LETS PLAY!
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto
Original Story by Mrs YRA
.
DILARANG COPAS DAN PLAGIAT
DON'T LIKE, DON'T READ
NO FLAME, PLEASE!
.
WARNING:
OOC, ABAL-ABAL, TYPO, ANEH, GAJE, DRAMA, LEBAY, ALAY, GAK SESUAI EYD, DLL
.
HAPPY READING
.
.
SAKURA POVS
"Jadi gaun mana yang ingin kau kenakan Sakura?"
"Terserah kau Ino. Aku percaya dengan pilihanmu." Jawabku pada Ino yang sedang memilihkan gaun-gaun di butiknya untuk makan malamku. "Akan kah lebih bagus jika terdapat nuansa dark dalam gaunku?" lanjutku bertanya.
Ino menandangku lekat-lekat, lalu menggeleng sebelum menjawab pertanyaanku. "Kau akan kencan Sakura. Bukan menjadi killer lady."
"Aku lebih suka menjadi killer lady. Kau tahu itu Ino." Ia mendesah mendengar ucapanku. "Dan ini bukan sebuah kencan." Sambungku.
"Aku berani bertaruh, ini sebuah kencan." Ujar Ino yakin.
Aku tak dapat menahan diri untuk mendengus keras-keran di hadapannya. Ino membalas dengusanku dengan desahan nafas panjang.
"Berhentilah bermain-main Sakura. Seriuslah dalam menjalin hubungan." Ucapnya menasehatiku. Ini adalah nasehat sama yang ia ucapkan seribu kali untukku. Aku kembali mendengus mendengar nasehat bodohnya.
"Jadi siapa kali ini?" tanyanya setelah kami saling diam cukup lama. "Pengacara lagi seperti Gaara, Kiba, Shino? Atau pemilik restoran seperti Chouji? Atau para pendidik seperti siapa ya? Aku lupa." Ino berhenti untuk mengingat beberapa nama. Tapi ia malah malanjutkan pertanyaannya. "Atau manajer bank seperti Kakuzu dan Hidan temannya yang aneh itu. Atau pengusaha-pengusaha muda? Kebanyakan mantan kekasihmu berasal dari sana bukan? Oh bahkan aku tak mampu menyebutkan nama-nama mereka Sakura! Itu terlalu banyak!" lanjut Ino panjang lebar.
"Dia seorang pelukis." Aku mengerlingkan mata padanya dan Ino malah mendelik mendengar jawabanku. "Ayolah, aku hanya bercanda sayangku Ino." Lanjutku tersenyum lima jari.
Ino mengerucutkan bibirnya merespon candaanku.
"Kau kenal Uchiha?"
"Ya, tentu saja."
"Dia yang mengajakku makan malam."
"Apa?!" pekik Ino. "Kau gila Sakura."
"Aku sudah gila dari dulu bukan?" ujarku datar. Ino tak menjawab, ia hanya menatapku sedih.
Karena sudah dari dulu sekali aku menjadi gadis gila.
…
SASUKE POVS
"Kau yakin tidak akan ikut kami bersenang-senang Sasuke?"
"Aku akan bersenang-senang dobe. Tetapi tidak bersama kalian malam ini." Seringaiku sombong sambil memutar-mutar gelas berisi alkohol yang telah habis kuteguk.
"Wow! jadi Teme kita yang brengsek ini telah menemukan ratunya?" ejek Naruto. "Siapa wanita yang beruntung itu Teme?" tambahnya dengan gaya menjijikkan bak seorang penyair.
"Koreksi. Wanita yang merugi lebih tepat." Timpal Sai datar dari balik bukunya diiringi tawa kencang Naruto. Aku mendengus mendengar perkataan mereka.
"Satu-satunya Haruno yang tersisa di bumi ini. Keberuntungan bukan?" aku mengangkat sebelah alisku. Dan kedua sahabat konyolku ini terlihat tak percaya. "Kalian tak perlu menatapku seperti itu. Uchiha bisa mendapatkan gadis manapun." Tambahku sombong.
