Title : CONFESSION
By : Scarlet.44
Warning : OOC, typo, etc
Pair : SasuSaku
.
.
.
.
Enjoy!
Chapter 2
Pemuda dengan tinggi diatas rata-rata itu melangkah malas kearah kelasnya di lantai dua. Sungguh sial baginya karena terlambat bangun tidur menyebabkan ia telat masuk sekolah. Baru saja ia dihukum bersama murid-murid yang terlambat lainnya, berlari mengelilingi lapangan basket lima kali. Yeah, walaupun tak sebanyak saat olahraga, namun cukup membuat seluruh badannya berkeringat. Berulang kali mata onyxnya terpejam dan jemarinya yang panjang mengusap peluh didahinya. Jam pertama baru saja dimulai Dan ia ingin membolos karena terlalu lelah dengan hukuman yang diberikan wakil kesiswaan tadi.
Matanya berbinar -walau hanya sedikit- saat melihat pintu toilet di depannya. Ia berniat membasuh wajah tampannya dulu sebelum pergi keatap sekolah untuk tidur. Saat tangannya bergerak akan memutar knop pintu toilet, samar-samar ia mendengar suara guyuran air dan tawa beberapa siswi perempuan dari toilet sebelah. Sedang terjadi pembully-an kah? Tidak heran juga karena siswi disini termasuk anak-anak iseng yang suka menjahili satu sama lain. Rasa penasaran mulai menggerayanginya. Dengan seringai khasnya, ia membuka pintu toilet itu , membuat beberapa anak itu menoleh ke arahnya Sasuke baru berniat ikut membully namun langkahnya terhenti Dan matanya membuat sempurna.
Sosok mungil yang tengah basah kuyup dan terduduk dilantai toilet itu berhasil melunturkan seringainya. Beberapa anak yang membully itu masih terpaku pada tempatnya, menatap Sasuke dengan siaga. Sasuke melemparkan tatapan tajamnya kepada keempat anak yang tengah bersiri mengelilingi sosok mugil itu. Ia bergerak mendekati salah satu diantara mereka. Tanpa menunggu lagi ia langsung mendorong salah satu siswi ke dinding toilet.
Brakk
Semua temannya tampak kaget dengan mata sipit mereka yang dipaksa melebar sempurna. Sosok Sasuke tampak geram menatap satu persatu pemuda itu dengan tatapan membunuh membuat mereka bersingut mundur dengan raut wajah tak tetgambarkan lagi. Mata Sasuke menatap sosok mungil yang tengah mengusap hidungnya itu. Mata onyxnya lagi-lagi membulat saat pendapati punggung tangan gadis mungil itu berdarah. Saat gadis mungil itu mendongak, barulah Sasuke tahu kalau hidungnya mengeluarkan darah.
"Apa yang telah kalian lakukan hah?!" Cengkraman Sasuke dikerah seragam salah satu pembully itu menguat.
"Uhhuk-go-gomen, Sasuke-san. Uhhuk" Wanita itu terbatuk saking eratnya cekikan Sasuke dikerah nya.
Bugh.
Sasuke kembali mendorong Wanita itu hingga tersungkur ke lantai. Mereka hanya diam tak berani menatap wajah Sasuke.
"Kuperingatkan kalian semua! Kalau sampai kalian berani menyentuhnya seujung rambut saja, kalian berakhir ditanganku! Mengerti?!" Sasuke membentak membuat siswi itu menundukkan kepalanya dengan badan yang sudah sangat lemah.
"Maaf, maafkan kami Sasuke-san"
"Semarang kalian minta maaf padanya!" Para siswi itu saling pandang kemudian menatap gadis mungil yang masih terduduk di lantai.
"Ma-maaf-maafkan kami Sakura-san"
"Dengar ya! Hanya aku yang boleh membully nya disini! Pergi kalian! Aku muak melihat wajah pecundang seperti kalian"
"Ba-baik" Dan Para siswi itu langsung lari keluar dari toilet, entah kemana. Sasuke menarik tangan gadis itu dan menariknya paksa berdiri. Mata onyxnya menatap Sakura dengan raut wajah yang tak menentu. Sebelah tangannya bergerak, menganhkat dagu Sakura hingga gadis yang lebih pendek darinya itu mendongak lalu meringis pelan.
