"Kau juga merasakannya Naruto.."
"He? A-apa? Kau mengatakan apa..?"
"Asal kau tahu, aku juga, Naruto. Aku merasakannya. Sesuatu yang aneh, membuatku merasa sangat konyol dan tolol sekaligus."
"Sa-sasu.."
"Kita merasakannya, Naruto. Kau dan aku."
.
.
.
What The?
NARUTO by Masashi Kishimoto
WARN : AU School-Life. OOC. Out of Genre. Out of Rated. Typos. etc.
Chapter 14 : What (is) The..End?
.
.
.
Apa?
Hanya satu kata itu disertai tanda baca yang mengisi kepala Naruto saat ini. Sasuke dengan tampang seriusnya mengatakan kalau Naruto juga merasakan sesuatu, dan Sasuke sendiri juga merasakannya. Sasuke juga bilang kalau itu sesuatu yang aneh, yang membuatnya merasa konyol dan tolol sekaligus. Tapi, yang jadi permasalahannya disini adalah –
Sesuatu itu APA? Objek atau subjek? Benda atau makhluk hidup? APA? Demi upil titan, Naruto tidak mengerti.
Jarak wajah mereka semakin dekat saat Sasuke membungkuk. Naruto bahkan bisa merasakan napas Sasuke walau sedikit. Satu detik pun terasa sangat lambat, sampai Naruto berpikir apakah Sasuke tidak butuh berkedip barang sedetik hanya untuk menatapnya. Lagipula, warna matanya 'kan hitam. Onyx. Magnetis. Pusaran hitam yang menyedot.
Oh, sial, jantung Naruto mulai tidak normal lagi.
"Sa-sasu.." entah kenapa hanya itu yang mampu keluar dari mulut Naruto.
"Kita merasakannya, Naruto." Kata Sasuke kemudian, dan menurut Naruto saat itu juga raut wajah si Uchiha berubah. Tidak begitu terlihat, namun Naruto merasakannya dengan jelas. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal secara detail seseorang. "Kau dan aku.."
Bagaikan sihir, begitu kalimat terakhir Sasuke ucapkan, Naruto merasakan desiran secara menyeluruh pada dirinya. Oh, saat tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan Sasuke sebelumnya juga rasanya... berbeda. Seperti ada sesuatu yang – entahlah, Naruto bingung, sulit menjelaskannya.
Bahkan, tubuhnya sendiri sampai sulit untuk memberi reaksi. Naruto hanya diam, terpaku pada Sasuke.
'Apa seperti itu..?' batin Naruto.
Sasuke berdecak, ia menegakkan tubuhnya kembali. "Sial, ini tidak semudah menjelaskan soal fisika." Dengusnya terlihat lelah.
"..."
"Kau tahu, ini seperti sesuatu yang... salah, mungkin?," Sasuke masih terus mencoba menjelaskan pada Naruto. Tangannya pun mulai ikut bergerak menjelaskan. "Kau dan aku, Naruto. Kita merasakan sesuatu, dan itu –"
"Aneh..?"
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
"Sial, ini tidak semudah menjelaskan soal fisika." Sasuke jalan mondar-mandir, mengikuti bagaimana otaknya bekerja. Mencari kata yang tepat dan mudah dicerna mengenai emosi yang berbelit. Sungguh sangat sulit. "Kau tahu, ini seperti sesuatu yang... salah, mungkin? Kau dan aku, Naruto. Kita merasakan sesuatu, dan itu –"
"Aneh..?"
Sasuke berhenti mondar-mandir, menatap Naruto dengan mata terbuka lebar, "Ya."
"Apa itu seperti.. ehm, kau tidak mengerti kenapa tubuhmu tidak bergerak atau.. semacamnya?"
"Ya." Sasuke mengulang kata tersebut untuk kedua kalinya, "Hilang kontrol. Sesuatu itu membuat kita hilang kontrol. Hanya.. semua terjadi begitu saja. Dan kau melakukan atau merasakan sesuatu tapi dalam kondisi yang.. diluar rasional mungkin?"
