itu hanya pemikiranmu saja. Bukankah pada malam hari kita bebas melakukan apa saja? Maka akan lebih memudahkan kita pergi bukan? Aku akan mengajakmu pergi malam hari." Jungkook tidak kalah pintarnya dari Taehyung. Ia juga memutar otaknya dengan hati-hati. Berbicara dengan Taehyung memang harus secara hati-hati namun tepat sasaran.
"Tapi aku akan bekerja malam hari di cafe ini. Aku tidak mungkin membolos bekerja, bisa-bisa bosku tidak memberikanku gaji. Kau mau menanggung biaya kuliahku yang mahal Jeon?" Taehyung kembali berkilah dengan terampil.
"Sejak kapan anak beasiswa membayar biaya kuliah? Dan bukankah cafe ini milik hyungmu? Jangan kau pikir dirimu bisa menipuku Byun." Jungkook menatap Taehyung dengan tajam. Ia bosan dengan alasan pemuda di depannya. Alasan yang 100% adalah kebohongan semata. Jungkook tidak menyangka jika bocah menyebalkan di depannya itu jenius kebanggaan dosen-dosen, bahkan ia menerima beasiswa full.
"Hahh, baiklah. Tapi jangan harap kau akan dengan mudahnya mengajakku pergi dari asrama. Tanggung jawabku itu besar untuk merawat timmu Jeon." Jungkook hanya memutar bola matanya malas. Alasan Taehyung itu kadang tidak masuk akal dan terkesan memaksakan dan Jungkook bukan bocah kecil yang mudah ditipu oleh Byun Taehyung.
"Akan ku pastikan besok kita menikmati kencan berdua Byun. Bukan hanya besok namun lain kali kita pasti akan mengulanginya lagi."
"Siapa kau? Sombong sekali. Belum tentu juga aku akan menerima kencan bersamamu. Tolong ya pangeran tampan dari Korea Selatan yang sombong, asal kau tahu aku bukan namja gampangan seperti yang kau pikirkan. Aku tidak akan takut dengan ancaman-ancamanmu itu. Jadi berhentilah mengatur dan mencampuri hidupku. Cukup hubungan antar atlet dan perawatnya." Taehyung tanpa sadar mengeluarkan keluhannya pada Jungkook.
Jungkook terdiam, Taehyung juga terdiam. Keduanya terdiam dan menatap satu sama lain dengan pandangan yang berbeda. Jungkook dengan pandangan meremehkan dengan alis yang terangkat satu sedangkan Taehyung dengan wajah blanknya.
"Memangnya kau ingin hubungan apa antara kita? Memang kita hanya sepasang atlet dengan perawatnya bukan?" Jungkook semaki menyeringai. Menatap remeh Taehyung dengan wajah angkuhnya.
"Bukan maksudku it-"
"Kau ingin lebih dari itu? Sepasang kekasih sepertinya tidak buruk bukan? Kau ingin itu Byun?" Perkataan Taehyung terpotong begitu saja oleh Jungkook sedangkan Jungkook semakin memojokan Taehyung. Taehyung dengan segala umpatannya seakan bungkam dan terkubur dalam di tanah.
"Berengsek! Aku muak denganmu!" Taehyung melemparkan nampan yang dibawanya tadi ke meja terdekat dan pergi dengan tergesah-gesah meninggalkan Jungkook. Sedangkan Jungkook selaku orang yang ditinggalkan hanya terkekeh melihat tingkah Byun Taehyung. Sangat menggemaskan. Melupakan orang-orang disekitar yang memandang aneh dirinya, memang Jungkook peduli?
.
.
.
Taehyung berjalan cepat menuju asrama. Bibirnya menggerutu kesal, menatap sekelilingnya dengan pandangan nyalang. Taehyung hanya tidak habis pikir, kenapa ada manusia semenyebalkan Jeon Jungkook dimuka bumi ini? Baru beberapa hari kemarin mereka resmi berkenalan secara baik dan lihatlah sekarang tingkahnya, bukannya dia semakin menyebalkan? Tahu apa Jungkook dengan dirinya? Walaupun Taehyung tidak menutup ataupun menyangkal jika ia menyukai Jimin dari hati.
