Sasuke memang berbeda dengan Naruto. Sangat berbeda. Baik dari sifat, ciri fisik, imej di muka umum, makanan favorit, skill dan lain-lain. Tapi, ada satu kesamaan kecil yang akan dilihatkan mengenai suatu hal. Suatu yang tabu bagi seorang laki-laki, yaitu.. Gay. Yah, ini masih soal drama itu. Keduanya boleh berbeda dalam memainkan peran, tetapi soal menggali informasi. Tidak jauh berbeda..

Sasuke tercengang, "A.. apa i-ini?" tanyanya pada diri sendiri.

"Ah.. Fu-uuh.. Ah! He-henti.. kaa-ahn!"

Biji onyx itu membulat sempurna.

"Che, apa kau se-berisik itu?"

Bibir tipis sang Uchiha bungsu terbuka lebar layaknya mulut goa.

"He-hey! Ap–umh!"

"Sialaaaaan!" erang Sasuke seraya membanting Smartphone-nya sendiri, dan tab yang memperlihatkan adegan dojin BoyxBoy R18 itu terbiarkan begitu saja.

.-.-.-.-.-.-.

What The..? by Random98

NARUTO © Masashi Kishimoto

.

Genre : Frenship/Humor

Rated : (still) T

Tenang, otak author masih polos kayak parutan. HAHAHA...

.

Warning :

AU School Life, OOC luar binasa, typo everywhere (efek kemalasan mengedit ulang *plaak!) , bahasa seenak udel, humor garing KRESKRES, inner diitalic, dan banyak penyelewengan lainnya yang mungkin terkandung.

.

^^ Happy Reading ^^

.

.

.

Chapter 7 : Drama ulala~

H-5, sudah saatnya untuk melakukan persiapan lebih ekstra bagi setiap kelas yang akan menampilkan drama. Dan itu artinya, 4 hari lagi sebelum hari kiamat menyangkut 'kelurusan' Sasuke dan Naruto di mata umum. Hah.. sangat susah memang. Bahkan, Shikamaru dan Sakura harus merasakannya sekarang.

Dua tokoh utama drama 'The Prince and His Adjutant' itu sedang bertengkar mengenai adegan yang mereka lakukan tadi. Naruto menuduh kalau akting Sasuke adalah sesuatu berlebihan, sedangkan Sasuke menuduh kalau aktingnya sudah sempurna dan justru Naruto-lah yang kurang bagus aktingnya.

"Kau juga dengar apa kata Sakura, dobe! Kau itu terlalu paranoid!"

"Tapi, ini soal 'kelurusan' kita di mata orang lain, teme!"

Shikamaru mengelus kepalanya yang pusing, "Bagaimana ini? Mereka tidak juga berbaikan." tanyanya pada Sakura yang juga turun tangan dalam pertengkaran ini.

"Iya.." sahut Sakura dengan nada lesu, "Yasudahlah, kita biarkan saja dulu. Latihan harus tetap dilakukan mengingat tinggal 4 hari lagi." Lanjutnya seraya mengambil langkah menjauh dari dua aktor utamanya itu.

"Tapi–"

"Tidak apa, mereka akan berbaikan dengan sendirinya. Toh, hubungan mereka itu sangat erat. Kau juga mengerti 'kan, Shikamaru?" sela Sakura menenangkan Shikamaru yang notabene seorang asistennya sebagai 'pelatih' Naruto dan Sasuke.

Shikamaru terdiam sesaat, "Yaah, baiklah. Kurasa semuanya akan baik-baik saja." Ucapnya menyetujui apa yang dituturkan oleh Sakura. Lalu, ia pun ikut menjauh dari tempat perkara.

.-.-.-.-.-.-.

Sakura menatap jam yang melingkar di tangannya, sudah 15 menit berlalu saat ia meninggalkan dua aktor pentingnya itu bertengkar. Well, sepertinya konflik juga pasti sudah meredam, "Shikamaru, bawa mereka ke sini." Titah gadis pinky itu yang disambut ogah-ogahan oleh Shikamaru.

"Mendokusei.."

"Cepat, pemalas! Kita sudah kehilangan banyak waktu!" sembur Sakura galak. Mungkin dia sudah lapar.

Pemuda dengan nama binatang – yaitu Shika alias Rusa – itu pun melangkahkan kakinya menuju bilik perkara. Sial, semua cewek itu garang, batin Shikamaru merutuk. Langkahnya lalu terhenti pada satu ruang kelas kosong, tangannya membuka daun pintu dan–

"..."

"AAAAAAAAAAAAAAAKKHHH!"

