Chapter 6 : By UniGon
Note: Terima kasih untuk dukungan kalian, readers kami tercinta. Segala macam bentuk dukungan yang selama ini kalian kasih, komentar sangat berguna untuk dukungan dalam melanjutkan FF ini. Kami berusaha untuk menjadi lebih professional dalam bidang menulis jadi kritik dan saran sangat kami apresiasi _.
Jepang
"Kau tak terlihat baik."
Suara bariton yang berselingan dengan bunyi langkah kaki menohok indra pendengaran Jimin dengan semena-mena. Dirinya masih duduk di sana, di dinding pembatas balkon asramanya. Ia tak cukup takut untuk duduk di sana walau disadarinya jarak antara balkoni kamarnya dan tanah cukup jauh.
Jimin menolehkan kepalanya menuju sumber suara, "Kau seharusnya tetap diam di kamar. Jangan bebani lukamu itu dengan segala rasa ingin tahumu.", sahut Jimin dengan mata memicing terfokus pada perban yang menempel di pelipis lawan bicaranya.
Namja berwajah oriental dengan garis rahang tajam bak dipahat itu mengedikkan bahunya, "Maaf aku merusak rencanamu."
"Rencana apa?"
"Kencan dengan Taehyung?", nadanya bukan kalimat berita, namun berubah menjadi sebuah pertanyaan untuk meyakinkan pemikirannya.
Jimin menyeringai tipis dengan sebuah kekehan kecil yang terdengar sayup bersama angin malam, "Aku tak akan punya waktu untuk kencan dengannya. Aku sedang memikirkan diriku sendiri dan timku.", kakinya melangkah mendekati sosok Yuta yang berdiri tak jauh darinya. "Dan dahimu yang entah kapan akan sembuh jika kau keras kepala seperti ini.", ucapnya seraya menoyor dahi rekan satu timnya itu.
Yuta menepisnya cepat walau dahinya telah tertoyor, "Kau meremehkanku? Begini pun aku masih bisa latihan."
Jimin menggeleng, bibir penuhnya kembali menyeringai yang justru tertangkap sebagai cemoohan di mata Yuta, "Aku yang akan mati disikat oleh pelatih jika aku membiarkan kepala batumu itu muncul di tempat latihan dengan perban seperti itu.", tuturnya sebelum meninggalkan sosok Yuta tetap berada di sana.
Yuta mendapati dirinya menatap bagaimana sosok Jimin perlahan-lahan menjauh dari dirinya. Bagaimana langkah itu melenggan menuju kamarnya yang masih satu lorong dengan kamar Yuta. Bagaimana sosok tak terlalu tinggi itu memperlihatkan punggung tegapnya yang terbalut kaos putih polos hampir dengan desain tipis yang pas. Hingga bagaimana surai Jimin berkilau terkena cahaya lampu remang-remang sepanjang lorong serta mulai berentakan terhempas angin.
Kerutan tipis terpatri di sudut mata dan dahinya, secara tidak sengaja menimbulkan denyutan menyakitkan dari bekas luka hasil ciuman bak kamar mandi itu. Ia meringis sakit seraya membenahi perbannya padahal bukan itu esensi awal mula rasa sakit itu terasa. Sekadar formalitas kala ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Aku tak bisa seperti ini terus. Sial.", gumam Yuta seraya meremas ujung kemeja kebesaran yang dipakainya entah milik siapa. Mungkin milik teman satu kamarnya yang merangkap satu tim dengannya.
[-]
Jimin tak terlalu peduli angin malam.
Siapa yang bilang angin malam itu tidak baik? Hal itu jelas tak ada dalam kamus besar Park Jimin. Maka dari itu, berakhirlah dirinya pada sebuah lapangan tak berentitas selain dirinya sendiri. Ia kabur dari asrama kalau bisa dibilang. Mulus, tanpa ada yang sadar bahkan mengetahuinya. Apa sulitnya loncat pagar setinggi pundaknya itu?
Ada sebuah bat tergenggam di tangan kanannya, diseret di tanah hingga jejak-jejak garis berbekas di sana. Sedikit debu terhempas angin malam, sedikit sisanya menempel di bat tersebut. Jimin menghentikan langkahnya di hadapan sebuah pelontar bola baseball, jaraknya kurang lebih sebanyak 20 langkah normal dirinya. Ia sudah persiapkan semuanya sejak awal menjejakkan kaki di sini.
