LETS PLAY!

Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Original Story by Mrs YRA

.

DILARANG COPAS DAN PLAGIAT

DON'T LIKE, DON'T READ

NO FLAME, PLEASE!

.

WARNING:

OOC, ABAL-ABAL, TYPO, ANEH, GAJE, GAK SESUAI EYD, DLL

.

!BACALAH BACAAN SESUAI USIA!

.

HAPPY READING

.

.

SAKURA POVS

Aku jalang. Aku gadis jalang dan aku menikmati kejalanganku. Bermain dengan dua pria berbeda pada satu malam yang sama. Aku seperti pelacur yang bergonta-ganti pasangan dalam hitungan jam.

Lagi-lagi aku menari. Menari dihadapan seorang pria yang berbeda di malam yang sama. Menggerakkan tubuhku untuk kesenanganku, dan kesenanganya. Aku menyentuh tubuhnya, lengannya, dadanya, pipinya, hidung dan rambutnya. Dia selalu menyeringai tiap kali aku menyentuhnya. Tapi ia tak pernah menggerakkan tangannya pada tubuhkuku. Aku menikmati berbagai ekspresi menjijikkan yang muncul di wajah mereka. Mereka? Kini bukan hanya dia yang menari bersamaku. Ini seperti bermain lotre. Kau akan selalu terkejut dengan apa yang kau dapat.

Aku merasa tak berbeda dari Uchiha. Oh mungkin sedikit berbeda, dia menikmati wanita dan aku pria. Dan kenapa aku harus mengingatnya?

Pikiranku kembali ke tubuhku. Di hadapanku kini ada seorang pria tampan berambut merah yang selalu terlihat lebih muda daripada usianya. Yeah kini aku berpesta bersama Sasori. Kalian tahu siapa dia? Sasori seorang ahli patung ternama yang brengsek dan aku menyukainya.

Aku bertemu dengannya di lobi hotel tempat Uchiha mengajakku makan malam. Ia menggandeng seorang wanita seksi yang terlihat lebih tua dari Sasori. Aku hanya perlu melambaikan tangan lalu sedikit mengedip padanya dan ta da ia membatalkan check in yang akan ia lakukan. Sasori mengatakan bahwa ia akan mengajakku 'makan malam'. Karena aku jalang, tentu saja aku menyetujuinya dan membiarkan seorang pelacur kehilangan job malam ini.

Faktanya tidak ada yang makan malam diiringi dengan musik keras dan cahaya redup di dalam sebuah bar rahasia di pinggiran Tokyo. Kami menari. Atau lebih layak disebut aku menari dan dia melototkan matanya padaku. Sekali, kami berciuman. Saling menyesap rasa hina satu sama lain. Sasori tak pernah mempertanyakan mengapa aku ada di hotel, akupun sama. Ia tak peduli menemukanku di tempat manapun.

Sasori hanya mempedulikan sentuhan-sentuhanku dan tubuhku yang terus menggodanya. Bola matanya liar mengikuti setiap gerakanku. Aku tak peduli. Bahkan beberapa pria terang-terangan mengerubungi dan melototkan matanya pada tubuhku, aku tak peduli. Sasori tak peduli. Mereka mengenalku ataupun tidak mengenalku, aku tetap tak peduli. Aku tahu, aku menghancurkan nama baikku dan aku tak peduli dengan apapun itu. Aku tak peduli dan mereka pun juga tak peduli.

Pria-pria menjijikkan!

"Jangan. Pernah. Menyentuhku." Ucapku mendesiskan setiap kata tiap kali seorang pria berusaha menyentuhku. Sasori tidak pernah membantu. Ia hanya melihat dan menyeringai setiap kali aku mengucapkan mantra. Sasori mengenalku. Sangat mengenalku.

Entah jam berapa saat ini. Entah berapa jam aku menikmati kesendirianku bersama botol-botol dingin cairan nikmat ini. Kepalaku berputar. Segalanya berputar, berjungkir balik tak karuan. Bahkan kulihat kini aku punya sepuluh jari di tangan kanan. Aku tersenyum bahkan mungkin tertawa, mengagumi jari-jariku yang semakin banyak. Aku gila dan aku mabuk. Aku tahu aku mabuk. Tapi tak ingin berhenti meneguk minuman panas ini. Aku menikmati setiap cairan panas ini membakar tenggorokan dan jiwaku. Aku terbakar, mual, dan kepalaku seperti tertusuk ribuan paku tapi aku suka. Aku menikmatinya.