Flashback On.

"Kau pikir aku tidak tertekan, eh? Aku SANGAT tertekan, bodoh!" erang Sasuke frustasi, "Bahkan, Itachi dan Ibuku akan melihat drama ini. Aargh, ini benar-benar.."

Naruto melongo, "Yang benar? Bagaimana bisa?"

"Tiket sialan itu lolos dari kantongku!" jawab Sasuke setengah merutuk.

"Ya ampun, teme.."

Sasuke mengusap wajahnya lelah, "Bagaimana dengan tiket-mu, Naruto?"

"Aku buang di jalan." Jawab Naruto singkat dengan tampang polos.

Hening sesaat..

Sial, kenapa Sasuke tidak melakukannya juga?

~Ada pesan, Sasu-chaan~ Aku menyayangimu~! Muaach! Muaach!~

"Ha?" Naruto melongo saat mendengar ringtone ponsel milik Sasuke.

Sasuke menepuk dahinya keras. Itachi sialan, batinnya kesal.

~Ramen itu enaaakh! Naakh~ naaakh~

Kali ini Sasuke berdecih mendengar ringtone ponsel Naruto, "Maniak ramen yang menjijikan." Cibirnya. Sedangkan, Naruto yang dicibir hanya menjulurkan lidahnya.

Lalu, secara bersamaan mereka membuka pesan dari Sakura tersebut dan dua-duanya berisikan tulisan yang sama, yaitu–

Cepat kembali latihan-shannarooo! Ah, atau kalian mau kuberi adegan tambahan di ranjang, hm? HMM?! ^/^

Seketika bulu kuduk Sasuke dan Naruto bergoyang dangdut membacanya.

"Ne, Sasuke.. Sebaiknya, kita mencobanya lagi. Sekali saja." Usul Naruto, "Tapi, jangan berlebi–"

Mata Sasuke mendelik tak suka, "Kau ingin bilang kalau aktingku berlebihan?" semburnya dengan suara horor. Astaga, Naruto sangat paranoid!

"Ti-tidak!" sela Naruto cepat dengan mengibaskan kedua tangannya, "Maksudku.. itu.." dan Naruto sudah kehilangan kata-katanya. Aduh, sebenarnya siapa yang patut Naruto salahkan dalam drama sialan ini?!

Sasuke seketika menggengam kedua tangan Naruto dengan paksa, "Jadi, maksudmu menggengam seperti ini sudah berlebihan?"

"Lepaskan tanganku, teme!"

"Berpegangan tangan itu tidak berlebihan, Naruto. Jika dibandingkan–"Sasuke mengubah posisi Naruto menjadi memunggunginya, lalu tangannya memeluk Naruto dari depan, "Nah, seperti ini. Kau pikir berlebihan yang mana, heh?" bisiknya tepat di telinga Naruto.

Seketika bulu kuduk Naruto bergoyang disko, "Apa yang kau lakukan, teme?!" hardiknya seraya melepaskan diri dari 'pelukan hangat' Sasuke.

"Aku sedang melatihmu." Jawab Sasuke datar.

"Melatih apanya?! Kau justru membuatku merinding!" sahut Naruto setengah menjerit seraya mengelus lengannya. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin jatuh pingsan secara absurd lagi karena Sasuke, "Lagipula, itu terlalu berlebih–"

"Berhentilah menjadi paranoid, Naruto."

Kali ini mata Naruto langsung melebar ketika Sasuke memperpendek jarak antara wajah mereka. Bahkan, sebelah tangan Sasuke mempersepit gerakan Naruto dengan berada di sisi kiri kepalanya, "A-apa yang kau lakukan, teme?! Ja-jauhkan wajahmu yang aneh itu!"

Sasuke bergeming sebelum akhirnya ia semakin memperkecil gerakan Naruto dengan meletakkan tangannya lagi di sisi kanan kepala Naruto, "Wajahku aneh, eh?" lalu ia semakin memperpendek jarak, "Coba kau lihat baik-baik wajahku, Naruto, dan katakan di mana anehnya."

Naruto sempat menahan napas sebelum akhirnya ia kembali angkat bicara dengan susah payah, "Sa-sasuke.. Ap-apa yang kau la-lakukan-ttebayo?"

"Heh.. Sudah kubilang, aku sedang melatihmu, Naruto."

Naruto berkedip beberapa detik. Tunggu, apa benar tadi Sasuke menyeringai? Apa suara Sasuke terdengar berbeda barusan? Aduh, kenapa mendadak dadanya terasa aneh lagi!?

Naruto menjerit dalam hati, "AAKH, TIDAAAK!"