"Ck, kau mimisan? Kau itu benar-benar lemah ya" ujar Sasuke dengan senyum meremehkan. Sakura hanya menatapnya dalam diam. Bibirnya membiru dan badannya menggigil karena ia tak tahan dingin. Tiba-tiba Sasuke menyentak dagunya hingga ia terdorong mundur beberapa langkah. "Bersihkan hidungmu!" Perintah Sasuke. Tanpa protes, ia langsung membersihkan tangan dan hidungnya menggunakan air wastafel.
"Arigatou" lirihnya hampir tak terdengar oleh telinga Sasuke. Sasuke yang tengah bersandar pada tembok hanya memutar kedua bola matanya.
"Hmm" ia menggumam sebagai jawaban. Sakura melirik kearah kaca dan mendapati Sasuke tengah menatapnya intens. "Jangan salah paham. Aku melakukannya bukan karena aku menyukaimu"
"Aku tahu" Sakura bergumam pelan.
CONFESSION-SasuSaku-
Siang ini Sakura memilih memakan bekal yang dibawanya didalam kelasnya yang sudah sepi sejak Lima menit yang lalu. Hinata baru saja pergi ke kantin bersama Sasuke, membuatnya mau tak mau menyantap makanannya sendiri. Baru saja ia ingin menyuapkan nasi ke mulutnya, pergerakannya terhenti mendapati seseorang tiba-tiba saja duduk di depannya dan tersenyum lima jari.
"Nee-chan" Sakura tersenyum hingga matanya menyipit imut. Gadis cantik didepannya langsung saja mencomot sepotong daging di kotak bekal Sakura Dan memakannya. "Aish nee-chan, itukan punyaku" Sakura mengerucutkan bibirnya dan kakak kesayangannya itu terkekeh dibuatnya.
"Kenapa kau tak membuatkanku juga heum? Aku kan lapar" Ini mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku pikir nee-chan tidak mau, kan biasanya nee-chan makan bersama-sama teman nee-chan di kantin" Ini mengetuk-ketuk dagunya dengan jari kemudian tersenyum bodoh.
"Benarkah? Aku tidak ingat" Sakura memutar kedua bola matanya. "Pokoknya besok kau harus membuatkan untukku juga. Jadi mulai besok aku akan makan bekal bersamamu disini-eh, tidak-tidak. Kita akan memakannya di taman. Bagaimana?" Sakura mengangguk-angguk imut.
"Sakura-san" Sakura sontak menoleh dan pipinya bersemu merah saat melihat Sai berdiri tepat disampingnya tengah tersenyum lembut ke arahnya.
"I-iya a-ada apa Sai-san?" Ino mengernyitkan dahi mendapati adiknya berbicara tergagap dengan pemuda berkulit pucat di depannya. 'Sakura kenapa? Kenapa pipinya memerah seperti itu? Jangan-jangan...' Ino mengulum senyum simpul.
"Kau tidak ke kantin?" Tiba-tiba Sai duduk disampingnya, membuat Sakura mati-matian menahan napasnya dan detakan jantung yang menggila. 'Oh God, Save Me' batinnya memelas. Melihat cara tersenyum Sai yang jarang-jarang terlihat itu selalu berhasil membuat seluruh wajahnya merona hanya dalam hitungan detik. Sungguh gila. Beginikah reaksi orang yang sedang jatuh cinta?
"A-ah, i-itu... Aku tidak kesana. A-aku bawa-"
"Sepertinya ini enak" Sai memotong perkataan Sakura dan langsung memasukkan sepotog daging ke mulutnya. Mengunyahnya pelan, menikmati sensasi rasa gurih, lembut Dan nikmat dilidahnya. Sai berani bersumpah kalau masakan ini sangat enak. "Great!, enak sekali. Siapa yang memasaknya?" Sai menoleh Dan mendapati Sakura menunduk malu.
"Tentu saja adikku" Ino berkata lantang membuat Sai sedikit tersedak daging di tenggorokannya.
