Summary:

Jangan pernah menyalahkan takdir. Karena setiap takdir memiliki arti tersirat yang akan membuatmu menjadi manusia yang lebih baik lagi

.

Cast:

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Others

.

Brothership

.

Chapter [2/3]

.

.

BROTHER

.

.

Untuk seorang kakak,

Kadang kenapa adikmu selalu mengganggumu...

Itu karena dia ingin mendapatkan sedikit perhatian dari seseorang yang sangat ia kagumi.

.

.

Sudah dua hari anak laki-laki itu hanya duduk diam mengamati teman seusianya bermain. Anak itu tidak pernah berbicara sedikitpun. Bibir penuhnya seolah-olah tertutup rapat. Ia lebih suka memandang rintik-rintik hujan diluar sana daripada bergabung dengan teman-temannya. Hari ini pun, ia lebih memilih duduk di sudut ruangan sambil melihat hujan yang turun begitu deras. Terkadang tubuh mungilnya bergetar karena dingin yang menusuk kulit pucatnya.

"Sayang, kemarilah..." Seorang laki-laki bernama Jaejoong membawa bocah mungil itu ke dalam pelukannya. Ia tersenyum saat tubuh mungil itu berhenti bergetar. Perkiraannya tepat –anak itu kedinginan.

"Kau tidak suka berada disini, heum?" Jemari lentiknya mengusap surai ikal itu lembut. Bertahun-tahun berinteraksi dengan anak-anak membuatnya menjadi sosok yang penuh kelembutan. "Tersenyumlah dan bermainlah seperti anak-anak yang lain. Melihatmu seperti ini membuat hyung sedih asal kau tahu." Jaejoong mengecup jemari bocah mungil yang terasa dingin itu. Laki-laki cantik itu terkejut saat bibir yang selalu tertutup itu terbuka seperti orang yang sedang tertawa –walau nyatanya tak ada suara yang keluar.

"Geezzz, kau suka jemarimu dikecup seperti ini, eoh?" tanya Jaejoong. Ia kembali mengecup jemari-jemari mungil itu. Bahkan kini ia juga mengecup jemari kakinya. Tubuh mungil itu pun menggeliat di pelukan Jaejoong. Mulutnya terbuka menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Matanya melengkung membentuk bulan sabit. Jaejoong tahu, anak itu sedang tertawa. Dan ia senang melihatnya.

"Nah, begini kan lebih baik. Hyung senang melihatmu yang seperti ini. Kau harus banyak tertawa, arrachi?"

Jaejoong menatap anak laki-laki yang tidak ia ketahui namanya itu. Pikirannya kembali menerawang pada kejadian satu bulan yang lalu. Saat itu, ia sedang berteduh di sebuah toko yang telah tutup. Ia berencana menemui seorang pendonor bagi panti asuhan milik keluarganya. Namun hujan menghambatnya. Ia tidak membawa kendaraan pribadi dan ia tidak ingin basah kuyup menemui kliennya. Untuk itu, ia memutuskan untuk berteduh. Saat itulah ia melihat sebuah audi berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang wanita cantik keluar dari mobil mewah itu dengan tergesa-gesa. Ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang wanita itu lakukan. Betapa terkejutnya laki-laki itu saat melihat sosok mungil tergeletak di jalanan. Tepat setelah mobil yang dikendarai wanita itu melaju lalu menghilang.

"Ya! Bangunlah!" Jaejoong panik saat sosok mungil yang ternyata seorang anak laki-laki itu tak merespon. Dengan panik, ia mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya. Jaejoong memandang horror darah yang tercetak di kemeja biru miliknya. Ia baru sadar kepala anak itu terluka dan mengeluarkan darah begitu banyak.

"Kumohon bertahanlah..." ucap Jaejoong panik. Dengan anak laki-laki yang masih berada dalam gendongannya ia berlari menyusuri jalan. Ia merutuk hujan yang membuat pandangannya mengabur. Jaejoong berteriak saat sebuah taksi melaju di depannya. Perasaan lega seketika memenuhi hatinya saat taksi tersebut berhenti dan membawanya ke rumah sakit. Beberapa orang berpakaian serba putih segera menyambutnya dengan sebuah tempat tidur dorong lalu menghilang di sebuah ruangan dengan tulisan 'gawat darurat'.

Jaejoong berjalan tertatih-tatih, kakinya terasa sangat lemas. Berkali-kali ia menyeka keringat dingin yang keluar dengan punggung tangannya. Ia terngiang-ngiang dengan perkataan Dokter yang baru saja menangani anak laki-laki yang tidak sadarkan diri tadi.

Gegar Otak dan juga pita suara yang robek. Jaejoong tak tahu apa yang telah terjadi pada anak itu. Penyiksaan apa yang diterimanya hingga ia terluka begitu parah. Dan laki-laki cantik itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat anak itu sadar namun tak ada satu suara pun yang keluar dari mulutnya. Walaupun ia mencobanya sekuat tenaga. Ya –anak itu menjadi bisu.

Tuk! Tuk!

Jaejoong tersadar dari lamunannya saat sebuah tusukan-tusukan kecil terasa di pipinya. Ia kembali mengulas senyum saat bocah mungil itu memandangnya heran. "Bagaimana kalau kita berkenalan? Hyung belum tahu namamu."

Jaejoong mengambil sebuah whiteboard kecil tak jauh darinya, lalu ia menyerahkan sebuah spidol hitam ke arah anak itu. "Kau bisa menuliskan namamu disini."

Bocah mungil itu menatap Jaejoong. Dengan ragu, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil spidol yang berada dalam genggaman Jaejoong. Jaejoong tersenyum saat tangan mungil itu mengambil spidol dan mulai menggerakkannya di whiteboard.

'Kyuhyun'

Jaejoong melihat barisan hangul yang tidak begitu jelas namun masih bisa terbaca tercetak pada whiteboard. "Jadi namamu Kyuhyun, heum? Baiklah, mulai sekarang hyung akan memanggilmu Kyuhyunie. Bagaimana, apa kau suka?" Anak itu mengangguk.

Jaejoong lagi-lagi tersenyum. Laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia senang sekali melihat anak bernama Kyuhyun itu mulai terbuka padanya.

'Donghae hyung'

Jaejoong mengerutkan keningnya saat membaca tulisan Kyuhyun. "Siapa Donghae hyung, Kyu?" tanyanya.

Kyuhyun menggerakkan tangannya menuju dada. Mulutnya bergerak ingin mengatakan sesuatu. Jaejoong menerka-nerka apa yang Kyuhyun katakan. "Donghae hyung itu hyungnya Kyuhyunie?" tanya Jaejoong lagi.

Kyuhyun mengangguk. Anak itu kembali menulis sesuatu di whiteboard.

'Ayah membawa Donghae hyung pergi. Kyu ingin bertemu Donghae hyung, Kyu rindu Donghae hyungie.'

Hati Jaejoong terenyuh saat membaca tulisan Kyuhyun. Ia sedikit bisa menebak apa yang terjadi pada keluarga Kyuhyun. Ditatapnya bocah mungil yang kini memandang hujan dengan tatapan sendu miliknya. Jaejoong tidak tahu apa yang membuat Kyuhyun suka melihat hujan. Tapi ia tahu, pemilik iris coklat itu selalu menyiratkan kesedihan saat menatap bulir-bulir bening yang jatuh dari langit.

