"Ayo, Sasukee! Semangaaat!"
"Kau bisa, Sasukee!"
"Semangat Narutooo!"
"Naruto, kau yang terhebaaat!"
Dua bocah SMA yang dielu-elukan itu dengan kompak membanting naskah drama mereka masing-masing dan menyahut bersamaan, "URUSAII!"
Seketika seisi kelas 2-C langsung bungkam. Ternyata kalau mereka murka secara bersamaan lumayan seram.
NARUTO © Masashi Kishimoto
Story © Me
Warning:
AU School Life, Little BL, OOC luar binasa, Typo everywhere, bahasa amburadul, humor garing kreskres, efek suara dan mode flashback diketik italic.
Rated : T. Author belom berani bikin yang ratem.
.
.
Happy Readiing~~
.
.
Chapter 5 : Let's Practice!
Setelah gagal latihan seperti biasa di kelas, akhirnya dua pemeran utama dikhususkan untuk berlatih di atap sekolah. Dan sebagai penjaga plus pelatih, ditunjuklah seorang Shikamaru Nara sebagai pemeran sampingan yang memiliki IQ sempurna. Ya, siapa tahu dengan IQ bisa membantu seseorang menjadi ga–eh, berperan sebagai gay maksudnya.
"Hoaaam.. Kalian coba baca dialognya saja dulu? Biasa saja." ucap Shikamaru memberi saran.
"Pangeran, kuda anda sudah siap.", dan Naruto memulai latihan mereka.
"Yaa, boleh juga seperti itu. Cobalah, Sasuke."
Sasuke melihat narasinya, lalu mendengus sebelum akhirnya juga membaca dialognya, "Terima kasih, Jack." Ucapnya sekenanya.
"Nadamu saat berbicara terlalu dingin, Sasuke. Si pangeran itu 'kan semenya, kau harus menunjukkan kalau si pangeran itu tertarik denga–"
"Kau menyarankan untuk membaca, bukan menghayati!" potong Sasuke emosi.
Shikamaru menyilangkan tangannya untuk dijadikan bantal kepalanya, "Aku hanya memberi masukan. Lagipula, kemarin siapa yang ngotot supaya jadi semenya? Mendokusei.."
Si aktor pangeran hanya berdecih ria. Sialan, benar juga perkataan si nanas.
"Sudahlah, teme. Kita lakukan saja, aku yakin dengan cara Shikamaru kita pasti bisa. Demi kelas kita." Ucap Naruto dengan nada melas. Ya, mau bagaimana lagi? Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Oke, lupakan saja kata-kata tidak mutu di atas.
"Jadi, kau pasrah saja dipaksa menjadi gay?!" sahut Sasuke.
Naruto mendelik, "Aku memerankan laki-laki gay dan kau juga, teme!"
"Tapi aku tidak pasrah sepertimu, dobe!"
"Aku tidak pasrah!"
"Lalu, kata-kata tadi itu apa, hah?!"
"Aku menghargai bantuan Shika!"
"Untuk menjadi seorang gay?!"
Emosi karna ritual tidur nyenyaknya diganggu, pemuda dengan IQ 200 itu akhirnya dengan brutal melempar uwabaki kepada dua temannya itu.
Buaak! Buaak!
"Kalian pikir aku juga sudi membantu kalian, ha?! Kalau tidak mau latihan yasudah! Merepotkan..", dan akhirnya Shikamaru pergi meninggalkan Sasuke dan Naruto.
Dua korban uwabaki itu terdiam sesaat.
"Oi, Shika! Uwabaki-mu ketinggalan!"
-garis-
Latihan kedua, masih di atap sekolah dengan Shikamaru sebagai penengah plus pelatihnya. Yaah, walaupun Sakura – sebagai sutradara – dan Ino – sebagai wardobe – harus melalui proses bujuk-membujuk dan tawar menawar imbalan dengan si pemuda nanas itu. Dan kini, mereka sudah memasuki latihan membaca dialog pada bagian yang sangat.. absurd. Mereka – tepatnya, Sasuke dan Naruto – akan menyuarakan isi hati seorang gay.
Shikamaru menggaruk tengkuknya, "Eng.. bagaimana kalau kalian latihan dengan Sakura?"
"Tidak!" sahut Sasuke dan Naruto kompak.