Sreeek.

Dan dua kepala yang saling berdekatan itu menoleh ke arah pintu yang menampilkan sosok Shikamaru. Oh, tumben sekali mata yang biasanya terlihat sayu itu melebar? Seperti tengah menatap sesuatu yang – tunggu! POSISI MEREKA!

Sasuke dan Naruto saling bertatapan sesaat, sebelum akhirnya berteriak secara kompak, "AAAAAAAAAAAAAKKHHH!"

Flashback off

"AAAAAAAAKHH!"

Seketika Sakura meninju tembok di sampingnya dengan keras saat mendengar jeritan dari kelas sebelah yang menjadi tempat pertengkaran aktor utamanya. 'Sekarang apa lagi?!' Batinnya emosi. Lalu, ia bergegas ke sumber suara dengan langkah kaki yang lebar.

"Ada apa lagi, hah?!" tanya Sakura emosi begitu sampai pada ambang pintu kelas.

Namun, tidak ada yang menjawab diantara tiga manusia yang tergolek lemas itu. Sasuke sibuk berpegangan pada tembok, Naruto sedang meringkuk di lantai, dan Shikamaru terduduk lemas tapat di depan Sakura.

Sakura lalu mengerutkan dahi – ehemlebarehem – nya menyadari keadaan tak lazim ini, "Tunggu, kalian kenapa?"

Dan Sakura hanya mendapat gelengan kepala dari tiga laki-laki di hadapannya.

"Habis melihat hantu?"

Lagi-lagi tiga manusia itu menggeleng.

"Lalu, kenapa wajah kalian seperti itu?"

Kali ini gelengan keras yang diterima Sakura sebagai jawaban.

Sakura bertopang dagu beberapa saat, "Oh, kalian menahan pipis ya?"

"YANG BENAR SAJA!?" sahut Sasuke, Naruto dan Shikamaru bersamaan.

.-.-.-.-.-.

Naruto memeluk kedua kakinya dengan tatapan horor keluar jendela kamarnya. Pikirannya tidak pernah lepas dengan kejadian tadi. 'Bagaimana bisa sifat Sasuke berubah drastis seperti itu?!' Batinnya terheran juga ketakutan. Ia sangat khawatir kalau-kalau ternyata sahabatnya itu sudah 'banting setir' karena tokoh yang mereka perankan. Apalagi mengingat saat..

"Terima kasih, Jack."

"Heh.. Sudah kubilang, aku sedang melatihmu, Naruto."

Jantung Naruto pun kembali menggila dengan absurdnya, "Astagaa! Kenapa dadaku terasa aneh mengingatnya?!" batinnya menjerit frustasi. Ia benar-benar tidak mengerti dengan hal yang menimpanya ini. Merasa butuh ketenangan, ia pun akhirnya memutuskan untuk menyantap ramen cup yang telah disiapkan sebelumnya.

"Aduh, harumnya sangat menggoda-ttebayoo~" Ucap Naruto begitu membuka tutup cup, "Ittadaki–"

Kriiiing!

Naruto mendesah begitu ponselnya berdering keras, "Mengganggu saja." Rutuknya kesal. Lalu, ia meraih ponselnya tersebut dan menerima panggilan tanpa melihat siapa yang menghubunginya, "Halo?"

"Dobe.."

Mata sapphire Naruto melebar sesaat, "O-oh, kau teme. Ada apa?"

"Kotak pensilmu ketinggalan." Jawab Sasuke di sebrang sana.

"Benarkah? Kurasa aku sudah memasukkannya." lalu, Naruto beranjak menuju meja belajarnya dan mengecek tasnya yang tergeletak, "Heee! Benar, ketinggalan-ttebayo! Aduh, bagaimana ini, teme? Besok ada PR dari guru Kakashi dan aku belu–"

"Ada padaku. Cepat, kau ambil sekarang."

Naruto kemudian menutup ramen cupnya supaya tidak menjadi dingin, "Oke, kau ada dimana?"

"Di depan rumahmu."

Seketika gerakan Naruto terhenti, "He? Kau ada di depan ru–"

"Sudahlah, cepat ambil, Dobe."

Tut.. tut.. tut..

Begitu telepon diputus, Naruto pun mendongak keluar jendela dan terlihat Sasuke sedang menunggunya dengan tangan menggenggam sebuah kotak pensil, "Wah, sungguhan."

Yah, mungkin Naruto memang jarang mendapat perlakuan baik hati seorang Uchiha Sasuke yang mampu membuat hati para gadis luluh lantak itu.

