Summary:
Jangan pernah menyalahkan takdir. Karena setiap takdir memiliki arti tersirat yang akan membuatmu menjadi manusia yang lebih baik lagi
.
Cast:
Cho Kyuhyun
Lee Donghae
Others
.
Brothership
.
Chapter [1/3]
.
.
BROTHER
.
.
Seorang pemuda tengah memandang langit yang berhiaskan gulungan cumulonimbus sepekat arang. Memuntahkan kristal bening yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan ke muka bumi. Hujan –begitu kita menyebutnya. Seoul juga kota-kota lainnya di Korea Selatan sedang berada pada pertengahan musim yang mengharuskan hujan turun setiap harinya. Tak heran jika kristal bening terus-terusan turun membasahi kota terpadat di Korea Selatan itu.
Tuk! Tuk!
Ketukan itu berasal dari jari-jari pemuda yang masih saja memfokuskan netranya pada langit hitam. Sesekali helaan nafas keluar dari bibirnya. Merasa bosan, pemuda itu beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju balkon rumahnya yang terbuka. Ia berdiri disana, dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam kantong celananya. Angin bertiup kencang menggoyangkan surainya yang berwarna hitam. Pemuda itu –Donghae masih saja diam. Bulu kuduknya mulai berdiri akibat rasa dingin yang mulai menjalar. Perlahan-lahan, Donghae menjulurkan tangannya. Jemarinya yang bersentuhan dengan air hujan memfriksikan rasa dingin yang berkali-kali lipat.
Donghae kembali mendesah. Ia tidak pernah suka hujan. Selain membuat segala sesuatunya menjadi basah, hujan juga membuatnya mengingat masa lalunya yang menyedihkan. Hingga rasa bersalah itu selalu muncul –bersamaan dengan perasaan rindu yang menusuk ulu hatinya dan membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat.
.
.
"H –Hyung kenapa menangis? A –Apa Kyu berbuat salah lagi?" cicit Kyuhyun. Bocah kecil itu menatap Donghae takut.
Donghae menggelengkan kepalanya –masih dengan air mata yang menggenang. Bagaimana ia menjelaskannya pada Kyuhyun. Ia sendiri tidak begitu mengerti arti 'haram' dalam kalimat yang dilontarkan ayahnya. Ia hanya sering mendengarnya dalam drama picisan yang sering ditonton Ibunya setelah makan malam.
"Hyung jangan menangis, ne. Kyu janji tidak akan bertanya macam-macam lagi. Lihat, Kyu saja sudah tidak menangis."
Kyuhyun mengusap air mata yang mengaliri wajah tampan kakaknya. Bibir penuhnya sedikit bergetar menahan isakan yang ditahannya. Beberapa kali matanya mengerjap lucu menahan air mata yang akan kembali tumpah.
"Ha ha ha, kau lucu Kyu." Donghae mengusap air matanya lalu terkekeh pelan melihat wajah menggemaskan adiknya. Kentara sekali si kecil Lee tengah menahan tangis. Diraihnya jemari Kyuhyun yang mengusap wajahnya. Donghae mengecup sepuluh jari-jari pendek itu hingga membuat Kyuhyun terkikik geli.
"Donghae hyung sayang Kyuhyunie. Apapun yang terjadi Kyu harus bahagia, ne. Jangan menangis seperti ini lagi." Donghae berkata sembari mengecupi seluruh wajah Kyuhyun. Bocah mungil itu tertawa lebih keras.
'Aku akan membawa Donghae'
Suara sang Ayah menghentikan tawa kedua kakak-beradik itu. Donghae kembali menyembunyikan tubuh Kyuhyun dan memeluk adiknya itu lebih kuat. Rasa takut tiba-tiba menyergap dadanya.
Apa? Siapa yang akan pergi?
Suara langkah kaki yang terkesan kasar dan terburu-buru berjalan mendekati keduanya. Donghae menelan ludahnya kasar. Ia bisa merasakan tubuh adiknya bergetar tak jauh beda dari dirinya. Donghae mengusap punggung Kyuhyun untuk menenangkan sang adik. Isakan-isakan kecil dari Kyuhyun membuat dadanya kembali berdenyut nyeri. Rasa takut yang dirasakannya semakin kuat.
"Hae, ayo ikut Ayah!"
Disana. Di depan pintu kamar mereka berdiri sosok laki-laki dewasa yang tengah menatap keduanya tajam. Raut yang biasanya sabar dan penuh kasih itu berubah dipenuhi emosi dan amarah.
"S –shireo! Aku ingin bersama Kyuhyun disini." Donghae meringis kecil merasakan cengkeraman Kyuhyun yang terlalu kuat di dadanya. Ia kembali mengelus punggung adiknya yang masih bergetar bahkan semakin hebat.
BRUKK
Sebuah sentakan kasar membuat pelukan itu terlepas. Tubuh kecil Kyuhyun terjungkal kebelakang.
"Ayah! Aku tidak mau pergi. Kyu! Kyuhyun!"
Donghae berteriak saat sang Ayah meraihnya dalam pelukan dan menggendongnya keluar kamar. Tangannya menggapai-gapai Kyuhyun yang masih tak beranjak dari posisinya. Menatapnya penuh luka dengan air mata yang lagi-lagi tumpah membasahi wajah pucatnya.
"Kyu.. Hiks... Kyu... Ayah... Hiks... Kumohon lepaskan!" Donghae menangis dan berteriak memohon kepada Ayahnya. Kakinya menendang-nendang apapun yang dilewatinya. Keduanya berjalan melewati ruang tamu keluarga. Donghae bisa melihat Ibunya menangis sambil memegangi dahinya yang penuh darah.
"Ibu.. Ibu.. Hiks... Ibu..."
Donghae berteriak memanggil Ibunya, berharap sang Ibu akan menghentikan Ayahnya dan membawanya kembali ke rumah. Namun tidak, Ibunya hanya menatap kearahnya sendu kemudian menutup wajahnya dan kembali menangis keras.
"Hyungie... Hyungie..."
