What Do You Expect for?
Cast: Sehun, Jongin, Luhan, Baekhyun, Kyungsoo, Minseok, Kris, Chanyeol
Genre: Romance, Drama, Family, Marriage-life
Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.
Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!, M-Preg
Summary: Sequel of 'The Love Curse'. Sehun hamil? Bagaimana kelanjutan hubungan Luhan dan Baekhyun, begitu juga Kyungsoo yang masih nekad memacari Minseok yang sudah bukan tutor dikelas tambahan matematikanya! Dan Kris yang ingin segera menikahi Chanyeol setelah ini. KaiHun, LuBaek, XiuDo, KrisYeol. M-Preg, BL!
Chapter 3
~Happy Reading~
"Jongin aku mau pasta!" Sehun merengek sambil menarik-narik lengan baju Jongin.
"Iya nanti dulu. Baby." Jongin masih fokus pada dokumen dilaptopnya.
Sehun memaksa Jongin untuk membolehkannya menginap dirumah Jongin. Tentu saja eomma Jongin mengijinkan karena Sehun adalah calon menantu kesayangannya. Tetapi, Jongin menolak karena masih banyak kerjaan yang harus dilemburnya. Jongin itu tipe orang yang mudah terusik, ia tidak bisa fokus pada satu hal sementara ada hal lain yang begitu mengganggu. Seperti Sehun. Tapi karena Sehun meminta dengan memasang wajah imutnya pada eomma Jongin, ya Jongin bisa apa?
Mereka tengah berada dikasur Jongin sambil bersandar di sandaran kasur.
Sehun merengut, "Tapi kau yang buat!"
Jongin melongo, ia melepas pandangannya yang sedari tadi fokus pada layar, " Mwo?! Jangan bercanda Sehun-ah, kau tahu kan aku tidak bisa masak!" Tentu saja Sehun tidak serius. Ia kan hanya mendalami peran seolah—
"Kau tega pada anak kita? Dia yang minta tahu!" ia sedang mengidam. Lagipula Sehun juga tahu kalau Jongin sudah memegang dapur, pasti hancur. Ia kan hanya berniat mengerjai Jongin.
"Sudah kubilang aku tak bisa masak." Seru Jongin malas sambil kembali menatap laptopnya.
"Yasudah terserah!" Sehun yang kesal langsung bangkit dari kasur Jongin.
"Kau mau kemana?!" seru Jongin kaget. Sehun mendeathglare Jongin, "Tentu saja pulang. Kau bahkan tak mengharapkan 'kami' ada disini."
Sehun langsung beranjak dari kamar Jongin, membuat Jongin mau tidak mau menutup laptopnya dengan paksa.
"Sehun-ah!" ia berteriak mengejar Sehun yang sudah membanting pintu kamarnya dengan tidak peduli.
"Sehun-ah!" serunya setelah berhasil mencegah Sehun membuka pintu rumah.
"Mwo?!" Sehun berteriak kesal.
"Maafkan aku, jangan pergi, kumohon Baby." Sehun menampik tangan Jongin dengan kesal.
"Kau melarangku untuk pergi, tapi kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu itu!" Jongin diam.
"Kau tahu, kurasa aku salah karena dulu sudah menerimamu." Seru Sehun final. Membuat jantung Jongin rasanya ingin lepas.
"S-sehun-ah." Ia langsung mendekap Sehun.
"Maafkan aku baby aku—janji takkan mengulanginya lagi." dan perkataan Jongin membuat Sehun langsung mendorongnya keras, hingga pelukannya terlepas.
"Takkan mengulanginya kau bilang?! Kau bahkan selalu mengulanginya berkali-kali, kau pikir itu apa eoh?!" kali ini mata Sehun berkaca-kaca.
"Aku benci diabaikan, apalagi jika kau yang mengabaikanku. Kau bahkan selalu mengabaikanku!" Sehun berteriak dengan suara serak yang begitu getir.
