"Permisi, Yang Mulia.."
George Denham mengangkat kepalanya begitu mendengar suara anaknya, "Oh, Thomas.." katanya seraya menutup dokumen yang tengah dikerjakannya, "Ada apa, nak?"
Thomas lalu mendekat ke tengah ruangan. "Ini soal pertemuan nanti malam, Yang Mulia." Katanya yang entah kenapa tidak ingin memanggil sosok di depannya itu dengan sebutan Ayah. Tidak dengan rencana sembrononya itu.
"Kenapa kau tidak memanggilku Ayah, Thomas? Ada apa sebenarnya?"
"Apa yang kita bahas nanti malam adalah soal perjodohanku?" Thomas mengabaikan pertanyaan Ayahnya sendiri.
Sang Raja terdiam menatap anaknya sendiri yang terlihat tidak senang dengan niatan baiknya itu. "Ya," jawabnya singkat, "Ada apa, Thomas? Kau terlihat tidak senang sama sekali. Bukankah gadis itu yang kau pilih–"
"Aku tidak memilihnya, Ayah." Thomas memotong dengan cepat, "Lagipula, aku sudah banyak kali berdansa dengan wanita saat pesta. Dan itu bukan alasan bagus untuk memlihnya sebagai pendampingku."
George menghela napas, "Dia wanita baik, Thomas. Kau juga telah melihatnya saat kita mengunjunginya kemarin." katanya. Namun, tak lama kemudian suara ketukan pintu membuat pembicaraan mereka terhenti.
Tok. Tok.
"Permisi, Yang Mulia.."
Raut wajah Thomas seketika itu juga berubah mendengar suara tersebut. Jack Hatton. Sejak kapan dia membantu tugas Raja? Kemana Louis?
"Masuklah.." sahut Raja, dan tak lama kemudian sosok tersebut pun masuk dengan banyak dokumen di tangannya, "Bagaimana, Jack? Ada masalah?"
"Sedikit, Yang Mulia.." jawab Jack yang masih belum menyadari keberadaan Thomas. Pemuda itu lalu menatap dokumen di tangannya dan membaca isinya, "Ini soal surat yang akan dikirimkan ke keluarga Cindy. Saya rasa akan lebih cepat jika kita mengirimnya menggunakan perantara burung atau–"
"Kau tahu itu tidak sopan, Jack."
"Maafkan aku, Yang Mulia."
Thomas terus menatap sosok yang kini membungkukkan badannya itu. Bukan seperti ini kinerja Jack Hatton yang sebenarnya. Ia sudah menduganya, kalau Jack juga tidak menyetujui perjodohan ini.
"Jack.."
Dan sosok yang diperlihatkan bersurai coklat itu tersentak kaget, "Pa-pangeran Thomas.."
"Jadi, sejauh ini kau membantu acara perjodohanku?" tanya Thomas penuh intidimasi.
Tak ada yang bisa dikatakan Jack Hatton. Ia tidak boleh asal berbicara menuruti Pangeran yang sudah dibantunya selama lebih dari lima tahun itu. Namun, akhirnya sang Raja yang angkat bicara.
"Aku yang memintanya, Thomas. Kupikir dia akan membantuku dalam menentukan sesuatu yang mendekati pilihanmu. Kau tidak keberatan, bukan?"
Thomas berdecih. Tanpa biacara lebih panjang ia pun keluar ruangan tanpa permisi.
Pilihannya? Che.. Bahkan, mereka berdua tidak menginginkan hal ini. Jack Hatton hanya terpaksa melakukan hal ini karena diminta langsung oleh Ayahnya. Thomas harus melakukan sesuatu untuk membebaskan Jack.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
.
.
What The?
NARUTO © Masashi Kishimoto
WARN : AU School-Life. OOC. Out of Genre. Out of Rated. Typos. etc.
Rated : T++++
(gak tau kenapa rasanya perlu banget saya nyantumin rated di chapter ini)
Chapter 12 : Finnaly end
Happy Reading!
.
.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Tirai kembali ditutup, dan secepat mungkin dekorasi diubah menjadi seperti di luar kerajaan. Adegan selanjutnya adalah isu mengenai perjodohan Thomas Denham yang menyebar ke penjuru negeri. Memberikan jeda panjang bagi Sasuke dan Naruto untuk kembali merundingkan soal improvisasi mereka selanjutnya.