Dirinya dan Jimin sudah kenal satu sama lain, kenal dari awal Taehyung mulai bisa berbicara dan merangkak bahkan berjalan. Mereka sudah kenal sedari balita, tentu saja mereka akrab, bukan seperti itu? Namun, entah mengapa Taehyung tidak bisa mengendalikan dirinya pada Jimin, hatinya terus berteriak dan meronta mengatakan Taehyung menyukai Park Jimin. Walaupun akal pikirannya sudah mencoba menyangkal namun ia bisa apa jika perasaannya malah semakin menggebu? Bukankah mereka berteman? Tidak mungkin kan jika ia menyatakan perasaannya pada Jimin dengan bodohnya? Belum tentu juga Jimin menyukainya. Jimin itu sempurna, Taehyung hanya sebagian kecil dari Jimin.
"Hai Taehyung!" Pandangannya beralih pada dua orang yang berada beberapa meter di depannya. Taehyung mengenali mereka. Jung Hoseok dan Kim Mingyu. Dua orang yang harus dirawatnya untuk sementara. Dua orang yang memiliki selera humor menyenangkan dan membuat Taehyung nyaman. Berbeda dengan Jeon -berengsek-Jungkook.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Taehyung mendekat ke arah dua lelaki dengan perbedaan tinggi cukup mencolok. Salahkan Mingyu yang tumbuh dengan tinggi. Untuk kali ini jangan salahkan Hoseok oke?
"Kami sangat bosan di asrama Tae, berjalan-jalan terdengar menyenangkan bukan? Apalagi ditambah dengan guide gratis oleh namja manis sepertimu." Ujar Hoseok dengan manis membuat Taehyung salah tingkah.
"A-aku tidak manis Hoseok-ssi." Taehyung memerah. Pipinya bersemu seperti apel merah kesukaannya. Mingyu dan Hoseok terkekeh, manis sekali melihat Byun Taehyung. "Baiklah aku akan menemani kalian jalan-jalan." ujarnya kemudian setelah menetralkan detak jantungnya.
"Bagaimana jika kita makan? Kau tahu restoran dekat sini bukan Tae?" Taehyung mengangguk lucu, poninya bergerak ke atas dan ke bawah sesuai irama.
Mereka berjalan dengan pelan, sesekali Hoseok mengeluarkan kalimat lucu yang membuat Taehyung dan Mingyu tersenyum bahkan tertawa. Hoseok dan selera humornya sangat baik. Maka dari itu Taehyung menyukainya, menyukai berdekatan dengan orang Korea. Ia rindu Korea tentu saja. Namun ia tidak mempunyai kesempatan untuk kembali, tempatnya di Jepang. Itu yang selalu dikatakan oleh Baekhyun, hyungnya.
.
.
.
"Hoseok hyung lucu sekali, apa anak tim kalian selalu seperti ini?" Taehyung bertanya tanpa menghilangkan senyum manisnya. Matanya menyipit lucu, wajahnya terlihat halus disentuh.
"Seperti inilah kami Tae, jadi kau tidak mungkin bosan menjadi perawat kami." Sahut Mingyu kemudian meminum cola seteguk.
"Ugh, tapi tidak semuanya tim kalian menyenangkan buktinya Jungkook sangat menyebalkan. Dingin dan selalu sesukanya sendiri." Taehyung merubah ekspresinya, bibirnya mengerucut imut ditambah lagi cola yang diminumnya membuat bibirnya tampak basah dan menggoda.
Hoseok tersenyum kecil, "Jungkook memang seperti itu Tae, dia melalui masa yang sulit, dia hanya tidak bisa mengekspresikan dirinya. Jungkook kesepian dan terlalu tertekan. Maka dari itu dia sangat datar dan kadang menyebalkan." Ujar Hoseok yang diamini oleh Mingyu.
"Aku tidak mengerti, dia memang terkadang terlihat kesepian padahal aku yakin kalian pasti akan menghiburnya jika kesepian, selain itu dia juga pernah bercerita kepadaku, membunuh seseorang?"
