"Tolong aku, Itachi-nii! Adikmu akan membunuhkuuu!"

Itachi seketika menjauhkan ponselnya dari telinga, "Aduh, kau berisik sekali. Memangnya ada apa? Kenapa Sasuke ingin membunuhmu?"

Naruto lalu menceritakan bagaimana ia menjalankan misi anehnya, sedetail-detailnya.

Sedangkan, Itachi tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Bahkan, bulu hidungnya nyaris menyapu lantai, "Astaga, Naruto! Itu cara terjenius yang pernah aku dengar! Hahahaha.."

"Kenapa kau masih bisa tertawa, Itachi-nii?! Ayolah, ini tentang hidup-matinya diriku!" protes Naruto tidak terima.

Itachi tidak menyahut, ia masih berusaha untuk meredam tawanya.

"Itachi-nii!"

"Baiklah, baiklah, tenang saja, Naruto. Aku akan bertanggung jawab atas nyawamu demi misi ini. Slow down~" ucap Itachi menenangkan.

"Bagaimana bisa?! Nyawaku teran–"

"Kubilang SLOW DOWN, Naruto. Kau masih hidup besok, pasti!"

What the..? © Random98

NARUTO © Masashi Kishimoto

Warning:

AU School Life, Little BL, OOC luar binasa, Typo everywhere, bahasa amburadul, humor garing kreskres, efek suara diketik italic.

Rated : T

.

.

Happy Readiing~~

.

.

Chapter 4 : Prince and His Adjutant.

Mungkin menyatukan dua orang yang sedang bertengkar hebat sama sulitnya dengan mencari anak babi di kandang harimau, alias mustahil. Tapi, hal itu tidak seberapa bagi Itachi sebagai putra sulung keluarga Uchiha yang – perusahaannya bertaburan di Jepang dan – wajib memiliki skill problem solving di atas rata-rata. Laki-laki berusia 24 tahun itu cukup mudah mengatasi pertengkaran 'uke' – dinamakan begitu karena kata'uke'lah penyebabnya – antara Sasuke dan Naruto. Ia hanya perlu mengantar sepasang sahabat masa kecil itu berangkat sekolah dan melakukan negosiasi yang adil.

"Cih, untuk apa kita mengajak dia segala?" tanya Sasuke sewot begitu mengetahui bahwa kakaknya justru mampir ke rumah keluarga Uzumaki. Apalagi, Itachi juga mengetahui pertengkaran antara ia dan Naruto.

"Aku ingin membantu kalian berbaikan. Karena itu, aku berbaik hati mengantar kalian dengan jaguar-ku." Jawab Itachi enteng.

Dan untuk kedua kalinya si putra bungsu Uchiha itu berdecih ria. Isi kepala Itachi memang lumayan sulit untuk ditebak.

Tuk. Tuk.

Itachi menoleh ke samping bangku kemudi, dan mendapati Naruto sudah berdiri di sana, "Masuklah, Naruto." Ucapnya singkat.

Naruto pun membuka pintu di hadapannya, "Gomen-ttebayo, aku a–"

Sasuke tidak merasa kalau ia sedang melemparkan deathlarge pada Naruto.

"A-aku.. a.. akan jalan kaki saja. Terima kasih atas tawarannya.", dan Naruto secepat kilat menjauh dari mobil mewah itu.

"Oi, tunggu! Naruto!" cegah Itachi secepat mungkin. Ia pun dengan sigap keluar mobil dan menarik paksa Naruto untuk masuk ke dalam mobilnya.

Sepasang onyx Sasuke mendelik, sedangkan mata sapphire Naruto menatap ketakutan. Namun, dua bocah SMA itu dengan kompak berseru,"Itachi–"

"Kita lakukan negosiasi!" potong Itachi cepat.

Si bocah rubah berkedip, sedangkan si bocah muka teflon mendengus.

"Sebenarnya, bermain keberuntungan sih." Lanjut Itachi seraya menggaruk tengkuknya.

