LETS PLAY!

Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto

Original Story by Mrs YRA

.

DILARANG COPAS DAN PLAGIAT

DON'T LIKE, DON'T READ

NO FLAME, PLEASE!

.

WARNING:

OOC, ABAL-ABAL, TYPO, ANEH, GAJE, GAK SESUAI EYD, DLL

.

HAPPY READING

.

.

Pernikahan

Sebuah ikatan sakral persatuan

Menyatukan dua hati yang berbeda menjadi satu

Pernikahan

Sebuah janji suci diucapkan

untuk berjalan dalam satu tujuan dalam susah maupun senang

Sua hati saling berangkulan, saling bergandengan, saling menopang

Pernikahan

Sebuah ikatan tulus atas nama cinta dan kesetiaan

Agar saling menemani hingga hari tua

Agar selalu bersama hingga ajal tiba


SAKURA POVS

"…no"

"…runo!"

"… Haruno!"

"Berhenti melakukan itu Haruno!" Butuh waktu bagiku untuk berhenti melangkah dan menoleh ke arah Ino yang sedang sibuk dengan gaun Hinata. Ia memandangku sebal melalui cermin yang ada di depannya. Aku menghela nafas panjang, lalu membalasnya dengan tatapa Apa-yang-salah-dariku? Ino menggeleng dan memutar kedua bola matanya yang sempurna. Hinata terkikik kecil melihat reaksi Ino.

Sungguh ini adalah momen yang ingin ku abadikan. Girls time yang kuharapkan.

"Ya Tuhan, kau melakukannya lagi." Ino berdecak sebal. "Berhenti mondar mandir dan menghela nafasmu. Tidak ada yang perlu kau cemaskan. Hinata yang akan menikah, bukan kau ataupun aku. Kita hanya akan mendampinginya berjalan ke altar." Lanjut Ino.

"Oke." Jawabku singkat dan memilih mendaratkan bokongku di dekat jendela.

"Kau yakin baik-baik saja Sakura?" suara Hinata mengalun lembut. Dia adalah wanita sempurna. Sungguh sangat beruntung Naruto mendapatkannya.

"Aku baik-baik saja." bibirku bergerak untuk tersenyum pada Hinata. Ia membalas senyumanku dengan pandangan selembut bulu, berbeda dengan Ino yang tampak menyelidik menatapku. Ku putuskan untuk mengabaikan mereka berdua.

Pandanganku tertuju pada kerumunan orang dibawah sana. Para tamu undangan pernikahan Naruto dan Hinata sepertinya sudah mulai berdatangan. Aku tak menyangka pernikahan mereka akan berlangsung satu minggu setelah Naruto memberitahuku. Membuatku tak bisa melakukan banyak hal -seperti yang dilakukan para pendamping wanita lainnya di dunia- karena keluarga Hinata sudah melakukan segalanya. Ino pun merasakan hal yang sama denganku, dia memberitahuku pagi tadi.

"Sakura, Ayo kita turun!" tangan lembut Ino menyentuh punggungku yang terbuka. "Kau baik-baik saja?" tanyanya begitu kami meninggalkan ruangan.

"Entahlah Ino." Aku tidak tau apa yang sedang kurasakan.

Upacara pernikahan berlangsung khidmat dan penuh kebahagiaan, kini berganti dengan pesta resepsi yang mewah dan meriah. Alunan musik romantis ala pernikahan menggema di seluruh ruangan. Terlihat Naruto dan Hinata tengah berbahagia menghampiri para tamu. Beberapa pasangan tampak mesra berdansa di tempat yang telah di persiapkan, termasuk Ino dan seorang lelaki pucat dengan senyuman aneh.

Dan disinilah aku, duduk di salah satu meja. Meneguk segelas sampanye dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Kuabaikan ajakan orang-orang yang memintaku bergabung bersama mereka.

"Tak menikmati pestanya huh?" aku mengenal suara baritone ini.

"Aku menikmatinya." Seringaiku padanya sambil menggoyangkan gelas yang ada ditanganku.

"Dengan senang hati aku akan menemanimu agar kau semakin menikmati pesta ini." Sasuke tersenyum kecut dan menarik kursi untuk ia duduki. "Kukira kau akan menjadi superstar di lantai dansa."

Kuputar kedua bola mataku dan sekali lagi meneguk sampanye. Ini membuat tekanan darahku naik dan membangkitkan adrenalinku. Ku majukan tubuhku hingga lututku menyentuh lututnya, telapak tanganku mengeksplorasi pahanya, "Jika kau menemaniku." Ucapku dengan melambatkan ritme bibir dan menahan suara serendah mungkin.

Sasuke menatap mataku dan tak melepaskannya. Ia menyeringai tajam. Telapak tangannya menangkup tepak tangan milikku. Menghentikan eksplorasiku.

Sial, dia sama sekali tak terpengaruh.

