What Do You Expect for?

Cast: Sehun, Jongin, Luhan, Baekhyun, Kyungsoo, Minseok, Kris, Chanyeol

Genre: Romance, Drama, Family, Marriage-life

Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to Smet, their god, parents, and their own.

Warning: Crack Pair, typo, BoysLove!, M-Preg

Summary: Sequel of 'The Love Curse'. Sehun hamil? Bagaimana kelanjutan hubungan Luhan dan Baekhyun, begitu juga Kyungsoo yang masih nekad memacari Minseok yang sudah bukan tutor dikelas tambahan matematikanya! Dan Kris yang ingin segera menikahi Chanyeol setelah ini. KaiHun, LuBaek, XiuDo, KrisYeol. M-Preg, BL!


Chapter 6

~Happy Reading!~

"Kenapa kau berbohong hm?" Sehun menunduk mendengar penuturan Jongin. Ya, ia tertangkap basah! Aih, kenapa harus begini? Padahal kan niatnya akan memberi tahu Jongin 'nanti' tapi malah ia justru ketahuan karena Jongin menanyakan perihal kandungannya pada dokter yang memeriksanya tadi. Ck! Jongin pasti malu sekali. Apalagi Sehun!

Jongin hanya tersenyum. Sebenarnya ia tidak marah sih. Yah, hanya kecewa saja karena pada kenyataannya Sehun tidak hamil.

Sedikit.

Lagipula, apakah itu penting? Sehun saja masih sakit dan berbaring lemah di kasur, apakah Jongin tega memarahinya seperti membentak begitu? Oh! Jongin tidak sejahat itu! Ia juga yakin, Sehun tidak akan melakukan hal itu tanpa ada alasan kan?

Dan lagi, untungnya ia sudah tahu saat pernikahan mereka masih diawal. Jadi, tidak masalah. Kecuali kalau sampai lama Sehun baru mengaku, mungkin Jongin akan marah.

"J-jongin a-aku—"

"Katakan alasannya padaku." ia mengusap kepala Sehun dengan sayang.

Sehun yang tengah terduduk hanya menundukkan kepalanya, "Aku hanya terlalu sebal dengan sikapmu yang mengacuhkanku saat itu. Kau sibuk dengan pekerjaanmu, kau tidak pernah menghubungiku dan itu sangat membuatku frustasi."

Jongin menegak salivanya kasar.

"Kemudian, saat aku sakit dan selalu muntah-muntah aku mengira kalau aku hamil jadi aku menggunakan testpack untuk memastikannya."

"Ternyata hasilnya negatif."

"Tapi, hal itu justru membuatku berpikir untuk membohongimu saja. Daripada kita seperti itu terus. Agar aku bisa menjadi milikmu begitu juga sebaliknya. Aku takut kau meninggalkanku Jongin. Aku begitu mencintaimu. Makanya aku melakukan itu!"

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan mengaku padamu segera setelah kita menikah. Tapi, malah aku sudah ketahuan duluan."

Mendengar kata-kata terakhir Sehun Jongin hanya bisa tersenyum. Ia menggenggam tangan Sehun yang basah oleh keringat dingin dengan erat. "Berjanjilah untuk selalu jujur padaku lain kali. Aku juga berjanji takkan pernah menomor duakan mu diatas pekerjaanku baby."

"Tapi aku membuatmu harus bekerja keras untuk pernikahan kita, rumah ini dan pasti itu tidak murah kan?"

Jongin mengusap kepalanya lagi, "Itu tidak penting. Hal yang paling berharga dan lebih mahal itu adalah dirimu. Dan, aku bisa gila kalau sampai aku tak bisa memilikimu."

Blush—

Pipi Sehun memerah, "Hm, berhubung kau hanya pura-pura hamil—" Sehun memukul Jongin kesal. Ia masih mau membahasnya?

"Kita harus terus berusaha untuk membuatmu agar cepat hamil!" seringaian terukir dibibir Jongin.

