Sasuke menggerakkan daging tak bertulang – alias lidah –nya untuk bertualang di dalam mulut Naruto. Mengabsen deretan gigi putih. Persetan dengan totalitas atau nafsu birahi yang ditampilkan. Telinganya sudah tuli.
"Sasuke! Naruto! Kalian sudah a–"
Oh, sepertinya belum tuli-tuli amat.
Ciuman pun terlepas, Naruto terengah dengan wajah memerah. Nalar dan akal sehat Sasuke mulai bekerja. Pandangan mereka pun teralihkan kepada Si Kepala Nanas.
"Aa..."
Tiga orang akhirnya saling bertatapan. Yang satu masih terengah. Yang satu berdiri horor dengan suara tercekat. Yang satu langsung bergerak cepat untuk menggeret dua orang lainnya pergi jauh dari panggung. Sembilan perempuan cantik di tv membawakan lagu yang cocok untuk ketiganya.
'Run! Run! Baby, Run! Run~!'
.
Tirai tertutup secepat kilat. Penonton terdiam.
Mikoto mengangkat kameranya yang sedaritadi disiapkan, "Eh? Tirainya sudah ditutup?"
Itachi termasuk penonton yang tak melepaskan pandangan, maka ia juga terdiam.
.
Sakura meraung bagai macan betina di musim kawin yang tidak dapat pasangan. "Kenapa tirainya ditutup?! Mereka kan belum–" lalu dibekap dan digeret ke belakang untuk ditenangkan.
.
.
What The?
NARUTO by Masashi Kishimoto
WARN : AU School-Life. OOC. Out of Genre. Out of Rated. Typos. etc.
Chapter 13 : After that moment..
Maaf buat super keterlambatannya inii!
.
.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Sasuke menatap datar wallpaper ponselnya sambil menyeruput minumannya lewat sedotan. Ia tidak bicara sama sekali selama pesta yang berjudul 'Perayaan Kesuksesan Drama 2-C' di resto rumahan ini. Oh, Sasuke juga tidak peduli dengan tatapan 'ada-apa-dengan-mu-bro-?' dari teman sekelasnya yang bergender laki-laki.
Dengan apa yang terjadi di detik-detik terakhir drama kemarin, tolonglah. Sasuke juga bingung.
'Shit..' Sasuke memaki dirinya untuk kesekian kalinya. Karena berapa kalipun Sasuke berpikir dengan kapasitas otaknya yang sangat high-class tetap saja ia tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan –
Kenapa dirinya ini mulai tidak normal?
Padahal, Sasuke sendiri yang membuat kesepakatan dengan Shikamaru dan Naruto untuk melupakan plus bertingkah seolah-olah kejadian itu – yah, taulah kejadian apa – tidak pernah terjadi. Namun lihat sekarang, yang terjadi pada Sasuke justru otaknya mengulang-ulang semua kejadiannya bagai DVD rusak. Ketika ia mencari tahu jawabannya dengan mengaitkannya pada hal yang pernah terjadi sebelum, sebelum, dan sebelumnya, maka hanya wajah super bodoh milik Naruto yang ia dapat.
Demi bokong Neptunus.
Sakura menghela napas, "Payah, ternyata Naruto dan Shikamaru benar-benar tidak datang." katanya kecewa saat mendudukkan diri di samping Sasuke. "Sasuke-kun, kau tahu kemana Naruto?"
Sasuke hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Tolonglah, katakan pada Uchiha Sasuke yang jenius ini, bagaimana ia dengan tenang dan santai bahkan untuk mengirim email pada si kepala kuning setelah – ah, lupakan saja. Sasuke lelah.
"Aku sudah mengirim email kepada mereka, tapi tidak ada balasan." Sakura mendengus, "Ini ada apa sih?"
"Ka–kau bertanya ada apa dengan semua –" Sasuke menggeram super kesal, dan akhirnya memilih untuk mengacak rambutnya sendiri sebagai bentuk pelampiasan. "Terserah lah! Aku pulang." lalu ia berdiri menyabet jaket dan ponselnya sebelum meninggalkan pesta yang masih berlangsung.
