RETROUVAILLES Chapter 5
Author : Kimkha~
Genre : Hurt/comfort, Romance, little bit angst.
Maincast : Chanbaek
Length : Chapter.
Rate : M
Warning : Genderswitch
NO Siders! (Wajib Review buat yang baca) :D
NO Bash!
Selamat membaca kawan-kawan ^_^
Author POV
"Hyung, kemarilah ! Gendong anakmu ! lihat dia lucu sekali hyung" Sehun berkata pada hyungnya yang sedari tadi duduk di sofa yang ada di ruang rawat itu. Sehun telah mengetahui semuanya. Walau dia merasa kecewa pada Chanyeol yang selama ini selalu menjadi panutannya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, Sehun mencoba bersikap seperti biasa pada hyungnya.
Chanyeol berdiri menghampiri sang adik. Sedari kemarin dia memang belum sempat menggendong anaknya, ia ingin tahu bagaimana rasanya memangku darah dagingnya sendiri. Chanyeol bersiap mengambil anaknya yang ada dalam gendongan Sehun, namun pergerakan terhenti tiba-tiba ketika mendengar teriakan Baekhyun.
"JANGAN SENTUH ANAKKU !"
Semua orang yang berada dalam ruangan itu sontak terkejut, terlebih ketika mereka melihat ekspresi yang tidak Baekhyun tunjukan sebelumnya. Mereka sendiri tidak tahu ekspresi apa itu. Marah ? benci ? mereka sendiri tidak tahu.
'Apa Baekhyun masih belum memaafkan Chanyeol ?' Batin mereka semua –kecuali Chanyeol-
"Baekhyun~" lirih Chanyeol
Mrs. Byun menghampiri Baekhyun lalu mengusap pelan surai putrinya "Kenapa Chanyeol tidak boleh menggendong anak kalian hm? Chanyeol kan ayahnya sayang."
"Tidak, tidak boleh. Chanyeol tidak boleh menyentuhnya umma, tidak boleh!" Baekhyun menggelengkan kepalanya sedangkan matanya tertuju pada suaminya yang sedang memandangnya sendu.
"Sayang tapi kasihan Chanyeol, dia juga pasti ingin menggendong anak kalian." Mrs. Byun mencoba memberi pengertian pada putri tunggalnya itu.
"…." Baekhyun hanya diam. Sedangkan semua orang yang berada disana begitu menanti apa yang akan Baekhyun katakan.
"Tidak... tidak boleh. Hiks..hiks.." Baekhyun berkata dengan suaranya yang begitu parau yang diakhiri dengan tangisannya.
Semuanya mengerti kenapa Baekhyun bersikap demikian. Itu wajar, istri mana yang tak sakit hati mendapati sang suami yang begitu dicintainya menusuknya dari belakang. Menyakiti dirinya teramat dalam, wanita mana yang tak sakit hati ?
Namun yang mereka pikirkan -selain Chanyeol- Baekhyun mungkin telah memaafkan Chanyeol, atau setidaknya memberi kesempatan kedua untuk suaminya. Baekhyun yang mereka kenal merupakan sosok yang begitu pemaaf dan tidak pernah menaruh dendam. Sesakit itukah rasanya dikhianati?
"BAEKHYUN…" Mr. Byun berteriak pada anaknya dan membuat semua yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.
"Appa, sudahlah tidak apa-apa. Bila Baekhyun tidak ingin aku menyentuhnya maka aku tidak akan melakukannya. Ak.. aku.. aku mau keluar sebentar." Chanyeol melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat istrinya dengan hati yang teriris perih.
Semua menatap kepergian Chanyeol dengan sangat prihatin. Mrs. Park yang sedari tadi masih menggendong sang cucu pun tak kuasa membendung air matanya. Mr. Park mengusap-usap punggung sang istri mencoba memberi ketenangan.
Suasana diruangan itu terasa kaku. Sehun yang sedari tadi diam beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Kau mau kemana Sehun-ah ?" tanya Mr. Park.
"Aku mau menyusul Chanyeol-hyung." Sehun menjawab. Matanya tertuju pada sang kakak ipar yang sedari tadi hanya menunduk. Sehun tidak menyalahkan kakak iparnya karena disini penyebab masalah adalah kakaknya. Tapi dia juga tak tega melihat sang kakak yang seperti itu. Ia tahu Chanyeol sudah menyesali perbuatannya, ia tahu itu.
.
.