Oh, Sehun sungguh kesal jika bibir Jongin sudah membentuk—

"Jongin!" Ia memukul Jongin lebih keras lagi.

Jongin terkekeh, "Apa? Masa kau kalah dengan sepupumu sih?!" Aih, jangan bandingkan Sehun dengan Luhan.

"Yaya, baby aku hanya bercanda." Sehun mempoutkan bibirnya.

"Aigoo, kau itu sakit masih saja bisa cemberut seperti itu!"

Sehun mencubit perut Jongin, "Ish, Sehun!"

Sehun yang tertawa kali ini, "Aku bersungguh-sungguh Sehun-ah, sepertinya kita harus memperbanyak ronde 'bermain' kita tiap malam."

"Yak! Jongin!"

.

.

.

.

"Sudah kubilang, aku duluan kan yang akan menikah?" Luhan tersenyum meremeh kearah Kris. Kris berdesis jengkel. Aih, kenapa ia harus kalah dengan Luhan?!

Perasaan ia sudah menetapkan waktu yang tepat dan cepat untuk menikahi Chanyeol dalam undangannya. Ternyata, Luhan sudah menyebar undangan duluan dengan tanggal yang lebih awal darinya.

"Yayaya setidaknya aku menikah setelah ini!" seru Kris tak mau kalah. Chanyeol mengelus pundak kekasihnya agar bersabar. Oh, ini pesta pernikahan bukan tempat mereka berkumpul seperti biasa. Tidak bisakah mereka berhenti bertengkar? Walaupun berdebatan yang sungguh konyol. Saling bersaing untuk siapa yang akan menikah lebih dulu.

"Setidaknya aku tetap yang menang disini." 'Sehun jangan memulainya!' Chanyeol mendeathglare Sehun. Ish, kapan selesainya kalau begini.

"Ya, posisi kedua tidak buruk. Tapi yang terakhir?" Luhan melirik kearah Kris.

"Aish, aku yang nanti jadi terakhir saja biasa saja!"

"Kyungsoo!" semuanya berteriak kearah si centil itu.

"Mwo?! Aku benarkan?" Kyungsoo memasang wajah tidak berdosa kearah semuanya.

"Yak! Kau masih kecil, jangan membahas pernikahan! Memang siapa yang mau menikah denganmu eoh?" ucap Sehun ketus.

"Tentu saja Minseok hyung!"

"Ish, aku juga tidak sudi punya adik ipar seperti dia!"

"Hyung!" semuanya tertawa melihat tingkah Sehun dan Kyungsoo yang selalu saja seperti ini.

Luhan menciumi pipi Baekhyun, membuat namja tersebut kegelian.

"Hmmp—" Sehun menutup mulutnya tiba-tiba. Jongin yang sedari tadi disebelahnya, membulatkan matanya.

"Hun, k-kau kena—"

"Hmpp—" Sehun merapatkan kedua telapaknya untuk menahan mulutnya. Tiba-tiba ia mual?

Semuanya menatap Sehun bingung, "Kau baik-baik saja?" Baekhyun sedikit cemas melihat Sehun seperti it—

"Hmmppp—" Oke, Sehun tidak bisa menahannya lagi.

"Luhan, toilet ada disebelah mana?" Jongin benar-benar panik.

.

.

.

.

"Jongin!"

"Hm—" Jongin yang sedang mengecek beberapa dokumennya diruang kerjanya merasa agak terusik.

"Jongin aku mau—"

"Sehun-ah jangan sekarang. Aku harus mengecek beberapa dokumenku."

"Jongin, aku rasa—"

"Baby nanti dulu ya." Sehun yang berdiri diambang pintu merasa diabaikan.

"Jongin aku mau bicara!"

"Sehun aku haru—"

"Kau berjanji takkan mengulanginya kan?" Jongin menghela nafasnya. Ia berbalik memutar kursinya.

"Wae? Ada apa?" Jongin menatap Sehun malas.

"A-aku—" Sehun menunduk sambil menggenggam sesuatu dibelakangnya dengan erat.

