Satu hari yang lalu...

"Aku sudah banyak membantumu, Itachi."

"Hn, aku tahu, terima kasih."

Wanita di seberang sana terdengar berdecih, "Aku juga butuh imbalan, Orang tua!" katanya menuntut.

Itachi menghela napas, "Baiklah, bagaimana kalau kutraktir ramen?"

"Kau pikir aku Naruto?!" balas wanita itu sengit, "Berikan aku voucher belanja saja, kau tahu, pakaianku masih kurang. Dan aku harus tampil cantik saat perunjukkan besok. Bagaimana?"

"Kau pikir aku orang kaya sejagad raya?" Itachi lalu menggerutu, "Oh, bagaimana kalau aku belikan satu box kertas origami? Dengan gradasi warna ungu yang bagus dan juga yang warna-warni."

"Itachiii!" lalu wanita itu merengek.

"Kenapa? Kupikir kau sangat menyukai kertas," sahut Itachi tanpa merasa bersalah, "Yasudah, akan aku pertimbangkan soal imbalan-mu. Aku ada rapat sebentar lagi. Sampai jupa besok, Konan."

"Baiklah, aku tunggu."

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

What The...? by Random98

NARUTO belongs to Masashi Kishimoto.

Warning : AU, OOC, Typos, bahasa acakadulsembletenganbalalahulahula, dan banyak hal-hal yang dengan berat hati harus diterima jika anda membaca fic ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. /Duh,mintaditabokini-_-/

.

.

Chapter 10 : – ROLLING AND ACTION!

.

Enjoy! ^^

.

.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

.

.

"Apa kita terlambat?"

Itachi menggumam seraya menyandarkan punggungnya supaya nyaman, "Sepertinya, tidak. Ini baru prolog, Kaa-chan." Jawab Itachi.

Mikoto tersenyum, "Ara.. Yokatta."

Itachi balas tersenyum – kikuk. Ia tidak yakin ibunya akan menyukai drama ini. Namun, apalah daya keinginan yang diiringi kemampuan – memiliki tiket hasil rampasan Itachi waktu itu – membuat Mikoto ngotot datang untuk melihat Sasuke berakting. 'Semoga di dekat sini ada ambulan.' Batin Itachi ketika membayangkan ibunya itu mendadak terkena serangan jantung karena melihat anak bungsunya yang... yah, seperti itulah. Walaupun, hanya tuntutan akting, ibu mana yang tidak terkejut?

Well, semoga saja ada ambulan.

Tirai panggung tertutup ketika sang narator selesai membacakan prolog drama. Lalu, terbuka kembali dan menampilkan latar sebuah kamar di istana kerajaan. Disana juga terlihat dua orang yang tengah sibuk menggeluti tumpukan kertas. Mereka Thomas Denham – yang diperankan Sasuke Uchiha – dan Jack Hatton – yang diperankan oleh Naruto Uzumaki.

"Nii-chan! Itu Sasuke!" Mikoto menyenggol lengan Itachi dengan semangat membara, menyaingi fansgirl remaja di hall tersebut yang mengelu-elukan nama Sasuke, "Ya ampun, dia tampan sekali, Nii-chan!"

Itachi hanya diam, karena diam-diam ia iri karena jarang dipuji tampan oleh sang ibu.

Suara Tenten – sang Narator – kembali mengisi ruangan, "Inilah sang putra mahkota Kerajaan, Thomas Denham, bersama ajudannya, Jack Hatton. Sebagai pewaris takhta, pangeran juga sudah dilatih bagaimana untuk menjalin kerjasama dengan kerajaan lain. Dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki dan luasnya pengetahuan, pangeran Thomas dipilih sebagai ketua divisi kerajan. Semua divisi di berbagai bidang di bawahi olehnya, dan bertanggung jawab langsung kepada Raja. Sehingga, secara tidak langsung ia dapat belajar bagaimana peran seorang raja dan bagaimana cara untuk mengatasi permasalahan di dalam kerajaan.