Naruto terduduk di kasurnya dengan mata berkedip. "Eh..?"
Sasuke menepuk jidat. Percuma saja berdebat ilmiah dengan makhluk pirang ini. "Intinya sesuatu itu memang aneh, Dobe." Sahutnya kemudian. "Lalu, bagaimana selanjutnya menurutmu?"
Manik safir itu berputar, kerutan di dahi terlihat jelas. "Maksudmu?"
"Kau tahu, kita merasakan hal yang aneh. Lalu, bagaimana kita harus..." Sasuke terdiam kemudian. Kehilangan kata-kata yang tepat.
Naruto menunggu.
'Bagaimana aku mengatakannya? Berelasi? Berinteraksi? Ber...hubungan?' Sasuke mengacak rambutnya frustasi tanpa sadar. 'Sialan, maksud pertanyaanku apaa?!'
"Sasuke..?"
'Bagaimana kita harus... bertingkah? Apa yang harus kita lakukan saat.. bersama? Bagaimana hubungan – kusoo! Kenapa rasanya sangat menggelikan?!'
Naruto hanya diam. Kalau saja ia tahu apa isi pikiran Sasuke.
'Kenapa pula harus dengan orang idiot yang satu ini?! Bagaimana caranya aku bisa–'
"AARGHH.. DEMI KERIPUT ITACHI!" dan Sasuke menyuarakan isi hatinya pada bagian akhir. Membuat sosok pirang tersentak di tempatnya. Pemuda emo itu mengerang keras kemudian, "Berpikirlah, dobe! Apa yang akan kau lakukan setelah ini, ha?! Kau tahu sesuatu yang aneh itu harus kita atasi secepatnya kan?!"
"Berisik, teme! Kau membuatku kaget-ttebayo!"
Sasuke menarik kaos Naruto bergambar rubah di bagian dada, "Kalau begitu jawab pertanyaanku, dobe! Apa yang harus kita lakukan, ha? Apa?!" teriaknya tepat di wajah Naruto. Terlihat jelas ia sedang emosi, juga frustasi. Napasnya berhembus kasar, dadanya naik-turun secara cepat. Bagaimana tidak setelah semua pikirannya yang terus terganggu sedangkan Naruto sendiri –
Tunggu, sebenarnya salah Sasuke juga sih terlalu memikirkan hal sampai seperti itu. Ditambah lagi pihak yang bersangkutan adalah Naruto Uzumaki (yang jarang berpikir dan lebih suka bertindak langsung). Iya kan?
Naruto melepaskan cengkraman tangan Sasuke pada kaosnya, "Memangnya bagian mana yang harus diatasi - ttebayo?!" balasnya juga berteriak, "Kau hanya sibuk berpikir daritadi, mana aku tahu apa yang kau maksud?"
"Dengar ya, aku tidak akan mengulanginya lagi, stupid!" Sasuke menarik napas dalam-dalam, "Kau dan Aku, Kita merasakan sesuatu yang aneh disaat-saat tertentu. Hilang kontrol. Aku yang tidak tahan berdiam diri saat melihatmu salah tingkah, contohnya. Kau tahu itu aneh. Lalu, kau pikir setelah semua itu, saat kita bertatap muka lagi semuanya akan biasa-biasa saja, ha?"
"..."
"Lihat, kan? Ini bukan sesuatu yang –"
"Tapi, nyatanya kita sudah bertatap muka, kan?" Potong Naruto dengan tampang setengah tidak mengerti, "Bukankah itu yang sekarang kita lakukan? Memangnya kau pikir kita sedang apa sekarang?"
Sasuke terdiam seribu bahasa.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Ini sih namanya bukan 'biasa-biasa saja'.
"Pangeran-kuuuhhh~!"
"Ohayou, Thomas-samaa~!"