"Kyu..." panggil Jaejoong. Ia kembali memeluk Kyuhyun erat. Dikecupnya surai ikal itu sayang. "Kalau kau ingin bertemu Donghae hyung, jadilah orang hebat yang bisa dikenal banyak orang. Dengan begitu, kau bisa mudah mencarinya. Dan biarkan Donghae hyung mengenali keberadaanmu melalui itu"

Jaejoong buru-buru mengusap air mata yang tiba-tiba keluar dari mata doenya saat iris coklat Kyuhyun menatapnya sendu. Namun air mata itu tak berhenti keluar ketika jemari mungil Kyuhyun mengusap lelehan bening yang menghiasi pipinya. "Kyu harus berjuang, ne?" ucap Jaejoong masih menangis. Senyum tipis terulas di bibir tipisnya melihat anggukan dari Kyuhyun.

Saat itu, Kyuhyun kecil tidak begitu mengerti apa yang dimaksud Jaejoong dengan menjadi seseorang yang hebat. Namun seiring berjalannya waktu, ia mengerti arti dibalik makna hebat yang dimaksud laki-laki cantik itu.

.

.

BROTHER

.

.

Tes! Tes!

Cairan pekat berwarna merah mengalir deras dari hidung seorang anak laki-laki yang sedang duduk memandang hujan. Anak laki-laki itu nampak terkejut. Cepat-cepat ia membekap daerah sekitar hidung dan mulutnya. Ia bangkit dari duduknya lalu berlari menuju sebuah wastafel yang terletak disamping ruangan yang penuh dengan peralatan musik.

KRASSS

Ia menyalakan keran. Segera, setelah air mengalir dibasuhnya darah yang mengotori daerah hidung juga mulutnya. Bau anyir seketika merebak. Ibu jari juga telunjuknya menekan hidung bangir miliknya berulang kali sampai cairan merah itu berhenti keluar. Setelah dirasa darah yang keluar berhenti, ia mematikan keran lalu mengeringkan wajahnya dengan tissue yang memang disediakan disamping wastafel.

"Mimisan lagi, Kyuhyun hyung?" Seorang anak laki-laki lain dengan kedua tangannya yang masih memegang stick drum menatap khawatir. Yang ditanya hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

"Kau terlalu sering mimisan hyung. Nanti aku akan bilang pada Jaejoong hyung untuk membawamu ke Dokter." Anak laki-laki bernama Minho itu segera menarik lengan kurus itu dan membawanya duduk di sebuah kursi panjang berwarna coklat.

'Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, Minho-ya.'

Minho berdecak kesal melihat isyarat jari tangan dari sang hyung yang tak lain adalah Kyuhyun. Ia menghela nafasnya kasar lalu mengatupkan bibirnya –cemberut

"Tidak apa-apa apanya? Lihatlah kau seperti mayat berjalan hyung. Mukamu pucat sekali." Sembur Minho.

'Aku akan minum vitamin nanti. Jangan beritahu Jaejoong hyung atau kau ingin melihatnya menghancurkan tempat ini lagi'

Minho menghela nafasnya. Ia membenarkan ucapan Kyuhyun. Jaejoong hyung terlalu menyayangi Kyuhyun. Ia ingat setahun lalu Kyuhyun pernah sakit karena terlalu keras berlatih. Jaejoong yang saat itu sedang berada di Jepang segera mencari penerbangan pertama ke Korea. Laki-laki cantik itu pulang dan langsung menghancurkan benda-benda yang ada di studio musik milik Yunho –laki-laki yang telah menjadi sahabat Jaejoong sejak kecil. Ia bahkan memberikan bogem mentah berkali-kali pada Yunho hingga membuat pria itu harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Mengingatnya membuat Minho merinding.

"Aku... Aku mengkhawatirkanmu, hyung." Minho mengalah. Ia menunduk memainkan stick drumnya. Kyuhyun yang melihat kekhawatiran Minho tersenyum. Dicubitnya pipi Minho hingga bocah itu mengaduh. "Yak! Kenapa mencubitku!" kesal Minho. Kyuhyun tertawa melihat wajah imut Minho merajuk dengan bibir yang sengaja dicondongkan kedepan.

"Aigoo! Kalian bukannya berlatih malah asik-asikan disini."

Suara cempreng milik seorang anak laki-laki setinggi tiang jemuran menginterupsi kegiatan Kyuhyun dan Minho. Anak laki-laki itu –Changmin langsung mendudukkan dirinya diantara mereka berdua. "Yak hyung! Kau menduduki jariku!" teriak Minho. Ia mengibaskan jarinya yang memang sempat diduduki oleh pantat lancip Changmin.

"Ya Jongjong. Kenapa kau mengikutiku? Nanti Yunho hyung marah kalau tahu kita malah menggosip disini"

Jongjong –Jonghyun anak laki-laki berwajah datar yang keluar dari sebuah ruangan yang sama dengan Changmin hanya mendengus tanpa membalas ucapan Changmin. Ia segera menjatuhkan kepalanya di kepala kursi. Kelelahan sepertinya.

Kyuhyun tersenyum melihat ketiga saudaranya. Saudara? Ya, mereka bertiga berasal dari panti asuhan yang sama dengan Kyuhyun. Menghabiskan delapan tahun bersama-sama membuat keempatnya menjadi sangat dekat. Keheningan tercipta pada keempat anak laki-laki berusia belasan itu. Hanya suara tetesan hujan beradu dengan atap dan juga tanah yang terdengar begitu keras.

"Memikirkannya lagi, hyung?" suara Minho memecah senyap yang ada.

'Aku merindukannya, Minho–ya'

Jari-jari Kyuhyun membentuk isyarat. Pandangannya tak lepas dari tetes-tetes hujan diluar sana. Ketiga anak lainnya hanya menghela nafas. Mereka sudah hafal dengan kebiasaan Kyuhyun. Hujan selalu mengingatkan Kyuhyun akan Donghae.

"Apa kau yakin Donghae hyung masih mengingatmu, Kyu?" tanya Changmin. Anak itu segera meringis menyadari perubahan raut muka Kyuhyun yang menjadi sendu. Rasa bersalah tiba-tiba memenuhi hatinya karena menanyakan pertanyaan yang jelas-jelas membuat Kyuhyun terluka.

Minho menginjak kaki Changmin kesal. "Tentu saja dia masih mengingatnya hyungie pabbo!" ucap Minho cepat. Ia melirik Kyuhyun yang masih diam lalu melotot ke arah Changmin hingga membuat namja itu salah tingkah.

'A –apa menurut kalian Donghae hyung melupakanku? Ini sudah delapan tahun sejak kami berpisah'

Pertanyaan Kyuhyun yang tidak biasanya itu membuat ketiga anak laki-laki disampingnya terkejut. Changmin dan Minho segera menggerakkan telapaknya ke kiri dan ke kanan. "A –aniyo. Aku yakin Donghae hyung masih mengingatmu Kyu. Sudah pasti dia masih mengingatmu." Ucap Changmin disertai Minho yang mengangguk-angguk lucu.

Kyuhyun tersenyum tipis mendengarnya, namun senyum itu tidak mampu menyembunyikan raut sedih dari wajah pucatnya. Membuat Changmin yang melihatnya kembali merutuki mulut cerobohnya yang menanyakan pertanyaan bodoh itu.

"Kyu hyung– " suara Jonghyun terdengar. Kyuhyun menoleh dan mendapati sang adik tengah menatapnya lembut. Ekspresi yang jarang dikeluarkan oleh Jonghyun mengingat anak itu selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi –jangan lupakan kesan angkuh juga kejamnya.

