RETROUVAILLES Chapter 4
Author : Kimkha~
Genre : Hurt/comfort, Romance, little bit angst.
Maincast : Chanbaek
Length : Chapter.
Rate : M
Warning : Genderswitch
NO Siders! (Wajib Review buat yang baca) :D
NO Bash!
Selamat membaca kawan-kawan ^_^
Author POV
"Jadi tuan Chanyeol. Apa sebelum ini anda sempat melakukan tranfusi darah atau menggunakan jarum suntik yang tidak steril ?" Dokter bertanya pada Chanyeol yang saat ini sedang mendudukan dirinya di tepi ranjang dengan kondisinya yang masih lemah. Namun bukan dokter yang tadi memeriksa Chanyeol. Kali ini yang memeriksa Chanyeol adalah dokter spesialis penyakit dalam yang biasa menangani kasus seperti HIV. Chanyeol tidak berkata apapun, ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Memakai obat-obatan terlarang ?" dokter itu kembali bertanya, dan Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya lagi.
"Maaf bila saya bertanya lancang. Apa anda melakukan hubungan sex yang tidak sehat ?"
"…" Chanyeol terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukan kepalanya ragu-ragu, Chanyeol terlihat begitu pasrah dan juga nampak putus asa saat ini. apa lagi semuanya ada disana, menyimak setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Dokter yang memeriksanya.
"Kalau begitu ada baiknya kita juga melakukan tes pada istri tuan Chanyeol. Bila istri tuan juga terinfeksi HIV maka janin yang ada di dalam kandungannya saat ini juga beresiko terkena HIV nantinya".
Orang tua Chanyeol dan Baekhyun benar-benar tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Kenapa semua ini harus terjadi pada anak dan menantunya, juga pada calon cucu mereka. Baekhyun memegangi perut yang nampak sedikit besar. Timbul ketakutan dalam dirinya. Apa ia dan bayi nya juga menderita penyakit itu ? Bila benar apa yang harus ia lakukan ?
Chanyeol menggelengkan kepalanya lemah "Tidak, Baekhyun dia tidak mungkin terkena penyakit menjijikan ini, aku berani menjamin. Akhir-akhir ini aku memang tidak pernah berhubungan badan dengannya karena khawatir bila aku memang terjangkit virus ini. Aku.. aku sudah tahu bahwa memang akan seperti ini jadinya ".
Sang dokter menganggukan kepalanya pertanda mengerti "Maaf sekali lagi bila saya lancang, jadi anda berhubungan badan dengan orang lain ? anda sering berganti-ganti pasangan ?"
Chanyeol menatap sang dokter, lalu pandangannya beralih pada orang tuanya dan juga mertuanya kemudian terakhir padangannya tertuju pada Baekhyun -istrinya-. Hatinya terasa begitu sakit melihat istrinya yang nampak begitu kacau dengan wajah cantiknya yang di basahi oleh air mata.
Chanyeol mengangguk ragu "Ne, …. itu benar". Semua yang ada disana sontak terkejut kecuali sang dokter, ia sudah banyak menangani kasus HIV dan hal seperti ini bukan sekali dua kali terjadi pada pasien-pasiennya. Mereka semua tak percaya bahwa Chanyeol yang mereka kenal adalah pria yang baik dan santun ternyata memiliki pergaulan yang seperti itu. Terlebih Baekhyun yang selama menikah tak pernah terbesit pun kecurigaan pada suaminya, ia percaya penuh pada Chanyeol. Tapi nyatanya sang suami berperilaku seperti itu di belakangnya, rasanya ia ingin mati detik itu juga.
"Baiklah saya paham, untungnya kita semua mengetahui ini di awal masa anda terinfeksi HIV. jad bila nanti terjadi apa-apa kita bisa bertindak cepat dan melakukan tindakan-tindakan pencegahan AIDS"
"Bukankah HIV belum ada obatnya?" tanya Mrs. Park pada sang dokter.
"Apa saya akan mati dokter ?" Ucap Chanyeol menambahkan.
