"Ada satu cara."

Sepasang safir itu mengerjap cepat, "Apa?" tanyanya penasaran.

"Improvisasi," jawab Sasuke layaknya pembuat strategi perang, "Buat Sakura terkesan, maka ia akan melupakan soal hukuman itu."

"Improvisasi? Maksudmu kita mengubah–"

"Tidak," potong Sasuke cepat, "Kita akan keluar dari narasi, tanpa mengubah akhir cerita."

Dahi Naruto berkerut samar – sedikit kebingungan sebenarnya – tapi, akhirnya ia memilih untuk mengikuti semua rencana Sasuke. Naruto yakin Sasuke tidak main-main saat ini, jadi mereka pasti berhasil. Harus.

"Baiklah, katakan apa yang harus kulakukan, teme."

Ya. Semudah itulah cara Sakura membuat mereka berbaikan dan kembali berkerja penuh untuk drama.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

What The?

NARUTO by Masashi Kishimoto

WARN : AU, OOC, Out Of Genre, dan valavala dan hasemeleh weleh weleh~

Chapter 11 : Menghayati atau..?

.

.

Sorry for being late! ^^a /laludigaplokmasa/

And, Happy Reading!

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

.

.

"Oh? Mereka sudah berbaikan?"

Shikamaru menoleh ke arah yang dimaksud oleh Kiba, "Hmm, baguslah." Katanya lega. Walaupun dalam hati ia juga bertanya-tanya, hal – ekstrem – apalagi yang Sakura lakukan. Lihat saja, dua orang itu sekarang telah berbicara serius. Tidak seperti saat Shikamaru dan Kiba bersiap di adegan sebelumnya – bertengkar layaknya kucing dan anjing.

Kiba mendesah, "Rasanya lelah sekali berperan sebagai ajudan Raja. Kapan aku bisa istirahat?"

Shikamaru berdecak, "Bukankah kau sendiri yang bilang ingin populer dan mendapatkan pacar setela–" dan Kiba secepat kilat membekap mulutnya.

"Aish! Kau ini berisik juga ya, Shikamaru!?"

Sepasang manik hazel itu hanya memutar bosan.

"Hey, kalian berdua sedang apa sih? Cepat masuk panggung!" Sakura yang sudah di dekat Kiba dan Shikamaru langsung memberi arahan. Kiba pun melepaskan bekapannya pada Shikamaru sebelum akhirnya mengikuti perkataan sang sutradara. Sedangkan, Shikamaru memilih untuk bertanya sebentar.

"Apa yang kau lakukan pada mereka?"

Senyum mengembang di wajah Sakura, "Rahasia."

Shikamaru pun hanya berdecak sebelum akhirnya masuk ke arena panggung. Membuat Sakura semakin gemas karena tidak sabar mengutarakan panjang-lebar rencananya itu. Yaa, mau bagaimana lagi? Kalau ia bilang saat itu juga akting Shikamaru akan memburuk dan otaknya kembali pusing.

"Naruto, Sasuke-kun, segera bersiap." Kata Sakura mengingatkan dua insan manusia yang sedang sibuk bercum-eh, berdiskusi maksudnya, yang tempatnya tak jauh dari Sakura.

"A-ah.. I-iya, Sakura-chan."

"Hn."

Sakura pun membalikkan badan dan kembali ke sisi panggung untuk memantau. Ia tidak peduli apa yang dua orang itu bicarakan secara serius tadi – kalau tidak mau dibilang secara intim karena jaraknya yang begitu berdekatan – tapi, rasanya menyenangkan sekali bisa membuat mereka melakukan hal yang Sakura inginkan.

'Gawat, aku tidak bisa berhenti tersenyum karena terlalu senang.' Batin Sakura menutup bibirnya yang masih juga tertarik lebar ke samping. Sedangkan, di sisi lain Sasuke dan Naruto telah siap dengan rencana mereka.

"Kau mengerti?" tanya Sasuke memastikan.

