Title : CONFESSION

By : Scarlet.44

Pair : SasuSaku, other pair

Warning : OOC, typo, etc

.

.

.

.

Enjoy!

Chapter 3

"Hinata, kau mau makan bersamaku dan nee-chan?" Sakura bertanya dengan nada lirih, seoah takut Hinata menolak ajakannya, terlebih beberapa hari ini ia sering bersama Sasuke. Sedikit banyak Sakura merasa menjadi pengganggu. Hinata terlihat mengetuk-ketuk jarinya di dagu kemudian mengangguk mantap. "Baiklah, ayo" baru saja Sakura membalikkan badan, ia dihadang sosok tinggi Sasuke yang memandang remeh padanya.

"Kau mau mengajak Hinata kemana?" Tanya Sasuke dengan wajah sangat datar. Sakura membuang nafas pelan. Berusaha tenang agar emosinya tidak meledak. Ia tahu, Sasuke datang untuk membuatnya kesal saja. Sasuke mengambil tangan kanan Hinata sehingga tubuh mungilnya berada didekapannya. "Sudah kubilang bukan, kalau waktu istirahat adalah waktuku bersama Hinata" Sakura mengangguk pelan. "Sekarang pergilah dan jangan ganggu kami!" Sakura menghela nafas lalu berbalik pergi.

"Sasuke, apa yang kau lakukan? Kasihan kan Sakura!" Hinata melepaskan dekapannya dari Sasuke Dan menatap punggung Sakura yang baru saja menghilang.

"Sudahlah-biarkan saja baby"

Sakura melangkahkan kalinya dengan cepat ke taman sambil mencengkram kuat kotak bekalnya. Apa salahnya kepada Sasuke?. Kenapa ia senang sekali membullynya. Sekarang ia berhasil menjauhkannya dengan Hinata. Apa Sasuke suka sekali membuatnya menderita. Selalu seperti ini, setiap Sasuke membullynya-secara langsung atau tidak langsung matanya memanas, sekolah ada seauatu yang mendesak keluar. Namun ia selalu menahannya walaupun dadanya sesak seperti tidak ada oksigen disekitarnya.

"Sakura" satu tepukan dipundaknya berhasil menyadarkan Sakura. Ia berbalik Dan mendapati Naruto tengah tersenyum padanya. Ia meneguk salivanya Dan memaksakan senyumnya, Naruto tidak menyadari raut sedih Sakura. "Kau mau kemana?" Sakura menenteng bekalnya didepan wajah Naruto.

"Makan Siang bersama Ino nee-chan?" Sakura tersenyum lagi. Naruto mengernyitkan dahi kemudian menyeringai Dan menyeret tangan mungil Sakura untuk mengikutinya. "Na-Naruto! Hei, kita mau kemana?" Naruto terhenti sebentar Dan memandang Sakura dengan raut wajah tak tergambarkan.

"Aku juga lapar baby, aku ingin ikut makan bersamaku Dan Ino nee-chan" Naruto merengek manja membuat Sakura sweetdrop. Aneh juga melihat Uzumaki Naruto yang biasa dingin pada orang lain kini merengek padanya. Sakura berbalik menggenggam tangan Naruto Dan menyeret nya menuju taman. Sakura melepaskan genggaman tangannya pada Naruto Dan berlari kecil menuju arah Ino. Ino melambai antusias. Naruto yang berada dibelakang Sakura hanya terkekeh Dan mengikuti setiap pergerakan Sakura.

"Nee-chan sudah menunggu lama?" Sakura bertanya khawatir Dan Ino hanya mengusak surai rambut Sakura.

"Tidak kok". Mata Ino beralih menatap Naruto. " Naruto, kau berlum bercerita apa apa, sini-sini" Ino menepuk akar pohon oak disebelahnya. Naruto duduk disebelahnya Ino. Mereka pun memulai acara makan siang mereka diselingi tawa karena mengingat masa kecil mereka yang konyol. Suasananya terasa hangat Dan akan membuat siapapun iri melihat mereka. Tanpa disadari, Hinata menatap nanar ke arah mereka, ia Dan Naruto bahkan belum bertegur sapa, tapi sudah mendapat kenyataan bahwa Naruto dekat dengan Sakura.