Kyuhyun yang masih terkejut segera berlari mengejar sosok Kakak dan Ayahnya yang berjalan menjauhi rumah. Bahkan kini keduanya menerobos hujan menuju mobil yang telah terparkir di depan pagar rumah mereka.
"Donghae hyung.. Kajima! Hyungie.. Hiks.. Jangan tinggalkan Kyu... Hyungie..." Kyuhyun memanggil Donghae. Tubuh kecilnya berlari menerobos hujan hingga membuat sosok mungil itu basah kuyup.
Donghae kembali meronta. Tangannya terulur ingin menggapai Kyuhyun. Tapi jarak mereka terlalu jauh. "Kyu... Kyunnie...Hiks.."
Donghae dapat melihat adiknya mempercepat larinya. Tangan kecilnya terulur seakan ingin menyambut uluran tangan Donghae.
"DONGHAE HYUNG! ANDWE! HYUNG , JEBAL JANGAN TINGGALKAN KYU! HYUNGIE...!"
Kyuhyun berteriak sekeras mungkin saat tubuh Donghae menghilang di balik mobil. Kaki mungilnya semakin cepat menerobos jalanan yang gelap. Tapi secepat apapun ia berlari, ia tak dapat menandingi laju mobil tersebut. Kyuhyun jatuh terduduk saat mobil itu bergerak menjauh hinnga retinanya tak lagi menangkap bayangan mobil yang membawa Ayah dan kakaknya pergi.
'Hyung... Hyung...'
Kyuhyun memanggil nama Donghae berulang-ulang. Berharap sang kakak akan kembali dan menariknya dalam pelukan hangat yang disukainya. Tapi tidak, bermenit-menit lamanya ia menunggu, sang kakak juga tak kembali. Bocah kecil itu menangis keras. Air matanya bercampur dengan hujan, menciptakan rasa pedih di kedua matanya –juga hatinya. Satu hal yang ia tahu: Donghae hyung nya telah pergi.
'Kyu, maafkan hyung' Donghae memejamkan matanya. Ditutupnya kedua telinganya erat-erat. Tak ingin mendengar teriakan pilu adiknya yang terngiang-ngiang di kepalanya.
Donghae masih menangis sesenggukan. Sebuah luka ditorehkan dalam hatinya saat hujan turun begitu deras.
.
.
Donghae tertidur karena lelah menangis. Hal yang pertama kali ia lihat saat membuka mata adalah sesosok anak laki-laki dengan lesung pipi tengah menatapnya.
"Yak! Siapa kau?" teriaknya. Ia cepat-cepat bangkit dari tidurnya. Telunjuk kanannya menuding tepat di hidung mancung milik sosok anak laki-laki di depannya.
"Park Jungsoo imnida. Tapi kau bisa memanggilku Leeteuk hyung."
Anak laki-laki bernama Leeteuk itu tersenyum. Sebuah senyum yang sangat tulus. Perlahan Donghae menurunkan telunjuknya, mengamati Leeteuk yang entah kenapa memiliki senyum seperti malaikat.
"Dimana ini?" tanya Donghae. Ia mengedarkan pandangannya. Sebuah ruangan yang ditata sama persis dengan kamar tidur miliknya. Hanya saja luas ruangan ini dua kali lebih luas dari kamar miliknya dulu.
"Ini kamar barumu. Ayah memilihkan semua perabotnya. Ayah bilang kau tidak suka berganti suasana. Untuk itu aku dan Ibu membeli yang sama persis seperti punyamu dulu."
"Apa maksudmu? Ayah? Ibu? Sejak kapan mereka pindah kesini? Dan dimana Kyuhyun?" tanya Donghae bingung.
Leeteuk merapatkan tubuhnya pada Donghae. Diusapnya surai lembut milik adik barunya. "Mulai sekarang kau adalah dongsaengku. Ayahmu dan Ibuku baru saja melangsungkan pernikahannya tadi pagi."
Donghae membulatkan matanya. Otaknya mencerna kalimat yang dilontarkan oleh anak laki-laki didepannya. Ia berharap telinganya salah dengar atau mungkin saja anak laki-laki itu berbohong. Tapi melihat pancaran kejujuran dari mata Leeteuk membuat Donghae sadar –bahwa yang didengarnya adalah benar.
"Aku tidak mau menjadi saudaramu. Aku hanya punya satu saudara. Dia Kyuhyun. Lee Kyuhyun dongsaengku." Donghae kembali berteriak. Ditepisnya tangan Leeteuk yang mengusap rambutnya. Air mata kembali membasahi pipi putih Donghae. Bocah itu menatap Leeteuk tajam dan kembali menangis.
Leeteuk menghela nafasnya. Ia tersenyum maklum. Anak laki-laki itu telah menduga reaksi adik barunya akan seperti ini. Tapi ia tidak akan menyerah mengambil hati Donghae. Ia menginginkan seorang saudara. Dan melihat Donghae yang begitu polos membuat rasa sayangnya timbul untuk bocah yang empat tahun lebih muda darinya itu.
"Maafkan aku. Tapi memang begitu keadaannya." Ucap Leeteuk lembut. Ia kembali mengelus surai hitam Donghae yang kali ini ddibiarkan oleh pemiliknya.
"Aku sedang tidak ingin mencari saudara baru. Hiks .. A –aku harus menemui Kyuhyunie. Dia.. Hiks... membutuhkanku. Dongsaengku membutuhkanku. Kumohon bawa aku bertemu dengannya." lirih Donghae. Ia menatap Leeteuk memohon.
Leeteuk hanya diam. Ia menarik adik barunya ke dalam pelukannya. Tidak ada penolakan dari Donghae yang masih menangis. Diusapnya punggung Donghae lembut, mengecup puncak kepala adik barunya itu penuh sayang.
"Suatu saat nanti –suatu saat nanti aku akan membantumu mencari Kyuhyun" Leeteuk berucap pelan. Sesuatu seperti janji telah mengikat Leeteuk. Anak laki-laki itu meneguhkan hatinya terhadap kalimat yang baru saja ia ucapkan. Ia berjanji akan mencari Kyuhyun –adik Donghae yang juga merupakan adiknya.
