"Kupikir, aku tidak menginginkan hal lain, Jack. Aku tidak menginginkan takhta. Aku tidak menginginkan harta. Bahkan, wanita. Aku hanya ingin bebas, melakukan apapun yang kumau selama aku hidup. Seperti burung yang bebas untuk terbang setinggi-tingginya."

"..."

"Tapi, manusia tidak bisa hidup sendiri, kau juga tahu itu. Karena itu, aku butuh ajudanku, Jack Hatton, untuk membantuku dan untuk di sampingku. Selamanya."

.-.-.-.-.-.-.

What The? by Random98

NARUTO belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Freindship / Humor / Romance?

Warning : AU, OOC, Typos, feel plus humor gatot, dan balabalabalabalala~

Rated : T

.

Happy Reading~

.

.

.

Chapter 9 : ARE YOU READY?!

Kelas 2-C yang biasanya berisi jejeran meja dan kursi itu telah diubah sedemikian rupa, hal ini dilakukan untuk mempermudah mereka dalam mempersiapkan drama. Beberapa anak telah berkumpul sesuai dengan bagian tugasnya. Semuanya tampak sibuk dan riuh. Tapi, tetap fokus entah bagaimana caranya. Luar biasa bukan jika banyak orang bisa bekerjasama dengan baik? Misalnya, Shikamaru yang merangkap sebagai aktor juga pengarah ini...

"Waktu pergantian setting tidak boleh terlalu lama." Shikamaru mulai mengarahkan tim dekorasi, "Paling tidak, dilakukan selama narasi dibacakan saja. Oh ya, Tenten!"

"Ya?"

"Kau yang membaca narasi?"

Gadis bercepol itu mengangguk, "Kenapa, Shikamaru?"

"Bawakan naskahnya kemari," pinta Shikamaru seraya menggerakkan tangannya. Lalu, ia menggumam terima kasih saat naskah itu diberikan Tenten padanya, "Berapa lama kau membaca setiap bagian narasi?"

"Hmm.. satu menit, kurang lebih?"

Lanjut, bagaimana Sakura Haruno yang bertugas sebagai sutradara dan penanggung jawab..

Sakura mencermati semua kostum yang ada di hadapannya, mata hijau terang itu dengan teliti melihat satu per satu. Tidak boleh ada kurang kostum atau kerusakan kostum, dan bahkan salah ukuran. Karena besok adalah H-1, semua harus benar-benar siap. "Kau yakin semua kostum sudah siap, Ino?"

Ino mengacungkan jempolnya, "Tenang saja, semua oke!"

"Ino-san," satu-satunya pemuda berkulit pucat di kelas 2-C itu menunjuk salah satu kostum untuk pangeran yang digantung, "Kau tidak jadi menambahkan bulu di topinya?"

Ino tercenung, "A-ah.. kau benar, Sai." Katanya, "Semuanya belum oke!"

Sakura pun jawdrop seketika. "Cepat selesaikan persiapan kostumnya, Pig. Besok hari H. Dan harus teliti, oke?" lalu gadis bersurai pink itu berjalan menuju laki-laki dengan tato segitiga di pipinya. Senyum cerah Sakura pun tak lepas dari wajah cantiknya, bahkan sesekali ia melompat kecil layaknya anak kecil yang kegirangan.

"Kiiii~ba!"

"Oh.. kau, Sakura?"

Sakura mengangguk dengan senyum yang belum juga hilang, "Bagaimana brosurnya? Sudah siap?"

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"..."

Sasuke tersenyum, "Sepertinya kau sudah sangat menguasainya, eh?"

Naruto menarik tangannya secepat kilat, "Ti-tidak, aku.. se-sebenarnya aku–"

"Sudahlah, kita istirahat sebentar," Sasuke mendudukkan dirinya di lantai lalu menepuk tempat kosong di sampingnya, "Duduklah, Naruto. Ada yang ingin kutanyakan padamu."

Naruto manut, "Ada apa? Akting-ku masih ada yang kurang ya?"

"Tidak. Aku malah sangat heran kenapa kau bisa secepat ini berakting." Sasuke lalu menengguk minumannya, "Padahal, perannya menjadi seorang gay. Jangan-jangan, kau sangat tertarik untuk 'belok' ?"

"A-apa?!"

"Kau yang pertama mengungkit-ngungkit masalah gay ini, Naruto. Kau dan Itachi. Apa secepat itu kau lupa?"

