Itachi melotot tidak percaya mendengar penjelasan Naruto, "Kau serius?"
"Iya! Aku tidak mau menggunakan cara itu lagi! Itu membuat harga diriku jatuh, Itachi-nii!" tolak Naruto panjang-lebar mengenai hasil menjalankan misinya.
"Yasudah, kita pakai – tunggu, rupanya kau punya harga diri?"
Seketika Naruto menampar Itachi. Plaak!
"Sudah jelaskan saja, cara apa yang kita gunakan untuk mencari tahu!" ujar Naruto yang sedang kurang ajar dengan kakek –eh, pria di hadapannya.
"Sial.", rutuk Itachi seraya mengelus pipinya yang sukses ditampar, "Yasudah, kita pakai cara lain. Aku sudah menyumbangkan ide kemarin, sekarang gantian kau!" lanjutnya.
Mata biru Naruto melotot, "Dan aku juga yang menjadi 'eksekutor'nya?"
"Mau bagaimana lagi?" sahut Itachi acuh tak acuh.
Oh, Naruto menyesal menjalankan misi aneh ini. Misi untuk menyelidiki kenormalan Sasuke Uchiha yang menurut kakaknya TIDAK PERNAH TERTARIK DENGAN PEREMPUAN.
Haah.
"Cara apa lagi ya?"
What the..? © Random98
NARUTO © Masashi Kshimoto
Genre : Frendship/Humor.
Warning:
AU School Life, Little BL, OOC luar binasa, Typo everywhere, bahasa amburadul, humor garing kreskres, bila ada kesamaan SUNGGUH itu sebuah ketidak sengajaan.
Rated : T
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Happy Readiing~~
.
.
Chapter 3 : Naruto's Game!
Naruto mengerutkan dahinya menjadi berlipat-lipat. Mata birunya bergerak ke kanan lalu ke kiri, membaca sebuah artikel di internet. Bibirnya juga bercuap-cuap tidak jelas seperti membacakan mantra.
'Coba kubaca yang ini.' batinnya seraya meng-klik sebuah link yang muncul.
Setelah acara berunding dengan Itachi, pemuda blonde itu memilih untuk seraching. Mencari ide untuk melanjutkan misinya besok. Pertama, ia mencari artikel dengan judul 'Tidak pernah menyukai wanita selama 17 tahun.', dilanjut dengan fanfic temuannya dengan tema 'Tidak pernah menyukai perempuan' yang belum selesai dibaca karena memiliki banyak chapter, lalu artikel kesehatan tentang 'kelainan seksual', dan 'bagaimana ciri-ciri seseorang yang memiliki kelainan seksual.'
Sekarang, ia tengah membaca 'bagaimana cara mengetahui jika seseorang itu biseksual.'
Oh, tentu saja ia tidak lupa menutup rapat kamarnya saat melakukan hal ini.
'Untuk mengetahui kelainan tersebut anda bisa bertanya langsung.'
Naruto seketika melotot membaca kalimat tersebut, "Aaakh, Mana bisa seperti itu?! Kalau aku bertanya, aku bisa mati di tempat!" ujarnya frustasi kemudian.
'Atau Ikutilah pesta yang bertempat di klub yang ada di sudut kota, waktunya dimulai tengah malam sampai jam 4 pagi, tepat pada tanggal 31 dan hanya terdiri dari laki-laki. Biasanya para biseksual akan berkumpul di pesta dengan ciri-ciri seperti itu.'
Naruto menggaruk tengkuknya, "Uh.. Petunjuk yang kurang jelas. Lagipula, dengan umur 17 tahun seorang biseksual sepertinya tidak boleh ikut."
Jari telunjuknya lalu kembali meng-scroll mouse.
'Ketertarikan seseorang juga dapat diketahui dengan menatap matanya selama waktu sekitar 60 detik dan berkediplah beberapa kali. Jika orang tersebut menghampiri anda atau membalas kedipan anda, maka ia sudah jelas belok dan menyukai anda.'
"Ap-hey! Pembuat blog ini sudah gila ya?!"
'Jika anda berminat, bisa klik pada link ini untuk informasi lebih lanjut, atau hubungi nomor saya pada 0xxxxxxxxx. Dijamin anda akan mendapat pasangan yang pas.'