Sehun berjalan di sekitar rumah sakit mencari keberadaan hyungnya. Langkah Sehun terhenti ketika melihat sang Hyung sedang terduduk di bangku taman rumah sakit.
"Hyung~" Sehun berjalan dan mendudukan dirinya di samping Chanyeol.
Chanyeol menoleh ke samping "Sehun-ah, kenapa kau kemari?" Chanyeol kembali memusatkan pandangannya ke depan. Menikmati apa yang bisa dilihatnya di taman itu.
"Kau tidak apa-apa hyung?"
"Aku tidak apa-apa."
"Kau berbohong hyung."
Chanyeol menundukan kepalanya seraya tersenyum kecut "Lalu aku harus bagaimana ? Lagi pula ini salahku. Aku memang pantas mendapatkannya."
"Bila hyung tahu, kenapa hyung melakukannya ? Jujur saja aku kecewa padamu hyung."
"Kau memang harus kecewa padaku. Aku khilaf , aku seorang pendosa Sehun-ah." Chanyeol menatap adiknya sekilas dan kembali menunduk.
"Hyung adalah panutanku. Sejak dulu aku selalu ingin seperti hyung. Kau selalu tampak menganggumkan dimataku. Dan ketika aku tahu semua ini, aku kecewa padamu. Tapi aku tidak marah padamu hyung, kau akan selalu menjadi panutanku, sampai kapanpun."
"Jangan jadikan aku panutanmu lagi Sehun-ah. Sekarang aku hanyalah seorang laki-laki yang menjijikan. Kau pasti akan jauh lebih hebat dariku nantinya."
Chanyeol menghela nafas sejenak dan melanjutkan perkataannya. "Bahkan untuk mendapatkan maaf dari istriku saja aku tidak bisa." Chanyeol tersenyum miris.
"Hyung~" Sehun menatap sang kakak tak tega.
"Aku harus bagaimana sehun-ah." Chanyeol mendongkakan kepalanya menatap langit yang berawan.
"Baekhyun nuna hanya butuh waktu, suatu saat nanti dia pasti akan memaafkanmu hyung." Sehun menepuk sebelah bahu Chanyeol mencoba memberi kekuatan, sedangkan Chanyeol menganggukan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Adikku sekarang sudah besar."
"Tentu saja hyung. Kau pikir aku masih anak ingusan?" Chanyeol tidak menjawab dan hanya terkekeh pelan sedangkan Sehun hanya tersenyum kecil menatap kakaknya.
.
.
.
.
Terlihat Baekhyun sedang menidurkan bayinya di tempat tidur khusus yang ada di kamarnya dan juga Chanyeol. Dipandanginya wajah anaknya yang sedang tertidur pulas.
'Mirip dengan Chanyeol' batin Baekhyun. Dipandanginya terus wajah anaknya sambil sesekali tersenyum kecil.
"Kenapa kau sangat mirip dengan appamu sayang?" Baekhyun mengelus-ngelus pipi anaknya pelan.
Baekhyun kembali kerumah seminggu yang lalu. Orang tuanya dan orang tua Chanyeol kembali ke Bucheon tiga hari yang lalu. Walau dengan sangat berat hati karena mereka tidak ingin berpisah dari sang cucu kesayangan. Sedangkan Sehun hanya meningap sehari dan harus kembali ke Seoul karena dia tidak bisa meninggalkan kuliahnya lama-lama.
Apartemen itu kini kembali hanya ditinggali oleh Chanyeol dan Baekhyun, dan tentunya dengan anggota keluarga baru mereka. Baekhyun masih belum mengijinkan Chanyeol untuk menggendong anak mereka. Jangankan menggendong, menyentuhpun sama sekali tidak Baekhyun ijinkan.
Sering Chanyeol menatap iri pada orang tuanya atau pun mertuanya yang sedang memangku-mangku anaknya silih berganti. Ia juga ingin. Entah harus berapa lama ia menunggu agar dapat merasakannya.
"Umma menyayangimu Park Junhong"
.
.
'Cklek'
"Kau sudah pulang?" Baekhyun bertanya pada Chanyeol yang berjalan masuk kedalam kamar mereka sambil membuka dasi yang di kenakannya.
"Ne, pekerjaanku sudah selesai jadi aku pulang cepat." Ucap Chanyeol dengan senyum di bibirnya. Disimpannya tas yang sedari tadi dibawanya di atas nakas kamar.