DEG
Hoseok dan Mingyu terdiam, "Jungkook mengatakan itu padamu Tae?" Taehyung hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mingyu. "Berarti kau dipercaya oleh Jungkook Tae." Mingyu tersenyum tampan.
"Memangnya ada apa? Jungkook tidak cerita detailnya, Jungkook hanya mengatakan itu saja."
"Suatu saat kau akan tahu." dan Hoseok tersenyum manis. Menginggalkan Taehyung yang masih memikirkannya.
'Kau memang sangat mirip dengannya Taehyung'
.
.
.
Jimin berlari dengan cepat, perasaannya tidak menentu di lain sisi hatinya ia merasa bersalah kepada Taehyung. Meninggalkan Taehyung begitu saja padahal Jimin lah yang mengajak Taehyung pergi namun di lain sisi ia khawatir pada Yuta yang jatuh di kamar mandi. Jimin merasa jika semua anggota tim nya merupakan tanggung jawabnya. Termasuk Yuta yang sekarang membutuhkannya.
Langkahnya memelan begitu melihat gedung asrama di depannya. Mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan. Memasuki gedung itu dengan langkah sedang.
"Park Jimin?" seseorang memanggilnya pelan. Lelaki berkulit pucat yang cerah. Lelaki milik lawannya sekaligus lelaki yang ditolongnya.
Min Yoongi.
Satu devinisi yang menggambarkannya. Cantik dan suci, itu yang terlintas dipikiran Park Jimin.
.
.
.
Korea Selatan
Namjoon membuka matanya, mengerjap beberapa kali membiasakan cahaya masuk ke retinanya. Kepalanya berdenyut sakit, sekilas ia mengingat apa yang dilakukannya tadi malam. Pandangannya mengarah pada Jackson yang tertidur di sofa panjang berwarna putih senada dengan cat kamarnya. Sepertinya ia merepotkan Jackson lagi, terlihat dari guratan wajah Jackson yang menjelaskan segalanya.
Namjoon mengingat kembali pertemuannya dengan ayahnya, bagaimana ayahnya memeluknya dengan sayang, bagaimana ayahnya memberikan kecupan di pipinya dan bagaimana ayahnya menceritakan semuanya. Ya semuanya. Termasuk soal Taehyung. Ayahnya menceritakan tanpa tersisa.
Namjoon ingin marah, ingin berteriak dan tentu saja ingin memaki siapapun ayah bahkan ibunya sekalipun. Usianya memang sudah matang membuatnya mampu berpikir secara kritis, tajam dan tegas. Namun disatu sisi ia juga akan merasakan apa itu terpuruk dan bagaimana ia bangkit lagi. Ia memang telah bangkit lagi tepat seminggu setelah adik manisnya tertimbun tanah meninggalkan dirinya sendiri di dunia ini sendiri.
Dan sekarang untuk kedua kalinya ia tidak ingin kehilangan kesempatan, ia tidak ingin kehilangan adiknya dan ia tidak ingin membuat adiknya menunggunya lebih lama lagi. Ia akan membawa adiknya, kembali ke dekapannya dan tidak ada yang boleh memisahkannya lagi. Hanya ada Namjoon dan Taehyung. Tidak ada ayah, ibu ataupun Jungkook.
.
.
.
Jepang
Jungkook mengalihkan pandangannya ke lapangan. Beberapa hari lagi ia dan kawan-kawannya akan berjuang dengan keras untuk mendapatkan mendali emas seperti yang dinantikan oleh warga Korea Selatan. Ia tidak ingin mengecewakan ayah, ibu serta Namjoon, walau ia yakin Namjoon tidak akan pernah peduli dengan apa yang dilakukan Jungkook. Namun Jungkook hanya ingin memberi yang terbaik. Taehyung, untuk hyungnya.
Pandangannya mengadahkan kepala. Meremas kecil keningnya, sedikit pening namun Jungkook sudah biasa merasakannya. Itu hanya efek tubuhnya yang lelah dan matanya yang sulit terpejam dari dua jam yang lalu. Maka dari itu Jungkook memilih untuk berdiam diri di stadion sepi ini. Orang bilang, Jungkook itu sempurna, mereka melontarkan pujian serta mengelu-elukan seorang Jeon Jungkook. Jungkook bangga dengan apa yang di dapatkannya, Jungkook bangga dengan pujian atas dirinya dan Jungkook senang saat seseorang jatuh dan bertekuk lutut untuknya.
