What Do You Expect for?

Cast: Sehun, Jongin, Luhan, Baekhyun, Kyungsoo, Minseok, Kris, Chanyeol

Genre: Romance, Drama, Family, Marriage-life

Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.

Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!, M-Preg

Summary: Sequel of 'The Love Curse'. Sehun hamil? Bagaimana kelanjutan hubungan Luhan dan Baekhyun, begitu juga Kyungsoo yang masih nekad memacari Minseok yang sudah bukan tutor dikelas tambahan matematikanya! Dan Kris yang ingin segera menikahi Chanyeol setelah ini. KaiHun, LuBaek, XiuDo, KrisYeol. M-Preg, BL!


Chapter 4

~Happy Reading!~

"Kau hutang penjelasan padaku hm."

Baekhyun hanya menunduk. Ia hanya diam.

Luhan mengajak Baekhyun ke sebuah taman. Ya, tempat dimana mereka selalu berjanji bertemu disitu. Luhan mengeratkan genggaman tangannya ditelapak mungil Baekhyun, "Hey, kau bisa katakan apapun padaku, aku hanya ingin kau jujur. Kau pasti sedang ada masalah—"

Luhan menghela nafasnya, "Sampai kau menghindariku seperti itu."

Baekhyun menengok kearah Luhan, terbersit tatapan sedih dalam kilatan matanya. "Lu-luhan aku tak bermaksud, maksudku adalah—aku—" Oke, Baekhyun bingung harus memulai darimana.

"Ini pasti ada hubungannya denganku kan, pasti karena aku." Baekhyun menggeleng cepat.

"B-bukan begitu Luhannie a-aku—" Baekhyun menunduk.

"A-aku—" Baekhyun benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Luhan menyamping kearah Baekhyun, membuat Baekhyun juga melakukan hal yang sama. "Baek, ucapkan saja. Jelaskan semuanya. Aku hanya ingin tahu." Luhan mengusap kepala Baekhyun lembut lalu menggenggam kedua tangannya lagi.

Baekhyun menunduk lagi, ia menarik nafas dalam-dalam, "Aku sudah bilang kepada appaku—" ia sudah memulai penjelasannya.

Luhan semakin penasaran dengan apa yang kekasihnya akan katakan, "Tentang rencana pernikahan kita, tentang aegy yang ada didalam perutku ini." Baekhyun menatap perut datarnya dengan sedih.

"T-tapi dia justru membentakku dan terang-terang bilang bahwa aku harus menggugurkan—"

Air matanya menetes, "Anak ini. Aegy kita."

Hati Luhan mencelos, "B-baek—"

Baekhyun menatap kesembarang arah, berusaha menghindari tatapan dari kekasihnya, "Dia bahkan mengurungku dikamar seperti yang biasa dia lakukan padaku sejak dulu. Kau tahu Lu—"

Luhan mengeratkan tautan jari mereka, "Bisa bertemu denganmu saja aku harus kabur—"

Luhan membulatkan kedua matanya tak percaya, "M-mwo?"

"Ia hanya akan mengijinkanku keluar jika aku mengatakan harus ke toko kue ku. Mengurus usaha kecil pribadiku. Ia tak keberatan akan hal itu."

Baekhyun tersenyum miris dalam tangisnya, "Hh, bahkan bisa bersamamu seperti ini aku sudah sangat bersyukur ini seperti mimpi, walaupun harus diam-diam. Semenjak aku mengenalmu aku bisa melihat dunia luar yang begitu luas. Bukan malah tersingkur di dalam ruang sempit."

"Lalu setelahnya, aku akan mengendap-endap masuk kerumah sebelum appaku pulang dari kantornya."

"Kau tidak tahu semua tentangku kan?"

"Luhan aku mencintaimu, t-tapi aku sungguh—"

"Aku terlalu takut pada appa. A-aku tidak yakin kita bisa meneruskan ini semua."

"Baek jangan katakan itu!"