"Eh, tunggu! Sasuke-kun!"
Sasuke tidak menggubris Sakura dan terus berjalan cepat. Namun, akhirnya langkahnya terhenti begitu si gadis pinky berhasil mendahului dirinya dan membentangkan tangan lebar-lebar. Sasuke berdecak.
"Apa?"
"Aku ingin bertanya sesuatu," ungkap Sakura. Lalu ia menatap sekelilingnya yang merupakan jalan perumahan. "Dan kupikir sebaiknya di tempat private, tapi terserah kau saja sih. Aku yakin kau ingin cepat-cepat enyah dari sini."
"Nah.. Kau tahu itu pinky," dengus Sasuke, "Jadi cepat minggir sekarang."
"Tidak mau!"
Sasuke tanpa babibu lalu memilih mengambil jalan lain yang bukan mengarah ke rumahnya dan tidak dihalang oleh Sakura. Akhirnya ia tahu perkataan Shikamaru bukan sekedar opini belaka, kalau perempuan itu makhluk yang merepotkan. Sasuke sangat setuju sekarang. Andai rival akademiknya itu memasang status di medsos, Sasuke akan membagikannya ribuan kali.
"Jadi, kau benar-benar menciumnya?!"
Sasuke tersentak, matanya melebar – melotot horor ke arah Sakura kemudian.
Setelah menarik jawaban dengan melihat reaksi Sasuke, si gadis Pinky juga ikut tertegun di tempatnya. Raut wajahnya seolah menampakkan kalau jawaban itu sulit dipercaya. Namun, cepat-cepat diperjelas saat Sasuke membalas –
"Kau pikir siapa dalang dari semua ini, ha?" lalu pergi begitu saja dengan derap langkah yang cepat.
Astaga..
Untuk pertama kali dalam berbelas-belas tahun, Sakura merasa seperti hidup di doujin-doujin BL kesukaannya. Dan ini NYATA. Wow..
.
.
"Maaf akhirnya hanya bisa lewat telepon. Ada urusan mendadak di kantor." ungkap Itachi yang tidak mengawali sambungan teleponnya dengan 'halo' seperti biasanya. Ia sudah terlalu penasaran sekaligus bingung dengan hasil pengujian 'apakah-adikku-seorang-gay-?' lewat drama yang telah dibuat sedemikian rupa bersama Konan. "Bisa langsung ke intinya saja?"
Konan terdengar menghela napas di sebrang sana, "Mereka kabur tepat setelah dramanya usai, Itachi. Jadi, aku tidak bisa mengatakan dengan pasti soal – yah, orientasi Sasuke."
"Tapi, kau melihatnya dari dekat kan sebelum tirainya ditutup?" desak Itachi, "Katakan saja, apapun. Aku – sungguh, sejak awal melihat Sasuke yang seperti itu membuatku merasa sedang bercermin, Konan. Kau tahu kan maksudku–"
"Ya, ya," sela Konan setenang mungkin, "Aku mengerti kau sedang khawatir. Tapi, orientasi seseorang bukan sesuatu seperti gen, Itachi. Sasuke bisa memilih."
Ya, Itachi melakukan ini atas dasar rasa kekhawatirannya, kalau Sasuke tidak menyukai lawan jenisnya. Kalau Sasuke akan bernasib sama seperti dirinya. Atau, jika kurang jelas, maka pengujian ini bisa diubah namanya dengan 'apakah-adikku-berorientasi-sama-denganku-?'
Singkat kata, Itachi itu gay.
Pria berambut sepunggung itu menyadari orientasinya sudah lebih dari lima tahun lamanya. Dan dengan posisinya kini, sebagai pewaris perusahaan, sudah pasti posisinya tidak akan mungkin diturunkan kepada anaknya. Bagaimanapun juga, laki-laki manapun diciptakan tanpa rahim. Jadi, harapan terakhir keluarganya adalah Sasuke seorang.
Namun, Sasuke justru terlihat seperti Itachi.