Lalu, dengan langkah lebar pemuda blonde itu keluar dari rumahnya.

"Wah.. Tumben sekali kau baik hati begini, teme?"

Sasuke berdecih ria mendengar sambutan sahabatnya itu, "Seharusnya kau ucapkan 'terima kasih' terlebih dahulu, dobe."

"Oh, oke, terima kasih sudah repot-repot mengantar kotak pensilku, Sasuke." Ucap Naruto, lalu ia mengulurkan tangannya, "Nah, berikan padaku sekarang. Aku yakin kau orang sibuk jadi tidak–"

"Aku bukan orang sibuk." Sela Sasuke seraya berjalan mendekati Naruto dan memberikan kotak pensil di tangannya, "Lain kali jangan ceroboh, aku tidak sudi dibuat repot terus."

Naruto hanya tersenyum lebar seraya menggaruk tengkuknya.

"Oh ya, Naruto.."

"Hm?"

"Soal tadi–" kali ini Sasuke ikut menggaruk tengkuk yang jarang sekali dilakukannya, "Oh, lupakan saja. Maksudku, kata Sakura, kau harus banyak berlatih bagaimana pun caranya supaya kau tidak nervous."

Naruto mengerang, "Tapi, itu sangat sulit, teme! Bagaimana pun juga aku seorang pria lurus, dan tidak mungkin bisa tiba-tiba menghilangkannya!"

"Aku bisa melakukannya."

Naruto tersentak dengan ucapan Sasuke yang tiba-tiba terdengar berbeda.

"Kau sudah melihat bagaimana sikapku tadi, bukan?" kata Sasuke seraya semakin memperkecil jarak dengan tatapan mata yang dalam ke arah Naruto, "Itu soal berganti sosok saja."

Naruto tanpa sadar menahan napas melihat tingkah Sasuke yang kembali aneh.

"Kau bisa berlatih denganku jika kau mau." Sasuke menepuk pundak Naruto dan melengkungnkan bibirnya yang biasanya terlihat lurus, "Aku yakin kau bisa lebih rileks jika denganku. Bagaimana menurutmu Naruto?"

DEG..DEG..DEG!

Jantung Naruto serasa bisa meledak sekarang juga, sehingga ia hanya mampu mengedipkan matanya untuk beberapa menit.

Sasuke masih menatapnya lekat-lekat, "Naruto..?"

"Aa.. I-itu.." Naruto menarik napas panjang, "Se-pertinya bo-boleh juga-ttebayo. Ya."

Oh, Naruto bisa melihat seringai Sasuke semakin lebar.

"Bagus." Kata Sasuke, lalu ia melepaskan tangannya dari pundak Naruto dan beralih ke kepala Naruto dan mengelusnya perlahan, "Kita mulai besok, ganbatte, dobe."

Nyawa Naruto rasanya melayang keluar tubuhnya melalui mulut, bukan ubun-ubun.

Sedangkan, di pihak lain – Sasuke – terlihat sangat amat terhibur dengan sikap Naruto barusan, "Benar-benar berbeda." batinnya membandingkan ekspresi Naruto di foto yang selalu menyengir itu. Dan akhirnya, Sasuke menikmati perjalanannya pulang dengan perasaan riang gembira layaknya anak gembala.

Akhirnya, ia benar-benar mendapat satu ekspresi Naruto selain menyengir. Hmm, sepertinya Sasuke harus mencari cara untuk mendapat ekspresi lain dari Naruto. Saat latihan, tentu saja.

'Jaa, dou suru?'

.-.-.-. To Be Continue.-.-.-.

A/N :Yoshyoshyoshyosh~ Beginilah chapter 7, lebih ambigu memang. Dan kayaknya terlalu cepet alurnya? Iya gak? Iya? Yaudah, terlanjur.. hikz. *gulinggulingfrustasi* Soal dramanya nanti aku coba di chapter 9 kalo gak 10. Jadi sabar yaa? Mau baca terus kan? Mau kan? Mau kaaaan? *plaaak!* Oke, kalo ada kesalahan yang fatal – dan aku yakin banyak banget – tolong kasih tau aja lewat kotak Revieww~ =w= berujungmodus. Oke, kalau begitu, terima kasih sudah menghabiskan hidup kamu – waktu kita itu hidup kita kan'? – buat baca fic inii. Terima kasih semuanyaa~ ^^

Preview chapter 8

"Jadi, bagaimana menurutmu tentang pergantian sosok-ku?"

"A-aku.. a.. itu.."

"...apa?"

"... ya, kupikir seperti itulah yang kurasakan."

And, See you next chapter ^^/