"Kau bahkan lebih cinta pada pekerjaanmu itu! Aku bahkan ragu jika kau benar-benar mencintaiku." Kali ini mata Jongin mendelik.
"S-sehun-ah—"
"Jangan memotongku! Aku lelah denganmu. Aku bahkan berpikir aku menyesal telah memilihmu Jongin, aku lelah! Aku jenuh! Kau membuatku—" perkataannya terhenti saat ia mulai terisak. Buliran air matanya mulai berjatuhan.
Jongin hendak menggenggam tangannya, namun Sehun menampiknya lagi. "Aku benci dengan Jongin yang sekarang. Kau hanya memanfaatkanku saja kan? Menyentuhku seenakmu lalu meninggalkanku begitu saja?!" Sehun mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku ingin pulang. Lupakan saja aku jika kau begitu cinta dengan karirmu yang sekarang." Kali ini Jongin merasa sudah cukup, ia tak bisa diam lagi. Ia langsung menyambar bibir Sehun sebelum namja itu sempat berbalik memunggunginya.
Sehun memukuli dada Jongin, ia menangis makin kencang. Jongin mengeratkan dekapannya, memperdalam ciuman mereka. Lalu melepasnya.
"Aku benci denganmu aku benci!" Sehun memukuli dadanya dengan lemas.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Jongin mengusapi air mata Sehun dengan kedua telunjuknya.
Sehun masih menangis, "Aku mencintaimu Sehun-ah." Nada sedih terselip diperkataannya.
"Aku tidak mau kau meninggalkanku! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja." Ia menangkup kedua pipi kekasihnya. "Kau itu milikku, kau tahu, aku sudah cukup menyusahkan eomma, aku ingin mandiri, aku hanya ingin menyelesaikan semua tugasku dengan cepat. Agar aku bisa cepat menikah denganmu, dengan biayaku sendiri. Ini hidup kita berdua baby, dunia baru kita. Kau dan aku."
"Jangan pergi baby, aku mencintaimu sungguh." Kali ini Jongin memeluk Sehun erat. Sehun hanya diam.
Jongin mencium keningnya lama, "Jja, aku akan buatkan pasta yang kau minta!"
Sehun mendorong Jongin lagi, "Kau membuatku tidak nafsu makan lagi!"
Jongin hanya tertawa, "Yasudah, ayo kita tidur saja."
Sehun masih diam, "Aku janji takkan bekerja lagi saat sedang bersamamu, aku juga berjanji akan menelponmu tiap saat bahkan tiap menit jika itu perlu!" Sehun memukul lengan Jongin dengan tertawa. Ia malu.
Jongin memeluknya lagi, "Jangan pernah menangis karena aku, aku benci jika kau tersakiti karena diriku sendiri." Sehun mengangguk. Ia membalas pelukan Jongin dengan erat.
.
.
.
.
"Gugurkan kandunganmu!" Baekhyun terkejut dengan pernyataan appanya.
"T-tapi appa aku—"
"Kau pikir aku akan mau menerima lamarannya setelah hasil kotor yang kalian perbuat?"
"Tapi dia hendak bertanggung jawab appa! Aku mencintainya." Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Tanggung jawab kau bilang? Ck! Jangan harap appa akan sudi menerimanya!"
Baekhyun menangis lagi, "Kau pikir aku akan menerimanya hanya karena anak yang ada diperutmu itu eoh?!"
Kedua bahunya bergetar hebat, "Jangan harap, setelah dia melakukan perbuatan kotor seperti itu padamu, baru dia akan melamarmu, Semudah itu?!"
"Aku sudah besar aku berhak dengan kehidupanku sendiri!"
"Tapi melakukan seks sebelum kau menikah sampai kau hamil apa itu sungguh tidak menjijikkan?!"
"Bahkan korea tidak melarang seks setelah berumur 20 tahun!"