"Kau harus berhenti nona." Seorang pria memperingatiku dengan suara yang sangat seksi. Kutoleh si pria pengusik, ia menyeringai.

"Pergilah!" kulambaikan tanganku yang berjari banyak pada pria itu. Aku ingin sendiri, aku ingin dia pergi. "Aku memesan ruangan ini untuk diriku sendiri!" bentakku sebelum meneguk kembali segelas alkohol entah apa namanya. Otakku tak mampu mengingat minuman yang ku pesan.

"Cukup Sakura! Kau sudah cukup mabuk!" tangan putih kekarnya berusaha mengambil gelasku

"Dan kau… Sudah cukup puas dengan jalangmu." aku terkekeh mendengar ucapanku sendiri. Ia menyeringai. Sasori duduk di sebelahku dan menggeser dirinya hingga membuatku terpojok

"Itu karena kau tak pernah membiarkan aku menyentuhmu." Suara Sasori berbisik rendah tepat di telingaku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang membuatku merinding.

"Aku benar-benar akan membunuhmu jika kau berani menyentuhku!" bentakku pada pria brengsek ini

"Tentu saja kau tak akan pernah ragu untuk membunuhku Sakura. Dan….. Kau tidak ingat heh? Kita berciuman Sakura." Ucapnya pelan, meremehkan.

Aku mendengus keras seperti banteng.

"Aku mengerti. Itu ciumanmu bukan ciuman kita. Karena hanya kau yang menciumku dan aku akan melupakan fakta bahwa aku juga melumat bibirmu yang manis. Oh, bahkan aku masih ingat bagaimana rasanya." Ucapnya datar dan keras memekakkan telinga. Ia menarik kepalanya menjauh dariku. Tetapi tiba-tiba ia mengecup puncak kepalaku. "Pulanglah! Aku sudah menelepon Kakashi untuk menjemputmu."

Sial Sasori!

… Tidak ada pagi yang cerah dalam ceritaku. Walau pada kenyataannya matahari bersinar cukup hangat pagi ini dan aku bangun seperti zombie bukan putri. Aku memilih untuk membatu di dasar kolam yang sedingin es dibanding menikmati matahari. Menyelimuti diri dengan keheningan dan rasa dingin. Memikirkan segalanya. Memikirkan kesedihanku.

Lima tahun yang lalu kuputuskan untuk kembali tinggal di Jepang, mengurus bisnis keluarga yang terlantar, membangunnya kembali hingga berdiri kokoh seperti sekarang. Lima tahun juga aku bermain cinta dengan pria-pria kaya tanpa minat.

Empat belas tahun sudah terlewati sejak pembantaian seluruh keluargaku di sini, di rumah ini. Semenjak itu aku di larikan ke Inggris menghindari media dan pemberitaan yang mengoyak kewarasanku. Aku di kurung di rumah sakit jiwa untuk mengatasi kesehatan mentalku, atau lebih pantas disebut kegilaanku. Kondisi psikisku yang terguncang karena pembantaian, itulah anggapan orang-orang. Itu hanya anggapan, bukan sebuah fakta. Fakta yang sebenarnya adalah aku benar-benar gila dan tak tersembuhkan.

Sekarang dimana aku setelah dokter-dokter itu mengatakan bahwa aku sudah cukup normal untuk bersosialisasi? Aku kembali tinggal di mansion tua milik keluarga. Tempat ayah, ibu, dan kakakku terbunuh. Tapi hanya ragaku yang ada disana. Karena sebenarnya aku adalah raga tanpa jiwa. Jiwaku ikut mati bersama ayah, ibu dan kakak.

Aku merindukan mereka dan sial, aku perlu bernafas.

Semakin lama aku menyembunyikan diri di dalam kolam, air semakin terasa nyaman di kulit. Begitu menenangkan sekaligus menakutkan, karena aku mulai merasa tak membutuhkan udara lagi. Sebelum kesadaranku habis, kuputuskan untuk mengakhiri ritual gilaku dan menjadi Sakura yang lain. Sakura si Nona Haruno yang manis, baik, sopan, ramah, dan ceria. Nona Haruno, seorang wanita muda yang memimpin sebuah perusahaan publishing ternama di Jepang.

Begitu kepalaku muncul di permukaan kolam, kulihat Rin telah menungguku. Ia menunggu dengan senyuman dan perut membuncit. Raut wajahnya sedikit kaku menyembunyikan kekhawatirannya. Ia bukan ibuku, tapi selalu mempedulikanku. Terlebih semalam aku membuat suaminya menjemputku karena mabuk. Kenyataan ini membuat perasaanku terluka.