Jungkook memang tidak pandai berinteraksi seperti teman-temannya yang lain. Ia tidak pandai menata hatinya. Ia tidak becus untuk merapikan kepingan-kepingan jiwa dan hatinya yang jatuh pecah hingga menusuk jantungnya. Ia tidak bisa. Ia tidak bisa, ia mampu namun ia tidak memiliki kesempatan. Kesempatan seakan menjadi sesuatu yang tidak mungkin Jungkook dapatkan di dunia ini. Ia tidak ingin menyangkal semua pengalaman buruknya namun ia ingin melupakan kenangan buruk tersebut. Kenangan saat tubuhnya terbanting, saat tubuhnya dijadikan samsak gratis dan saat tubuhnya menjadi tameng tendangan kuat. Ia ingin melupakannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" seseorang duduk di samping Jungkook.
"Hanya menghirup udara segar, terlalu lama di asrama bisa membuatku mati bosan." Jawab Jungkook sekenanya, matanya masih memandang lurus ke depan.
"Ah, begitu rupanya."
"Lalu kau? Apa yang kau lakukan?"
"Sama sepertimu, mungkin."
"Boleh aku bertanya?" Jungkook mengalihkan pandangannya kesamping.
"Aku akan dengan senang hati menjawabnya tuan Jeon."
"Mengapa kau tidak mengabdi pada negaramu sendiri? Kenapa harus pindah kewarganegaraan?" Jimin terdiam. Hatinya berdenyut sakit. Ia bukan orang lemah, ia ingin menunjukan apapun yang ia bisa.
"Bukan, bukan aku tidak ingin mengabdi pada Negara kelahiranku. Bukan aku kurang ajar atas Negara tercintaku. Namun aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengikuti pelatihan di Seoul waktu itu. Walapun aku terpilih namun aku tidak bisa." Jungkook terdiam begitu pula Jimin.
"Kau terpilih, kenapa kau tidak bisa? Jika kau tetap mengikutinya bukankah kita satu tim sekarang?" Jimin memejamkan matanya mendengar suara Jungkook. Menatap Jungkook dan tersenyum dengan tampan.
"Jika aku tetap di Korea Selatan maka kau tidak mungkin masuk ketimmu sekarang dan berpijak disini Jeon Jungkook. Aku memang bukan apa-apa dibandingkan denganmu ataupun orang tuamu. Maka aku lebih memilih untuk membuat jalanku sendiri. Siapa sangka aku diterima dengan tangan terbuka oleh teman-temanku sekarang."
Jungkook terdiam. Karenanya lagi? Karena dirinya Park Jimin menderita? Mengapa ia hanya menyusahkan orang lain? Jungkook memandang Jimin yang menatap kedepan. Matanya sipitnya begitu terang mengingatkan Jimin kepada Taehyung. Mungkinkah Jungkook ditakdirkan untuk menghancurkan orang lain?
"Bolehkah aku bertanya satu kali lagi?" Jimin menganggukan kepalanya pelan. Menatap Jungkook lurus tepat pada mata hitam sayunya. "Taehyung.. bagaimana kau mengenal Taehyung?"
Jimin mengalihkan pandangannya sekarang. Mendengar nama Taehyung disebut membuatnya berdebar dan merasa takut. Takut jika nantinya Taehyung lebih memilih Jungkook. Perasaannya mengatakan bahwa nantinya akan ada yang berubah. Jimin tidak ingin kehilangan Taehyung. Byun Taehyung sebagai sahabatnya dan Byun Taehyung sebagai orang terkasihnya. Ia tidak ingin kehilangannya. Byun Taehyung milik Park Jimin.
"Kenapa kau bertanya tentang Taehyung?" Tajam. Tatapan mata Jimin menajam. Ia tidak bisa mengendalikan hati dan perasaanya jika menyangkut Taehyung. Ia tidak bisa memberikan Taehyung kepada orang lain. Ia tidak bisa, hatinya memberontak.