"Semua orang pasti akan meninggal, yang tidak pasti itu adalah waktunya. Sekarang walau HIV masih belum bisa disembuhkan tapi banyak penderitanya yang dapat berumur panjang. Bila nanti CD4 pada tubuh anda di bawah 350. Maka anda di haruskan mengkonsumsi ARV untuk meningkatkan system imun pada tubuh anda. Lagi pula anda masih jauh untuk ke tahap AIDS, butuh waktu 5-15 tahun untuk seseorang yang terkena HIV mengalami gejala-gejala kronis dan sebelumnya penderita tidak mengalami gejala apa-apa dan tampak sehat. Maka hindarilah stress dan mulailah melakukan pola hidup sehat agar anda bisa hidup lebih lama. Bahkan ada pasien saya yang dapat hidup selama lebih dari 30 tahun dengan HIV di tubuhnya". Ujar dokter menjelaskan panjang lebar.
"Jadi saya punya harapan untuk hidup lama ?" jujur Chanyeol takut bila harus membayangkan, ia akan mati di usia yang terbilang muda. Umurnya baru 24 tahun, ia masih ingin hidup lebih lama.
"Itu tergantung . Gejala dan kondisi yang di alami setiap pasien HIV berbeda-beda. Maka dari itu pola makan dan hidup anda harus di jaga, jangan stress dan satu lagi. Dekatkanlah diri dengan tuhan. Untuk saat ini anda belum perlu untuk meminum ARV karena CD4 anda masih di atas 350". Ucap sang dokter menambahkan.
Semua masih membisu, masih berkutat pada pikirannya masing-masing. Masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Sang dokter sudah pamit pulang dan kini di ruangan itu hanya menyisakan mereka berenam.
'PPLLAAAKKK' Mr. Park melayangkan tamparan pada anaknya. Sungguh perasaan nya saat ini terasa campur aduk. Sedih, marah kecewa semua itu ia tujukan pada putra sulungnya. Anak yang selama ini selalu ia bangga-banggakan.
"APA AKU PERNAH MENDIDIKMU UNTUK MENJADI BAJINGAN PARK CHANYEOL ? KATAKAN APA AKU PERNAH ? APPA MENGORBANKAN SEGALANYA UNTUKMU. TAPI APA YANG KAU LAKUKAN. Kau.. kau membuat appa kecewa. KAU SUNGGUH TIDAK TAHU DIRI". Mata Mr. Park menatap nyalang pada anaknya dengan telunjuk kananya yang menunjuk nunjuk wajah Chanyeol, giginya menggertak dengan tangan kiri yang terkepal erat.
Chanyeol turun dari ranjangnya dan bersujud di depan kaki sang ayah. "Ampuni aku appa. Maafkan aku, aku.. aku khilaf appa. Aku menyesal, aku tahu aku salah appa. Maafkan aku.. "
Air mata itu jatuh mengalir membasahi pipinya, pipi seorang Park Chanyeol. Bila ia bisa memutar kembali waktu, ia tidak akan melakukan semua ini. ia tidak akan membuat membuat sang ayah kecewa, ayah yang begitu ia hormati selama ini kini tengah menangis karena dirinya. Mr. Park tidak mengatakan apapun, ia lebih memilih pergi meningkalkan Chanyeol yang masih terduduk bersujud di tempatnya.
"Yoochun-ah" Mrs. Park keluar dari kamar itu, berlari mengejar suaminya.
"Abeonim.. Eomonim.. maafkan aku" Ucap Chanyeol lirih. Mr. Byun menggelengkan kepalanya pelan kemudian pergi membawa serta Mrs. Byun. Kini di ruangan itu hanya tersisa Chanyeol dan juga Baekhyun.
"Baek..Baekkie" Panggil Chanyeol pelan. Dilihatnya Baekhyun masih terus saja menangis. Chanyeol merasa menjadi pria paling kejam dan bodoh, kenapa di saat seperti ini dia baru menyadari kesalahanya ? , kenapa disaat seperti ini dia baru menyesali perbuatannya ? di saat dia sudah mengidap penyakit ini. Apa bila hal ini tidak terjadi akankah ia akan tetap menyadari perbuatannya ?