"Bukankah hyung pernah mengatakan pada kami bahwa persaudaraan itu tidak akan lekang oleh waktu?"

Jonghyun memberi jeda sebentar, melirik Changmin dan Minho yang memandangnya dengan senyum yang terukir di bibir keduanya.

"Tidak peduli berapa lama waktu memisahkan kalian, kau tetaplah dongsaengnya Donghae hyung. Persaudaraan itu tidak dilihat dari seberapa lama waktu yang kalian habiskan bersama, tapi rasa sayang yang tidak akan pernah pudar sampai kapanpun"

"Kalau hyung terus-terusan meragu apakah Donghae hyung masih mengingat hyung. Aku yakin perasaan sayang hyung itu akan terkikis oleh ketakutan hyung sendiri. Persaudaraan itu tidak hanya untuk beberapa hari atau jam setelah kalian mengikrarkan diri sebagai seorang saudara, kan? Tapi saudara itu untuk selamanya"

Ketiga anak laki-laki yang mendengarkan Jonghyun berkaca-kaca. Kyuhyun mengusap air matanya yang sempat turun, ia tersenyum pada Jonghyun dan segera memeluk adiknya itu. Yang dikatakan Jonghyun adalah benar. Tidak seharusnya ia meragukan Donghae. Kyuhyun percaya, Donghae tidak akan melupakannya begitu saja. Kyuhyun tersenyum manis, hatinya dipenuhi kelegaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada Jonghyun yang dibalas kedikan bahu oleh anak laki-laki bertampang dingin itu.

"Kau membuatku sedih Jongjong" ucap Changmin dengan ekspresi sedih namun sedetik kemudian ia tertawa lebar melihat Minho yang sudah bercucuran air mata.

"Jangan menertawakanku hyung bodoh!" ucap Minho masih dengan isakannya yang mulai mereda. Jonghyun yang mengerti Minho sensitif terhadap hal-hal seperti ini bangun dari duduknya dan berpindah kesamping bocah imut itu. Tepukan pelan ia berikan di bahu sang adik untuk menenangkannya.

"Kyu..." Changmin menatap Kyuhyun yang balas menatapnya. "Mianhae, mianhae karena menanyakan hal itu dan membuatmu sedih." tambahnya. Raut penyesalan tercetak jelas di wajahnya.

'Belikan aku magnet kulkas dengan gambar kota-kota terkenal di Eropa. Edisi terbarunya akan keluar minggu depan. Kalau kau mau membelikannya untukku, permintaan maafmu kuterima'

Kyuhyun tersenyum jahil melihat ekspresi Changmin yang berubah menjadi kesal. Setidaknya ia lebih senang melihat wajah kesal Changmin daripada melihat raut bersalah di wajahnya.

"Ha ha ha, rasakan kau hyung!" ucap Minho tertawa melihat wajah tertekuk Changmin. "Diam kau gembul!" balas Changmin yang membuat Minho merengut. Pipinya yang overchubby memang sering menjadi bahan usilan ketiga hyungnya. Belum lagi gigi kelinci yang membuatnya tampak seperti bocah Taman Kanak Kanak padahal umurnya tiga belas tahun ini.

'Kalau kau tidak mau ya sudah. Jangan harap aku mau berbicara denganmu tiang!'

Changmin panik. Duh, tentu saja ia tidak mau sampai hal itu terjadi. Kyuhyun yang marah padanya adalah hal yang paling mengerikan bagi hidupnya.

"Aish! Baiklah aku akan membelikanmu magnet kulkas bodoh itu. Dasar tukang ancam!" kesal Changmin. Minho dan Kyuhyun tertawa geli melihatnya. Sedangkan Jonghyun hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua hyungnya yang bertingkah kekanakan itu.

"Jangan perlihatkan wajah pura-pura marah dengan bibir mengerucut seperti itu. Kau itu seperti uke saja, Kyu. Membuatku 'tegang' saja" Changmin menyeringai melihat wajah Kyuhyun yang ketakutan. Ia tertawa dalam hati karena bisa membalas keusilan saudaranya itu. Namun seringai itu tidak bertahan lama karena dua buah jitakan keras mendarat di kepalanya.

PLETAK

"Akhh! Mwoya?" pekik Changmin. Ia mengelus kepalanya yang menjadi sasaran jitakan Minho juga Jonghyun.

"Tinggalkan saja dia Kyuhyun hyung. Dasar mesum! Ayo Jonghyun hyung, kita latihan lagi." Ucap Minho kesal. Ia menarik tangan Jonghyun dan mengajaknya kembali ke ruang latihan. Kyuhyun mengikuti keduanya sambil menutup mulutnya yang tertawa lebar.

"Aku kan hanya bercanda. Lagipula aku masih normal. Kau tahu Victoria f(x)? Suatu saat nanti aku akan berkencan dengannya." Teriak Changmin.

"Dalam mimpimu, hyung!"

'Sial'

.

.

Kyuhyun kembali mendudukkan dirinya di sebuah grand piano hitam dengan ukiran bunga mawar di kap penutupnya. Benda yang telah menjadi sahabatnya selama tujuh tahun belakangan. Tempat jari-jarinya menari di atas tuts-tuts putih juga hitam yang menghasilkan suara yang sangat indah. Piano ini dulunya adalah milik seorang pianis terkenal sahabat Yunho dan Jaejoong. Kyuhyun sempat bertemu dengannya beberapa kali. Siwon hyung –begitu ia memanggilnya.

Siwonlah yang pertama kali membuat Kyuhyun ingin belajar piano. Saat itu, Jaejoong diundang untuk menghadiri resital Siwon di sebuah gedung pergelaran seni di Seoul. Kyuhyun yang saat itu tidak bisa jauh dari Jaejoong memaksa laki-laki cantik itu untuk mengajaknya –tentu saja Jaejoong tidak keberatan.

Kyuhyun sangat terkesan dengan permainan piano yang disuguhkan Siwon. The Blue Danuba sebagai pembuka pertunjukan dimainkan secara apik. Siwon begitu lihai menggerakkan jarinya di atas tuts. Irama Waltz milik Johan Strauss itu terdengar begitu lincah dan riang. Kyuhyun ingat, ia sampai berdiri di kursi untuk bertepuk tangan. Membuahkan lirikan tajam dari orang-orang yang duduk disampingnya.

Ting!

Dentingan pertama saat Kyuhyun menekan telunjuknya di atas tuts putih piano hitam miliknya. Diikuti gerakan kesembilan jarinya yang menghasilkan suara yang mendayu-dayu. Bagatelle no.25 in A minor atau yang lebih dikenal sebagai Fur Elise mengalun indah. Kyuhyun memainkan pianonya dengan penuh perasaan. Layaknya Beethoven yang ingin memberitahukan kepada kalayak betapa ia mencintai seseorang yang bernama Elise. Walau sampai sekarang peneliti lagu Fur Elise tidak bisa menemukan keberadaan wanita yang dicintai Beethoven itu.

Perasaan yang sama dimiliki Kyuhyun. Ia ingin memberitahukan kepada dunia betapa ia mencintai Donghae hyungnya. Walaupun sampai sekarang ia tidak tahu keberadaan kakaknya itu. Alasan dirinya bermain piano sampai saat ini adalah karena dia ingin mencari keberadaan Donghae melalui permainannya. Seperti yang dikatakan Jaejoong delapan tahun silam. Kyuhyun ingin menjadi seseorang yang hebat. Yang bisa dikenal oleh banyak orang. Dan ia yakin, dengan menjadi pianis lah ia bisa mewujudkan impiannya.

