Mata sapphire itu menerawang jauh ke atas, berpikir.
"Bagaimana menurutmu, Naruto?"
Naruto memiringkan kepalanya sedikit dan menggumam tidak jelas, "Eengg..."
Uchiha sulung itu menunggu dengan sabar tanggapan dari Naruto, sahabat adiknya yang super alim atau Anak LIma Monyet – eh, bukan. Lupakan. Itu garing sekali.
"Ide bagus, Itachi-nii! Sepertinya ini akan berhasil!", ujar Pemuda blonde itu kemudian.
Mendengarnya pun seorang Itachi Uchiha tersenyum lebar. Tidak sia-sia ia habiskan uangnya untuk menraktir Naruto 5 mangkok ramen.
What the..? © Random98
NARUTO © Masashi Kshimoto
Genre : (sementara ini masih) Frendship/Humor
Warning:
AU School Life, Little BL, OOC luar binasa, Typo everywhere, bahasa amburadul, humor garing kreskres, author muncul seenak udel dalam cerita, acak-acak, icik-icik, lililililii~ (?)
Rated : T
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Happy Readiing~~
.
.
Chapter 2 : Exhausted Day.
"Sudah sampai, Tuan muda."
Sasuke sedikit tersentak mendengar kalimat dari supir pribadinya itu. Ia pun bergerak menggenggam tasnya dan keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada si supir. Kasian si supir. Namun, mau bagaimana lagi?
Uchiha stay cool~
Saat ia membuka pintu mobil, terdengar suara gaduh di luar. Seperti..
"Eh, itu Sasuke-kun!.. Wah, Sasuke-kun baru datang!.. Oh, Prince of Konoha Gakueen~", dan lain sebagainya.
Lalu, saat ia mengeluarkan sebelah kakinya..
"Wah, keren sekalii!.. Itu pasti sepatu Sasuke-kun! Aku tahu itu!.. Ya, warnanya hitam mengkilap! Ukurannya 39! Panjang kaki 24,9 senti!" – Oke, yang terakhir lumayan mengerikan untuk didengar Sasuke.
Dan tibalah saat ia menampakkan seluruh tubuhnya dari dalam mobil, saat-saat yang memiakkan telinga.
"KYAAAA! SASUKEE-KUUUN~!... DAISUKI, SASUKE-KUUN!.. I LOVE YOU, SASU-KUUUUN~!.. MENIKAHLAH DENGANKU, SASUKEEE!"
– tunggu, yang terakhir itu.. jeritan laki-laki?!
Seketika Sasuke mencari orang gila mana yang telah melamarnya. Kepalanya menoleh kesana-kemari untuk mencari si pelaku, dan matanya juga melotot horor. Tangannya pun telah disiapkan untuk meninju sang pelaku sampai planet Pluto yang sudah dihapus dari susunan tata surya itu.
"Ohayou, Temeee! Kau baru datang ya?", sapa Naruto yang juga baru datang.
Namun, Sasuke tidak menggubris. Ia masih penasaran dengan orang yang telah melamarnya secara misterius itu. Kepalanya masih sibuk mengintai bagaikan cctv.
Naruto mengikuti arah pandangan sahabatnya itu, "Ng? Kau mencari siapa?"
Merasa telah dibodohi, Sasuke pun akhirnya menghentikan acara pengintaiannya. "Tidak, bukan siapa-siapa.", jawabnya singkat, padat dan jelas.
Lalu, sepasangan–eh.. eng, tunggu, itu benar. Mereka sepasang sahabat. Ya, sepasang sahabat itu pun memasuki gedung sekolah dengan diikuti oleh para fansgirl Uchiha Sasuke, sampai kelas. Oh, jangan lupa suara histeris. Bahkan, mereka terus mengikuti sampai sang bintang meletakkan pantatnya di kursinya.
Huft.. untung saja, Sasuke tidak sampai diterkam. Ah, Sejauh ini tepatnya, belum.
"Kyaa, Sasuke-kun! Kau keren sekalii~", ujar salah satu fans dengan geliat badan seperti orang cacingan. Oh, fans ini – yang sialnya bagi Sasuke – sekelas dengannya, jadi dia masih mengikuti sampai nanti bell masuk berbunyi, biasanya.
Seram? Menurut Author juga begitu.