"Benarkah?" Sai bertanya Dan dijawab anggukan mantap dari Ino. "Oh ya Ino, jarang sekali melihatmu disini?" Oh-sungguh, ini baru pertama kali Ino berbicara dengan Sai secara langsung. Sebetulnya mereka mengenal satu sama lain karena pesta keluarga, selebihnya mereka hanya melemparkan senyum atau membugkuk saja. Dan ini pertama kalinya Ino mendengar suara Sai. Sai tidak sedingin kelihatannya, buktinya saja ia dekat dan tampak akrab dengan adiknya.
"Oh, itu karena aku biasa ke kantin bersama teman-teman. Sai mengangguk-angguk paham Dan kembali memakan bekal Sakura. Sedangkan Sakura? Oh ayolah, rasa laparnya benar-benar hilang oleh kehadiran Sai. Dia memilih memandang Sai daripada memakan bekalnya.
"-ra? Sakura-san?! Suara lembut Sai membuat Sakura tersentak. Ia tersenyum bodoh dan beralih menatap Ino untuk meminta bantuan. Ino hanya menyeringai kemudian ikut memakan bekal Sakura, mengabaikan tatapan konyol Sakura barusan. " kau melamun?" Sakura menggeleng pelan. "Kau tak mau makan?" Sakura lagi-lagi menggeleng.
"Untuk kalian berdua saja" jawabnya malu-malu.
"Uwaahh-kau memang adikku yang paling manis Saki" Ino meraih pipi Sakura dam mendaratkan kecupan singkat di bibir tipis adiknya. Sakura membulatkan matanya selebar-lebarnya. Nee-chan nya memang sering melakukan tindakan konyol itu. Tapi-ada Sai disini! SAI?! Bagaimana kalau pemuda itu menganggap mereka-
"Eum, kalian berdua sister complex?" Sai bertanya ragu.
"Tidak! Ti-tidak, Sai. A-aku-"
"Absolutely no, Sai. Kami sering melakukannya. Itu hanya kebiasaan kami sejak kecil" Ino berujar sabtai. Setidaknya Sakura bisa bernafas lega sekarang. "Lagipula Sakura mempunyai seseorang yang disukai-" Mata Sakura membulat. Apakah nee-chan nya tahu sesuatu"
"Benarkah? Siapa?" Sai tampak antusias membuat Sakura menundukkan wajahnya yang memerah. Ia menatap kakak nya dengan pandangan memelas sementara Ino menyeringai menanggapinya.
"Just ask her, Sai" kali ini Sai mengalihkan pandangannya pada Sakura. Berharap gadis itu membocorkan sedikit rahasianya. Sakura menetralkan deru nafasnya Dan tersenyum penuh arti.
"That's secret" ia menjulurkan lidahnya membuat Sai mendesah kecewa.
CONFESSION-SasuSaku-
"Sakura! Sakura-chan" Sakura terhenti melangkah dan berbalik. Matanya membuat namun bibirnya langsung menyunggingkan senyuman lebar saat melihat teman lamanya kini berlari berlari dan melambai kearahnya.
"Naruto" ia berteriak dan berlari menuju teman lamanya itu. Ia abaikan saja pandangan aneh siswa siswi lain yang ditujukan padanya. Ia terlalu senang melihat Naruto, sahabat kecilnya tengah berada di hadapannya. Mereka saling memeluk satu sama lain sebelum akhirnya Naruto memberikan kecupan kecil di pipi Sakura. Membuat Sakura mengerucutkan bibirnya kesal dan meninju ringan lengan Naruto.
"Sejak kapan kau kembali ke jepang? Dan-bagaimana bisa kau bersekolah disini?" Sakura bertanya tidak sabaran. Terlalu banyak hal yang membuatnya penasaran pada sosok pemuda berkulit tan ini.
"Well, kau tahu kalau Korea itu membosankan bagiku. Maka dari itu aku kembali ke jepang lagi. Dan-ini hari pertama ku masuk. Ah, aku senang bisa menemukanmu" Terserah alasan apapun yang diberikan Naruto, takkan bisa mengubah perasaan senang Sakura sekarang. Ia memeluk Naruto lagi dan menghirup aroma mint pada tubuh Naruto sebanyak-banyaknya.