Kyuhyun ingin mengadakan resitalnya sendiri. Dimana namanya akan dipajang di gedung pergelaran seni terkenal di Seoul. Orang-orang akan banyak melihatnya, dan ia berharap Donghae adalah salah satunya. Untuk itu ia selalu giat berlatih. Tidak peduli berapa lama ia harus duduk sampai pantatnya panas, ia tidak akan mengeluh. Tidak peduli jarinya pegal dan terasa ingin patah, ia akan terus mencoba memainkan semua lagu dengan apik. Mengabaikan jam makannya bahkan waktu isitirahatnya. Untuk segala sesuatu yang kita inginkan, perlu sebuah usaha keras untuk mendapatkannya, kan?

Tes Tes!

Lagi. Cairan merah itu mengalir lagi dari hidungnya. Kyuhyun berdecak kesal. Ia baru berlatih tiga buah lagu. Ia harus berlatih setidaknya sepuluh buah lagu setiap harinya. Namun darah yang selalu keluar dari hidungnya menghambatnya.

JRREEENGGG

Kyuhyun menjatuhkan kepalanya di atas tuts –menghasilkan suara keras yang memekakkan telinga. Sebutir air mata lolos dari kelopak matanya. Darah merah masih mengalir dari hidungnya namun Kyuhyun tidak peduli.

'Donghae hyung, kapan aku bisa bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu, hyung.'

Buliran bening itu semakin mengalir dengan deras. Untuk pertama kalinya selama delapan tahun ini, Kyuhyun begitu putus asa. Ia berlatih sangat keras untuk menjadi seorang pianis hebat. Tapi kesempatan untuk bertemu Donghae tidak pernah ia dapatkan. Berkali-kali ia mengisi acara pernikahan seseorang, bermain di cafe-cafe, bahkan di jalanan. Tapi tidak pernah sekalipun ia menemukan jejak keberadaan Donghae. Ditambah ia yang belakangan ini sering kelelahan dan mimisan. Membuat porsi latihannya semakin berkurang.

'Harus berapa lama aku menunggumu, hyung?'

Perlahan-lahan iris coklat itu menutup. Meninggalkan piano hitam dengan tetesan air mata juga di darah diatasnya.

.

.

BROTHER

.

.

Sudah sebulan lebih Kyuhyun tinggal di panti asuhan milik Jaejoong. Panti asuhan itu terletak di kota Yeongju –sebuah kota pinggiran sebelah tenggara Korea. Jarak dua ratus lima puluh kilometer dari Seoul membuat kota itu tidak terjamah gemerlap kota besar seperti Seoul. Menjadikannya sebuah kota yang tenang dan masih asri.

Bocah itu selalu mengikuti Jaejoong kemanapun laki-laki cantik itu pergi. Jaejoong sendiri adalah seorang mahasiswa semester enam yang mengambil jurusan seni peran di salah satu Universitas yang ada di Yeongju. Pagi itu, Kyuhyun bangun dari tidurnya. Ia mencari Jaejoong di semua sudut panti, namun ia tak mendapati hyung kesayangannya itu. Ah! Ini hari Senin, sudah pasti hyung-nya itu sedang berada di kampus untuk menuntut ilmu.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Ia bingung harus melakukan apa tanpa Jaejoong yang menemaninya. Dengan asal, ia melangkahkan kakinya menuju taman di belakang panti. Ia berhenti saat melihat dua anak laki-laki sedang memperebutkan ayunan yang hanya tersedia satu di taman itu.

"Aku duluan pokoknya!" teriak anak laki-laki dengan gigi kelincinya yang membuat wajahnya terlihat sangat imut.

"Sudahlah Changmin hyung, biarkan Minho yang naik duluan." Seorang anak laki-laki yang berdiri mengamati keduanya melerai. Anak itu sangat tampan. Namun entah mengapa Kyuhyun takut melihatnya –tatapan matanya sangat tajam menurutnya.

"Aish! Ya sudahlah, kau duluan. Hyung yang akan menjagamu dari belakang." Anak laki-laki yang kurus tapi tinggi itu mengalah. Ia hanya menghela nafas saat melihat anak bergigi kelinci tadi melonjak-lonjak bahagia.

"Eh! Nuguya?"

Kyuhyun gemetar saat ketiga anak tadi sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik. Kyuhyun sadar selama sebulan ini ia hanya menghabiskan waktunya dengan menyendiri ataupun dengan Jaejoong. Sudah pasti anak-anak lain di panti ini tidak menyadari keberadaannya.

"Apa kau anak baru yang diceritakan Jaejoong hyung? Wah.. Kau imut sekali, cocok menjadi dongsaengku."Anak laki-laki yang tinggi tadi menyengir lebar.

"Minho imnida. Umulku lima tahun. Senang bertemu denganmu, ekhm.. apa aku halus memanggilmu, hyung? Atau saeng? Tapi kau lebih tinggi daliku. Aku jadi bingung." Anak bergigi kelinci tadi bernama Minho. Dalam hati, Kyuhyun tersenyum geli melihat Minho yang masih cadel itu.

"Shim Changmin imnida. Umurku delapan tahun minggu depan. Hehe... Kau harus mentraktirku makan saat ulang tahunku nanti. A –Akkh! Yak kenapa memukulku."

"Jangan dengarkan dia. Namaku Jonghyun. Senang berkenalan denganmu" Kyuhyun sedikit takut melihat tatapan Jonghyun yang tajam.

"Tidak pelu takut. Jonghyun hyung memang telihat sepelti olang jahat. Tapi dia hyung yang baik kok."

Jonghyun merengut mendengar ucapan Minho. Ia menjitak kepala Changmin yang menertawainya. Kyuhyun tersenyum melihat keakraban tiga anak itu.

"Kau belum memperkenalkan dirimu." Kata Changmin

Kyuhyun tertegun. Benar ia belum memperkenalkan diri. Tapi ia langsung bingung, bagaimana caranya ia bisa memperkenalkan diri jika dirinya tidak bisa berbicara. Ia melihat ke sekeliling, mencari apakah ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menulis. Kyuhyun segera berlari menuju tanah kering yang ada di taman itu. Mengambil sebuah tangkai daun lalu menulis diatas tanah kering tadi. Ketiga anak itu hanya memandangnya heran.

"Jadi namamu Kyuhyun?" Kyuhyun mengangguk menjawab pertanyaan dari Changmin. "Berapa umurmu?"Kyuhyun segera menulis lagi.

"Wah, hyung lebih tua daliku. Oke, mulai sekalang Minho akan memanggilmu hyung."

"Kau tidak bisa berbicara?"

Kyuhyun mengangguk. Ia dapat melihat raut terkejut di wajah ketiganya. Ia sudah ingin menangis rasanya. Bagaimana kalau mereka bertiga tidak mau berteman dengannya karena ia bisu.

"Tidak apa-apa. Kau bisa menulis untuk mengatakan sesuatu. Mulai sekarang kita berteman ya." Ucapan Changmin membuat hati Kyuhyun dipenuhi rasa bahagia. Matanya berkaca-kaca melihat Jonghyun dan Minho yang tersenyum padanya.

"Berapa tanggal lahirmu?" tanya Changmin tiba-tiba. Kyuhyun menggerakkan jarinya.

"Jinja! Kau lebih tua dariku. Tapi kenapa wajahmu lebih imut dibandingkan denganku?"