"Baby, kenapa kau sering melamun akhir-akhir ini?" Hinata hanya menggeleng kan kepalanya dan bersandar di bahu Sasuke mencari kenyamanan. Entah kenapa, jantungnya berdenyut nyeri melihat keakraban Naruto dengan Sakura. 'Oh-ayolah Hinata. Kau baru sekali bertemu dengan Naruto, tapi kenapa perasaanmu seperti ini? Ada apa denganmu?'


CONFESSION-SasuSaku-

"Panggilkan Sakura, keluarga Shimura sudah datang" mendengar penuturan ibunya membuat Ini menghela nafas kasar Dan berbalik menuju kamar adiknya. Ia memandang pintu itu ragu. Haruskah ia memanggil adiknya?. Akhirnya dengan mantap ia mengetuk pintu itu.

Tokkk

Tokkk

Cklek-

"Ah nee-chan, apa keluarga Shimura sudah datang?" Mata Ino membulat, tangannya masih bertengger diudara sampai akhirnya ia mengangguk. Bagaimana tidak kaget? Orang yang beberapa hari lalu murung sekarang gembira, ceria. "Ah, aku sudah siap. Sekarang ayo turun" Sakura menggeser tubuhnya Dan meraih tangan Ino, menariknya kebawah. 'Drama apa lagi yang kau mainkan Sakura?' Batin Ino. Ino tersenyum miris. Tidak mungkin adiknya tidak apa-apa. Melihat pundah ringkih itu, pasti banyak beban yang dipikulnya sendiri.

Diacara makan malam nampaknya kedua pihak tengah membahas pernikahannya Ino dan Sai. Ino berkali-kali mendengus kesal sedangkan, disampingnya Sakura terus menggenggam tangan Ino dan menggeleng pelan, seolah meminta Ino untuk menjaga kesopanannya di depannya keluarga Shimura. Ino hanya menatap Sai kesal, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis. Sebenarnya jauh dilubuk hatinya paling dalam, ia merasa adanya kehangatan. Namun itu tertutup kekesalan tak beralasan pada Sai.

"Ah~ Ino-chan sangat cantik, mereka berdua pasti cocok" mendengar pujian nyonya Shimura, Ino hanya tersenyum simpul. "Oh ya, Ino juga termasuk siswi berprestasi disekolahnya kan?" Dan tawa kecil mengiringi pembicaraan mereka.

"Iya benar, dibandingkan dengan adiknya yang bandel itu, Ino jauh lebih pintar Dan cantik. Sakura kadang masih manja, maka dari itu kami rasa Ino lah yang lebih cocok dengan Sai yang juga luar biasa. Bukankah begitu?"

"Ah, kau berlebihan nyonya Haruno" dan mereka kembali tertawa, kecuali Sai,Ino,dan Sakura tetunya. Sakura yang mendengar perkataan ibunya hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Ino sudah mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya Ino membawa Sakura pergi sari percakapan memuakkan ini. Sai yang melihat gelagat Ino akhirnya memutuskan untuk mengajak Ino keluar.

"Maaf, bolehkah aku dan Ino keluar sebentar? Mungkin ada yang harus kami bicarakan."

"Ah, tentu saja Sai, kau boleh mengajak Ino keluar" Sai hanya tersenyum tipis, ia melihat Ino masih ragu tapi kemudian Ino membugkuk pada keluarga Shimura Dan mengikuti Sai keluar.

"Bukankah mereka sangat cocok?" Semuanya mengangguk kecuali Sakura. Sebenarnya dari tadi Sakura tidak berselera. Entah kenapa kepalanya agak sedikit sakit.

"Kaa-kaa-san, a-aku izin ke kamar, kepalanya ku sedikit sakit" baru saja Sakura berdiri, ayahnya langsung menatapnya tajam.

"Sakura! Kau tidak sopan, kau meninggalkan makan malam sedangkan ada keluarga Shimura disini" perkataan ayahnya membuat kepalanya semakin sakit-terutama hatinya.

"Eh, tidak apa-apa tuan Haruno. Sakura, kenapa kau pucat? Apa kau sakit heum?" Nyonya Shimura bertanya dengan nada khawatir dan itu membuat Sakura tersenyum kecil. Ia membugkuk dan akhirnya berjalan tertatih ke kamarnya.

Cklekk-

-dan saat ia menbuka pintunya, tubuhnya ambruk dengan mata terpejam. Ia pingsan.

Ditempat lain- tempatnya di taman belakang rumah Ino, Ino sedang memandang kearah langit dengan raut wajah sedih, sedangkan Sai tengah berpikir apa yang dipikirkan Ino? Apa ia sedang memikirkan hal berat?