"Hai Rin. Kau selalu datang terlalu pagi." Aku menyapa Rin yang membawakanku handuk.

"Ini sudah jam tujuh pagi Sakura. Tidak layak jika kau menyebutnya terlalu pagi." Ucapnya pura-pura melotot padaku. Rin bertubuh sedikit lebih pendek dariku dengan perut membuncit dan berusaha terlihat jengkel padaku. Kakashi benar-benar beruntung karena Rin sangat menggemaskan. Aku tertawa dengan acting gagal Rin. Rin pun ikut tertawa. Kami tertawa bersama.

Permulaan yang bagus untuk menjadi Nn. Haruno!

"Aku senang mendengarmu tertawa Sakura." Ucap Rin. Membuatku berhenti tertawa. "Kakashi bilang kau mabuk semalam. Kami mengkhawatirkanmu." Raut wajah Rin berubah lebih sendu dan penuh kekhawatiran.

"Aku baik-baik saja Rin." Aku tersenyum padanya. Berpura-pura semua baik-baik saja. "Kau seharusnya menghitung berapa lama aku mampu tidak bernafas dibawah sana. Aku semakin baik dalam menahan nafas." Ucapku penuh kebanggaan padanya. Aku tak ingin dia mengkhawatirkan aku.

"Itu bukan hal yang patut dibanggakan Sakura. Kau bukan ikan, tidak seharusnya kau melakukan itu." Aku gagal membesarkan hatinya. Ia semakin mengkhawatirkanku dan ini tidak baik.

Yeah, aku tahu. Aku bukan ikan.

"Berapa usia kandunganmu Rin?" tanyaku. Rin menatapku heran karena pertanyaanku tidak berkaitan dengan ucapannya.

"Sekitar 4 bulan. Apakah ada sesuatu, Sakura?" Jawabnya bingung.

"Oh, itu berarti aku harus mendengar ocehan orang hamil yang tidak masuk akal selama 5 bulan lagi Rin." Aku pura-pura melotot padanya. Ia tertawa.

"Kau juga akan tidak masuk akal jika kau hamil Sakura." Ia balik melotot padaku sambil mengusap-usap perutnya. Membuatku tertawa.

Kami berjalan memasuki rumah sambil membahas perut buncit Rin. Ia benar-benar sangat menyukai topik ini. Rin mengatakan banyak hal tentang anak dan kehamilan yang sebenarnya tak pernah terlintas di kepalaku untuk mendapatkannya. Rin berbinar-binar. Ia terlihat sangat bahagia dengan kehamilannya.

...

SASUKE POV

Semalam sangat indah dan menyenangkan. Kalimat itu benar-benar tertanam di otakku.

Pink dan hijau. Sakura dan gaun hijau ketatnya. Memori sialan yang terus berputar di otakku.

Aku benar-benar pria brengsek. Aku sangat menyadarinya. Salah satu bagian tubuhku sedang dimanjakan oleh bibir Personal Asistant-ku dan aku memikirkan gadis lain dengan gaun hijau yang menari-nari dihadapanku semalam.

Pikiranku datang silih berganti seperti sebuah mobil yang disetiri oleh dua orang berbeda dalam waktu yang sama. Sopir yang satu ingin berbelok ke kanan, yang lain inigin berbelok ke kiri dan aku adalah mobilnya.

Aku merasakannya. Bibir gadis ini begitu tebal dan terus menghisapku kuat-kuat. Bibir Sakura sangat lembut, kenyal, begitu menggoda dan semalam aku merasakannya dalam sedetik di pipiku. Jari-jari di bagian tubuh bawahku terus naik dan turun dalam tempo yang sangat pas. Otot-ototku menegang karenanya. Jari-jari Sakura semalam hanya digunakan untuk menuntunku menuruti keinginannya, menari bersamanya. Ia tak menggunakan jarinya untuk menuruti keinginanku. Aku mendengar suara di telingaku begitu nyata, suara desahan karena gairah yang terus dipacu. Suara lain yang kudengar adalah suara tawa Sakura yang manis.

Mataku memandang kebawah. Merah. Pink. Helai merah ini terus menaik turunkan kepalanya, sesekali menatapku dalam pandangan menggoda. Helai pink, ia menatapku dalam dan lembut, ia begitu menggoda. Mereka menggodaku. Aku tak bisa membedakan dunia nyata dan dunia dalam pikiranku. Pikiranku begitu ramai tapi gadis ini benar-benar hebat menghisapku.