"Kau ingin mandi atau makan terlebih dahulu?" Baekhyun bertanya sambil menimang-nimang sang anak yang tertidur di pangkuannya.
"Aku ingin mandi saja. Baekkie apa Jun-"
"Baiklah aku siapkan dulu airnya." Baekhyun menidurkan anaknya di atas tempat tidur utama, lalu bergegas menuju kamar mandi yang ada di kamar itu.
"Hahhh.." Chanyeol menghela nafas berat seperginya Baekhyun menuju kamar mandi. Chanyeol berjalan mendekati ranjang tidurnya. Dilihatnya wajah damai bayinya, sungguh menggemaskan.
Chanyeol melihat ke arah kamar mandi, memastikan Baekhyun masih ada di kamar mandi. Chanyeol menyentuh pipi anaknya, lalu diusapnya pelan karena takut membangunkan sang anak.
"Akhirnya aku bisa menyentuhmu." Chanyeol tersenyum kecil memandangi sosok mungil dihadapannya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" suara teriakan itu membuat Chanyeol tersentak kaget dan langsung menjauhkan tangannya dari sang anak.
"Ooooekk.. ooekkk…" Junhong terbangun karena mendengar suara teriakan sang ibu.
"Kau lupa dengan apa yang telah katakan, Chanyeol?" Baekhyun bertanya dengan tatapan dan nada suara yang terkesan mengintimidasi.
"Maaf" Ucap Chanyeol tertunduk.
"Ck aku sudah menyiapkan air. Lekaslah mandi sebelum airnya dingin. Aku akan menidurkan kembali Junhong lalu aku akan menyiapkan makan malam."
Chanyeol menganggukan kepalanya "Baiklah.." lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Baekhyun menghampiri sang anak, digendongnya lalu ditimang-timang kembali bayinya yang menangis kencang itu.
"Cup..cup.. sstt.. maafkan umma ne, tadi umma berteriak. Cup.. cup.. anak umma jangan menangis lagi."
.
.
Chanyeol melirik ke sebelah tempat tidurnya, dilihatnya sang istri sudah tertidur pulas. Chanyeol menahan nafas lalu kemudian beranjak bangun dari tempat tidurya secara perlahan-lahan, takut-takut bila nanti istrinya bangun.
Setelah berhasil berdiri, Chanyeol kembali memastikan bahwa Baekhyun sudah tertidur pulas. Chanyeol menghela nafas lega, lalu berjalan menuju box bayi yang ada di sudut kamar mereka. Dilihatnya sang anak sedang terjaga matanya menatap bulat ke langit-langit kamar dengan tangan dan kaki yang bergerak-gerak lincah juga lidahnya yang sedikit keluar dari mulutnya. Sungguh menggemaskan.
"Hei.. kau belum tidur sayang" ucap Chanyeol pelan. Mungkin lebih tepatnya berbisik.
"Apa yang kau lihat, eoh?" Chanyeol mengkuti pandangan sang anak yang menatap langit-langit kamar.
"Disana tidak apa-apa sayang. Sini lihat appa!" Chanyeol memegang hati-hati tangan anaknya.
"Baa~" sang anak tertawa melihat sang appa yang tengah mengajaknya bermain. Tapi kemudian Chanyeol meletakan jari telunjuk di depan mulutnya.
"Ssstt.. jangan berisik baby, nanti umma bangun." Ucap Chanyeol masih berbisik. Dilihatnya lagi, apakah Baekhyun terusik atau tidak. Chanyeol kembali menghela nafas kecil, bersyukur karena sepertinya istrinya masih tertidur nyenyak.
Begitulah aktivitas Chanyeol setiap malamnya, menghabiskan malam bersama anaknya secara diam-diam. Entah sejak kapan Chanyeol memulai hal tersebut, mungkin sudah sejak berbulan-bulan yang lalu. Bahkan anaknya kini sudah menginjak usia 6 bulan.
"Zelo-ya, nanti bila kau sudah besar appa ingin kau menjadi pemain basket. Kau pasti tinggi seperti appa nantinya." Chanyeol terkekeh kecil mendengar kata-katanya sendiri.
"Tapi appa juga senang bila kau nanti menjadi Diplomat, atau menjadi dokter seperti Sehun samchon? Ah.. yang jelas appa ingin kau menjadi anak yang sukses. Apapun itu appa pasti mendukungmu."
"Appa sungguh tidak sabar. Cepatlah besar Zelo-ya!" Chanyeol mengecup kening anaknya. Sedangkan sang bayi hanya tertawa kecil, mungkin dia beranggapan bahwa sang ayah sedang mengajaknya bercanda.