"Kau baik?" Tanya Sai dengan raut wajah khawatir. Ino memandang Sai sebentar lalu mengalihkan pandangannya lagi.

"Aku baik"

"Apa kau ada masalah?"

"Banyak" Sai mengernyitkan dahinya

"Kau bisa bercerita padaku" Ino menggeleng dan tersenyum kecil, walaupun hanya senyuman kecil, itu mampu membuat hati Sai menghangat.

"Jadi kau mau membicarakan apa?" Tanya Ino dingin.

"Bukan hal yang penting" Sai menghembuskan nafas nya. "Aku hanya heran, kenapa kau tidak menyukai ku? Apa karena perjodohan ini?"

"Kau sudah tahu kan? Kenapa bertanya? Sai menghela nafas-lagi. Ia memandang sendu kearah Ino. "Ada yang membuatku ragu untuk mencintaimu" aku Ino. Sai hanya tersenyum simpul, Ia meraih tangan Ino sambil berkata "aku akan menghapus keraguan itu dari hatimu, jadi percayalah padaku"

Ino tersenyum tulus, untuk pertama kalinya.


CONFESSION-SasuSaku-

"Sakura-hiks" Sakura mengerjapkan matanya. Suara isakan tangis kecil membangunkannya dari tidur mendadaknya. Ia menoleh kekiri Dan menemukan Ino tengah menangis sambil mengusap rambutnya. Melihat Sakura sudah menbuka mata, Ino langsung memeluknya. "Go-gomen Sa-Saki. Go-gomen" Sakura mengangkat tangannya Dan mengelus pundak Ino sayang.

"Aku tidak apa-apa nee-chan. Kenapa kau menangis?"

"Ini pasti gara-gara makan malam kemarin kan?" Sakura menggeleng pelan.

"Tidak nee-chan, tenang saja" Sakura mendudukan dirinya Dan mengelus pundak Ino. "Aku hanya terlalu lelah"

"Astaga Sakura, kau sudah sadar? Apa kau baik-baik saja?" Nyonya Haruno baru saja masuk langsung mengusap surai Sakura. "Kau tidak apa-apa kan?" Sakura hanya menggeleng Dan memaksakan senyumnya. "Kalau begitu tou-san dan kaa-san akan pergi sebentar, kau tidak apa kan kalau ditinggal sendiri?" Sakura memandang kaa-san nya bingung. "Ino juga akan ikut kesana, Sai juga ada disana. Para maid akan menjagamu. Ayo Ino"

"Kaa-san, Sakura sedang sakit. Kita harus menjaganya"

"Sakura akan baik-baik saja. Sakura hanya kelelahan, benarkah honey?" Nyonya Haruno bertanya seolah mendesaknya. Sakura hanya mengangguk Dan menundukkan kepalanya. Ino sendiri menatap adiknya nanar. Ia tahu Sakura menahan tangisnya lagi. Pasti sakit rasanya.

"Tidak kaa-san, aku akan-"

"Tidak Ino, ini mendesak, kita tidak boleh mengecewakan keluarga Shimura yang telah membantu kita. Ibunya langsung menyeret Ino keluar dari kamar Sakura Dan bunyi 'brakk' menandakan mereka sudah pergi. Sakura memeluk kedua lututnya dan menangis sendirian, entah sudah beberapa kalinya.


CONFESSION-SasuSaku-

"Hhh-" Hinata menghela nafas kesal, Sakura terkikik kecil melihat nya.

"Kau kenapa?"

"Ada yang aneh dengan Sasuke" gadis bermata violet itu menghela nafas lagi. "Dia jarang menghubungiku Dan juga- akhir-akhir ini ia sering terlihat bersama senpai berambut merah, apa kau kenal?" Sakura mengedikkan bahunya. Hinata kembali menenggelamkan wajahnya dilipatan tangan. Tiba-tiba terdengar suara pekikan kecil, tak urung membuat Sakura Dan Hinata mengikuti arah pandang siswi yang ternyata bertumpu pada sosok tampan yang celingukan di depannya pintu kelas mereka. Sakura tersenyum simpul Dan akhirnya melambai pada sosok itu.