"Tapi aku bisa apa Lu?!" Baekhyun menajamkan tatapannya kearah Luhan. Ia sungguh kacau, perasaannya sungguh—

"Kau bisa mengatakannya semudah itu Baek?! Bagaimana dengan aegy kita? Kau mau memisahkannya denganku?"

"Kau tidak tahu rasanya jadi aku Luhan!" Baekhyun mulai berteriak. Tangisannya semakin meledak-ledak.

"Cobalah rasakan bagaimana rasanya jadi aku! Aku bahkan selalu dikurung tak boleh kemanapun, aku seperti berada dipenjara sejak aku kecil!"

"Lalu lawanlah appamu!"

"Tapi aku takkan melawan appaku!"

"Aku akan berhadapan dengannya!"

Baekhyun menatap kearah Luhan tak percaya, "L-lu apa maksudmu?! Kau jangan main-main! Appaku itu bukan orang yang—"

"Apa?! Lalu aku harus takut dengannya, lalu membiarkan kau dan anakku terpisah dariku begitu?! Apa kau pikir aku akan mau melakukan itu?! Kau pikir aku setega itu eoh?!"

"Baek! Aku mencintaimu, maka aku akan perjuangkan itu, apapun yang akan terjadi nanti kita harus bisa menanggung konsekuensi Baek, kita memang tidak hidup dijalan yang kita inginkan!"

"Baek—" Luhan menangkup kedua pipi Baekhyun.

"Jika kau juga benar mencintaiku, maka, berjuanglah bersamaku."

Baekhyun langsung memeluk Luhan erat. Ia mengangguk kecil.

Tentu saja ia akan memperjuangkan nya, bahkan Luhan mati-matian berusaha agar mereka tidak terpisah. Apakah Baekhyun tega meninggalkan Luhan begitu saja? Membiarkankan anaknya tumbuh besar tanpa appanya?

Tentu saja tidak!

Bahkan ia sudah merasakan bagaimana tidak punya eomma, dan ia tak mau itu terjadi pada anaknya. Dan rasanya begitu memuakkan dan menyedihkan.

Luhan mencium puncak kepala kekasihnya dengan sayang, "Aku mencintaimu Baek. Kau tak usah takut, kita bisa membuat kehidupan kita sendiri. Dunia baru kita berdua. Dan uri aegya." Luhan meraba perut Baekhyun lalu mengecup keningnya sekilas.

"Aku mencintaimu." Baekhyun tersenyum dalam tangisnya. Ia langsung mencium bibir Luhan dengan bibirnya.

.

.

.

.

"Yeol—"

Chanyeol bergerak gusar dalam tidurnya.

"Yeol, chagiya—"

"Nhh—" Bukannya bangun Chanyeol malah memukul wajah Kris dengan tangannya.

"Chanyeol bangun!" Kris menggoyangkan lagi tubuh kekasihnya yang sedang tidur.

"Wu Chanyeol!" Oke, Kris mulai berlebihan.

"Bangun atau aku akan menyerangmu sekarang juga!" Dan Chanyeol langsung bangun sambil duduk. Kris menyeringai. "Ish kenapa sih membangunkanku seperti itu?!" Chanyeol melirik jam dimeja sebelahnya dengan mata yang masih agak buram.

"Ini bahkan masih jam 3 pagi!" ia mengusap-usap kedua matanya dengan jengkel.

Kris mendengus, "Yeol, sekarang sudah jam 8."

Chanyeol membelalakkan matanya, "Mworago?!" ia langsung menengok kesamping lagi. Yang benar saja, ia harus bekerja jam 9.

"Aku sudah terlambat!" ia berteriak histeris sambil langsung bangkit dari kasurnya.

"Hey! Yeol! Aish." Padahal kan Kris niatnya ingin minta morning kiss, malah Chanyeol sudah kabur duluan.