"Ahhh… Sa… kura!" Aku merasakannya. Suaraku terlalu keras dan bukan nama gadis ini yang aku sebut. Kuharap dia tak mendengarku.

Aku brengsek dan tak menghargai pekerjaannya.

Aku terengah-engah karena hasil pekerjaan PA-ku. Aku kembali kedunia nyata dan… mataku tertuju pada seseorang. Dia bukan PA-ku yang kini hanya memakai bra seksi dan rok kantor yang masih rapi –entah dimana blazer dan kemejanya- di dalam ruanganku. Dia duduk di atas meja tamu, menatapku dengan pandangan meremehkan dan menyunggingkan seringaiannya padaku. Tangannya ia lipat di dada membuatnya semakin seksi. Ia terus menatapku dan aku sadar bahwa pakaianku sangat berantakan untuk bertemu seorang tamu. Kancing celanaku terbuka dan kemejaku juga. Aku bodoh, kalut, dan dia menatapku tajam dalam diam. Ia menyeringai dan menaikkan satu alisnya padaku.

Kulirik Karin, PA-ku. Dia tak kalah shock-nya denganku. Karin membeku beberapa detik dan kemudian merangkak mencari pakaian dan sepatunya yang berserakan dibawah meja kerjaku. Aku tak membantunya. Aku hanya membantu diriku sendiri. Merapikan pakaianku dan menahan rasa kagetku dalam ekspresi datar yang biasa kutampilkan.

Wajah datar Uchiha. Seharusnya mudah untuk aku lakukan. Mudah, jika Naruto atau Sai yang menemukanku dalam kondisi memalukan ini. Tapi, wanita dihadapanku lah yang menemukanku. Dia bukan Naruto ataupun Sai. Dia adalah Sakura, wanita yang kusebut namanya ketika penisku dihisap oleh Karin.

Sial!

Sakura memasang senyuman miring padaku. Lupakan soal kejadian memalukan ini. Lupakan Karin yang kesusahan memakai pakaiannya kembali karena terburu-buru. Sakura ada di hadapanku. Gadis yang harus aku taklukan. Gadis yang terus membayangi pikiranku semalaman. Gadis yang terlihat manis dan menawan tapi memiliki hati buaya. Gadis yang….

Oh apakah dia masih gadis?

Aku berjalan dan aku mengingat bahwa aku pertama kali mendengar nama Sakura si penakluk pria dari sebuah percakapan di bar yang kucuri dengar tanpa sengaja. Mereka mengatakan bahwa Sakura seksi, panas, dan memabukkan. Seperti sebotol Anggur tua. Awalnya aku tidak tertarik pada percakapan mereka. Mereka seperti pemuja yang tak pernah bisa menggapai impian mereka.

Lalu, mereka mulai bercerita mengenai CEO Haruno Publishing, sebuah perusahaan penerbitan ternama di Jepang. Karena itu aku mulai tertarik dan terus mendengarkan percakapan rahasia itu. Mereka saling beradu sumpah bahwa Sakura si penakluk adalah Sakura si CEO Haruno Publishing. Beberapa diantaranya setuju dan yang lainnya tidak. Sakura si penakluk terdengar seperti penari striptease kelas atas. Sakura tak pernah memperbolehkan seorangpun menyentuhnya, kecuali seorang pria. Entah siapa pria itu.

Aku mengenal sakura si CEO Haruno Publishing ketika menghadiri acara pertunangan anak salah seorang rekan bisnisku. Ia cantik, pintar, dan mengagumkan itu pendapat ketika pertama kali aku melihatnya. Tapi sekarang, entah aku harus mengatakan apa. Aku telah mencari tahu tentangnya, ia terlahir dari keluarga kaya dan sebuah cerita pembantaian tragis keluarganya membuatku begitu ingin tahu. Tapi itu tidak terlalu penting.

Hal yang terpenting adalah ia menghabiskan lima tahun terakhirnya di Jepang bersama pria-pria kaya dan berpengaruh di Jepang. Jumlahnya belasan dalam kurun waktu lima tahun. Rekor yang luar biasa untuk gadis yang kini berusia 23 tahun. Tidak ada catatan one night stand yang kudapatkan. Dia bermain sangat hati-hati, kurasa. Sakura menghabiskan hidupnya untuk menjalin hubungan kilat pada pria-pria itu. Mungkinkah hal ini ikut mempengaruhi perusahaan yang di pimpinnya? Apakah hubungan mereka hanya tentang uang bagi Sakura? Entahlah…

Aku memikirkan begitu banyak hal dalam pikiranku hanya dalam beberapa detik. Oh, hebatnya aku!