"Kau pikir itu berlaku pada appa?! 20 atau 40 tahun pun jika kau belum menikah itu sungguh menjijikkan! Kau pikir mengasuhmu seorang diri selama ini mudah?! Appa takkan menyerahkanmu pada namja brengsek itu!" ia makin terisak.
"Appa malu dengan mu Baekhyun, kau hanya bisa membuat aib setelah apa yang appa perbuat selama ini, itukah balasanmu?"
"Appa!" Baekhyun berteriak sambil terisak.
"Jauhi dia, appa takkan pernah sudi menerimanya."
.
.
.
.
'Luhannie is calling' Baekhyun menatap sendu kearah layar ponselnya yang tergeletak dimeja nakas. Ia tak berniat untuk mengangkatnya. Walaupun ia ingin.
Kedua matanya masih sembab. Ia bahkan menangis semalam. Baekhyun mendadak kehilang nafsu makannya, ia tidak bisa tidur, yang ia lakukan hanya menangis. Semenjak pertengkaran hebat dengan appanya kemarin, Baekhyun akhirnya dikurung dikamar. Ia benci hidup seperti ini. Dibawah kekangan appanya.
Ia mencintai Luhan, sangat. Ia ingin bersamanya, tentu. Bahkan ia akan membayar berapapun agar bisa hidup dengan namja itu. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Bahkan ia bisa bersama dengan Luhan selama ini karena ia kabur dari rumah.
Maksudnya, keluar sembunyi-sembunyi jika appanya sedang lengah.
Semenjak eommanya meninggal, appa Baekhyun selalu mengawasinya like a maniac. Ia bahkan hampir bunuh diri karena tak bisa keluar rumah, dulu. Masa remaja yang begitu buruk karena ia dikurung diruang sempit—kamarnya sendiri. Terkadang, ia bahkan takut melihat kamarnya sendiri. Ia masih trauma. Terlalu trauma.
Ia sangat berterima kasih atas apa yang appanya korbankan untuknya selama ini, tapi ia begitu membenci perlakuan appanya pada dirinya.
'Luhannie is calling' ini sudah kesekian kali Luhan menelponnya. Membuat seisi ruang kamar Baekhyun yang begitu sunyi suram ini terusik karena dering telpon.
Baekhyun berpikir, percuma saja. Apa yang akan ia katakan? Kalau ia sedang di tawan oleh appanya dikamar begitu?
Ia juga yakin setelah ini appanya akan terus mengekangnya seperti yang dulu-dulu selalu dilakukannya. Bahkan ia akan sangat bersyukur jika ada sebuah keajaiban yang bisa mengeluarkannya dari penjara ini. Penjara yang ia buat sendiri.
Baekhyun butuh waktu untuk sendiri.
.
.
.
.
"Apa yang sedang kau lakukan disini hyung?" Kyungsoo berbisik kearah Minseok yang tengah mengambil buku dirak perpustakaan.
"Aigoo, kau membuatku kaget!" Kyungsoo hanya terkekeh.
Kyungsoo melirik apa yang tengah kekasihnya itu ambil, "Matematika lagi!" ia mendengus. Minseok tertawa kecil, "Ck! Pabo, aku kan guru matematika, kau ini bagaimana sih?"
Kyungsoo mempoutkan bibirnya, "Ya tapi, aku sangat sebal dengan pelajaran itu."
Minseok mengerutkan keningnya, "Lalu kenapa kau memacari seorang guru matematika hm?"
"Yak! Memangnya tidak boleh?!" Kyungsoo memukul lengannya,berseru dengan malu. Minseok menyunggingkan senyum kecil, kekasihnya ini benar-benar!
Kyungsoo mendekatkan bibir tipisnya kearah telinga Minseok, "Aku tidak peduli apapun profesi orang itu, jika aku menyukainya? Kenapa tidak!"
"Sini kau!" Minseok langsung menarik pinggang Kyungsoo agar merapat kemudian menggelitikinya. "Hyung geli!"
"Ssssstttt—" Kyungsoo langsung memukul Minseok. Mereka lupa apa kalau sedang bermesraan di perpustakaan?