"Puncaknya adalah bagian selanjutnya." Gumam Naruto dengan tatapan horor. Ia masih belum menghafal dialognya atau apa yang harus ia lakukan. Sekali kesalahan saja maka alur dramanya akan hancur dan hukumannya..
Tanpa sadar Naruto menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak mau membayangkan lebih jauh.
"Kau hanya perlu mengalah dengan yang aku katakan, lalu mengungkapkan pendapat bahwa seseorang yang menjadi pendampingku haruslah seorang Putri yang memenuhi kriteriaku dan kerajaan, bukan dipilih secara acak." Jelas Sasuke panjang lebar. "Setelah itu tidak ada lagi improvisasi yang harus kau lakukan."
Naruto berkedip. Bahkan, ia tidak bisa mengambil inti dari kalimat Sasuke barusan.
"Kita harus membuat Sakura melupakan hal itu, Dobe."
"Harus-ttebayo!" Naruto langsung mengatakannya dengan meggebu-gebu.
Hening kemudian. Sasuke sibuk menengguk air mineral yang disambarnya.
"..."
"..."
Pemuda pirang dengan kumis kucing itu menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal, "Err.. Sasuke," Panggilnya pelan yang hanya ditanggapi dengan lurusnya sepasang onyx itu menatapnya, "Kau yakin ini benar-benar berhasil? Bagaimana jika dialognya sedikit melenceng?"
Sasuke meletakkan kembali botol mineralnya dan menatap sahabatnya itu tajam, "Jangan sekali-kali kau berencana untuk menggagalkannya, Naruto." Ancamnya dengan nada dingin.
"Ti-tidak! Hanya saja aku sedikit..."
"..."
Akhirnya Naruto mengerang, "Ya ampun, teme! Dialognya terlalu panjang! Rumit! Aku tidak yakin–"
"Jadi, kau benar-benar ingin kita berciuman?"
Dan seketika itu juga wajah Naruto berubah warna menjadi semerah tomat. Berbeda dengan Sasuke yang entah kenapa justru memasang tampang sangat serius. Ampun, membayangkannya saja membuat sekujur tubuh Naruto bergidik geli.
"Dobe..?"
"Ma-mana mungkin?!"
Sasuke hanya terdiam menatap Naruto dalam beberapa detik, "Kalau begitu kita harus berhasil, Naruto." Katanya tenang. Walaupun, entah kenapa sesuatu di dalam dadanya bergeliat tak nyaman mendengar perkataan Naruto yang mirip dengan penolakan keras.
Eh, kenapa juga Sasuke harus merasa ditolak? Ia juga tidak menginginkannya bukan?
Iya kan?
Sasuke mendengus gusar tanpa sadar.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Sasuke kembali masuk ke atas panggung di akhir adegan. Agak malas sebenarnya. Thomas hanya harus mengatakan pada Louis bahwa ia butuh Jack kembali membantunya. Back sound ketukan pintu mengudara bersamaan dengan gerakan tangannya.
"Masuk.." Louis menyahut dari ruangannya.
Thomas pun masuk ke tengah ruangan kerja Louis, "Apakah Jack bisa dibebaskan dari tugasnya sebentar? Dokumen yang dibuatnya kemarin hilang. Dia harus menulisnya ulang sekarang." katanya to the point.
"Apakah benar-benar mendesak, Pangeran? Jack sebentar lagi akan mengantarkan surat–"
"Sangat mendesak. Ini menyangkut divisi medis. Tolong kau gantikan dia untuk itu, Louis."
Dan tak ada yang bisa Louis lakukan selain mengiyakan.
Selesai, tirai pun kembali ditutup. Namun, tidak membutuhkan waktu lama untuk menata ruangan dan Naruto kembali masuk ke panggung. Dengan debaran jantung yang tak menentu aktor yang memerankan Jack Hatton itu mengetuk pintu. Sungguh, kalau ia lupa dialognya bagaimana?
"Masuk.."
Naruto menengguk ludah begitu melangkahkan kakinya. Tidak, ia harus menjadi Jack Hatton sekarang. "Permisi, Pangeran. Ada masalah apa dengan dokumen–"
"Kemarilah, Jack." Potong Thomas dengan tangan mengibas-ngibas memberi tanda, "Ada yang harus kita bicarakan sekarang."