Chanyeol kembali mengajak anaknya bermain tanpa menyadari sosok yang sedari tadi memperhatikannya. Baekhyun tahu apa yang dilakukan Chanyeol setiap malamnya dan Baekhyun tidak melewatkan moment itu.
Baekhyun tidak sepenuhnya tega melarang Chanyeol untuk menyentuh anaknya. Hanya Baekhyun tidak tahu harus menyikapinya bagaimana. Ingin rasanya ia memberi suaminya satu kesempatan lagi, apa lagi melihat kondisi suaminya yang sekarang. Tapi entah kenapa hatinya masih merasa belum siap.
Baekhyun begitu senang melihat suaminya begitu memperhatikan dan menyayangi Zelo. Zelo ? Baekhyun tahu kalau Chanyeol memberi nama kecil itu untuk anak mereka. Nama yang begitu manis, entah dari mana Chanyeol mendapatkan nama itu.
Baekhyun memperhatikan sang suami yang nampak begitu bahagia. Senyum kecil terlukis dibibir manisnya.
'Zelo~' ucap Baekhyun dalam hati. Lalu kembali melanjutkan tidurnya.
.
.
Chanyeol duduk di sofa ruang tamu, sedari tadi memperhatikan sang istri yang sedang berdiri di balkon apartemen mereka sambil menggendong sang anak tercinta. Memberikan cahaya mentari pagi untuk sang baby yang sangat menyehatkan tentunya. Di hari sabtu ini sepertinya Chanyeol tidak ingin pergi kemana-mana. Tidak untuk bermain golf, memancing atau sekedar berkumpul dengan teman-temannya. Memang Chanyeol lebih senang menghabiskan waktu weekendnya di rumah dari pada di luar, menemani istri dan juga anaknya.
"Hari ini kau tidak akan kemana-mana?" Baekhyun bertanya kepada Chanyeol dari Balkon tempatnya berada.
"Eo.. eoh, tidak. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku ingin di rumah saja." Ucap Chanyeol sedikit terkejut. Karena sedari tadi dia terlalu fokus mempehatikan kedua orang yang disayanginya itu.
"Nanti siang aku pergi berbelanja."
"Kau ingin aku antar?"
"Tidak, supermarket di dekat sini tutup beberapa hari ini. jadi aku mau pergi ke supermarket lain yang cukup jauh." Baekhyun berkata sambil menimang-nimang anaknya.
"Jadi kau tidak mau aku antar? Lalu?" Chanyeol mengkerutkan alisnya.
"Ah.. kau tidak akan membawa Junhong? Kau mau menitipkannya padaku?" Ujar Chanyeol mencoba menebak. Baekhyun menganggukan kepalanya, dan seketika senyum lebar terukir di wajah tampan Chanyeol.
"Benarkah? Bolehkan?"
"Aku tidak mungkin membawanya kesana. Supermarket disana sangat penuh sesak oleh pengungjung, aku khawatir bila harus membawanya kesana."
"Oh begitu.. memang sebaiknya Junhong jangan dibawa."
"Ya, jadi aku titipkan Zelo padamu." Chanyeol menganggukan kepalanya mengiyakan, tapi tiba-tiba Chanyeol terpaku ketika otaknya berhasil menangkap apa yang istrinya katakan.
"Apa? Zelo?" ucap Chanyeol terkejut. Dipandanginya sang istri yang tengah berdiri menghadapnya dari arah Balkon.
"Ya.. Zelo. Aku pikir nama itu cukup bagus. Tidak ada salahnya bila memberinya nama kecil itu."
"Baekkie, biar aku jelaska-"
"Ya.. aku tahu. Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku, aku tidak keberatan sama sekali. Ah.. sepertinya sudah cukup, aku akan menidurkan Zelo di kamar." Baekhyun melangkah pergi menuju kamar mereka, meninggalkan Chanyeol yang masih terduduk mematung di atas sofa.
'Dia tidak marah padaku?Benarkah? Bolehkan aku berharap kau sudah mulai memaafkanku, Baekkie.'
.
.
.
.
5 Tahun Kemudian
"APPPAAA.. ayo cepat! nanti zelo keciangan. Nanti concaengnim malah huuhhh." Zelo mengerucutkan bibirnya sebal karena sedari dia menunggu sang ayah yang sedang menghabiskan sarapannya. Padahal hari sudah semakin siang, 10 menit lagi pasti jam belajar sudah dimulai.