Sasuke benar. Ah, kenapa drama ini membuat semuanya terasa begitu lama? Apa sebanyak itu hal yang telah terjadi? Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ah.. itu.. benar juga ya? Hehehe..."

Pemuda Uchiha di sampingnya itu menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Jadi, kenapa kalian mengungkit-ungkit masalah itu? Bahkan, sebelum drama aneh ini diusulkan."

Naruto tidak langsung menjawab. Ia menengguk minumannya dengan pandangan menghindari sahabat seumur hidupnya itu. Sebenarnya, Itachi Uchiha sudah lama tidak menghubungi Naruto lagi karena kesibukannya, tapi untuk membeberkan hal ini kepada Sasuke.. apa boleh? Lagipula, belum ada pernyataan selesai dari Itachi. Dan itu artinya jika ia membeberkannya sekarang nyawanya bisa melayang.

"Dobe!"

Kedua bola safir itu mengerjap cepat, "I-iya?"

"Jadi, kau tetap ingin merahasiakannya dariku?"

Glup.

"Naruto! Sasuke-kun!"

Dua kepala itu pun menoleh ke sumber suara yang secara tidak langsung telah mengganggu pembicaraan mereka. Oh, Naruto sepertinya punya pahlawan soal timing. Sedangkan, Sasuke benar-benar tidak suka. "Apa?" tanya Sasuke datar.

Sakura menyengir kuda, "Maaf telah mengganggu kalian sebelumnya, Maaf ya." ia membungkukkan badan beberapa kali, "Tapi, sekarang sudah waktunya gladi resik pertama kalian. Shikamaru dan beberapa orang lainnya sudah menunggu kalian di hall. Hehe.."

"Bukankah besok gladi resiknya?"

"Bukankah kalian sudah bolos latihan 5 kali denganku?"

Sasuke berdecih ria. "Terserahlah."

Senyum Sakura kembali mengembang. Hee.. sepertinya senyum manis Sakura Haruno tidak akan pudar seharian ini. Apalagi, besok. Yaah.. terang saja, bagaimana Sakura tidak senang? Dua aktor utamanya memang sangat luar biasa. Mereka bahkan masuk list O-te-peh favorit Sakura Haruno.

"Kenapa kau diam saja, dobe? Ayo, ke hall." Ucap Sasuke melihat sahabatnya itu tidak juga bangun dari duduknya. Sepertinya telah mematung di tempat. "Hoi, kau mendengarku tidak?"

Sakura terkikik, "Oke. Aku tunggu di sana ya? Ada hal yang harus kulakukan."

Sasuke hanya mengangguk. Lalu, sutradaranya itu keluar dari atap sekolah dengan langkah kaki yang luar biasa riang gembira melebihi anak gembala. Ah, sepertinya Sasuke harus mencoba jadi sutradara agar dapat merasakan kebahagiaan semacam itu.

"Sasuke.." Naruto akhirnya kembali membuka suara.

"Apa?"

Naruto mengadahkan kepalanya untuk menatap Sasuke yang berdiri, "Kau tidak gugup?"

"Untuk apa?" Sasuke balik bertanya dengan nada tak acuh, "Toh, mereka yang disana juga sedang berakting."

Aih, ini dia rasa percaya diri dan pemikiran logis seorang klan Uchiha, saudara-saudara. Membuat manik safir seorang Uzumaki Naruto tak berkediip. Membuat jutaan fans klan Uchiha menjerit histeriiis. Membuat author bingung mau ngetik apa lagiii. Hmmm...

Oke lupakan kalimat yang terakhir.

"Baiklah." Akhirnya Naruto untuk pertama kalinya merasa beban hidupnya sedikit ringan. Ia lalu ikut berdiri dan melangkah menuju hall, demi menyongsong hari esok yang...

yang...

...lebih ambigu.

Langkah demi langkah dua anak SMA itu jalani, meter demi meter mereka lalui demi mempersempit jarak dengan hall, tapi tinggal memasuki hall langkah keduanya terhenti. Atensi kedua aktor utama tersebut tertuju pada poster jumbo yang tertempel di pintu hall. Tanpa berkedip kedua bola mata yang berlawanan warnanya itu menatap sang poster.

Apa salah poster, tuan?

"Sasuke.."

"..."

Telunjuk Naruto susah payah diangkat hanya untuk menunjuk sang poster, "Itu.. kita.. gambarnya.."