"Kyu.. Kyuhyun... Hiks... Kyu..."
Isak tangis Donghae masih memenuhi kamar bernuansa kuning gading yang memberikan kesan lembut. Lembaran kehidupannya baru saja dimulai dengan Ibu dan saudaranya yang baru. Begitu jauh dengan seseorang yang menangisinya dan memanggil namanya di tengah hujan yang turun begitu deras.
Donghae kecil pikir – takdir begitu menyebalkan
.
.
BROTHER
.
.
"Ya Hae! Apa yang sedang kau lakukan! Kau bisa sakit pabbo!"
Sebuah suara yang sangat familiar menyadarkan lamunan Donghae. Pemuda itu cepat-cepat menghapus air mata yang entah sejak kapan membasahi wajahnya. Ia berbalik lalu tersenyum kecil melihat seorang pemuda lain tengah membuka lemari pakaiannya.
"Handukku belum kering, Teuki hyung" ucap Donghae seakan mengerti apa yang tengah dicari pemuda itu.
Teuki hyung –Leeteuk segera menghampiri Donghae. Kali ini dengan membawa sebuah selimut tebal karena ia tidak menemukan handuk yang ia cari.
"Kau bisa masuk angin. Apa kau mau melihat hyung tidak tidur karena harus menjaga bayi besar yang sangat manja ketika sakit, huh?" Pemuda berlesung pipi itu mengomel sembari mengeringkan kedua tangan Donghae juga beberapa bagian tubuh miliknya yang terkena air hujan.
Leeteuk menghentikan usapannya pada rambut Donghae saat tak mendapat balasan dari sang adik. Ia mengamati wajah tampan adiknya yang kini berubah menjadi sendu.
"Hae –ah" panggil Leeteuk. Diangkatnya dagu Donghae hingga manik hitam keduanya bersirobok. "Memikirkannya?"
"Bocah itu pasti marah karena aku meninggalkannya." Donghae memejamkan matanya yang mulai mengembun. Bayangan masa lalu tentang Kyuhyun membuat dadanya terasa sakit hingga membuat sudut-sudut matanya mulai digenangi air mata.
"Hae– " panggil Leeteuk lembut. "Itu sudah delapan tahun yang lalu. Kau tidak perlu menyesalinya."
"Ibu bahkan mengusirnya hyung." Ucap Donghae lirih. Memorinya kembali pada kejadian dua tahun lalu. Saat itu, Donghae tengah menyelinap dari penjagaan ketat bodyguard Ayahnya. Ia diam-diam pergi menemui Ibu kandungnya di rumah lama mereka. Harapannya untuk bertemu Kyuhyun sirna saat sang Ibu memberitahunya satu fakta yang membuatnya begitu terluka. Wanita itu mengusir Kyuhyun tepat setelah kepergian dirinya dan sang Ayah.
"Kyuhyun masih berumur delapan tahun saat itu. Bagaimana anak sekecil itu bisa hidup sendiri diluar? Tanpa Ayah, Ibu, juga tanpaku yang menemaninya. Aku bahkan tidak tahu dimana dia sekarang. Apa dia hidup dengan baik? Seberapa besar dia sekarang? Pertanyaan-pertanyaan yang tidak kutahu jawabannya. Apa kau tahu seberapa menyiksanya itu, Teuki hyung?" Air mata Donghae mulai mengalir. Rasa sakit juga amarah terlukis di wajah tampan miliknya.
Leeteuk memandang Donghae sendu, senyum malaikat yang biasa ia tunjukkan untuk adik tersayangnya perlahan memudar. Ia paling tidak suka melihat Donghae terpuruk seperti ini. Mengenang Kyuhyun dan membuat luka yang selama ini berusaha ia sembuhkan kembali terkoyak. Bahkan semakin dalam.
"Selama delapan tahun, hyung. Delapan tahun hatiku terus mengatakan rindu pada bocah itu. Memikirkannya siang dan malam sampai rasanya aku siap menjadi gila asalkan aku dapat bertemu dengannya."
"Hae– " Lirih Leeteuk. Hati pemuda itu ikut sakit melihat air mata sang adik. Direngkuhnya pemuda yang lebih muda darinya itu dan mengusap punggungnya lembut. Hanya itu satu-satunya hal yang sekarang bisa ia lakukan untuk sang adik.
Donghae memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Bahkan pelukan Leeteuk yang biasa membuatnya tenang tak lagi memberikan efek yang berarti. Rasa rindu yang menggerogoti tubuhnya membuat Donghae seperti kehilangan nyawa. Hanya bayangan adik kecilnya –Kyuhyun yang memenuhi hati juga otaknya.
"Kenapa takdir membuat segalanya menjadi rumit? Kenapa takdir begitu jahat memisahkan aku dengan Kyuhyun, hyung?"
"Jangan pernah menyalahkan takdir, Hae –ah." Leeteuk memotong perkataan Donghae. Ditatapnya wajah yang berlinangan air mata itu, mengusapnya perlahan walau itu sia-sia. Karena air mata itu tak berhenti menetes dari manik hitam milik sang adik.
"Setiap takdir memiliki arti tersirat yang akan membuatmu menjadi manusia yang lebih baik lagi. Kau menjadi orang yang pemaaf karena mau memaafkan Ayah dan Ibumu. K– "
"Tidak. Kau salah hyung. A –aku adalah orang petama yang akan membunuh mereka jika Tuhan tidak menciptakan neraka." Donghae mengusap air matanya kasar.
"Takdir membuatmu menjadi seorang yang penyabar. Kau mampu bertahan selama delapan tahun untuk menunggu saat dimana kau dan Kyuhyun dapat bertemu." Leeteuk melanjutkan.
"Itu karena kurcaci-kurcaci milik Ayah yang membuatku tidak bisa berbuat sesuka hati untuk mencari keberadaan Kyuhyun."
Leeteuk tersenyum pilu. Ia tahu semua yang dikatakan percuma jika itu menyangkut Kyuhyun. Donghae bukanlah orang yang keras kepala –tapi ia akan mengalahkan batu jika itu menyangkut adiknya. Donghae tidak pernah membantah apa yang Leeteuk katakan –tapi ia akan menjadi pembangkang jika itu mengenai satu-satunya orang yang ia rindukan.