Mendengar ini, Sai hanya menatapku tajam penuh tanya tanpa mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan itu dari mulut tajamnya. Sedangkan Naruto, ia menanggapi dengan sangat berlebihan, kurasa.
"Apa?!" teriak Naruto berlebihan. "Kenapa harus Sakura? Ya Tuhan Kau bisa memilih yang lain bukan? Kau tahukan, dia selalu kuanggap sebagai adikku sendiri. Ya Tuhan, dia sebatang kara sejak berusia 9 tahun. Dan kau memilihnya? Banyak wanita yang bisa kau pilih Sasuke." lanjut panjang lebarnya. Ia bahkan menyebut Tuhan dua kali dalam ucapannya.
"Dia yang memilihku bodoh! Aku akan ikut bermain dalam permainan yang dia buat." Jawabku datar. "Dan dia bukan adikmu!"
"Tapi aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Kau bahkan baru saja mengenalnya Sasuke dan kau berencana menghancurkannya? Oh Tuhan setiap gadis yang kau kencani pasti hancur Sasuke!"
"Kau bermain dengannya. Dan kau akan ikut terbakar dalam permainannya." Ucap Sai lirih menginterupsi omelan Naruto yang mirip dengan wanita tua penggosip.
"Akan tetap kumainkan walau aku pun juga terbakar. Setidaknya aku akan membuatnya terbakar bersamaku." Ujarku tajam.
"Cinta bukan permainan bodoh!" teriak Naruto, "Dan berhenti mengucapkan kata bakar-membakar. Atau kalian berdua akan kubakar di sini."
…
SAKURA POVS
Pada akhirnya Ino memaksaku memakai gaun pendek berwarna hijau lembut. Karena menurutnya gaun ini sangat serasi dengan mataku. Dia bahkan mengatakan aku sangat manis dengan gaun serta dandanan yang Ino buat. Jika karena dia bukan satu-satunya teman wanita yang kumiliki, aku takkan menuruti saran-saran Ino yang membuatku seperti permen kapas dengan warna hijau dan pink. Aku mendesah melihat penampilanku di cermin sebelum aku berangkat.
Malam ini aku menyetir mobil sendiri. Menelusuri jalanan Kota Tokyo yang super padat dalam keheningan. Tidak ada suara radio, musik, atau senandung yang bisa kunyanyikan karena aku membenci suara-suara yang merusak rasa kesendirianku. Tetapi, hanya ada satu lagu yang paling aku suka dan selalu berputar-putar dalam otakku tanpa perlu ku senandungkan. Sesuatu yang membuat hidupku sedikit lebih menarik.
Terlalu hanyut dalam pikiranku sendiri, aku tak menyadari bahwa 45 menit perjalanan telah ku tempuh. Kini aku tengah berada di pelataran sebuah Hotel Bintang lima di Tokyo. Aku melangkah keluar dan menyerahkan kunci mobil pada petugas parkir sebelum melangkah dengan anggun memasuki lobi hotel. Tanpa perlu bertanya dimana letak Restoran Susano berada, aku terus melangkah menuju lift dan menekan angka 25.
Sesampainya di lantai 25 aku disambut oleh seorang resepsionis. Resepsionis tersebut menanyakan siapa namaku. Begitu kusebut bahwa aku adalah Haruno Sakura, ia mengatakan bahwa Mr Uchiha telah menunggu.
Aku cukup kaget ketika masuk dan mengetahui bahwa restoran ini kosong, tak ada satupun tamu di sana selain Uchiha yang tengah berdiri menungguku di salah satu meja yang telah tertata rapi. Sedangkan meja-meja lain telah berubah menjadi tempat penuh lilin-lilin beraroma terapi yang sangat menenangkan. Ruangan ini serasa telah di sulap dengan ajaib menjadi lautan lilin yang memiliki cahaya temaram dan indah. Di atas sana, kilauan bintang menjadi atap restoran ini. Suara musik mengalun indah dari orkestra yang berada depan ruangan. Aku bisa mendengarkan nada-nada romantika dimainkan dengan luar biasa.