"Jeosonghamnida." Kyungsoo membungkuk pelan kearah sang penjaga perpus tadi.
"Ish! Gara-gara kau kan!"
"Habisnya kau menggemaskan."
Blush—
Kyungsoo menunduk malu. Minseok diam-diam menyempitkan jarak diantara mereka, kemudian menyematkan kelima jarinya disela-sela jari Kyungsoo. Kyungsoo hanya diam. Jantungnya sudah berdebar tak karuan.
Minseok perlahan menarik Kyungsoo ketempat lain—rak buku yang lebih sepi.
Ia kemudian memegangi pundak mungil kekasihnya, agar mengahadap langsung dan menatap iris matanya. Kyungsoo menatapnya bingung. Minseok langsung mencium kening Kyungsoo, lama. Kyungsoo memejamkan kedua matanya. Ia rindu dengan kekasihnya ini.
Ternyata, menjalani hubungan secara backstreet tidaklah mudah. Ini sangat melelahkan! Bahkan mereka lebih sering tidak bertemu ketimbang seperti ini. Namun, itu setidaknya sudah cukup. Yang penting mereka masih bisa bersama kan?
Minseok melepaskan bibirnya, "Jeongmal saranghaeyo, Oh Kyungsoo-ya." Kyungsoo merona lagi.
"Nado." Ia langsung memeluk Minseok, kemudian dibalas oleh kekasihnya itu.
"Setelah ini kau akan lulus, fokus pada ujianmu! Jangan memikirkanku terus!"
"Ish hyung!" Kyungsoo memukul dada Minseok yang sialnya berhasil membuatnya merona lagi.
"Kyungsoo-ya—" seruan temannya terputus saat melihat adegan guru-murid yang saling berpelukan di pojok perpustakaan. Refleks, mereka langsung melepas pelukannya.
"Eoh, a-ada apa wookie-ah?" Sungguh ini benar-benar memalukan!
Sedangkan temannya yang ditanyai tadi hanya menunduk, "Euhm, i-itu supir appamu sudah menjemput."
"O-oh ne, baiklah." Dan temannya langsung pergi.
"Yasudah pulanglah, nanti appamu marah."
Kyungsoo hanya mengangguk, ia langsung berjalan meninggalkan Minseok sebelum,
"Hyung!" ia berlari kearahnya, kemudian berjinjit dan menarik tengkuk Minseok lalu—
Chu—
Kecupan kecil yang membuat Minseok begitu—
"Aku mencintaimu!" serunya sedikit berbisik dengan malu dan langsung meninggalkan Minseok. Minseok hanya tersenyum melihat punggung ringkih Kyungsoo yang menjauh.
.
.
.
.
"Kris aku lelah!" Chanyeol dengan kesal membuang pisau ditangannya hingga terpental—hampir mengenai kaki Kris—
"Ish! Kalau mengenai kakiku bagaimana eoh? Kau mau kekasihmu tidak punya kaki?!" seru Kris agak dongkol sambil mengambil pisau yang jatuh tadi.
"Aigoo, ma-maafkan aku Kris, aku tidak sengaja!" Oke, Kris suka jika Chanyeol seperti ini.
"Tidak mau!" Kris pura-pura merajuk.
"Ish, aku benar-benar tak sengaja kau tahu!"
"Tapi tadi kakiku hampir berlubang asal kau tahu!" Chanyeol mempoutkan bibirnya.
"Aku kan tidak sengaja!"
"Memangnya kau mau punya suami dengan kaki 'berlubang'?" Chanyeol memukul lengan Kris dengan jengkel.
"Ish! Chanyeol!" Chanyeol hanya tertawa.
"Salah sendiri dasar kau menyebalkan!"
Kris langsung memeluk pinggangnya, Chanyeol diam saja. Ia suka jika Kris memeluknya, ia juga takkan menolak jika Kris bahkan menciumnya sekalipun.
