What Do You Expect for?

Cast: Sehun, Jongin, Luhan, Baekhyun, Kyungsoo, Minseok, Kris, Chanyeol

Genre: Romance, Drama, Family, Marriage-life

Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.

Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!, M-Preg

Summary: Sequel of 'The Love Curse'. Sehun hamil? Bagaimana kelanjutan hubungan Luhan dan Baekhyun, begitu juga Kyungsoo yang masih nekad memacari Minseok yang sudah bukan tutor dikelas tambahan matematikanya! Dan Kris yang ingin segera menikahi Chanyeol setelah ini. KaiHun, LuBaek, XiuDo, KrisYeol. M-Preg, BL!


Chapter 5

~Happy Reading!~

Sehun bergerak gusar dalam dekapan Jongin.

"Nghh—" lenguhnya saat suaminya itu mengeratkan pelukannya.

Sehun mengerjapkan kedua matanya perlahan. Biasakan cahaya yang masuk—langsung menerpa permukaan wajahnya. Ya, ia bahkan tidak sadar kalau semalam ia lupa menutup jendela besar itu. Sekilas angin pagi yang cukup dingin masuk memenuhi ruangan dilangit-langit kamarnya. Namun, itu tak lagi penting karena yang Sehun rasakan sekarang adalah kehangatan yang sungguh membuatnya nyaman, bukan malah kedinginan karena hawa pagi seperti biasanya.

Jongin tidur berhadapan sejajar dengan wajah Sehun. Membuatnya merona karena sesekali mengingat bayang-bayang aktifitas yang mereka lakukan semalam. Sungguh melelahkan. Namun Sehun sungguh menyukainya. Ia sungguh menyukai bagaimana cara Jongin menyentuhnya. Itu sungguh membuatnya, kalut.

Sehun hanya memperhatikan wajah suaminya yang tengah terlelap dalam tidurnya yang nyaman. Ia sungguh tampan. Pandangannya berhenti pada suatu benda di wajah Jongin. Bibir Jongin. Adalah yang paling ia sukai. Ketika bibir tebal itu tersenyum manis dan tulus untuknya, ketika bibir tebal itu menyapu lembut bibirnya bahkan kasar sekalipun—Sehun tetap suka.

Tapi, kalau sudah melihat benda tersebut tertarik kesudut kanan membentuk sebuah seringaian—ia sangat benci. Dan itu yang paling menyebalkan untuk dilihat. Muka mesum Kim Jongin.

Jongin bergerak sedikit, dan makin merapatkan pelukannya pada tubuh polos Sehun. Sehun menunduk lagi. Ini benar-benar—

Deg—

Mendadak Sehun teringat suatu hal.

Kebohongannya.

Bagaimana kalau Jongin tahu nanti? Sehun menggigit bibirnya. Ia bingung.

'Bagaimana jika aku mengaku dan Jongin akan marah padaku?' Itulah yang membuat Sehun berpikir keras sejak kemarin-kemarin.

Tapi jika ia tak melakukan ini, Jongin akan terus-menerus mengacuhkannya. Sibuk dengan pekerjaannya, dan—

Mengesampingkan Sehun disisinya begitu saja.

Tapi, 'Bagaimana kalau dia marah kemudian meninggalkanku?' Tidak! Sehun tidak mau itu terjadi!

Niatnya kan hanya ingin agar cepat menikah dengan Jongin, jadi ia bisa memiliki namja itu. Tapi, sepertinya Sehun sudah keterlaluan karena membuat Jongin mati-matian harus bekerja keras. Untuk pernikahan mereka. Membeli rumah ini yang ia yakin harganya pasti—

Tidak murah kan?

Sehun menegak salivanya kasar.

'Bagaimana kalau dia akan meninggalkanku?' Oh, rasanya Sehun ingin menangis.

"Kau sudah bangun hm?" suara serak Jongin membuatnya tersentak. Sehun menatap Jongin dengan sedikit gelagapan.