Uchiha telah menyiapkan segalanya untuk sebuah makan malam palsu kami. Bahkan langitpun ikut mendukung rencananya.
Disana Uchiha berdiri dengan gagah dan onyxnya terus menatapku. Tatapan itu dalam dan tajam seakan menelanjangi tubuhku. Ia memakai setelan kemeja putih di dalam tuxedo hitam dan celana hitam yang tampak serasi. Wajahnya terlihat indah mempesona dalam cahaya temaram ini. Jika saja aku bisa jatuh dalam pesona seperti wanita-normal lainnya, kupastikan aku meleleh melihat penampilan Uchiha malam ini.
Layaknya seorang gentleman ia menengadahkan tangan kekarnya untuk meminta tanganku. Aku tersenyum dan menjulurkan tanganku padanya. Mata kami saling berpandangan ketika ia meraih tanganku dan menciumnya.
"Senang bertemu denganmu Nona Haruno." Ucapnya usai mencium punggung tanganku.
"Begitu juga denganku. Senang sekali bertemu kembali denganmu Mr Uchiha." Balasku sopan dengan nada seanggun mungin. Mata kami masih saling memandang ketika Uchiha meyunggingkan senyum padaku. Kupikir ini adalah senyum andalannya untuk menjerat wanita-wanita bodoh diluar sana. Lalu ia menarik kursi untuk mempersilakan aku duduk.
Kuberikan nilai sempurna untuk sikap dan segala hal yang telah ia siapkan.
"Mr Uchiha, Kau mereservasi seluruh tempat ini?" tanyaku begitu ia duduk.
"Seperti itulah." Jawabnya singkat dengan menyeringai.
Lalu kami terdiam cukup lama ketika pramusaji menyajikan makanan pembuka dan menuangkan sampanye untuk kami.
"Kau berlebihan Mr Uchiha. Tapi, terimakasih kau mau repot-repot menyewa ini hanya untuk makan malam bersamaku."
"Aku tidak merasa kerepotan Nona Haruno." Ia kembali tersenyum dan sayangnya aku tidak bisa tersipu untuknya.
Kami makan dalam diam karena pramusaji disini sangat tepat waktu mengambil dan mengantar hidangan. Hingga akhirnya hidangan penutup telah di hidangkan, Uchiha membuka suara.
"Akan lebih baik jika kau memanggilku Sasuke, nona." Ucapnya meminta persetujuanku.
"Oh ya tentu saja Sasuke. Dan kau bisa memanggilku Sakura."
"Yeah. Sakura. Itu bagus." ucap Sasuke kata demi kata. Lalu kami berdua tersenyum bersamaan seperti orang bodoh. "Kau bisa berdansa Sakura?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Entahlah. Aku tak pernah melakukannya." Aku mengedikkan bahu. Tetapi Sasuke memandangku seakan ini bukanlah masalah.
"Biarkan ini menjadi yang pertama Sakura." Sasuke meraih tanganku dan menarik tubuhku ketengah ruangan dan sejara ajaib lampu-lampu menyorot kami berdua dan musik mengalun merdu.
Sasuke menempatkan tangan kananku di lengan kanan berototnya dan matanya terus menatapku. Bola mata itu seakan menghipnotisku, membuat mataku terus terfokus pada mata kelamnya. Lalu ia menempatkan tangan kanannya di punggungku yang telanjang. Onyx gelap miliknya masih menatapku saat ia menautkan jari jemari tangan kiri kami dan menggenggamnya dengan erat. Saat alunan musik mulai berganti dengan alunan lainnya ia mulai melangkah memimpin dansa kami. Langkah ke kanan, ke belakang, ke kiri, dan ke depan membentuk sebuah kotak. Aku mengikutinya. Ia terus mengulang-ulang gerakan ini hingga aku lancar.