Sakura masih memandangku. Matanya menatapku penuh percaya diri dan terus menyorotkan keremehan padaku. Aku berjalan kearahnya. Memandang emeraldnya.

"Apa yang membawamu kemari Nona Haruno?" Sakura tersenyum padaku. Ia bergerak menyilangkan kakinya. Sungguh menggoda.

"Entahlah." Sakura menahan nafasnya dengan seksi dan menghembuskannya lagi. "Aku mendengar seseorang menyebut namaku ketika dia… hemm ya kau tahu itu." Sakura berdiri, mengedikkan bahu dan melangkah mendekatiku. "Jadi, aku datang pada seseorang yang telah mengucapkan namaku." Suaranya begitu rendah dan membuat darahku berdesir. Ini hanyalah suara dan aku bereaksi berlebihan.

"Apakah kau adalah seorang genie Nona Haruno?" Pikiranku sibuk memikirkan Sakura, kakiku sibuk berjalan, mulutku sibuk berbicara dengannya dan tanganku sibuk membenarkan dasi sialan ini.

"Kupikir kita sudah sepakat untuk saling memanggil nama dengan benar bukan Sasuke?" Dia berhenti berjalan. Aku berhenti berjalan. Kami saling berhadapan. Jarak kami hanya sejengkal. Mata kami saling bertaut.

Tiba-tiba saja jemari lentiknya mengusap punggung tanganku yang sedang berkutat dengan dasi. Ia tersenyum. Sangat manis. Jemarinya mengusik pekerjaanku. Mengambil alih lebih tepatnya. Mata kami tetap saling bertatapan. Jari-jari itu mengitari leherku dengan lembut.

"Dan… aku bisa menjadi genie atau demon Sasuke." Ia tersenyum dan menarik dasiku sebagai sentuhan akhir. Kami hanya saling menatap, tapi rasanya ini terlalu intim.

Damn!

"Apa yang kau lakukan pada Sakura, Teme?!" sebuah suara nyaring mengusik keintiman kami. Sakura tersenyum kecut sebelum menoleh dan aku memasang wajah jengkel Uchiha.

Naruto berdiri berkecak pinggang dan menunjukku dengan sebuah bolpoin. Sebuah tindakan ancaman bodoh yang sia-sia. Sakura berjalan menjauhiku menuju sofa tamu yang sudah berisi barang-barangnya. Aku mengikuti langkah Sakura tanpa mempedulikan si bodoh Naruto. Tak perlu repot-repot untuk mempersilahkannya karena pada akhirnya dia akan meletakkan bokongnya di sofa.

"Ada yang bisa aku bantu Sakura?" aku membuka suara dengan sikap profesional.

"Tidak." Jawab Sakura singkat. Ia menoleh pada Naruto yang menyipitkan kedua matanya padaku. "Naruto mengundangku kemari." lanjutnya.

"Dobe?" aku menoleh pada pirang bodoh sahabatku ini. Ia masih memandangku dalam pandangan memusuhi.

"Aku akan menikah." Ucap Naruto.

Aku tidak kaget. Kulihat Sakura juga sama sepertiku.

"Kau sudah memberitahuku seribu kali, Dobe." / "Naruto, apakah kau lupa bahwa kau sudah memberitahuku?" kami berbicara bersamaan.

"Yosh! Kalian memang cocok sekali." Naruto tampak menimbang-nimbang sesuatu. Berulang kali ia menarik dan menghembuskan nafasnya. Apa yang dia lakukan membuatku jengah karena sangat membuang waktuku.

"Teme, aku tunjuk kau sebagai bestman-ku. Dan kau Sakura, Hinata ingin kau menjadi bridesmaid-nya."

"APA?!" kami berteriak bersamaan.

.

.

TBC

.

.

Big Thanks to :

, Hyuugadevit-Chery, syahidah973, Hyemi761, Rizka scorpiogirl, Jamurlumutan462, undhot, Kagaaika Uchiha, Dewazz, M17, Kana, Ichigo fumio, dan para reader lainnya

.

.

Hello! MrsYRA kembali lagi membawa chapter 3.

Maaf yah untuk updatenya yang sangat lama. Hiks. Ini semua karena MrsYRA harus berjuang membuat Skripsweet yang nggak sweet.

Bagaimana chapter 3 ini? Silahkan beri review ya. No Flame, please.

Review kalian adalah penyemangatku.

MrsYRA. 25.6.16