"Apa?!" dan untuk kedua kalinya, Sasuke dan Naruto dengan kompak menyerukan hal yang sama.

"Aku akan memberi pertanyaan dan kalian harus menjawab dalam waktu 5 detik dengan benar. Kalau Sasuke yang menang, maka Sasuke boleh sepuasnya balas dendam kepada Naruto dan sebaliknya. Jika, Naruto yang menang, maka dia berhak bebas. Seperti yang kubilang, ini soal keberuntungan. Bagaimana?" jelas Itachi panjang-lebar.

Well, ini sebenarnya sangat jauh dari kata negosiasi.

"Kau bilang akan menjamin nyawaku? Lalu, bagaimana kalau aku kalah, Itachi-nii?!" jerit Naruto yang mulai frustasi. Ia sama sekali tidak tahu dengan rencana Itachi ini.

Laki-laki dengan tanda lahir keriput itu mengangkat bahunya, "Aku hanya seorang Itachi Uchiha, dan caraku menjamin nyawamu adalah lewat keberuntunganmu."

Wajah Naruto seketika bertambah pucat.

"Lalu, kau akan menjebakku dengan pertanyaan yang kau rancang bersama Naruto, heh?" tuduh Sasuke kepada Itachi.

"Kalau aku telah merencanakannya dengan Naruto, kenapa ia harus menjerit seperti tadi? Dan kenapa wajahnya pucat seperti ini?" tanya Itachi seraya menunjuk wajah Naruto yang memang masih pucat karena ketakutan.

"Cih, bisa saja kau sudah melatihnya untuk berakting." Sergah Sasuke.

Naruto tersentak saat dirinya ditunjuk, "A-aku tidak tahu apa-apa soal ini-ttebayo! Sungguh!"

Sasuke mendengus.

"Sudahlah, Sasuke, ini sangat mudah. Tergantung bagaimana kau mengenal dirimu sendiri. Bagaimana? Aku hanya akan memberi satu pertanyaan."

Sasuke diam sebentar, berpikir. Kata-kata Itachi berputar di kepalanya, Tergantung bagaimana kau mengenal dirimu sendiri. Hmm.. Sasuke tahu apa yang diinginkannya, ia tahu persis kemampuannya, dan ia tahu apa yang menjadi kelemahannya. Pasti dia bisa menjawab pertanyaan Itachi.

Ah, lalu kenapa ia berpikir segala?

Putra bungsu Uchiha itu mendengus sebelum akhirnya menjawab, "Terserahlah."

"Bagaimana denganmu, Naruto?"

Naruto mengulum bibirnya sesaat, "Ba-baiklah."

Itachi tersenyum, "Yosh, kita akan mulai."

Dan Sasuke mulai fokus menatap Itachi. Ia pasti bisa menjawab pertanyaannya.

"Dimulai dari.." Itachi menatap dua bocah SMA di hadapannya, "..Naruto!"

Yang disebut namanya nyaris kejang-kejang di tempat.

Tanpa babibu Itachi langsung mengeluarkan pertanyaan dengan cepat, "Apa itu Naruto?!"

"Na-naruto.. eng.. Naruto.." dengan susah payah pemuda blonde itu berpikir.

"3.. 2.."

"Bakso ikan-ttebayo!"

"Benar!" sahut Itachi, lalu ia beralih pada adiknya dan kembali memberikan pertanyaan dengan cepat, "Apa itu Sasuke?!"

Sasuke melotot, "Ap – pertanyaan macam apa itu?!"

"3... 2.."

"Hey! Baka-nii!"

"1! Kau gagal, Sasuke! Naruto yang menang! Dia berhak bebas!"

Naruto menjerit girang, "Yeaaay!"

Sedangkan, Sasuke menggeram, "Itachii?!"

"Apa?" sahut Itachi dengan tampang watados.

"Ini tidak adil, bodoh! Anak bayi juga tahu kalau Naruto itu bakso ikan!"