Selain itu, Jack Hatton adalah ajudan pangeran. Jack secara langsung di-didik oleh ajudan raja saat ini dan juga ditugaskan untuk membantu pangeran dalam segala urusannya. Dengan respon yang cepat dan pemahaman pribadi orang lain yang baik, ia terpilih dari sekian banyaknya anak muda yang mencalonkan diri sebagai ajudan."

Jack bangun dari kursinya dengan membawa sebuah tulisan, "Saya sudah selesai mendaftar tamu undangan pesta. Totalnya ada 20 kerajaan di bagian barat dan 10 kerajaan di bagian timur. Ada yang bisa saya bantu lagi, pangeran?" katanya seraya menyerahkan surat tersebut.

"Terima kasih, Jack." Ucap Thomas begitu menerima daftarnya, "Setelah ini aku akan sedikit olahraga untuk menghilangkan stress. Kupikir memacu kuda ide yang bagus."

"Baik, pangeran. Saya akan persiapkan."

Thomas hanya mengangguk, lalu Jack pun meninggalkan ruangan.

Ajudan Raja, Louis – yang diperankan oleh Kiba Inuzuka – lalu memasuki ruangan, "Permisi, pangeran." Katanya sopan

"Oh, Louis. Masuklah." Sahut Thomas dari meja kerjanya, "Kebetulan sekali, surat undangannya sudah siap. Kuharap tidak ada yang salah."

Louis tersenyum lalu mendekati meja pangeran, "Boleh kulihat?"

"Tentu." Jawab Thomas lalu menyerahkan selembar kertas pada Louis. "Jack juga sudah menyiapkan daftar tamunya. Tepat di hadapanmu."

Louis yang berpenampilan dengan rambut perak dan baju kebesaran berupa setelan jas berwarna hitam dengan lencana khususnya, tampak diam beberapa saat untuk mengecek data-data tersebut. Seperti sedang memeriksa pekerjaan muridnya. "Bagus. Kalian telah melaksanakan semuanya dengan sempurna." Apresiasinya kemudian.

Thomas tersenyum seklias, "Terima kasih."

"Sudah kuduga kalian akan menjadi patner yang baik. Kupikir Raja juga tidak keberatan jika pangeran menginginkan Jack sebagai ajudan saat menjadi pemimpin kerajaan kelak." Kata Louis, "Tapi, tentu saja, semua itu tergantung keputusan anda."

"Aku tahu," sahut Thomas. Lalu, ia bergerak dari kursinya, menatap keluar jendela. "Kinerja Jack Hatton memang sangat baik dan cepat. Selain itu, dia sangat membantu dalam membaca keadaan. Sehingga, mempermudah dalam membuat keputusan. Tapi –"

"..."

"Aku belum berpikir sejauh itu. Maksudku, soal takhta."

Louis meletakkan lembar data di sisi tubuhnya, "Tidak masalah jika pangeran belum memutuskannya. Tapi, anda adalah masa depan bagi kerajaan, pangeran. Satu-satunya."

Thomas menghela napas pelan, kepalanya kembali menghadap keluar.

Sang pangeran yang tidak menginginkan takhta.

"Kalau begitu, aku permisi. Selamat beristirahat, pangeran Thomas." Lalu Louis meninggalkan ruangan. Membiarkan Thomas tenggelam dalam pikirannya.

"Thomas Denham bukanlah seseorang yang haus akan takhta," Tenten kembali membaca narasi, "Walau lahir sebagai pewaris takhta, ia dibesarkan dengan berbagai ilmu yang diajarkan. Dan Thomas selalu tertarik dengan geografi dan sains. Sehingga ia pernah bercita-cita untuk mengelilingi dunia. Namun, dengan dirinya yang selalu disibukkan seperti ini.. Thomas tidak yakin lagi. Tapi –"

Tok! Tok!