Kemudian Sasuke memintaku berputar. Tetapi yang kulakukan adalah memutar bola mataku di hadapannya dan Sasuke menyeringai melihat itu. Ia menahan tawa dalam katupan rapat bibirnya. Musik terus dimainkan dan Sasuke kembali memimpin tarian kami. Memaksaku untuk terus bergerak bersamanya. Kemudian ia melepas tangannya yang berada di punggungku dan menarik lengan kiriku ke atas mengikuti lengannya. Gerakan ini membuatku terpaksa berputar sesuai keinginannya.
Aku berputar tiga kali sebelum Sasuke menangkapku dengan gerakan yang sangat pelan sekali. Kaki kami saling bersilangan, tubuhku dalam gerakan setengah ambruk yang kemudian ia tahan menggunakan tangan kanannya dan aku menahan tubuhku sendiri dengan mencengkeram lengan kanan milik Sasuke, sedangkan jari jemari kiri kami masih saling bertaut erat. Mata kami saling bertatap. Menerawang jauh kedalam masing-masing bola mata satu sama lain. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat …..
"Kurasa cukup Sasuke." Aku tersenyum dalam posisi tangkapannya. Ini benar-benar terasa canggung.
"Baiklah." Sasuke membantuku berdiri kembali. Ia tak melepasku. Malah kini ia meletakkan kedua tangannya di pinggulku.
"Sasuke." Panggilku lirih. "Tolong lepaskan."
"Kita bisa berdansa dengan posisi seperti ini Sakura. Lingkarkan kedua lenganmu di leherku." Aku melakukan instruksinya.
Bukankah aku harus menjadi gadis-manis baik sebelum menghancurkannya?
Kemudian Sasuke menempelkan dahinya di dahiku. Kami saling menatap dalam jarak sedekat ini. Aku bisa melihat betapa kelamnya onyx yang Sasuke miliki. Ia menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya sebelum kami kembali bergerak kekanan dan kekiri, kedepan den belakang sesuai dengan alunan lagu. Onyxnya terus memandangku. Begitu pula denganku, aku membalas tatapannya. Aku tak memahami ekspresi yang terukir diwajahnya. Senyuman kecil tadi telah menghilang. Dalam diam ia terus memandangku.
"Apa yang kau lihat Sakura?"
"Kau." Ucapku lirih. "Ada apa denganmu?" tanyaku.
"Entahlah."
"Apakah orkestra disana bisa memainkan lagu yang sedikit lebih keras?" Sasuke memandangku heran dalam satu detik. Tetapi pada detik selanjutnya ia memberi kode agar musik yang di mainkan diubah.
Musik pun berubah lebih cepat dan lebih keras dan aku melepaskan rangkulan tanganku. Sasuke kembali menatapku heran. Terlebih ketika aku memegang kedua telapak tangannya yang berada di pinggangku dan aku tetap bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa diikuti Sasuke. Lelaki di hadapanku ini hanya diam. Ia terus menatap mataku dan aku terus menatapnya. Kemudian pada tempo yang pas aku melepaskan kedua tangan Sasuke dari pinggangku dan mundur menjauhinya perlahan dengan menyunggingkan senyuman menggoda.
Sejauh kira-kira lima meter dari Sasuke, aku mulai menari sendiri dengan irama yang ada di kepalaku. Sasuke berdiri tak bergerak di hadapanku. Ia memperhatikan gerakan-gerakan kacauku. Aku mengerling padanya. Sasuke menyuguhkan seringaian sebagai balasannya. Tubuhku terus ku gerakkan sesuai dengan alunan musik di kepalaku. Beberap kali aku mengulurkan tangan untuk mengajaknya bergabung menari bersama. Ia mengangkat sebelah alisnya dan menyeringai kecil menanggapi ajakanku. Sasuke hanya menatap tarianku dan tak bergeming di sana.