"Itu karena mukamu boros, hyung." timpal Jonghyun. Minho tertawa keras mendengarnya sedangkan Jonghyun hanya menampilkan wajah datar andalannya.

Kyuhyun tertawa melihat Changmin yang masih cemberut. Untuk pertama kalinya selama di panti, ia merasa begitu bahagia. Tanpa mereka sadari, Jaejoong yang melihat mereka tersenyum haru. Ia memang pulang lebih awal tadi karena kuliahnya tiba-tiba saja dibatalkan.

"Hyung senang melihatmu bahagia, Kyu."

Tuhan itu maha adil. Ketika Ia menciptakan kesedihan –Ia sudah mempersiapkan kebahagiaan sebagai obatnya. Takdir yang ditulis-Nya pun seperti itu. Tidak selamanya takdir hanya menuliskan keburukan untukmu. Percayalah, entah itu takdir baik atau buruk –setiap takdir memiliki arti tersirat yang akan membuatmu menjadi manusia yang lebih baik lagi.

.

.

Setahun terlewati, kini Kyuhyun kembali menjadi Cho Kyuhyun yang dulu -Bocah manis, pintar dan juga jahil. Tahun ini, ia melanjutkan Sekolah Dasarnya yang sempat berhenti karena peristiwa itu. Bersama Changmin, Minho, dan juga Jonghyun –mereka berempat menghabiskan waktu yang mereka miliki bersama-sama.

"Hyung, aku bosan! Ayo bermain." Minho sekarang sudah tidak cadel lagi. Ia menarik-narik lengan baju Changmin untuk menarik perhatiannya.

"Aish! Jangan menggangguku Minho –ya. Kyu, cara mengerjakan soal yang ini bagaimana?" Changmin mengabaikan Minho yang cemberut. Ia kembali berkutat dengan soal matematika yang diberikan seongsanimnya. Changmin dan Kyuhyun sedang mengerjakan tugas mereka. Keduanya berada pada tingkat yang sama dan bersekolah di sekolah yang sama.

"Jangan mengacuhkanku, hyungie!" teriak Minho.

"Kami sedang sibuk Minho –ya. Kau bermain saja dengan Jonghyun." Ucap Changmin kesal.

"JongJong hyung belum pulang. Aku mau main sekarang. Hiks... Hyungie jahat... Hyungie tidak sayang lagi pada Minho."

Changmin memutar bola matanya kesal melihat tingkah manja Minho. Ia baru saja akan memarahi Minho tapi tepukan Kyuhyun di pundaknya membuat ia hanya menghela nafasnya.

'Mianhae tadi hyung masih mengerjakan tugas. Minho mau main apa? Ayo hyung temani.'

Minho melompat bahagia membaca tulisan Kyuhyun. Ia segera menghentikan tangisnya dan menarik Kyuhyun keluar dari kamar tidur mereka. Oh jangan lupakan mehrong imutnya yang membuat asap di kepala Changmin semakin mengepul.

Keduanya baru saja akan membuka pagar namun seruan dari Jonghyun menghentikan mereka.

"Eh? Hyung sudah pulang?" tanya Minho. Jonhyun hanya mengangguk. Kyuhyun menyadari bahwa dongsaengnya itu sedang gelisah. Terlihat dari jari-jarinya yang bergerak tak teratur. Kebiasaan Jonghyun yang sering Kyuhyun amati.

"Jaejoong hyung meminta kita untuk berkumpul di gedung pertemuan." Ucapnya.

DEG

Jantung Kyuhyun berdetak keras. Keringat dingin mulai membasahi pori-porinya. Kalau Jaejoong sudah meminta mereka untuk berkumpul seperti ini. Hanya satu hal yang terlintas di otak Kyuhyun: adopsi.

Jonghyun dan Minho menurut saat pengurus panti yang lain memintanya untuk masuk ke barisan. Terlihat Changmin sudah berbaris tak jauh dari keduanya. Kyuhyun segera memeluk Jaejoong. Ia tidak ikut dalam barisan itu, karena Jaejoong lah yang telah mengapdosinya setahun silam. Sejak awal pertemuan mereka. Ia bahagia tentu saja –tapi melihat ketiga dongsaengnya berada dalam barisan itu. Yang artinya sewaktu-waktu mereka bisa saja bisa diadopsi dan pergi meninggalkannya –tentu saja hal itu membuatnya tidak bisa tenang.

Sepasang Suami Istri yang masih muda tampak memasuki gedung pertemuan. Jaejoong menyambut keduanya dan berbincang-bincang sebentar. Dan sekarang lah waktu yang membuat Kyuhyun ketakutan. Wanita itu tersenyum pada anak-anak yang sedang berbaris. Senyumnya meneduhkan –Kyuhyun menyukainya. Wanita itu sesekali bertanya nama mereka. Tersenyum sambil mengangguk lalu kembali berjalan.

DEG

"Siapa namamu, sayang?"

Hati Kyuhyun sesak saat melihat wanita itu berjongkok dihadapan Minho. Tersenyum lembut padanya dan mengusap helai rambut Minho penuh sayang.

"M –minho." Jawab Minho.

"Yeobo, aku menyukainya." Wanita itu berdiri lalu tersenyum manis pada suaminya. "Aku juga yeobo." balas sang Suami. "Jaejoong –si. Kami berdua menyukainya. Kalau tidak keberatan, kami ingin segera mengurus surat-surat adopsinya." Tambahnya lagi.

"Minho –ya, ahjumma menyukai Minho. Ahjumma ingin menjadikan Minho sebagai anak ahjumma dan membawa Minho pulang kerumah. Minho mau ya?" tanya wanita yang bergelar Nyonya Choi itu.

Minho terdiam. Ia bingung mau menjawab apa. Di satu sisi ia senang karena ada yang mau mengadopsinya. Itu artinya, ia akan mempunyai Ayah dan Ibu –seperti yang sudah lama diinginkannya. Tapi ia juga sedih, karena jika ia mengiyakan tawaran wanita didepannya ini, ia akan meninggalkan ketiga hyungnya. Dan ia tidak mau itu terjadi.

"Nyonya Choi, mari ikut saya ke kantor" ucap Jaejoong. Wanita itu mengangguk –mencium pipi Minho sebentar– lalu bersama Tuan Choi berjalan mengikuti Jaejoong.

Anak-anak yang lain sudah kembali ke aktivitas mereka. Tinggalah mereka berempat di ruangan yang luas ini. Keheningan melanda keempatnya.

"C –Chukae ne, Minho-ya." Changmin yang pertama kali berbicara. Ia tersenyum namun setetes air mata mengaliri pipinya. Changmin buru-buru menyekanya lalu menyengir lebar.

"Pergilah ke kantor Minho-ya. Mereka pasti menunggumu. Kajja Kyu, Jongjong kita kembali ke kamar." Ajak Changmin tanpa menghiraukan Minho yang sudah berkaca-kaca.

"Aku tidak mau diadopsi hyung." ujar Minho. Namun Changmin tetap tidak menghentikan langkahnya. Kyuhyun bingung. Disatu sisi ia ingin menenangkan Minho yang mulai menangis, tapi ia tidak akan kuat melihat dongsaengnya meninggalkannya. Akhirnya ia lebih memilih mengikuti Changmin yang sudah tak terlihat. Jonghyun pun melakukan hal yang sama.

"Apa kita tidak keterlaluan, hyung?" tanya Jonghyun. Ketiganya telah berada di kamar mereka. Changmin mengunci pintu kamar lalu membuang kuncinya entah kemana.