"Ya?"

Pintu ruangan pangeran itu kembali terbuka, "Kuda anda sudah siap, pangeran." Lalu sebuah suara terdengar di telinga Thomas. Suara yang sangat dikenalnya, dan membuatnya tidak segan-segan untuk menatap langsung orang itu.

"Tapi, suatu hari seseorang pernah mengatakan pada Thomas. Untuk tidak menyerah akan apapun yang dicita-citakannya. Dialah Jack Hatton. Ajudan pangeran yang dapat diandalkan dalam segala hal."

Thomas mengulaskan senyum, "Terima kasih, Jack."

Tenten kembali melanjutkan membaca narasi walau riuh penonton terdengar mendominasi sejak Sasuke mengulaskan senyum. "Sehingga, sang pangeran selalu merasa memilihnya adalah sebuah keputusan yang brilian." Ucapnya sebelum akhirnya penerangan meredup dan tirai tertutup.

Itachi melirik wanita disampingnya yang tidak mengeluarkan suara sejak tadi. "Kaa-chan..?" panggilnya pelan. Oh, sungguh, Itachi merasa jantungnya ingin meloncat keluar begitu melihat setitik air mata ibunya menetes.

Jangan-jangan..?

"Aku terharu, ternyata anak-anakku sangat berbakat."

"Eh?"

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Keep move! Keep movee!" Sakura berkoar-koar di belakang panggung. Tangannya bergerak-gerak diudara, seolah mengatur lalu lintas. "Kita hanya punya waktu kurang dari tiga menit, teman-teman. Tetap semangat dan berikan yang terbaik!"

"Baiiik!"

Sakura mengerutkan dahi melihat salah satu tokoh utamanya terdiam dengan tangan berada di dadanya, "Kau baik-baik saja, Naruto?" tanyanya khawatir.

Pemuda itu sempat linglung, walau akhirnya menggeleng keras, "Ti-tidak, aku hanya sedikit gugup." Katanya, "A-apa aktingku tadi sudah bagus?"

"Kita tidak bisa menilai kerja kita setengah-setengah, Naruto." Jawab Sakura, "Jadi, cepat ganti kostum-mu sebelum kita kehabisan waktu!"

"Baik!" lalu Naruto lari terpontang-panting ke arah Ino yang telah menjunjung kostumnya.

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bagian kedua, pesta dansa! Bagian ini akan dibuka oleh Shikamaru dan Kiba." lalu ia menjelaskan di tengah-tengah kerumunan, "Pastikan kalian berdansa dengan benar seperti latihan sebelumnya. Mengerti?"

"Baiiik!"

"Ino, apa semua pemain sudah siap?"

Gadis ponitail itu mengacungkan jempol, "Sudah!"

"Bagaimana dengan poperti?"

"Siap!"

"Oke. Semua pemain bersiap di panggung! Tirai akan dibuka dalam sepuluh detik!"

Semua pemain yang ditentukan-pun memasuki panggung, terutama Shikamaru dan Kiba. Mereka yang akan menjadi tokoh yang banyak berdialog di bagian ini. Sedangkan, Naruto dan Sasuke akan tampil di pertengahan untuk sekadar berdansa. Kedua anak adam itu pun hanya menunggu di samping panggung untuk beberapa saat.

"Sialan.."

Naruto menoleh ketika mendengar umpatan Sasuke tersebut, "Ada apa?"

Sasuke hanya berdecih, mata kelamnya terus menatap bangku penonton.

"Wah, Mikoto-baachan.." ucap Naruto begitu menangkap sosok yang dimaksud oleh Sasuke. Namun, ia menelan ludah begitu melihat sosok di samping Mikoto, "Itachi-nii juga. Haha.." pemuda blonde itu tertawa garing.

Oh, tidak. Sepertinya Naruto merasakan ada yang salah dengan perutnya.