Pada akhirnya pemain-pemain orkestra di depan seakan tahu lagu yang sedang kuputar di kepalaku. Lagu yang mengiringi tarian gilaku. Mereka menyuarakannya dengan alat musik dan aku menyuarakannya di kepalaku. Sedangkan Sasuke? Ia tetap tak bergeming di sana menikmati pertunjukan. Aku tersenyum lebar padanya sebelum bergerak mendekatinya dan menarik tangan untuk bergabung bersamaku. Lagi-lagi ia mengangkat sebelah alisnya dan menyeringai kepadaku sebagai sebuah penolakan. Tapi, aku terus menggodanya dengan tarianku dan menggerak gerakkan tangannya yang telah ku genggam seakan dia menari bersamaku.
…
SASUKE POVS
Dia datang. Dari jauh aku bisa melihat senyuman itu mengarah padaku. Emeraldnya berbinar. Ia terlihat cukup takjub dengan dekorasi ruangan ini yang sengaja kuatur seromantis mungkin agar tampak mengesankan. Haruno berjalan begitu anggun seakan ia tak menapakkan kakinya di lantai. Semakin ia dekat, semakin jelas aku melihatnya. Helai pinknya ia biarkan terurai dengan bergelombang. Tubuhnya terbalut gaun hijau pendek yang sewarna dengan emeraldnya yang indah. Sangat serasi.
Kami makan malam dalam diam. Sakura tak mengatakan sepatah katapun tentang makan malam yang telah di sajikan. Ia hanya mengucapkan terimakasih di awal pertemuan kami. Tak ada ucapan apapun lagi setelahnya. Begitu makan malam selesai, aku mengajaknya berdansa. Awalnya ia menolakku dengan halus, tetapi bukan Uchiha jika aku tak sanggup memaksa wanita.
Sakura mengatakan bahwa ini adalah dansa pertamanya, jadi aku sedikit menginstruksikan beberapa hal padanya. Ia menurut dengan arahan yang telah kusampaikan. Jari-jari kiri kami saling bertautan, telapak tangan kanannya ia letakkan di lenganku tanpa ragu. Sedangkan ketika aku menempatkan telapak tangan kananku di punggungnya yang telanjang. Kulit porselennya begitu halus saat kusentuh. Aku merasakan desiran-desiran aneh merambat di tubuhku. Dengan posisi ini, tubuh kami seakan menempel satu sama lain. Bahkan aku bisa menghirup aroma cherry dari tubuhnya.
Kami mulai bergerak ketika orkestra mengganti alunan musik dengan tempo lebih lambat. Sakura terasa begitu kaku dalam gerakan pertama. Beberapa kali menahan sakit kaki karena injakan Sakura. Tetapi sepertinya dia tak sadar telah menginjak kakiku. Kami mengulangi gerakan-gerakan dansa hingga kurasa ia cukup rileks dan aku memintanya berputar dengan satu tanganku. Awalnya ia menolak permintaanku. Tetapi pada permintaan kedua aku berhasil membuatnya berputar.
Tiga kali putaran yang Sakura lakukan begitu menyedot perhatianku. Ia berputar dengan gemulai. Mataku terus tertuju padanya, merekam setiap gerakan tubuhnya. Dan kemudian ia jatuh dalam tangkapanku. Mata kami bertemu. Ia menatapku dengan emerald indah miliknya. Mata itu terus menatap, seakan menghipnotisku untuk menikmati keindahan mata dan wajah yang tersipu milik gadis dihadapanku. Sayangnya keindahan ini hanya kunikmati beberapa detik saja karena Sakura menarikku kembali ke dunia nyata. Ia tertawa canggung dan memintaku untuk menyudahi adegan ini.