Chanyeol mengubrak-abrik lemarinya. "Kenapa kau tidak bilang daritadi eoh?!"

"Kau saja baru bisa dibangunkan!" seru Kris kesal.

"Argh," Chanyeol benar-benar kesal, kalau dia telat bagaimana?

Kris bangun dari ranjang kekasihnya, menghampiri Chanyeol yang sedang panik tak karuan, dan malah—

Grep—

Chanyeol menghentikan aktifitasnya. Kris mengusak-usakkan bibirnya dipundak kurus Chanyeol. "Kau berhutang morning kiss denganku chagi," Kris menyeringai, Chanyeol menegak salivanya dengan susah payah.

"M-mwo? Aku sudah telat Kris aku bahkan belum mandi!"

"Yasudah ayo kita mandi bersama!" Serunya semangat dan langsung membopong kekasihnya ke kamar mandi.

"Yak! Wu Yifan!" ia menggeliat didalam gendongan kekasihnya dengan telat.

Kalau begini caranya ia bisa telat.

.

.

.

.

"Berani-beraninya kau datang kesini?! Apa kau tidak punya malu?!" Appa Baekhyun tersentak. Melihat Luhan yang datang kedepan pintu rumahnya secara tiba-tiba. Dengan tangan anaknya yang tergenggam erat di dalam telapak namja itu.

"Ahjussi, saya tidak berniat untuk membuat ribut disini. Saya datang dengan niat baik-baik, untuk melamar anak anda." Baekhyun hanya menunduk dibalik pundak tegap kekasihnya.

"M-mwo?! Berani-beraninya kau! Ya! Kau pikir kau siapa?! Melamar anakku kau bilang?! Setelah kau mengotorinya baru kau akan melamarnya?!" namja paruh baya itu begitu geram menyaksikan adegan didepannya ini.

"Jangan harap kau bisa! Baekhyun sini kau! Masuk kerumah!" Appa Baekhyun berusaha menarik tangan Baekhyun paksa dari genggaman Luhan.

Namun, kali ini hal itu membuat Baekhyun makin bersembunyi dibelakang Luhan, dan tentu saja—

"Saya kesini dengan niat baik-baik." Ia menyisihkan tangan Baekhyun jauh-jauh agar tak bisa diraih.

"Bahkan dari awal kau sudah menghamili anakku! Apakah itu bisa disebut niat yang 'baik-baik'?! Dasar kau tak tahu diri!" amarahnya makin membuncah.

Luhan menghela nafasnya, "Kami hanya meminta restu. Tegakah kau memisahkanku dengan anakmu? Apalagi ada anakku didalam kandungannya?" ia berusaha mengontrol emosi.

Appa Baekhyun berdecih, "Kau pikir aku akan sudi menerima anak dalam kandungan Baekhyun itu hah?! Tidak akan pernah!"

Baekhyun mencengkram sisi belakang baju kekasihnya, membuat Luhan juga mengeratkan pegangan tangannya.

"Hey! Baekhyun masuk kau dasar anak kurang ajar!"

Jika biasanya Baekhyun menurut dan lebih takut pada appanya, untuk sekarang tidak. Rasa muaknya justru lebih mendominasi. Ia sudah jenuh dengan semua ini.

"Apa kau tuli eoh?!" si tua itu masih berteriak lagi.

"Baiklah jika itu keputusan anda. Aku akan membawanya pergi. Dan jangan harap aku akan mengembalikannya dan melepasnya begitu saja. Aku akan menjaganya dengan baik."

"Ya! Apa yang kau maksu—"

"Kuharap anda jangan mengganggu kehidupan kami lagi. Permisi." Dengan penuh hormat ia membungkukkan tubuhnya. Bagaimanapun itu orang tua kekasihnya kan?

Ia langsung menarik tangan Baekhyun paksa. Baekhyun hanya menunduk, mengikuti jejak kaki Luhan yang entah hendak mengajaknya melangkah kemana. Sementara appa Baekhyun benar-benar geram. Memandang kearah anaknya dan namja itu dengan penuh amarah.