"Keren? Sepertinya sahabatnya ini juga keren kan'?", sahut Naruto yang tiba-tiba narsis. Ia meletakkan telunjuk dan jempolnya di bawah dagu, lalu berusaha tersenyum se-cool mungkin.
"Kau itu apa-apaan sih, Naruto! Menjijikkan!", dan fans itu pun pergi menjauh.
Naruto melotot, "Sial, kau! Awas ya kalau kau suka padaku!"
Diam-diam Sasuke tertawa.
"Kenapa kau tertawa, teme?!"
"Karena lucu, dobe!"
Pemuda dengan kulit tan itu berdecak sebal, "Seharusnya kau berterima kasih padaku, teme! Kalau aku tidak berkata seperti itu, perempuan itu pasti sekarang sudah menerkammu!"
Sasuke sedikit menimang perkataan Naruto, "Baiklah, terima kasih."
"Memang seharusnya begitu!"
Ting tong! Ting tong!
Anggaplah itu bell masuk yang menandakan kegiatan belajar segera dimulai.
"Wah, bell. Ayo, teme! Kita harus cepat ganti seragam atau push up 1000 kali!", ujar Naruto mengingat bahwa pelajaran pertama kali ini adalah Olahraga yang dibina oleh Maito Gai.
Tunggu, jangan berpikir kalau pemilik nama itu belok! Atau, kau harus push up 2599 kali!
Seperti sebuah takdir, dua sahabat itu masih berdampingan sampai saat ini. Dalam suasana senang maupun susah, suka maupun duka – eh, tunggu! Bukan seperti dalam janji pernikahan maksudnya. Yang dimaksudkan di sini adalah posisi mereka yang berdampingan, dalam artian sejajar atau segaris atau bersampingan. Mereka akan memulai pemanasan sebelum mulai olahraga.
"Hitungan.. Mulai!"
"1.. 2.. 3.. 4.."
"Kyaa! Sasuke-kun sedang pemanasaan!"
Yaah, seperti itulah kira-kira suara selingan saat hitungan pemanasan. Bahkan, di kelas yang menghadap keluar lapangan, banyak siswi yang menempel di kaca – bagaikan cicak – untuk melihat si Pangeran Konoha Gakuen yang sedang berolahraga.
Weish, Uchiha terkenal~
Naruto menatap sekelilingnya atau lebih tepatnya ke arah fansgirl Sasuke –yang sepertinya sudah gila itu – dengan keringat dingin, "Hey, Sasuke."
"Hn?"
"Apa kau tidak merasa takut ditatap dengan 'mata lapar' seperti itu, setiap harinya?", tanya Naruto terheran plus ketakutan.
"Bukankah setiap hari kau juga melihatnya?", sahut Sasuke enteng.
Oh, ya. Sasuke benar. Seharusnya Naruto juga sudah terbiasa. Yaa, you know well-lah~ Mereka tidak terpisahkan dari bangku TK, bahkan sampai ajal menjemput – mungkin?
Kalian yang mungkin para Fujo, Author memiliki feeling kalau kalian sedang mengamini kalimat di atas.
"Yaa, benar juga sih. Tapi kan..", Naruto mengganti posisi tubuhnya sesuai dengan gerakan, ".. tetap saja mengerikan. Menurutku."
"Hn."
Dan keduanya kembali fokus pemanasan, karena sang guru sedang memperhatikan mereka.
"1.. 2.. 3.. 4.. 5.."
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali saat sesuatu melintas dalam pikirannya, "Agak mengerikan ya.", gumamnya kemudian.
"Apanya?", tanya Sasuke yang mendengarnya.
"Ng.. Aku berpikir, bagaimana kalau kau juga memiliki fansboy."
Alis Sasuke seketika menukik tajam. Kesalahan besar ia bertanya tadi.
"Pasti kalau sedang pemanasan seperti sekarang, mereka akan berseru.."
Sasuke tidak akan bertanya dan tidak mau tahu seperti apa.
'2.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. Cukuup!', seharusnya hitungannya seperti itu, tapi menurut penemuan dalam otak Naruto adalah..
"Sa-su-ke-kun.. Sa-su-ke-kun! Kyaaa!"
Dan pada detik itu juga Naruto menjadi pusat perhatian teman sekelasnya. Sedangkan, yang diteriaki – yaitu Sasuke – sukses tercengang dengan mulut terbuka.