"Aku merindukanmu" ujarnya manja. Sakura benar-benar bersikap manja pada sahabtnya ini. "Naruto, aku benar-benar merindukanmu" rengeknya lagi. Naruto terkekeh kecil dan mengusap rambut belakang Sakura sayang.
"Aku lebih merindukanmu"
Tanpa disadari keduanya, seorang gadis bermata violet, Hinata memperhatikan keduanya dalam diam. Hinata menghela nafas dan pergi.
'Rupanya Sakura mempunyai hubungan dengan Naruto. Ah, bodohnya aku. Tentu saja Naruto memiliki kekasih , dia kan tampan. Hhh-' Hinata menghela nafas lagi, entah beberapa kalinya.
"Baby" Sasuke berada di ujung koridor melambai kearahnya. Bibirnya dipaksa mengulum senyum saat Sasuke berlari kearahnya Dan langsung merangkul pundaknya posessif. Beberapa cerita konyol yang Sasuke lontarkan tidak masuk ke dalam otaknya karena ia terlalu sibuk memikirkan hubungan Sakura dengan Naruto.
"Aku pulang..." Sakura mengucapkan salam namun alisnya bertaut karena tidak ada maid atau Ino yang menyambutnya. Ia pun bergegas menaiki tangga. Namun baru melangkah ia berjalan, samar-samar ia mendengar percakapan beberapa orang dari ruang kerja ayahnya. Namun yang paling membuatnya penasaran adalah suara Ino. Kenapa keluarga nya membicarakan seauatu tanpanya? Apa dia sudah tidak dianggap? Perlahan tapi pasti ia megendap ke arahnya pintu ruang kerja ayahnya. Ia mampu mendengar karena pintunya sedikit terbuka.
"Aku tidak mau tou-san. Aku masih sekolah. Aku bahkan belum kuliah" suara Ino meninggi. Sakura dapat melihat ayahnya memijat pelipisnya sedangkan ibunya mengusap pundak Ino. 'Apa yang dilakukan mereka?'
"Tapi Ino-chan, kita harus melakukannya ini. Perusahaan kita terancam bangkrut"
"Tapi kenapa aku? Kenapa perusahaan menjadi alasan kalian untuk menjodohkanku dengan anak perusahaan itu hah?!" Sakura mengernyit 'perjodohan?'
"Ino, tou-san tidak punya pilihan selain mengiyakannya" Ino tampak gusar. 'Perjodohan apa? Nee-chan akan dinikahkan dengan seseorang?'
"Kenapa bukan Sakura? Bukankah kalau Sakura yang melakukannya masa depannya akan lebih baik?" Suara Ino mulai memelan. Sakura tersentak dibalik pintu.
"Tidak bisa Ino-chan. Anak keluarga Shimura itu sangat terhormat, Dan kita harus memberikan yang sepadan untuk anak mereka. Kau pintar dan mengagumkan, mereka akan lebih menyukaimu. Mereka pasti juga menginginkan menantu yang bisa diandalkan Ini" kali ini suara ibu mereka mengucapkan dengan nada pelan dan lembut.
"Tapi bukankah aku dan Sakura sama saja? Apa bedanya? Sakura juga bisa diandalkan dalam hal tertentu" Okay, Sakura benar-benar bingung. Dia sedikit tidak suka akan usulan nee-chan nya. Kenapa jadi dia ikut-ikut urusan perusahaan? Bukankah selama ini dia tidak dianggap?
"Apa yang bisa diandalkan dari Sakura itu hah?!" Hati Sakura mencelos mendengar penuturan kasar ayahnya. Jadi benar ia tidak dianggap selama ini. "Apa kau mau mempermalukan keluarga kita? Sakura itu hanya bisa menyusahkan keluarga. Bagaimana jika nanti dia malah menghancurkan semuanya? Mau ditaruh dimana muka tou-san?" Dada Sakura berdenyut sakit. Ia mencengkram kuat-kuat dadanya, seolah dengan begitu, rasa sakitnya dapat berkurang, perkataan ayahnya telak membuat hatinya perih.