'Sampai kapanpun aku takkan merestui kalian'

.

.

.

.

Pangutan bibir keduanya mengundang tepukan tangan yang meriah dari para tamu yang hadir ditempat tersebut.

Jongin dan Sehun.

Sudah meresmikan pernikahan mereka. Dengan sumpah sehidup semati yang mereka deklarasikan.

Diatas altar. Dihiasi bunga-bunga indah, khas taman berumput yang luas. Tempat dimana mereka melaksanakan janji suci tersebut.

Chanyeol rasanya ingin menangis. Menyaksikan Sehun—sahabatnya yang akhirnya menikah juga. Bahkan malah mendahuluinya. Dengan Kris dan Luhan tentu saja.

Ia masih tidak menyangka. Padahal Sehun dulu adalah 'jomblo' yang selalu jadi bulan-bulanan dikampusnya—kalian ingat bukan? Dan sekarang, ia malah menikah duluan.

Sehun sengaja mengundang banyak alumni dari kampusnya. Mereka semua juga kaget. Sehun sudah menikah duluan? Mendahului mereka semua dan itu sungguh gila! Sepertinya mereka berhutang maaf pada Sehun. Karena selalu meledekinya sebagai jomblo tulen dikampus dulu.

Kris memeluk pinggang Chanyeol dengan sayang. Aigoo, kekasihnya ini sampai menangis? Menyaksikan Sehun dan Jongin?

"Sudahlah chagiya tidak usah menangis begitu!"

"Ish, aku terharu tahu!" Chanyeol memukul lengan kekasihnya dengan sebal. Kris terkekeh, "Nanti juga ada saatnya giliran kita chagi." Chanyeol merengut.

"Kau itu melihat orang menikah terharu, tapi diajak menikah tidak mau! Dasar menyebalkan!" Dan dihadiahi pukulan keras dikepala Kris.

"Aww!"

Disisi lain, ada Kyungsoo yang juga sama terharunya dengan Chanyeol. Hyungnya sudah menikah. Hiks, rasanya sedih juga dan tidak menyangka. Ia duduk disebelah appa dan eommanya, tapi tetap saja melirik-lirik kearah Minseok sambil berkedip genit. Dasar bocah!

Sehun juga mengundang Minseok, karena ya memang Minseok sepupu Jongin—yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Lagipula tidak ada masalah kan? Namun, appa Kyungsoo dengan intensif berusaha menjauhkan Kyungsoo dari si Minseok itu.

Semenjak insiden terpergok ciuman didepan rumah waktu itu.

Yah, seperti tidak tahu Kyungsoo saja.

"Kalau begini aku jadi ingin cepat-cepat menikah!" serunya sambil sesenggukkan. Membuat eommanya mencubit paha Kyungsoo. "Aish eomma!" ia mengusap hidungnya menggunakan sapu tangan dengan sebal.

Baekhyun dan Luhan ikut berbahagia atas pernikahan Jongin dan Baekhyun. Tentu saja! Luhan kan sepupu Sehun.

Tapi, tentu saja Luhan kesal karena—

Ia biasanya menghina Sehun tapi ia malah dibalap Sehun duluan. Pasti setelah ini Sehun ganti meledeknya. Tapi, sebenarnya terselip rasa iri terhadap Sehun juga—bagi Baekhyun. Yang sepertinya hubungannya sangat mudah. Sampai bisa menikah dengan Jongin. Begitu cepat.

Siapa bilang?

Lumatan-lumatan lembut yang sudah beberapa menit lamanya itu berlangsung akhirnya terlepas dengan sangat tidak rela. Namun, senyuman akhirnya terukir dibibir keduanya. Menatap satu sama lain. Jari manis mereka yang sudah saling memiliki cincin yang melingkar, menggambarkan hati mereka yang sudah saling memiliki juga.

