What Do You Expect for?
Cast: Sehun, Jongin, Luhan, Baekhyun, Kyungsoo, Minseok, Kris, Chanyeol
Genre: Romance, Drama, Family, Marriage-life
Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.
Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!, M-Preg
Summary: Sequel of 'The Love Curse'. Sehun hamil? Bagaimana kelanjutan hubungan Luhan dan Baekhyun, begitu juga Kyungsoo yang masih nekad memacari Minseok yang sudah bukan tutor dikelas tambahan matematikanya! Dan Kris yang ingin segera menikahi Chanyeol setelah ini. KaiHun, LuBaek, XiuDo, KrisYeol. M-Preg, BL!
Chapter 2
~Happy Reading!~
"M-mworago?!" Jongin membulatkan kedua matanya tak percaya. Sehun, sungguh hamil? Ia memandangi testpack yang diberikan Sehun padanya. Yang tentu saja palsu. Entah punya siapa itu.
Sehun merengut kesal. "Apa?! Ini juga gara-gara kau! Aku tidak mungkin hamil kan kalau bukan karena kau!" Sehun sudah memulai sandiwaranya ternyata.
"K-kau benar-benar—" Sehun mengangguk mantap.
"Jadi, nikahi aku secepatnya."
"T-tapi,"
"Mwo? Kalau kau tidak mau, appa akan mencarikan calon untukku secepatnya asal kau tahu!" Tidak! Jongin tidak mau Sehun nya diambil orang lain.
"Sehun-ah kumohon jangan lakukan itu, aku mencintaimu aku—"
Sehun menatap Jongin tajam,
"Hanya belum siap." Sehun mendelik, "Belum siap kau bilang?! Apa kau pikir aku siap eoh?!" Sehun mulai naik darah.
"Kalau belum siap, kenapa kau melamarku saat itu eoh?! Kau bahkan sudah menghamiliku begini!" Dan semua orang direstoran itu menoleh kearah mereka.
Jongin menggenggam tangan Sehun. "Sehun-ah jangan tinggalkan aku."
"Makanya nikahi aku! Kau mau anak ini tak punya appa saat lahir eoh?!"
Jongin menghela nafas, "Aku hanya tak mau kau diambil orang lain, kau itu milikku."
Sehun berdecak, "Kalau kau merasa aku milikmu, kau harusnya menikahiku! Dan asal kau tahu saja, percuma jika kau hanya memberi harapan palsu kemudian mengabaikanku begitu saja."
"Aku tidak memberi harapan palsu!"
"Lalu yang kemarin itu apa? Mengabaikanku seenakmu!" Jongin terpaku.
"Jujur Jongin aku mulai bosan denganmu—" Jongin terkejut.
"S-sehun-ah."
" Harusnya lebih baik aku menerima tawaran appa saja waktu itu! Jadi kan aku bisa meninggalkanmu dan bahagia. Bukan malah seperti ini! Kau itu hanya bisa menyusahkanku!"
"Sehun-ah kumohon!" Tidak, Jongin takkan melepaskan Sehun nya begitu saja! Sehun itu miliknya! Hanya miliknya!
Sehun menatap Jongin malas, "Aku hanya belum siap, aku belum punya biaya sendiri untuk pernikahan kita." Sehun menatap Jongin tidak percaya. Ia kasihan sebenarnya. Tapi, ia sudah terlanjur marah dan berbohong kan?
"Lalu kenapa kau melamarku?"
"Aku hanya tak mau kehi—"
Brak—
Sehun menggebrak meja, Jongin berjengit kaget.
"Aku lelah denganmu Jongin!"
Sehun langsung keluar dari restoran, meninggalkan Jongin. Ia sungguh benar-benar tak habis pikir! Bahkan dengan pura-pura hamil Jongin tetap tak mau menikahinya! Ia bahkan ragu apakah Jongin benar-benar mencintainya sekarang.
Seseorang menarik tangan Sehun, membuat tubuh Sehun berbalik dan menatap iris Jongin.
"Sehun-ah! Aku mencintaimu!" Sehun terkejut, Jongin berteriak. Membuat semua orang diluar jalanan depan restoran tersebut melirik kearah mereka.