"Aku iri dengan Sehun!"
"Kenapa kau iri dengannya hm?"
Kris menautkan kedua alisnya bingung, "Tentu saja! Dia sangat pintar memasak, matematika, bahkan segala hal! Sedangkan aku? Bahkan jika aku menjadi istrimu aku tak akan bisa diandalkan! Mengupas bawang saja aku tak bisa! Jongin sungguh beruntung!"
Kris hanya tersenyum mendengar penuturan Chanyeol yang begitu lucu ini, "Hey, aku ingin menikah denganmu bukan karena aku ingin kau bisa memasak untukku, atau apapun itu."
Chanyeol menoleh menghadap Kris, "Tapi karena aku mencintaimu. Ingat."
Namja itu hanya menunduk, "Ish tapi tetap saja kan! Aku tidak bisa apa-apa Kris!"
"Lalu? Kau kan bisa belajar jika kau mau."
"Aku juga tidak menuntutmu untuk bisa memasak kan?"
"Tapi kau menyuruhku belajar mengupas bawang, dasar kau menyebalkan!"
Kris hanya terkekeh, "Ya, setidaknya biar kau bisa sedikit kan? Nanti kalau kau kursus masak dengan Sehun? Kau mau ditertawakan hm?"
"Katanya kau menikahiku karena cinta tapi sekarang kau malah meledekiku!" Chanyeol merengut sebal. Kris tahu, kekasihnya ini mudah tersinggung.
"Ne, ne chagiya, aku hanya bercanda." Ia menciumi pipi gembil Chanyeol dengan gemas. Namja itu menggeliat geli.
"Aku lelah tahu!" Kris hanya tersenyum.
"Yasudah, ayo kita tidur." Chanyeol mengangguk,
"Tapi ada satu syarat!" Kris menyeringai mesum.
"Dasar Byuntae!" Chanyeol memukuli Kris dengan kesal.
"Aku mau tidur aku lelah!" Chanyeol langsung meninggalkan Kris.
"Yak! Wu Chanyeol kau mau kemana?! Aish!" Kris langsung menyusul Chanyeol ke kamarnya. Kekasihnya merajuk lagi.
.
.
.
.
Sehun benar-benar senang. Rencananya ternyata berhasil!
Jongin bahkan selalu menjemputnya selama seminggu ini. Tentu saja dengan alasan, 'Jongin aku lelah, aku tidak kuat berjalan sampai ke halte.' Tentu saja Jongin yang merasa, 'Sehun sedang hamil' jadi rentan dengan hal-hal berat pun langsung menjemputnya. Kapanpun. Lagipula pekerjaannya sudah tidak terlalu banyak menumpuk seperti kemarin-kemarin.
Jongin mencintai Sehun.
Dan tentu saja ia akan melakukan apapun untuk Sehun.
"Sudah tidak ada yang ketinggalan?" tanya Jongin sesampainya Sehun didalam mobilnya.
Sehun hanya menggeleng dengan memasang wajah imutnya.
Jongin mengecup pipi Sehun. "Aku merindukanmu kau tahu." Serunya.
Dan Sehun bersorak ria dalam hatinya. 'Ini benar-benar bekerja dengan baik'. Maksudnya rencananya. Ck! Such a big liar.
Chu—
Kali ini Sehun mengecup bibir Jongin, "Aku juga."
Jongin hanya tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya kearah Sehun dan menciumnya dengan lembut. Sehun hanya menaikkan sebelah tangannya, untuk menggapai wajah kekasihnya. Jongin menarik tengkuk Sehun, memperdalam ciuman mereka yang begitu lembut dan—
'Eomma is calling'
Jongin melepaskan bibirnya, "Ish, mengganggu saja."
Jongin hendak mengambil ponselnya sebelum Sehun menahan tangannya. Jongin menatap Sehun penuh tanda tanya,
Namun, Sehun sudah menciumnya lebih dulu. Lalu Jongin bisa apa?
