What The..? © Random98

NARUTO © Masashi Kishimoto

Genre : Frenship/Humor

Entah kenapa belom berani masukin genre romance, takutnya gagal ._.

Rated : (still) T

.

Warning :

AU. School Life, OOC luar binasa, typo everywhere, bahasa seenak udel, humor garing KRESKRES, dan banyak penyelewengan lainnya yang mungkin terkandung.

.

^^ Happy Reading ^^

.

.

.

Chapter 8 : Let The Feeling Flow!

.

.

"Jadi, bagaimana menurutmu tentang pergantian sosok-ku?"

"Sangat menyeramkan! Horor! Seperti kutukan dan hantu, kau tahu?!" jawab Naruto dengan setengah berteriak, "Aku bahkan nyaris gila karena terbayang oleh sosok lain-mu itu, teme!"

Sasuke terlihat mengulaskan senyum yang mampu membuat sejagad kaum hawa itu pingsan. "Bukankah bagus? Itu artinya aku berhasil menguasai peranku."

Naruto pun mengerang keras.

Ini benar-benar tidak dapat dipercaya oleh Naruto. Ternyata selama ini Sasuke bertingkah aneh karena sedang melakukan pergantian sosok yang tidak diketahuinya. Entah Naruto harus menanggapi seperti apa, ia kesal karena merasa dijadikan mainan oleh Sasuke, tapi ia juga merasa lega kalau sifat Sasuke yang aneh itu hanya akting belaka.

"Lalu, apa yang kau rasakan dengan sifat peranku itu?" tanya Sasuke kemudian.

Naruto menaikkan alisnya, "He? Apa aku harus menjawabnya?"

"Tentu saja, bodoh." Jawab Sasuke sinis, "Itu akan menentukan caraku untuk membantu-mu."

Pemuda dengan rambut blonde itu mengangguk-anggukan kepalanya, "Hoo.. seperti itu ya?"

"Hn." Sahut Sasuke singkat seraya menyeruput jus tomat kesukaannya.

Naruto pun telihat bingung, ia memutar sumpitnya pada ramen cup yang ada di hadapannya, "Hmm.. sepertinya kalau aku jelaskan akan sangat panjang. Dan aku tidak tahu harus memulainya darimana."

"Susunlah dulu dalam otak kecilmu itu, aku tidak sudi mendengar ocehanmu yang ke sana kemari." Kata Sasuke sebelum akhirnya menyantap sushi miliknya.

"Che, aku tahu! Aku tahu!" sahut Naruto sebal.

Lalu, dua pemuda itu pun melanjutkan acara makan siang mereka masing-masing. Sasuke melahap sushinya dengan tenang, juga meminum jus tomatnya dengan nikmat dan penuh perasaan cinta. Bagaimana-pun juga, seperti sejagad fans Sasuke Uchiha ketahui, pemuda yang satu itu adalah pecinta tomat. Sedangkan, di sebelah Sasuke ada Naruto dengan ramen cup dan raut wajah berpikirnya. Pemuda dengan garis pipi itu sedang tidak dapat menikmati makanan kesukaannya dengan nikmat.

Naruto harus menyusun secara kronologis tentang imbas dari sosok lain Sasuke terhadapnya dengan cepat. Ia tahu mereka sudah nyaris kehabisan waktu untuk drama itu. Drama sialan itu.

Sluuuurrp!

Nyam-nyam-nyam-nyam-nyam-nyam-nyam

'Pergantian sosok Sasuke pertama kali adalah...'

Glup!

Telan. Aih, nikmat sekali pastinya.

'Oh, saat kami latihan drama. Tentu saja.'

Sluuuurrp!

Nyam-nyam-nyam-nyam-nyam-nyam-nyam

'Pertama kali latihan waktu itu dibantu Shika. Lalu dibantu Sakura-chan.'

Glup!

Ah.. enaak.

'Dengan Shika kami diminta membaca teks narasi. Lalu, dengan Sakura-chan langsung praktik akting.'