Pandangan putra bungsu Uchiha itu seketika menggelap, dengan cepat ia merobek poster dihadapannya dan suara 'breeek!' pun terdengar hingga ke dalam hall. Membuat orang-orang di dalamnya heboh keluar untuk mengetahui siapa pelaku perusakan poster.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN DENGAN POS– oh, Sasuke-kun?"

Sasuke lalu mendekati sang sutradara yang batal meraung itu, "Apa maksudnya ini, Sakura?" tanyanya dengan nada garang.

Si gadis pinki itu melangkah mundur ketika Sasuke menyodorkan poster di depan wajahnya, "Ah, itu.. poster. Untuk promosi kelas kita." Jawabnya setengah takut.

"APA?!"

Seketika mereka yang berkumpul di dekat pintu hall menutup kuping masing-masing.

.

.

Flashback On

Konon katanya, rasa ingin tahu anak itu sangat luar biasa. Lalu, bagaimana dengan rasa ingin tahu anak yang sudah remaja? Yang mulai tahu akan apa yang diinginkannya dan dilengkapi kesadaran penuh. Pasti-kah rasa ingin tahu itu menjadi sangat amat luar biasa? Tidakkah itu semakin berbahaya?

Seperti halnya Sasuke Uchiha saat ini. Remaja dengan usia tujuh belas tahun itu menyimpan rasa ingin tahu terhadap sahabat seumur-umurnya, Naruto Uzumaki. Rasa ingin tahu yang sudah termasuk taraf luar biasa, karena selama ini belum pernah Sasuke melihat Naruto yang tidak pernah tersenyum lebar.

Dalam rencananya, ia akan memanfaatkan momen latihan drama ini untuk mengetahuinya. Tapi, jujur saja, untuk memancing ekspresi yang Sasuke ingin lihat dari Naruto, masih belum ada satupun cara yang melintas di otak jenius Uchiha bungsu.

Manik onyx milik Sasuke diam-diam melirik Naruto. Terus menatap sosok laki-laki berkulit tan itu dengan lekat. Sangat berharap kalau manik safir milik Naruto akan balas menatapnya. Ya, saling bertatapan. Seolah-olah mereka akan terpisahkan. Seolah-olah tidak ada hari esok untuk kembali bertemu.

Eaaaa

Ehm, maaf, itu hanya sedikit hiperbola dan dusta.

"Sasuke, apa kau–"

Dan keinginan terkabul! Manik seindah langit cerah itu akhirnya terarah pada Sasuke. Puji syukur kehadirat ramen dan jus tomat.

"Sasuke?"

"Hn?"

Naruto mengerutkan dahinya dalam, "Kenapa kau menatapku seperti itu?"

"Apa maksudmu, dobe?" kilah Sasuke yang sesungguhnya baru saja ingat caranya berkedip, "Aku hanya melihat burung elang disana. Bagus."

Pandangan Naruto seketika mengikuti arah pandang Sasuke, "Di mana?"

Aduh, salah taktik, saudara-saudara. Padahal, belum ada semenit pandangan saling tertaut. "Sudah terbang." Kata Sasuke kemudian. "Oi, Naruto.."

Dan manik safir itu kembali pada onyx-nya "Apa?"

"..."

"..."

"Ada apa, teme?"

Sasuke tidak tahu kekuatan itu asalnya dari mana saja. Ada yang bilang dari bumi bagian utara dan selatan bumi. Ada yang bilang dari titik magnetik bumi. Ada yang bilang dari alam. Ada yang bilang dari langit. Serius, Sasuke tidak tahu. Termasuk kekuatan yang membuat tangannya menangkup wajah Naruto saat ini, "Ada sesuatu di mata-mu."

Ada pelangii~ di mata-mu~

Oh.

Jadi, jangan salahkan Sakura yang melihat adegan ini dari luar pintu untuk tidak memotret berulang kali dan menjadikannya poster. Atau Shikamaru yang menganga dengan luar biasa. Oke?

Flashback Off.

.

.

"Ayolah, Sasuke-kun. Itu 'kan hanya poster, lagipula sangat wajar bukan?"

Onyx milik Sasuke kembali membulat sempurna, "WAJAR KATAMU?!"