Naruto mengangguk mantap.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Onii-chan.."

Itachi menoleh ke arah ibunya, "Ya?"

"Perempuan tadi, yang namanya Cindy, apa dia yang akan jadi pasangan Thomas?"

Pria dengan tanda lahir berupa keriput di wajah – yang sering jadi bahan umpatannya kalau ada yang ingin tahu – itu tidak langsung menjawab. Sebenarnya ia tahu jalan drama ini dari awal hingga akhir, karena bagaimanapun juga ini semua adalah rencananya – bersama Konan tentunya. Tapi–

"Onii-chan? Ada apa?" tanya Mikoto heran melihat anaknya yang justru termenung.

"..."

"Onii-chan..?"

Itachi stuck.

"..."

"..."

"Oh, dramanya sudah dimu–astaga!?"

Itachi pun menoleh ke arah panggung. Oh, tidak.

"Sa-sasuke–hah hah–anakku–hah–tidak mungkin!" Mikoto seketika kejang-kejang di tempat dengan mata yang nyaris keluar dan tangan yang menuding-nuding ke arah panggung. Penonton di sekitar mereka pun terheran-heran.

Itachi semakin panik dengan keringat dingin membasahi pelipisnya, "Tu-tunggu dulu, bu. Ini semua – aku bisa jelaskan, bu. Kumohon tenanglah." Katanya seraya berusaha menghalangi pandangan ibu ke arah panggung.

Mikoto masih kejang-kejang, "Hi – hiks.. Anak–ku.."

"I-ibu bertahanlah sebentar ya?" Itachi berusaha menenangkan, "Hey! Dimana ambulannya, sialan?!"

"Jack.."

Mata Itachi langsung terarah pada panggung, di sana adiknya dan sahabatnya sudah berdekatan dengan saling menatap wajah. Itachi semakin panik. Rintihan sedih Mikoto pun kembali terdengar, "A–nakku.. hi –hiks.. Tu.. han.." dan perlahan kehilangan kesadaran bersamaan dengan matanya yang tertutup.

Itachi pun melotot tidak percaya, "IIB–"

"SASUKE-KUUNN! KAMI MAU SASUKE-KUNN!"

Kaget, mata kelam Itachi pun mengerjap cepat. Namun, setelah ia kembali melihat dengan jelas, di pandangannya Mikoto justru sedang mengerutkan alis menatapnya.

"Iiib–?" beo ibunya tidak mengerti.

Oh, sebuah halusinasi telah usai.

Itachi lalu menyandarkan punggungnya dengan dada yang naik-turun, serta memberikan pijatan kecil pada kepalanya yang terasa pening. Hah, Sial dan beruntung. Sial karena halusinasinya yang hebat dan beruntung karena ia dan ibunya duduk di barisan paling pinggir, sehingga raut wajah Itachi tidak dilihat banyak orang.

Setelah kembali menguasai kondisinya, Itachi pun berkata pada ibunya, "Ii–itu maksudku.. Eh, sepertinya Sasuke akan kembali tampil."

"..." diam, Mikoto masih memasang tampang 'Hah-kamu-kesambet-apa-nak?' .

Inner Itachi pun sempat kalangkabut sendiri mencari alasan, sampai akhirnya backsound ala ala kerajaan zaman dulu menjadi penyelamatnya dan menarik perhatian ibunya untuk kembali fokus pada drama yang ditampilkan. Itachi pun mulai memanjatkan doa untuk keselamatan jiwa ibunya.

'Semoga ibuku tidak membutuhkan spesialis jantung setelah ini, Tuhan.'

Puk. Puk.

Itachi mengangkat wajahnya dan menatap sosok wanita yang tiba-tiba menepuk pundaknya, "Konan?" katanya sedikit terheran mendapati teman yang notabene membimbing drama yang sedang ditontonnnya ini justru menghapirinya di kursi penonton.