Kepalan tangan Sasuke menguat, menahan rasa kesalnya pada entah siapa. Tiket yang melayang memang murni kesalahannnya, tapi yang memberi tiket pada ibunya kan.. "Itachi.." Sasuke menggeram tanpa sadar.

Sasuke tidak tahu akan seperti apa ia sampai rumah nanti. Dipasung seumur hidup atau masuk ke RSJ terdekat. Oh, ya Tuhan, bagaimana nasib jantung ibunya nanti? Dan setelah sekian lama, Sasuke kembali mengerang frustasi seperti drama nista ini diumumkan.

"Oi, Sasuke.."

Laki-laki emo itu melirik sosok di sampingnya, "Apa?"

"Bukankah kau kemarin bilang," Naruto menatap lurus-lurus Sasuke yang sedikit lebih tinggi darinya itu, "Kalau mereka yang di atas panggung semuanya hanya berakting?"

Sasuke termangu sesaat, dan suaranya sendiri mengudara di otaknya..

"Toh, mereka yang disana juga sedang berakting."

Naruto tersenyum bangga begitu berhasil membuat Sasuke tersadar, "Semuanya akan baik-baik saja, teme. Tenang saja." Katanya seraya menepuk pundak Sasuke.

Sial, kenapa kondisinya terbalik sekarang?

Sasuke berdecih, "Aku tahu, dobe. Aku hanya sedikit kesal." Sahutnya tanpa bisa menyembunyikan kekesalannya. Well, sebenarnya gengsi untuk mengucapkan terima kasih.

Naruto pun mendengus mendengarnya. Respon macam apa pula itu? Menyebalkan. Naruto 'kan hanya ingin membantu, kenapa juga harus melampiaskan kekesalan padanya?

"Pangeran kerajaan kita bersama ajudan terbaiknya," Lee yang sedang berperan sebagai MC menyambut dua tokoh utama. "Yang Mulia Thomas Denham, dan Jack Hatton."

Sakura yang memonitor dari sisi panggung lainnya mengisyaratkan Sasuke dan Naruto untuk masuk. Namun, hal diluar dugaan terjadi. Seharusnya sang pangeran dan ajudan keluar secara bersamaan dan berhenti sejenak, tapi mereka – Sasuke dan Naruto – melakukannya dengan tidak kompak dan langsung ke arena panggung untuk berdansa.

Gadis pinky itu menahan amarahnya, "Mereka itu–hmmm!" ia menutup mulutnya sendiri dengan tirai besar.

"Mari, nona." Naruto menawarkan tangannya pada Sara yang berperan sebagai salah satu tamu. Gadis bersurai magenta itu pun menyambutnya dengan senyuman hangat, dan Naruto tidak membuang waktu untuk memosisikan tubuh mereka untuk siap berdansa.

Sasuke diam-diam melirik Naruto, ia menawarkan tangannya pada Shion yang berperan sebagai Cindy. "Mari.." datar. Sasuke tidak peduli akan sekenario lagi. Moodnya terlalu buruk saat ini.

Kenapa Naruto terlihat lebih gentle dan tenang? Bukankah saat latihan kemarin ia masih sering menginjak kaki lawan dansanya?

"Toh, mereka yang disana juga sedang berakting."

Oh, betapa Sasuke membenci perkataannya sendiri. Ini yang pertama kalinya.

Kiba menepukkan tangannya dua kali, dan suara musik pun mengalun lembut di udara. Semua yang berada di panggung berdansa dengan gerakan pelan. Sangat bertentangan dengan jeritan fans Sasuke yang semakin mengeras. Bahkan, korban pingsan pun mulai berjatuhan.

"Kyaa~ Sasuke-kun kakoii~"

"Oh, pangeran Thomas~"

Mikoto yang menyaksikan anaknya berdansa pun merasakan rasa panas menjalar pada pipinya, "Ya ampun, anakku.." katanya penuh rasa bangga sekaligus terpesona.