"Entah kenapa aku berharap Sasuke memilih tidak sepertiku." Ungkapnya dengan suara pelan. Bahkan, seperti rintihan. "Hanya dia satu-satunya harapan keluarga kami."
"Bagaimana denganmu sendiri?" tanya Konan kemudian, "Apa kau sudah mencoba jujur pada keluargamu, Itachi?"
"Aku–sering mengajak Sasori ke rumah akhir-akhir ini." Jawab Itachi seraya mengelus tengkuknya pelan, "Kurasa memberi clue lebih baik untuk sekarang. Cepat atau lambat, kami akan menghadapi konsekuensi itu bersama."
"Begitu ya.."
Hening beberapa saat.
"Hey, Konan," Itachi lalu menggumam, "Apakah pasangan gay boleh mengadopsi anak?"
"Err–aku tidak tahu sih. Tapi, jika bermaksud baik dan tidak merugikan si anak, seharusnya tidak masalah. Itu menurutku."
Itachi tersenyum, lega mendengar perkataan Konan. Sungguh, hanya wanita ungu ini yang mampu menerima dirinya dengan baik, mengerti dan tidak memutus hubungan pertemanan mereka yang sejak SMA itu. Bahkan, Konan selalu mendukungnya dikala Itachi merasa jijik dan tidak bisa melakukan apa-apa tentang – yah, kau tahu lah.
"Baiklah, aku tidak akan menekan Sasuke. Haknya untuk memilih sesuatu yang ia inginkan," putus Itachi pada akhirnya, "Thanks a lot, Konan."
"With My pleasure, Itachi."
.
.
Sasuke gelandangan. Persis.
Sang Uchiha bungsu itu kini berakhir dengan tergeletak di kursi panjang sebuah taman. Dengan penerangan yang seadanya membuatnya terlihat semakin miris dari jalanan. Bahkan, pejalan kaki yang lewat pasti menatapnya dengan pandangan 'sayang-ganteng-ganteng-kok-gelandangan' padahal, kalau dilihat dari brand pakaiannya sangatlah salah.
"Jadi, kau benar-benar menciumnya?!"
"Kau pikir siapa dalang dari semua ini, ha?"
Oke, sekarang Sakura ikut masuk dalam adegan DVD rusak di kepala Sasuke. Pemuda chicken-butt itu mendengus gusar. Baik sih, yang ia lihat melulu – walaupun sebatas bayangan semu di kepala – bukan hanya Naruto sekarang. Tapi buruknya adalah pertanyaannya kini bertambah.
Apa benar semua ini gara-gara Sakura?
'Fuck. Sejak kapan pikiranku serumit ini?!' Sasuke hanya dapat bertanya entah pada siapa di otaknya. Ah, atau kapasitas otaknya telah menurun sangat amat drastis sehingga tidak dapat berpikir jernih? Entahlah.
Apa benar semua ini gara-gara Sakura?
Nah, kembali soal itu. Sasuke jadi teringat kalau semua ini bukan karena si gadis pinky, melainkan berasal dari otak guru keseniannya yang nista nan bejat – duh, Sasuke lupa namanya yang jelas gurunya itu wanita muda. Awalnya drama kelas mereka bukan menceritakan tentang Pangeran kerajaan yang ternyata gay dan naksir dengan Ajudannya, BUKAN. Sasuke pun awalnya tidak memainkan peran apapun karena ia menolak keras. Jadi –
Ya jelas saja bukan salah Sakura!
Tunggu, siapa yang membuat naskah? Dia kan yang menuliskan adegan cium –
Eh.. Daripada menyalahkan orang lain secara sembarang, bukankah akar permasalahan Sasuke bersumber dari dirinya sendiri? Pertanyaan utamanya 'Kenapa ia menjadi tidak normal?' kan. Lagipula, bisa saja Sasuke pindah sekolah sebagai wujud penolakannya sejak awal. Bisa saja ia melarikan diri sampai keluar negeri. Dia Uchiha, please, apa sih yang tidak bisa?
LAGIPULA, jika Sasuke tidak melulu kepikiran tingkah Naruto, tidak melulu terhipnotis dengan raut wajah – damn – kawaii Naruto, maka seharusnya Sasuke baik-baik saja sekarang.