Sluuuurp!

Nyam-nyam-nyam-nyam-nyam-nyam-nyam

'Waktu itu praktik pertamanya adalah.. oh, aku menyiapkan kuda itu, dan sasuke berterima kasih seraya...'

"Terima kasih.. Jack."

Dalam hitungan detik, Naruto pun tersedak ramennya sendiri dengan kepala yang memerah seluruhnya, "UHUK! Uhuk! Uhuuk!"

Sasuke yang sebelumnya tengah fokus menikmati jus tomat tercinta pun mengerutkan keningnya heran.

"Uhuk! Sasu-uhuk! To-uhuk! UHUK! Tolong!"

Sasuke berkedip, ia lalu melirik ke botol jusnya. Isinya masih ¾ botol. Semua orang di dunia juga tahu kalau hidangan ternikmat adalah pada suapan terakhirnya. Dan jus kesukaannya ini..

"UHUK! OHOK! OHOK!"

Akhirnya, antara perasaan tidak terima yang luar biasa besar dan kasihan akan nyawa sahabatnya yang terancam melayang, Sasuke dengan dermawannya memberikan jus tomatnya kepada Naruto.

Pemuda blonde itu pun langsung menengguk jus tomat yang diberikan hingga tandas. Sedangkan, Sasuke diam-diam hanya dapat menengguk ludahnya sendiri melihatnya.

Haaah.. sulit memang rasanya.

Sasuke pun menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka suara, "Kalau makan jangan rakus, bodoh." Dengusnya kesal.

Naruto hanya menggeleng dengan telapak tangan menutupi mulutnya.

"Lalu, bagaimana pertanyaanku sebelumnya? Kau sudah bisa menjelaskan?"

Tubuh Naruto seketika menegang.

"Naruto..?"

"A-aku.. a.. itu.."

Sasuke menaikkan alisnya tinggi-tinggi.

"Uh.. Terima kasih ya, teme! Lain kali saja aku beri tahu. Daah!" setelah mengatakannya, Naruto lalu pergi menjauh secepat kilat. Meninggalkan rasa heran pada Sasuke dan juga..

Sasuke menatap botol kosong yang ditinggalkan Naruto. Ya, jus tomat. "Sialan kau, Naruto.." desisnya. Well, sepertinya tuan muda Uchiha ini sudah dirasuki dendam yang kesumat.

.-.-.-.-.-.-.-.-.

Naruto menghempaskan tubuhnya ke kasur begitu selesai dengan tugasnya besok. Di hembuskannya nafas yang tak lega juga tak biasa, karena sebenarnya ia tidak bisa mengerjakan tugasnya dengan benar. Tidak. Naruto tidak sebodoh itu juga sebenarnya, ia hanya kehilangan fokusnya dan terpaksa harus menuliskan sesuatu untuk menjawab tugasnya.

"Apa yang kau rasakan dengan sifat peranku itu?"

"Terima kasih.. Jack."

Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.

"Aaaaaaah!" dan akhirnya Naruto memilih untuk menjerit di dalam selimut. Kalau sudah begini, tidak salah 'kan jika Naruto sampai kehilangan fokus untuk tugasnya besok?

Jadi, bagaimana ia harus menjelaskannya? Aiih, ini benar-benar membuatnya frustasi. Yang benar saja ia harus menjelaskan secara detail? Kalau sebenarnya saat Sasuke berubah sosok Naruto merasa ada sesuatu yang aneh dengan jantungnya, bahkan Naruto sendiri sampai pingsan. Oh, tidak. Tidak. Tidak. Dunia tidak boleh tahu. Ia bisa dianggap sudah tidak normal lagi!

~Ramen itu enaaakh! Naakh~ naaakh~

Mendengar ponselnya mendendangkan nada pesan yang – sesungguhnya sangat ambigu – khas itu, Naruto pun mengulurkan tangannya di balik selimut untuk meraihnya.