"Ii ne, Sasuke." Itachi berkomentar dengan seulas senyum.

Gerakan dansa Sasuke dan Shion terlihat lebih difokuskan oleh sinar panggung dibanding yang lainnya, dan secara perlahan ruang panggung diisi oleh mereka berdua karena yang lain menyingkir ke sisi panggung.

Kedua onyx itu menajam begitu menangkap bayangan Naruto dan Sara tengah sedikit berbincang di sisi panggung dan sesekali tertawa bersama. Setengah mati Sasuke mencoba untuk tidak menggigit bibirnya sendiri. Gerakan Shion dan Sasuke kembali berputar, kali ini bayangan Mikoto yang sedang terpesona dan Itachi yang tersenyum tipis pun tertangkap mata Sasuke. Rasa kesal dan frustasi pun merayap dengan cepat pada diri Sasuke.

Apa ada sebutan PMS untuk laki-laki? Apakah mood swing juga berlaku untuk laki-laki?

Teengg! Teeng! Teengg!

Cindy melihat ke arah jam besar yang ada, lalu secara tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya pada Thomas. "Maafkan aku pangeran," katanya, "Aku harus pergi."

Pangeran Thomas hanya menatap Cindy heran, walaupun hanya membiarkan wanita berambut priang itu berlari terseok-seok hingga tersandung.

"Aduh.." Cindy meringis sebelum akhirnya kembali berlari dengan sebelah sepatu terlepas.

Thomas menggeleng-gelengkan kepala. Betapa cerobohnya si tamu undangan, tapi ia tidak peduli. Ia pun berbalik dan bergerak menjauh dari arena dansa.

"Pangeran Thomas.."

Thomas menghentikan langkahnya, "Hn?" sahutnya tidak jelas pada Louis yang muncul di arena dansa.

"Apakah ini sepatu milik gadis yang Anda ajak dansa?"

"Ya."

Louis – alias Kiba – pun memungut sepatu yang berhiaskan bulu tersebut, "Apakah kita harus mengembalikkannya, Pangeran? Sepertinya dia–"

"Kau urus saja, sendiri. Aku lelah." Potong Sang Pangeran seraya meninggalkan Sai.

"Pangeran..?"

Tak lama kemudian cahaya meredup, dan tirai kembali tertutup. Tidak ada narasi dalam jeda kali ini. Semua orang dibelakang panggung sibuk menyiapkan latar baru di ruang kerja Raja dengan cepat.

"Shikamaru dan Kiba kembali bersiap di tempat!" arah Sakura begitu semua sudah tertata rapi. Setelah semua dinilai siap, ia pun memberi isyarat kepada Chouji yang bertugas membuka tirai.

Chouji mengangguk, dan tirai pun kembali terbuka.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Kalian ini kenapa sih?!"

Sasuke hanya sibuk menengguk minumnya, sedangkan Naruto mengangkat bahunya tidak mau tahu. Sang Sutradara kembali menahan geramannya, kemudian menghela napas panjang. Tenang Sakura, amarah tidak akan bekerja untuk saat ini. Malah akan menghancurkan drama ini.

"Apa ada yang salah di panggung tadi?" lagi, Sakura kembali bertanya dengan suara yang lebih lembut dan raut wajah yang lebih lama.

"..."

"..."

Sepasang emerald itu menatap manik safir milik Naruto, "Kau bisa mengatakannya padaku, Naruto?"

"Kalau aku tahu sih, aku akan bilang padamu, Sakura-chan." Jawab Naruto, "Kenapa kau tidak tanyakan saja padanya?" lalu ia menunjuk Sasuke menggunakan dagunya.

Kali ini sepasang emerald mengarah pada sepasang onyx, "Sasuke-kun..?"

"Apa?" tanya Sasuke balik dengan ketus, "Aku sudah mengatakannya tadi. Dia saja yang–"

"KAU HANYA BERDECIH, UCHIHA SASUKE!"