"Jadi ini salahku sendiri...?" Sasuke menyuarakan isi hatinya pada angin malam. Lalu, tak lama kemudian kembali mengacak-acak kasar rambut 'bergaya' nya sendiri sembari mengumpat. "Dimana salahnya, sialan?! Aarggh!"
Biarlah, Sasuke menjadi OOC.
"Mweong~"
Sasuke menatap horor kucing kecil yang menghampirinya. Kalau saja binatang berakal, pasti si kucing sudah lari terkencing-kencing melihat tampang Sasuke yang menyeramkan saat ini. Tapi sayangnya tidak, ia justru naik ke kursi tempat Sasuke merebahkan tubuh, dan tidur melingkar di perut Sasuke yang hangat.
Ah, benar juga, insting binatang untuk bertahan hidup.
Sepasang onyx itu menyipit untuk melihat secara jelas si kucing yang seenak udel menindihnya. Bulunya putih. Sepertinya Sasuke pernah –oh, apakah ini Miica?
Sasuke yang notabene waktu kecilnya pernah diisi dengan menjahili kucing pun merasa tertarik, ia bangun dari posisinya dengan mengangkat Miica sebelum bergerak. Sang kucing putih nan lucu pun terbangun dan hanya menatap Sasuke yang menggendongnya.
"Mweong~"
Alis Sasuke bertautan. 'Mungkin itu artinya seperti, Ada masalah apa hey, Manusia?' batinnya dalam hati. Dan Sasuke mulai stress sampai tahap mengartikan bahasa binatang.
"Hah.."
Miica tidak mengeong kali ini. Mata biru terangnya hanya menatap Sasuke tanpa kedip.
"Lucu kaan-nyaan? Tebak, mata itu milik siapa?"
Kepingan bayangan lagi, dan Sasuke terdiam.
Si-to the-a-to the-lan. Sialan. Sekarang salah siapa, Sasuke? Salah si kucing Miica? Salah Naruto? Salah dirimu sendiri? Salah teman-temanmu? Ah, yang benar saja.
Ddrrrrrttt. Ddrrrrrrtt.
Sasuke meletakkan Miica si kucing putih mata biru di pangkuannya, lalu merogoh kantong jaketnya malas untuk membuka email yang dikirimkan entah oleh siapa. Sasuke langsung membukanya tanpa melihat notifikasi dengan jelas.
From : Haruno Sakura.
Sasuke-kun, sekalian ya. Karena kau mengambil jalan pulang melewati rumah Naruto, tolong wakili kelas untuk menjenguknya. Dia sakit demam ternyata, sudah dua hari. Aku baru saja menghubungi telepon rumahnya, dan ibunya yang menjawab. Sampaikan salam dari kami ya, Trims.
Sasuke cengo menatap ponselnya. 'What The..?'
Sekalian? Lewat rumah Naruto? Apa sih?
Dan di detik berikutnya Sasuke celingukan ke sana ke mari untuk menatap sekitar. Benar saja, ini memang taman yang ia lewati bersama Naruto saat mobil jemputannya rusak dan mereka harus berjalan susah payah di bawah terik matahari untuk pulang.
Astagaa, mana Sasuke tahu lah! Otaknya saja berubah menjadi DVD rusak setelah drama sialan itu usai.
'Takdir sialan macam apa ini, oi?!' batin Sasuke menggerutu. Namun, tiba-tiba ia teringat kalau isi email Sakura lainnya adalah Naruto sakit demam selama dua hari. Jadi, sebegitu parahnya efek drama kemarin?
Sasuke berdecak, "Dasar dobe."
Kalau sudah begini mana bisa Sasuke berdiam diri? Atau pulang begitu saja? Maka dari itu, akhirnya ia berlari ke rumah sang sahabat sejati untuk memastikan keadaannya. Toh jaraknya tidak begitu jauh.
.
.