Ia hanya mengangguk kecil. Jongin tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya. Mengecup bibir Sehun yang tepat ada didepannya dengan lembut.

"Aku mencintaimu."

Sehun menunduk. Ia takut.

"Hun—"

Ia memberanikan diri untuk menatap suaminya.

"Aku mencintaimu." Katanya lagi.

"N-nado." Ia berusaha bersikap senormal mungkin.

Jongin menggesekkan hidungnya pelan ke hidung mancung istrinya.

"Aku ingin mulai sekarang, kita harus jujur satu sama lain. Kau dan aku—"

Telinga Sehun meremang mendengarnya.

"Kau milikku baby, selamanya akan begitu." Jongin mencium kening istrinya dengan sayang.

"Aku mencintaimu."

'Oh tuhan aku harus apa?!' Sehun berteriak frustasi dalam hati.

.

.

.

.

"Nh—Jongin geli!" Sehun menggeliat saat Jongin memeluknya posessive secara tiba-tiba dari belakang. Oke, sepertinya acara masak Sehun sedikit terganggu. Hampir saja ia memotong jarinya sendiri karena terkejut. Tapi untungnya sifat ceroboh itu sudah berkurang.

Suaminya ini sungguh benar-benar!

Jongin menggesekkan hidungnya ditengkuk Sehun seperti biasanya ia lakukan. Hal yang paling ia senangi.

Jongin mengeratkan pelukannya, lalu meletakkan dagunya diperpotongan leher putih Sehun. Oh, sungguh rasanya ia ingin melempar pisau ini sekarang juga.

"Terakhir kali kau memegang pisau yang ku ingat adalah saat kau mengacungkannya didepan wajahku, lalu mengataiku 'brengsek'." Oh, Jongin masih mau membahas itu?!

Ayolah itu sudah lama sekali.

"Ish! Kau mau aku melakukan itu lagi?! Itukan dulu saat kita saling membenci!" seru Sehun sebal mengundang tawa kecil Jongin.

"Ck! Iyaya, istriku yang manis. Sekarang kau itu manis sekali, tidak ganas seperti dulu. Kau bahkan suka sekali mencakariku. Lucu juga ya jika diingat dan ternyata pada akhirnya kita menjadi pasangan suami-istri."

Pipi Sehun memerah mendengarnya. Oh, bagaimana ia bisa melanjutkan acara memotong sayurnya?

"Padahal kita dulunya saling membenci, tidak sih kau yang membenciku sebenarnya!"

"Tapi—"

Sehun mengerutkan dahinya bingung, "Kalau sekarang kau tidak ganas—"

Sehun menoleh sedikit kearah Jongin, "Kecuali jika diranjang." Jongin menyeringai. Dan Sehun langsung menginjak kakinya.

"Aduh! Sehun!" Sehun tertawa. 'Rasakan, dasar mesum!'

Jongin mengeratkan pelukannya sambil merengut, "Kau mengambil cuti berapa lama?"

"Hanya seminggu, lagipula banyak juga yang harus aku kerjakan dikampus." Jongin tersenyum.

"Aku senang, benar kata Luhan. Kau itu pintar. Oh beruntunglah aku mendapatkan seorang Oh—anni Kim Sehun!" Ia mengecup pipi Sehun sekilas.

"Ish! Sudah sana nanti sarapannya tidak jadi-jadi jika kau menggangguku terus!"

"Yasudah kau tinggal melanjutkannya saja! Aku kan cuma memelukmu. Aku bukan pengganggu ya!" Sehun mendengus. Namun, ia senang juga dengan Jongin yang seperti ini. Yang begitu perhatian pada Sehun.

Akhirnya, Sehun meneruskan acara memasaknya, dengan Jongin yang terus mengganggunya dengan mengecupi tengkuknya. Membuat pagi itu terasa begitu panjang.

.

.

.

.

"Ahhh Jongin!" Sehun meremas rambut Jongin saat namja itu menciumi lehernya.