"Naruto" yang dipanggil menoleh Dan tersenyum tampan. Ia bergegas menuju meja Sakura. Mengabaikan decakan kagum murid-murid disana. Sakura memang duduk berhadapan dengan Hinata, namun Naruto memilih duduk disebelah Hinata, membuat pipi gadis bermata violet itu memerah- entah kenapa. Untung saja tidak ada yang sadar.

"Kau Hinata kan?" Hinata mengangguk pelan

"Loh? Kalian saling kenal?" Heran Sakura.

"Dia itu adik manis yang kuceritakan waktu itu" blushh~ wajah Hinata memerah. Dia memang benci dikatai anak-anak, tapi entah kenapa kalau Naruto yang mengatakan reaksinya seperti ini. Semua terasa tiba-tiba Dan aneh. Akhirnya, beberapa menit mereka habiskan dengan percakapan kecil, sesekali Naruto menggoda Hinata Dan Sakura terpingkal karenanya.

"Aku ke toilet dulu" Sakura berkata di sela-sela percakapan mereka. Naruto Dan Hinata mengangguk bersamaan. "Kalian kompak hhihi-" setelah itu Sakura langsung berlari sebelum sebuah sepatu mendarat dikepalanya. Calon pelakunya? Tentu saja Hinata dengan wajah kembali memerah entah karena marah atau-hhohoho.

Dilorong kelas, Sakura sesekali tersenyum mengingat tingkah Hinata Dan Naruto dikelas tadi. Dia tidak menyangka kalau mereka akan akrab begitu cepat. Pasalnya, Hinata itu pendiam Dan sedikit pemalu. Tapi mengingat reaksinya Hinata saat Naruto menggoda nya, ia merasa kalau Hinata jatuh cinta pada Naruto, tapi tidak mungkin , kan Hinata memiliki-

"Astaga!"

-Sasuke.

Mata Sakura membulat. Baru saja ia masuk, ia disuguhkan sepasang orang yang tengah berciuman panas di depan pintu salah satu bilik toilet. Tapi bukan itu masalahnya, disini sudah sering terjadi hal seperti itu. Tapi pelakunyalah yang menjadi titik termasalahan. Pemuda yang tengah memeluk pinggang wanita itu-Uchiha Sasuke kan? Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran Sakura, karena mereka masih sama-sama memagut lidah. Sakura meneguk paksa liurnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa berhenti ditenggorokan. Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor Hinata. Dia tak bisa membiarkan ini. Sasuke akan semakin menyakiti Hinata jika Sakura diam saja.

"Ke toilet sekarang" Sakura berbisik pelan.

2 minutes later...

Brakk

"Sak-ada ap-Sasuke?!" Sasuke langsung saja mendorong tubuh gadis didepannya dengan sekali hentakan. Matanya langsung melebar saat melihat Hinata tengah menatapnya dengan wajah yang tidak bisa digambarkan lagi. Antara sedih, kecewa,marah-semua rasa yang membuat dada Hinata seperti tertekan beban berat. Gadis yang dicium Sasuke tadi langsung bergerak pergi. Sakura sendiri yang berada dibelakan Hinata menatap was-was mereka berdua secara bergantian. "A-aku tidak menyangka kau-hiks. Kau menghianatiku Sasuke-kun-hiks" wajah Hinata mulai basah.

"Hinata ini tidak seperti yang kau lihat. Kami tadi hanya-"

"HANYA APA?!" Kau-hiks membohongiku Sasuke. Kau berbohong padaku! Hiks" Sasuke baru saja ingin menyentuh pundak Hinata, namun Hinata langsung berbalik dan berlari pergi. Sakura sempat melihat Naruto -yang baru saja menyusul mereka- langsung membawa Hinata pergi. Entah kemana asalkan perasaan Hinata bisa tenang. Sasuke mendekati Sakura dan mencengkram pundak gadis itu hingga ia meringis kesakitan.

"Pasti ini gara-gara kau, Haruno Sakura" Sakura tersenyum remeh.