"A-aku—"

Jongin mengernyitkan dahinya, menatap Sehun penuh tanda tanya.

"Aku hamil."

Jongin berdecak, "Sehun jangan bercanda! Aku tidak ada waktu untuk melade—"

"Kurasa aku benar-benar hamil." Sehun menundukkan kepalanya. Mata Jongin membulat. 'Kau sungguh?—' ia langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri Sehun. Mengambil benda yang sedari tadi dicengkram erat dibalik tubuh namja tersebut.

'Positif'.

"K-kau tidak bercanda kan?"

"Yak! Bagaimana kau bisa anggap ini lelucon?"

"Tapi saat kau membohongiku—Jongin membahasnya lagi—kau memberi testpack dengan hasil seperti ini!"

"Aku menyuruh orang lain yang sedang hamil untuk memakainya saat itu Jongin. Ini—Oh, dan apa kau masih mau membahas hal 'itu'?!" Sehun mulai kesal.

"Lalu ini apa?!" Jongin menunjuk benda tersebut tepat didepan wajah Sehun dengan kesal. Tentu saja! Ia tak ingin tertipu untuk yang kedua kalinya!

"Itu testpack."

"Maksudku—Argh!"

"Mwo?! Aku baru mengetesnya tadi!"

Deg—

"K-kau bersungguh-sungguh?" Sehun memutar bola matanya malas.

"Tentu saja. Apa perlu aku menarikmu ke toilet untuk mengecek air kencingku yang tadi kugunakan untuk mengetes benda ini eoh?! Sana! Lihat sendiri kalau tidak percaya! Belum kubuang!"

Grep—

Mata Sehun membulat, "J-jongin kenapa kau—"

"Gumawoyo." Jongin menggesekan hidungnya dipundak cekung Sehun.

"Gumawo." gumam nya lagi. Sehun masih diam. Jongin melonggarkan pelukannya. Kemudian mengecup kening istrinya, lalu turun ke kedua matanya, dan diam. Menatap wajah cantik Sehun.

Senyum manis terukir dibibirnya.

"Yak! Jongin turunkan aku!" jerit Sehun histeris saat tiba-tiba Jongin mengangkatnya keatas lalu mengajaknya berputar-putar.

"Jongin! Turunkan aku!" Sehun memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil memeluk leher suaminya erat. Sehun takut jatuh sungguh!

"Jongin!" teriak Sehun makin nyaring dan sukses membuat Jongin tertawa.

"Jongin aku bersumpah akan membunuhmu jika kau—" Jongin berhenti berputar.

Namun, tidak merubah posisinya dengan Sehun. Sehun perlahan membuka kedua matanya yang terpejam dengan takut-takut.

Chu—

Jongin dengan posisi mendongak mencium Sehun yang tertunduk diatas gendongannya. Sehun membelalakkan matanya tak percaya.

"Terima kasih baby," Jongin kemudian menurunkan tubuh Sehun. Kaki Sehun yang tadinya mengambang diatas lantai karena diangkat oleh suaminya pun kembali menapak kebawah.

Mengecup bibir Sehun sekilas lagi, "Aku mencintaimu."

.

.

.

.

"Tapi hyung! Aku ingin warna merah muda! Itu pasti akan cocok dengan anakku!" seru Sehun dengan mantap.

"Yak! Sehun! Apa kau lupa kalau anak dikandunganmu itu seorang 'namja' eoh?!" sungut Baekhyun kesal. Adik sepupu Luhan ini sungguh benar-benar—

"Biarkan saja! Wae?! Ini kan anakku!" Sehun dan Baekhyun daritadi berdebat perihal baju yang akan Sehun beli untuk calon bayinya yang akan segera lahir itu.

"Ish! Terserah kau lah! Aku lelah menjawab ocehanmu!" Baekhyun benar-benar jenuh, sungguh! Daritadi mereka berdiri ditoko ini untuk memilih baju, di rak yang sama pula! Dan Sehun meminta saran kepada Baekhyun warna apa yang cocok untuk 'namja', tentu saja Baekhyun menyerukan pendapatnya sebagai 'Biru? Merah juga bagus.' Dan Sehun menjawab, 'Sepertinya merah muda lebih bagus' Ish, kalau tahu begitu kenapa Sehun harus meminta saran kepadanya kan?!