"Tapi aku tidak mencintai Shimura Sai tou-san! Sakura lah yang mencintai nya!" Deg. 'Shimura Sai' jadi nee-chan nya akan dinikahkan dengan Sai? Nafas Sakura Benar-benar terhenti di tenggorokan. Ia tidak menyangka bahwa yang mereka bicarakan adalah Shimura Sai, orang yang diam-diam ia sukai selama ini. Tuhan benar-benar sayang padanya sampai-sampai Sakura harus kehilangan orang yang dicintainya.
"Ini bukan masalah cinta Ino! Kau akan menyukainya kelak!" Nafas Ino memburu. Baru kali ini ia merasa kecewa pada orang tuanya. Mengapa mereka tidak pernah menoleh kearah adiknya sekali saja? Kenapa Sakura seolah-olah tidak ada?
"Tou-san, aku menyayangi Sakura dan aku tidak bisa menyakitinya" Ino berujar lirih.
"Ia akan mengerti sayang" ibunya mengeluarkan surai Ino dan memeluk pundaknya. Menenangkan Ino yang sepertinya sudah ingin menangis.
"Aku akan memikirkannya tou-san"
"Tou-san harap kau tidak mengecewakan tou-san untuk pertama kalinya" Ino berbalik Dan beranjak pergi. Saat ia menbuka knop pintu ruang kerja ayahnya, matanya membulat saat mendapati Sakura tengah berdiri disana.
"Sak-sakura?" Ayah maupun ibunya didalam tampak terkejut. Sakura mengangkat wajahnya perlahan dan tersenyum kecut.
"Maaf telah lancang mendengar percakapan kalian" Sakura membugkuk ke arah orang tuanya. Ia kemudian tersenyum pada Ino dan berkata "Aku tidak apa-apa nee-chan. Siapa bilang aku menyukai Sai. Aku tidak pernah menyukainya" tutur Sakura lembut.
"Ta-tapi kata Hinata"
"Hinata itu memang suka berlebihan. Aku Dan Sai hanya berteman baik. Dia terlalu cepat menyimpulkan bahwa aku menyukai Sai" Sakura berusaha menahan gejolak dihatinya.
"See? Sakura tidak menyukainya. Kau akan tetap dijodohkan Ino!" Lagi-lagi Sakura tersenyum kecut. Bahkan ayahnya tak pernah peka membaca sorot matanya. Tah tahukah bahwa Sakura tengah menangis dalam hati?.
Sakura meraih tangan Ino Dan menggenggam lembut keduanya. Ia berusaha utuk tetap tenang, meyakinkan kakaknya bahwa ia baik-baik saja.
"Nee-chan. Kau adalah yang terbaik. Aku yakin Sai akan memilihmu ketimbang aku. Dia lelaki yang baik. Sudah sepantasnya dia mendapatkan yang terbaik. Aku menyayangimu nee-chan" mata Ino memanas Dan menjatuhkan liquid demi liquid dipipi putihnya. Ia tersenyum dan meraih tubuh mungil adiknya untuk dipeluknya.
"Aku juga menyayangimu Saki. Sangat menyayangimu" Sakura mengusap punggung kakaknya dengan lembut.
"Kau harus berjanji untuk mencintai Sai kelak. Aku tidak mau nee-chan menyakitinya karena ia adalah teman baikku. Aku juga takkan membiarkan ia menyakiti nee-chan" Ino mengeratkan pelukannya Dan semakin sesugukkan. Ino adalah harta paling berharga bagi Sakura, ia akan bahagia untuk kakaknya.
CONFESSION-SasuSaku-
"Jadi kau benar-benar akan dijodohkan dengan Ino?" Sai mengalihkan pandangannya ke pemuda tinggi yang tengah duduk bersila didepannya itu Sasuke menatapnya penuh harap, membuat Sai menahan gejolak tawa di perutnya.
"Sudah aku bilang, ia sendiri yang akan menyayangimu bukan?" Sai menyeringai Dan Sasuke memutar kedua bola matanya bosan.