"Arigatouu, Kaa-chaaann!" Naruto memeluk ibunya erat dengan setetes air mata di pelupuk. "Maaf membuat Kaa-chan telah berbohong, tapi aku benar-benar tidak bisa ikut. Aku–"
"Kau sedang bertengkar dengan Sasuke?" tebak Kushina cepat. Melihat reaksi anaknya yang memasang tampang terkejut, ia pun menghela napas. "Apa separah itu? Memangnya ada masalah apa, sayang?"
Naruto hanya bisa ber'ugh-engg' ria layaknya orang kebelet buang air.
"Oh ya, soal bunkasai-nya," ujar Kushina kemudian, "Anggap saja ini sebagai balasan karena tidak bisa datang. Kondisi nenekmu juga benar-benar mengkhawatirkan kemarin, disamping tidak ada tiket gratis." Wanita bersurai gelap itu lalu menyengir lebar.
"Gomen.. Aku – tiketnya terbang."
Terbang karena Naruto membuangnya di jalan dan terkena angin kendaraan yang lalu-lalang, betul sekali Naruto. Alibi sempurna.
Kushina menempatkan tangannya pada dahi Naruto, "Hmm, sudah tidak panas lagi." katanya lalu menarik tangannya dari dahi dan mengelus kepala sang anak, "Kaa-chan bersyukur kau memiliki tubuh yang sangat bagus, terutama soal penyembuhan."
Alis Naruto terangkat tinggi-tinggi. "He..?"
"Ya ampun, saat kau pulang dari bunkasai kepalamu merah, panas, Naruto." Kushina mengingat kembali saat sang anak pulang dengan keadaan yang benar-benar mengkhawatirkan, "Kau bahkan seperti orang linglung-dattebane! Tidak mau diobati, mogok makan –"
"Aaa – aku ingat-ttebayo! Oke, aku ingat sekarang!"
Demi apalah, bagaimana Naruto bisa lupa kalau soal itu?! Seluruh kulit tubuhnya saja masih ingat jelas bagaimana rasanya ciumanganasnanhot ala Uchiha – kampret – Sasuke. Dan sialnya lagi, hal itu pertama kali dilakukan Naruto setelah berbelas-belas tahun Ayah dan Ibunya tidak menggendongnya lagi karena sudah mampu berjalan sendiri.
Sebegini nistanya-kah hidup Naruto? Ciuman pertamanya direnggut laki-laki, bukan perempuan. Ugh..
"Baiklah, kalau begitu Kaa-chan ke rumah nenek dulu sebentar ya?" Kushina melambaikan tangannya seraya tersenyum manis, "Daah!"
Naruto hanya mampu mengangguk, sebelum akhirnya terperosot jatuh dengan wajah merah padam setelah pintu rumahnya tertutup rapat selama lima detik. "Aaaaakkhhh! Aku sudah gilaaa! Huhuhu.." rengeknya lebay ditambah aksi mengacak-acak rambut kuningnya.
Kaa-channya bilang kalau demam adalah alasan yang mendekati kejujuran atas ketidak hadirannya dalam pesta perayaan kelas. Alasannya, pertama ; Naruto memang demam saat pulang dari acara bunkasai, dan kedua ; bukan penyakit yang parah. Jadi, kemungkinan teman sekelasnya akan menjenguk akan lebih kecil.
Tapi, intinya dia tetap berbohong kalau tidak bisa datang.
.
.
Drap! Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!
"Kusooo!"
Sang pemuda pun dipandang aneh oleh warga sekitar yang berada di sekitar jalan raya. Kurang aneh apa manusia bergender laki-laki, tampan, model rambut sangat 'bergaya' , postur tegap nan tinggi, berlari dengan keringat bercucuran, berwajah merah – agak merona sebenarnya – dan berteriak...
"Ano dobeee!"
Nah. Coba jelaskan, kurang aneh bagaimana?
Diketahui dengan ciri fiisik yang seperti itu, Si pemuda tidak lain dan tidak bukan adalah seorang Uchiha Sasuke. Yep, dia masih berlari menuju rumah Naruto. Awalnya berlari kecil, tapi semakin cepat layaknya sepeda motor yang gear-nya dinaikkan secara bertahap dengan menginjak tuas pedal. Roda berputar cepat, piston pun mengikuti.