"Bawa aku keliling dunia, Pangeran! Kyaaa!"
"Aku padamu, Prince Thomas~!"
Sasuke cuek, ia terus berjalan dengan tampang datar walau dalam hati gondok setengah mati. Percuma saja ia tanggapi, yang ada justru 'mereka' (baca : Sasuke lovers) tambah heboh dan perjalanan menuju ke kelas menjadi terhambat. Yah, bukan hal yang mudah memang orang tampan tampil di depan umum tanpa menarik perhatian.
Geez, iya, Sasuke yang tampan.
"Teme, ohayou!" hanya ada satu makhluk di bumi ini yang memanggil Sasuke 'Teme' dengan suara cempreng dan cengiran lebar, Uzumaki Naruto. Pemuda pirang itu lalu merangkul pundaknya sok akrab – walaupun sebenarnya memang iya sih – "Aduh.. semakin terkenal saja, Pangeranku ini. Hahaha.."
Sasuke mendengus. Tapi.. apa sebutannya tadi?
"Kau bilang apa ba – "
Bughh!
"Ohayou!" Sakura tersenyum lebar tanpa rasa bersalah karena telah mendorong Sasuke dan Naruto keras-keras. Bahkan, nyaris terjungkal. "Kalian ini, pagi-pagi begini sudah bermesraan saja. Di depan umum pula!"
Sasuke membuka mulut, "Kami tidak –"
"Heee~ Kau cemburu ya, Sakura-chan?"
"Siapa yang cemburu, Baka!"
Naruto terus menggoda Sakura, "Mengaku saja lah~ Aku tahu kau merasa kesepian karena akhir-akhir ini aku terus bersama Sasuke, iya 'kan? Hmm~"
Sasuke mendengus bosan.
"Che, kau terlalu percaya diri, Naruto-baka."
Naruto lalu menggandeng tangan Sasuke dan menunjukkannya pada Sakura, "Lihat ini," katanya lalu tersenyum lebar. Sedangkan, Sasuke tidak sempat protes. Iya, tidak sempat karena fokusnya langsung hilang begitu melihat semburat merah di wajah Naruto. "Kami romantis 'kan?"
"Hah?" Sasuke dan Sakura mengeluarkan napas dari mulut mereka dengan nada yang sama.
"Loh? Kalian kenapa kaget begitu? Bukankah hal seperti ini biasa?"
Sungguh, ingin sekali rasanya Sasuke melempar Naruto hingga ujung tata surya. "INI TIDAK BIASA, IDIOT!" semburnya cepat.
"Tapi – "
"Kau tahu kalau ada yang tidak beres diantara kita sekarang!" Sasuke masih emosi. Dadanya naik-turun dengan cepat. "Dan kau menyarankan untuk biasa-biasa saja dengan cara seperti ini?! Candaanmu tidak lucu, Naruto!"
"Sas.."
"Kita bahkan sudah berci – Argh! Sudah! Ingat saja ini baik-baik, Kau TIDAK BISA bertingkah seenaknya lagi di depanku!" Sasuke menunjuk batang hidung Naruto penuh energi. Bahkan, nayris menusuk. "Sekarang pergi! Kau membuatku pusing, Naruto."
"Sas.."
"Kau tidak perlu menatapku dengan mata sok imut sialanmu itu!" Sasuke menghela napas, lalu memejamkan matanya dan menunjuk arah lain dengan tangannya, "Sekarang pergi, menjauhlah dariku."
"Menjauh..?"
Dahi Sasuke berkerut begitu membuka mata. Eh, sejak kapan Yuuhi-sensei ada di depannya? Bukankah tadi hanya ada Naruto dan Saku.. oh. Sialan. Sasuke seharusnya memejamkan mata untuk menjernihkan pikiran, bukan tertidur dan mimpi ambigu di tengah pelajaran. Lihat, bahkan teman sekelasnya sampai menahan tawa sekarang. "Ehm, aku hanya –"
"Keluar dari kelasku, Uchiha Sasuke."