"Seharusnya kau menyadari kesalahanmu Uchiha-san. Kenapa kau menyalahkanku atas kejadian ini? Ini adalah resikomu menjadi seorang pembohong! Jangan menyalahkan kesalahan orang lain atas kesalahan yang kau perbuat!" Sakura melepas paksa cengkraman Sasuke dan menghempaskan yangan yang lebih besar itu. Ia berbalik dan ingin pergi. Namun baru dua langkah, ia menoleh pada Sasuke, "Jauhi Hinata, kau hanya akan menyakitinya" Dan Sakura benar-benar pergi dari tempat itu. Meninggalkan Sasuke dengan rahang mengeras. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Brengsek! Akan kubuat kau menjauh dari Hinata, Haruno Sakura"

"Kau sudah merasa lebih baik?" Naruto bertanya dengan hati-hati. Melihat Hinata sesugukkan tak urung membuat hatinya ikut perih. Walau Naruto tak melihat kejadian tadi secara keseluruhan, tapi dia bisa menangkap 'inti' dari pertengkaran di toilet tadi. Kekasih Hinata –yang dia tak tahu siapa namanya, telah berselingkuh bahkan berciuman didepannya. Naruto tidak bisa membayangkan kalau dirinya ada diposisi Hinata. Pati dia sudah mencakar atau kurang lebih memukul kekasihnya. Heum-mungkin.

"A-aku-hhh, aku baik-baik saja Naruto" Hinata mencoba tersenyum, walau harus ia akui itu terasa sangat sulit dan Naruto yang melihatnya merasa kalau senyuman itu sangatlah aneh. "Terima kasih sudah meminjamkan bahumu"

"Oh-no problem" Naruto tersenyum tampan. Membuat hati Hinata sedikit menghangat karenanya.

"Ehh- ngomong-ngomong Sakura dimana?" Hinata celingukan dan beberapa detik setelahnya Naruto melakukan hal yang sama.

"Entahlah-" Naruto mengedikkan bahu lalu menatap Hinata lagi. "Aku rasa dia tadi tidak mengikuti kita, mungkin dia langsung kekelas" Tentu saja, jam pelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Sedangkan Naruto dan Hinata berasa ditaman sekolah sekarang. Tidak mungkinkan Naruto membawa Hinata kembali kekelas? Apa kata teman-teman sekelas Hinata nanti? Bisa-bisa Naruto dikira meng'apa-apa'kan Hinata.

Di dalam kelas, Sakura bergera-gerak gelisah dibangkunya. Pelajaran yang disampaikan guru benar-benar tak ada yang masuk ke dalam otaknya. Dia celingukan kesana kemari, mengkhawatirkan keadaan Hinata. 'Semoga Naruto bisa menjaganya'. Dia tadi tidak tahu kemana Naruto membawa Hinata pergi dan sialnya saat dia kembali ke kelas tadi, Jiraya-sensei sudah memasuki kelas. Kalau saja ia tidak bilang dari toilet, mungkin ia tidak diizinkan masuk. Dan lihat-bangku Sasuke kosong, dia taku kalau Sasuke mencari Hinata dan menimbulkan masalah lagi. Sakura benar-benar terjebak dalam situasi sulit sekarang.

"Baby!" Hinata benar-benar mengumpat dalam hati saat mendengar suara bariton dari arah belakangnya, sudah dapat dipastikan kalau Sasuke menemukannya sekarang. Pemuda itu langsung menarik lengan Hinata dan membalikan badannya. Hinata menggigit bibir saat merasakan kuku Sasuke menusuk kedua lengannya. "Aku mohon dengarkan aku, Hinata"

"Pergilah Sasuke. Aku tak mau bertemu denganmu lagi" tegas Hinata.

"Tidak-kau salah paham Hinata"

"Aku melihatnya Sasuke! Berhenti berbohong padaku"

"AKU TIDAK BOHONG"

"AKH" Hinata meringis, lengannya benar-benar sakit. Perlakuan Sasuke sungguh kasar.

"Hei, kau menyakitinya, Sasuke-san" Naruto yang hanya diam sedari tadi akhirnya menengahi. Sasuke berpaling. Ia menatap Naruto seolag Naruto ialah virus pengganggu.

"Kau siapa? Kau tidak usah ikut campur urusanku" entah mengapa Naruto menjadi sebal pada pemuda jangkung itu. Apa ia tidak bisa melihat perilaku kasarnya itu menyakiti Hinata? Naruto bergerak maju dan menyentuh lengan Hinata.

"Kasihan Hinata, dia kesakitan"

Bukk

Naruto tersungkur kebelakang saat satu bogeman dari Sasuke mendarat dipipinya. Sasuke yang sedang emosi mulai mendekati Naruto dan mencengkram erat kerah Naruto. Sedangkan Naruto meringis pelan, memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Bukannya Naruto lemah dan tak bisa membalas, hanya saja ia tak mau berkelahi dengan orang yang sedang emosi. Itu bukan ide yang baik. Dan hanya membuat urusan tambah runyam nantinya.