Derap langkah kakinya cepat, pun dengan detak jantungnya kini – Sasuke.
"Jangan bunuh diri.. Jangan.. Jangan lakukan hal bodoh itu, IDIOT!"
Awalnya pikiran Sasuke biasa saja, sampai akhirnya bayang-bayang si pemuda pirang mengurung diri karena frustasi telah dicium olehnya. Lalu, karena kapasitas otaknya yang super amat sangat BAKA, sehingga Naruto –
"Tidak!Tidak!Tidaak! Aaaaarrrrgghh!"
Well, tapi siapa yang sebenarnya kapasitas otaknya menurun drastis hingga melewati ketebalan garis pensil di sini? Naruto kah?
Persetan peran dengan harga menentukan kualitas sol sepatu sport milik Uchiha Sasuke, tukikan tajam pun dapat dilakukan dengan mudah bagai membalik telapak tangan. Dua blok terlewati, kurang satu tikungan dan tiga pagar rumah di kiri, Sasuke sampai pada tujuan.
Ckiiittt!
Satu tukikan tajam lagi untuk memasuki halaman rumah keluarga Uzumaki. Sasuke tidak berpikir lagi bagaimana dirinya bisa masuk dengan mudah hingga sampai depan pintu berwarna oranye lembut – yang sebenarnya karena Kushina dengan penuh ke-khilafan lupa mengaitkan kancing pagar rumah. Bahkan, bukan hal aneh lagi bagi Sasuke yang sedang panik akut jika pintu rumah seseorang terbuka begitu saja sesuai keinginannya.
Braaakk!
"NARUTO!"
Nama seseorang yang Sasuke khawatirkan – dengan tingkah tololnya – pun terlontar dari bibir.
.
.
Braaaakk!
"NARUTO!"
"ASTAGA-TTEBAYO!"
Dan jantung seorang Uzumaki Naruto bagai melompat keluar rusuk. Wajah pucat, mata melotot, hingga napas tersengal-sengal bagai melihat hantu. Mungkin, apa yang terjadi seumur hidup Naruto saat ini adalah yang paling mirip dengan adegan-adegan film hororr yang pernah Naruto lihat – secara paksa. Bedanya hanya si hantu tidak berambut hitam panjang menjulang, tapi mencuat ke belakang.
Masih tersengal-sengal di posisi mereka masing-masing. Naruto terduduk di lantai, dan Sasuke berdiri memegangi kenop pintu.
"T-tunggu! Tunggu dulu!" Naruto menjulurkan tangannya ke depan – memberikan gestur untuk tidak mendekat. Walaupun, Sasuke sebenarnya belum bergerak sedikitpun di tempatnya. "A-apa yang kau lakukan, heh?!"
Setelah mampu mengumpulkan kekuatan Sasuke berkata, "Kau– "
"AAAKKHH! KENAPA KAU DATANG KE SINI, TEME?!"
"..."
"..."
"Jadi, kau tidak bunuh diri... ya?"
Alis Naruto terangkat tinggi, "Apa?"
Sasuke menepuk jidatnya keras, seolah frustasi tingkat kolosal dan meminta dikembalikan lagi kepribadiannya yang direnggut banyak pihak hanya untuk seonggok karangan fiksi di situs ef-ef-en ini. Oke, intinya dia merasa sangat TOLOL saat ini.
Dan Naruto semakin bingung melihat tingkah sobatnya, Si Pantat Ayam.
"Lupakan," Kata Sasuke lelah, ia mendudukkan diri di batas lantai kayu, "Berikan aku minum sekarang."
Tolong lah, nyelonong masuk ke rumah orang, teriak 'NARUTO!' lalu 'Jadi kau tidak bunuh diri..ya?' dilanjut menepuk jidat sangat keras, berujung minta minum..?
Demi Nenek Gayung.
'Si teme kerasukan setan apa sih?' batin Naruto sambil menggaruk tengkuk. Walaupun, praktiknya ia justru menyahut, "O-oh.." dan bergerak ke dapur.