Ah, sudahlah.
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
'Tidak peduli.. Tidak peduli.. Tidak peduli..'
Setelah diusir dari kelas, Sasuke tetap keluar dengan langkah santai. Tangannya yang dijejalkan ke dalam saku celana dan wajah datar masih menjadi andalan utamanya. Bukan untuk menjaga imej, tetapi menyembunyikan apa-apa yang sebenarnya memalukan, menjengkelkan, dan sebagainya. Termasuk diusir dari kelas. Toh, buat apa dunia tahu segala sesuatu tentang Sasuke?
Lagipula, ada yang menyebutkan kalau bukan murid SMA namanya kalau belum pernah berbuat nakal.
UKS atau Unit Kesehatan Sekolah menjadi tujuan Sasuke untuk menghabiskan waktu hukuman. Tempat yang juga menurutnya sangat cocok untuk menenangkan pikiran. Ada kasur, tirai bisa ditutup, pendingin ruangan, bantal, dan selimut. Oh, tinggal ditambah alasan kurang enak badan. Lengkap.
"Permisi.." ucap Sasuke begitu menggeser pintu UKS.
Shizune yang sedang bertugas mengerutkan dahi, "Loh, Sasuke-kun? Kau sedang sakit juga?"
"Hn. Boleh aku istirahat sebentar disini, Shizune-san? Kurasa aku sedikit kelelahan, tubuhku rasanya sakit." Sasuke sedikit melenguh kesakitan saat memijat daerah tengkuknya sendiri.
"Yah, wajahmu terlihat agak pucat sih," komentar Shizune, "Baiklah, sekalian tunggu UKS sebentar ya. Aku akan ke kantor Tata Usaha untuk memberikan laporan."
Sasuke mengangguk, "Trims." Ucapnya sebelum Shizune menghilang dari balik pintu. Setelah sukses dengan aktingnya, ia pun menuju kasur yang terletak di tengah sisi kanan ruangan dan menarik tirainya hingga tertutup rapat.
Kreeeekk!
"Hah.." Sasuke menghela napas lega. Sebelum merebahkan diri di kasur, ia menanggalkan jas sekolahnya dan mengendorkan dasi yang menggantung di lehernya. Lega. Akhirnya Sasuke mendapatkan sedikit privasi di sekolahnya. Biasanya 'cewek-cewek berisik' itu selalu mengusiknya dimanapun ia berada. Eh, walau lebih tepatnya alasan utamanya kesini adalah mimpi ambigu beberapa menit yang lalu sih.
Lucky, Sasuke.
Beberapa menit kemudian, sepasang onyx terpejam dan dengkuran halus nyaris keluar dari mulut Sasuke kalau saja getar handphone di saku celananya tidak mengusik. Pemuda Uchiha itu pun berdecak sebal seraya merogoh sakunya.
From : Uzumaki Naruto
Teme, kau sakit?
Dahi Sasuke membentuk lipatan efek keheranan. Seingatnya Naruto masih dihukum keluar kelas–
Kreeekk!
"Oi, kau sakit apa-teme?"
DEG!
Sasuke nyaris terjengkang dari kasurnya sendiri. Matanya melebar melihat sosok yang muncul di balik tirai sisi kanannya, "Sialan kau, Dobe!" umpatnya setengah berteriak.
Naruto pun menyegir lebar, "Jadi, kau sakit apa?"
"Bukan urusanmu!" bentak Sasuke. Kesal dengan 'suprise' yang diberikan Sang Maha Kuasa barusan, akhirnya ia turun dari ranjang UKS dan menyambar jas sekolahnya untuk dibawa pergi. Bukannya mendapat ketenangan untuk melupakan mimpi ambigu, justru sosok asli dari mimpinya sendiri – sekali lagi, yang ambigu – itu menampakkan diri.
"Oi, teme! Kau mau kemana?"