Kami kembali berdiri dan menari. Kali ini kuletakkan kedua tanganku menyentuh pinggul Sakura. Ia sedikit tersentak dengan apa yang ku lakukan. Bibir indahnya terlebih dulu protes memintaku untuk melepaskan tanganku di pinggulnya. Tak kuhiraukan permintaannya. Aku meminta Sakura untuk merangkulkan kedua tangannya di leherku. Beruntung, ia menurut dan kami mulai menari dalam diam mengikuti alunan musik. Entah apa yang aku pikirkan saat ini, tiba-tiba saja aku menyentuh dahi Sakura dengan dahiku. Ia melirikku dan kembali protes. Aku menghiraukannya. Sekarang kami menari dalam keadaan saling menempel satu sama lain. Syukurlah aku bisa menahan juniorku agar tak mengeras dengan liar dalam posisi ini.
Dalam dansa kami, aku merasa tersesat. Aku bingung dengan diriku sendiri yang menemukan kenyamanan dengan skinship konyol ini. Bahkan aku mulai berdebat dengan pikiranku tentang semua yang terjadi. Menanyakan pada diri sendiri apakah yang kulakukan benar atau salah.
"Apa yang kau lihat Sakura?" tanyaku begitu melihatnya menatapku ingin tahu.
"Kau." Bisiknya. "Ada apa denganmu?" lanjutnya ingin tahu. Begitu mudahnya-kah aku di baca olehnya?
"Entahlah."
"Apakah orkestra disana bisa memainkan lagu yang sedikit lebih keras?" Sakura benar-benar membuatku bingung dengan pertanyaan ini. Apakah ia berpikir aku juga mengundang DJ untuk mengiringi tarian kami? Atau ia megenali salah satu pemain musik di sana adalah seseorang yang juga menjadi DJ? Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Ku jawab pertanyaannnya dengan memberi kode pemain-pemain di sana. Merekapun mengganti alunan musik menjadi lebih cepat dan keras.
Aku melihat senyuman mengembang di bibirnya begitu pemain orkestra memainkan musik lain. Seiring alunan musik yang mengalun lebih keras dan lebih cepat, Sakura melepaskan rangkulan tangannya. Ia menyentuh kedua punggung tanganku yang ada di pinggangnya. Kemudian ia bergerak-gerak seperti menarikan sebuah tarian. Tubuhnya terus bergerak dalam gerakan menawan. Tangannya terus menangkup kedua tanganku dengan lembut. Emeraldnya terus menatapku begitu dalam. Akupun balas menatap kedua matanya. Kami saling menatap tanpa suara. Tubuh Sakura terus menari dan tubuhku hanya diam mematung memandangnya.
Pada tempo musik yang menghentak, Sakura melepaskan kedua tanganganku dari pinggangnya. Ia menggenggamku erat lalu mundur dengan langkah indah tanpa menarikku. Ketika tangan kami saling terulur karena jarak semakin bertambah, ia melepas genggamannya. Sakura tersenyum kecil dan ia mulai menari kembali.
Aku terus memandangnya gadis di hadapanku yang sedang menarikan sebuah tarian yang tak pernah ku kenal seumur hidup. Gerakan tubuhnya kacau dan sangat berantakan. Terkadang ia menggerakkan bahunya ke kanan dan ke kiri, kemudian berputar-putar, meloncat, menggerak gerakkan tangannya. Sesekali ia juga menggoyangkan pinggulnya, tetapi bukan gerakan sensual yang tercipta. Hal yang paling membuatku tertarik adalah kaki jenjang Sakura yang begitu lincah dalam gerakan rumit tarian hancurnya.