"Taehyung mirip bahkan identik dengan hyungku. Sangat mirip hingga aku tidak bisa membedakannya jika berdiam diri saja. Aku tidak bisa membedakannya yang telah tinggal dengannya selama bertahun-tahun. Aku merindukannya. Hyungku. Jeon Taehyung." Jungkook mengadahkan kepalanya. Menatap langit yang terlihat sangat indah malam mini, Taehyung-nya sedang menatapnya dari langit bukan?
"Tidak mungkin jika Taehyung itu hyungmu. Aku sudah berteman dengan Taehyung sejak balita. Kami berdua tumbuh bersama. Selalu satu sekolah. Jadi jangan mengada-ada Jeon Jungkook."
"Kau tidak akan percaya Park Jimin," Jungkook mengambil ponsel di dalam sakunya. Memperlihatkan sebuah foto yang membuat Jimin membelakan matanya tidak percaya. Jeon Taehyung dengan Byun Taehyung? Dunia ini tidak mempermainkannya bukan?
"Tidak mungkin," Jimin mendesis tidak setuju. Ia tidak mempercayai semua ini. Byun Taehyung tetaplah Byun Taehyung. Bukan Jeon ataupun yang lain.
"Itulah yang aku rasakan saat pertama kali berjumpa dengannya. Ia mengingatkanku pada Jeon Taehyungku. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Aku ingin memilikinya sebagaimana aku memiliki Jeon Taehyung yang dulu. Bahkan lebih. Aku ingin membuatnya menjadi milikku." Perkataan Jungkook membuat Jimin mengepal. Ingin memiliki Byun Taehyungnya ia bilang?
"Kau sudah mempunyai Jeon-mu. Kenapa kau merebut Byun-ku huh?" Jimin berdiri begitupula dengan Jungkook.
"Jeon Taehyungku sudah berbahagia dengan senyum manis. Disana." Jungkook menunjukkan tangannya kearah langit. Langit gelap yang tampak manis dihiasi oleh bintang-bintang yang berhamburan. Namun, dari banyaknya bintang yang menghiasi malam Aini ada satu bintang yang paling bersinar. Taehyung. Jeon Taehyungnya.
"Aku tidak peduli denganmu dan duniamu. Aku juga tidak peduli dengan Jeon Taehyungmu yang mirip dengan Byun Taehyungku. Tapi jangan harap kau bisa membuat Taehyungku menjadi milikmu. Aku tidak akan menyerahkan Taehyung begitu saja padamu. Taehyung milikku dan kau hanya orang baru yang memasuki kehidupan tentramnya." Jimin memandang Jungkook bengis, ia tidak suka miliknya direbut begitu saja.
"Kau boleh mengambil posisiku dahulu, tapi kau tidak akan bisa mengambil Byun Taehyung dari sisiku. Ingat itu Jeon Jungkook." Jimin berlalu pergi. Meninggalkan Jungkook yang menundukan kepalanya. Meninggalkan Jungkook dengan segala gejolak yang datang begitu saja padanya dan meninggalkannya dengan rasa bersalah yang amat dalam. Namun, Jungkook tidak akan menyerah begitu saja jika menyangkut Taehyungnya.
.
.
.
Korea Selatan
Bau semerbak kopi menguar ditambah dengan bau roti hangat keluar dari panggangan membuat siapapun yang lewat tidak tahan untuk tidak masuk dan membeli beberapa potong roti dan secangkir Cappuccino hangat. Namun berbeda dengan sepasang adam dan hawa yang hanya memandang kosong ke depan. Bahkan Dry Cappuccino yang mereka pesan sudah lama mendingin.
Keduanya terdiam. Petemuan ini sangat canggung dan membuat keduanya tidak nyaman. Wanita yang sudah cukup tua untuk dipanggil nenek itu masih terlihat cantik di usianya. Menggambarkan seorang yang memang pandai menjaga tubuh dan wajahnya. Sedangkan lelaki di depannya masih sangat tampan di usianya yang hampir berkepala lima. Menawan dengan setelan jas berwarna biru dan dasi yang melilit di lehernya cukup kencang. Tipikal pengusaha yang memang dituntut untuk selalu sempurna oleh dirinya sendiri.