"Tapi ini terlalu cepat Sai, kalian kan masih sama-sama sekolah"
"Aku tak mungkin menunggu terlalu lama, Sasuke. Aku tak bisa membiarkan ia bersama orang lain. Dan aku perlu waktu untuk membuatnya menyukaimu" Sasuke mencibir namun mengangguk patuh. "Aku juga tidak menyangka ini begitu cepat, tapi lebih cepat lebih baik kan?" Sai merebahkan tubuhnya kembali.
"Kau memang licik Sai" Sai terkekeh pelan.
"Kau juga sama liciknya denganku. Berkencan dengan Hinata hanya modus untuk mendekati Sakura kan?" Mata Sasuke membulat. "Berlagak seolah membencinya dan membullynya setiap hari. Hhh-aku tidak bodoh untuk membaca jalan pikirmu, Uchiha" Sasuke memukul kepalanya pemuda yang lebih muda beberapa bulan darinya.
"Cih, kau pikir aku menyukainya?" Sai mengangguk polos. "Tak mungkin Dan tak akan pernah terjadi. Aku tak menyukai perempuan sok kuat sepertinya. Pasti akan sangat membosankan nantinya!" Sai hanya mencibir.
'Menyukainya? Yang benar-benar saja. Hhh- Hinata bahkan beratus kali lebih menarik darinya'
Ino berjalan gontai kekamarnya. Sesekali ia menghembuskan nafas. Ino dan Sakura sudah 17 tahun bersama. Ia tahu benar kapan adiknya itu menyembunyikan tangisnya. 'Ck, dasar pembohog. Kau tidak bisa membohogiku Saki'
Saat sampai didepan kamar adiknya, ia menimbang nimbang apakah ia harus masuk atau tidak. Samar-samar ia mendengar suara isakan kecil tertahan disana. Sakura pasti menangis, itukan pikirnya.
Ino mengelus partitur ukiran nama Sakura dipintu bercat putih itu. Ia menghela nafas lagi, entah keberapa kalinya. Kenapa ia tidak bisa melakukannya apapun? Haruskah ia kabur saat pernikahannya kelak?
"Gomen ne Saki .Maafkan nee-san tidak bisa melakukannya apapun untukmu" ujarnya lirih. Ia kembali melangkah, mengurungkan niatnya untuk memasukkan kamar adiknya. Lamunannya buyar ketika melihat layar handphonenya menyala. Panggilam masuk. Nomor asing, namun ia tetap menekan tombol hijau untuk menerimanya.
'Moshi-moshi' sahut Ino malas.
'Kau sudah mendengar nya dari orang tuamu?'
'Siapa ka- Sai?' Ino bangkrut dan membulatkan matanya.
'Heum' Sai bergumam pelan. Kenapa tiba-tiba Ino benci mendengar suara Sai.
'Mau apa kau' Ino berkata ketus. Membuat Sai mengernyitkan dahi heran. Apa sebegitu tidak sukanya Ino pada perjodohan itu?
'Aku hanya ingin menelphonemu, mengapa kau ketus seperti itu?' Ino tersenyum meremehkan
'Lalu apa masalahmu!' Sungguh Sai tidak mengerti kenapa Ino berbicara ketus dan digin padanya.
'Seharusnya kau bersyukur karena itu aku, bukan presdir genit yang menginginkan istri kedua' Sai mebcoba mencairkan suasana.
'Tapi aku tidak mencintai mu Sai' suara Ino melirih. Sai sempat tersentak namun ia tersenyum maklum.
'Apa kau memiliki seseorang yang kau cintai?' Ino menggeleng walaupun Sai tak melihat nya.
'Tidak' senyum Sai semakin lebar.
'Kalau begitu biarkan aku yang membuatmu mencintaiku'
"TBC"
Hehe.. Kembali lagi. Ini emang ff remake, dari ff tetangga. tpi udh izin kok^^
Buat Arashasha : Ino gak berdarah jepang-korea kok. Ini kesalahan teknis dari author. Mungkin karena Author suka baca ff jepang dan korea jadi author lupa hehe^^
Thanks buat yang udah review.
Mind to review ?