Form : HarunoSakura

To : CC 2-C group

Selamat malam, minna!

Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, kelas kita akan melakukan gladi resik untuk drama dua hari lagi. Lalu, besok akan ada pembuatan dekorasi. Karena itu, aku ingin mengingatkan kalian semua. Tolong kerjasamanya, oke? Mari kita lakukan yang terbaik!

p.s : Naruto dan Sasuke sudah bolos latihan 5 kali. Aku benar-benar akan memperhitungkan hukuman untuk kalian jika saat gladi resik akting kalian belum juga bagus. INGAT ITU!

Seketika rasa pusing yang luar biasa menyerang kepala Naruto, dengan kesal ia melemparkan ponselnya sembarang arah. "Sialaaan!" umpatnya seraya mengacak-acak kepalanya sendiri.

~Ramen itu enaaakh! Naakh~ naaakh~

Aduh, pesan apa lagi sekarang. Dan tumben sekali ponselnya tidak langsung mati begitu dilempar?

Setelah menyisir di kasurnya hasilnya nihil, akhirnya Naruto turun dari kasurnya untuk mencari ponselnya. Dengan malas ia menurunkan kedua kakinya, lalu–

Prak!

Ah, ternyata tepat di bawah kakinya.

Namun, karena merasa terlalu lelah untuk memungut, pemuda dengan marga Uzumaki itu akhirnya memilih menggerakkan jempol kakinya beberapa senti untuk menekan tombol 'buka'.

From : UchihaSasuke

Cepat atau lambat, kau harus memberiku penjelasan, Naruto. Aku tidak sudi dihukum karena kebodohanmu!

Naruto tertegun sesaat. Eeh, bahasa macam apa yang Sasuke gunakan sebenarnya? Itu terdengar seperti.. ah, lupakan saja. Naruto pun akhirnya menghempaskan kembali tubuhnya ke kasur.

Kembali lagi ke permasalahan..

Bagaimana Naruto akan menjelaskannya?

Hmm.. sepertinya Naruto Uzumaki tidak akan tidur nyenyak malam ini.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Sasuke menengguk jus tomatnya, kali ini untuk botol kedua dari tiga botol jus yang dibawanya dan telah disembunyikan di suatu tempat. Yep. Ia telah meminta khusus kepada Ibunya agar membuat jus tomat yang banyak HANYA UNTUK SASUKE SEORANG. Entah kenapa, setelah pengalamannya kemarin Sasuke semakin sensitif dengan minuman favoritnya itu. Walaupun, sebenarnya sangat berlebihan.

Untunglah para fans Uchiha Sasuke tidak menerbitkan majalah mingguan tentangnya. Bisa luluh lantak imejnya yang stay cool dan terkesan cuek, karena seonggok jus tomat kesukaannya. Dan jika begitu sangatlah tragis akhirnya.

"Jadi..?"

Naruto menghela napas, "Entahlah, teme."

"Apa maksudmu dengan 'entahlah'?!" Sasuke mendelik tajam. Jelas ia sangat kesal mendengarnya. Bukan jawaban seperti itu yang diinginkannya.

"Aku bingung!" jawab Naruto frustasi. Pemuda itu bahkan sampai menjambak rambut jabriknya, "Aku tidak dapat menyusun kata-kata! Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya! Aku bahkan sudah memikirkan hal ini semalaman, temeee!"

Sasuke berdecih ria, "Dasar bodoh.."

"Iya! Aku bodoh, dan kau tidak perlu menjelaskannya lagi, Sasu-uke!"

"Apa?!"

"MAAF, LUPAKAN SAJA UCAPANKU!"

"Aku akan membunuhmu, Dobe."

"Kubilang maaf!"

"Jika kau menyebutku seperti itu lagi–"

"Maaf, Sasuke, Maaf!" potong Naruto cepat dengan napas terengah-engah.

Sasuke yang sudah berdiri dengan tangan terkepal pun menghela napas, dan kembali ke tempat semula untuk menengguk jus tomat tercinta nan terkasih. Oke. Sabar, Sasuke.