"Hai." Sapa Konan dengan seulas senyum yang cerah, "Sepertinya kau begitu menghayati dramanya."

Pria dengan dua garis yang menjulang di samping hidungnya itu mendengus, "Menurutmu begitu?"

"Ara.. Konan-chan?" Mikoto yang menyadari kalau ada seseorang yang mendatangi Itachi pun langsung mengenali sosoknya. "Jadi, kau mengajar di sini ya?"

Konan sedikit membungkukkan badannya, "Ha'i. Lama tidak berjumpa, Mikoto-baasan."

"Dialah yang menjadi pembimbing dalam drama ini, Bu." Timpal Itachi yang membuat senyum terperangah terlihat jelas pada wajah Mikoto.

"Sungguh? Kyaaa! Kau hebat sekali, Konan-chan!" Mikoto lalu heboh sendiri di kursinya, "Anak muridmu juga terlihat sangat berbakat! Apalagi Sasuke, kau bisa mebuatnya seperti aktor hollywood!"

Wanita dengan surai ungu itu sedikit tertawa kikuk, "Mereka semua latihan sendiri, Baa-san. Aku hanya mengontrolnya beberapa kali saja karena juga membimbing kelas lain." Ungkapnya jujur, "Kalau soal Sasuke, dia memang anak yang berbakat dari awal."

Mikoto lagi-lagi histeris bersama dengan fangirls anaknya.

Konan pun tersenyum, sedangkan Itachi menatap temannya itu penuh curiga.

"Oh ya, Konan-chan," Mikoto teringat akan pertanyaannya yang belum terjawab, "Apa Thomas akhirnya akan bersama Cindy? Seperti di dongeng-dongeng biasanya?"

Itachi melotot horor tanpa ibunya ketahui. Berbeda dengan Konan, ia terlihat sangat luwes hingga senyum di bibirnya belum juga hilang. Membuat Itachi semakin curiga sekaligus was-was dengan setiap kata yang akan meluncur dari guru seni yang sebenarnya nista itu.

"Ah, itu.. Ehh," Konan sedikit menggumam. Itachi menunggu lanjutannya dengan tatapan 'Jangan-buat-ibuku-kejang-kejang-dan-cepat-pergi!'. Mengerti dengan maksud Itachi, Konan pun akhirnya berkata, "Menurutku akhir ceritanya benar-benar diluar dugaan, dan akan lebih baik jika Baa-san tidak mendengar dariku."

"Hmm.. Souka, tapi sejauh ini belum jauh berbeda dengan cerita Cinderella." Komentar Mikoto, "Lihat, mereka kini sedang mencari-cari Cindy karena sepatunya itu."

"Sudahlah, Bu. Dramanya tidak akan seru jika Konan membeberkannya." Sela Itachi.

Konan pun tertawa, "Baiklah kalau begitu, selamat menyaksikan kembali. Aku harus memantau mereka lagi. Sebelumnya, maaf aku mengganggu." Katanya dengan sedikit membungkukkan badannya sopan.

"Tidak, tidak. Bukan masalah, Konan-chan." Sahut Mikoto dengan mengibas-ngibaskan sebelah tangannya, "Tolong bimbing anakku ya."

"Baik, Baa-san." Lagi, Konan mengulaskan senyum. Namun, sebelum beranjak ia membisikkan sesuatu ke arah Itachi, "Balasanku setelah drama ini usai, oke? Kutunggu di stand kopi 2-A."

Itachi memutar matanya bosan, "Ha'i.. ha'i.." sahutnya setengah malas.

Ternyata Konan hanya ingin memastikan bayarannya.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Apa bisa kalau ditunda–"

"Tidak," potong Thomas cepat, "Kita harus bicara. Sekarang."

Jack pun akhirnya mengangguk patuh, dan suasana menjadi hening seketika dengan Cindy yang belum juga beranjak dari tempatnya. Sehingga terlihat jelas bagaimana Thomas begitu tidak pedulinya pada wanita berambut pirang yang mendambanya itu.