Baekhyun menghampiri suaminya ikut terduduk lalu memeluknya erat. Seakan menyampaikan kesedihan teramat dalam yang dirasakannya.
"Maafkan aku.. maafkan aku Bekhyun. Hiks.. Aku mohon maafkan aku" tangis Chanyeol pecah. Tangannya terulur membalas pelukan istrinya, mulutnya tak berhenti mengucapkan kata maaf.
"hiks.. hiks.. hiks.." Baekhyun tak berkata apapun, hanya tangisan yang terdengar dari mulutnya. mereka berdua terlarut dalam pelukan dan juga tangisan mereka. Dan untungnya tak ada seoarang pun yang melihat adegan menyedihkan ini.
.
.
.
.
Chanyeol memutuskan untuk berkeliling sebernar, sekarang masih sore lagi pula besok ia akan kembali ke Pohang. Jujur saja dia merasa sangat tidak nyaman berada di rumah. Semua orang mendiamkannya, termasuk istrinya. Memang wajah Baekhyun tidak menunjukan kecebencian kepadanya tapi tetap saja sejak kejadian kemarin dia mendiaminya atau mungkin selalu menganggapnya tidak ada.
Chanyeol menelusuri jalan kecil di perkampungannya. Langkah Chanyeol terhenti di tengah-tengah jalan yang berhadapan dengan hamparan perkebunan, perkebunan milik ayahnya. Ia sangat ingat dulu ketika hari libur ia sering sekali membantu ayahnya memetik sayur dan buah di kebunnya. Chanyeol tersenyum kecil lalu menundukan kepalanya. Bukankah dulu ia anak yang baik ?
Chanyeol kembali melangkahkan kakinya, Chanyeol berjalan menuju sekolah SMA nya dulu yang memang tidak begitu jauh. Chanyeol melihat-lihat bangunan itu dari luar pagar sekolah, semuanya masih nampak sama, tidak terlalu berbeda dengan yang dulu. Kembali kenangan masa lalu itu teringat kembali. Dia adalah murid paling berprestasi di sekolahnya, hampir semua guru begitu menyukainya banyak juga siswa siswi yang mengagumi kecerdasannya. Diingatnya dulu, setiap pulang sekolah ia selalu membantu teman-temannya berlajar karena mereka akan segera menghadapi ujian kelulusan. Semua teman sekelasnya ikut serta bahkan yang bukan teman sekelasnya ia persilahkan untuk ikut belajar. Bukankah dulu ia teman yang baik?
Chanyeol kembali melangkahkan kaki panjangnya menyusuri jalan. Dan lagi-lagi langkahnya terhenti di sebuah rumah peribadatan kecil yang terletak tidak jauh dari sekolah. Chanyeol kembali mengingat sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan tempat ini.
Flashback
"Chanyeol-ah, coba kau petik yang di sebelah sana. Yang disini biar appa saja yang melanjutkannya"
"Eoh.. Baiklah Appa" Dengan topi, sarung tangan dan keranjang sayuran di tangannya. Chanyeol berlari ke tempat yang di tunjuk ayah, kembali memetik sayuran dan memasukannya satu per satu ke dalam keranjang.
"Apa kau lelah Chanyeol ? kalau kau lelah sudahi saja. Biar apa saja yang melakukannya. Kau pulanglah ! pasti umma sudah memasak di rumah".
"Tidak, appa tidak apa-apa. Tapi sebenarnya hari ini aku ingin pergi berdoa" Ucap Chanyeol sambil memasukan sayuran-saryuran yang dipetiknya kedalam keranjang. Mr. Park tersenyum kemudian melangkahkan kakinya mengambil keranjang sayuran yang dibawa Chanyeol.
"Kalau begitu pergilah. Sudah tidak apa-apa. Lagi pula sedikit lagi juga selesai. Kka, bersihkan dirimu lalu beribadahlah" Ucap Mr. Park dengan senyum yang begitu hangat terpatri di wajahnya.
Chanyeol menatap ragu sang ayah "Baiklah. Maafkan aku tidak membantu sampai selesai appa. Aku pergi dulu". Chanyeol melepaskan sarung, topi dan sepatu boot yang di kenakannya kemudian pergi meninggalkan sang ayah yang kembali bekerja.