"KAU YANG MERUSAK DRAMANYA, UZUMAKI NARUTO!"

"APA KATAMU?!"

Kilatan petir menyambar dari mata kedua kubu yang berseteru itu. Sedangkan, Sakura tersenyum – menahan emosi. Dengan kesal ia menjambak rambut Sasuke dan Naruto, membuat dua pemuda itu menatapnya lurus-lurus plus meringis kesakitan.

"Kiss.."

Heh?

Sakura masih tersenyum, "Terserah kalian akan melakukan apa di sisa drama ini. Semua terlanjur kacau karena kalian," katanya setengah mendesis, "Dan, kalian harus bertanggung jawab."

"A-apa?" Naruto menatap horor teman sekelasnya itu.

"Penutup dengan kesan terbaik atau adegan tidak terduga, hanya itu yang bisa melupakan penonton tentang kesalahan kalian sepanjang drama." Jelas Sakura dengan pandangan menghunus dan suara yang semakin rendah, "Berciuman. Aku tunggu adegan itu di akhir drama ini, tuan-tuan."

"Kau gila?!" Sasuke shock seketika.

Berbeda dengan Naruto yang sudah membatu.

Sakura melepaskan jambakannya, "Kalian yang sudah menguji kesabaranku dari awal." Katanya dengan angkuh, "Sekarang giliranku menguji kemampuan kalian." Lalu gadis itu beranjak menjauh untuk kembali memonitor drama yang berlangsung.

"..."

"..."

"Oh ya, aku serius kali ini. Jadi, lakukanlah yang terbaik demi kesuksesan drama ini."

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Kau membuat mereka takut, Forehead." Ucap Ino seraya memandangi kedua tokoh utama dari jauh. "Lagipula, kesalahannya baru sekali. Memangnya apa yang kau katakan tadi?"

Sakura mendesah lelah, "Aku harus melakukannya agar mereka lupa akan pertengkaran mereka, Pig."

"Eh? Jadi, mereka tadi sempat bertengkar?"

"Apa kau tidak mendengar mereka saling berteriak?" tanya Sakura dengan dahi berkerut.

"Tidak terdengar sampai sini."

"Oh? Kupikir terdengar sampai luar.."

"Tidak," ulang Ino, "Kau belum menjawabku tadi, apa yang kau katakan pada mereka?"

Sakura menelan ludah, lalu menatap sosok ibu-ibu dan seorang pria yang sedaritadi ditatap oleh Sasuke. Oh, tidak, ia salah. "Apa yang harus kulakukan..?" Sakura menggumam, "Aku telah memaksa mereka berciuman di akhir."

Ino melongo, "A-apa..?"

"Tidak, aku memang harus melakukannya." Sakura mengabaikan reaksi sahabatnya itu, "Aku akan mencabutnya di jeda akhir jika mereka tidak melakukan kesalahan lagi nanti."

"Kau gila, Sakuraaaahhh!" Ino mencicit sebagai gantinya berteriak.

.

.

.

-To be Continued-

A/N : Yak! Akhirnya saya bisa melanjutkan fic ini kembaliiihh... fyuh, maap ye kelamaan update /laludibakarmasagara-garagakbilangdiawal/ O-oke, terima kasih karena masih menunggu kelanjutan fic ini, juga tetep mau baca biar makin amburadul. Terus, kalo ada kurang dari fic ini mulai typo, garing, kata-kata gak nyambung, aneh, balabalalah (?) tolong sampaikan lewat kotak review yah? Please.. onegai.. Minna tahu kan saya hanya manusia biasa? (*w*) /reader:gak-_-/

Karena review pembaca adalah pengharapan bagi– *plak! /ditamparmasa/ ah.. gak pantes ngarep lagi ye? Yah.. mau gimana lagi? emang gitu kok. Hiks.. /tau-taunangis/

Oke, sekian dari saya. Terima kasih, dan

See you in next chapter~ ^^/