Cindy menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar. Ia patah hati. "Maaf, aku akan pergi, Pangeran." Katanya tidak dapat menyembunyikan rasa sedih. Dan juga hasrat untuk terjun bebas dengan alas tanaman kaktus di bawahnya.

Sakura menatap dua orang yang tersisa di panggung itu lamat-lamat. Tidak boleh ada kesalahan lagi kali ini.

Thomas bergerak memperpendek jarak dengan Jack, matanya terlihat menusuk hingga ke tulang. "Jadi, apa yang kau lakukan, Jack Hatton?" tanyanya penuh penekanan pada nama Jack Hatton. "Hanya sebatas kata-katamu kah kau mendukungku?"

Mata Sakura terbelalak. 'Tunggu, sejauh apa mereka akan seperti itu? Seharusnya tidak ada perubahan pada perasaan Thomas. Oh, tidak! Durasinya–'

"Mereka berimprovisasi," celetukan Shikamaru seketika membuyarkan lamunan Sakura, "Jangan bilang kau memaksa mereka lagi, Sakura?"

"Kau mengagetkankanku, Shika!" desis Sakura kesal, "Dan aku tidak memaksa mereka melakukan hal itu. Aku hanya menyuruh mereka berciuman di akhir nanti."

"Ap–"

"Sssstt!" Sakura dengan cepat membungkam mulut pemuda nanas itu, "Aku akan melakukan sesuatu jika terjadi kesalahan lagi, tenanglah! Lagipula, itu hanya sebuah ciuman kecil."

Mata Shikamaru terlihat melebar.

"Ssst, Sakura.. Hey.." Tenten mendekat ke arah Sakura dengan langkah lebar, "Kenapa mereka diluar naskah? Bagaimana dengan narasi yang kubacakan nanti?!" katanya mencicit panik dengan narasi di tangannya.

Gadis bersurai pink itu menggigit bibir bawahnya gemas, "Tahanlah sebentar, Tenten. Kita harus tahu lebih dulu dengan improvisasi mereka. Aku sendiri juga kesal karena–akh, kenapa Naruto hanya diam saja?!"

Dan yang memantau Sasuke dan Naruto dengan kepanikan kini bertambah.

"Jack Hatton.." Suara Sasuke semakin terdengar mengacam. Bahkan, raut wajah penonton menjadi ketakutan. Bagaimanapun juga sangat jarang bagi Sasuke untuk sampai terlihat murka di depan banyak orang, apalagi fansnya. Maklum lah, menghindari cap 'Menyeramkan'.

Perlahan Jack mengangkat kepalanya, "Kebijakan Raja ini demi kebaikan Anda, Pangeran."

"Kau pikir begitu?"

Jack lagi-lagi terdiam, gerak tubuhnya pun tidak terlihat mengiyakan atau menyangkalnya. Membuat Thomas semakin gerah sampai harus menarik kerah baju ajudannya itu.

"Tatap aku, Jack Hatton! Berada di pihak mana kau sekarang, ha?"

"Berhentilah mementingkan diri sendiri, Pangeran." Jack melepaskan cengkraman pada kerahnya itu, "Memang benar aku mendukung semua yang kau cita-citakan. Tapi, bukan berarti aku seorang yang membangkangi semua kebijakan Raja."

"Termasuk rencana perjodohanku ini?"

Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Jack mengangguk, "Ya, jika Anda benar-benar tidak menginginkan semua ini, bicaralah pada Raja. Aku tidak berhak terlibat dalam hal seperti ini, Pangeran." Katanya.

Thomas terlihat berdecak kesal, "Katakan padaku kau juga tidak setuju, Jack."

"..."

"Jack Hatton.."

Jack Hatton menunduk, "Aku tidak bisa.." gumamnya pelan.