.
.
Chanyeol berjalan memasuki pekarangan rumah peribadatan. Ia sudah mandi terlebih dahulu sebelum pergi kesini. Sebenarnya ia biasa pergi dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya. Tapi karena saat ini orang tuanya sedang sibuk-sibuk dan perkebunan tidak bisa di tinggalkan begitu saja barang sebentar, sedang Sehun juga tidak ikut karena adiknya itu pasti tidak mau ikut bila orang tuanya juga tidak ikut, Sehun lebih memilih bersama dengan teman-temannya di kamar bermain playstation. Jadi hari ini hanya ia saja yang datang kesini.
"CHANYEOL~" terdengar suara teriakan wanita yang memanggilnya dari belakang. Chanyeol menolehkan kepalanya.
"Eoh.. Baekhyun-ah ?" Chanyeol terkejut melihat teman satu sekolahnya ada disini. Ini pertama kalinya ia melihat Baekhyun datang kesini.
"Kau mau beribadah ya?" Chanyeol menganggukan kepalanya.
"Kau juga mau beribadah ? tapi kenapa aku baru kali ini melihatmu disini ?"
Baekhyun tersenyum begitu manis. Dan itu berhasil menimbulkan debaran-debaran kecil dalam diri seorang Park Chanyeol "Ummhh.. memang biasanya aku beribadah di tempat lain. Tapi kali ini aku memang ingin beribadah disini. Memang kenapa ?"
"Ah.. ti.. tidak apa-apa" Chanyeol tergugup. Entah kenapa ia merasa gugup melihat senyum manis itu.
"Chanyeol pasti sering datang kemari yah ? wah.. hebat sekali, kau ini sudah pintar tampan juga taat beribadah". Ucap Baekhyun memuji Chanyeol. Dan itu berhasil membuat semburat merah terpasang di pipi Chanyeol walau tidak terlalu nampak terlihat.
"Biasa saja, jangan memujiku seperti itu Baekhyun-ah. A..aku jadi tidak enak" Chanyeol menunduk malu.
"Kkeekeke… tapi itu kenyataan kan ? Ayo kita masuk ! kita beribadah bersama saja!" Ucap Baekhyun antusias. Chanyeol menganggukan kepala tak kalah antusiasnya.
"Baiklah, Ayo masuk Baekhyun-ah ! Sepertinya di dalam sudah banyak orang."
Flashback end
Chanyeol tersenyum miris, 'terlalu jauhkah aku berubah ?' ucapnya dalam hati. Bahkan ia tidak ingat kapan terakhir kali ia pergi ke tempat ibadah. Jangankan berdoa di luar, di rumahnya saja Chanyeol sudah tidak pernah melakukannya lagi.
Chanyeol sepenuhnya sadar ini adalah pembalasan untuknya. Ingatlah tuhan itu maha adil. Diingatnya lagi dari kejadian Kris yang meninggal karena kecelakaan, lalu Istri Yongguk yang meninggal karena melahirkan anak mereka. Ditambah beberapa minggu yang lalu Yuri keluar dari perusahaan akibat stress dan depresi karena sang suami menggugat cerai dirinya. Dan sekarang dirinya sendiri harus rela menjalani hari-hari selama hidupnya dengan penyakit ini. Inikah hukuman untuk kami ?
Chayeol berjalan masuk menuju tempat peribadatan itu. Mulai detik ini ia ingin kembali dekat dengan tuhan. Memohon ampunan pada sang pencipta. Walau apa yang sudah terjadi sekarang tidak mungkin bisa di ulang kembali. Biarlah ini menjadi pembelajaran untuknya.
.
.
.
.
"Baekhyun-ah" Panggil Mrs. Park pada sang menantu yang sedang terduduk di ruang tamu sendirian.
Baekhyun menolehan kepalanya "Umma~" sahutnya pelan.
"Besok kau kembali ke Pohang ?" Tanya Mrs. Park dan dijawab dengan anggukan oleh Baekhyun.