"Sebentar baby, ini appa sudah siap." Chanyeol meminum habis secangkir kopinya lalu berdiri bergegas mengambil tas kerja disamping kursi makan.
"Baekkie, aku dan Zelo berangkat." Baekhyun menganggukan kepalanya. Chanyeol menghampiri Baekhyun hendak mencium kening sang istri sebelum dirinya pergi bekerja, namun Baekhyun memalingkan kepalanya ketika bibir Chanyeol hendak menyentuh keningnya.
Chanyeol tersenyum kecut 'selalu seperti ini' batinnya. Apa yang Chanyeol pikirkan dulu ternyata salah. Baekhyun nyatanya hingga detik ini ia selalu mendapat penolakan dari istrinya. Entah kapan pintu maaf itu akan terbuka.
"ZELO-YA HATI-HATI YA. NANTI SIANG UMMA YANG JEMPUT." Baekhyun berteriak pada sang anak yang sedang berada di dekat pintu apartemen lengkap dengan seragam taman kanak-kanaknya.
"NE UMMA. APPAA.. PALLIII…"
"Yasudah, aku… berangkat." Baekhyun melirik Chanyeol sekilas sebelum kembali melanjutkan makannya. Chanyeol bersikap biasa, seolah kebal karena dirinya terlalu sering diperlakukan seperti ini.
"Hmmpp.." Baekhyun bergumam.
Chanyeol meninggalkan Baekhyun di ruang makan dan berjalan menghampiri sang anak yang sedari tadi menunggu dirinya.
"Ayo baby kita berangkat!" Chanyeol berjalan keluar menuntun sang anak pergi menuju parkiran mobil.
"Huuhhh.. appa lama cekali." Zelo menggerutu dengan memanyunkan bibirnya beberaca centi.
"Mianhe baby, tadi appa bangun kesiangan. Sudah jangan manyun seperti itu!"
"Huuhhh.." Chanyeol hanya terkekeh mendengar gerutuan anaknya yang satu itu.
.
.
.
.
Chanyeol berjalan masuk menuju gedung tepatnya bekerja, dilihatnya rekan-rekan kerjanya sedang berkumpul di dekat loby kantor, mereka sepertinya sedang membicarakan hal yang menarik. Chanyeol ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan, ia berjalan menghampiri teman-temannya.
"Selamat pagi, kalian sepertinya asik sekali. Apa yang sedang kalian bicarakan?" sekumpulan orang yang sedari tadi sibuk berbincang seketika terdiam. Melirik satu sama lain seolah memberikan isyarat. Chanyeol mengkerutkan keningnya aneh melihat sikap teman-teman kantornya.
"Kenapa? Kalian aneh sekali, dan kenapa kalian memandangiku seperti itu? Ahh.. kalian tadi pasti sedang membicarakan aku iya kan? Hahaha.." Chayeol berkata dengan nada bercandanya,tapi ucapan Chanyeol nampaknya dianggap serius oleh teman-temannya yang berada disana.
Chanyeol kembali mengkerutkan keningnya heran "Jadi kalian benar-benar sedang membicarakan aku?"
"Ahh.. ti..tidak. kami tidak sedang membicarakanmu. Iya kan?" Ucap salah seorang dari mereka, sedangkan yang lain yang tidak berbicara hanya menganggukan kepalanya.
"Lalu apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Chanyeol penasaran.
"Itu..i..tu.." orang itu melirik rekan kerjanya yang lain mencoba meminta bantuan.
"Kami hanya sedang membahas masalah pekerjaan, hanya itu saja." Ucap Seunghyun. Salah seorang yang berada dalam kelompok orang-orang itu.
"Tapi tadi kalian wajah kalian seperti asik dan serius sekali, aku jadi penasaran."
"Ah.. sudahlah, ayo kembali ke tempat kerja masing-masing, sudah hampir jam masuk kerja." Semua orang menganggukan kepala menyetujui lalu mulai membubarkan diri pergi ke divisi mereka masing-masing.
"SEUNGHYUN-HYUNG" Chanyeol berteriak memanggil Seunghyun yang berjalan sedikit jauh di depannya. Seunghyun menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Kenapa jalanmu cepat sekali? Kita kan satu divisi kenapa kau meninggalkanku?"