Leeteuk mencoba kembali tersenyum. Dengan perlahan ia berucap "Kau menganggap takdir seperti itu. Tapi takdir membuat hyung menjadi orang yang lebih baik lagi, Hae."
Donghae mengernyitkan alisnya. Tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh sang kakak. Mengerti kebingungan Donghae, Leeteuk melanjutkan "Bertemu denganmu membuat hyung menjadi seorang kakak yang selalu ingin melakukan hal-hal terbaik untuk adiknya. Melindungimu, menjagamu, dan segala hal yang dulu tidak pernah hyung lakukan pada orang lain. Berkatmu, hyung benar-benar tahu rasanya bagaimana menyayangi seseorang dengan tulus. Gomawo, nae dongsaeng"
Donghae terkesiap dengan ucapan Leeteuk. Ditatapnya sang kakak yang masih setia memberinya senyum malaikat. Ada pancaran kesedihan di kedua manik hitam milik Leeteuk. Raut kekecewaan juga kentara menghiasi wajah malaikatnya. Air mata semakin deras membasahi wajah Donghae. Ia merasa bodoh mengatakan hal-hal seperti tadi. Ia tidak menyangka bahwa Leeteuk menganggap takdir begitu baik sedangkan ia malah sebaliknya.
"Maafkan aku, hyung. Aku hanya sedang merindukannya." Ucap Donghae menyesal. Ia menjatuhkan dagunya pada pundak tegap Leeteuk. Memeluk pemuda yang telah sukarela menjadi sandarannya selama delapan tahun terakhir.
"Ne Hae, hyung tahu." Leeteuk menghapus air mata yang tiba-tiba keluar dari manik hitamnya. Tangannya kembali merengkuh Donghae ke dalam pelukannya. Ia tahu Donghae juga menyayanginya –walau rasa sayang itu berbeda jauh seperti Donghae menyayangi Kyuhyun. Leeteuk tahu itu. Tak sepantasnya ia merasa iri.
Leeteuk kembali menepuk-nepuk punggung Donghae. Dikecupnya puncak kepala sang adik penuh sayang seperti yang ia lakukan saat menenangkan Donghae yang menangis di awal pertemuan mereka. Leeteuk percaya, tidak selamanya takdir hanya menciptakan hal-hal buruk. Ia yakin, Tuhan telah menuliskan garis takdir yang baik untuk orang-orang yang disayanginya.
"Aku ingin bertemu dengannya, hyung. Hiks.. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya"
Jika perpisahan bisa membuat segalanya menjadi lebih baik –mengapa hanya luka mengaga yang ia rasakan sampai sekarang. Jika perpisahan bisa mengakhiri segalanya –mengapa perpisahan tidak bisa membuat rasa sakit yang ia rasakan juga berakhir. Bertahun-tahun ia meyakini bahwa hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Namun delapan tahun berlalu, luka di hatinya tak segera membaik malah terkoyak semakin dalam.
Donghae pikir –ia begitu membenci takdir
.
.
BROTHER
.
.
Kilat putih bersahut-sahutan. Gelegar petir dengan resonansi rendah membuat bumi dan isinya bergetar. Langit sedang bersedih rupanya. Dari pagi hingga sore ini, ia tak henti-hentinya menumpahkan air mata miliknya. Tanah begitu basah, pohon-pohon kedinginan hingga daun-daunnya mengkerut menghangatkan diri. Jalanan digenangi air membentuk kubangan berwarna coklat yang terkadang terciprat kesana kemari.
Bunyi dentingan keras menyadarkan Donghae dari lamunannya. Ia mengerjapkan mata dan mendapati sendoknya terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Donghae buru-buru membungkuk untuk mengambilnya lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Seorang pelayan yang melihatnya segera menghampiri Donghae dan memberikannya sebuah sendok baru. Donghae mengucapkan terima kasih.
Donghae sedang berada di cafe langganannya. Tempat yang sering ia habiskan hanya untuk sekedar duduk melamun dengan segelas cappucino hangat kesukaannya. Pemuda itu baru saja menyelesaikan kelasnya. Tak heran jika ransel besar masih duduk manis disampingnya.
"Hyung, boleh aku duduk disini? Aku sedang menunggu pesananku jadi"
Donghae mendongak saat sebuah pertanyaan ditujukan kepadanya. Seorang anak laki-laki dengan seragam sekolahnya yang basah menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Ne, silahkan."
Donghae menggeser tasnya lalu mempersilahkan anak laki-laki dengan tinggi menjulang itu untuk duduk. Ia mengaduk cappucinonya dan mulai meneguk isinya. Rasa hangat seketika menjalari tubuhnya.
"Shim Changmin imnida."
Donghae terpaku menatap anak laki-laki yang mengaku bernama Changmin itu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hey! kau tidak memperkenalkan dirimu ke sembarang orang kan! Dasar aneh –batinnya.
"Panggil saja aku Donghae. Sepertinya kau masih sekolah. Kau bisa memanggilku Donghae hyung kalau begitu." Pada akhirnya ia ikut memperkenalkan diri. Donghae tersenyum kecil ke arah Changmin yang masih menatapnya dengan cengiran lebar miliknya.
"Eh? Namamu Donghae, hyung?" tanya Changmin.
Donghae mengangguk. Ia mengamati Changmin yang kini menatapnya terkejut. "Wae?" tanyanya.
"Aniya. Tidak ada apa-apa." Jawab Changmin sambil menggelengkan kepalanya. Donghae tak menghiraukan. Ia kembali mengaduk cappucinonya. Manik hitam miliknya kembali menerawang jalanan luar dari kaca jendela disampingnya.
"Berapa umurmu?" tanya Donghae tiba-tiba.
"Enam belas tahun, hyung. He he –wae?"