"Apakah kau memaafkan putraku Baekhyun-ah ?" Mrs. Park bertanya dengan wajah penuh harap.
"… Aku.. aku tidak tahu umma. Ini sungguh menyakitkan untukku. Aku tidak percaya dia melakukan semua ini padaku umma" mata Baekhyun kembali berkaca-kaca. Baekhyun mengelus perutnya pelan, mencoba mencari ketenangan.
"Umma mengerti kau pasti sangat kecewa pada Chanyeol Baekhyun-ah. Tapi, umma mohon. Maafkan Chanyeol, umma mohon Baekhyun. Hiks.. Chanyeol HIV Baekhyun-ah, kasihanilah ia. Maafkan Chanyeol, Umma mohon hiks.." Mrs. Park menggenggam erat kedua tangan Baekhyun, dengan matanya yang basah dengan air mata membungkuk memohon maaf atas nama putranya itu.
"Umma~ jangan seperti ini, tolong. Beri aku waktu, aku butuh waktu untuk memaafkan apa yang telah Chanyeol lakukan. Tapi bagaimanapun aku berjanji tidak akan meninggalkan Chanyeol umma. Aku berjanji". Air mata yang sedari tadi membendung di pelupuk mata Baekhyun kini jatuh perlahan. Mrs. Park mengusap pipi Baekhyun, menghapus air mata yang terjatuh itu.
"Terimakasih Baekhyun-ah, terimakasih".
.
.
"Umma, Appa .. aku dan Baekhyun akan kembali ke Pohang sekarang" Chanyeol berpamitan pada sang ayah yang sedang duduk di depan teras rumahnya bersama sang istri. Mr. Park tidak mengatakan apapun dan lebih memilih mengacuhkannya.
"Biar umma antar sampai kedepan" Mrs. Park mencoba untuk berdiri namun pergerakannya ditahan oleh Mr. Park.
"Biarkan saja" Ucap Mr. Park tegas tanpa sedikitpun melihat Chanyeol.
"Tapi-"
"Junsu-ya.. duduklah, biarkan saja aku tidak peduli padanya !" Terpaksa menurut ia tidak mau suaminya marah, walau hatinya sebenarnya tidak tega melihat wajah sedih anak dan menantunya.
"Tidak apa-apa umma. Umma tidak perlu mengantar kami, umma temani saja appa. Jaga kesehatan kalian baik-baik. Kami pergi" Chanyeol melangkahkan kakinya keluar menuju mobil yang terparkir di depan rumah itu diikuti sang istri yang membawa tas-tas kecil di tangannya.
"Kenapa kau begitu ? kasihan mereka" Mr. Park tidak menjawab, matanya hanya menatap kosong ke depan pekarangan rumahnya.
.
.
.
.
Chanyeol berjalan kearah dapur lengkap dengan seragam kerjanya. Walau dokter telah mengatakan bahwa dia mengidap HIV, tidak lantas membuatnya ingin berhenti dari pekerjaan. Mungkin bila atasannya tahu dia akan langsung di keluarkan dari perusahan, maka selama ia masih baik-baik saja dan penyakitnya tidak diketahui siapapun. Chanyeol ingin tetap melakukan semuanya seperti biasa, walau pasti akan ada yang berbeda.
"Baekkie.." panggil Chanyeol pada sang istri yang sedang menyiapkan sarapan. Baekhyun menoleh sekilas kemudian meletakan sepiring makanan di atas meja tanpa menjawab panggilan suaminya.
"Baekkie.." panggil Chanyeol sekali lagi.
"Kau masih tetap bekerja ? tidakkah lebih baik kau mengundurkan diri ?" bukannya menyahut panggilan Channyeol, Baekhyun malah melontarkan pertanyaan pada suaminya itu.
"Orang-orang di kantor tidak tahu kalau aku sakit, lagi pula dokter bilang kalau ak-"
"Terserah, aku sudah menyiapkan makanan. Makanlah !" Baekhyun memotong ucapan Chanyeol dengan nadanya yang sangat dingin sebelum kemudian pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri di meja makan.
"Baekhyun" lirih Chanyeol pilu.