Hening pun menyergap. Angin yang berhembus pelan dan teriknya matahari yang menyinari mereka tidak bisa berbuat apa-apa atas kejadian sebelumnya. Apalagi, jus tomat yang ditengguk Sasuke atau ramen cup milik Naruto yang telah tandas itu. Ehm, oke itu agak aneh. Tapi, apalah daya otak penulis sudah mampet.

"Kupikir saat kau berganti sosok.."

"..."

"..."

Sasuke lalu menoleh "...apa?"

"Aku sedang mengolah kata-kata secara perlahan, teme. Sabarlah." Jawab Naruto tetap menjaga emosi, bahkan biji safir itu tetap menatap lurus ke depan. "Pergantian sosok itu membuatku merasa.."

Sasuke manut, pemuda dengan kepala chicken butt itu tetap diam mendengarkan.

"Ehm.. sudah gila. Mungkin."

"Hah?" Oke, Sasuke tidak dapat menahan respon yang satu itu. "Apa maksudmu? Merasa sudah gila? Mungkin merasa sudah gila?"

"Ya."

Sasuke hanya mampu berkedip kali ini. Ia benar-benar tidak mengerti dengan semua ucapan Naruto. Bahkan, dengan mengandalkan otak ber-IQ tinggi yang menjadi warisan klan Uchihanya itu tidaklah cukup.

"Membayangkannya saja membuatku... gugup dan ngeri sekaligus."

"..."

"... ya, kupikir seperti itulah yang kurasakan."

Ting! Tong! Ting! Tong!

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Shikamaru menutup kembali pintu yang ada di hadapannya. Diurungkannya niat untuk menikmati waktu hibernasi ala Shikamaru Nara itu. "Baguslah." Gumamnya kemudian. Lalu pemuda dengan otak jenius itu pun melangkah ke bawah. Ah, sepertinya ia akan tidur di UKS saja dan mengaku sakit pada petugas di sana.

"Permisi.."

"Ha! Tertangkap kau!"

Aduh, sial. Petugas hari ini Sakura Haruno. Shikamaru pun berjalan melewati Sakura dan berbaring di atas kasur. "Kepala-ku pusing, mendokusei.." keluhnya seraya menutup mata perlahan.

Sakura berdecih ria, "Alasan. Kau ingin membolos pelajaran Iruka-sensei 'kan?!"

Shikamaru tidak menggubris, pemuda berkepala nanas itu mengubah posisi tidurnya jadi memunggungi Sakura. Kenapa sulit sekali tidur nyenyak tanpa gangguan?

"Ne, ne Shikamaru!" Sakura mengguncangkan tubuh Shikamaru kencang, "Kau melihat Sasuke dan Naruto tidak? Kita harus melatihnya lagi sekarang!"

"Mendokusei.." sahut Shikamaru tanpa membuka matanya.

Plaak!

"Akh!"

"Bangun kepala nanas!" ujar Sakura nyaris berteriak, "Festival sekolah tinggal hitungan hari, tunjukkan rasa tanggung jawab-mu!"

Akhirnya Shikamaru pun mengubah posisinya menjadi duduk, dengan bekas tamparan yang sangat jelas di pipinya. "Kau tidak perlu repot-repot, Sakura."

"Hah?"

"Mereka memiliki kesadaran sendiri untuk latihan."

Sakura mengerutkan dahinya, "Sungguh?"

Shikamaru hanya mengangguk.

"Kau bohong!"

"Terserah saja.. kau bisa melihatnya sendiri di atap sekolah sekarang."

Sakura menjerit tertahan, lalu dengan cepat dan bertenaga super ia menarik Shikamaru kembali ke atap sekolah. "Ayo kita lihat!" katanya girang. Sedangkan, pemuda yang menjadi korban tarikan itu hanya pasrah.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Kau yakin, Sasuke?"