Bocah ini sudah diberitahu yang benar malah seperti itu! Ish, Baekhyun jadi naik darah kan. Daritadi mereka hanya memperdebatkan 'biru' dan 'merah muda' saja.

Baekhyun juga merasa penat karena punggungnya sedari tadi menyangga kain gendongan bayinya—Xi Yixing—yang untungnya tertidur. Jadinya ia tak perlu repot menggubris anaknya yang rewel dan Sehun yang cerewet dengan sekaligus kan?

"Ehm, merah muda saja deh." Argh, rasanya Baekhyun ingin menggigit muka Sehun yang sangat menyebalkan itu sekarang juga! Kalau saja anak ini bukan sepupu suaminya pasti daritadi Baekhyun sudah—

"Eh, maaf. Hehe, aku membuat kalian menunggu lama ya?" seru Chanyeol tiba-tiba. Membuat Sehun dan Baekhyun menatapnya malas.

"Siapa juga yang menunggumu!" ucap keduanya kesal dengan nada sedikit meninggi. Membuat Chanyeol mempoutkan bibirnya.

"Ish! Awas ya kalian!"

Baekhyun hanya mengedikkan kedua bahunya tak peduli sambil mengusap-usap kepala bayinya yang tengah lelap tertidur digendongannya.

"Lagipula kau daritadi melihat apa sih?!" Kali ini Sehun bersuara.

Chanyeol merengut, "Yak! Aku hanya melihat sepatu-sepatu bayi disana! Kau ini berlebihan sekali. Uh, sangat lucu dan menggemaskan." Ia membayangkan barang yang dilihatnya tadi dengan wajah riang.

Sehun mendengus, "Yeol, kau itu baru hamil 4 bulan! Bayimu masih lama lahirnya!"

"Yaya, memangnya kau yang membelikanku sepatu bayi eoh?! Apa kau yang memberiku gaji bulanan?!" Chanyeol kesal.

"Ssst—Aish, kalian masih mau bertengkar?! Sudah selesai belum? Ayo cepat pulang!"

"Yasudah ayo!" seru Sehun semangat.

"Eh, kau membeli warna merah muda? Bukannya hasil usg mu bilang anakmu namja ya?" Chanyeol menatap beberapa pakaian yang dibawa Sehun. Ia benar-benar tidak mengerti.

"Apa kau yang memberiku gaji bulanan eoh?!" Sehun membalas dendam. Chanyeol berdecak kesal.

"Aish—ayo sudah cepat! Suamiku sudah menyuruhku pulang!" Sehun dan Chanyeol pun menurut.

.

.

.

.

Baekhyun, Sehun dan Chanyeol baru keluar dari tokonya sebelum.

"Yeobo, kau kenapa lama sekali sih?!" Luhan berteriak menghampiri Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan disini eoh?!" Sehun menatap Luhan sinis.

"Ck, tentu saja menjemput istriku, bukan kau!" seru Luhan tak kalah sinis. Luhan lalu mencium kening Baekhyun lembut.

"Aigoo, anakku tertidur pasti dia kelelahan ya?" ia mengusap pipi gembil anak manisnya yang tengah tertidur dengan dengkuran halus yang samar-samar bisa didengar. Sehun menghentakkan kakinya kesal.

Chanyeol mengusap bahu Sehun, agar ia bisa mengontrol emosi. Ia iri dengan Baekhyun! Sungguh! Ya, walaupun sepupunya itu menyebalkan, tapi tetap saja kan! Andai Jongin seromantis Luhan yang sampai mau menjemput Baekhyun seperti itu. Bukan berarti ia ingin menjadi istri Luhan ya! Cih, Sehun juga tidak sudi.

"Yasudah ayo pulang!"