Jack Hatton pun menuruti perkataan Thomas. "Ada apa, Pangeran?"
"Kau tidak menginginkannya kan?"
Mengerti dengan apa yang dimaksud Thomas, Jack lagi-lagi terdiam.
"Katakan padaku, Jack. Semua ini terlalu buru-buru, terlalu ceroboh, terlalu memaksaku bukan? bahkan gadis itu tidak dipilih dengan kriteria yang kuinginkan. Mereka hanya berpikir – tidak, mereka tidak berpikir. Aku–"
Jack menghela napas, "Aku mengerti, Pangeran."
"Kalau begitu berhentilah, Jack! Kau ajudanku! Berhenti menuruti kata-kata mereka!" seru Thomas seolah mentitah ajudannya itu dengan mutlak. Terlihat jelas kalau ia sangat menginginkan Jack kembali di pihaknya.
"Kenapa anda tidak juga–"
"Apa? kau pikir aku tidak mengerti posisimu?" potong Thomas cepat, "Aku tahu, Jack. Kau ajudan yang harus membantu keluarga kerajaan, termasuk ayah dan ibuku. Tapi, tugas utamamu adalah membantuku. Sudah lebih dari lima tahun kau membantuku dalam banyak hal, Jack. Dan ini bukan pertama kalinya kita berbeda pendapat sampai aku meluap seperti ini,"
Jack sedikit tertunduk. Perkataan Tuan-nya itu benar.
"Kau tahu benar aku seperti apa. Begitu juga sebaliknya, Jack." Ucap Thomas dengan pandangan intens.
"..."
"Aku tahu benar kau seperti apa. Dan sikapmu yang sekarang bukanlah seperti ajudan yang mengabdi sepenuh hati." Dan mata Jack terlihat melebar saat Thomas mengatakannya. Membuat sang ajudan menyadari tentang kinerjanya sebelumnya yang tidak baik.
"Aku kalah," kata Jack pada akhirnya, "Anda benar, pangeran. Aku tidak melakukan tugasku dengan baik dalam hal ini, dan.. aku juga tidak menginginkannya. Mungkin ini lancang untuk aku ucapkan tapi, seorang putri kerajaan yang akan mendampingi anda haruslah..."
"..."
"..."
Sial, Naruto lupa. Benar-benar lupa.
'Apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan seseorang lakukan jika ia tertangkap basah bersa– Ah, minta maaf! Tapi bagaimana dengan dialog Sasuke..?'
Menyadari apa yang terjadi pada lawan mainnya, Sasuke menggerutu dalam hati. Saat manik safir itu menatapnya dengan takut-takut, tidak ada yang bisa Sasuke lakukan selain sedikit mengangguk. Baiklah, ia akan menyesuaikan apapun yang si dobe itu katakan.
'Sialan kau, dobe..'
Jack Hatton membungkukkan badannya, "Maafkan aku, Pangeran."
Entah kenapa Sasuke merasa sangat lega. Untunglah hanya permintaan maaf, jadi masih sinkron. Ia sebagai Thomas lalu berjalan mendekati Jack dan menepuk pundak ajudannya itu, "Selalu ada titik temu jika kita sedang berselisih, Jack. Aku tahu itu."
Hanya anggukan kepala yang didapat Thomas dari Jack.
Baiklah, Sasuke yakin bisa menuntaskan improvisasi ini sekarang.
Thomas pun mengulaskan senyumnya. Membuat Jack sekaligus Naruto terheran. "Kalau begitu aku ada rencana bagus, aku yakin kau menyukai hal ini."
Butuh waktu bagi Naruto untuk berpikir apa yang sebaiknya ia katakan. "A-anda telah membuat rencana?" akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
"Ya. Ikutlah bersamaku, Jack. Kita akan berkeliling dunia."
Dan seisi ruangan pun menjerit histeris meilhat ekspresi andalan Sasuke yang begitu menggoda iman. Termasuk Sakura dan Mikoto yang begitu puas walaupun dengan alasan yang berbeda. Sasuke yang memerankan Thomas Denham tersenyum dengan pandangan yang begitu meyakinkan dan suara yang jantan. Sangat lelaki. Sangat.. menginginkan Naruto yang memperankan Jack Hatton – walaupun entah yang mana yang ia inginkan sebenarnya.