"Bisa kau jelaskan sesuatu padaku Yura-ya?" lelaki itu membuka percakapan dengan ucapan yang mampu membuat wanita bernama Yura itu tersentak. Bertahun-tahun ia tidak mendengar suara lembut lelaki di depannya membuat eksistensinya kembali ke dunia nyata.
"A-aku.. maafkan aku Hyungsik. Kau pasti sudah mengetahuinya bukan?" jawabnya tertunduk.
Wajah Hyungsik mengeras. Matanya menatap tajam wanita cantik di depan sana lurus. Jawaban yang membuatnya tidak puas sama sekali. Menyepelekan eksistensinya dan melupakan dirinya begitu saja. Bagaimanapun mereka sudah pernah hidup bersama dalam sebuah keluarga harmonis dengan putra yang manis dan tampan.
"Kau melupakan apa yang ku katakan dulu Yura-ya. Kau tidak dapat menjaga anakku dengan baik. Kau melupakan apa yang harus kau lakukan saat itu Yura-ya. Bisakah aku mengatakan jika aku kecewa padamu?"
Yura mengangkat wajah cantinya. Menatap mata lelaki di depannya dengan berkaca-kaca. Hatinya berdenyut sakit, janji yang dipegangnya pupus begitu saja. Ia merasa menjadi orang yang paling berdosa begitu saja. Ia merasa jika ia membunuh anaknya sendiri. Tidak bisa menjaga anak kesayangannya. Menjadikannya tameng dan membuat dirinya jatuh ke jurang tak berdasar.
Tapi.. bukankah itu keinginan sang anak? Keinginan anaknya untuk menyerahkan nyawanya dan menggantikannya dengan adik kesayangannya. Ia tidak bisa memilih, semuanya terjadi begitu saja tanpa bisa diprediksi. Awal yang menyenangkan malah membawa petaka yang sialnya mengorbankan anaknya. Yura bahkan benci dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga anaknya. Tapi sekali lagi itu bukan keinginannya, itu keinginan anaknya. Keinginan Taehyung.
"Aku tidak akan melalukukan pembelaan seolah-olah aku benar disini. Aku salah. Aku ibu yang buruk hingga mengorbankan anakku. Anak kita. Aku kalut dan bingung saat itu. Sungguh bukan keinginanku dengan takdir ini, bukan. Sungguh. Dia berteriak kesakitan. Aku mendengarnya dengan sangat. Dia merintih kesakitan aku juga mendengarnya. Bibirnya membiru, wajahnya memucat aku juga melihatnya. Tubuh kurusnya lemas dan memucat aku ada disana. Aku melihat, aku mendengar. Semuanya tanpa terkecuali. Tapi, ini keinginannya. Keinginannya untuk melindungi adik kecilnya yang hanya berdiam diri tertusuk besi panjang yang hampir menembus jantungnya. Ia berteriak. Meminta menyelamatkan adiknya. Ia berteriak Hyungsik! Berteriak! Aku kalut dan memenuhi permintaannya. Permintaan terakhirnya. A-aku hiks.." Yura terisak lirih. Namun tidak membuat Hyunsik iba ataupun semacamnya.
"Aku tidak peduli dengan siapapun. Kau mengorbankan darah dagingmu sendiri. Kau mengorbankan anakku untuk melindungi anak suamimu. Kau mengorbankan semuanya Yura-ya. Aku tidak bisa terima dengan semua ini. Namjoon. Aku akan membawanya pergi." Yura tersentak cepat. Menatap nyalang pria di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu padaku? Jangan ambil Namjoon! Jangan ambil siapapun. Aku tidak ingin kehilangan anakku lagi. Tidak Namjoon ataupun Taehyung! Aku akan membawanya untukku. Tidak. Aku tidak akan memberikannya padamu." Yura berucap dengan cepat dan keras. Membuatnya menjadi pusat perhatian di Caffe yang memang sedang ramai ini.