Ini sudah hari ketiga semenjak pernikahan mereka. Dan yang dilakukan keduanya dirumah adalah : makan, bercanda, menonton tv jika tidak bosan, dan pada akhirnya 'bercinta'.

Dan, Jongin juga cukup gila untuk terus–menerus berhubungan intim dengan Sehun, sementara ia sendiri tahu kalau Sehun itu sedang hamil!—ya walaupun hanya bohong—tapi tetap saja. Apa kau tidak pernah belajar tentang sistem reproduksi Jongin? Oh ayolah!

Ya, memang dekat-dekat dengan Sehun tidak baik untuk Jongin karena—membuatnya selalu tak bisa menahan dirinya. Dan pada akhirnya, selalu saja kelepasan.

Padahal ia sudah mati-matian mengontrol hasratnya saat sedang bersama istrinya ini. Tapi, Sehun selalu saja membuatnya tak bisa berhenti untuk tidak menyentuh namja itu. Ada suatu hal yang membuatnya ketagihan jika menyentuh Sehun sekali—bahkan berkali-kali.

"Eunghh—"

Dan satu lagi, desahan yang lolos dari bibir Sehun yang begitu serak namun—

Entah ini sudah ronde yang keberapa Sehun juga lupa. Ia terlalu sibuk mendesah, mengerang, dan melenguh di'bawah' Jongin. Dan dipikirannya hanya menikmati apa yang Jongin lakukan padanya. Apa Sehun bisa menyempatkan waktu untuk menghitung berapa ronde mereka bermain hm?

Sehun meremas pundak Jongin, melampiaskan rasa nikmat yang Jongin salurkan lewat sentuhannya.

Jongin menghentikan 'aktifitas'nya dileher Sehun. Memandangi wajah cantik istrinya yang tengah bernafas terengah-engah. Kemudian mencumbunya lagi dengan lembut. Oh, bagaimana Sehun tidak mabuk dibuatnya kalau begini terus?

Ini masih siang.

Dan, ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan permainan mereka dimalam hari 'nanti'.

Jongin meraba selangkangan Sehun, "Eummhh—" ia mendesah tertahan. Itu titik sensitifnya.

Jongin terus melakukannya untuk menggoda Sehun. Sehun makin mencengkram pundak Jongin dan menjambak rambutnya.

Jongin menekan sesuatu yang ada dibawah sana.

"Eummmpphh—"

Sehun susah payah mendorong Jongin agar bibirnya terlepas. Ia hanya ingin mendesah sepuasnya. Ia ingin berteriak sebisanya. Sampai suaranya serak, bahkan habis sekalipun. Ia tak peduli.

"Ahhhh! Jongin—Jongin."

Sehun akhirnya berhasil melepas tautan bibir mereka.

Jongin terus menekan miliknya dibawahnya.

"Ahhh—"

"Mau melanjutkannya lagi hm? Apa kau tidak lelah?"

'Fuc—you Jongin! Siapa bilang aku tidak lelah?!' ia berteriak kesal dalam hatinya. Tentu saja ia lelah, tapi Jongin terus memaksanya untuk melanjutkan ke ronde-ronde berikut.

Sehun mencakar punggung Jongin saat namja itu meremas paha bawahnya. "Ahhhh—" Oh, hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.

Pikiran memang selalu tak sejalan dengan yang tubuhnya inginkan.

"Aku anggap itu sebagai ya." Sehun mengabaikan seringaian Jongin karena ia sudah terlalu larut dalam nafsunya.

Jongin melebarkan kedua kakinya. Menumpu kedua lengannya kuat-kuat disisi samping tubuh Sehun, agar tidak menimpa tubuh istrinya itu.

Saat Jongin hendak memasukkan miliknya(lagi), dan Sehun yang sudah sangat siap sambil meremas kedua pundak Jongin yang sudah tidak tahan lagi namun malah—

"Jongin! Seh—" dua pasang mata yeoja paruh baya yang baru membuka pintu kamar membelalak melihat adegan tumpang-tindih didepannya.