"AAAAAKKH, SIAAL! TERNYATA PEMBUAT BLOG INI GAY!" jerit Naruto syok. Super Double Extra Syok, karena ia telah membaca artikel yang dibuat langsung oleh seorang gay. Bahkan, secara langsung ia telah diajak untuk datang ke pesta laknat itu.
Oh, sial sekali Naruto.
Lalu dengan kecepatan kilat dan tekanan yang kuat pada mouse, Pemuda berkulit tan itu menutup laman –bejad nan nista binti abrsud– tersebut, dan tinggal-lah laman fanfic yang dibukanya dengan tab lain.
"Hah, sebenarnya aku masih ingin mencari petunjuk lain dari cerita ini tapi, kenapa chapternya banyak sekali? Memangnya se-seru itu ya?" gumam Naruto entah pada siapa. Namun, akhirnya ia tetap melanjutkan membaca fanfic tersebut.
Yaa, walaupun ada beberapa hal yang ia tidak mengerti dan terus-menerus disebutkan dalam fanfic. Yaitu, istilah 'seme - uke' yang belum juga – atau tidak? – dijelaskan dalam fanfic. Apa mungkin memang tuntutan dalam membaca fanfic seperti ini perlu mengetahui dua makna dari kosakata itu?
Ah, kenapa Naruto tidak mencarinya saja?
Kembali, Naruto membuka tab baru dan mengetik 'Seme dan Uke' dalam kotak search. Kali ini ia bersumpah akan lebih hati-hati saat membuka link. Jujur, pemuda dengan mata sebiru langit itu menjadi paranoid dengan laman seperti yang sebelumnya. Yang gay itu. Ah, sudahlah, lupakan saja.
"Seme itu penyerang? Uke itu penerima serangan?" gumam Naruto ketika menemukan jawabannya pada suatu blog, "Hmm.. Seperti permainan olahraga–eh, tunggu, kenapa namanya bukan striker saja? Kan' lebih keren." komentarnya kemudian.
Uh.. walaupun sebenarnya, perlu dipertanyakan juga kenapa nama julukan striker lebih keren daripada seme.
Lalu, Naruto berganti pada kalimat berikutnya, 'Seme akan cenderung bersikap agresif dibandingkan Uke. Karena itu, seme disebut sebagai penyerang.'
Pemuda polos itu mengangguk-anggukan kepala setelah membacanya.
'Tindakan agresif tersebut bisa berupa kontak tubuh, seperti berciuman.'
Kali Naruto melotot, ia kembali mengalami syok, "APA?!"
Takut kalau tulisan ke bawah semakin absurd atau nista, akhirnya Naruto kembali membaca fanfic biseksual itu. Namun, bukan jiwanya menjadi tenang, ia kembali syok karena si tokoh utama yang menyandang status 'seme' melakukan 'serangan'nya pada si 'uke' dengan berciuman.
"Astagaaa! Kenapa biseksual sangat GILA?!" ucapnya setengah merutuk.
Dan akhirnya Naruto Uzumaki memilih untuk berhenti mengakses internet – yang entah kenapa menjadi sangat melelahkan karena terus memacu jantung.
Pemuda berzodiak libra itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, tidak ada pergerakan berarti yang ia lakukan. Hanya dadanya yang naik-turun – karena bernapas – dan matanya yang menyapu langit-langit kamarnya, sambil berpikir cara selanjutnya yang akan ia gunakan.
Bagaimana pun juga, ia juga sangat ingin tahu apakah sahabatnya itu penganut aliran belok atau bukan.
Beberapa saat kemudian, Naruto mendapat ide yang – menurutnya – bagus, ia lalu dengan sigap mendudukkan dirinya, "Aku punya ide!" ujarnya girang, dan dengan rasa bangga ia mulai menjalankan idenya itu.
Sasuke tetap diam, ia tidak mengatakan apa-apa sejak kejadian aneh itu.
Berbeda dengan si pelaku, ia terus menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya, "Ayolah, Sasuke, percayalah padaku! Aku hanya berusaha memojokkan-mu waktu itu dan.. yaah, entah kenapa caranya jadi seperti itu." jelas Naruto untuk kesekian kalinya.
Dua biji onyx milik Sasuke bergerak ke samping, menghindari sapphire milik Naruto.
"Aku sungguhan, temeee!"
"..."
"Kalau kau ingin bukti, tataplah mataku, Sasuke! Lihat kesungguhanku!"