Bibir Sakura tertarik ke samping, "Ikut denganku sebentar." Kata gadis pinky itu seraya menarik kerah seragam Sasuke dan menggeretnya menjauh dari para pemain lainnya. Sasuke meronta, namun apalah daya tenaga Sakura Haruno sangatlah luar biasa untuk ukuran perempuan. Pemain yang lain menatap kepergian Sakura dan Sasuke penuh tanya, kecuali Shikamaru yang menguap seperti biasa. Baginya rencana Sakura terbaca sangat jelas.

"Lepaskan!"

"Tidak." Sakura semakin menarik kerah Sasuke supaya posisi kepala mereka sejajar. Lalu, ia merogoh ponselnya di kantong. Terang saja, melihat wallpaper benda kotak bercasing merah itu membuat mata Sasuke kembali terbelalak. "Nah.. Bagaimana menurutmu, Sasuke-kun?"

"Sakura, kau–"

"Keterlaluan?" Sakura mengeluarkan tawa jahat terbaiknya, "Aku tahu. Jadi, bagaimana kalau kau cepat menunjukkan hasil latihanmu? Aku belum menunjukkan foto kalian yang lain kepada siapapun. Tenang saja."

Foto kalian yang lain?

Batin Sasuke menjerit frustasi. Siluman jenis apa yang berada di dekatnya sekarang ini?! Benar-benar... 'Arrrgh! Sialan!' umpat laki-laki dengan surai emo itu dalam hati.

Sakura melepaskan cengkramannya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong. Terlihat jelas kalau ia sangat puas. "Cepat ke panggung jika kau sudah siap, Sasuke-kun." Ucapnya sebelum meninggalkan Sasuke di sudut ruangan.

Aduh, ternyata sutradara jahat sekali.

Tersadar untuk melakukan sesuatu, secepat kilat Sasuke mengejar Sakura dan menarik tangan gadis itu kuat-kuat, "Baiklah," kata Sasuke yang akhirnya memilih manut, "Tapi, berikan ponsel-mu. Sekarang."

Tanpa sepatah kata, hanya seulas senyum manis, Sakura menyerahkan ponselnya pada Sasuke dan berjalan menuju pemain lainnya. Ia tidak peduli jika memori ponselnya diformat. Toh, di laptopnya foto-foto kesukaannya itu masih utuh. Semuanya.

Khukhukhukhukhu, begitulah kira-kira bagaimana Sakura tertawa nista.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Pangeran..."

Thomas Denham – alias Sasuke Uchiha yang tengah berakting – menoleh dengan wajah datar. Ia tidak berniat untuk membalikkan badan demi Cindy – alias Shion Miiko yang tengah berakting – yang sudah berlari hingga terengah-engah demi mengejarnya. Bahkan, untuk menyahut 'Apa?' pun rasanya rugi sekali.

Cindy berjalan mendekat kepada sang Pangeran impian, yang telah mencuri hatinya sejak sekian lama. Dengan semburat merah pada pipinya ia mulai berbicara, "Kenapa pangeran pergi begitu saja?"

Thomas tetap diam. 'Bukan urusanmu.' Namun, begitu dalam batinnya.

"Sungguh, hamba tidak bermaksud hingga Raja–" Cindy mengambil jeda, gugup. "Eng.. Maksud saya, sulit dipercaya kalau Pangeran belum menaruh hati pada siapa pun sampai sekarang."

Manik kelam pangeran beralih ke arah lain, "Pergilah dariku."

"Pangeran.."

Tanpa peduli Thomas kembali berjalan meninggalkan Cindy. Namun, gadis itu dengan cepat menarik tangan sang pangeran, menahannya untuk pergi. Thomas mau tidak mau menghentikan langkahnya kembali.

"Sudah sangat lama, aku menyimpan rasa padamu, Pangeran." Cindy berbicara dengan suara sedikit gemetar, berusaha menyampaikan perasannya. Tidak peduli dengan waktu yang tidak tepat. Ia ingin sang pangeran mengetahuinya, "Pangeran, aku.. aku mencintaimu."

Thomas membalikkan tubuhnya seraya melepaskan tangan Cindy darinya. Menatap gadis dengan surai pirang itu lurus-lurus, membuat si objek pandangan semakin enggan untuk balas menatapnya. Malu. "Cindy.."

Ribuan bunga tiba-tiba saja bermerkaran di hati Cindy. Sepercik harapan akhirnya muncul. Gadis pencinta Thomas Denham itu mengadah, "Iya, pa–"

"Pangeran Thomas! Pangeraan!"