"Dan aku akan menelanjangimu disana." Ucapnya tak kalah sensual. Ia terdiam beberapa detik untuk melubangiku dengan tatapannya. Lalu Sasuke memajukan kepalanya dengan perlahan seperti sedang dalam mode slow motion hingga bibirnya tepat di telingaku. "dan kau akan menyukai bagaimana aku melepaskan gaun ini dari tubuhmu." Saat itu juga tubuhku terasa seperti jelly merasakan nafasnya di telingaku dan telapak tangannya mengusap punggungku yang terbuka.

Sasuke kembali ke posisi duduknya yang semula dan tersenyum penuh kemenangan. Pandangannya lurus kedepan memandang para pemain musik. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan selain kembali meneguk sisa sampanye yang ada di gelas.

Dobel sialan!

"Sakura." Rin menghampiriku bersama Kakashi. Oh Tuhan, penyelamatku. "Kami akan pulang. Kau pulang bersama kami kan?"

"Tent…" / "Aku akan mengantar Nona Haruno pulang." Tiba-tiba suara Sasuke menginterupsi. Aku, Rin dan Kakashi serempak memandangnya penuh pertanyaan.

"Aku tak tahu kau berteman dengan Uchiha, Sakura." Ucap kakashi datar tanpa melepas pandangannya pada Sasuke. Ada hal yang tak kuketahui dan aku tak mengetahui harus menjawab apa.

"Sakura?" Kakashi menuntut jawaban.

"Aku mengenalnya beberapa waktu yang lalu."

"Dan kau akan pulang dengannya?"

"Ya, dia akan aku antar Tuan Hatake." Sasuke kembali bersuara dengan sedikit memaksa. Ia tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Mata Sasuke dan Kakashi bertemu. Saling mengunci satu sama lain. Ada hal yang tak beres.

"Baiklah. Kami pulang dulu Sakura." Pamit Kakashi datar. Matanya yang selalu sayu menyiratkan sesuatu padaku.

"Hati-hati Sakura. Jaga dirimu sayang." Kata Rin sambil memelukku.

"Aku akan menjaga diri Rin." Aku tersenyum padanya. Senyuman tertulus yang hanya aku tunjukkan padanya.

Aku menghela nafas panjang. Mataku masih terpaku pada langkah Rin dan Kakashi yang menjauh. Pikiranku menimang-nimang alasan mengapa aku tetap disini. Padahal aku bisa saja pulang bersama Rin dan Kakashi.

…..

SASUKE POVS

"Aku pikir kau membutuhkan ini." Ku sodorkan segelas air pada Sakura. satupun kata keluar dari mulut Sakura. Ia menerima begitu saja dan menghabiskannya dalam satu tegukan.

Kulirik sejumlah gelas yang tergeletak di meja. Tak kusangka ia telah menghabiskan begitu banyak alkohol ketika ia kutinggalkan untuk menyapa beberapa kolega di pesta ini.

"Ayo kita pergi." Sakura menatapku penuh selidik. Ia tak mengucapkan sepatah katapun padaku semenjak Hatake dan istrinya pergi. "Aku tau suatu tempat yang cocok untuk berpikir." Lanjutku.

Sakura tetap tak bergeming mendengar perkataanku. Sekali lagi ia kembali meneguk segelas alkohol yang ada dihadapannya. Kadar alkohol ditubuhnya memang sudah banyak, tapi entah mengapa tak kuhentikan.

"Ayo." Ucapnya pelan.

Sakura berjalan keluar ruangan mendahuluiku. Dengan sengaja aku tak mempercepat langkah untuk mengejarnya. Berjalan dibelakangnya bukanlah hal yang buruk. Ia benar-benar tahu bagaimana cara membalut tubuhnya dengan sebuah gaun.

Aku menekan tombol panggil lift dan kami menunggu. Cukup lama waktu yang kami habiskan untuk menunggu –mengingat di lantai teratas kami berada saat ini- hingga terkumpul beberapa orang saat pintu lift terbuka. Kami memasuki lift bersama empat orang lainnya yang sepertinya berpasangan dan mereka turun beberapa lantai setelah. Menyisakan aku dan sakura.

Entah apa yang merasukiku, ku genggam kedua tangan Sakura dan mendorongnya menuju dinding. Lalu mengunci bibirnya dengan bibirku. Kuhisap bibir Sakura yang begitu lembut dan kenyal. Kemudian gigi-gigiku pun ikut berperan menikmatinya. Ku gigit dan kuhisap bibi ranumnya. Sesekali lidahku menyapu bibirnya mencari celah yang bisa kumasuki lebih jauh lg. Satu erangan lolos dari mulut Sakura. Membuatku ingin lebih jauh berpetualang di dalam mulutnya.

Lift berbunyi. Seketika kutarik diriku menjauh dan mengatur nafas. Kulihat wajah Sakura memerah dengan nafas menderu dan mata terpejam. Ia begitu manis.