Sasuke seketika jawdrop mendengar kalimat itu.
"Temeee!"
Sasuke tetap diam.
"Demi susu Akamaru, Sasuke! Aku tidak tahu kalian sedang mempermasalahkan apa tapi, katakan saja 'Ya'! Sahabatmu itu mulai berisik!" protes Kiba Inuzuka tiba-tiba, maklum dia adalah orang berada paling dekat dengan dua sejoli sahabat itu.
Sasuke menatap si pelaku, dan kembali jawdrop.
Entah kenapa Naruto sekarang terlihat seperti anak kecil yang putus asa dan akan menangis karena tidak dibelikan lolipop. Wajahnya di tekuk ke bawah, bibirnya manyun, matanya sedikit berair, dan cairan bening dari hidungnya – kelihatan – bersiap untuk meluncur. Euh..
Sasuke sebagai korban akhirnya menghela napas kasar dan memilih menyerah, "Terserahlah."
Bagaikan anak kecil yang kegirangan, Naruto melompat dan bertepuk tangan – walaupun, hanya sekali – lalu berkata, "Baiklah, sebagai gantinya aku akan menunjukkan sulap!"
Dalam hati Sasuke berdo'a, semoga hal-hal aneh tidak kembali terjadi, atau lebih tepatnya karena dilakukan oleh Naruto.
Pemuda blonde itu merogoh sakunya dan menunjukkan ponselnya pada Sasuke, "Lihat ini baik-baik! Kau pasti akan terkesan, Sasuke." ucapnya berlagak seperti seorang pesulap.
Tidak mau kembali dikomplen, Sasuke akhirnya memperhatikan dengan raut wajah datar. Sebenarnya ia juga tidak berminat.
"Dalam hitungan ketiga, benda ini akan mengeluarkan sesuatu. Yang tidak pernah kau pikirkan."
"..."
"Lihat baik-baik."
Sasuke berkedip, entah kenapa ia menjadi khawatir. Apalagi, nada bicara sahabatnya itu terdengar sangat dalam.
Jangan-jangan ponsel itu akan mengeluarkan makhluk siluman? Seperti rubah berekor sembilan, mungkin? Karena Sasuke selalu tidak menggubris saat Naruto bercerita tentang betapa mengerikannya makhluk itu.
Dan sulap yang akan dilakukan oleh Naruto pun menjadi mengerikan – bagi Sasuke Uchiha.
Naruto mulai memainkan tangannya di sekeliling ponselnya, "Satu.."
Sasuke terus memperhatikan.
"Dua.."
Sasuke menahan napas tanpa sadar.
"Tiga!"
Triiiiing~! Lalu, muncul-lah simbol vendor ponsel Naruto yang tidak akan disebutkan oleh Author.
Hening. Sasuke hanya menatap layar ponsel di depannya, sedangkan Naruto terus menanti reaksi dari Sasuke.
"Kau pikir aku tertipu?! Dasar bodoh!" bentak Sasuke kemudian.
Yah, berbohong sedikit demi melindungi harga diri boleh-lah~
"Ehehehehe..." Naruto menyengir lima jari. Andai ia tahu apa yang sesungguhnya ia lakukan tadi. Membodohi pangeran sekolah yang berotak jenius. Hebat.
Pemuda Uchiha dengan model rambut nyentrik – yang tidak akan disebutkan se-nyentrik apa karena suatu alasan – itu memegangi keningnya. Pusing.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?
"Ah, iya! Ada lagi, teme!"
Dengan berat hati, Sasuke mengadahkan kepalanya lagi untuk melihat kekonyolan sahabatnya sendiri.
Naruto menunjukkan beberapa foto kepadanya, sebelah mata biru dengan bermacam-macam tatapan, "Lucu kaan-nyaan? Tebak, mata itu milik siapa?"
Sasuke membuka mulutnya, hendak menjawab. Namun, Naruto menahannya, "Jangan asal tebak! Lihat ini baik-baik!" selanya seraya menjejalkan posnelnya kepada Sasuke.
Beberapa kali Sasuke membolak-balikkan foto-foto tersebut dengan malas.
"Lucu kaan~?" tanya Naruto untuk kedua kalinya.
Sasuke berpikir sebentar, "Ya, lumayan." jawab Sasuke akhirnya.
Naruto terdiam sesaat, bukan reaksi seperti itu yang ingin ia dapatkan, "Sungguh?"