"Ayo kita menikah! Ayo kita besarkan anak kita baby!" Jongin menarik Sehun ke dalam dekapannya.
"Jangan tinggalkan aku." Dan sukses membuat Sehun meneteskan air matanya. Ia terharu. 'Jongin, masih mencintaiku. Ia masih mencintaiku.' Ia membalas pelukan kekasihnya.
.
.
.
.
"Luhan-ah, aku hamil." Oke, kali ini Baekhyun yang bersuara.
"M-mworago?!" Luhan benar-benar terkejut dengan perkataan yang Baekhyun lontarkan. Kekasihnya ini, hamil?
Baekhyun menyodorkan hasil testpack yang menunjukkan hasil 'positif' disana. Luhan makin terkejut. Apakah sungguh ia membuat Baekhyun hamil?
"Mwo?! Kenapa kau menatapku seperti itu eoh?! Kau tak percaya padaku?" Baekhyun kesal. Karena ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia memang hamil!—memangnya Sehun— Tentu saja anak Luhan. Karena dia hanya pernah—bahkan selalu melakukannya dengan namja ini.
Baekhyun menatap sebal kearah Luhan. Lalu memukulnya dengan bantal yang ada dikamar Luhan.
"Yak! Kenapa kau diam saja eoh?!" ia kesal dengan ekspresi kekasihnya yang tak menggambarkan reaksi apapun.
Grep—
Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau meme—"
"Gumawoyo." Luhan tersenyum sambil menciumi bahu mungil Baekhyun. Dan disini justru Baekhyun yang bingung.
"M-mwo? Kenapa kau berterima kasih?"
Luhan melepaskan pelukannya perlahan, "Tentu saja, karena kau telah mengandung aegy ku. Aegy kita."
Oke, rasanya Luhan mulai sinting! Bahkan reaksinya sungguh berbalik jauh dengan Jongin.
"Kenapa kau malah berterima kasih eoh?!" Baekhyun memukuli kepala Luhan dengan kesal.
"Aduh—Aduh! Baekhyun-ah! Hentikan!" Luhan menahan kedua tangan mungil Baekhyun.
"Tentu saja aku senang chagi." Luhan menunduk lalu mencium perut rata Baekhyun.
"Ayo kita menikah." Luhan menatap Baekhyun penuh arti. Pipi Baekhyun langsung merona. Ia memukul lengan Luhan pelan.
"Ish, aku serius." Baekhyun memberanikan diri untuk menatap Luhan.
"Menikahlah denganku chagiya." Serunya sambil menggenggam tangan kekasihnya.
Baekhyun hanya menunduk malu, "Mungkin aku tak punya cincin untuk disematkan dijari indahmu, belum. Aku belum punya tapi—" ia meraba perut Baekhyun.
"Ini adalah bukti cintaku padamu." Luhan tersenyum.
Bukk—
"Baekhyun!"
Namja itu menatap Luhan dengan sebal, "Apa maksudnya bukti cinta 'mu' pada 'ku' eoh?!"
"Tentu saja, kalau kita tidak melakukannya tidak akan ada 'ini'—sambil meraba perut kekasihnya lagi—kan?" Baekhyun memukul Luhan lagi. Kali ini Luhan tertawa kecil. Ia kemudian berlutut dibawah Baekhyun. Membuat Baekhyun sungguh tak percaya dengan yang kekasihnya lakukan.
"Ayo hidup selamanya denganku." Baekhyun rasanya ingin menangis. Ia lalu mengangguk. Dan Luhan langsung mengecup bibir Baekhyun sekilas. Membuat Baekhyun tersenyum.
Bruk—
Luhan mendorong Baekhyun sampai terbaring diatas kasur. Menjadi dibawahnya.
Chu—
"Aku mencintaimu." Bisiknya setelah mencium kening kekasihnya. Baekhyun mengalungkan kedua tangannya dileher Luhan, "Nado." Serunya malu-malu. Membuat Luhan begitu gemas dengannya kemudian menciumi seluruh permukaan wajah.
"Luhan, geli!" serunya sambil terkikik kecil.