Tentu saja mengabaikan ponselnya dan kembali mencumbu bibir kekasihnya yang begitu manis.
.
.
.
.
Luhan menatap bangunan didepannya dengan sebal.
Tentu saja! Toko yang sudah lebih dari 2 minggu ini selalu tutup. Toko kue milik Baekhyun.
"Argh, chagiya kau kemana?!" Luhan benar-benar frustasi! Ia bahkan tidak dapat fokus pada pekerjaannya, hanya karena memikirkan Baekhyun, Baekhyun dan Baekhyun.
Kekasihnya itu menghilang entah kemana ia juga tak tahu. Yang jelas, ia tahu. Baekhyun menghindarinya. Ia sudah menelpon namja itu ratusan bahkan ribuan kali. Selalu tersambung, namun tak pernah diangkat. Ia yakin betul Baekhyun disana. Tapi sengaja menghindarinya. Ia juga tak tahu apa alasan Baekhyun menjauhinya seperti itu.
Tentu saja ia khawatir, disana ada Baekhyun dan 'aegy'nya. Bagaimana ia tidak khawatir?
Ia tak mau kehilangan Baekhyun, ia akan melakukan apapun, namun kenapa Baekhyun malah seperti ini—
Mendadak pandangannya terfokus pada seseorang yang begitu—
"Baekhyun!" ia langsung berlari kearah namja itu.
Kemudian menarik tangannya hingga tubuh kecilnya berbalik menghadap Luhan dan—
"Chagiya." Ia langsung mendekap kekasihnya erat. Hanya sebentar, lalu melepasnya.
"Aigoo, chagiya kau kenapa?" ia terkejut ketika melihat keadaan Baekhyun yang begitu kacau.
Baekhyun menampik tangan Luhan dengan lemah, "Jangan temui aku lagi." serunya dingin. Lalu berbalik mencoba untuk pergi.
"Jangan temui 'aku' lagi katamu?!" Luhan berteriak kesal. Baekhyun menghentikan langkahnya. Tanpa membalikkan tubuhnya.
"Bagaimana aku bisa 'tidak' menemuimu lagi sedangkan ada kau dan 'aegy' kita?!" Baekhyun meneteskan air matanya yang tertahan.
"Aku mencintaimu Baek! Aku ingin bersamamu, bersama aegy kita, lalu kenapa kau melakukan ini?!" Luhan tak bisa membendung matanya yang juga berair.
Baekhyun terisak kecil.
"Aku bahkan begitu frustasi mencarimu kemana-mana, aku bisa gila jika tak bisa bertemu denganmu lagi! Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak menemuimu lagi eoh?!" Luhan mulai menangis.
Baekhyun membalikkan tubuh kecilnya menatap Luhan.
"Aku membenci caramu menghindariku seperti itu Baek! Aku benci!" Luhan masih diam ditempatnya.
Baekhyun langsung berlari, dan memeluk Luhan.
Membuat jas kerja yang Luhan gunakan basah dengan air matanya.
Ia mencengkram sisi belakang jas kekasihnya.
"Maafkan aku Luhan, a-aku bingung harus apa. A-aku—"
Perkataannya terputus saat Luhan langsung menciumnya.
"Jangan melakukannya lagi! You drive me crazy." Ia mengecup lagi bibir kekasihnya.
Baekhyun hanya menunduk lemah. Ia bingung harus menjelaskan apa setelah ini.
TBC
haaii eonni is back! sorry banget baru bisa update, lagi banyak lomba sama yang paling bikin kesel itu ffn susah di akses. ergh rasanya pengen gigit laptop. btw, eonni mau jelasin aja kalau misalnya ff eonni menjorok ke rated m tapi ga bener bener ke m ga eonni tulis rated m. tetep eonni tulis t. karena apa, remaja sekarang mana ada yg polos gatau tentang seks, dll sama sekali kan? sekian ya reviews yang banyak oke? eonni usahain update kilat!