Oh, ingin sekali Sasuke bakar hidup-hidup sahabatnya itu. It's so.. akh, Damn! Kenapa harus ada jeritan seperti itu?! Bahkan, Naruto tanpa menjerit saja suaranya sudah lumayan nyaring! Bagaimana kalau gurunya–
"Yosh! Karena pemanasan sudah selesai, kita mulai pelajaran hari ini!"
Sasuke menghela nafas, ternyata gurunya tidak mendengar.
"Sasuke, tangkap!"
Pemuda Uchiha itu sontak menangkap handuk kecil yang dilemparkan Naruto. Berlari 5 putaran lapangan cukup membuat keringatnya keluar banyak, "Thanks..", gumamnya.
"Kyaaa! Sasuke-kun keren ya saat berkeringat?"
"Iya, dia terlihat sangat atletis! Kyaa~"
"Ototnya juga pasti sixpack!"
"Juga sangat menggodaa~!"
"Kalau aku pacarnya, pasti sudah kugerayangi dia."
Dan Sasuke seketika menghapus semua keringatnya sebelum diterkam oleh macan betina jadi-jadian, lalu ia pun pergi ke ruang ganti. Semua itu dilakukan dengan cepat, mengingat hal tersebut juga berpontensi membahayakan nyawanya.
Susah ya jadi orang tampan? Apalagi, memiliki fans yang seperti itu.
Ya tuhan..
"Kubilang juga apa, Fans-mu itu menyeramkan!", ujar Naruto yang menyadari bulir-bulir keringat dingin pada tubuh Sasuke saat mereka mengganti pakaian.
Sang Prince hanya mendengus lelah, ia kembali mengelap keringatnya hasil menyelamatkan diri.
Hening beberapa saat.
"Tapi, Sasuke.."
Sasuke tidak menyahut, hanya terus mengancingi kemeja sekolahnya.
"Apa kau tidak pernah tertarik kepada salah satu di antara mereka?"
"Tidak.", jawab Sasuke cepat.
Oh, ayolah, Naruto! Bagaimana bisa Sasuke tertarik dengan perempuan semacam itu? Apa kau tidak kasihan dengan sahabatmu nantinya, jika sampai berpacaran dengan fansnya sendiri? Sasuke pasti bisa habis di tangan pacarnya sendiri, dan itupun dengan tidak elit.
Ingat ucapan fans Sasuke tadi? Tidakkah itu sangat extrem?
"Kalau dengan perempuan yang bukan fansmu?"
Sasuke berpikir sebentar, "Entahlah.", jawabnya jujur.
Yaa, mau bagaimana lagi? Nyaris setiap kali ia bertemu dengan manusia bergender perempuan, pasti orang itu seketika 'meleleh' dan bertingkah seperti fansnya.
"Kau serius? Bagaimana dengan artis wanita? Atau penyanyi mungkin?"
"Aku tidak begitu tertarik dengan artis atau penyanyi wanita."
Dan tanpa Sasuke ketahui, wajah Naruto kini sudah pucat berkat semua jawabannya.
'Tidak! Pasti itu semua bohong! Aku akan mencari tahu dengan cara Itachi-nii!', batin Naruto tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Sasuke tadi.
Naruto mengerang, ia masih tidak percaya dengan semua kata yang terlontar dari mulut Uchiha Sasuke setelah ia menanyakan tentang ketertarikannya terhadap lawan jenis atau perempuan dan/atau wanita– lagi.
"Kau bohong, Sasuke! Sekarang, mengakulah padaku! Kau pernah menyukai siapa saja?!"
"Sudah kubilang tidak ada, dobe! TIDAK ADA!", jawab Sasuke frustasi.
"Tidak mungkin! Aku tidak percaya dengan jawaban itu!"
Sasuke berdecih ria, "Kau pikir aku peduli apakah kau percaya atau tidak?"
"Tapi aku peduli! Ini tentang keselamatanku!"
Sasuke tidak menggubris, sudah terlalu emosi dan lelah. Seharian full nyawanya terancam dengan kelakuan gila para fansnya, dan sekarang ia di'guyur' pertanyaan dari Naruto mengenai ketertarikannya. Benar-benar.. Hah, Sudahlah. Sasuke juga kadang tidak mengerti jalan pikiran sahabatnya sendiri.
Eh, tunggu, kenapa Naruto bilang ini menyangkut keselamatannya?
Sasuke hendak membuka mulutnya untuk bertanya. Tapi, masih kalah cepat dari Naruto, "Katakan padaku, Teme!"