Setelah cukup puas menari sendiri, ia berusaha mengajakku bergabung. Tetapi aku hanya mengangkat sebelah alisku dan menyeringai padanya. Sakura memutar bola matanya melihat serianganku dan membuatku makin tertarik melihatnya. Ia terus menari tak tentu arah dan sesekali mengejekku karena tak mau bergabung dengannya. Kejadian ajaib pun terjadi. Musik-musik megalun mengikuti gerakan-gerakannya. Mendengar itu Sakura tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putih yang ingin kubelai satu persatu dengan lidahku. Mau tak mau aku ikut mengungingkan senyumku walau sedikit. Ku harap gadis itu tak melihatnya.
Sakura kembali mengajakku. Kali ini ia menarik dan menggenggam tanganku dalam tariannya walau aku tak ikut bergerak. Aku menyeringai lagi padanya. Tapi, ia tak peduli. Sakura terus menari dengan menghentak-hentakkan tanganku membuatku tersenyum geli.
"Berhentilah Sakura. Kau seperti bocah lima tahun."
"Aku suka menjadi bocah lima tahun Sasuke." Ia mengerling padaku. Dan ia terus menari dengan kedua tanganku. Beberapa kali ia melakukan gerakan memutar dengan tanganku seperti yang kuminta saat ia berdansa tadi sebelum kembali menarikan tarian kacaunya.
"Oke. Kau mendapatkanku Sakura." Ia tersenyum manis dalam dosis yang cukup untuk membuat jantungku berhenti.
Aku ikut menari. Sakura menjadi pemimpin dalam tariannya. Ia menunjukkan beberapa gerakan rumit yang menggelikan. Aku mengikuti tarian Sakura dan sesekali ku buat sendiri tarianku. Ia tertawa melihat gerakanku dan aku tertawa bersamanya. Kami berdua terus menari seperti bocah remaja.
Aku tak bisa menahan mataku untuk terus menatap emerald indahnya yang juga menatapku. Seakan kami saling terhipnotis satu sama lain.
"Kau cantik Sakura." Kalimat itu mengalir begitu saja dari mulutku. Lagi-lagi ia hanya tersenyum sebagai balasan pujian yang kulayangkan padanya.
Kami masih terus menari dan tertawa hingga Sakura kembali menggenggam kedua tanganku. Ia menghentikan tariannya. Aku pun mengikutinya.
"Ini malam yang indah Sasuke. Terimakasih." Ucapnya tulus.
Sakura melangkah maju hingga tubuh kami saling berdekatan. Ia berjinjit sedikit dan tiba-tiba saja ia mengecup pipiku dengan cepat. Ia kembali tersenyum. Kemudian Sakura melepas genggaman tangannya padaku sebelum melangkah mundur. Bibirnya bergerak tanpa suara mengucapkan kalimat, Aku harus pergi.
"Kau seperti Cinderella. Ini bahkan belum jam 12 malam." Ucapku cukup keras agar sampai di telinganya. Ia hanya tertawa mendengar ucapanku sebelum benar-benar menghilang di balik pintu. Aku bahkan tak melakukan apapun untuk menahan atau mengejarnya.
Apapun yang ia lakukan padaku, apapun yang ia rencanakan, aku telah memberinya sebuah tepuk tangan keras. Haruno telah berhasil membuat hati seorang Uchiha bergetar.
.
.
Are you playing with me?
Am I playing with you? Who has the key?
Anyway, I'm curious
Anyway, you have charm, the game has begun
.
.
TBC
.
.
Hello! Chapter 2 telah di update.
Maaf jika typo masih banyak berkeliaran di fic ini.
RnR ya. Karena review dari para readers adalah semangat saya untuk melanjutkan fict ini. No Flame pliss.
Big Thanks to :
kHaLerie Hikari, Jamurlumutan462, undhott, Rizka scorpiogirl, syahidah973, echaNM, , Uchiharuno Misaki, Kiki Kim, Uchia Junkie, Frizca A, hyugadevit, Dewazz, Kagaaika Uchiha, Greentea Kim, dan semua yang telah membaca, Follow dan Fav fanfict ini, serta para silent reader J
Karena kalianlah saya semangat untuk melanjutkan fanfict ini J
MrsYRA