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Naruto menggerakkan bola matanya ke samping, melirik Sasuke yang masih sibuk dengan handphone-nya – atau lebih tepatnya, mengacuhkan Naruto. Sepertinya Si Uchiha kesal karena ia ikuti sampai atap sekolah. Tapi, kenapa? Memangnya Naruto salah apa?
"Teme.."
"..."
"Oi, kau marah ya?"
"..."
"Sas –"
"Jangan ganggu aku."
"Memangnya aku salah apa?"
Sasuke menghela napas, "Kau bisa bersikap seperti biasa dengan mudah ya?" balasnya yang membuat tampang Naruto semakin kusut karena tidak mengerti. "Yah, wajar saja kau 'kan jarang berpikir."
"Kau sedang mengejekku ya?!"
"Tidak," jawab Sasuke datar. Kemudian ia berdiri dari posisinya menuju hadapan Naruto dan memegang kedua pundak Si Pemuda Pirang dengan tatapan intens, "Bagaimana kalau begini? Apa masih biasa saja?"
Tanpa sadar Naruto mengulum bibirnya, pandangannya di lempar jauh ke sisi kanan. Sedangkan, Sasuke bergeming dan terus menatap lekat Naruto. "A-apa maksudmu?"
Seulas senyum kemenangan tercipta pada wajah Sasuke, "Lihat? Ini yang kumaksud kemarin, Dobe." Katanya lalu melepaskan pundak Naruto dan menjejalkan tangannya ke saku. "Bagaimana menurutmu? Masih bisa bersikap seperti biasa?"
Naruto hanya mendengus, "Itu karena kau membuatku terkejut, Teme."
"Oh? Aku mengejutkanmu?" ucap Sasuke sok innocence, "Baiklah, kuulang. Mulai sekarang akan kukatakan lebih dulu sebelum melakukan apapun padamu. Contohnya, Aku akan memegang pudakmu dan menatapmu, lalu –"
Naruto cepat-cepat menepis tangan Sasuke yang mulai terangkat kembali, "Kau ini apa-apaan – ttebayo?! Berhenti bersikap aneh!"
"Aku bersikap aneh..?"
"Ya! Sangat aneh!"
"Lalu, kau yang menghindari mataku, tergagap seketika dan refleks menepis tanganku itu apa? Normal?"
Skak mat! Naruto menggigit bibir bawahnya kesal. Bohong kalau ia tidak merasakan sesuatu atas semua perbuatan yang Sasuke sebutkan barusan. Degup jantungnya yang keras terlalu nyata.
Sasuke mengulurkan tangannya, "Sekarang coba jabat tanganku," tantangnya kemudian, "itu kalau kau berani."
Naruto yang semakin tersulut justru menepis keras tangan Sasuke yang terulur hingga suara yang dihasilkan serupa tamparan. Dengan berani ia membuang jarak antara wajahnya dengan wajah Sasuke. Mata bertemu mata. "Apa kau tidak bisa membuatnya mudah, Sasuke?"
"..."
"Bohong kalau aku tidak merasakan apa-apa. Setelah apa yang kau lakukan sepanjang drama itu," Naruto menghela napas sehingga ada jeda panjang, "Bukankah kita sudah berciuman?"
Garis-garis merah mulai menjalari kedua wajah anak remaja itu.
Sasuke pun mulai angkat bicara untuk meluruskan hal tersebut, "Sulit dipercaya memang, tapi, Ya." Katanya setengah grogi, "Kita berciuman dan itu namanya totalitas peran, Naruto."
"Lalu, kenapa kau bersikap seolah kau benar-benar menciumku kemarin? Bukankah waktu itu Thomas sedang mecium Jack?"
BANG! Kena Sasuke.
"Argh! Aku tidak tahu!" ujar Sasuke frustasi. Ia menjambaki rambutnya sendiri, "Karena itu aku bertanya padamu, Dobe! Apa yang harus kita lakukan dan kau kemarin menjawabnya 'biasa-biasa saja'!"