"...", dan akhirnya ia mengatupkan kembali bibirnya. Sudahlah, Sasuke. Sudahlah.
"Sasuke!"
Pemuda dengan marga Uchiha itu mengalihkan pandangannya kesamping, menghindar dari tatapan Naruto.
'Aku harus menggunakan cara itu.', batin Naruto kemudian memutuskan. Yaah, walaupun sebenarnya ia sedikit grogi bercampur malu untuk melakukan sesuatu seperti itu. Imej laki-laki jantannya pasti akan tercoreng. Pasti.
Naruto menghela nafas.
Baiklah, tidak apa, ini hanya sekali. Toh, sekarang ia ada di dalam mobil, hanya Sasuke dan sang supir yang akan melihatnya. Demi rasa ingin tahunya. Demi misinya. Demi dirinya. Demi keselamatannya. Oke.
"Katakan padaku, temee!", desak Naruto untuk kesekian kalinya.
"..."
"Oi, katakaan!"
Sasuke berdecak.
"Sasuke!"
Akhirnya yang disebut namanya – dengan kesal – kembali menoleh ke arah Naruto, "Harus kubilang berapa kali kalau TIDAK A–"
Naruto menggoyangkan dadanya dengan wajah memelas seraya berkata, "Katakaaan~!"
Seketika Sasuke merinding disko melihat adegan tersebut.
Ada apa ini? Apa kiamat sudah dekat?
"Sasuke kumohoon~", kali ini Naruto justru memasang wajah 'cute' dengan mata – yang entah bagaimana bisa – berbinar dan nada suara yang jauh lebih feminim dibanding yang sebelumnya.
Mata Sasuke pun membulat sempurna. Ia LUAR BIASA SYOK. Bahkan, ia tidak sadar kalau jantungnya berhenti selama 2 detik.
Apa dunia sudah terbelah menjadi dua?
Beberapa menit kemudian setelah tingkah Naruto yang di luar batas kenormalan..
Naruto melambaikan tangannya di depan wajah Sahabatnya itu, "Sasuke? Kau baik-baik saja?", tanyanya yang mulai khawatir.
"..."
"Temeee!"
Sasuke masih membatu, posisinya masih sama dengan sebelumnya. Tubuhnya yang tegap menegang dengan mata terbuka lebar.
"Oi, Sasuke! Sadarlah, Sasuke!"
"..."
Naruto mengguncang tubuh sahabatnya itu, "Sasukeee!"
Bruuk! Namun, akhirnya tubuh itu tumbang begitu saja.
Naruto mengacak-acak rambutnya, "Aaakh! Aku tidak akan menggunakan cara itu lagii!"
Hanya ada satu hal yang ingin saya katakan untuk Sasuke jika sudah seperti ini : beristirahatlah, nak.
AN : Hah, otak Author sudah rusak karena terlalu keras berpikir adegan humor, tapi hasilnya hancur. Itu aja yang terakhir nyontek dikit drakor *plaak!* . Aih, Author khilaf. Author gak bisa memperpanjang ceritanya di chapter ini. Mungkin chapter depan baru bisa. Terima kasih sudah sudi membaca fic gaje ini. Kritik, saran, dan komentar silahkan disumbang di kotak review yaa? *ngarep*
Nyambung review : Oh ya, terima kasih ya buat AprilianyArdeta, zadita uchiha, Himawari Wia, Calpa-chan, Aiko Michishige, dan .1 yang udah me-read, review, follow atau mungkin me-fave ff ini. Arigatou Gozaimasuu~ Aku jadi semangat ini, wkwkwk.. ^/^ sebenernya, fanfic ini aku mau bikin BL cuma kepleset jadi humor (?) jadi yaa, rencananya BL-nya aku mau taro di akhir chapter~ Hwakakakak.. /tawamacamapaitu?-_-/ trus, soal Naruto, yaa, entah kenapa dia saya bikin sangat konyol di sini. Maaf ya kalo terlalu ._.
Sedikit cuplikan dari chapter 3 : Naruto's Game!
"Astagaaa! Kenapa biseksual sangat GILA?!"
"Kau pikir aku tertipu?! Dasar bodoh!"
"Aaaaaakh! Maafkan aku, Sasuke! Aku menyesaaal!"
Sekian, see you next chapter? :3
.
.
Sign, Random98.