Yang seisi hall itu tahu, Sasuke begitu menghipnotis. Dan secara perlahan tirai ditutup.
"Siaal! Keren sekaliii!" Sakura meremas kertas di tangannya gemas di sisi panggung. Untunglah jeritan penonton lebih keras untuk menutupi suaranya. Sedangkan, pemain yang lain hanya mengelus dada lega. Improvisasi sukses!
Fangirl mania, Mantap!
Naruto pun terus mematung di tempatnya dengan tatapan lurus kepada Sasuke. Ia tidak ingat sama sekali apakah ada dialog yang harus ia katakan. Apakah ia harus mengiyakan? Apakah ia harus tersnyum lalu mengangguk? Apakah ia harus terlihat senang?
Sepasang onyx itu masih menatapnya, senyum Sasuke masih mengembang.
Ini seperti saat Sasuke latihan tersenyum padanya waktu itu. Naruto sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya mulai bergetar, jantungnya berdetak kencang. Aduh, ingin pingsan saja rasanya.
"Sas.." tanpa sadar Naruto menggumam begitu saja.
Sasuke mengerjap. Ia menatap sekeliling dan mendapati tirainya telah tertutup, "Oh, maaf.." katanya melepaskan tangan dari pundak Naruto dan segera menjauh. Sial, sepertinya jiwa Thomas Denham yang gay itu telah bersemayam di dalam dirinya.
'Apa ini juga yang dirasakan Naruto waktu itu?' Sasuke menghela napas.
Dan kini, drama mereka tersisa dua babak lagi.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Konan ternganga tanpa sadar.
Sial, jantungnya justru ikut berdebar. Senyum macam apa itu? Apakah Sasuke sengaja melakukannya? Apakah Sasuke begitu saja melakukannya? Apakah Sasuke juga bermaksud tersenyum pada Naruto? Kenapa ia begitu mudah melakukannya?
Kenapa?
Berbagai kesimpulan melayang-layang di otak wanita bersurai ungu itu.
"Akhirnya mereka tepat waktu.."
"Eh?" dan akhirnya Konan tersadar kalau ia tidak sendiri, "Kenapa, Tenten?"
"Itu, setelah ini ada narasi yang harus kubaca dan saat itu mereka harus sudah berbaikan. Untunglah berakhir di sini improvisasinya." Katanya lega, "Tapi, kalimat Sasuke yang terakhir benar-benar diluar dugaan. Reaksi Naruto juga sangat natural menurutku."
Konan sedikit tersentak. Sangat natural? Benar juga.
"Ah itu tandanya," Tenten lalu kembali ke tempatnya dan menjalankan tugasnya.
Konan menopang dagu, mulai berpikir. 'Sangat natural.. Jika seseorang melakukan sesuatu padamu, maka kau akan memberi merespon sewajarnya. Merespon sesuai keadaanmu. Jika seseorang melakukan atau mengatakan sesuatu secara tiba-tiba dan kau tidak mengetahuinya, tentu kau akan bingung. Kau akan menatapnya bingung.. seperti Naruto tadi. Sangat natural.'
Ah..
"Kalau begitu pasti terjadi sesuatu! Dia pasti bertanya!"
Tenten menatap guru di depannya bingung. Untung saja microfonnya segera ia matikan begitu selesai membaca narasi. "A-ada apa, Konan-sensei?" tanyanya bingung sekaligus takut – kalau gurunya itu sedang kerasukan makhluk astral.
Konan gelagapan. Ia dengan cepat mengibas-ngibaskan tangannya, "Ti-tidak, tidak apa-apa. Hehe.. Aku.. ehm, ada yang tertinggal di ruang rias." Jawabnya setengah salah tingkah. Lalu ia pun beranjak meninggalkan ruang sound system, "Sebentar ya? Hehe.."
Gadis bercepol dua itu pun hanya sweatdrop melihat gurunya sendiri.
Drama masih berlanjut. Thomas dicela dan dikutuk banyak kali oleh orang-orang yang hadir dalam rapat yang seharusnya membahas soal perjodohannya dengan gadis desa itu. Harus susah payah bagi Thomas untuk membuat mereka mengerti bahwa yang diinginkannya saat ini bukanlah hal konyol seperti percintaan. Belum lagi menjelaskan tentang rencananya untuk berkeliling dunia demi melakukan perluasan wilayah kerajaan yang telah direncanakannya sejak lama dan sekaligus menjadi cita-citanya itu. Namun, mereka hanya menganggap hal itu sebagai rencananya untuk kabur.