Satu bola pertama terlontar cepat ke arah Jimin, secepat lemparan pitcher lawan kalau menurut perhitungannya. Ketika bola itu hampir sampai di dekatnya, tingginya sekitar pinggang entitas berambut hitam pekat berantakan itu. Sebuah denting keras terdengar memekakkan telinga Jimin ketika dengan satu lirikan cepat dirinya mampu melihat bola putih segenggaman tangan itu melambung tinggi dan jauh. Entitas itu mendengus, tak akan ada yang bersedia mengambil bola itu dari jadi mau tak mau yah… ia akan memunguti bola-bola itu satu persatu nanti.
Waktu berlalu sedikit agak lambat dan dirinya sudah kehabisan tenaga. Ia tak biasanya seperti itu. Bahkan untuk mencetak perkiraan home run saja akan menurun jika memang kemampuanya hanya seperti itu. Sedikit bagian surainya menyatu satu sama lain bermandikan peluh yang menetes tanpa henti. Ada pula yang menutup dahi hingga alisnya, membuat keringat justru menetes tepat ke bulu mata lentiknya. Sesekali ia perlu menyeka peluhnya dari netranya, meninggalkan sensasi perih terlebih baju yang dikenakan juga bermandikan peluh dan debu lapangan.
"Cih, kalau seperti ini terus, bagaimana bisa membawa timku home run dan mencetak skor?", gumam Jimin setelah menjatuhkan bat di tangannya.
Sial, rasanya tangannya lemas bahkan nyaris mati rasa. Ingatkan bahwa Jimin tak pernah peduli yang timnya sebut dengan pemanasan sebelum latihan. Malam ini dirinya terlalu 'panas' dengan mengingat apa yang dirinya lihat satu jam yang lalu. Jika saja Jimin tidak menghargai dan menjaga perasaan Taehyung, mungkin dirinya sudah lebih dari sekadar meninju Jungkook setelah masuk ke wilayah kekuasaannya.
Bersama sisa tenaga yang ada, tubuh kakunya membungkuk berulang kali seraya mengambil bola-bola segenggaman tangan itu. Keringat langsung jatuh ke tanah kering itu, menimbulkan bercak yang lebih tua dibanting tanah di sekitarnya. Jika Jimin tak salah hitung, ada sekitar 20 bola yang terlontar dari benda itu. Seingatnya, ada 16 bola yang terpukul olehnya dan 4 bola yang tak mampu ia pukul.
Dan di dalam keranjang baru ada 19 bola.
Jimin menghela nafas panjang. Ia tak akan pernah mau demi apapun membeli bola baru dengan sisa gaji atletnya yang pas-pasan itu. Bagaimana ia akan makan nanti jika uangnya habis untuk membeli satu bola baru?
"Hei…"
Jimin hampir berteriak dan menjatuhkan keranjang yang nyaris penuh bola itu jika tak mampu ditahannya rasa keterkejutan itu. Belum lagi didapatinya sosok kurus dan pucat itu justru keluar dari sekitaran semak belukar. Seperti hantu saja.
"Sial, kau mengejutkanku.", tutur Jimin cepat dalam bahasa Jepang yang tentu saja dijamu oleh sebuah pandangan bingung oleh entitas putih di hadapannya. Jimin sedikit salah fokus dengan netra namja itu yang entah bagaimana berkilat bermandikan entah cahaya bulan atau cahaya lampu sorot lapangan.
Namja misterius itu melemparkan sebuah bola putih kecil ke dalam keranjang di tangan Jimin. Sebuah bola baseball yang Jimin cari-cari sedari tadi. Astaga, dirinya hampir saja bersujud syukur di kaki namja pucat bak hantu itu.
"Apa pun itu yang kau katakan tadi, aku tidak mengerti. Tapi aku sepertinya tahu itu bola yang kau pukul tadi.", tutur Yoongi dingin dengan kedua telapak tangan yang bersembunyi di balik saku hoodie hitam yang dikenakannya malam itu.
"Di mana kau mendapatkannya?"