.
.
.
.
Lima Bulan Kemudian
Hubungan Chanyeol dan Baekhyun masih tetap sama, tak ada yang berubah. Baekhyun masih mengurus suaminya dengan baik, menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan Chanyeol walau usia kandungannya setiap hari semakin bertambah dan perutnya yang juga semakin membesar. Tapi ia tetap melakukan pekerjaanya dengan baik.
Chanyeol selalu merasa khawatir melihat istrinya yang melakukan pekerjaan rumah dengan perut besarnya itu. Sering Chanyeol menawarkan diri untuk membantu istrinya bekerja tapi perhatiannya tak pernah sekalipun di tanggapi olehnya. Bahkan Chanyeol sempat menyarankan untuk menyewa seorang pembantu tapi tetap saja ucapannya dianggap angin berlalu oleh Baekhyun.
Penyakit Chanyeol sampai saat ini masih baik-baik saja, karena Baekhyun selalu mengatur pola makan suaminya dengan baik. Dokterpun belum menyarankan Chanyeol untuk memulai mengkonsumsi obat karena keadaanya masih terbilang baik-baik saja. Rekan kerja dan atasannya di kantor belum mengetahui perihal HIV yang di deritanya, sehingga hubungannya dengan orang-orang di tempatnya bekerja masih terjalin dengan baik. Hanya saja mungkin untuk orang-orang terdekatnya di kantor itu sedikit berbeda, mereka merasa terkejut dengan perubahan Chanyeol. Tidak pernah lagi pergi ke bar, tidak lagi minum minuman keras dan yang lebih parahnya dia tidak lagi bermain dengan wanita-wanita nakal. Yang mereka pikir hanya 'Mungkin Chanyeol sudah menyadari kesalahanya', tanpa mereka tahu alasan di balik itu semua.
Chanyeol keluar dari kamar mandi kamarnya dengan handuk basah di kepalanya. Diliriknya Baekhyun yang sedang terbaring di tempat tidur mereka, namun ada sesuatu yang menarik perhatiann Chanyeol. Baekhyun terlihat meringis sambil memegangi perutnya dengan mata yang terpejam. Seketika itu Chanyeol merasa khawatir, khawatir bila istrinya akan segera melahirkan.
"Baek.. baekkie.. kau tidak apa-apa ?" Chanyeol menepuk-nepuk lengan Baekhyun pelan.
Baekhyun mengernyit membuka matanya kecil lalu melirik suaminya. Baekhyun hanya menggeleng, terdengar kembali suara ringisan dari mulutnya.
"Benarkah ? apa sudah waktunya melahirkan ? ayo kita ke rumah sakit !" Chanyeol mencoba meraih tangan Baekhyun, namun Baekhyun menepis tangan Chanyeol kasar. "Tidurlah aku tidak apa-apa" ucap Baekhyun namun matanya masih tetap terpejam.
"Tapi kau terlih-"
"Tidurlah" ucap Baekhyun terdengar sedikit kesal. Kembali ia mendapat penolakan dari Baekhyun. Sungguh hatinya terasa begitu sakit, tapi apa daya Baekhyun begitu keras kepala. Apa salah bila ia mengkhawatirkan istri dan anak yang dalam kandungannya ?. Chanyeol tidak mengatakan apapun lagi , melangkahkan kakinya ke sisi lain tempat tidur mereka. Membaringkan dirinya di samping sang istri dan mencoba tidur walau hasilnya tetap tidak bisa. Bagaimana ia bisa tidur bila sepanjang malam ia mendengar sang istri meringis kesakitan ? ia baru bisa tidur sekitar pukul 3 pagi ketika dirasanya suara ringisan itu berganti menjadi dengkuran halus istrinya. Tapi sebelum tidur ia..
"Maafkan aku" Chanyeol mengelus kepala Baekhyun pelan.
"Maafkan appa" lanjutnya sambil mengelus perut besar sang istri yang kini sudah terlelap tidur.
.
.