"Kenapa kau begitu egois? Kau sudah mengasuhnya selama ini. Kau sudah membuat semuanya semakin runyam dengan drama keluarga yang berakhir dengan kesedihan tak tertahan. Dan sekarang kau menantangku untuk membawa anakku sendiri? Namjoon juga anakku. Darah dangingku. Aku berhak atas Namjoon. Aku tidak ingin Namjoon menjadi korban selanjutnya dalam dramamu!" Hyungsik berdiri. Menatap Yura tajam kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan wanita itu. Meninggalkan dengan segala luka yang membentang di hatinya. Menjadikannya rapuh dan berdosa. Ia tidak menyukai semua ini. Takdir buruk yang membuatnya menjadi penjahat di dunia ini. Ia tidak menginginkannya.
.
.
.
Jepang
"Siap kencan denganku manis?" Jungkook menghadang Taehyung yang hendak keluar dari kamarnya.
Taehyung memutar matanya malas. Menatap Jungkook jengah kemudian menganggukan kepalanya singkat. Berdebat dengan Jeon Jungkook bukan sesuatu yang bagus. Hai! Bertengkar dengan Jungkook membahayakan jantungnya omong-omong. Taehyung lebih suka berdebat dengan teman kedokterannya, dosen atau bahkan hyungnya daripada berdebat dengan Jeon Jungkook.
Keduanya berjalan keluar asrama. Taehyung berjalan di sebelah kanan sedangkan Jungkook berjalan di sebelah kiri. Jungkook menikmati setiap langkah yang mereka ayunkan. Menatap jemari Taehyung yang kosong. Kemudian membawanya ke dalam dekapan jemari besarnya. Membawanya ke dalam sebuah keindahan.
Taehyung tidak menolak ataupun memberontak. Ia membiarkan Jungkook menggenggam tangannya posesif dan membuatnya seolah memang milik Jeon Jungkook. Taehyung tidak menampik kenyataan bahwa sekarang ia merasa nyaman di samping bocah Jeon menjengkelkan itu.
"Kenapa tanganmu hangat sekali Tae? Aku menyukainya." Jungkook mempererat genggaman tangannya. Ia melupakan bahwa bisa saja Taehyung memukul kepalanya dengan keras ataupun menendang kakinya seperti beberapa hari yang lalu.
"Untuk hari ini aku tidak akan menendang ataupun memukulmu Jeon. Bukan kah hari ini kencan kita?" Taehyung tersenyum manis menatap Jungkook yang jauh lebih tinggi darinya.
Jungkook tertegun beberapa saat saat melihat senyum Taehyung yang manis. Ia terdiam seribu bahasa. Menggenggam erat tangan Taehyung kemudian berjalan meninggalkan gerbang asrama. Meninggalkan Jimin yang memandang tajam ke arah keduanya. Ke arah tangan yang saling bertautan dan berdesis tidak suka terhadap apa yang terjadi nantinya. Baginya Byun Taehyung hanya miliknya. Milik Park Jimin. Ia tidak akan membiarkan Jeon Jungkook merebut apa yang memang menjadi miliknya. Karena Taehyung sekarang hanya satu dan itu milik Jimin.
TBC
.
.
Hai semuanyaaa, ada yang nungguin ini? Pasti tidak XD Jilan disini, aku gak bakal cuap-cuap panjang kok, Cuma pengin ngomong makasih buat kalian yang udah nyempetin waktu kalian buat baca dan review fanfic ini.
Chapter ini pasti kalian sudah bisa menebak kan? Iya dong teori bighit aja kalian jago apalagi cerita receh aneh kaya gini, ya kan?
Pokoknya makasih banget kalian yang sudah dukung cerita ini, aku pribadi sangat menyayangi kalian, bdw buat yang kemaren-kemaren bilang aku mau wisuda, yidisium yang dimaksud disini itu penerimaan nilai bukan yudisium mau lulus, aku masih unyu kok semester dua XD Cuma tempatku memang namanya yudisium lol
Cuma itu aja yang pengin aku omongin, big thanks guys
With love, Jilan&UniGon