"Itu yang terbaik untuk Minho." Ucap Changmin walau hatinya berdenyut sakit saat mengucapkaan hal tersebut.

DOK! DOK! DOK!

"Hyungie... Buka pintunya! Aku ingin masuk."

Teriakan Minho membuat ketiganya terlonjak kaget. Mendengar tangisan Minho membuat perasaan ketiganya kacau. Sungguh, mereka terlalu menyayangi Minho. Mengetahui anak itu menangis adalah hal yang tidak ingin mereka lihat di dunia ini.

"Aku tidak mau diadopsi. Hiks... Aku ingin bersama kalian... Hyungie..." teriakan Minho semakin keras.

"KAMI BUKAN HYUNGMU MINHO-YA!" teriakan Changmin yang begitu kencang membuat Kyuhyun dan Jonghyun kembali tersentak kaget. Ada jeda sesaat. Bahkan suara isakan Minho tidak terdengar lagi.

"Tumbuh bersama di panti ini bukan berarti kalau aku ini adalah hyungmu. Kita bahkan tidak punya hubungan darah apapun. Jadi berhentilah berfikir kalau kami ini adalah hyungmu, Minho -ya" suara Changmin berubah memelas. Air mata telah membanjiri pipinya.

Kyuhyun kembali merasakan sakit di hatinya. Perasaan yang sama ketika Donghae meninggalkannya. Setetes air mata lolos dari iris coklatnya. Diikuti puluhan lainnya hingga membuat pipi putihnya basah oleh air mata.

"Bohong..." balas Minho. "Kalau kalian bukan hyungku, kenapa kalian peduli padaku?"

"Jonghyun hyung..." Jonghyun tersentak saat suara Minho memanggil namanya. Matanya menutup erat berusaha menghalau air mata yang hendak turun. "Hyung selalu melindungiku, bahkan hyung rela dipukuli oleh anak-anak jalanan yang ingin menggangguku. Hyung ingat kan? Kalau hyung bukanlah hyungku, Hiks...kenapa kau mau melindungiku?"

Pertahanan Jonghyun pecah sudah. Untuk pertama kalinya, Kyuhyun melihat Jonghyun menangis. Ia segera menarik Jonghyun kedalam pelukannya. Membiarkan dongsaengnya itu terisak di dadanya.

"Kyuhyun hyung... Walaupun aku baru mengenalmu setahun ini. Hiks... Tapi aku sudah menganggapmu hyungku. Kau selalu menemaniku bermain, kau juga yang selalu membantuku mengerjakan tugas sekolahku. Jebal hyung... Hiks... Aku tidak ingin pergi... Jebal, buka pintunya...Hikss"

Hati Kyuhyun begitu nyeri mendengar ucapan Minho. Kyuhyun tak tahan lagi, ia melepas pelukan Jonghyun dan segera mencari kunci kamar yang dibuang Changmin. Ia ingin segera menarik Minho ke dalam pelukannya dan menghentikan tangis bocah itu.

"Apa yang kau lakukan, Kyu?" sentak Changmin. Ia merebut kunci yang telah ditemukan Kyuhyun. Menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat Kyuhyun bergidik ngeri. Kyuhyun menggerakkan tangannya frustasi. Ia ingin berbicara –ia ingin berteriak. Ia tidak ingin karena kebodohan sahabatnya itu, ia akan kehilangan orang yang disayanginya lagi.

"ANDWE... ANDWE... Aku tidak ingin pergi Jaejoong hyung! Kyuhyun hyung... Jebal buka pintunya.. Hiks... Jonghyun hyung... Changmin hyung... Jebal..."

Jonghyun mengeraskan tangisnya. Tubuh Changmin bergetar hebat. Isakannya semakin kuat. Ia menutup kedua telinganya –tidak ingin mendengar teriakan Minho juga sayup-sayup suara Jaejoong yang mengajaknya untuk menemui orangtua barunya.

Kyuhyun tak kalah gemetar, suara Minho perlahan-lahan tidak terdengar. Ketakutan segera melanda hatinya, Kyuhyun tidak ingin ditinggalkan lagi.

'Buka pintunya! Aku tidak ingin Minho pergi.'

Kyuhyun memberi Changmin pukulan-pukulan kecil. Ia begitu putus asa karena Changmin yang begitu keras kepala.

"Kau pikir aku ingin dia pergi, eoh? Aku hidup dengannya lebih lama dibandingkan dengan keluargaku sendiri. Aku bahkan melihat bagaimana ia ditinggalkan di depan panti oleh Ibu kandungnya. Aku yang menggendongnya pertama kali sejak saat itu. KAU PIKIR AKU INGIN DIA PERGI?"

Nafas Changmin memburu. Ia begitu lelah menghadapi semuanya. Orang lain tidak mengerti bagaimana rasa sayangnya terhadap Minho.

'Kalau kau tidak mau dia pergi. Cepat susul dia bodoh!'

Kyuhyun mengusap air matanya kasar. Ia tengah menahan amarahnya. Ia tidak mengerti. Jika Changmin tidak ingin Minho pergi, harusnya ia menghentikannya. Bukan hanya menangisinya tanpa melakukan apapun.

"Itu untuk ... Hiks... kebahagiaan Minho, Kyuhyun –ah." Balas Changmin. Isakannya tak kunjung berhenti. Bahkan pipinya mulai memerah karena lama menangis. Kyuhyun menatapnya tak mengerti.

"Dengan Minho diadopsi, ia akan mempunyai keluarga lengkap seperti yang ia impikan. Masa depannya juga akan terjamin, ia akan mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada di panti. Aku tidak ingin dia pergi. Tapi apa yang bisa kuberikan untuknya? Aku tidak bisa menjamin masa depan yang baik untuknya. Kumohon mengertilah..."

Air mata kembali lolos dari kelopak mata Kyuhyun. Ia sekarang mengerti. Changmin hanya ingin Minho bahagia. Mengabaikan hatinya yang mungkin tersakiti karena ditinggalkan oleh salah satu dongsaengnya. Keluarga yang ia miliki walau tak ada ikatan darah antara keduanya.

"T –tapi Minho bahagia bersama kita Changmin, hyung" sela Jonghyun. Ia bangkit dari duduknya lalu memeluk Changmin yang kini merosot jatuh ke lantai. "Bukankah Minho pernah berkata kalau ia akan bahagia asalkan kita berempat selalu bersama-sama. Aku sudah tidak punya Ayah dan Ibu. Hanya kalian bertiga yang kumiliki sekarang. Hiks... Aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi, hyung."

Changmin tersentak saat mendengar ucapan Jonghyun. Hatinya nyeri melihat Jonghyun yang jarang mengungkapkan perasaannya kali ini mengutarakan apa yang tengah ia rasakan.

"Mian.. Hiks... Mianhae Jonghyun –ah." Changmin memeluk Jonghyun erat. Rasa bersalah memenuhi hatinya.

Kyuhyun mengambil kunci yang ada di genggaman Changmin. Ia segera membuka pintu kamar dan berlari mencari Minho. Rasanya seprti de javu, rasa takut karena ditinggalkan membuat hatinya begitu nyeri. Ia tidak ingin merasakannya lagi.

Mata Kyuhyun melebar melihat Minho yang menangis dalam gendongan Nyonya Choi. Ia juga bisa melihat Jaejoong yang membawakan barang-barang milik Minho. Kyuhyun semakin mempercepat larinya.