"Ya. Tapi, kalau begini caranya kau memfoto hewan, ini dinamankan penyiksaan."
"Eh?"
"Ini mata kucingmu itu kan? Yang namanya si–oh, Miica?"
"Bukan, itu.." Naruto menengguk ludahnya. Sebenarnya, tebakan yang ingin ia dapatkan juga bukan seperti itu. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, "Mataku."
Sasuke seketika kehilangan kata-katanya, dan batinnya hanya ber-'Hah?'
Untuk kedua kalinya di pagi ini, Sasuke kembali tertipu dengan permainan konyol Naruto. Oh, Sasuke kalah telak.
'Huh? Apa tadi aku mengiyakan kalau mata Naruto itu terlihat lucu?'
'Uke adalah sebutan untuk orang yang menyandang status 'penerima serangan' dalam biseksual. Sedangkan, yang menjadi 'penyerang' sebutannya adalah 'seme'. Ciri-ciri untuk 'uke' adalah..'
Sasuke melotot membaca rentetan kalimat tersebut. Bahkan, mulutnya terbuka lebar tanpa sepengetahuan siapapun.
Ini menyangkut kejadian saat ia dan Naruto pulang sekolah tadi..
Flashback On.
"Sasuke.."
"Hn?" sahut Sasuke tanpa menolehkan kepalanya. Ia terlalu sibuk membaca untuk ulangan besok. Fisika. Ia harus menghafal semua rumus mulai sekarang.
"Sasukee.."
Kali ini yang dipanggil malas untuk menyahut.
"Apa benar itu kau, Sa..suke?" ucap Naruto mirip dengan orang yang baru sadar dari koma.
"Hentikan itu Naruto! Jangan bertingkah seperti itu di depanku dan JANGAN menggunakan namaku, itu menjijikkan!" sembur Sasuke yang sudah merasa dongkol.
"Aku kan' hanya latihan drama, teme! Aku dapat peran! Berbeda denganmu yang hanya jadi figuran!" balas Naruto.
"Aku tidak peduli itu! Tapi, aku terganggu, dobe! Aku sedang konsentrasi sekarang!"
Naruto berdecih, "Dasar orang pintar."
Sasuke tidak menggubris, ia terus membaca. Walaupun, hatinya merutuki kenapa kelasnya harus menampilkan drama saat festival budaya. Stand makanan 'kan lebih peran untuk Naruto pula. Ini menyebabkan sahabatnya itu mulai – terlihat – gila karena terlalu antusias.
Hey, Sasuke, kau sebenarnya merasa terusik atau iri?
Setelah hening beberapa detik..
"Sasuke, ada yang ingin kutanyakan padamu.."
"..."
"Sa-su-kee~"
"Apa?" jawabnya malas.
Naruto pun kembali berakting, "Apa benar kau Sa.. su..uke?"
Sasuke sektika melotot, "Urusaii!"
Dan ia benar-benar terganggu dengan latihan drama yang dilakukan Naruto.
Flashback Off.
Oh, Sasuke Uchiha juga masih sangat terganggu sampai malam ini, atau tepatnya sampai ia menemukan suatu blog yang membahas istilah 'uke'. Ia jadi benar-benar merasa tersinggung –eh, bukan. Tersinggung adalah untuk orang yang merasa kalau ia memang seperti yang disebutkan tapi, Sasuke tidak. Ia merasa ter.. entahlah, yang jelas ia tidak suka dipanggil seperti itu.
Jari-jari panjang nan putih milik pemuda penggemar tomat itu bergerak dengan cepat di atas layar sentuh ponselnya, mencari nomor Uzumaki Naruto untuk dihubungi.
Sasuke bersumpah akan menyembur Naruto habis-habisan setelah sahabtannya itu mengangkat teleponnya.
"Halo? Ada apa, teme? Tumben kau menelponku?"
Inilah saatnya.
"Apa yang kau katakan pulang sekolah tadi?"
"He? Apa?" tanya Naruto balik dengan nada innocent.
Sasuke masih cukup sabar untuk menyadarkan Naruto atas kesalahannya,"Kau masih ingat memanggilku bagaimana saat pulang?"
"Oh! Saat latihan itu? Hmm, sepertinya dialognya itu 'Apa benar kau Sa.. su..' "
Hening. Naruto tidak melanjutkan kalimatnya.