"Dan orang tua juga tau kalau Sasuke itu nama pemimpin distrik Konoha ke-3."

Sasuke termenung. Jadi yang dimaksud arti namanya?

"Benar 'kan? Nama Naruto memang dari makanan bakso ikan itu, sedangkan namamu dari tokoh politik Sasuke Sarutobi?"

Tanpa sadar Sasuke menjambak rambutnya frustasi. Disamping keberuntungannya yang buruk sepertinya, kecerdasan Sasuke Uchiha juga sudah menurun drastis.

Itachi tersenyum licik tanpa sepengetahuan adiknya, lalu menepuk pundak Sasuke pelan, "Sudahlah, sesekali kau mengalah. Lagipula, biar pada namamu terselip kata 'uke' tapi, di dalamnya terdapat harapan yang besar dari Ayah dan Ibu. Mereka berharap kau bisa menjadi seseorang yang kuat dan hebat seperti Sasuke Sarutobi. Kau mengerti, Sas..uke?"

"DIAAAM!"

Ting! Tong! Ting! Tong!

Bell masuk pulang pun berbunyi, menandakan jam belajar mengajar telah usai. Namun, para murid belum pulang seluruhnya. Apalagi, saat ini sudah mendekati festival budaya sekolah yang disambut dengan sukacita oleh semua murid, khususnya kelas 2-C yang akan menampilkan drama.

Setiap anak yang mendapatkan peran berlatih dengan giat, termasuk Naruto. Dia akan berperan sebagai ajudan pangeran dalam drama kelasnya yang berjudul 'Cindy Love Story'. Ceritanya tidak jauh dari dongeng yang sudah mendunia yaitu, Cinderella.

"Ikutilah kata batinmu, Pangeran. Karena, hidup kita ada di tangan kita sendiri."

Sasuke Uchiha nyaris muntah di tempat melihat raut wajah Naruto saat mempraktekkan dialog tersebut di hadapannya. Bukan wajah bijak, tetapi wajah menahan buang air yang Naruto perlihatkan. Setidaknya begitulah menurut Sasuke.

"Ah, dialognya salah! Seharusnya 'kata hati', bukan 'kata batin'" ucap Naruto saat kembali melihat teks dramanya, "Kucoba sekali lagi, kalau sala–"

"NO!" potong Sasuke cepat, "Aktingmu membuatku mual, bodoh!"

Raut wajah Naruto seketika murung, "Kau tega sekali, teme. Aku 'kan baru latihan."

Sasuke hanya memutar bola matanya. Ia masih kesal atas kekalahannya.

"Selamat siang, semuaaaa!" sapa wanita dengan surai berwarna ungu dan bermata coklat yang baru saja memasuki kelas, diketahui ia bernama Konan. Guru termuda dengan usia 24 tahun, cantik, baik nan ramah. Idaman murid laki-laki. Dia adalah guru kesenian yang akan membimbing kelas 2-C dalam latihan drama.

Seketika para murid langsung duduk di tempatnya masing-masing, "Siaang, senseei!"

"Konan-sensei, kita akan mulai latihan 'kan? Aku sudah hafal dengan lagu dan dialognya!" ucap gadis dengan rambut vanila dan bermata violet, Shion Miiko. Dia yang akan berperan sebagai Cindy alias tokoh utamanya.

"Ah, soal dramanya, sebenarnya akan ada perubahan. Tema yang kalian ambil sudah banyak digunakan kelas lain. Jadi, kita harus menggantinya."

Semua murid – kecuali Sasuke – pun mengeluh, "Yaaah.."

"Tapi, tenang. Aku sudah menentukan tema dan jalan ceritanya. Ini tidak akan mengubah banyak dari tema yang sebelumnya." Kata Konan menenangkan.

"Lalu, akan seperti apa, sensei?"

"Kita akan memainkan drama dengan cerita BL!" jawab guru pembimbing tersebut engan wajah sumringah nan cerah.

Krik. Krik.

Hening. Tidak ada satupun murid yang mengerti apa yang dimaksud gurunya.