Kini giliran Donghae yang menggeleng. Ia menatap Changmin yang kini tengah berkutat dengan kantung kresek yang sedari tadi dipegangnya. Kyuhyun pasti sudah sebesar Changmin sekarang. Adiknya pasti juga akan menggunakan seragam sekolah seperti yang Changmin kenakan. Rasa rindunya pada Kyuhyun kembali menyeruak. Kumpulan titik-titik bening berkumpul menjadi satu di sudut mata belonya.
"Aish! Susah sekali mencari yang bergambar menara eiffel."
Donghae segera mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi ia memikirkan Kyuhyun. "Apa yang susah?" tanyanya pada Changmin yang tengah mengerucutkan bibirnya sok imut. Ugh! Tidak cocok sekali dengan wajahnya –batin Donghae
"Magnet kulkas bergambar eiffel."
DEG
"M –magnet kulkas?" ulang Donghae.
Changmin mengangguk. Tangannya kini sibuk mengeluarkan satu-persatu magnet kulkas yang masih terbungkus rapi di dalam plastiknya dari tas keresek.
Jantung Donghae berdetak keras. Ia melihat satu persatu magnet kulkas yang dikeluarkan Changmin. Dengan suara bergetar dia bertanya. "S –siapa yang menyukai magnet kulkas?"
"Ah! Itu sahabatku. Dia sangat menyukainya sampai-sampai di setiap tempat yang kami kunjungi dia selalu menyempatkan diri untuk membeli magnet kulkas." Terang Changmin.
Donghae merasakan tubuhnya gemetar. Dicengkramnya ujung kemeja putihnya kuat. Suara-suara Kyuhyun kecil berseliweran di otaknya.
'Hyungie belikan Kyu magnet kulkas itu!'
'Kyu sangat suka magnet kulkas'
Donghae dapat merasakan nafasnya tercekat. Tiba-tiba ia merasa lemas. Ia menarik nafas perlahan-lahan guna meredakan rasa sesak yang tiba-tiba menyergapnya.
'Mungkinkah itu Kyuhyun? Kyuhyun –nya juga sangat menyukai magnet kulkas.'
"S –siapa nama.. "
Belum sempat Donghae menyelesaikan kalimatnya. Suara pelayan cafe menginterupsi.
"Hyung aku duluan, ne. Pesananku sudah jadi." Ucap Changmin lalu berdiri dari kursi yang didudukinya dan segera berjalan menuju kasir.
Rasa panik tiba-tiba menyergap dada Donghae. Pemuda itu menatap nanar punggung Changmin yang bergerak menjauh. Rasa takut akan kehilangan kesempatan bertemu Kyuhyun tiba-tiba menghantui pikirannya. Bagaimana kalau sahabat yang dimaksud Changmin itu adalah Kyuhyun. Donghae tahu bahwa adiknya begitu menggilai magnet kulkas. Walaupun ia tahu, ada berjuta-juta orang diluar sana yang juga menyukai magnet kulkas. Tapi Donghae terlanjur dipenuhi rasa penasaran yang membuat jantungnya semakin berdetak keras karena gelisah.
Dengan tergesa-gesa Donghae bangkit dari duduknya lalu berlari keluar menuju cafe –setelah sebelumnya merogoh beberapa lembar uang dari dompetnya untuk membayar. Donghae baru saja akan menyusul Changmin yang mengambil sepeda pancalnya saat matanya menangkap beberapa laki-laki berpakaian hitam berdiri tak jauh dari parkiran cafe.
"Sial!" umpat Donghae.
Ia lupa kalau kesini tidak sendirian. Beberapa bodyguard milik Ayahnya tampak berjaga-jaga di depan cafe. Donghae melihat Changmin yang kini menaiki sepeda pancalnya dan berjarak lumayan jauh dari tempatnya sekarang.
Donghae memutar akalnya. Dengan hati-hati ia berjalan memutari cafe ke arah berlawanan. Ia tahu ada jalan lain yang akan membawanya ke jalan besar yang dilewati Changmin. Donghae menerobos hujan hingga tubuhnya kini basah semua. Donghae tak peduli. Ia segera berlari. Air hujan yang turun begitu deras membuat penglihatannya menjadi kabur. Berkali-kali ia harus menyeka wajahnya.
Donghae terengah-engah. Ia membungkuk untuk mengambil nafas. Tangannya ia tumpukan pada kedua lututnya yang bergetar karena kedinginan. Ia bisa melihat tubuh Changmin juga basah kuyup sepertinya beberapa meter di depannya. Donghae kembali berlari.
'Jika benar itu Kyuhyun. Aku mohon kau akan berbaik hati untuk mempertemukanku dengan adikku. Sekali ini saja. Kumohon–'
Donghae memohon –pada takdir yang telah digariskan di hidupnya untuk yang pertma kali dalam hidupnya.
.
.
BROTHER
.
.
Di dunia ini ada orang lain selain Ayah dan Ibumu yang begitu bahagia mendengar tangisan pertamamu saat kau dilahirkan ke dunia.
Leeteuk mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum saat suara sang Ayah terdengar begitu marah dari ruang kerjanya. Ia cepat-cepat berlari menuju ruangan kerja yang tidak tertutup itu.
"BODOH! BAGAIMANA KALIAN BISA MEMBIARKANNYA PERGI DI TENGAH HUJAN DERAS SEPERTI INI! CARI DIA SAMPAI DAPAT"
"Ayah, ada apa?" tanyanya. Ia bisa melihat pancaran emosi begitu kuat di wajah laki-laki yang masih terlihat gagah di usianya yang hampir mencapai separuh abad itu.
"Jungsoo" nada dingin ayahnya membuat bulu kuduk Leeteuk meremang. Ia tahu pasti ada sesuatu yang salah terjadi hingga membuat laki-laki itu begitu marah. Dan Leeteuk yakin itu pasti berhubungan dengan Donghae –sang adik.
"Ya?" jawab Leeteuk. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah menyeramkan sang Ayah.
"Pastikan dirimu tidak terlibat dalam kaburnya Donghae kali ini. Ayah tahu kau selalu membantunya mencari anak sialan itu. Jika Ayah tahu kau terlibat, jangan harap Ayah akan mengampunimu"
Leeteuk merasakan nafasnya hilang. Jantungnya menggila hingga ia bisa mendengar detakannya yang begitu keras dan cepat. Kakinya begitu lemas saking takutnya ia akan ancaman sang Ayah.