Sasuke mengangguk mantap.

"Aku.. sedang dirasuki sosok Jack?" jari Naruto menunjuk hidungnya. Sungguh, darimana orang sepintar Sasuke Uchiha bisa menyimpulkan hal seperti itu? Naruto sama sekali tidak mengerti. "Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanyanya kemudian.

"Biarkan sosok itu ada di dalam dirimu." Jawab Sasuke tenang, "Setidaknya sampai drama kita selesai."

"Begitu?"

"Hn."

Naruto berjalan mondar-mandir di depan Sasuke. Pemuda berkulit tan itu masih mencoba untuk menerima anggapan terhoror yang pernah ia dengar, bahwa 'Sosok Jack Hatton sedang bersemanyam di dalam dirinya.'

"Ayolah, Naruto. Kau membuang waktu."

"Tapi, bagaimana bisa–" Naruto mengacak rambut pirangnya untuk kesekian kalinya, "Aku masih sadar tapi, ada 'roh' lain di dalam diriku! Aku tidak percaya! Itu mengerikan!"

Sasuke menghela napas, "Baiklah, maksudku begini, kau merasa seperti itu karena itu bentuk penjiwaan-mu terhadap tokoh Jack." Jelas Sasuke sesederhana mungkin.

"Penjiwaan?"

Tangan Sasuke menepuk lelah wajahnya sendiri. Ya ampun..

"Teme!"

"Terserahlah! Aku sudah pusing menjelaskannya padamu," sahut Sasuke ketus, "Yang jelas, dengan perasaan-mu yang begitu ketika melihatku menjadi Thomas, kita bisa mulai latihan. Sekarang."

"Apa?!"

"Biarkan perasaan itu mengalir, Naruto."

Hening seketika. Naruto sepertinya sudah tidak mampu lagi untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan Sasuke. Dengan kesal pemuda bermarga Uchiha itu pun menyeret tangan Naruto untuk berhenti mondar-mandir tidak jelas layakanya alat setrika.

"Kita mulai latihan. Sekarang. Dimana naskah-mu?"

"Hah?"

"Naskah-mu, Dobe!" ulang Sasuke yang nyaris menjerit. Oh, sepertinya urat kesabarannya akan putus jika Naruto kembali ber-hah ria.

Sedangkan, di lain sisi atap sekolah..

"Lihat, Shikamaru! Mereka latihaan!" bisik Sakura tanpa bisa menahan untuk mengguncang tubuh pemuda nanas itu. "Ouhh! Imut sekali merekaaa! Kyaa~!"

Shikamaru tidak dengar, telinganya sudah lebih dulu disumbat dengan jarinya.

"Aku yakin, dengan begini drama kita akan sukses! Hahaha..."

Shikamaru tetap fokus mengintip.

"Baiklah, ayo kita lihat seberapa jauh mereka berakting."

-To be Continued-

A/N : Selesaaaiii~ beginilah chapter 8 dari What The? Hahaha! Dengan begini, hanya tersisa dua chapter lagii buat dramanyaa! Hahahaha.. jujur, saya seneng banget bisa nulis fic SN sejauh ini. Apalagi, ada yang bersedia baca, bersedia review, bersudi ria (?) ngeklik fav or follow, huhuhu.. aku terharu. TT-TT /lebay/ Makasih ya wahai reader tercintaaa~ ai lop yu pull! *kecup jauh reader satu-satu lalu dibacok* /RIP Author, RIP English/ well, author hanya manusia biasa yang males ngedit kalo udah ngupload ke FFn, jadi maap ya kalo ternyata banyak typo atau bahasa yang ternyata aneh. Mwehehe.. untuk itu para reader boleh mengingatkan lewat kota Review. /okeberujung modus./

Preview chapter 9

"Kiii~ba!"

"Oh.. Kau, Sakura?"

"Sasuke.."

"Ada sesuatu di mata-mu."

Sekian dan terima kasih. See you on next chapter~ ^^/

Random98.