"Ah, maksudku, Boys Love. Ya, itu maksudku, drama dengan cerita Boys Love."

Beberapa kedipan mata kemudian..

"HEEEEEEE?!" jerit seisi kelas terkejut, kali ini Sasuke Uchiha termasuk di dalamnya.

"Boys Love? YAOI?!"

"Yang benar saja, sensei?!"

Konan menggaruk pipi putihnya, "Eng.. Yaaah, kita bisa mendobel genre humor di dalamnya. Jadi, ceritanya tidak seperti drama romantis pada umumnya."

"Aku pernah membaca cerita seperti itu sih, yaah, seru. Aku suka. Tapi, aku tidak yakin jika dijadikan drama, memangnya bisa?" ungkap Sakura Haruno, murid pinky yang sangat terkenal.

"Sepertinya bisa, Sakura. Lagipula, biasanya kalau dari teks diubah menjadi drama akan lebih bagus." Sahut murid dengan model rambut chinese, Tenten.

"Um! Aku setuju! Apalagi, tema seperti ini belum ada yang menampilkan. Kita pasti bisa menarik lebih banyak penonton!" ujar Ino Yamanaka antusias.

"Huu..! Dasar fujoshi!" cibir Kiba.

Ino mendelik tak suka, "Cih, lihat saja kalau dramanya sukses! Dan siap-siap saja kau menjadi fudanshi setelahnya!"

"Heh, dapat penonton banyak darimana? Di kelas kita siapa yang mau berperan menjadi seorang GAY?! Pikiiir!"

Ino melirik Sasuke dan Naruto yang duduknya segaris di baris paling ujung, "Yah, untuk menarik banyak penonton sih kita 'kan punya..."

Kiba bungkam setelahnya, ia tidak setuju juga tidak menolak ide Ino.

Toh, chermisty di antara dua orang yang dimaksud itu sudah bagus.

Konan yang menyadari arah pandangan muridnya itu langsung menepuk tangannya, "Ide bagus, Yamanaka-chan!" ujarnya girang, lalu ia menatap si pangeran sekolah, "Uchiha-san.."

Sasuke langsung merasakan hal buruk akan menimpanya. Kiamat sudah dekat, Sasuke.

"Bagaimana kalau kau yang menjadi pangerannya?"

"Ti–"

Sakura mengangkat tangannya, "Tunggu, sensei! Bagaimana ceritanya?" selanya.

"Oh iya, jadi akhir ceritanya diubah. Ternyata sang pangeran tidak tertarik dengan perempuan, lalu selama jalan cerita kita akan lebih banyak menampilkan si pangeran."

"Hoo.. lalu, si pangeran tertarik dengan siapa, sensei?" tanya Ino kemudian.

"Hmm... bagaimana kalau ajudannya?"

Seketika Naruto berdo'a kalau ia akan digantikan perannya.

"Ide bagus, sensei!"

"Hmm.. Sepertinya menarik."

Dan dua insan manusia di dalam kelas itu mengeluarkan suara layaknya orang asma. Ya, tentu saja Sasuke dan Naruto. Sedangkan, yang lainnya – khusus bagi yang laki-laki – hanya bernapas lega karena bebas dari peran nista dalam drama tersebut.

"Aku akan membuat ulang narasinya!"

"Aku mencari ide humornya!"

Konan tersenyum lebar, "Oke! Kalau begitu sudah disepakati, peran pangeran akan dimainkan oleh Uchiha Sasuke dan peran yang lain tidak ada perubahan!"

Seketika Sasuke berdiri dari kursinya dan matanya membulat sempurna, "WHAT THE..?!"

Oh, ingin sekali rasanya Sasuke mengadu kepalanya dengan meja sampai terbelah menjadi dua. Ini penghinaan. Ia berperan sebagai seorang GAY?! Mau dibawa kemana harga dirinya sebagai keturunan elit Uchiha, sebagai ranking satu sekolah, sebagai pangeran sekolah, dan sebagai makhluk Tuhan paling tampan?