Jongin dan Sehun berbalik, memberi lambaian tangan pada semua tamu. Keluarga, teman-teman mereka. Sehun melambai kearah orang tuanya, termasuk Kyungsoo dan Chanyeol tentu saja. Lalu menjulurkan lidahnya saat tatapannya bertubrukkan dengan milik Luhan.

'Lihat kan? Siapa yang menikah duluan?' Oh, jadi maksud lain yang membuat Sehun menuntut Jongin untuk menikahinya adalah ini. Ck, payah.

Jongin melirik sedikit kearah Sehun yang sekarang sudah menjadi istrinya. Dan tentu saja ia sangat senang. Si manis ini. Ia ingin tertawa jika mengingatnya.

Begitu lucu, mengingat pertemuan pertama mereka dulu malah diawali dengan Sehun yang memukulinya dan mencakarnya karena jadi korban tipuan jasa biro jodoh Jongin. Dan, mereka sekarang berada dialtar. Sebagai sepasang suami-istri.

Sungguh unik.

.

.

.

.

"Hahaha, lihat siapa yang menikah duluan hm? Seme sejati eoh?!" Sehun tertawa penuh kemenangan, menatap Luhan dengan pandangan meremeh. Ia berniat balas dendam ternyata. Luhan berdecih, "Ck! Habis ini aku juga menikah." Oh, Luhan tak mau kalah begitu saja rupanya.

"Tentu saja aku dan Chanyeol yang akan menikah duluan setelah ini!" Kris bersahut tiba-tiba sambil menggenggam tangan Chanyeol. Ia juga tak mau kalah.

Luhan memeluk Baekhyun dari belakang, "Tentu saja aku setelah ini yang duluan, iyakan chagi?" Baekhyun hanya terkekeh melihat kekasihnya ini tak mau kalah.

"Tentu saja aku duluan!"

"Aku!"

"Aku!"

Oke, Sehun mulai bingung kemana arah pembicaraan ini.

Begitupula Chanyeol yang hanya menggelengkan kepalanya heran.

"Apa kalian mau menikah massal eoh?!" kali ini Kyungsoo menyaut karena kesal dengan perdebatan kakak sepupunya dan Kris yang sungguh tidak penting.

"Mau apa kau disini anak kecil?" Luhan meledek Kyungsoo.

"Aku belum menikah saja biasa saja."

"Kau masih sekolah Kyungsoo!" semuanya berteriak kearah namja mungil itu. Membuatnya menutup telinga rapat-rapat dengan kedua telapaknya.

"Ish! Kenapa kalian berteriak eoh?! Aku tidak tuli!" ia mempoutkan bibirnya sebal.

"Ada apa ribut-ribut disini eoh?" Jongin datang membawa segelas minuman dan langsung memeluk pinggang istrinya—Sehun—dengan mesra sambil mencium pipinya sekilas. Membuat si Nyonya Kim itu terkekeh geli. Ditemani Minseok disebelahnya.

"Minseok hyung!" Kyungsoo langsung memeluk lengan Minseok dan bergelayut manja.

"Ck, modus!" Luhan memandang Kyungsoo malas.

"Biarkan saja!"

"Kau itu masih kecil, jangan seperti itu!" Kris dengan sok ikut angkat bicara.

"Ck, diam kau!"

"Yak! Kau masih pacaran dengan si cabul ini?! Akan aku adukan kau pada appa!" Sehun mulai mengancam.

"Hyung!" dan semuanya tertawa. Termasuk Minseok. Melihat kekasihnya ini begitu manja. Ya, tentu saja ini kesempatan bagus. Lagipula appanya sedang sibuk dengan tamu lain, jadi ia bisa mesra-mesraan sebentar dengan Minseok kan.

"Habis ini kita yang menikah, lihat saja! Yakan yeol?" Aish, Kris memulainya lagi.

"Mwo? Sudah kubilang tentu saja aku!"