Mendengarnya pun membuat pandangan Thomas menggelap, dan tanpa sepatah kata ia berjalan meninggalkan ajudannya sendiri. Ini bukan pertama kalinya mereka berselisihan. Tapi, mengingat bagaimana Jack Hatton berkata sebelumnya membuat Thomas benar-benar...

Ingin menariknya hingga terus di sisinya. Dalam segala hal, melupakan posisi dan jabatan. Melupakan kerajaan mereka.

.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

"Sasuke! Naruto!"

Dua anak adam itu menoleh bersamaan ketika tiga orang tiba-tiba menyerbu mereka dengan raut wajah panik setelah tirai kembali di tutup. Sasuke sudah menduga ini akan terjadi. Ia akan menjelaskan semuanya secara singkat.

"Apa rencana kalian, hah? Bukankah itu hanya akan memperpanjang durasi–"

"Tidak akan, Sakura."

"Lalu, bagaimana dengan narasi yang kubaca nanti?!"

"Improvisasi ini tidak akan berakibat pada apapun," jelas Sasuke datar, "Hanya dialog antara Thomas dan Jack yang sedikit berubah di sini. Kalian bisa melakukan semua sesuai rencana awal."

"Pastikan berhasil, Sasuke." Ucap Shikamaru yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh orang yang dimaksud. Lalu, Shika beralih pada pemuda pirang yang di samping Sasuke, "Kau juga, Naruto."

Naruto pun mengacungkan jempolnya, "Yosh!"

"Kalau begitu kita kembali ke posisi masing-masing," Ucap Sakura begitu tidak ada yang dirasa bermasalah. "Dan lakukan yang terbaik hingga akhir, mengerti?"

"Baik!"

Berbeda dengan yang lain masuk ke ruang rias, Tenten berlari menuju tempat pengontrolan sound system yang berada di sudut depan ruangan hall. Setelah ini adegannya adalah diskusi antara Thomas dan Ayahnya, sedangkan Jack akan muncul di akhir. Gadis bercepol dua itu menatap naskah di tangannya dengan dahi berkerut. Memang dialog akhir Thomas dan Jack tidak ada perubahan, tapi terlihat jelas bagaimana kekesalan Thomas meluap-luap di tengah.

'Kuharap improvisasinya berakhir di bagian ini.' batin Tenten membaca narasi bagian selanjutnya yang telah menggambarkan dua tokoh utama tersebut sudah berbaikan.

"Semuanya baik-baik saja, Tenten?" tanya Konan begitu melihat perubahan raut wajah muridnya itu.

Tenten mengangguk, "Sasuke telah menyesuaikan improvisasinya. Kita bisa melakukan semuanya sesuai rencana, Sensei." Jelasnya.

"Syukurlah.."

Tenten kembali duduk di depan microfon, dan tak lama kemudian tanda untuknya memulai pun diterima. "Ini bukan pertama kalinya Thomas berada di sisi yang berbeda dengan Jack," ia mulai membaca, "Dan ini juga bukan pertama kalinya Thomas bertentangan dengan kebijakan Ayahnya. Namun, Thomas baru pertama kali merasakan ada batasan yang sangat besar antara ia dan Jack–yang harus segera dihapus secepat mungkin."

Konan terus menatap ke arah panggung dengan tangan bersedekap. Ia harus bisa mendapatkan sesuatu dari salah satu anak yang sedang berakting di sana. Sasuke Uchiha.

'Apakah kau terlalu menghayati? Atau dirimu memang seperti itu, Sasuke?'

.

.

.

-To be Continued-

A/N : Puaah.. akhirnya! Maap baru bisa update, minnaa~ Terus, maap juga gak bisa balesin reviewnya satu-satu dari kemaren. Huhuhu.. Gomennasai.. m(_ _)m Terima kasih ya masih mau baca fic ini dan semua dukungannya. Arigatou Gozaimasu!

Sekian dari saya, ditunggu Reviewnya yaa~ Wkwkwkwkwk... *laludigaplokmasa*

And, see you on next chapter~ (^^)/