Err, Walaupun, ada satu lagi title yang perlu ditambahkan yaitu, makhluk Tuhan paling narsis.

"Hoaam.. Cepatlah. Jadi, siapa yang akan menjadi 'seme' dan siapa yang akan menjadi 'uke'?" tanya Shikamaru Nara untuk kesekian kalinya dengan malas. Ia terlihat tidak peduli dengan keadaan dua temannya yang ada di hadapannya.

Dan tetap tidak ada jawaban.

Sasuke tidak mampu mengangkat kepalanya, sedangkan Naruto sudah tidak bergerak semenjak perannya disepakati tidak berubah sebagai ajudan alias pasangan aseksual si pangeran. Pemuda rubah itu seolah telah disihir jadi patung, terlihat ia menatap langit dengan mata kosong.

"Kalian harus bersabar, Sasuke, Naruto. Aku tahu ini sangat mengguncang mental kalian, tapi ini demi kelas kita." Ucap Chouji simpatik kepada teman sekelasnya itu.

Braak!

"Mudah saja bicara, gendut! Ini soal harga diri sebagai laki-laki!" seru Sasuke setengah berteriak. Terlihat sekali kalau api emosi masih berkobar di dalam dirinya. Sangat bahaya kalau menghadapi orang dengan keadaan seperti itu, apalagi ia seorang Uchiha.

Seketika chouji bungkam. Ia tahan emosinya sementara karena ia telah dikatai 'gendut'.

Shikamaru menghela nafas, "Sudahlah, kalian 'kan hanya berperan. Yang memiliki penyimpangan seksualnya itu pangeran dan ajudannya, bukan kalian. Lalu, kenapa kalian harus tertekan seperti akan mati besok?"

Sasuke menatap Shikamaru horor, "Kau.."

"Intinya, yang diuji di sini adalah kemampuanmu dalam berakting, Uchiha. Apa kemampuan aktingmu sangat buruk sampai kau begitu frustasi?"

Putra bungsu Uchiha itu hanya berdecih ria. Ternyata sifat saingan beratnya lumayan menjengkelkan. Berakting bukanlah hal besar untuknya. Bahkan, ibunya saja pernah mendapatkan penghargaan drama musikal waktu SMA. Yaa, siapa tahu ia menuruni bakat tersebut.

"Sudahlah, untuk mempercepat pembagian, salah satu dari kalian harus bantah kalimatku." Usul Shikamaru kemudian.

"Maksudmu, Shika?" tanya Chouji yang tidak mengerti.

Shikamaru menghela napas, "Mendokusei.. Misalnya Naruto ingin menjadi 'seme', lalu aku akan bilang 'uke' dan Naruto harus membantah kalimatku dengan mengucapkan kata 'seme' berulang kali. Jika dia membantah dengan kata 'seme' terus maka dia yang akan menjadi 'seme'." Jelas Shika panjang-lebar.

"Ooh.."

"Oke, siapa yang akan jadi 'seme'nya?"

Dan Sasuke mengacungkan tangannya. Ia sudah lelah dipanggil 'uke'.

Shikamaru berkedip sesaat. Ia tidak tahu kalau ternyata temannya itu berminat menjadi-eh, berperan sebagai seorang gay maksudnya, "Baiklah, kau akan menjadi 'uke'nya."

"Seme." , dan Sasuke mulai membantah.

"Uke."

"Seme."

"Uke."

"Seme."

"Uke."

"Seme."

"Seme."

"Uke – Ekh!?"

Shikamaru menyengir.

Chouji yang bertugas mencatat pun merespon, "Oh, jadi kau ingin menjadi 'uke'nya? Baiklah."

Sasuke dengan cepat menahan tangan Chouji yang mulai bergerak untuk menulis, "Tidak! Aku salah bicara! Aku seme–ah, maksudku aku akan berperan jadi semenya!"

Siiing.