Thomas berusaha untuk tidak 'meledak' di ruangan rapat.
George mengisyaratkan semua peserta rapat itu untuk diam. Tak lama kemudian keadaan pun menjadi tenang, "Baiklah. Dari mana kau akan memulainya, Thomas?" katanya memberi kesempatan pada anaknya itu.
"Dari selatan Ugyene Kingdom. Kerajaan kecil penghasil kain." Jawab Thomas mulai menjelaskan, "Kerajaan kita telah berkerjasama dengannya. Aku juga sudah melakukan insvestasi sebelumnya. Jadi, bukan hal sulit bagi kita untuk menaklukkan wilayah yang belum mereka sentuh sama sekali."
"Bagaimana bila kau gagal?"
"Aku akan mati di tangan mereka atau aku akan kembali dengan kondisi mengenaskan. Tidak akan lagi memenuhi syarat untuk mewarisi tahkta, dan jika seperti itu aku tidak akan keberatan jika kesempatanku diberikan kepada –"
"Cukup, Thomas." Potong George dengan mengangkat telapak tangannya. Sang Raja tidak pernah sangsi dengan tatapan anaknya itu, dan ia tidak pernah menolak sesuatu demi kemakmuran negerinya. "Buktikanlah. Tunjukkan kau layak menjadi Raja dan berhak memilih pilihanmu sendiri."
Thomas sempat terperangah. Namun, ia cepat-cepat berdiri dari tempatnya dengan tangan menyentuh dada kanannnya dan membungkuk, "Terima kasih atas kepercayaan Anda, Yang Mulia." Katanya sopan.
Peserta rapat yang lain hanya mampu melotot tidak percaya.
Raja George hanya mengangguk untuk menanggapi Thomas. Lalu, ia menoleh ke arah ajudannya yang setia berdiri di belakangnya, "Louis, tolong kau urus pembatalannya. Aku tidak ingin segera menyerahkan kekuasaanku pada siapapun."
"Tapi, Yang Mulia–"
"Apa kalian semua tidak melihat bagaimana ia mengatakannya tadi?" George berdiri dari bangkunya menatap satu per satu peserta rapat yang hadir, "Aku yakin anakku tidak main-main dengan apa yang dikatakannya. Lagipula, dia adalah ketua divisi termuda yang pernah ada. Apakah salah jika kita percaya pada generasi penerus yang kita miliki?"
Hening. Semua terlihat merenung.
"Lakukan sebaik mungkin, Louis." Ucap George pada ajudannya itu sebelum akhirnya bergerak meninggalkan tempatnya. " Oh ya.. Rapat selesai, kalian boleh kembali."
"Baik, Yang Mulia."
Thomas – yang diikuti oleh Jack – lalu bergerak menyusul Sang Raja. "Terima kasih karena telah mempercayaiku, Ayah." Ucap Thomas begitu langkah mereka sejajar.
George mengangguk dengan seulas senyum, "Tentu, nak. Dan jangan buat kami kecewa saat kau kembali nanti." Katanya seraya menepuk pelan pundak Thomas.
"Baik, Yang Mulia." Sahut Thomas, "Kalau begitu, izinkan aku berangkat lusa, yah. Dan juga–" Thomas melirik Jack sekilas, "–aku ingin Jack Hatton ikut untuk membantuku selama ekspedisi."
"Tidak masalah, lakukan apapun demi keberhasilan kalian."
Sekali lagi Thomas menatap Jack, senyum keduanya pun merekah bersamaan. "Terima kasih banyak, Yang Mulia." Ucap mereka kompak. Perlahan, mimpi Sang Putra Mahkota pun mulai terwujud bersama dengan ajudannya.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Tepuk tangan riuh penonton mengiringi tirai yang ditutup walaupun, drama yang mereka saksikan belum benar-benar selesai. Membuat pemain yang masih berada di atas panggung tersenyum lega. Perjuangan mereka tersisa sedikit lagi.
"Hey, jangan senang dulu! Kita masih punya satu babak penutup." Sakura masuk ke atas panggung untuk mengingatkan, "Keep move!"