"Aku tidak bilang begitu!" Naruto membela dirinya sendiri. "Sudahlah, begini saja! Ayo kita anggap semua yang terjadi pada kita itu sebuah efek, seperti minum obat." Putusnya kemudian.
"Semudah itu?"
Naruto mengangguk, "Um!" gumamnya, "Lalu, selama efeknya belum hilang kita harus bekerjasama. Seperti kau mengobatiku, juga sebaliknya. Yaa –pokoknya begitulah! Aku sih tidak masalah, selama itu kau – eh, maksudku, kau itu kan orang yang kupercaya. Jadi yaah, sepertinya akan berhasil."
Sasuke diam. Bukannya dia tidak mengerti atau apa, tapi mendengar Naruto akhirnya berbicara lebih pintar sekaligus mengatakan kalau Sasuke adalah orang yang dipercaya membuatnya sedikit terkejut dan bingung harus membalas bagaimana. Tapi jujur saja, ia sangat menghargai apresiasi dari Naruto tersebut. Senyum pun merekah pada wajah Sasuke, ia mengangguk.
"Baiklah, mari bekerjasama, Uzumaki Naruto."
.
.
.
.
.
Dua tahun kemudian.
Konoha City, pukul 13.00, 42˚ Celcius.
Sepasang manik saphire milik Naruto menatap tajam papan darts yang menempel di dinding. Disana sudah tertancap anak panah dengan perolehan poin 15. Sedangkan, Sasuke yang sebelumnya sudah meluncurkan anak panah menguap – ngantuk. Entah kenapa akhir-akhir ini mereka lebih suka menyelesaikan masalah dengan papan darts yang baru saja dibeli Sasuke sebulan yang lalu. Contohnya seperti sekarang, siapa yang dapat koin rendah akan membeli ramen dingin ke Ichiraku dengan cuaca yang amat panas.
Lebih fair katanya, dibanding adu mulut sambil guling-gulingan ala pelatihan militer.
Bibir Naruto ditarik ke atas, dia harus dapat poin 20 untuk mengalahkan Sasuke. "Hmmm.."
"Cepat. Aku sudah kelaparan, Bodoh." ejek Sasuke yang berdiri di samping Naruto.
"Berisik-ttebayo!"
Sasuke berdecih, ia pun menyingkir dari tempatnya berdiri menuju kasur ukuran king sizenya.
Naruto menarik napas panjang, anak panah diangkat ke atas. Oke, ia akan melemparkannya dalam hitungan ketiga. Satu.. dua..
Debu masuk ke dalam hidung Sasuke.
Tiga! – "Haaattchiii!"
"ACK!"
Dan anak panah Naruto hanya bertabrakan dengan papan darts tanpa bisa menancap kuat. "Temeee!" umpat Naruto kesal. Sasuke pun terbahak begitu mengetahuinya. "Ulang! Kau membuatku tidak fokus –ttebayo!"
"Kalau begitu aku juga ulang." Sahut Sasuke.
"Mana bisa?!"
Kurang dari lima menit pun adegan yang paling dihindari pun terjadi – adu mulut sambil guling-gulingan ala pelatihan militer. Kurang pantas memang untuk ukuran anak kuliahan semester 2. Oh ya, Sasuke mengambil jurusan bisnis ekonomi dan Naruto mengambil jurusan teknik mesin di universitas yang sama. Kalau Sasuke mungkin sudah tidak perlu dipertanyakan, tapi kalau Naruto sudah menemukan kesenangannya dengan mengutak-atik mesin.
Sasuke terus menepis kepalan tangan Naruto yang mengarah ke wajahnya. Ia mendengus kesal karena posisinya di bawah tubuh Naruto, apalagi sisi perutnya diapit kuat oleh lutut Naruto. Merasa semakin sulit bernapas, Sasuke menepis pukulan Naruto dengan tangan kiri dan menekan titik lemah Si Pirang dengan tangan kanan – tepatnya di perut.