"Tapi, aku tidak begitu tahu untuk adegan.. yang sepert itu." Ungkap pemuda nanas itu setengah jujur. Karena, yang setengahnya lagi adalah ia tidak tahan untuk bergidik jijik dalam waktu yang sangat lama.
Ah, Sasuke sudah merasa sangat frustasi dan muak dan jijik dan ilfeel dan mual – entah kenapa, yang jelas ia tidak sedang hamil – atas peran yang dimainkannya. Pemuda bertitle 'Prince of Konoha Gakuen' itu dengan lemas mendudukkan dirinya, ah, ia juga merasa sangat lelah. Baru membaca dialognya saja sudah begini, apalagi harus berakting?
Hah.
Naruto pun juga melakukan hal yang sama dengan Sasuke, "Lalu, apa yang harus kita lakukan-ttebayo?" tanyanya lesu.
"Aku ingin tidur." Ucap Sasuke kemudian yang mulai memposisikan diri seperti Shikamaru saat melatihnya dan Naruto. Tiduran dengan tangan sebagai bantal dan kaki yang melipat.
Sang pelatih yang ditiru gaya tidurnya pun memprotes, "Hey, kau harus latihan, Uchiha."
"Kau saja sebagai pelatihnya tidak tahu bagaimana harus melatih." Sahutnya enteng.
"Mendokusei.. karena itu aku menyarankan kepada kalian untuk dilatih oleh Sakura. Dia pasti tahu apa yang harus dilatih, karena dia adalah sutradaranya."
"Sudah kubilang tidak, nanas! Kau menyebut dirimu jenius dengan usul seperti itu, hah?"
"Aku tahu kau jenius tapi, itu usul yang logis, chicken-butt!" sahut Shikamaru setengah emosi.
Seketika Sasuke mendelik, "Kau menyebutku apa tadi?"
"Aish.. Sudahlah, sudah. Cuaca sudah sangat panas, kenapa kalian harus memanaskannya lagi? Kita istirahat saja dulu sekarang, sambil memikirkan caranya." lerai Naruto.
Dan akhirnya dua pihak yang tadi sempat adu mulut itu pun menyetujui dengan hembusan napas yang kasar. Naruto pun bersyukur dalam hati, ia kemudian ikut menidurkan diri walaupun tanpa memikirkan cara apapun.
Yang penting 'kan cuaca hati tidak panas.
Beberapa kedamaian hati dan dengkuran kemudian..
Mata Sakura melebar melihat tiga artis pentingnya terbaring lemas, "Oh my.." gumamnya. Lalu, karena khawatir kalau ketiganya tewas karena dehidrasi, Sakura pun menampar mereka sekuat tenaga, supaya meyakinkan.
Plaaak! Plaaak! Plaaak!
"Akh!"
"Aw.."
"I-ittai.."
Seketika gadis pinky itu mengelus dada, lega.
"Sakura-chan, kau 'kan bisa membangunkan kami dengan cara lain." Keluh Naruto seraya mengelus pipinya yang sukses memerah karena tamparan Sakura. Begitu juga Sasuke dan Shikamaru.
"Habisnya kalian seperti orang mati, sih. Aku 'kan jadi khawatir." Kilah Sakura dengan pandangan mata ke arah samping.
"Khawatir itu caranya tidak menampar, mendokusei.."
Dan Sakura menyengir lebar. Ia lalu melemparkan botol minuman dingin kepada Sasuke, Naruto dan Shikamaru, "Bagaimana latihannya? Kalian sudah menguasai sampai mana?" tanyanya kemudian.
"Mereka kesulitan untuk membaca dialog yang sudah berbau BL." Jawab Shikamaru yang membuat dua pasang mata di sampingnya melotot.
Berbeda dengan Naruto dan Sasuke, mata emerald Sakura berbinar-binar, "Benarkah? Bagian yang mana? Bagian yang mana?" tanyanya seraya menatap dua pemain tokoh utama secara bergantian.
Naruto menggaruk tengkuknya, "Eng.. Itu.. Kurasa tidak ada, iya kan teme?"
"Hn. Tidak perlu membantu, kami bisa mengatasinya." Ucap Sasuke yang sudah memiliki feeling buruk kalau gadis di depannya ini akan membantunya berakting menjadi gay.
"Ah, jangan begitu, Sasuke-kun! Sudah menjadi kewajibanku membantu para pemain akting. Jadi, katakan saja dibagian mana kalian mengalami kesulitan!" sahut Sakura dengan nada suara yang sangat bangga.