"Oh.. ah.. itu.. aku.. aku mau ke toilet dulu, jadi kau pergi duluan saja." Seunghyun berjalan pergi meninggalkan Chanyeol menatap punggungnya heran.
'ANEH..' batin Chanyeol.
Authot POV END
Chanyeol POV
Hari ini orang-orang di kantor ini aneh sekali. Sejak tadi pagi mereka selalu melihatku dengan tatapan yang aneh. Memangnya ada apa denganku? Kenapa melihatku seperti itu? Bahkan sejak tadi pun orang-orang yang berada satu divisipun sama sekali tidak mengajakku berbicara. Aku jadi canggung dan risih berada disini.
"Chanyeol-ssi.." aku tersadar dari lamunanku. Kulihat seorang wanita berdiri di depanku, ah.. dia adalah sekertaris direktur utama disini.
"Ne, maaf ada apa?" ucapku bertanya.
"Direktur meminta anda untuk menemuinya nanti sekitar pukul satu siang."
"Oh.. baiklah. Tapi kenapa tidak sekarang saja?"
"Beliau sedang mengadakan rapat diluar saat ini." Ucapnya dengan tersenyum canggung padaku.
"Baik, nanti aku akan kesana."
"Kalau begitu permisi.."
Entah kenapa aku merasa bahwa sekertaris direktur tadi menatapku dengan tatapan seperti prihatin. Jujur perasaanku saat ini mulai tak enak. Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
.
.
"Maaf Chanyeol-ssi bila saya berbicara lancang. Apa anda pengidap HIV?"
'DEG'
Aku tersentak kaget mendengar pertanyaan dari atasanku. Dari mana dia tahu? Apa semua orang di kantor juga sudah mengetahuinya sehingga mereka bersikap aneh seperti tadi? Aku tidak menjawab, masih mencoba menenangkan diri dari rasa terkejutku ini.
"Beberapa hari yang lalu salah satu dari karyawan disini melihat anda di rumah sakit dan masuk ke dalam ruangan dokter. Dan kebetulan orang yang melihat anda itu merupakan adik dari dokter yang memeriksa anda."
Aku masih terhanyut dalam pemikiranku. Apa yang harus jawab?
"Ne, itu benar sajang-nim. Maafkan saya karena menyembunyikan hal ini." Aku pasrah, akhirnya mereka semua mengetahuinya. Aku tersenyum miris, aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Kulihat atasanku menghela nafas sejenak "Aku mengerti, aku sedikit tahu tentang penyakit itu dan aku bukan orang yang menganggap pengidap HIV itu menjijikan. Tapi maaf Chanyeol-ssi demi kenyamanan para karyawan disini, saya tidak dapat lagi mempekerjakan anda disini."
Aku tidak mengatakan apapun, aku hanya menyimak apa yang di katakan seseorang yang sebentar lagi akan menjadi mantan atasanku ini. apa yang harus aku lakukan setelah ini? Lihatlah Chanyeol ! Tuhan benar-benar menghukumu.
"Kinerja anda disini sangat baik, saya sangat puas melihat kemampuan anda. Anda sangat cerdas, tapi maafkan saya sekali lagi. Saya yakin anda bisa mendapatkan kesuksesan dengan cara yang lain Chanyeol-ssi."
"Saya mengerti sajang-nim. Terimakasih."
Baekhyun.. Zelo.. maafkan aku.
Chanyeol POV END
Author POV
Sudah sebulan sejak Chanyeol resmi berhenti dari tempat kerjanya. Chanyeol tidak mencoba untuk melamar ke perusahaan lain karena ia tahu, perusahaan manapun tidak akan menerima seseorang dengan penyakit HIV seperti dirinya.
Bersyukurnya Baekhyun mau mengerti, walaupun Chanyeol tetap merasa tak enak hati dan merasa dirinya tidak berguna sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Baekhyun hanya berkata,
'aku sudah tahu, hal seperti ini pasti akan terjadi. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk'
Untung saja uang yang Chanyeol dapat selama bekerja masih tersisa banyak di rekeningnya, ditambah uang pesangon yang di dapatnya terbilang sangat besar. Mereka hanya perlu memikirkan bagaimana caranya mengelola uang itu dengan baik agar mereka dapat memenuhi kelangsungan hidup keluarga kecil mereka.
.
.
"Waktunya makan siang. Ayo makan!" Baekhyun menatap sendu suaminya yang sedari tadi nampak melamun, menatap tidak fokus layar TV yang sama sekali tidak dinyalakan.