"Ha'i.."
Sasuke menyikut lengan sahabat pirangnya itu, "Sedikit lagi, Dobe. Kita harus berhasil." Katanya sebelum akhirnya bergerak meninggalkan panggung lebih dulu.
"Yosh!" sahut Naruto semangat lalu membuntuti Sasuke.
"Kerja bagus, futari-domo!" Sakura mengulaskan senyum lebarnya begitu Sasuke dan Naruto tak jauh darinya. Berbeda dengan Sasuke yang terus berjalan, Naruto justru berhenti untuk menghampiri si gadis pinky.
"Jadi.. hukumannya hilang kan?" tanya Naruto dengan berbisik.
Alis Sakura tertarik ke atas, "He? Hukuman?" katanya dengan raut wajah tidak mengerti.
Mendengarnya pun seketika membuat pemeran tokoh Thomas Denham menoleh cepat ke arah Naruto. Matanya melotot tidak percaya seolah mengutuk perkataan Naruto. 'Kenapa-kau-mengingatkannya-bodoh?!' begitu kira-kira arti tatapannya.
Duh, salah Sasuke juga tidak memperingatkan Naruto lebih dulu.
Mengerti tatapn Sasuke pun membuat Naruto seketika itu juga gelagapan di tempat, "E-eeh.. ti-tidak jadi, aku hanya–"
"Oh.. hukuman itu," ucap Sakura begitu mengingat apa yang dimaksud Naruto. Lalu ia pun tersenyum lebar, "Siapa bilang aku membatalkannya? Lakukan sebaik mungkin, oke?" katanya seraya menepuk pundak Naruto.
"Apa?!"
Kali ini hanya Naruto yang menjerit keras. Sasuke mendengus pelan dari kejauhan. Entah kenapa perkataan Sakura bukan seperti ancaman lagi baginya. Melainkan berubah menjadi tuntutan sebagai sutradara.
Dan sepertinya tidak masalah kalau ia melakukannya.
Sepasang onyx itu masih menatap pemuda pirang yang masih sibuk protes pada gadis pinky. Namun, fokusnya semakin lama mengarah pada dua lipatan kenyal milik sang pemuda pirang. Tipis. Warnanya tidak terlalu pekat dan tidak terlihat pucat. Pintu trademark 'ttebayo' itu keluar dari tenggorokan.
"Ayolah, Sakura-chan?!"
Sakura menggeleng, "Tidak."
Naruto mengerucut kesal, bibirnya mengatup rapat dan ditarik ke atas. Sasuke masih fokus melihat bagaimana perubahan bentuk bibir itu dari kejauhan.
'Apa lima detik sudah cukup..?'
Dan tak butuh waktu lama sampai akhirnya Sasuke tersentak sendiri. Sial, dia mulai memikirkannya.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
"Kau sudah mengemasi barang-barangmu?" tanya Thomas seraya mencari berkas yang harus ia bawa selama perjalanan di laci meja kerjanya.
"Sudah, Pangeran." Jawab Jack yang masih setia berdiri menunggu.
"Cepat juga, seperti yang kuharapkan." Sahut Thomas tanpa menatap Jack – masih mencari. Setelah mendapatkan secarik kertas, ia pun memasukkannya ke dalam koper kecil dan kembali mengecek setiap berkas yang sudah masuk. Mereka akan melewati perbatasan dan berlabuh di berbagai dermaga selama perjalanan, sudah tentu surat izin dari kerajaan dan identitas harus dibawa.
"Sudah menjadi keharusanku, Pangeran." Sahut Jack seraya tersenyum, lalu ia kembali berkata. "Dan.. Salah satu cita-cita Anda telah terwujud, Pangeran. Apa ada rencana lain setelah ini?"
Thomas terdiam beberapa saat untuk memandangi Jack, "Kupikir, aku tidak menginginkan hal lain, Jack." Ungkapnya kemudian, "Aku tidak menginginkan takhta. Aku tidak menginginkan harta. Bahkan, wanita. Aku hanya ingin bebas, melakukan apapun yang kumau selama aku hidup. Seperti burung yang bebas untuk terbang setinggi-tingginya."
"..."