"Yak! Kalian mau meninggalkan kami disini?!" Sehun berteriak kesal mendengar perkataan sepupunya.

"Iya, memangnya kenapa? Suruh saja suamimu menjemput sana! Aku mau membawa istri dan anakku pulang!" sindir Luhan membuat Sehun makin bersungut kesal. Dan langsung menarik Baekhyun untuk masuk kemobilnya. Sedangkan Baekhyun hanya melambaikan tangannya dengan kikuk. Ia sungguh tidak enak dengan Sehun dan Chanyeol.

"Yasudah ayo pu—" ucapan Chanyeol terpotong saat ponselnya bergetar.

"Yeobose—"

"Aku menunggumu direstoran yang ada diujung jalan, apa aku perlu menjemputmu?"

Chanyeol menengok kearah Sehun yang melihat kearahnya bingung,

"Eum, tapi Kris aku harus—"

"Aish, ayolah. Aku sudah menunggumu daritadi. Aku ingin makan malam diluar sesekali jadi—"

"Ya, baiklah aku kesana."

Chanyeol menghembuskan nafasnya kasar, "Kenapa?"

"Ma-maaf Sehun-ah aku harus menemui Kris sekarang juga jadi—"

"Jadi kau akan meninggalkanku juga?! Sendirian disini?!" Oh, sepertinya Sehun harus memeriksa tensi darahnya besok.

Chanyeol menutup kedua telinganya karena kaget akan teriakkan sahabatnya, "Ish, kau ini berlebihan sekali! Kau kan bawa mobil! Yasudah aku harus pergi! Sekali lagi mian!" Chanyeol langsung beranjak meninggalkan Sehun sendirian yang menatap punggungnya dengan tidak percaya.

"Sahabat eoh? Sahabat macam apa kau?! Aish jinjja!" Sehun menarik nafas banyak-banyak.

"Sabar Sehun, sabar. Ayo, chagi kita pulang." Ia mengusap perut besarnya penuh kasih sambil tersenyum. Sehun mengambil kunci mobilnya dan langsung masuk kedalam mobil.

Ia melajukan mobilnya perlahan. Ya, karena ia parkir dipinggir jalan, jadi harus ekstra hati-hati jika menyebrang.

Laju mobilnya terhenti saat lampu lalu lintas didepannya menunjukkan warna merah.

Sehun berdecak sebal saat ponselnya berbunyi, "Aish, siapa sih yang—" Sehun membulatkan matanya saat mengetahui siapa yang menelpon—

"Ne, Jongin."

"Baby, bisakah kau menjemputku dikantor? Mobilku mogok jadi harus dibawa ke mekanik. Sekalian aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kau bisa?"

Sehun berteriak girang dalam hatinya, "Tentu, saja Jongin tentu—"

Tiinnnn—Tinnn—

Sehun berjengit kaget. Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya.

Sehun melajukan mobilnya saat lampu yang sebenarnya sudah menunjukkan warna hijau daritadi. Karena, ia terlalu sibuk dengan obrolan ditelponnya membuatnya lupa. Namun, ia masih dalam posisi memegang ponsel dengan sebelah tangannya.

"Yasudah nanti kau datang kerestoran tempat kita biasa—"

Jongin belum menyelesaikan kalimatnya sebelum,

Brak!—

Blam—

Ckiiit—

Mobil dari arah lain menghantam mobil Sehun hingga bagian depannya hancur.

Sehun langsung kehilangan kesadarannya ketika kepalanya terbentur pegangan setir, darah segar mengucur deras dari pelipisnya.

"Sehun-ah! Sehun—Sehun—"

Ponselnya terjatuh tepat disisi pedal dibawah kaki Sehun.

TBC


Haloooooo... update asaapp :)) maaf banget buat yang request lubaek krisyeol dll aduhh maaf ya. wkwkwk sorry banget. chap depan udah end. :( reviews yang banyaaakk! sehun udah hamil beneran noh! wwkkwkw. see you next chap oke? bye bye!