"Chanyeol.." Baekhyun menyentuh pelan bahu Chanyeol, yang sukses membuyarkan lamunan Chanyeol.
"Eoh.. Baekkie, ada apa?"
"Ayo makan!" ujar Baekhyun singkat lalu pergi meninggalkan Chanyeol menuju ruang makan.
"Hahh.." Chanyeol menghela nafasnya berat lalu beranjak dari sofanya mengikuti sang istri.
.
.
"Tidak usah kau pikirkan! Aku dan Zelo tidak apa-apa." Baekhyun berkata di tengah acara makan siangnya bersama sang suami.
"Tapi-"
"Kami baik-baik saja Chanyeol. Tidak usah kau pikirkan mereka." Baekhyun tau apa yang Chanyeol pikirkan. Sekarang semua orang telah mengetahui penyakit yang Chanyeol derita. Baekhyun pun merasa kalau mereka tengah dijauhi oleh orang-orang terdekat mereka, bahkan tetangga-tetangga mereka. Tapi Baekhyun tidak mau ambil pusing masalah itu, menurutnya itu bukanlah yang penting. Yang penting baginya sekarang adalah keluarganya.
"Tapi aku tidak bisa terus begini Baekkie. Uang kita bisa habis kalau aku masih belum bekerja." Chanyeol mengaduk-aduk makanannya pelan. Sungguh saat ini ia tidak berselera makan.
"Kalau begitu biar aku yang mencari kerja".
"Tidak." Cegah Chanyeol cepat.
"Kenapa?"
"Disini akulah kepala rumah tangga, aku yang bertanggung jawab. Harusnya aku yang menafkahi kalian."
Baekhyun menghentikan kegiatan makannya, meletakan sendok makannya di atas piring. "Baguslah kalau kau sadar diri. Tapi melihat kondisimu sekarang itu sepertinya tidak memungkinkan Chanyeol. Harusnya kau memikirkan semua ini dari awal. Jauh sebelum kau merusak segalanya"
Chanyeol termenung, sampai saat ini Baekhyun masih sering mengeluarkan kata-kata yang membuatnya sakit hati. Seperti saat ini.
"Aku mau menjemput Zelo." Baekhyun beranjak dari kursinya meninggalkan Chanyeol yang masih termenung di tempatnya.
.
.
.
.
"Hahhh.." Kembali Chanyeol menghela nafas berat. Entah sudah keberapa kalinya ia menghela nafas. Otaknya terlalu penuh dengan masalah yang menimpanya. Dari mulai tentang Baekhyun, pekerjaannya,dan juga penyakitnya yang kini bukan lagi menjadi sebuah rahasia.
Chanyeol pun merasa makin hari tubuhnya makin terasa lemah, Chanyeol sering merasa tidak bertenaga dan lelah walau sebenarnya dia tidak sedang melakukan apapun. Chanyeol tidak berani mengatakannya pada Baekhyun karena ia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya itu. Walau Baekhyun terlihat biasa-biasa saja bahkan terkesan tidak peduli, tapi Chanyeol tahu bahwa Baekhyun juga selalu memikirkanya.
Cklek
Chanyeol menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu apartemennya terbuka. Dilihatnya sang anak memasuki apartemen di susul dengan istrinya dibelakang yang menenteng tas kecil milik putranya.
Dahi Chanyeol mengkerut bingung. Ada apa dengan anaknya? Zelo nampak habis menangis, matanya merah dan juga sembab. Pandangannya beralih pada sang istri, dilihatnya sang istri tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Chanyeol menghampiri keduanya, berjongkok di depan sang anak dan mengusap surainya pelan.
"Kau kenapa baby?" Zelo menatap Chanyeol tajam. Chanyeol tertegun, karena belum sekalipun ia melihat anaknya seperti itu. Ditepisnya tangan yang Chanyeol yang tengah mengusap surainya.
"ZELO BENCI APPA.." Zelo berlari menuju kamarnya, terdengar suara tangisan dari ruangan itu. Chanyeol menatap Baekhyun seolah bertanya 'apa terjadi sesuatu?'
Baekhyun menatap Chanyeol sendu. Jujur Chanyeol merasa sakit melihat kedua orang yang dicintainya nampak menyedihkan seperti ini.
Flashback
"Taeminnie.. kita main pelocotan yuk!" Zelo berkata pada temannya yang saat ini tengah asik mengambar di dalam kelas.
"Tidak mau.. main caja cendili" ucap anak bernama Taemin itu sambil asik mewarnai gambarnya.