Terlihat begitu mudahnya melupakan sensasi ciuman dengan sahabat yang segender kan?
Dengan segelas air es dan rasa keheranan yang amat tinggi, Naruto pun kembali menghampiri Sasuke. "Ini.." ucapnya seraya menyodorkan gelas di tangannya yang langsung disambut Sasuke cepat, "Lagipula, kau itu kenapa sih? Sedang kerasukan ya?"
Sasuke meletakkan kembali gelas yang sudah tandas isinya ke lantai, lalu menyeka cairan – entah sisa air minum atau keringat – di wajahnya. Kalau ia sedang di tempat umum, pasti jepretan kamera para lawan jenis langsung menangkapnya karena terlihat sensual dan menggoda iman. Tapi sekarang, hanya sepasang manik shappire yang memandangnya dengan kedipan tidak mengerti.
"Oi, teme–"
"Kau terlihat baik-baik saja."
"Eh?"
Sasuke menghela napas, "Kukira kau akan bunuh diri karena frustasi," ungkapnya jujur, "Kau itu kan bodoh. Mana mungkin aku membiarkanmu sakit-sakitan lalu sampai bunuh diri karena sebuah ciuman konyol? Lagipula itu kan hanya sebuah drama."
"Lebih baik dipenjara karena kasus pemerkosaan dibanding–" Sasuke berhenti bicara seketika. Ditatapnya Naruto dengan mata terbuka lebar dan mendapati si objek pengelihatan sudah memerah kepalanya. "O-oi–?"
Bagai super hero Flash, Naruto berlari menuju kamarnya di lantai dua secepat mungkin.
.
.
"DASAR MESUM!"
"Bukan begitu maksudku, dobe!"
"Minggir sana! Ugh–" Naruto mendorong pintu kamarnya berlawanan arah dan tujuan dengan Sasuke, "Kau tidak berhak masuk tanpa izin-ttebayo!"
Sasuke berdecih ria, "Jadi seperti ini perlakuanmu, heh?! Asal kau tahu–gh saja, aku kesini karena dipaksa untuk mewakili kelas C!"
"AKU TIDAK PEDULI!"
Dan acara dorong-dorongan pintu kamar terus berlanjut. Sasuke yang berjuang keras supaya bisa masuk ke dalam untuk menjelaskan, dan Naruto yang berjuang keras supaya bisa menghindar dari Sasuke. Urat semakin jelas terlihat, keringat semakin banyak mengucur hingga sebuah suara menginterupsi –
"Ibu pulaaaang~!"
Naruto yang heran betapa cepatnya sang ibu kembali pun akhirnya kecolongan, ia terjatuh ke belakang. Sedangkan, tanpa babibu Sasuke langsung masuk ke dalam kamar dan duduk manis di kursi samping kasur. Manusia kurang ajar memang.
Derap kaki menaiki tangga kayu terdengar jelas sampai kamar Naruto, "Duh, sepertinya aku menua lebih cepat tahun ini." keluh Kushina.
Naruto panik, dan Sasuke menggerakkan dagunya ke arah kasur pada sahabatnya itu. Mengerti akan maksudnya, Naruto pun secepat kilat naik ke atas kasur dan menarik selimut hingga sepundak. Super hero Flash mode ON (part 2).
"Kau sedang apa Naruto? Sepertinya tadi Ibu dengar–oh, Sasuke-kun?" alis Kushina terangkat tinggi begitu mendapati sosok familiar di kamar anaknya.
Sasuke membungkuk hormat, "Aku dengar Naruto sakit dua hari ini, jadi aku sekalian menjenguk ke sini." Ucapnya kalem seperti biasa. "Maaf kalau –"
"Tidak, tidak apa-apa, Sasuke-kun," Kushina memotong dengan mengibas-ngibaskan tangan kanannya, "Justru Naruto yang harusnya minta maaf, dia telah membuat temannya khawatir kan?"
Kepala chicken-butt itu sedikit mengangguk.
Kushina menghela napas.
Naruto menatap sinis Sasuke di balik selimutnya. 'Dasar teme..'