"Ayah pergi dulu mencari Donghae. Kau jaga Ibumu. Maaf karena membuatmu takut." Laki-laki itu mengusap rambut Leeteuk. Raut wajah yang tadinya keras itu melembut melihat ketakutan terpancar di wajah anak tirinya.
"Ayah..." panggil Leeteuk pelan.
"Bisakah kau membiarkan Donghae kali ini?"
Dia yang selalu berkorban untukmu mulai dari hal kecil sampai besar,
Leeteuk mati-matian menekan rasa takutnya saat mengucapkan rentetan kalimat tadi. Raut wajah sang Ayah kembali mengeras. Bahkan kini tatapannya begitu mengintimidasi Leeteuk karena ucapannya.
"Apa maksudmu, Jungsoo?" Nada dingin itu kembali terdengar.
"Dia tidak pernah tidur dengan baik selama delapan tahun ini. Selalu nama Kyuhyun yang ia sebut dalam mimpi-mimpi buruknya."
Deru nafas kedua laki-laki dewasa itu memenuhi ruangan. Ada pancaran emosi yang kuat di wajah keduanya. Titik-titik bening berkumpul di sudut mata Leeteuk. Ia tahu hanya ini yang bisa ia lakukan untuk sang adik.
"Ayah tidak butuh cerita konyol itu."
Leeteuk menghembuskan nafasnya pelan saat sang Ayah beranjak menjauhinya. Derap langkahnya yang tegas menggema.
Dia yang akan memohon untuk kebahagiaanmu,
"Hidupnya begitu menderita sejak kejadian itu Ayah. Kumohon –kumohon biarkan kali ini ia mendapatkan kebahagiaannya." Suara Leeteuk begitu lirih. Setetes air mata jatuh bersamaan dengan kelopak matanya yang tertutup.
"Tahu apa kau tentang kebahagiaan? Kalian berdua hidup dalam kemewahan. Alasan apa lagi yang kurang untuk bahagia? Bahkan tanpa anak sialan itu Donghae bisa bahagia"
Leeteuk membalik tubuhnya hingga kini ia bisa melihat punggung tegap sang Ayah. Air mata mulai turun dengan deras di wajah malaikatnya. "Pernahkah Ayah melihatnya menangis bahkan saat dia tidur?"
Dia yang memahamimu seperti Ayah dan Ibu,
"Dalam tidur pun dia tidak pernah merasa tenang –karena setiapkali dia tidur, hanya bayangan saat dimana dia dan Kyuhyun dipisahkan yang dia mimpikan."
"Hentikan omong kosong itu, Jungsoo!" bentakan sang Ayah membuat Leeteuk menggigit bibirnya menahan isakan yang keluar. Sang Ayah berbalik hingga kini keduanya bertatapan.
"Dia bahkan tidak mau makan, tidak mau keluar kamar seharian saat ulang tahun Kyuhyun. Menangis seharian dan bersujud pada Yesus untuk mempertemukannya dengan adiknya. Apa Ayah tahu itu? Donghae tidak pernah bahagia Ayah!"
Isakan Leeteuk terdengar jelas. Pertama kali dalam hidupnya, Leeteuk membentak orang tuanya walau nyatanya laki-laki didepannya bukanlah Ayah kandungnya. Pancaran matanya yang selalu membuat orang lain tenang kini meredup. Rona merah juga linangan air mata di wajahnya membuat wajah malaikatnya begitu menyedihkan.
BRUK
"Apa yang kau lakukan, Jungsoo?" mata sang Ayah membelalak lebar.
Leeteuk menjatuhkan lututnya pada lantai. Ia berlutut. Tangannya mengatup di depan dada –seolah-olah ia sedang memohon pada Tuhan.
Dia yang akan menangis karena melihatmu bersedih,
"Kumohon~ hiks.." Leeteuk menangis semakin keras.
Dia yang akan bahagia hanya dengan melihatmu bahagia,
"Kumohon biarkan Donghae mencari Kyuhyun. Aku tidak akan pernah bisa bahagia melihatnya terus-terusan seperti ini, Ayah. Aku tidak akan bisa bahagia melihat dongsaengku menderita"
Hati Leeteuk begitu sakit karena ia tidak dapat berbuat sesuatu untuk membuat Donghae bahagia. Ia bahkan tidak yakin jika kehadirannya adalah sebuah kebahagiaan untuk Donghae. Karena ia tahu, yang diinginkan sang adik adalah adiknya yang lain.
'Dia yang berkata menyayangimu dan benar adanya seperti itu'
"Aku menyayangi Donghae, Ayah. Hiks... Aku sudah menganggap Donghae seperti dongsaeng kandungku sendiri. Dia hanya menginginkan Kyuhyun. Aku tidak bisa menjadi kebahagiaan yang sebenarnya untuknya."
Keheningan melanda keduanya. Hanya isakan Leeteuk yang masih menggema. Langkah kaki yang tegas itu kembali bergerak menjauhi Leeteuk.
"Maaf"
Leeteuk mengerang di atas dinginnya lantai saat satu kata maaf terlontar dari mulut sang Ayah diiringi langkah kakinya yang menjauh.
.
.
BROTHER
.
.
Takdir akan menuntunmu. Menuju bahagia yang mungkin masih tersembunyi dibalik garisnya. Karena takdir –tak selamanya menuliskan hal-hal buruk.
Donghae terus berlari. Sosok Changmin dengan sepeda pancalnya masih berada beberapa meter di depannya. Sebelah tangannya menggenggam tas keresek berwarna hitam yang Donghae yakin adalah pesanannya tadi juga kumpulan magnet kulkas milik sahabatnya. Beruntungnya anak laki-laki itu mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Hujan menghambatnya sepertinya.