"Kyuhyun hyung!" teriak Minho saat melihat Kyuhyun. Ia memberontak dalam pelukan Nyonya Choi. Merasa kewalahan, wanita itu menurunkan Minho dan bertanya ada apa.

"Kyuhyun hyung, aku tidak ingin pergi. Kumohon beritahu mereka, hyung. Hiks..." Minho menarik tangan Kyuhyun dan merapatkan tubuhnya pada sang hyung. Kyuhyun segera menggendong Minho. Ia mengelus tubuh dongsaengnya yang bergetar hebat itu.

"Kyu, turunkan Minho ne. Tuan dan Nyonya Choi ingin membawa Minho pulang." Ucap Jaejoong. Laki-laki itu menahan tangisnya saat melihat iris coklat itu menyiratkan kesedihan. Sama seperti awal ia menemukan Kyuhyun.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia menggerakkan mulutnya. Tangannya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Tuan dan Nyonya Choi menatap Kyuhyun tidak mengerti.

"Kyu ingin mengatakan apa?" tanya Jaejoong. Jujur ia juga tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Kyuhyun.

Kyuhyun begitu putus asa, ia merutuk karena dirinya tidak bisa berbicara.

"Kumohon jangan bawa Minho pergi, Tuan-Nyonya." Suara Changmin terdengar. Anak itu segera berlutut di depan Tuan dan Nyonya Choi. Ia mengatupkan jemarinya seraya memohon. Tuan dan Nyonya Choi yang melihatnya terkejut. Wanita itu segera berjongkok menyetarakan tingginya dengan Changmin. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Changmin.

"Minho adalah dongsaengku. Aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini selain mereka. Kumohon, jangan membawanya pergi dariku."

"Aku juga memohon kepadamu Nyonya. Hiks..." Jonghyun ikut berlutut disamping Changmin.

Kyuhyun yang melihat mereka, ikut melakukan hal yang sama. Ia menurunkan Minho dari gendongannya dan mulai berlutut disamping Jonghyun. Tuan dan Nyonya Choi shock melihat mereka. Jaejoong mengusap air matanya kasar. Laki-laki cantik itu hanya mengamati anak asuhnya dalam diam. Dalam hati ia memohon kepada keluarga Choi agar membatalkan keinginan mereka untuk mengadopsi Minho. Karena sungguh, melihat air mata mereka membuat hatinya begitu sakit.

"Ahjumma, Ahjussi..." Minho berucap pelan. Ia memeluk Nyonya Choi yang kini berlinangan air mata. "Aku berterima kasih karena Ahjumma dan Ahjussi mau mengangkatku sebagai anak. T-tapi aku tidak bisa hidup tanpa hyungdeul. Aku... Hiks... sangat menyayangi mereka."

Nyonya Choi mengusap air mata yang mengalir di pipi Minho. Dikecupnya pipi chubby bocah yang telah merebut hatinya itu. "Minho –ya" ucapnya setelah memantapkan hati. "Ahjumma menyayangi Minho. Ahjumma tidak ingin melihat Minho bersedih dan menangis lagi seperti ini. Apa Minho mau berjanji satu hal pada ahjumma?"

Minho memiringkan kepalanya, membuat pose imut hingga membuat wanita itu kembali mengecup pipinya. "Apa itu, ahjumma?" tanyanya.

"Berjanjilah untuk selalu bahagia. Maka ahjumma tidak akan memisahkan Minho dari hyungduel."

"Jinjaaa? Benarkah ahjumma?" tanya Minho memastikan. Nyonya Choi mengangguk. "Ne, Minho tidak akan bersedih lagi. Pinky promise" ucapnya lagi sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Nyonyai Choi tersenyum melihat tingkah Minho yang lucu. Ia menautkan kelingkingnya pada jari kelingking Minho.

"Hyungdeul... Aku tidak jadi pergi." Ucap Minho bahagia. Ia segera memeluk ketiga hyungnya erat.

Kyuhyun, Changmin, dan Jonghyun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Keempatnya menangis bersama. Changmin berkali-kali meminta maaf kepada Minho karena telah mengatakan hal-hal yang menyakitkan.

Nyonya Choi memeluk suaminya erat. Ia mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti. Rasa haru memenuhi hatinya saat melihat persaudaraan mereka. Ia tidak ingin egois dengan memaksa Minho untuk mengikuti keinginannya. Karena baginya, kebahagian Minholah yang utama.

Jaejoong mengusap air matanya yang mengalir deras. Ia segera merangkul Tuan Choi dan mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Laki-laki itu.

'Aku menyayangi kalian, saeng.'

Persaudaraan itu tidak hanya dilihat dari Ibu maupun Ayah yang sama. Tidak juga dari susunan kromosom yang sama hingga DNA pun juga sama. Tapi persaudaraan juga dilihat dari rasa sayang yang tidak akan pernah pudar sampai kapanpun. Persaudaraan itu tidak hanya bagi mereka yang sedarah. Karena darah hanyalah huruf A, B, AB, dan O yang terbentuk dari kumpulan keping darah juga substansi biokimia yang semua orang juga memilikinya. Tapi persaudaraan itu juga bagi mereka yang rela mengorbankan apapun untuk orang yang disayanginya. Yang menginginkan kebahagiaan mereka diatas kebahagiaannya sendiri. Karena dengan melihat mereka bahagia –ia juga akan bahagia.

.

.

BROTHER

.

.

Leeteuk menelan ludahnya gugup. Kini ia duduk berhadapan dengan seorang Dokter yang menangani kedua dongsaengnya. Pemuda itu panik setengah mati saat mendapat kabar bahwa Donghae tidak sadarkan diri hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit. Ia segera memacu mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Donghae dirawat. Dan betapa terkejutnya pemuda itu mengetahui bahwa dongsaengnya yang lain juga dalam keadaan yang sama. Tidak sadarkan diri dan harus mendapatkan perawatan seperti Donghae. Dan sekarang, ia tengah membahas keadaan salah satu dongsaengnya dengan Dokter bernama Kim Hyunsik itu.

"Saat ini kondisi adik anda sudah stabil. Hindari pola makan yang tidak teratur juga kelelahan yang berlebihan. Saya sudah memberikan beberapa obat yang dapat menurunkan kadar asam lambungnya yang tinggi."

Leeteuk menghela nafasnya lega. Ia mengangguk lalu mengucapkan terimakasih kepada Dokter.

"Ekhm, Leeteuk-si. Ada hal lain yang ingin saya beritahukan kepada anda. Selama pemeriksaan tadi, saya menemukan kelainan pada lambung adik anda. Saya belum bisa menyimpulkan penyakitnya karena kami memang belum melakukan pemeriksaan diagnostik terhadap adik anda."

DEG

"Saya khawatir kalau itu adalah sebuah bentuk keganasan. Untuk itu, saya menyarankan adik anda untuk melakukan beberapa pemeriksaan organ dalam untuk mengetahui diagnosa yang tepat terhadap temuan tadi."

Leeteuk terdiam. Setetes air mata menetes mengaliri pipinya.

'Tuhan, tidak bisakah Kau berikan sedikit kebahagiaan kepada dongsaengku?'

.

.

[KYUHYUN POV END]

.

.

BROTHER

.

.

Dari adik untuk seluruh kakak di dunia ini

Untukmu –seseorang yang kupanggil kakak.