Kemudian Luhan mengecup keningnya lama, lalu mencium bibirnya. Melumatnya dengan lembut.
Ck! Sungguh berbeda jauh dengan yang Sehun lakukan hanya untuk dinikahi Jongin.
.
.
.
.
Minseok menaiki tangga melewati lorong yang begitu sepi, menuju atap gedung sekolah. Ia bahkan bingung kenapa Kyungsoo menyuruhnya untuk menemuinya disana.
Kriet—
Ia membuka pintu besar itu dengan ragu. Sungguh, sebenarnya daritadi ia sudah merinding setengah mati.
Angin kencang langsung menerpa seluruh permukaan wajahnya, membuat sinar matahari pagi menyilaukan iris matanya karena masuk keruang yang gelap dengan paksa. Minseok menggunakan punggung tangannya untuk menutupi silauan itu.
Ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali sebelum, melihat sosok Kyungsoo. Kekasihnya, yang sudah bukan murid kelas tambahannya lagi. "Minseok hyung!" Kyungsoo berlari menghampirinya dan—
Chu—
Melumat bibirnya , sepertinya memang Kyungsoo yang nakal disini. Minseok hanya diam, kedua matanya membulat tak percaya. Ini sudah lama sekali.
Kyungsoo melepaskan bibirnya karena Minseok hanya diam saja tanpa membalas ciumannya, ia langsung cemberut. "Kenapa kau lama sekali eoh?! Waktu istirahat hampir habis tahu!" Ya, semenjak hubungan mereka ketahuan oleh appanya Kyungsoo semuanya jadi begitu sulit.
Mereka sangat sulit bertemu, bahkan tidak bisa berhubungan sama sekali. Bahkan Jongin menanyakan apakah mereka benar-benar punya suatu hubungan khusus. "Mianhae." Jawabnya singkat. Entah ia bingung harus apa. Sungguh begitu aneh, dan ia merasa kikuk sendiri. Ini sudah lama sekali.
Greb—
"Aku merindukanmu hyung." Kyungsoo merapatkan pelukannya.
Minseok membalas pelukan kekasihnya dengan ragu. 'Aku juga merindukanmu Kyung.' Ia bahkan tak berani mengungkapkannya.
Kyungsoo sungguh tidak peduli. Yang penting ia bisa bersama Minseok itu sudah sangat cukup. Ia sangat merindukan Minseok. Rindu dengan dekapan hangat 'mantan' tutornya ini, rindu bagaimana bibir Minseok menciumnya dan sungguh memabukkan. Ia bahkan tidak takut sama sekali untuk melanggar aturan keras dari appanya.
Minseok mencium puncak kepala Kyungsoo, menghirup harum sampo Kyungsoo yang begitu—
"Hyung."
"Hm?" Mereka masih saling memeluk.
"Apa kau masih mencintaiku?" Minseok langsung melepaskan pelukannya. Menatap Kyungsoo dengan penuh tanda tanya, "Apa maksudmu?"
Kyungsoo menunduk, "Semenjak appa menghukumku karena kita 'ketahuan' aku jadi sulit bertemu denganmu, bahkan setiap malam ponselku disita asal kau tahu saja! Jadi—"
Grep—
Kali ini Minseok yang memeluknya duluan, "Jangan pernah berpikir seperti itu." Kyungsoo yang tadinya terkejut kemudian tersenyum.
Ia mendongak, "Benarkah?"
Minseok menunduk, "Tentu." Ia tersenyum lalu mencium bibir Kyungsoo dengan lembut. Lumatan-lumatan kecil yang menggambarkan rasa rindu mereka selama beberapa bulan ini.
.
.
.
.
Kris menjatuhkan tubuhnya disamping Chanyeol. 'Permainan' mereka sungguh begitu melelahkan. Chanyeol memiringkan tubuhnya, memeluk tubuh Kris. Mencoba mencari kenyamanan lebih dibanding hangatnya selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh mereka.
Kris balik menyamping dan memeluknya, mencium kening kekasihnya.
"Aku mencintaimu."
Chanyeol terpejam dengan senyum kecil yang terkembang, "Nado." Ia bergerak gusar untuk menyamankan tubuh—tanpa busana—nya didalam dekapan kekasihnya.