Changmin memasuki sebuah rumah dengan halaman yang luas. Donghae berhenti dan bersembunyi di balik pagar rumah itu yang tingginya mungkin hanya sebatas pinggangnya. Palang bertuliskan 'music is my life' menggantung di atas beton penyangga atap yang berjumlah dua buah. Sebuah studio musik sepertinya.
Donghae melangkahkan kakinya masuk ke dalam, namun matanya menangkap bayangan seseorang yang membuat langkahnya terhenti.
Donghae terpaku. Derasnya hujan tak menghalangi Donghae untuk tahu siapa sosok yang berdiri di depan pintu menyambut Changmin. Seumur hidupnya, ia tidak akan pernah melupakan pemilik iris coklat yang selalu berbinar jahil itu. Sosok yang menangisinya dibawah guyuran hujan, sosok yang memanggil namanya dengan tangisan pilunya. Sosok yang selama delapan tahun ini dirindukannya.
"Kyu..."
Lirih. Begitu lirih hingga terdengar seperti sebuah bisikan. Bibirnya yang bergetar dan mulai membiru menyuarakan nama seseorang yang begitu ingin ditemuinya. Angin yang berhembus sepertinya membawa bisikan lirih itu kepada sosok tersebut. Hingga sosok itu menoleh dan pandangan keduanya bertemu.
Donghae masih terdiam. Kakinya kaku menancap pada tanah yang dipijaknya. Ditatapnya sosok yang kini membulatkan matanya karena terkejut lalu berubah berkaca-kaca. Donghae masih bisa melihat air mata mulai menggenang di wajah pucatnya. Ada begitu banyak emosi yang terpancar di wajah keduanya. Kesedihan dan kerinduan di mata berbeda iris itu.
Donghae bergerak maju menuju sosok yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Ingin dihapusnya air mata yang mengalir dari iris coklat itu –karena sungguh ia tidak pernah bisa melihat sosok itu menangis. Samar-samar ia bisa mendengar Changmin yang terkejut melihatnya. Tapi fokus Donghae hanyalah pada sosok itu. Yang jaraknya kini hanya beberapa langkah darinya.
Air mata mulai menumpuk di kedua pelupuk Donghae. Sosok itu berjalan ke arahnya. Jantungnya berdetak begitu keras karena sekelumit rasa takut yang dirasakannya. Ya –Donghae takut kalau ini hanyalah mimpi. Saat dia terbangun dan mendapati semuanya hanyalah palsu. Akan terasa begitu menyakitkan nantinya.
Donghae mulai menangis. Air matanya mulai berjatuhan bercampur dengan air hujan. Sosok itu basah kuyup sama sepertinya. Bibir tebal itu bergerak walau nyatanya Donghae tak mendengar satupun suara yang keluar. Tapi Donghae tahu, bibir itu bergerak –bergerak menyebut namanya. Ia semakin yakin bahwa itu adalah Kyuhyun. Kyuhyunnya.
"Kyuhyun" panggilnya. Kali ini lebih keras dan jelas.
Sosok itu –yang kini berhadap-hadapan dengannya mengangguk. Donghae mengamati sosok didepannya. Meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa ini bukanlah mimpi. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh sosok didepannya yang masih bergetar karena menangis. Surai ikal berwarna kecoklatan, alis yang tebal, hidungnya yang mancung. Jemari Donghae turun menyentuh kedua pipi gembil didepannya. Menangkup dengan kedua telapaknya hingga manik hitam miliknya bersirobok dengan manik coklat tua milik sosok didepannya.
"Kyuhyunie..." lirih Donghae. Hatinya begitu nyeri karena bahagia yang berlebihan.
"Ini kau?" tanya Donghae.
Sosok itu –yang memang benar adalah Kyuhyun lagi-lagi menganggguk. Jemarinya yang bergetar mengusap pipi Donghae. Menyusuri lekukan tampan milik kakak yang begitu dirindukannya.
SRETT
Satu tarikan cepat memerangkap sosok Kyuhyun dalam tubuh Donghae. Donghae memeluk Kyuhyun begitu erat. Ia merapatkan tubuhnya dengan sang adik –memberikan rasa hangat bagi keduanya di tengah hujan yang turun begitu deras.
"Hyung merindukanmu, Kyu. Hiks... Hyung sangat merindukanmu."
Donghae menangis sesenggukan. Hatinya buncah akan perasaan bahagia yang baru dirasakannya sekarang sejak delapan tahun yang lalu. Ada banyak kalimat yang ingin ia sampaikan pada sang adik. Namun lidahnya kelu karena air matanya yang tak kunjung berhenti.
"Maaf. Maaf karena meninggalkanmu selama delapan tahun ini... Hiks... Maafkan hyung, Kyu"
Donghae terus-terusan mengucapkan kata maaf. Begitu besar penyesalannya pada Kyuhyun. Rasa bersalah yang menghantuinya hingga ia tidak bisa hidup dengan baik. Kerinduan yang ia rasakan ibarat tumor yang menyebar ke seluruh organ tubuhnya. Membuat sarafnya rusak lalu perlahan-lahan mati. Hidup seperti tak hidup.
Kyuhyun melepas pelukan Donghae. Ditatapnya manik hitam sang kakak, mengusap air mata yang keluar bersamaan dengan air hujan yang jatuh membasahi wajah tampan Donghae.
"Apa kau hidup dengan baik, heum? Apa kau makan dengan baik? Kau masih membenci sayuran, eoh? Aish! Kau memang menyebalkan bocah. Kau tidak sering sakit kan? Hyung tidak pernah suka kau sakit."
Donghae lagi-lagi bicara. Ia mengeluarkan segala perasaannya. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tak bisa dijawabnya. Ia mengutarakan semuanya. Karena sekali lagi –ia takut. Takut kalau semua ini hanyalah mimpi yang akan berakhir saat ia membuka mata. Dan ia tak memiliki kesempatan untuk bertanya dan mendengar jawabannya.
Kyuhyun masih diam. Dingin yang dirasakan keduanya semakin besar. Gigi-gigi Donghae sudah bergemeletuk hingga Kyuhyun bisa mendengarnya.