Hening sesaat. Ketiga sosok di hadapan Sasuke hanya menatapnya dengan mata bulat.

"U-uh.. baiklah, Sasuke akan menjadi 'seme'nya dan Naruto akan menjadi 'uke'nya." Simpul Shikamaru kemudian.

Naruto seketika gelagapan mendengarnya, "Tunggu! Tapi, aku tida–"

"Cukup, Naruto. Aku tidak ingin membahas ini lagi, mendokusei.." potong Shikamaru.

"Sakura, Sasuke akan menjadi semenya dan Naruto ukenyaa!" seru Chouji tak lama kemudian kepada Sakura yang bertugas sebagai pembuat narasi drama.

Seketika seisi kelas menatap Sasuke dan Naruto dengan pandangan 'wah'. Naruto tidak dapat mengatakan apa-apa, sedangkan Sasuke menepuk dahinya keras.

Lalu untuk apa si gendut itu membawa catatan?!

Si gadis pinky itu tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya, "Oke!"

Dan dua hari kemudian, Sasuke dan Naruto sudah mendapat narasi mereka masing-masing. Ah, Sakura benar-benar bersemangat plus tidak sabar melihat akting yaoi Sasuke dan Naruto. Tidak sabar melihat drama yang berjudul 'The Prince and His Adjutant'

~To be Continue~

A/N : AAAKH, KELAMAAN UPDATE LAGIII! MAAF YA! MAAF! MAAF! MAAF! *bungkukin badan berulang kali* huhu.. Maaf saya gak bisa update kilat ya, minna (TT_TT) Dan beginilah chapter eeeeeeemmpaaatt! Horeee! *lalu tepuk tangan sendiri* /ngenes/ Di chap ini ada kalimat yang terinspirasi dari sebuah iklan yang paling saya ahemdongkolahem, juga ada scene yang terinspirasi dari fandom sebelah yang isinya cowok-cowok sixpack. Mwehehehe.. *lalu ditabok masa karena sering seenak udel ngambil scene ciptaan orang* oke, lanjut ke Nyambung review :

zadita uchiha : ciuman? *tampang melongo* Aiih, kenapa kamu bilangnya baru sekaraaang?! Aaaah~ *gulingguling* (inimahkesalahansendiri-_-) okelah, lain kali saya pikir mateng-mateng deh. Terima kasih udah me-review dan semoga chap ini suka ya~ :3

.1 : Hehehe.. Syukur deh kalo kamu suka. Semoga chapter ini juga kamu suka ya dan terima kasih sudah me-review~ :3

ApriliannyArdeta : Eyahahaha.. begitu deh. :p Terima kasih sudah me-review ya~

85 : Katanya lucu, aduh makacih yaa~ :3

Kucing Merah : A-aku dijilat.. A-aku.. *sokgemeteran* Eh, sorry-nyan aku gak bisa update kilat chapter ini. Tapi, bakal ku-usahain deh buat chapter berikutnya Terima kasih sudah me-review-nyaan~

Guest : Yupz! Buat feel-nya bakal aku banyak tunjukin di chapter depan deh! Karena itu, baca terus yaa! *kedipkedipngerayu* dan Terima kasih sudah me-review yaa~

Arin : Ehehehe... Souka? *authormesamesem* Oke, makasih ya semangatnyaaa~ Reviewnya juga^-^ Ini chapter 4, semoga humornya gak kurang yaa :3

Oke, sekian dari saya, maaf bila terlalu panjang cuap-cuapnya ya. Semoga para pembaca merasa tidak dirugikan setelah membaca fic ini. Dan terima kasih buat semua yang sudah sudi membaca, meng-fave dan meng-follow ya. ARIGATOU GOZAIMASHITA. Jika ada saran, kritik, dan komentar, silahkan masukkan melalui kotak review, hehehe..

Eh, eh, chapter lima udah diupdate juga. Gantinya udah nyaris sebulan gak update tuh. Next gih! :3

.

.

Salam musim semi, Random98.