Yang terekam di memori Jimin kala itu adalah bagaimana mata sipit dan dingin itu terbuka sedikit dalam keterkejutan. Mungkin lawan bicaranya itu tak menyangka bagaimana Jimin masih fasih berbahasa Korea.
"Bolanya mengenai kepalaku."
"Di semak-semak? Apa yang kau lakukan di semak-semak?"
Yoongi mengambil beberapa langkah mendahului Jimin, berjalan melewati tubuh tegap sosok atlet baseball Jepang itu. Tanpa Jimin sadar, netranya mengikuti arah langkah sosok yang dinilainya bermata sayu itu. "Memata-matai lawanku, mungkin?", bisik Yoongi sebelum akhirnya melangkahkan tungkai kaki kurusnya lebih jauh.
"Hey! Kenapa kau di sini?! Kau harus jelaskan padaku! Tidakkah illegal untuk keluar dari asrama di jam-jam seperti ini?", teriak Jimin seraya menatap punggung kecil yang terbalut hoodie itu semakin menjauh dan mengecil di visinya.
Di sisi yang terlalu jauh dari indra pendengaran Jimin, Yoongi mendengus kesal mendengar bagaimana sosok lelaki itu justru berteriak riuh. "Lalu kau sendiri melakukan hal illegal, kan?", gumam Yoongi dengan bibirnya keringnya.
Sesuatu terlintas di benak Jimin penuh keraguan, seakan satu langkah memori mampu meledakkan kepalanya. Namja yang tadi itu anggota tim Korea Selatan, kah? Apa benar dirinya dimata-matai? Hey, bahkan semua atlet baseball belum tahu akan melawan siapa di pertandingan nanti, bagaimana mungkin tim Korea Selatan akan mengambil langkah yang terlalu cepat itu? Tidak masuk akal. Atau, apakah dirinya dalam bahaya dalam pengintaian sosok pucat dan dingin itu?
"Hei, itu namja yang kuselamatkan, kan?"
Detik selanjutnya, Jimin bergidik sendiri mengingat bagaimana ia telah menyelamatkan seorang atlet dengan kepribadian semengerikan itu.
[-]
Serigala mana yang tak akan menjaga harga dirinya ketika dirinya menjadi fokus publik? Jungkook bukan seorang serigala berbulu domba atau malah domba yang berbulu serigala. Ia hanyalah seorang serigala yang sedikit pemalu dan tahu diri. Capnya alpha, hanya saja kelakuannya mungkin beta atau bahkan omega. Ini sebuah kesalahan.
Jungkook masih dengan kedua tangannya yang tertanam dalam-dalam di saku celana jeans-nya. Berjalan di antara kepadatan malam di Tokyo bukan hal yang buruk. Ia pun tak perlu takut tersasar di sana, ada Taehyung sebagai pemandunya. Untuk beberapa alasan, Jungkook memilih untuk sekadar mengikuti langkah tanpa tujuannya bersama Taehyung. Begitu pula dengan pihak Taehyung yang tak sadar dirinya hanya diikuti oleh sosok Jungkook.
"Sebenarnya apa yang kita lakukan?", tanya Taehyung yang akhirnya membuka pembicaraan di antara keadaan yang ia anggap canggung padahal buka seperti itu yang Jungkook rasakan.
Jungkook tersenyum, ada sedikit kerutan di ujung matanya. Bekas luka di pipinya terlihat turut melebar. Sekilas di balik jaket jeans hitam yang ia kenakan, kedua bahunya terlihat berkedik tak tahu menahu. "Aku juga tidak tahu. Aku hanya mengikuti langkah kakimu sejak tadi."
Kedua insan itu akhirnya berlabuh di sebuah halte bis beratap putih itu. Mereka bukannya perlu untuk menunggu bis di sana, mereka hanya duduk tanpa tahu harus melakukan apa. Anggap saja mereka butuh waktu dan tempat untuk berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya.
"Aku biasanya duduk di sana menunggu bis distrik utama bisnis," gumam Taehyung dengan kepala tertuduk. Kedua netranya menatap kedua kakinya yang terbalut celana kain putih yang berayun-ayun di sana.
"Untuk apa ke sana? Kau juga bukan pengusaha."