"Oh iya, Naruto," Kushina menginterupsi anaknya di balik selimut, "Buatkan Sasuke-kun minum, oke? Jangan berpura-pura lagi-ttebane. Kau juga bisa bicara jujur dengan Sasuke kan?"
Sasuke pun menatap Naruto penuh intimidasi.
"U-uhh.. oke." Sahut Naruto yang langsung merasakan hawa tidak enak, "Lalu, kenapa Kaa-san sudah pu –"
"Oh, benar! Aku lupa dompetku!" Kushina memekik seketika begitu mengingat tujuan awalnya, "Sudah ya, Kaa-san harus cepat sebelum ketinggalan bis! Jaga rumah baik-baik ya, Naruto! Dah, Sasuke-kun!" lalu ibu-ibu bersurai panjang itu melesat cepat dari kamar naruto - kamarnya - pagar rumah.
Well, kenapa seolah-olah keluarga Uzumaki memiliki kekuatan seperti Flash? Sasuke belum pernah melihat secara teliti kalau seseorang terdesak akan secepat itu. Oh, tunggu, ada yang lebih penting.
Sasuke berdeham pelan, "Jadi, pembicaraan jujur macam apa–"
"Argh! Kepalaku jadi benjol, Teme!"
Naruto mengelus kepalanya sambil merintih, "Ya ampun, ini sebesar bola tennis.."
Sasuke menghela napas.
"Kau nyaris membuatku gegar otak-ttebayo!"
Set.
"Kau berisik," Sasuke meraba pelan bagian kepala Naruto yang dikeluhkan sakit itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Naruto, menggeser supaya Sasuke tahu seberapa parah. Pemuda pirang itu diam, matanya terbuka lebar dan menatap lurus biji onyx di depannya. "Tidak ada benjolan, Idiot. Bentuk tengkorak manusia memang seperti itu."
Sasuke menarik tangannya. Ia mengambil jeda untuk benar-benar menatap lurus sepasang mata biru safir, dan berusaha memahami apa yang Naruto alami saat itu juga. Saat mereka terdiam dan saling bertatapan. "Kau juga merasakannya Naruto.." katanya kemudian.
"He? A-apa? Kau mengatakan apa..?"
Sang Uchiha bungsu berdiri dari kursinya dan sedikit menunduk untuk menatap Naruto, "Asal kau tahu, aku juga, Naruto. Aku merasakannya," lalu ia membungkuk untuk memperpendek jarak wajah mereka, "Sesuatu yang aneh, membuatku merasa sangat konyol dan tolol sekaligus."
"Sa-sasu.."
"Kita merasakannya, Naruto. Kau dan aku."
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
.
.
.
(VERY LONG) A/N : Err.. jadi sebenernya itu tirainya udah ketutup sebelum sasunaru-nya anuanu *ditampar*. Maaf ya kalo kurang jelas, soal rated yah.. mungkin nanti aku tulis warn paten aja di summary (._.)v . Eh, kalo soal Itachi! Erm.. itu beneran, ga tau kenapa bisa jadi begitu. Salahkan jari-jari ini yang mengetik /ga/ intinya saya juga kaget sendiri sih pas kepikiran 'Itachi sebenernya gay!' dan akhirnya BENERAN JADI. Gwahahagg.. *ketawa ngakak tanpa rasa berdosa*
Terus, awalnya mau bikin chapter 13 ini sebagai chapter terakhir. Tapi, ga jadi garagara kelamaan, keburu punya cucu yang baca. Hahahahagg.. bercanda. So, chapter depan aja yak end-nya? Sip? Oke! Terima kasih atas semua supportnya ya! Buat kesabarannya juga (kalo ada yang sabar nungguin sih :v). Oh ya sorry ga rapi, lagi mager ngedit. waks~
Sekian, saran, kritik, dan komentar ditunggu di kotak review yak!
See you on next (LAST) chapter! ^^/
p.s : Jangan sedih, chapter depan masih lama kok updatenya. Jadi, perpisahannya masih bisa dipending lah~ (-_- tampang reader)