Bagaimana tidak? Saat-saat seperti inilah yang ia tunggu-tunggu sebagai sutradara.
"Bagian saat Pangeran dan Ajudan bicara berdua mengenai penolakan si Pangeran atas tawaran Raja."
Dan untuk kedua kalinya Naruto dan Sasuke mendelik ke arah Shikamaru.
Sakura menepukkan tangannya sekali, "Oh, yang itu! Baiklah, ayo, biar aku bantu!" tawarnya dengan nada riang, "Dimulai dari membangun chemistry ya, ini akan mempermudah kalian agar tidak terlalu canggung saat akting. Bagaimana?"
-garis-
Oke, Sasuke memang sangat tidak antusias sama sekali, tapi ia merasa bertanggung jawab mengenai perannya dalam drama nista tersebut. Karena itulah, mengingat besok sudah memasuki H-7 festival budaya, ia memilih untuk berlatih dengan sungguh-sungguh, bahkan saat di rumah. Dan perlu diberi garis bawah, bold, italic dan apapun yang menjelaskan bahwa SASUKE MELAKUKAN INI TANPA SEPENGETAHUAN SIAPAPUN. Pemuda dengan model rambut emo itu sadar betul apa akibatnya jika semua orang di rumahnya mengetahui hal ini, apalagi orang tuanya. Ibunya bisa dirawat di Rumah Sakit Jiwa mengetahui anak kesayangannya menjadi seorang gay – Eits, ini dalam arti jika terjadi kesalahpahaman – dan Ayahnya pasti langsung memasung dirinya di kamar seumur hidup karena malu tak tertolong.
Yah, begitulah pemikiran Sasuke setidaknya.
'Dengar, kalian harus melakukan ini dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, maka chemistry antara kalian tidak akan tercipta, dan usaha kalian selama ini pasti akan sia-sia. Oh ya, ditambah lagi kalian akan dijadikan bahan lelucon oleh satu sekolah karena akting kalian yang sangat memalukan. Jadi, lakukan dengan sebaik mungkin, mengerti?'
Dan perkataan Sakura yang sangat logis itu masih terngiang di kepala Sasuke. Baiklah, ia akan berusaha. Demi harga dirinya – yang mungkin akan sedikit tertolong dengan aktingnya yang bagus.
'Pertama, jangan menyela atau menolak pengarahanku. Apa yang aku katakan semuanya serius, walaupun mungkin memang konyol. Tapi, ini akan membantu kalian. Kedua, kalian bisa saling lebih membiasakan diri untuk kontak fisik. Tentu saja, tidak harus seperti orang pacaran, ini bisa dilakukan dengan saling berbicara atau saling tatap muka. Aku yakin, untuk yang satu ini tidak terlalu sulit bagi kalian yang sudah lama kenal.'
Anak bungsu Uchiha itu mendengus mengingat pengarahan Sakura. Sial, tatap muka bagaimana caranya? Masa iya Sasuke harus ber-skype ria dengan Naruto malam-malam begini? Yang benar saja, ia bisa disangka berminat menjadi seorang gay.
Sebentar, pasti ada cara lain..
Sasuke kembali mengingat inti dari pengarahan sang sutradara, 'bisa dilakukan dengan saling berbicara atau saling tatap muka.' dan biji onyx itu membulat sekilas. Ia menemukan sebuah alternatif lain.
Bertatap muka melalui foto juga bisa 'kan? Yang penting ia membiasakan diri melihat Naruto. Yah, walaupun sebenarnya sudah sangat terbiasa. Sangat.
Pemuda dengan tinggi 168cm itu pun beranjak dari kasurnya dan mengambil salah satu fotonya dengan Naruto yang ada di laci meja belajarnya. Ia memilih foto saat mereka liburan musim panas bersama ke Suna. Ah, Sasuke masih ingat kalau ia ke sana karena challenge yang diberikan Itachi.
Malas bolak-balik ke kasur, Sasuke memilih untuk melakukan latihan pribadinya di meja belajar. Lalu, ia pun mulai mencermati sosok Naruto pada foto yang ada di tangannya. Hm, kulit tan, check, 3 garis kumis kucing, check, cengiran lebar, check – tunggu, bukan seperti ini yang diharapkan.