Taehyung terkekeh canggung. "Banyak makanan enak di sana. Bahkan fast food yang murah pun sangat enak. Banyak peralatan untuk kuliah yang kuperlukan juga di sana. Lagi pula, kakakku bekerja paruh waktu di wilayah itu selain di café."
Netra Jungkook tertuju pada mobil yang berlalu lalang di hadapannya. Kedua tangannya bertumpu pada kursi yang didudukinya. "Jadi kenapa kita tidak ke sana saja?"
Taehyung menolehkan kepalanya dengan wajah tak habis pikir, "Kau ingin ke sana hanya untuk membeli makan? Oh ayolah, kau kira uangku sebanyak itu, Kawan? Aku tak akan membuang-buang tiket bisku hanya untuk membeli makanan di sana sementara di sini juga ada banyak makanan enak."
"Jadi kau ingin ke mana? Jangan katakan terserah karena aku tak tahu apa maumu dan jalanan di sini. Jangan biarkan kita tersesat di Tokyo."
"Bagaimana jika kita ke gedung tempat bermain? Ada tempat bermain seperti itu di dekat lapangan turnamen baseball. Biasanya aku pergi bersama Hoshi atau Jimin."
Jungkook menghela nafasnya diam-diam seraya memutar bola matanya dalam kekesalan. Ah sial, Jimin lagi.
"Baiklah. Tak ada ruginya untuk mencoba segala hal yang ada di Tokyo."
[-]
"Jadi, biar aku luruskan ini, jika kau bisa melakukan segalanya sekarang, kau telah memilih untuk memenangkan sebuah barang seperti hewan itu dengan mesin pencakar ini?". Jungkook menghela nafasnya. "Aku tak pernah sadar bahwa kau ternyata adalah seorang perempuan remaja."
Taehyung merona dalam kejengkelan. "Aku tidak pernah bisa memenangkannya satu kali pun saat masih kecil dan aku selalu ingin melakukannya walaupun hanya sekali. Itu adalah sebuah masalah tak masuk akal sejak kecil jadi diamlah."
Jungkook menatapnya dengan tidak percaya, menjatuhkan tangannya dari rambutnya dan menggenggam salah satu jari Taehyung agar Taehyung menunggu saat ia hampir melenggang jauh menuju blok permainan yang lain. Saat ia datang lagi, ia membawa sebuah ember kosong di salah satu tangannya dan ia menggapai pergelangan tangan Taehyung dengan yang lainnya tanpa sepatah kata pun, menariknya mendekat menuju box berisi segala jenis bentuk boneka hewan dan mesin pencakar itu.
"Tunggu, apa yang akan kita lakukan?", Taehyung tersandung saat ia mencoba untuk memakai sepatunya dengan benar. Ingatkanlah bagaimana tadi Jungkook secara tidak sengaja malah menginjak bagian belakang sepatu Taehyung hingga terlepas dari kakinya.
"Mendapatkan boneka hewan konyol itu untukmu."
Taehyung tetap sangat-sangat bingung, sepatu bagian kirinya belum rapi dan ia berpikir Jungkook gila. Ia mendorongnya tanpa kelembutan ke arah mesin cakar hewan yang kosong pemain itu.
"Pilih boneka binatangnya.."
"Jungkook, kau tak harus―"
"Pilih salah satu."
Taehyung bergerak gugup dan menatap melalui kaca hingga matanya menatap sebuah boneka kelinci putih lucu dengan telinga merah muda, anehnya, itu mengingatkannya pada laki-laki yang lebih tinggi darinya dan tengah berdiri di sampingnya.
"Yang itu?", ia menyatakan dengan ragu-ragu.
"Oke, sekarang menjauhlah dari sini dan biarkan master melakukan pekerjaannya."
Ternyata, sang master tak melakukan segalanya dengan baik. Taehyung menonton dengan tawa tertahan saat Jungkook gagal lagi dan lagi, hanya berhenti ketika Jungkook memberinya beberapa tatapan marah untuk membuat Taehyung diam karena merusak konsentrasinya.
"Kupikir, harus digeser ke kiri lagi."
"Kupikir, tidak apa-apa.", Jungkook menggerutu, lidahnya mencuat dari ujung mulutnya.
Ia mendorong tombol itu agar pencakar itu turun dan ia menghentakkan kakinya dalam frustasi saat ia meleset beberapa sentimeter.