SAKURA POVS

Sasuke melepas jas dan melemparkannya ke sofa. Ia mengambil tanganku dan membawaku ke balkon yang di penuhi semilir angin malam. Pemandangan kota Tokyo yang dihiasi lampu-lampu begitu indah dari atas sini.

Tapi kemudian ia membalik tubuhku menghadapnya. Matanya menatapku intens. Lengannya yang kekar membalut pinggangku sehingga tidak ada jarak d antara kami. Bisa kurasakan sesuatu yang keras dan panas dibawah sana menekan pinggulku.

Sasuke menutup jarak kami dengan memajukan kepalanya ke arahku. Telapak tangan kirinya mencengkram kepalaku dan dia mulai menciumi rahangku dengan bibir panasnya. Ia sapu perlahan dengan lidahnya hingga bibirnya dan bibirku bertemu. Kembali ia menghisap dan menggigit dengan ritme yang sensual. Kali ini aku menerima ciumannya. Kubuka mulutku agar lidahnya menyentuh lidahku.

"Kau luar biasa Sakura." Pujinya begitu menarik nafas. Manik hitamnya terus menatapku dengan intens. Kedua tangannya bergerilya menjatuhkankan gaunku.

"Aku ingin menyentuhmu." Ucapku pelan. Sasuke tersenyum.

Lalu kubawa tangan ini menyentuh dadanya yang bidang dan melonggarkan dasi hitamnya. Melepas satu persatu manik yang pada kemejanya. Setelah pekerjaanku selesai, ia membuang begitu saja kemejanya dilantai.

Tangan kami kembali berpetualang. Aku menyentuh dan mencium dadanya yang bidang lalu kepusarnya dan jari-jariku bergerilya di punggungnya. Sasuke menahan erangannya. Senang mengetahui bahwa aku mampu membuatnya begitu. Tangannya telah berhasil melepas tali terakhir yang ada pada gaunku. Gaun itu meluncur begitu saja ke bawah. Ia membawaku melangkah keluar dari gaun itu.

Sasuke menjatuhkanku ke tempat tidurnya. Kemudian dengan gerakan lambat ia membuka kedua kakiku dan melepas stoking yang melekat pada keduanya. Lalu, satu-satunya penutup yang ada ditubuhku ia ambil. Di bawah sana ia memandangiku dengan takjub. Rasanya terlalu vurgar, terlalu intim dan memalukan.

"Oh Tuhan, Sakura." Ucapnya dengan nafas tercekat.

Sasuke menempatka dirinya diatasku. Tubuhnya menjulang tinggi dan aku terasa seperti kurcaci. Bibirnya menciumi segalanya. Telapak tangannya yang besar menangkup payudaraku dan memijatnya. Nipple ku pun tak kuasa menjadi jajahan jari-jarinya. Rasanya begitu intens. Otakku tak mampu mencerna segala kenikmatan ini.

Hingga akhirnya ia memposisikan kepala penisnya yang telah dibungkus kondom di depan vaginaku dan menggosoknya. "Kau begitu basah Sakura. Aku ingin memasukimu sekarang" Bisiknya. Dan perlahan dia mulai mendorong juniornya. Sedikit demi sedikit, lalu sasuke menyadari sesuatu

"Kau masih virgin?" Sasuke menghentikan gerakannya. "sebaiknya kita berhenti." Suara Sasuke tercekat.

"Ku mohon sasuke." Ucapku lirih. Aku merasa sudah kepalang tanggung. Dia menatapku, mempertimbangkan sesuatu.

Pada akhirnya kuberanikan diri untuk mengangkat pinggulku. Sasuke mendelik dan aku merasa sedikit perih di ujung sana. Aku menatapnya dengan permohonan.

Sasuke telah ada didalamku. Aku merasa begitu penuh. Dia mengambil mulutku dan mengisi dengan lidahnya yang mengabsen gigi ku satu per satu

"Oh Sakura." Eram Sasuke. "kau sangat ketat."

Sasuke memulai pergerakannya dengan perlahan. Seiring dengan semakin memanasnya suasana, Sasuke mulai menghentak masuk dan keluar dengan cepat dan keras tepat mengenai inti basahku. Aku tak mampu lagi membendung gelombang yang datanng. Ketika gelombang itu benar-benar datang, aku merasa tersesat dan hanya namanya yang lolos dari mulutku.

Ia tak berhenti. Terus melanjutkan pergerakannnya. Terus menghentakku dengan tempo yang semakin menggila. Tiba-tiba lehernya menegang, gerakannya semakin cepat. Dibawah sana kurasakan semakin penuh dengan dirinya yang semakin membesar. Aku tahu dia telah dekat. Dengan suara parau ia meneriakkan namaku. Ia memandangku dengan cahaya redup. Matanya tak pernah lepas dari diriku.

TBC


hai, maaf baru update... sudah hampir setahun mangkrak

ohya, bagaimana sakura menurut kalian pada 4 chapter ini?

mohon jawaban dan reviewnya yaaaaa