Thomas lalu menutup kopernya dan beranjak menuju hadapan Jack dengan tangan terjejal di saku. "Tapi, manusia tidak bisa hidup sendiri, kau juga tahu itu." mata kelam Thomas menatap lurus-lurus manik biru langit milik Jack, "Karena itu aku membutuhkanmu, Jack Hatton, untuk membantuku dan untuk terus di sampingku. Selamanya."
"..."
Thomas mengulaskan senyumnya, "Aku sejauh ini berkat bantuanmu, Jack. Terima kasih."
Seharusnya ada dialog Jack lagi yang menjadi penutupnya setelah perkataan Thomas tersebut. Tentang dirinya yang akan terus berada di samping Thomas dan blablabla. Sedikit pidato yang menurut Sakura sangat 'drama' , tapi sayang tidak bisa diingat oleh pemerannya – Uzumaki Naruto.
"Mana dialog terakhirnya?!" Sakura memekik panik di sisi panggung.
Konan yang berdiri di samping Sakura untuk memantau – walaupun dengan alasan tersendiri – pun mengerutkan alis. "Ada apa, Sakura-chan?" tanyanya heran.
Sakura menatap gurunya itu panik, "Naruto lupa dialognya, sensei!"
"Hah?!" dan sang guru pembimbing tak kalah panik. "Lalu, bagaimana?"
"Aduh, bagaimana ini–" Sakura menggigit bibir bawahnya. Berusaha berpikir keras. Namun, raut wajahnya berubah kebalikannya begitu melihat pergerakan Sasuke di atas panggung. "Eh? Tunggu.."
Konan pun ikut memperhatikan panggung.
Sasuke bergerak maju secara perlahan, membuat jarak antara dirinya dan Naruto tak kurang dari lima senti. Manik onyx itu menatap lurus sepasang sapphire di depannya dengan pandangan melembut. Walaupun, si manik sapphire terlihat membola dan rona merah mulai merambat cepat pada wajah berkulit tan.
'Ciuman..' dengan cepat kesimpulan itu didapat oleh Konan dan Sakura.
"Aku tidak tahu harus menjerit senang atau ternganga selebar mulut goa.." gumam Sakura.
"Aku harus menghentikannya.." gumam Konan. Tanpa babibu, ia pun berjalan cepat menuju tempat kontrol tirai. Demi keselamatan jantung Nyonya Besar keluarga Uchiha.
.
.
Lima menit sebelum tirai dibuka...
"Kita tidak akan melakukannya kan, Sas?"
"..."
"Oi, Sasuke. Jawab aku!"
Akhirnya pandangan onyx itu mengarah pada Naruto, dan sampai detik ketiga baru Sasuke menjawab. "Entahlah.." yang membuat Naruto sontak bergidik ngeri. Namun, belum sempat untuk menyela, Sasuke kembali membuka suara, "Jika kau bisa menutup dramanya dengan baik, maka lakukanlah. Jika tidak bisa, aku akan–maksudku, aku bisa menutupnya."
Naruto mengernyit tidak mengerti, "Hah?"
"Kau lupa? Itu dialog terakhir drama ini. Kau harus melakukannya, dobe."
Raut wajah Naruto pun berubah pucat. Sial, dialog yang panjang dan rumit itu. Pantas saja Sakura tadi sempat berpesan..
"Ucapkan dengan keren ya, Naruto!"
Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi, 'Aarrgghhh! Ternyata yang itu!'
"Kalau begitu aku yang akan menutup dramanya. Kau diam saja." Ucap Sasuke yang seketika membuat rasa frustasi pada Naruto hilang seketika. Pemuda pirang itu lalu mendekatkan jarak mereka dengan jiwa yang penuh harap.
"Benarkah?" tanya Naruto dengan mata berbinar dan tangan mengepal.
Naruto tidak tahu kalau Sasuke dalam beberapa detik berfokus pada bibirnya yang menebar senyum, sebelum akhirnya menjawab "Hn."
.
.
Naruto benar-benar terdiam. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun begitu Sasuke mendekat – bahkan nyaris menempelkan badan – padanya. Hanya jantung Naruto yang tak bisa diam, terus bertalu-talu dan membuat rasa panas menjalar cepat ke seluruh kepalanya.
Sejak kapan Sasuke mengambil keputusan untuk berciuman?! Bukankah laki-laki pantat ayam itu hanya meminta Naruto untuk diam? Kenapa justru ini yang ia lakukan? Kenapa bukan mengatakan sesuatu yang keren? Kenapa?