Apa kau tahu seberapa menyebalkannya dirimu? Menyuruhku melakukan ini - itu dengan suara angkuhmu. Memerintahku dengan segala kekuasaanmu. Hanya karena kau lahir lebih dulu maka aku yang harus menuruti perintahmu. Cih! Aku bukan pembantumu asal kau tahu. Bahkan, Ayah dan Ibu saja jarang memerintahku.

Belum lagi kalau kau marah-marah padaku hanya karena kau menganggapku mengganggumu. Duh! Kuberitahu saja ya, aku bukan pengganggu dan aku tidak ingin mengganggu. Hanya saja aku penasaran apa yang sedang kau lakukan hingga kau mengacuhkanku. Jujur saja, aku benci diacuhkan. Apalagi olehmu.

Kau sering membuatku menangis dan ketakutan dengan sikapmu. Ketika bertengkar, kenapa kau yang selalu menang dan berakhir dengan aku yang menangis. Hal-hal seperti itu yang membuatku begitu membencimu.

Kalau sudah begitu, Ibu selalu bilang kalau sebenarnya kau menyayangiku. Aku hanya mendengus mendengarnya. Ibu bilang kau dulu begitu senang saat aku lahir di dunia ini. Kau selalu menjagaku saat aku masih bayi, menggendongku, menciumku, mengajakku bermain, mengajariku segala hal, bahkan kau menangis saat aku sakit, hal-hal yang tak pernah kau lakukan lagi saat aku sudah sebesar ini. Aku tidak percaya, toh aku tidak bisa mengingatnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, ingatanku semakin menguat. Aku ingat kau menggendongku saat aku menangis, kau yang mengajariku naik sepeda roda empat, kau menyuapiku, memandikanku, kau juga yang mengajariku cara membaca dan menulis. Hal-hal yang tidak bisa diberikan oleh Ayah dan Ibu, kaulah yang memberikannya untukku.

Aku juga baru ingat, kalau rumah sedang sepi karena Ayah dan Ibu bekerja, siapa lagi yang akan menemaniku bermain di rumah?

Itu kau,

Seseorang yang akan mengajakku bermain dengan teman-temannya walau sebenarnya ia ingin waktu luang untuk dirinya sendiri. Seseorang yang akan mengalah untukku, mengajariku hal-hal baru yang tidak kuketahui sebelumnya, tempat aku bercerita selain kepada Ayah dan Ibu, seseorang yang menyayangiku dengan cara yang tak ia tunjukkan secara langsung.

Itu Kau –Kakak.

Dan ketika mengingat itu semua, rasa benciku menghilang tanpa bekas.

Aku tahu, dibalik pujan dan kata sayang yang diucapkan oleh Ayah dan Ibu untukku. Kau merasa iri kan kak? Iri karena mereka lebih memperhatikanku dan mengabulkan semua keinginanku. Hingga terkadang kau menyebut Ayah dan Ibu lebih menyayangiku daripada dirimu. Apa kau tahu kak? Justru akulah yang diam-diam iri padamu.

Aku mengagumi segala hal yang ada pada dirimu. Kau diluar sana begitu bersinar –tidak seperti aku yang masih berada dalam kungkungan Ayah dan Ibu. Diam-diam aku tersenyum bangga saat melihatmu lagi-lagi memperoleh peringkat di kelas, memenangkan berbagai lomba, dan prestasi-prestasimu lainnya. Diam-diam aku selalu meniru gayamu dalam berpakaian, caramu berbicara, sikapmu dan hal-hal lain yang menurutku membuatmu tampak bersinar. Yah, aku memang iri padamu.

Terkadang aku mengingat waktu dimana hanya ada kita berdua. Bermain bersama, bercerita, hal-hal yang biasa kita lakukan saat kita berdua masih kecil. Tapi aku tahu waktu terus berjalan, kau semakin dewasa, begitupula denganku. Kau dengan teman-teman, pekerjaan, ataupun dengan keluarga barumu. Meninggalkanku di rumah dengan Ayah dan Ibu.

Tanpa sadar –aku merindukanmu.

Maaf karena tidak pernah mengucapkan terima kasih atau kata maaf padamu. Aku hanya terlalu malu untuk mengatakannya. Ketahuilah, walaupun ada orang lain diluar sana yang lebih baik, lebih cantik, lebih tampan, lebih dan lebih segalanya darimu. Tapi aku hanya ingin menjadi adikmu. Karena yang sepertimu Kak, dimana lagi aku mendapatkannya?

Saranghae.

.

.

TBC

.

.

Bagi kalian, apa arti keluarga?


PREVIEW LAST CHAPTER:


"Bohong! Kau bohong hyung!"

"Maafkan Ayah, Hae –ah"

"Setelah bertemu dengannya kau akan meninggalkan kami. Itu benar kan? KATAKAN KALAU ITU BENAR!"

"Kau adalah dongsaengku, selamanya akan seperti itu Minho –ah"

"Kumohon, lakukan apapun asal itu dapat membuatnya sembuh."

"Ayolah Hae, minum obatmu. Apa kau ingin melihat hyung sedih, eoh?"

"Aku bisa gila kalau dia meninggalkanku. Kumohon sekali ini saja, aku ingin menjadi seorang kakak yang sebenarnya untuknya."


.

ADA APA DENGAN FFN?

Aku benar-benar shock waktu buka FFN tapi yang muncul malah kata-kata permintaan maaf, halaman tidak bisa ditemukan. Nggak di HP, Laptop bahkan di Warnet. Dan itu berkali-kali setiap aku coba buka FFN. Sampai akhirnya aku capek dan ya sudahlah~ mungkin jaringan lagi error.

Dan yang paling ngeselin itu waktu ke warnet. Aku cuma tanya, kalau misal ada web yang nggak bisa ditemukan itu kenapa ya. Eh... penjaga warnetnya malah bilang 'kok sukanya buka situs mesum sih?'

ASDFGHJKL #$%^&?

Mwoyaaaa? Maksudnya apa coba? Serius! Saking keselnya, aku sampe nggak bilang makasih waktu bayar.

Darisitu, aku googling kenapa FFN nggak bisa dibuka. Eh ternyata ada beberapa kartu yang emang negblokir FFN. Dan kartuku termasuk salah satunya. Mau ganti kartu, tapi sayang~~ Ini kartu udah dari jaman awal SMA. Mungkin ada niatan buat ganti kartu modem, tapi masih bingung yang bisa buka FFN kartu apa.

Untuk keterlambatan update, aku benar-benar minta maaf. Sungguh, aku sempat kehilangan feel buat nerusin nulis FF. Soalnya aku bingung mau ngepost dimana. Sempat ada rencana mau bikin blog pribadi, tapi aku tipe orang yang kalau sudah nyaman disatu tempat bakalan susah kalau mau pindah-pindah. Aku udah terlanjur nyaman di FFN. Dan beruntung, hari ini ada temannya adek yang nginep dirumah. Bawa modem pula~~ akhirnya bisa pinjam sehari buat update. #gomawo Haizza :*

Aku juga minta maaf kalau feel di chapter ini kurang greget. Ya itu tadi –gara-gara hilang feeling buat nulis FF. Mianhae~~

Oh iya, Minal aidzin wal Faidzin ya. Maaf telat banget #salahin FFN yang kagak bisa dibuka. Maaf juga untuk setiap review yang belum sempat terbalas. Tapi aku benar-benar berterima kasih sama kalian. #Bow 90 derajat

Maaf ya jadi curhat panjang lebar kayak gini. Huhuhu

Last Chapter ditunggu ya,

Have a ni ce day. Stay health and Jeongmal Sranghaeyoooooooo :-*