"Kenapa?" Ucap Zelo murung. Karena sedari tadi ia mengajak teman-temannya bermain. Tapi tidak ada satupun yang mau bermain dengananya.
"Umma bilang Minnie tidak boleh main cama Zelo! Nanti Minnie bica cakit."
"Hiks.. tapi kan Zelo tidak cakit."
"Kata umma appa Zelo kan cakit, telus cakitnya belbahaya. Zelo juga pacti cepelti itu. Kalau Minnie main cama Zelo nanti Minnie teltulal."
"TAEMINNIE~" panggil seorang anak kecil yang berlari menghampiri taemin di dalam kelas.
"Mau ikut main petak umpet tidak? Ayo ikut.. dali pada dicini, kan kita tidak boleh dekat-dekat cama Zelo."
"Ayo.. Minnie mau ikut main. Ayo Len!" Ucap Taemin pada temannya yang bernama Ren. Taemin mulai membersekan Crayon-crayonnya yang berserakan di atas meja. Sedangkan Zelo masih sibuk memperhatikan kedua temannya.
"Zelo juga mau ikut main." Ucap Zelo dengan bergetar dan nampak ingin menangis.
"Tidak boleh! Ayo~ Taeminnie." Ucap namja cilik bernama Ren itu sambil menarik Taemin menuju taman bermain sekolah. Meninggalkan Zelo seorang diri di dalam kelas.
"Hiks.. Hiks.."
Flashback End
.
.
Baekhyun menyandarkan dirinya di ujung tempat tidurnya dan Chanyeol. Sekarang sudah tengah malam namun dirinya belum berniat untuk tidur. Baekhyun termenung, matanya menatap lurus kedepan. Namun sesekali kepalanya menoleh kesamping, menatap sang suami yang sedang terlelap.
"Hahh.." Baekhyun menghela nafasnya. Sesungguhnya dia sangat khawatir dengan keadaan suaminya. Apalagi sekarang ditambah dengan Zelo. Kenapa kehidupannya harus sesulit ini? ia tidak ingin terus menerus menyalahkan Chanyeol. Mungkin memang sudah saatnya ia benar-benar memaafkan suaminya. Mengikhlaskan semua yang telah terjadi.
Diliriknya kembali sang suami. Seulas senyum terlukis diwajah cantiknya.
"Yeollie~" ucapnya sambil mengelus pelan surai suaminya. Namun pergerakannya tiba-tiba terhenti. Matanya terbelalak ketika tangannya merasakan panas saat menyentuh kening suaminya.
"Astaga Yeollie, kau kenapa?" Baekhyun baru sadar kalau sedari tadi Chanyeol mengeluarkan keringat, rambutnya terasa begitu basah.
'Demamnya tinggi sekali' Ucap Baekhyun dalam hati.
Dengan panik Baekhyun mencoba membangunkan Chanyeol "Yeollie.. bangun! Kau tidak apa-apa? Yeollie.." Baekhyun menepuk pelan pipi Chanyeol silih berganti.
"Yeollie.." Panggil Baekhyun lagi. Namun Chanyeol masih memejamkan matanya, tidak terusik oleh suara istrinya.
"Yeo-" mata Baekhyun kembali terbelalak ketika melihat apa yang terjadi pada suaminya sekarang. Chanyeol kejang-kejang.
"YEOLLIE.. hiks…" Baekhyun mengguncang tubuh Chanyeol kuat.
#TBC#
Chapter 5 Update.. kkkk. Maaf ya kalau ada yang merasa Chapter ini kurang memuaskan. Soalnya Kimkha lagi ilang mood buat nulis nih. Apalagi akhir-akhir ini Kimkha banyak kegiatan hahaha.. makin males deh -_-
Kimkha gak tahu mau Update Chapter berikutnya kapan. Tergantung mood kimkhanya aja kaliya. Jadi Kimkha minta review para readers semua, kalau emang readers pengen FF ini lanjut kkk.. Kimkha butuh motivasi dan suportnya kawan-kawan.. Kimkha tunggu reviewnya yah ^^
Waa... kenapa ini? kok ngaco banget situsnya. padahal Chap 5 gak kimkha hapus tapi malah gak ada trus ilang lagi. ada trus ilang lagi. jadi ini kimkha repost lagi ahhh.. yasudahlah jadi kimkha ngeluh disini ajaTapi tetepnya mohon Reviewnya Hohoho