"Kau semestinya menggesernya ke kiri…", Taehyung bergumam.
Jungkook memandang dengan kesal ke arah gelas plastik kosong di tangannya, gelas yang sama dengan yang telah berisi dengan koin satu jam yang lalu. Sekarang ia kehilangan kekuatannya demi perubahan tanpa apapun yang bisa ia tunjukkan. Kelinci putih dengan telinga merah muda itu menyeringai mengejek padanya dari atas tumpukkan teman-teman berbulunya itu, sebuah bukti umum atas kegagalan Jungkook.
Tatapan Taehyung melembut. "Tidak apa-apa, kau tahu. Aku tetap merasa senang."
"Mesin itu curang."
Taehyung menepuk bahunya dengan simpati.
Mereka berjalan pulang bersama-sama, Jungkook terlihat sedih dan muram dan Taehyung mencoba yang terbaik untuk menghiburnya. Mereka tak menyadari bahwa mereka telah berpegangan tangan hingga mereka sampai di sebuah gang yang Taehyung bilang adalah jalan pintas menuju ke asrama atlet. Taehyung entah mengapa tiba-tiba memberikan tatapan ragu namun Jungkook tak cukup peka untuk menyadarinya. Jadilah, Taehyung yang mematung di seperempat jalan gang itu malah agak terseret oleh Jungkook.
"Kau kenapa, Tae?", tanya Jungkook yang akhirnya menyadari kejanggalan dari gelagat teman kencannya itu.
"Apa kau yakin kita akan lewat sini?"
Jungkook mengerutkan kedua alisnya, malah bingung ditanyai seperti itu. Oh ayolah, untuk masalah jalanan di Tokyo, Jungkook dengan senang hati yakin bahwa dirinya kana mendapat nilai 0. "Bukankah kau yang bilang ini jalan pintas menuju asrama? Apa kau tidak yakin ini gangnya?"
"Ini gangnya.", bisik Taehyung namun genggaman tangannya malah semakin mengerat di tangan Jungkook.
Jungkook semakin mengedus aroma-aroma tidak benar yang memancar jelas dari gelagat seorang Taehyung. Taehyung yang benar-benar menatap tepat ke arah netra Jungkook seperti yang biasa ia lakukan. Ini sedikit menyerong, tepatnya ke pundak Jungkook. "Kau tak terlihat benar, Tae. Kita bisa kembali di jalan besar. Tidak masalah untukku jika kita mengambil jalan memutar."
"Siapa kalian?"
Suara bass dan asing berbahasa Jepang itu langsung mengalihkan atensi Jungkook menuju sumber suara. Jungkook tak mengerti apa yang siluet laki-laki berbadan kekar itu. Gang itu tak cukup penerangan hingga jadilah Jungkook harus memicingkan netranya tanpa guna untuk melihat sosok itu lebih jelas. Reflek, Jungkook langsung menyembungikan tubuh Taehyung di belakangnya, melindungi sosok yang justru telah menjerumuskan ke sebuah jalan yang benar-benat salah.
"Apa yang kalian inginkan?", Taehyung buka suara dari balik pundak Jungkook dengan berbahasa Jepang.
Jungkook seketika menatap Taehyung sekilas, mengeratkan gengggamannya pada tangan Taehyung yang sudah dingin dan basah akan keringatnya sendiri. "Apa yang kau lakukan, Bodoh? Bagaimana jika mereka menyakitimu?", geram Jungkook dengan giginya yang menggeretak kecil.
Jungkook dan Taehyung berdiri tepat di bawah sorotan lampu remang-remang satu-satunya yang hidup di gang tersebut. Hingga sampailah sosok lelaki bertubuh besar bertato dan sosok lelaki lainnya di hadapan mereka. Sial, Jungkook benar-benar kehabisan nyali jika seperti ini jadinya.
"Pacarmu itu manis sekali, Kawan.", pria yang Jungkook identifikasi sekitar umur 30 tahunan itu hendak menyentuh Taehyung melewati pundaknya. Untung, Jungkook bergerak cepat menepis tangan berotot penuh tattoo itu.
"Jangan sentuh dia!", bentak Jungkook hampir meninju orang itu namun sebelum hal itu terjadi, Taehyung telah menggenggam erat lengan Jungkook.