Seketika dua kepala manusia tersebut menoleh ke sembarang arah, berusaha menemukan sosok yang tanpa sadar telah menyela perbincangan mereka. Walaupun, dari masing-masing pihak ada yang merasa diuntungkan – yaitu Thomas – dan dirugikan – Cindy. "Jack?" sang Pangeran balas memanggil panggilan tersebut. Yep, Thomas sudah hapal betul siapa pemilik suara tersebut, Jack Hatton. Perwira pribadi yang ditugaskan untuk membantunya, atau bisa disebut sebagai ajudan.

"Pangeran, pengawal mengkhawatirkan Anda–" Jack Hatton – alias Naruto Uzumaki yang tengah berakting – itu muncul dari semak-semak. Namun, matanya sedikit terbelalak begitu mengetahui ternyata sang pangeran tidak sendiri, "A-ah.. Ma-maafkan saya, Pangeran. Nona Cindy."

"Tidak, kami sudah selesai," sahut Thomas cepat, membuat hati Cindy hancur-lebur hingga seukuran unsur atom. "Dan ada yang harus kita bicarakan soal ini semua, Jack."

"Tapi–"

"Cindy," Thomas kembali menyebut nama gadis desa itu, "Kukira sudah tidak ada lagi yang harus kau sampaikan. Dan aku tidak mau membalasnya."

JLEGERR!

Bagaikan sebilah pedang beraliran listrik telah tertusuk pada diri Cindy. Sangat jelas dan sadis. Kata-kata itu, 'Dan aku tidak mau membalasnya' . Jelas-jelas ia ditolak. Mentah-mentah.

"Jadi, bisakah aku bicara dengan ajudanku sekarang?"

Belum cukup dengan ditolak, sang gadis desa lalu diusir oleh sang penakluk hati. Perempuan mana yang tidak ingin guling-guling merana hingga terjun bebas dari tebing dengan taman kaktus di bawahnya?

Menyadari situasi yang telah terjadi, Jack pun otomatis merasa bersalah. "Apa bisa kalau ditunda–"

"Tidak," potong Thomas cepat, "Kita harus bicara. Sekarang."

Jack Hatton pun tidak bisa apa-apa selain mengangguk.

"..."

"..."

"CUT!" Sakura lalu berteriak dengan toa-nya, "Bagus! Hahaha.. Aku tahu kalian tidak akan mengecewakanku! KERJA BAGUS, MINNA!"

Krik. Krik. Krik. Krik.

"Apa mereka akting sungguhan?"

"Mereka serius?"

"Sial, gay-nya terlihat sangat jelas. Padahal, belum sampai tengah cerita."

Seketika Naruto menjauh ke belakang panggung, pundung di sudut ruangan. Menangisi apa yang telah ia lakukan. Menyadari kalau sahabatnya kembali dirundung frustasi, dengan malas Sasuke pun membuntuti.

"Sedang apa kau di sana?"

"..."

Sasuke semakin mendekat. "Oi, Dobe." Lalu, ia menepuk pundak Naruto dan membuat si pemeran Jack Hatton itu menoleh dengan raut penuh penyesalan. "Itu tanda bahwa akting-mu sukses, bodoh. Untuk apa kau memasang raut seperti itu?"

"Teme.."

"Hn?"

"Kalau seperti ini terus," Naruto menelan ludahnya, "Sepertinya aku akan sulit membedakan mana akting-ku mana kepribadianku sekarang. Bagaimana ini?"

Sasuke tercenung. Tapi, bukan karena pertanyaan Naruto.

Kenapa Naruto terlihat seperti rubah kecil yang terluka dibanding seperti manusia? Lihat, manik safirnya sedikit berair. Rautnya sangat murung. Wajahnya nyaris tenggelam dalam lipatan kakinya. Oh, bahkan tangan berkulit tan itu bergetar.

'Kasihan.'

"..."

"..."

"Tunggu, Sasuke.. kau mau apa?"

Plik!

Sasuke nyaris terjengkang ke belakang begitu menyadari tangannya yang melebar. Ini benar-benar diluar kesadarannya. 'Sialan.' Batin Sasuke malu setengah mati. Bahkan, jantungnya berdetak sangat kencang. Membuat rona merah menjalar tipis menghiasi wajahnya. "Ti-tidak!" dan akhirnya Sasuke bergerak seolah meregangkan tangannya, "Tanganku.. sangat pegal."