"Akh – geli!"
Bugh! Posisi dibalik, Sasuke di atas menahan kedua tangan Naruto.
"Lepaskan aku – ttebayo!" ronta Naruto.
"Tidak, sebelum kau mengaku kalah." Sasuke mengajukan syarat. Namun, Naruto justru mengangkat kepalanya, mencibir tepat di depan muka Sasuke. Lalu dengan santai Sasuke menggerakkan sebelah lututnya untuk menggelitik perut Naruto.
"Aduh – ahahaha! STOP! Hahahaha.. Iya iya! Aku kalah –ttebayo!"
Sasuke tersenyum puas. Ia memiringkan kepalanya seraya ditundukkan ke bawah, "Coba ulang. Aku belum dengar."
Jeda sesaat, akar imajiner menyebar tanpa sadar.
Naruto berdecih, "AKU KALAH DARI SEORANG TEME! PUAS KAU?!" teriaknya keras yang membuat Sasuke langsung menutup kupingnya secara spontan.
"Berisik, Dobe!"
"Cepat menyingkir dariku- ttebayo!"
Sasuke pun menurut. Dia lalu duduk memunggungi sambill terus meraba telinganya, "Sialan, rumah siputku dalam telingaku bergetar." Katanya mendramatisir.
"..."
"..."
Hening. Sasuke merenungi perbuatan macam apa yang baru saja ia lakukan. Sedangkan, Naruto sibuk menekan tangannya di atas dada – berharap detak jantungnya dengan begitu bisa normal. Yah, beginilah setelah mereka sepakat menyamakan semua 'itu' dengan 'efek obat'. Biasanya Naruto akan melancarkan lelucon untuk mencairkan suasana atau Sasuke akan memulai pembicaraan lain supaya mereka lupa. Tapi, kali ini Sasuke tidak berniat memulai pembicaraan apapun. Ia memilih menghela napas. Tunggu saja dua detik lagi, mungkin Naruto akan melawak.
"Sasuke.."
"Hn?"
"Jantungku berdetak –"
Sasuke menoleh cepat dan memotong perkataan Naruto, "Tentu saja, bodoh! Kalau tidak orang mati dan hidup tidak ada bedanya!"
Naruto masih menatap langit-langit dengan tangan di dada, "Heh.. benar juga ya." Katanya yang disahuti dengusan oleh Sasuke. "Tapi, maksudku bukan begitu, Teme." Lanjutnya.
"Lalu?"
"Efeknya.."
"..."
"Aku masih merasakan 'efeknya' sampai sekarang. Bagaimana denganmu?"
Sasuke mengedikkan bahu. Jujur, ia sendiri juga bingung.
"Kira-kira kapan ya hilangnya?"
Kali ini Sasuke menggelengkan kepala untuk memberi gestur 'tidak tahu'.
"Apa menurutmu.. ini semua baik-baik saja, ne, Sasuke?"
"Kalau kau mula risih, mungkin cara lainnya adalah jaga jarak." Ujar Sasuke. Ia sudah memikirkan hal ini sejak lama. Dengan mengurangi intensitas pertemuan, maka hal-hal yang seperti ini akan jarang terjadi. Mereka akan lupa karena sibuk dengan kuliah. Selain itu, teman-teman di kampus juga pasti bisa –
"Kemudian canggung saat bertemu lagi? Sama saja bohong, tahu!" timpal Naruto. Ia lalu bangun dari posisinya dan duduk menghadap Sasuke, "Lagipula, kan aku sudah bilang, kau itu orang yang kupercaya! Mana mungkin aku risih?"
"Lalu kenapa kau bertanya 'kapan hilangnya' barusan?"
Dahi Naruto berkerut, "Memangnya kau tidak ingin cepat-cepat efeknya hilang?"
Diam sejenak, "Aku.. tidak memikirkannya."
"..."