"Kau orang Korea?", suara berbahasa Jepang itu kembali terlontar. Jungkook sudah sejak tadi mengutuk keadaan dan lelaki bertatto itu hanya karena intimidasi yang menguar dan ketidakmampuannya untuk mengertikan segala bahasa Jepang dalam konversasi itu.
"Kami hanya ingin kembali ke asrama atlet.", Taehyung berucap dengan suara yang bergetar di balik pundak Jungkook. Kedua netra Taehyung menatap sosok kekar itu ragu-ragu dari balik surainya yang menutupi sedikit netranya.
"Oh, asrama atlet rupanya. Anak muda memang selalu melanggar aturan, bukan?"
Jungkook menatap sosok kekar menakutkan itu dengan padangan sengit. Sosok kekar itu memutari tubuh kedua insan yang berpegangan erat itu. Netra keduanya diam-diam mengukiti arah putaran si lelaki besar bertatto itu. Hingga, betapa Jungkook terkejut ketika Taehyung raib dari genggamannya, berpindah tangan pada lelaki besar tadi.
"Sial apa yang kau lakukan?", Jungkook langsung bergerak cepat ketika dilihatnya Taehyung ada di dalam kekangan anggota geng sialan itu.
Detik selanjutnya yang terjadi adalah dirinya malah terkukung di dalam genggaman 2 lelaki sejenis lainnya, sesama anggota geng. Habis sudah riwayat hidupnya. Jungkook memberontak sekuat tenaga tapi siapa yang pernah bilang satu lebih baik dari dua? Bahkan kehilangan satu orang pun, Jungkook perlu pengganti.
"Lepaskan dia, Brengsek!", teriak Jungkook.
Lalu apa Jungkook pikir sosok tadi peduli dengan teriakan dan kata-kata kasar dari dalam mulutnya? Tidak sama sekali. Yang ada, Jungkook hanya dianggap pengganggu semata.
"Lepaskan mereka, dasar bedebah!", suara itu meraung dari dalam kegelapan. Suara barion berbahasa Jepang yang jelas bukan terlontar dari Taehyung apalagi Jungkook.
Segala atensi teralihkan menuju ke arah kegelapan gang. Ada seorang sosok, membawa sesuatu yang panjang entah itu balok kayu atau besi di tangannya. Terjadi begitu cepat hingga Taehyung dan Jungkook mampu melihat sosok berbaju putih dengan rahang tegas dan wajah sengit mendekat. Sebuah bat berwarna biru navi di tangannya, urat-urat punggung tangannya menyembul seakan siap mendeklarasikan perang.
"Jimin…", lirih Taehyung.
Sebuah pukulan bat pertama dihadiahi Jimin pada dua orang yang mengukung Jungkook. Cukup tiga kali hantaman untuk membuat keduanya bertekuk lutut di bawah kebuasan seorang Jimin. Jungkook berdiri ketika Jimin sudah mendekati Taehyung dengan bat di tangannya. Sebuah pukulan cepat dihadiahinya pada pinggang lelaki kekar itu. Seketika saja, sosok itu tersimpuh di depan kaki berotot Jimin yang terbalut celana training. Jimin segera menarik Taehyung ke dalam pelukannya, mendekapnya penuh kehangatan bercampur rasa khawatir.
"Kau tidak apa-apa, kan?", bisik Jimin di sela-sela helai surai Taehyung.
Dirasakannya Taehyung menggeleng pelan di dalam pelukannya. Indra pendengaran Jimin mendengar langkah cepat yang terseret-seret dari tiga lelaki geng tadi menjauh dari mereka. Selanjutnya ia merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya dan langsung membuatnya membalikkan tubuhnya dan mengeratkan pegangannya pada bat di genggamannya.
"Sudah lihat apa yang kau lakukan, Tuan Jungkook?"
"A….Aku sungguh tak tahu apa-apa. Ini bukan niatku untuk masuk ke dalam gang seperti ini. Jika aku tahu akan seperti ini maka–"
"Banyak omong kau, Sialan!", bentak Jimin dengan batnya yang nyaris terayun ke tubuh Jungkook namun segera dihadang oleh Taehyung.
"Jimin, kumohon jangan perpanjangan masalahnya.", lirih Taehyung yang menatap nanar dan memohon pada lelaki berbaju putih itu.