"Enak saja kau! Aku!"

"Aku!"

"Aku!"

"Bahkan Baekhyun sudah mengandung anakku jadi kami akan segera meni—"

"Mwo?!" Semuanya tersentak mendengar pernyataan Luhan yang sungguh sangat—

Baekhyun langsung memukul lengan Luhan sebal. Ia malu tentu saja. Rona merah langsung muncul dikedua pipinya.

Luhan mengerjapkan kedua matanya tak berdosa, "Tentu saja, seme sejati kalian ingat?" ia melirik kearah Sehun yang tadi sempat meledeknya. Sehun hanya mendengus.

Jongin benar-benar tak habis pikir jadi yang sudah hamil duluan disini bukan hanya Sehun?

"J-jadi kekasihmu ini sudah—" semuanya melirik kearah Jongin.

"Ternyata Baekhyun sudah hamil ya, Sehun juga—"

Sehun langsung menginjak kaki Jongin. Ia tahu apa yang hendak suaminya ini ucapkan.

"Aw! Sehun!"

Kalau semua orang tahu, dan pada akhirnya ia ketahuan berbohong? Itu akan sangat memalukan bukan? Jadi cukup ia dan Jongin saja yang tahu. Semakin sedikit yang ia bohongi semakin baik.

Semuanya menatap mereka dengan penuh tanda tanya.

.

.

.

.

Sehun menatap takjub kearah kamar baru mereka berdua yang sungguh sangat megah.

Sehun tidak minta bulan madu. Ia hanya minta untuk menetap dirumah sendiri. Ya, rumah mereka berdua yang baru. Dan Jongin tentu saja menuruti kemauan istrinya itu. Apapun. Sehun bukan tipe orang yang suka meminta hal yang berlebihan.

"Bagaimana?" tanya Jongin sambil meletakkan kopernya di sisi pojok kamar. Ia sengaja sudah menyuruh orang untuk menata seisi rumah ini. Agar mereka tinggal menata pakaian saja.

Sehun mengangguk, "Ini sungguh indah Jongin!" ia langsung memeluk suaminya.

Jongin membalas pelukan Sehun, "Gumawoyo." Jongin tersenyum.

"Tentu, apapun untukmu baby." Ia menghirup aroma sampo Sehun yang begitu menyeruak dihidungnya.

Hari sudah malam. Pesta pernikahan mereka tadi sungguh membuat lelah.

Jendela besar tanpa tralis yang terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk mengisi udara dalam ruangan tersebut. Lampu candil dilangit-langit yang berhiaskan kristal yang sedikit bergoyang karena angin malam membuat suasana kamar ini makin indah saja.

Sehun melonggarkan tangannya, kemudian mendongak. Menatap Jongin yang juga ikut menunduk melihat sepasang manik mata istrinya.

Sehun memulainya duluan. Ia mencium bibir Jongin lembut. Lalu mengalungkan kedua tangannya dileher Jongin, dan—

"Kenapa?" serunya kecewa saat Jongin melepas ciuman mereka.

"Kau kan sedang hamil jadi aku—"

"Memangnya kenapa kalau aku hamil? Kita tidak boleh melakukannya begitu?" Lagipula Sehun juga bohong kalau ia hamil kan?

Ia akan segera mengatakan yang sebenarnya setelah ia menikah dengan Jongin. Segera. Tapi rasanya waktunya belum tepat.

Sehun menatap Jongin seperti, 'Kumohon' tanpa pikir panjang lagi Jongin langsung meraup bibir manis istrinya dan membawanya kedalam dunia malam yang lebih menghanyutkan.

TBC


Fyuhhh akhirnya lanjut juga. Maaf ya kalo eonni updatenya lama, eonni juga mikir buat bikin cerita ini alurnya biar ga kecepetan. Sehun udah nikah tuhh.. *eaaakk.. semoga kalian suka ya. Reviews yang banyak oke? Baru eonni lanjut. :)