"Ma-maksudku, memikirkan hal itu terus bukan cara yang baik jika kau ingin melupakannya." Sasuke sedikit kelabakan karena Naruto menatapnya dengan eksrpesi yang – entahlah, semacam menuduh tidak-tidak. Sungguh, berakhir dengan Naruto itu masih jauh di pikirannya untuk saat ini.
Iya, saat ini.
"Hoo.. benar juga sih." Naruto mengelus dagunya dengan raut wajah berpikir. Dan entah kenapa Sasuke merasa lega melihatnya. "Jadi, tidak apa-apa kalau.. err, aku masih merasakan efeknya dan kau harus membantuku terus..?"
"Bukan masalah." Jawab Sasuke enteng.
"Bahkan, jika sampai waktu yang tidak tahu kapan?" kejar Naruto.
Sasuke mengangguk.
Wajah Naruto menunjukkan kalau dia sangsi, "Sungguh..?"
Si Bungsu Uchiha menghela napas, "Bukankah kau percaya padaku? Bukankah kau bilang tidak masalah selama orangnya itu aku?" ucapnya seraya menunjuk batang hidung sendiri, "Dengar Naruto, kau mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri dan harus bercerita pada orang lain yang kau percaya. Tapi, jika orang itu tidak bisa membantumu setidaknya dia bisa membuatmu merasa lebih baik. Bukan begitu?"
Naruto mengangguk.
Sasuke menepuk pundak Naruto, "Tenang saja, kau bisa percaya padaku. Dan aku juga percaya padamu, Naruto."
Seluas senyum akhirnya kembali terlihat pada wajah Naruto, "Arigato.."
"Hn," Sasuke juga membalas senyum tersebut. Benar kata Sasuke, Naruto akan merasa lebih baik jika bercerita sesuatu pada orang yang di percaya. Dan mendengar kalau ia adalah orang yang dipercaya oleh Sasuke membuatnya benar-benar senang.
Ah, rasanya benar-benar beruntung memiliki orang yang dipercayai seperti Sasuke. Apalagi, bisa dipercayai olehnya juga.
Senyum Naruto pun masih bertahan hingga beberapa saat kemudian. Dadanya yang sebelumnya terasa kacau pun sekarang tenang dan terasa hangat. Naruto tidak tahu apa namanya, tapi perasaan seperti ini rasanya menyenangkan juga.
"Nah, kalau begitu tunggu apa lagi? Pergi sana," Ucap Sasuke yang membuat Naruto seketika berkedip. Bingung. Untuk kedua kalinya Sasuke menghela napas, "Kau lupa? Yang kalah membeli ramen dingin ke Ichiraku."
Naruto mendengus. "Dasar pantat ayam.."
"Apa?!"
-END-
Yaudah lah ya, daripada tambah panjang ga abis-abis nanti ini fanfic gaje. Wkwkwkwk..
Oh! Hallo~ readeer~! Iya, saya tau kalian rasanya mau protes gara-gara updatenya kelamaan. Saya bener-bener minta maaf yaa. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Hehe.. enggak lah kalo saya nelantarin fic yang tinggal sechapter gini. Nanggung banget. Saya lama gara-gara pengen tamatin sebagus-bagusnya, jadi nunggu mood yang bener-bener pas biar makin ke sini ficnya ga makin worst. Tapi yah, namanya juga ekspetasi. Ga sebagus itu haslinya. LoL. Maap lagi yakk!
Dan terima kasih buat semua yang mau baca fic ini dari awal sampe akhir. Semua yang ngasih dukungan. Semua yang bersedia ngefav dan follow fic gaje ini. Saya ucapkan terima kasih banyak. Arigato Gozaimasu T_T kalo ga ke motivasi demi pembaca ga mungkin saya nulis. Many thanks, all!
Oke, cukup sekian dari saya. Sampai jumpa di fanfic saya lainnya yaa! (TToTT)/
Review juga masih saya tunggu loh walaupun ini chapter terakhir. Tehee~ (^^a