Dahi Sasuke mulai berurat, "Kau sudah ingat, eh?"
"..." Naruto tidak menjawab, karena wajahnya sudah terlalu pucat saat menyadari kesalahannya. Apalagi, suara sahabatnya itu juga terdengar menyeramkan nan sangat horor. Seolah sedang mendendangkan lagu kematian dari seberang sana.
"Dan jangan bilang kau tidak tahu apa maksud dari sebutanmu itu, dobe."
Salah tebakan Naruto kalau Sasuke tidak tahu apa itu 'uke'. Apa ini artinya..? eh, tidak! Naruto harus meminta maaf terlebih dahulu.
"Aaaakh! Ma-maafkan aku, Sasuke! Aku menyesaaal!" ujar Naruto kemudian.
"Kalau kau melakukan itu sekali lagi, akan kucincang habis tubuhmu! Mengerti?!"
Naruto bergidik ngeri, "Ti-tid–eh, Iya!"
Sasuke mendengus, ia nyaris naik pitam – lagi.
"Ka-kalau begitu, Ma-maafkan aku ya? A-aku.." Naruto menengguk ludahnya, ia terlalu takut membayangkan raut wajah Sasuke yang sedang murka, "A-aku tadi ti-tidak sengaja, Sa–"
"Kau mau mengatakannya lagi?"
"Ti-tidak! Aku tidak akan me-mengatakannya la-lagi Sa-sa.." Naruto semakin sulit mengucapkan nama Sasuke, ia menjadi semakin gugup, "Sa-sa.. Sasu.. Sa-su..uke –EKH?!"
"NARUTOOO!"
~To be Continue~
AN : Dan begitulah chapter 3~! Ja-jaaang! Haaah, akhirnya bisa update lagi setelah ada beberapa kesibukan di RL saya. Aihihi.. Oh ya, chapter ini lebih panjang dari chapter sebelumnya, lohh~ Gimana suka enggak? Enggak? Yaudah, gpp. *kemasin barang, lalu tidur* /gaknyambung-_-/ saya sebelumnya minta maaf, loh, kalo ada kemiripan sama fanfic lain. Ini berkat iseng-iseng ngolah nama 'Sasuke', wkwkwk.. tadinya mau 'Sa-seme' tapi agak aneh jadi yaa.. yaudah. :x
Nyambung Review :
zadita uchiha Naru salah langkah gara-gara Itachi sih, wkwkwk.
.1 Haha.. emang ketebak banget si Itachi. Biar ketebak, semoga tetep suka ya~ :3
Aiko Michishige Aku dipanggil 'kak'? Aaaa~ *guling-gulingan lebay* Yosh, ini udah dilanjut. Semoga suka yaa~
Chic White Aaa, salam kenal juga Chic White-san! ^^ Eng, ternyata salah ya pake tanda koma? Baru tau saya, maklum amatiran. Makasih ya udah dikasih tau ^^ trus, kalo boleh jujur, sebenernya aku naro ff ini di genre humor dalam rangka nekat sih *plaak!* semoga chap ini bisa bikin mesam-mesem lagi deh, wkwkwk.
Aulia 1299 *ikutan pukpuk Sasuke* Yaa, begitulah nasibnya di ff ini.
SNlop Ya, ini next-nya .-.
Jasmine DaisynoYuki Gokil? Masa? '_' *plaak!* err, sankyu. Ini chapter 3-nya, semoga suka ya~
Oke, sekian cuap-cuap dari saya. Terima kasih, semua yang sudah membaca, mereview, memfollow, dan me-fave yang tak bisa sebutkan satu-satu. Sankyuu very mmuuaacchhh~! *lalu dibakar masa* Eh, Ta-tapi, saya lebih semangat lanjutin lagi ka-kalau para reader juga meninggalkan jejak di-di kotak review buat chap i-ini~ :3 *sok malu-malu kucing, lalu dicakar anjing* (?)
Sedikit cuplikan chapter 4 : Prince and His Adjutant
"Kita lakukan negosiasi!"
"DIAAAM!"
"Oke! Kalau begitu sudah disepakati, peran pangeran akan dimainkan oleh Uchiha Sasuke dan peran yang lain tidak ada perubahan!"
"Oh, jadi kau ingin jadi 'uke'nya? Baiklah."
Aaaand, See you next chapteer~? ^^/
.
.
Sign, Random98.