"Hah, sepertinya aku akan tambah gila juga." Gumam Sasuke memprediksi.
Yah, sepertinya memang begitu.
Dan kembali, Sasuke berusaha mengingat arahan konyol dan absurd dari si sutradara, 'Hmm.. kalau sudah saling mengetahui. Yah, membahas apa saja yang sudah kalian hadapi selama ini, mungkin? Biasanya dengan begitu, topik pembicaraan akan semakin panjang dan kalian lebih bisa berinteraksi. Oh, tanpa pertengkaran! Itu wajib!'
Sasuke menghela nafas sesaat. Baiklah, dengan berat hati ia akan melakukan arahan itu. Mengingat kenangannya bersama Naruto Uzumaki.
Uh, bulu kuduk Sasuke sedikit bergoyang. Yasudahlah, tak apa.
Otak cerdas Sasuke pun memutar ingatan, 12 tahun ke belakang. Saat ia dan pemuda yang tercipta dengan sifat konyolnya. Waktu itu Ibunya sedang mendaftarkannya ke Taman Kanak-kanak dan setelah bertemu dengan wanita berambut merah – yaitu Ibunya Naruto – ia dikenalakan oleh Naruto.
"Kenalkan, Sasuke-kun, dia Naruto. Kalian akan menjadi teman."
Dan cengiran lebar ditampilkan oleh bocah bermata sapphire itu, "Hai, Sasuke! Namaku Uzumaki Naruto, salam kenal ya!" ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Sasuke.
Sasuke kecil pun menjabat tangan Naruto, "Hn."
Dan untuk berikutnya Sasuke hanya mengingat bagaimana Naruto terus-menerus mengeluarkan cengiran jika ia melakukan kesalahan. Ah, ralat, sepertinya nyaris setiap saat Naruto menyengir.
"Gomen na, teme. Hehe.."
"Ohayou, Sasuke!"
"Otanjoubi omedeto, teme!"
"Terima kasih, Sasuke~!"
Mata onyx Sasuke berkedip beberapa kali.
Ah, ia masih ingat jelas bagaimana Naruto berterima kasih waktu itu, saat ia membeli isotonik. Begitu imut untuk ukuran laki-laki, dengan mata berbinar-binar, cengiran lebar, dan – entah ini ilusi atau bukan, tapi Sasuke melihat – sedikit semburat merah di pipi Naruto. Tapi, sejauh ini, sepertinya ia belum pernah melihat Naruto sekedar tersenyum. Selalu menyengir.
Dan tanpa sadar, akhirnya Sasuke mengakui Naruto itu imut.
Sasuke menatap sosok Naruto yang ada di foto itu, menyengir juga. Ia lalu menarik lacinya dan mencari apakah diantara foto-fotonya terdapat sosok Naruto tanpa cengiran, hanya tersenyum. Ya, intinya tidak menyengir. Sedang menatap kesal juga boleh. Eh, tunggu, ia juga sepertinya juga belum pernah melihat Naruto murka. Bagaimana biji sapphire itu berkilat marah?
Ah, payah, padahal Sasuke kenal Naruto sudah lebih dari setengah umur mereka.
Dahi Sasuke berkerut samar, foto yang diharapkannya tidak ada. Heran, dari sekian banyaknya fotonya dengan Naruto tidak ada dimana pemuda tan itu tidak menyengir?
Ia pun akhirnya mengeluarkan semua fotonya dan memeriksanya kembali lebih teliti.
Sasuke mendengus, "Kenapa tidak ada?" gumamnya setelah semua foto kembali diperiksa. Merasa sudah lelah dengan apa yang dilakukannya, Sasuke pun akhirnya memilih untuk tidur.
Jadi, hasil dari latihan mandiri Sasuke adalah rasa penasaran bagaimana ekspesi Naruto saat tidak menyengir. Sangat melenceng, jauh dari tujuan awal. Bahkan, bisa dibilang tidak mencapai tujuan.
Yasudahlah.
~ To Be Continue~
A/N : Dan beginilah chapter limaa~ semoga reader suka yaa~ ^-^ saya mau pendek kata aja di bacotan chap ini. mwehehe.. Terima kasih sudah sudi membaca ya. Kalau ada saran, kritik, dan komentar silahkan dicantumkan di kotak Review~ :3 ngarep banget-_-
.
.
Akhr kata, See you next chapter yaa! ^^/
Sign, Random98.