Aduh, siapa pula yang percaya, Uchiha? Kalau memegang wajah karena melihat ada semut masuk mata sih, masih wajar. Kalau melebarkan tangan dengan tubuh mencondong ke depan karena tangan pegal? Alasan tidak bermutu macam apa itu, hey?!

Dahi Naruto berkerut, "Be-benarkah...?"

"Terserah saja." Sasuke berkata seolah-olah tidak peduli. Lalu, ia pun bergerak menjauhi Naruto, secepat mungkin. Karena wajah Sasuke yang merona tipis dan jantungnya yang bertalu-talu pasti sangat memalukan.

"Sialan." Dan umpatan itu akhirnya benar-benar keluar dari bibir Sasuke.

Demi bulan dan matahari, pikiran dan tubuh Uchiha Sasuke sesungguhnya tidaklah sinkron untuk saat ini. Hatinya masih berkecamuk menyumpahi dirinya sendiri, sedangkan pikirannya sangat bingung untuk mencari titik terang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kenapa tubuhnya seolah-olah bisa bertindak sendiri akhir-akhir ini.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Entah bagaimana bisa waktu berjalan dengan cepat bagi Naruto. Rasanya baru 5 menit yang lalu ia menjalani gladi resik, dan sekarang dalam waktu kurang dari 2 jam drama yang sesungguhnya akan segera dimulai. Banyak pengandaian yang muncul di benaknya sehingga pertanyaan-pertanyaan memenuhi otak kecilnya. Seperti... Bagaimana kalau ia tiba-tiba tersandung? Bagaimana kalau tiba-tiba ia lupa dialognya? Bagaimana kalau tiba-tiba poperti di panggung rusak? Bagaimana kalau kostumnya tiba-tiba robek? Bagaimana kalau tiba-tiba ia kebelet pipis? Kebelet BAB di tengah-tengah pentas? Perutnya mual?

Yah, walaupun jawabannya adalah 'tinggal ke kamar mandi'.

Maklumi-lah, Naruto benar-benar gugup plus bingung.

" – ap, Naruto-kun?"

"Huh?"

Konan-sensei menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum, "Apa kau sudah siap?"

Naruto Uzumaki tidak langsung menjawab, "Eeh.. tidak tahu, sensei." Jawabnya lesu.

"Gomen ne.. Naruto-kun." Ucap Konan-sensei yang membuat Naruto sontak menatap dengan heran. "Pasti sangat sulit memainkan perannya. Bukan begitu?"

"Sensei.."

"Tapi, kau akhirnya mengusasainya dengan baik. Jadi, aku sangat bersyukur."

Setitik air mata keluar dari pelupuk mata Naruto. Inilah ucapan yang seharusnya ia dengar sejak lama. Inilah ucapan yang seharusnya ia dengar setelah semua usahanya. "Sensei.."

"Ya, Naruto-kun?"

"Aku.." Naruto menggigit bibir bawahnya, suaranya terdengar serak. Konan-sensei yang mengerti akan hati muridnya itu menepuk pundak Naruto pelan. "Sensei, Aku.."

"..."

"Aku ingin pulaaang!" dan Naruto menangis frustasi sejadi-jadinya. Membuat rasa simpati Konan menghilang seketika, "Aku belum siap, sensei. Aku ingin pulang sajaa!"

.

.

-To be Continued-

A/N : YEP! Berarti sudah jelas kalau chapter depan dramanya sudah dimulaii~ Selamat ya buat kalian yang nunggu-nungguuu! Hahaha... Sekarang, waktunya berdoa semoga cerita dramanya gak ancur lebur. Soalnya alur buat dramanya sendiri belom dibikin! HAHAHAHA. /laluauthordibakarmasa/

Ehem, oke. Saya inget di chapter awal – di AN tepatnya – saya bilangnya penpik ini bakal end di chapter 5. Hohoho, liat sekarang jadinya? Lumayan panjang ye? Wkwkwk.. Iya, author luput. Author kilap. Tapi, apalah daya datangnya 'ilham' dan inspirasi tidak membuat penpik ini end di chapter 5.

Jadi, masih berkenan ninggalin Review? :3

Masih berkenan baca chapter selanjutnya dan bertemu saya kembali? :*

Random98.

P.S :

Maap gak ada preview chapter kali ini. Dan chapter 10 belum bisa update sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Maaf ._.