'APA YANG KAU LAKUKAN, TEMEEE?!' batin Naruto menjerit frustasi.
Sungguh, untuk berdiri saja Naruto mulai merasa kesulitan sekarang. Kakinya bergetar. Dan napasnya mulai tersendat begitu merasakan dagunya di tarik ke atas untuk menghadap Sasuke. Kenapa Sasuke memiliki aura yang kuat seperti ini? Kenapa Sasuke terlihat sangat tinggi? Kenapa Sasuke terlihat sedang menggodanya? Kenapa bibir Sasuke terlihat melengkung? Kenapa Naruto rasanya ingin menyerah saja atas perlakuan Sasuke ini?
Dan Naruto mulai mempertanyakan banyak hal. Ia menutup kedua matanya.
Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.
Sasuke awalnya yakin kalau detak jantung itu hanya di telinganya saja. Tapi, tidak untuk saat ini. Saat wajah Naruto bersemu merah. Saat manik sapphire itu takut-takut menatapnya. Saat ia yakini pemuda di hadapannya ini sudah pasrah dengan menutup kelopak matanya. Getaran di dalam dada Sasuke semakin terasa. Jantungnya mulai menggila.
Ia ingin cepat-cepat menuntaskan ini semua. Segera.
Dalam kurun waktu kurang dari satu mili detik, bibir mereka pun bersentuhan. Menyalurkan sensasi bagai tersengat listrik puluhan volt ke seluruh tubuh. Mungkin inilah bayaran atas usaha mereka untuk mendalami jiwa seorang yang berpegang pada pendirian untuk mencintai sesamanya. Merasakan langsung bagaimana perasaan ingin menguasai dan melindungi. Merasakan langsung perasaan terlindungi dan percaya pada yang di atasnya.
Kecupan tak henti-hentinya Sasuke jatuhkan ketika ia mulai merasakan candu. Begitu juga Naruto yang mengeluarkan desahan kecil. Pemuda pirang itu dengan pasrah mengalungkan tangannya di leher Sasuke, dan membiarkan tangan kekar Sasuke merapatkan pinggang mereka.
"Hmmmph!" kali ini Naruto menjambak kecil rambut Sasuke. Memberi isyarat untuk mengambil napas.
Namun seolah telah kerasukan setan, Sasuke tidak menghentikan aksinya sama sekali. Ia tidak peduli. Tidak ada ampun. Pemuda Uchiha itu justru mulai menjilat bibir Naruto untuk meminta akses lebih luas.
Hilang kontrol. Kecanduan akan manisnya bibir Uzumaki Naruto.
Naruto berhasil melepaskan diri walau sebentar, "Sas–"
"Buka." Hanya itu yang Sasuke katakan sebelum akhirnya kembali menyerang. Terbawa permainan Sasuke, Naruto akhirnya membuka mulutnya. Membuat seringai puas Sasuke terlihat jelas begitu mengetahuinya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Permainan invasi mulut pun dimulai hingga–
"Sasuke! Naruto! Kalian sudah a–"
"..."
"..."
"Aa..." Shikamaru tidak bisa meneruskan kata-katanya. Suaranya hilang begitu saja. Otak jeniusnya pun berhenti bekerja seketika. Karena hal yang sama kembali terulang, dan kali ini apa yang ia lihat itu sungguhan. Naruto dan Sasuke berciuman. Bukan hanya posisinya. Tapi dua orang itu benar-benar melakukannya.
.
.
.
To be Continued
A/N : Masih inget chapter tujuh? Nah, semenjak itu saya jadi kecanduan bikin Shikamaru jadi saksi bisu atas kelakuan Sasuke sama Naruto. HAHAHAHA *ketawa laknat* Tapi kok ngomong-ngomong jadi gitu amat ya kissu nya? Masih rated T ga sih itu? ._. *plakk!*
Okeh! Akhirnya drama telah usai~ dan tinggal sisa-sisa penutupnya. Terima kasih karena sudah membaca fic abal yang umurnya udah mau setahun ini~ Maaf atas segala kesalahan typo-typo dan lainnya~ (kesotoyan pake bahasa jepang terutama) Seperti biasa, kritik, saran, dan komentar saya tunggu di kotak review ya!
Last,
See you on next chapter! ^^/