"AAAARRRRGGGHHHHH.." terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi, yang dapat di pastikan bahwa itu adalah suara Baekhyun. Chanyeol yang baru saja akan pergi kekantornya seketika melempar tas kerjanya ke atas sofa dan berlari menghamipiri sang istri. Betapa terkejutnya Chanyeol ketika mendapati sang istri tengah terduduk di sudut kamar mandi dengan darah yang mengalir deras terlihat dikakinya.
"Baekhyun-ah gwencana ? kau tidak apa-apa ? Sayang jawab aku !" Chanyeol menepuk kedua pipi Baekhyun secara bergantian.
"Hiks.. Sakiiittt.. hiks.." Baekhyun memegangi perutnya yang terasa akan sobek, ia tidak dapat menahan rasa sakitnya dan hanya bisa menangis. Sedang Chanyeol tampak begitu linglung, entah ia harus melakukan apa. Ia benar-benar bingung.
"sakiittt.. hiks..hiks.. AAARRRGGHHH…" Baekhyun kembali berteriak, mata Chanyeol semakin membulat ketika mendengar teriakan istrinya, dan sekaligus meningkatkan kadar kepanikannya.
"Ki..kita ke rumah sakit sekarang" Chanyeol membopong istrinya menuju rumah sakit. Selama perjalanan Baekhyun terus saja meringis, menangis bahkan berteriak. Yang mau tidak mau juga membuat Chanyeol ingin menangis melihatnya. Ini pengalaman pertamanya. Dan ia tidak tahu, bahwa rasanya akan seburuk -rasanya ia akan mati ketika melihat istrinya merintih kesakitan seperti itu.
Chanyeol berlari seperti orang kesetanan di koridor rumah sakit, mengikuti beberapa perawat rumah sakit yang mendorong roda yang berbaringkan istrinya. Chanyeol ingin mengikuti istrinya masuk ketika perawat-perawat tadi membawa istrinya masuk ke dalam ruang bersalin. Namun seorang suster menghalangi dan melarangnya masuk ke dalam.
"Maaf, sebaiknya anda tunggu di luar" ucap seorang perawat yang berdiri di depan pintu ruang persalinan. Chanyeol menganggukan kepalanya mengiyakan, karena dirinyapun ragu bila harus menemani istrinya melahirkan di dalam. Chanyeol hanya tidak sanggup melihat raut kesakitan istrinya.
Chanyeol berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin. Menggigit ujung ibu jarinya, sudah dari tadi dia seperti itu. Menunggu proses persalinan istrinya selesai. Namun belum ada tanda-tanda bahwa anaknya sudah lahir. Chanyeol sudah menghubungi orang tuanya dan juga orang tua Baekhyun. Mereka bilang bahwa mereka akan segera pergi kesana. Semarah dan sekecewa apapun mereka pada Chanyeol, mereka tetap saja mengharapkan kelahiran cucu mereka.
"Ooooeekkk.. Oooeekk…" terdengar suara tangisan bayi menggelegaryang berasal dari dalam ruang dimana Baekhyun berada. Chanyeol terpaku sesaat ketika mendengar suara tangisan itu. Namun seketika ekpresi itu berganti dengan senyum bahagia begitu terpanjar diwajahnya. 'Anakku sudah lahir' batin Chanyeol.
'Cklek' pintu ruang bersalin itu terbuka. Seorang perawat keluar dengan membawa seorang bayi yang masih berlumur darah.
"Tuan" panggil perawat ini yang tengah memandang takjub padanya. Tepatnya pada sesuatu yang dibawa perawat itu.
"…"
"Selamat.. bayi anda laki-laki, kondisinya sehat dan sempurna. Istri anda masih ditangani oleh dokter di dalam. Saya akan memandikan putra anda dulu. Permisi" perawat itu meninggalkan Chanyeol dan kembali masuk ke dalam ruangan itu. Senyuman tipis terlukis di wajah Chanyeol.
'Terimakasih tuhan'
.
.
.
.