Kyuhyun yang tahu Donghae kedinginan segera menarik tangan Donghae. Ia bermaksud mengajak Donghae untuk masuk ke dalam. Bibirnya bergerak. Namun tak ada suara yang keluar. Tangannya bergerak membentuk bahasa isyarat –isyarat yang digunakan oleh orang-orang yang tak mampu berbicara.
"A –ada apa denganmu, Kyu?" tanya Donghae bingung.
"Kyuhyun tidak bisa berbicara, hyung. Lebih baik kalian masuk ke dalam. Hujan semakin deras. Dan Kyuhyun sedang sakit."
Suara Changmin terdengar. Masih dengan seragam sekolahnya yang basah ia menarik lengan Donghae. Donghae yang tak dapat menyembunyikan keterkejutannya menatap Kyuhyun. Kebahagiaan yang dirasakan Donghae memudar. Satu fakta lagi yang membuat hatinya menjerit karena perih. Kyuhyun. Kyuhyunnya tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa mematung sambil merutuk pada Tuhan dalam hati.
"Tuan Muda, ayo pulang."
DEG
Donghae terkesiap saat kedua pundaknya dicengkeram oleh dua orang berbaju hitam yang tak lain adalah bodyguardnya.
"Lepas! Lepaskan aku!" Donghae mulai menangis saat ia tahu bodyguard ayahnya menemukannya. Keduanya menyeret Donghae menjauh dari Kyuhyun dan juga Changmin.
Lagi-lagi tatapan itu. Tatapan terluka yang diberikan Kyuhyun untuk Donghae. Rasanya seperti de javu. Di bawah guyuran hujan deras mereka berpisah. Donghae bisa melihat Kyuhyun yang mengulurkan tangannya. Kaki-kaki panjangnya berlari mengejar Donghae. Sama seperti delapan tahun lalu.
Rasanya Donghae ingin tanah menelannya saat ini juga. Melihat tatapan terluka adiknya, air mata yang mengaliri wajah pucatnya. Dan ia yang tidak bisa melakukan apa-apa. Rasa frustasi, amarah, kesedihan bercampur menjadi satu.
Entah sudah berapa banyak air mata Donghae keluar. Berapa banyak tangisan yang ia keluarkan untuk sang adik. Ia tak mampu menghitungnya. Dengan sisa tenaganya, ia memohon.
"Dia adikku. Aku baru saja menemukannya setelah delapan tahun kami berpisah. Aku sangat merindukannya. Lebih baik kalian membunuhku daripada harus memisahkanku lagi dengannya. Kumohon~ Aku benar-benar memohon."
Suaranya begitu lirih. Sarat akan keputusasaan. Ia bahkan tak yakin dua orang yang menyeretnya mendengar. Tenaga Donghae serasa menghilang begitu saja. Kakinya begitu lemas. Ia hanya pasrah saat tubuhnya tetap diseret secara paksa. Matanya terasa perih karena air matanya yang terus mengalir. Hatinya begitu sakit, ia pikir mati adalah jawaban terbaik.
Donghae merasa kepalanya berputar-putar. Titik-titik hitam mulai berkumpul menutup retinanya. Ia panik. Bayangan Kyuhyun mulai memburam di matanya. Samar-samar Donghae melihat tubuh Kyuhyun yang terjatuh di pelukan Changmin. Ada noda merah disana. Mengalir dari hidung sang adik.
Sebelum kesadarannya diambil alih oleh kegelapan. Bibir Donghae bergerak. Mengutarakan tiga kata yang selama ini dipendamnya bertahun-tahun.
'Hyung menyayangimu, Kyu.'
Lalu semuanya berubah menjadi gelap.
.
.
[DONGHAE POV END]
.
.
BROTHER
.
.
Untuk seluruh adik di dunia ini –ketahuilah bahwa ada orang lain selain Ayah dan Ibumu yang bahagia melihatmu dilahirkan ke dunia ini.
Ia yang tersenyum saat bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Saat itu kau tertidur dalam gendongan Ibu. Dan ia terus-terusan terjaga hanya untuk melihatmu bangun dan membuka mata. Tapi kau tetap tidur.
Ia yang terpekik senang saat Ayah dan Ibumu memberinya ijin untuk menyentuhmu pertama kali. Elusannya di kepalamu membuatmu nyaman hingga kau tetap tertidur dalam gendongan Ibu.
Hatinya yang dipenuhi gejolak bahagia saat kau pertama kali dapat menyebut namanya. Memanggilnya dengan suara berdengung yang tidak jelas karena saat itu kau belum mampu berbicara dengan baik.
Melihatmu tumbuh dan berkembang, melindungimu, memberikan segalanya untukmu. Membiarkanmu mengambil jatah istirahatnya hanya untuk menemanimu bermain. Mengajarimu segala hal yang tak kau ketahui. Dia yang memberikan kasih sayangnya hanya untukmu –adiknya.
Dia –seseorang yang kau panggil kakak.
Yang akan bahagia dengan melihatmu bahagia. Bersedih karena melihatmu menangis. Dia yang mengorbankan apapun yang dia punya untukmu. Dia yang berkata menyayangimu dan benar adanya seperti itu.
Terkadang dia begitu menyebalkan. Kesannya yang angkuh juga semena-mena terhadapmu membuatmu kadang-kadang membencinya. Bahkan menganggapnya jahat.
Tapi ketahuilah, ia diam-diam juga menyesal saat membuatmu menangis. Ia menangis karena kau mengatainya jahat dan kau yang melancarkan aksi ngambekmu dengan mengacuhkannya. Ketahuilah –ia bersedih.
Dia –kakakmu.
.
.
Cerita ini bukan ditulis untuk membuatmu menitikkan air mata. Karena ini bukan cerita sedih.
Untuk seluruh adik di dunia ini –selagi kalian masih bisa berbicara. Katakanlah 'terima kasih' pada seseorang yang kau panggil kakak. Sebelum takdir memisahkanmu dengannya. Sebelum takdir membuatmu menyesal akan kehilangan. Percayalah, tidak selamanya orang yang kau panggil kakak akan mendampingimu selamanya. Karena takdir? Siapa yang bisa menebaknya?
.
.
TBC
.
.