"Yeol,"
"Hm?"
"Aku ingin kita menikah." Chanyeol membelalakkan kedua matanya.
"Aku—aku hanya ingin kita mempunyai suatu ikatan yang lebih pasti." Chanyeol menunduk.
"Ta-tapi—"
"Apa kau mau?" Kris menatap Chanyeol penuh harap.
"A-aku—"
"Kau tidak mau ya?" Chanyeol mendongak, terselip kesedihan di mata kekasihnya.
"B-bukan begitu Kris tapi aku—" Kris mendudukkan tubuhnya, bersandar disandaran kasur. Membuat pelukan Chanyeol terlepas.
"Aku tahu, kau pasti tidak mau."
"Kris, aku—" Chanyeol ikut duduk sambil menatapnya.
"Kau tahu Yeol, aku begitu mencintaimu." Kesedihan makin tersirat dari tatapan Kris, ia bahkan mengucapkannya tanpa menghadap kearah Chanyeol. Kris menghela nafas, "Sampai-sampai aku tak melihat ke yang lain."
Chanyeol menatap Kris tak percaya, "A-apa maksudmu? Kenapa kau mau men—"
"Aku ingin memilikmu seutuhnya Yeol!" Kris kali ini menatap Chanyeol lekat.
"Tapi kau sudah memilikiku!"
"Bukan itu, maksudku sebuah ikatan yang pasti!"
"Tapi kita sudah punya ikatan, kita sepasang kekasih bukan?"
"Maksudku agar semua orang bisa melihat kau itu milikku!" Kali ini Chanyeol tak menjawab.
"Kau tahu, bahkan aku selalu iri melihat sepasang manusia dengan cincin melingkar dijari mereka."
Chanyeol menunduk.
"A-aku hanya ingin semua orang tahu, kau itu milikku! Hanya milikku! Aku benci melihat orang-orang menggodamu, aku benci mereka Yeol, aku sungguh—" Kris menghela nafas.
"Aku sungguh ingin memilikimu seutuhnya." Mata Chanyeol mulai memerah.
"Bahkan bagiku, untuk bisa menjadi kekasihmu itu rasanya seperti mimpi!" pelupuknya mulai membendung air mata.
"Kau bahkan tak pernah melihat kearahku, dulu." Semua salah! Bahkan Chanyeol begitu menyukai Kris sampai ia sendiri tak menyangka kalau Kris akan menyatakkan perasaan padanya. Menjadikannya kekasih Kris. Kekasih seorang Wu Yi Fan.
Chanyeol mulai meremas selimut tebal miliknya.
"Aku senang kau bahkan mau 'melakukan'nya denganku, bahkan kita selalu 'melakukan'nya!"
"Tapi, itu tidak ada artinya jika kita hanya sepasang kekasih." Chanyeol meneteskan air matanya.
"T-tapi suami-istripun bisa bercerai!"
"Tapi putus dengan kekasih jauh lebih mudah!" Chanyeol mulai terisak.
"Apakah kau sadar? Kita bahkan sudah sejauh ini, kita bahkan tak pernah bertengkar."
"A-aku hanya ingin kau menikah denganku, karena aku-aku takut suatu saat kau akan bosan denganku lalu kau meninggalkan k—"
"Hentikan!" Chanyeol langsung memeluk Kris. "Jangan katakan itu!"
"Aku ingin kita menikah."
"Tapi aku belum siap!"
Kris membalas pelukan kekasihnya yang tengah menangis itu.
"Aku akan menunggu sampai kau siap. Jangan tinggalkan aku." Ia mengecup kening kekasihnya. "Aku mencintaimu."
Chanyeol tersenyum dalam tangisnya, 'Kris begitu mencintaiku.'
TBC
Maaf cuma bisa update segini dulu ya, chap depan belom diketik sih tapi udah dipikir :) Berhubung ada urusan mendesak jadi maaf banget eonni baru bisa update lusa atau 3 hari kemudian ehehe. Review yang banyaaaakkkkkkk oke?! ga banyak eonni putus nih *ngancem* ehehe see you next chap!