Jongin dan Sehun tersentak, kemudian melihat kearah pintu dengan posisi yang masih—

"Kyaaaaaaaa!" mereka semua sama-sama berteriak.

"O-omo!" eomma Sehun menatap tak percaya. Ini sungguh tidak bisa dipercaya, bahkan anaknya sedang berada dibawah Jongin dengan keadaan kaki yang melebar dan itu sungguh—

Jongin hendak bangkit dari atas Sehun sebelum—

"Baiklah, kami keluar." Eomma Jongin langsung menarik besan nya dari kamar anak mereka yang tengah berbuat nista. Dan tentu saja mereka sudah melihat tubuh Jongin dan Sehun yang full naked! Oh Godness!

"Yak! Jongin! Harusnya kau mengunci pintu!" Sehun memukul dada suaminya dengan kesal.

"Ya, mana aku tahu kalau eomma dan eommonim akan ada disini eoh?" Jongin masih berada diatasnya.

"Ish tapi ini sungguh memalukan!"

Jongin hanya bisa tertawa, "Yah sayang sekali kita tidak jadi melanjutkannya baby." Ia menciumi wajah mulus Sehun dengan gemas.

"Ish! Jongin!"

"Yayaya, ayo! Eomma dan eommonim pasti menunggu."

.

.

.

.

Sehun hanya menunduk saat berhadapan dengan eommanya, serta mertuanya dimeja makan untuk makan siang.

Apakah kau akan sanggup bertatapan mata dengan orang yang telah memergokimu yang tengah melakukan 'seks'? Oh, sungguh tidak lucu bukan.

Yah, acara bercintanya dengan Jongin sedikit terganggu.

Jongin yang juga gugup—karena tidak enak dengan eomma Sehun—hanya berusaha bersikap senormal mungkin. Bagaimanapun, mereka berdua sama-sama telanjang tadi dan itu sungguh sangat tidak enak dilihat apalagi yang melihat para—

Orang tua mereka. Ck! Payah!

Padahal, kurang sedikit lagi saja Jongin dan Sehun akan melakukan in-out. Oh, apa kau masih ingin membahas ini Jongin?

"Jadi kalian sering melakukannya ya?"

"Uhukkkk—Uhuukk—" Jongin dan Sehun sama-sama tersedak saat Nyonya Oh menanyakan perihal tersebut. Membuat mata eomma Jongin membulat tak percaya mendengar pertanyaan yang dilontarkan besan nya yang sungguh konyol ini.

"Eomma!" seru Sehun kesal. Tentu saja! Ia malu. Masalahnya, disini ada eomma Jongin juga. Ck, pasti setelah ini eommanya akan menceritakannya pada appa Sehun lalu Kyungsoo akan menguping pembicaraan mereka, kemudian memberi tahu pada sepupunya. Dan pada akhirnya, ia akan ditertawakan Luhan.

Eomma Sehun tertawa nyaring, "Ya, eomma harap kalian akan segera memberikan cucu untuk kami. Benar begitu eonni?" Nyonya Kim yang ditanyai hanya mengangguk kikuk. Ia benar-benar bingung! Sungguh!

Tentu saja ia mengharapkan cucu dari Sehun dan Jongin, bahkan ia yang membuat mereka sudah tidur bersama untuk pertama kalinya saat itu. Tapi, ia tak menyangka eomma Sehun juga sama pervertnya dengan dirinya.

Mertua menantu sama saja!

"Eomma!"

"Mwo? Memangnya eomma tidak boleh minta cucu hm? Masa kalah dengan sepupumu?" Oh, ayolah ia dibandingkan lagi dengan Luhan.

"Eomma!"

Sementara Sehun sibuk berdebat dengan eommanya, Jongin yang ada disebelah Sehun malah menunduk malu. Pipinya memerah. Oh, tentu saja. Apa yang mertuanya lontarkan itu sungguh benar-benar membuatnya merasa.