"Aigoo.. cucu halmoni tampan sekali" Mrs. Park menatap takjub pada sang cucu yang kini berada dalam gendongannya. Sedari tadi dia terus saja memuji wajah tampan cucunya. Mr. Park dan kedua orang tua Baekhyun juga tampak bahagia dengan kelahiran cucu pertama mereka. Bahkan Sehun pun datang dari Seoul karena ia ingin sekali melihat keponakannya. Mereka tampak berebut ingin menggendong bayi yang belum diberi nama itu. Baekhyun hanya memperhatikan dan sesekali tersenyum samar. Tubuhnya masih terasa lemas apalagi dia baru saja menyusui anaknya, membuat dirinya merasa tidak memiliki tenaga untuk ikut bercengkrama dengan yang lainnya.
"Hyung, kemarilah ! Gendong anakmu ! lihat dia lucu sekali hyung" Sehun berkata pada hyungnya yang sedari tadi duduk di sofa yang ada di ruang rawat itu. Sehun telah mengetahui semuanya. Walau dia merasa kecewa pada Chanyeol yang selama ini selalu menjadi panutannya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, Sehun mencoba bersikap seperti biasa pada hyungnya.
Chanyeol berdiri menghampiri sang adik. Sedari kemarin dia memang belum sempat menggendong anaknya, ia ingin tahu bagaimana rasanya memangku darah dagingnya sendiri. Chanyeol bersiap mengambil anaknya yang ada dalam gendongan Sehun, namun pergerakan terhenti tiba-tiba ketika mendengar teriakan Baekhyun.
"JANGAN SENTUH ANAKKU !"
Semua orang yang berada dalam ruangan itu sontak terkejut, terlebih ketika mereka melihat ekspresi yang tidak Baekhyun tunjukan sebelumnya. Mereka sendiri tidak tahu ekspresi apa itu. Marah ? benci ? mereka sendiri tidak tahu.
'Apa Baekhyun masih belum memaafkan Chanyeol ?' Batin mereka semua –kecuali Chanyeol-
"Baekhyun~" lirih Chanyeol
#TBC#
Buat temen-temen yang sekiranya ngerasa bingung kenapa Chanyeol masih baik-baik aja padahal udah divonis HIV. soalnya dari yang Kimkha baca emang kayak gitu. Di awal emang orang yang HIV itu keliatan sehat-sehat aja. Selanjutnya bisa sehat-sehat aja bisa juga engga dan berlanjut sampai ke tahap AIDS ya itu tergantung situasi dan kondisi penderitanya sendiri. Jadi tenang aja Chanyeol insya allah aman (?) -_- . Kimkha juga kurang tahu soal HIV atau masalah-masalah kedokteran. Soalnya Basic Kimkha kan Ekonomi jadi mana tahu soal yang beginian. Jadi maaf kalau ada readers yang lebih tahu dari Kimkha ngerasa 'miss a thing' pas baca ini cerita. Maaf ya :-3
Buat Chapter selanjutnya mungkin bakal kimkha up date agak lama. Soalnya Kimkha besok UAS. Baru masuk udah UAS. Puyeng Dahhhhh.. Doain semoga nilai Kimkha bagus-bagus yah ! hehehe
Oh ya buat masalah Cast anaknya Chanbaek, Kimkha masih bingung kira-kira siapa ya ? soalnya kalo OC kimkha gak mau.. ada yang punya saran ?
Balasan Review
Oscar : Aduh gak bisa. Apapun yang terjadi sebisa mungkin END nya harus Chanbaek kkkkk :D
Kuro91 : Oh gitu ya. Maaf deh Kimkha kurang tahu hehe.. Makasih juga buat tambahannya. Soalnya waktu Kimkha browsing2. Di amerika alat tes HIV itu di jual bebas di apotik2. Makanya anggap aja deh kalo di korea emang prosedurnya kayak begitu. ^_^
chika love baby baekhyun : Kimkha gak kejam. Ya semoga aja Chanyeolnya gak mati ya hahaha :D
mtqs : Kok ada death charanya ? jangan donk.. ^_^
Maaf kimkha gak bisa bales semua. Cumin yang sekiranya bisa di bales aja. Tapi tetep Kimkha ngucapin makasih buat yang udah Review. Dan jangana lupa Review buat Chapter yang ini kalau masih mau lanjut. ^_^ :-*