Jimin dengan ego yang masih ingin memukuli Jungkook hingga mati, mau tak mau harus dengan terpaksa menurunkan bat itu. Giginya menggeretak kesal dengan tatapan sengit, sama seperti pandangan yang ia berikan pada anggota geng itu.
"Jangan kau pernah menyentuh Taehyungku lagi. Atau kau akan dapat balasan yang lebih mengerikan dari apa yang bisa kulakukan hari ini, Jeon Jungkook.", ujar Jimin final.
Detik selanjutnya, Jungkook hanya mampu memandang nanar bagaimana Taehyung ditarik oleh Jimin menjauh darinya menuju jalan besar. Sungguh, Jungkook masih membatu seakan otaknya terbakar di tempat. Dirinya tak hanya pecundang dalam bermain di gedung tadi, bahkan untuk hal yang memerlukan keahlian bertarung pun, Jungkook masih dicap pecundang. Ini memalukan harkat dan martabatnya. Terlebih lagi, ia hampir membuat Taehyung terluka tadi.
"Maafkan aku, Tae."
[-]
Korea Selatan
"Ada hal yang ingin kusampaikan padamu."
Sosok namja yang berdiri di depan sebuah jendela itu tak menoleh sedikit pun pada asal suara bass tadi itu. Tubuhnya tinggi, tegap dan berselimut pakaian high class seperti jasi hitam dan kemeja putih hingga bermandikan cahaya mentari yang mulai terlalu terik. Persetan, ia sedang tak ingin mendengarkan apa yang entitas itu akan tuturkan, ia juga punya gemelut pemikiran bagai benang –atau tepatnya syaraf- kusut di dalam benak jeniusnya. Toh, rekan yang merangkap sepupunya itu hanya berucap 'ingin' bukan 'harus'.
"Pertandingan baseball Jungkook akan dilaksanakan 2 minggu lagi, tanggal 8 Juli."
"Apa peduliku?", Namjoon bahkan membuka mulutnya tak sampai 1 sentimeter, menyebabkan suaranya tak terdengar cukup jelas; jangan lupakan pula suara serak khas pagi hari yang menyerang pita suara Namjoon.
Si hyena, Jackson, pengawal yang disegani segala makhluk –tepatnya entitas-entitas perusahaan- itu mengedikkan bahu merasa segalanya hanya hal sepele. "Hanya informasi. Aku akan datang ke sana untuk menemui sahabatku, Mingyu.", ujar Jackson seraya mengambil sebuah pematik dari dalam jasnya setelah menyisipkan sigaret di deretan giginya.
Namjoon berbalik seraya melepas kacamatanya, kemudian mengantonginya di dalam saku kemejanya. Surai kecoklatannya sedikit tersenggol jari jemari panjang, kurus, nan lentiknya. "Aku tak mengerti apa esensimu membicarakan tentang ini. Ini bukan hal yang aku ingin dengan di pagi hari. Aku butuh-"
"Well, Mingyu menawarkanku 2 tiket. Aku bicara seperti hanya jika kau ingin ikut. Jika tidak, yaa… aku pergi sendiri dan baik-baiklah di rumah tanpaku.", asap akromatik mengepul dari dalam mulut Jackson tatkala ia angkat bicara.
Setelahnya, terdengar suara pertemuan hak sepatu kulit hitam Namjoon yang bertemu dengan lantai sejenak sebelum benar-benar terhenti di hadapan Jackson yang terduduk santai di sofanya. Singa itu hendak mengaum bahkan mencekik hyena hanya saja kedestruktifannya masih belum mencapai ambang batas. Hanya saja hal itu cukup untuk membuat nyali Namjoon terpacu hingga dirinya mematikan sigaret yang masih mengepulkan asap itu hanya dengan sebuah genggaman tangan besarnya.
"Sudah kukatakan padamu, Jackson Wang. Aku. tidak. akan. pernah. peduli. dengannya walaupun ia mati sekali pun."
Jackson menepuk pundak sepupunya itu dengan seringai yang menantang adrenalin destruktif namja di hadapannya. "Santai saja, Sayang. Aku tak memaksa sama sekali. Cobalah untuk sedikit mengerti maksudku. Tak usah terlalu sensitif."