Jjang!

Ahli diranjang.

Perkasa.

Kuat.

Konyol!

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri eoh?!" seru Sehun kesal melihat suaminya yang justru senyum-senyum sendiri membayangkan yang tidak-tidak. Sehun pikir Jongin juga meledeknya.

.

.

.

.

"Sehun-ah, kau sakit?" Jongin menyentuh dahi Sehun dengan cemas.

Panas.

Ia menyentuh telapak Sehun namun malah—

Dingin.

Sehun pasti tidak baik-baik saja. Ia pasti sakit. "Sehun-ah?" Sehun masih memejamkan matanya dan terus mengigau tidak jelas. Oh, bahkan cutinya sudah habis, besok ia harus kembali sibuk bekerja dan istrinya malah sakit? Siapa yang akan menjaga Sehun?

Dari semalam, tubuh Sehun terus mengeluarkan keringat dingin. Namun, suhu tubuhnya sangat tinggi. Jongin sebenarnya sudah menanyakan pada Sehun, karena semalam wajahnya begitu pucat. Namun, Sehun hanya menjawab 'gwenchanha' padahal kepalanya benar-benar pusing saat itu.

Setelah, Sehun terus mengigau dan berteriak. Jongin baru sadar kalau istrinya ini sakit.

Jongin benar-benar khawatir. Ia panik sungguh. Bagaimana tidak? Istrimu sedang sakit, belum lagi ia juga sedang mengandung.

Dengan gemetar Jongin menekan layar ponselnya. Sehun perlu dokter, bukan rumah sakit!

.

.

.

.

Jongin menggigit bibirnya, dengan kedua tangannya yang bergetar dan terus mengeluarkan keringat. Ia takut, sungguh. Ia takut jika Sehun kenapa-kenapa.

Sedari tadi ia hanya memperhatikan dokter yang ia panggil tadi, dengan penuh kecemasan.

"B-bagaimana keadaan istri saya?"

"Hm, ia tidak apa-apa, hanya efek kelelahan karena aktifitas yang biasa ia lakukan yang baru berefek sekarang. Makanya suhu tubuhnya begitu tinggi. Apa ia biasa mengerjakan hal-hal yang berat?"

"Ia mengajar sebagai dosen."

Sang dokter mengangguk, "Baiklah, lain kali suruh istri anda untuk tidak terlalu membawa beban berat atau aktifitas yang berlebihan. Karena tipe tubuh seperti ini begitu rentan dengan hal-hal seperti itu. Ia sangat ringkih, jadi mudah sakit."

Jongin mengangguk kaku mendengar pernyataan dokter tersebut. Tetap saja, ia takut Sehun kenapa-kenapa.

"Anda jangan khawatir, saya akan meresepkan obat dan antibiotik untuknya."

"B-bagaimana keadaan kandungan istri saya?" Sang dokter mengernyitkan dahinya bingung.

"Kandungan?"

Jongin mengangguk, "Iya, istri saya sedang mengandung."

"Tuan Kim, istri anda tidak sedang mengandung."

Deg!—

Hati Jongin tertohok.

"M-mwo?"

"Istri anda sedang tidak mengandung. Saya sudah memeriksa keseluruhannya tadi."

Oh, rasanya Jongin ingin menggantung dirinya sekarang juga. Ia menatap kearah Sehun yang tengah berbaring lemah dengan tidak percaya.

Sehun, membohonginya?

Lalu apa alasannya?

Ini tidak mungkin!

"Dokter, sa-saya tidak salah dengar kan? Anda hanya bercanda kan?"

TBC


Annyeong eonni is back! review kalian bikin semangat melanjutkan sequel ini setiap hari! :) Oke, maaf banget buat yang request other pair eonni musti khususin chap ini for kaihun. ini udah 3 episode terakhir. cieeelaah... semoga kalian suka ya. Reviews yang banyaaaakkk!