Jackson bangkit dari duduk tenangnya, menatap sengit Namjoon walau ia tak bermaksud mengundang perang antara dirinya dan sepupunya itu. Ini hanya sekadar bagaimana terlihat sok serius dan keren di saat yang bersaman. Jackson cinta hal-hal seperti itu.
"Aku pergi dulu, Pak Bos."
Setelahnya, tungkai kakinya mengarungi jalan singkat menuju pintu keluar dari ruangan pribadi milik Namjoon itu. Ah sial, dadanya sesak sekarang. Ini pertama kalinya ia menghisap sigaret setelah terakhir kali diingatnya ia menghisap benda laknat itu saat SMA, dan perlu dicatat bahwa hal itu terjadi atas tekanan kelakuan destruktif seorang Namjoon.
"Apalah yang aku lakukan. Tapi yang tadi itu sangat keren. Tak masalah aku harus mendongak ketika bicara dengannya, tadi itu sangat sengit.", ucap Jackson seraya terbatuk-batuk.
Sejujurnya tadi itu aku takut jika ia akan meninjuku dengan tangannya sendiri, batin Jackson namun ia menyembunyikan gidikan ngeri di tengkuknya itu.
Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulutnya yang secara sempurna menguarkan aroma asap rokok. Lihatlah, ada sedikit abu yang bersarang di jasnya, membuatnya ia harus ekstra hati-hati untuk membersihkannya atau itu akan berbekas sepanjang hari.
"Tapi setidaknya dengan melakukan itu, ia punya atensi untuk mendengar sesuatu tentang Jungkook. Hey ayolah, semestinya Jungkook berterimakasih padaku karena aku menjadi perantara mereka.", gumam Jackson dengan senyuman sumringah penuh kebanggaan pada dirinya sendiri.
[-]
Jepang
"Kudengar kau pergi bersama Jungkook kemarin malam? Bagaimana bisa malah pulang bersama Jimin?", tanya Hoshi yang tengah menggulung beberapa perban dan memasukkannya ke dalam kotak kesehatan.
Tanpa menoleh, Hoshi tahu bahwa rekan kerjanya itu menghela nafas.
Taehyung yang berdiri di depan sebuah lemari besar berisi segala macam jenis obat-obatan yang disediakan oleh pusat hanya bisa memasang wajah muram. Ia ingin melupakan hari mengerikan semalam tapi malah diingatkan kembali oleh Hoshi. Sialnya, bahwa faktanya otaknya menolak untuk lupa kejadian semalam. Berkat kejadian itu, Taehyung memilih untuk tidak pergi sarapan bersama tim Korea Selatan dan berakhir hanya makan biskuit di ruangan unit kesehatan Korea Selatan.
"Ceritanya panjang. Kalau kau ceritakan, kau pasti akan tidur lagi.", cemooh Taehyung walau dengan wajah muramnya.
"Kau meledekku lagi sekarang."
Sebuah ketukan di pintu unit kesehatan terdengar, mengunggah sebuah pertanyaan di benak Taehyung. Tidak biasanya ada orang-orang yang memilih untuk mengetuk pintu dibanding langsung membukanya dengan liar seperti apa yang tim Korea Selatan dan Jimin lakukan biasanya. Sosok Taehyung yang telah memakai jubah putih khas kedokteran itu mendekati pintu tapi saat ia membuka pintunya, tak ada siapa pun di luar sana. Sebaliknya, sebuah boneka kelinci putih bertelinga merah muda yang sangat tak asing baginya tengah duduk di kesetnya. Tak ada catatan di sana tapi ia tak perlu itu untuk tahu dari siapa boneka itu. Sebuah seringai yang indah terpampang di wajahnya saat ia membungkuk untuk mengambilnya.
Tersembunyi di bagian sudut lorong, Jungkook tersenyum.
TBC
HALLOOOO! So, here I am. Aku udah selesaiin chapter ini yeay *tebar bunga dan confetti*. So, how is it, guys? Membosankankah? Gaje? Maksain? Kecepetan? Atau gimana nih? Put your review down below yah… Jangan lupa follow dan favorite kalau kalian memang suka FF ini. Love you guys and see u at next chapter. Bye bye *lambai-lambai bareng author Jilan dan Jimin oppa*