"Dasar brengsek-"

"Hentikan Sasuke!" Hinata berteriak, menghentikan pergerakan tangan Sasuke yang telah mengambil ancang-ancang untuk memukul Naruto lagi. "Jangan sakiti dia! Naruto tidak tahu apa-apa. Kalau kau memang ingin menjelaskannya, aku akan mengikutimu. Jangan mengganggunya!" Sasuke berdecih kasar sebelum akhirnya ia menghempaskan tubuh Naruto ke tanah. Sasuke berdiri dan segera menarik Hinata pergi. Mata violet Hinata kembali berkaca-kaca saat melihat tatapan sendu Naruto padanya. 'Maaf Naruto' batinnya.


CONFESSION-SasuSaku-

Brukk

"Mau apa lagi kau Sasuke?" ketus Sakura. Ia sudah muak dengan semua perlakuan Sasuke padanya. Punggungnya terasa sangat sakit saat Sasuke mendorongnya begitu kuat. Koridor sangat sepi, takkan ada seorang yang tahu jika Sasuke akan membunuhnya sekarang juga, dan sepertinya inilah yang diinginkan Sakura, mati.

"Dengar brengsek! Jangan dekati Hinata lagi, Haruno Sakura. Kau hanya pengganggu!" Sasuke mencengkram erat kearah bajunya. Bahkan Sakura merasakan lehernya sudah akan tercekik oleh kerah bajunya sendiri, apalagi ia harus berjinjit karena Sasuke mengangkat tinggi kerah bajunya. Wajahnya memerah karena lehernya mulai terasa sakit. Namun sebisa mungkin ia tenang, tak mau menunjukkan raut wajah ketakutan pada Sasuke, karena ia tahu Sasuke akan semakin senang melihatnya menderita. Sakura tersenyum meremehkan.

"Aku tak pernah mendekati Hinata, Uchiha-san. Bukankah kau sendiri yang menjauhkannya dariku? Jadi bukan salahku jika Hinata mencariku. Kami sudah menjadi teman bahkan sebelum kau hadir dalam kehidupan kami".

"Ck, sialan. Kau hanya menghalangi hubunganku saja. Berani-beraninya kau mengatakkan padanya kalau aku berselingkuh dengan Shion-senpai hah! Aku tahu, kau kan memberitahunya tadi?!" Sasuke menatap tajam kearah Sakura.

"Hei, aku mengatakan kebenaran tuan Uchiha. Lagi pula dia melihat sendiri bagaimana kauu mencium Shion-uhhuk" Cengkraman Sasuke yang semakin kuat membuat Sakura terbatuk sekarang. Sungguh, ia tercekik.

"Kau pikir siapa kau?!" Sasuke tampak melirik kearah samping dan menyeringai. "Kau sendiri yang akan menyakiti Hinata"

"Kau-mpph" Tiba-tiba saja Sasuke membungkam bibir Sakura dengan bibirnya. Menghisap kuat hingga darah disudut bibir Sakura terasa olehnya. Lidahnya dengan seenaknya memaksa masuk kedalam mulut Sakura. Sakura yang masih Shock hanya bisa mematung tanpa memberi perlawanan. Tangannya masih setia mencengkran kerah Sasuke seolah membuat Sakura lah yang menciumnya. Benar-benar mendukung rencana Sasuke karena-

"Sak-Sakura-" Sakura mendorong tubuh Sasuke hingga ia tersungkur dilantai. Mata Sakura membulat saat mendapati Hinata memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Sekarang Sakura tahu, Sasuke sengaja melakukannya karena Hinata ada disana. Yeah, dan Sasuke berhasil menjebaknya.

"Hi-Hinata-chan" Sakura terbata. Ia berjalan bahkan seolah menyeret kakinya menuju arah Hinata. Bulir-bulir bening mulai muncul dipermukaan wajah Hinata. Hinata beringsut mundur saat tangan Sakura akan menggapainya, Sasuke yang masih duduk mengusap bibirnya kasar dan menyeringai.

"Kau lihat sayang? Sakuralah yang berkhianat padamu. Dia mencintaiku. Karena itu dia menjebakku dengan Shion-senpai"

"Tidak Hinata, dia berbohong, aku tidak melakukannya" Mata Sakura memanas. Ia tahu, Hinata tak mungkin akan percaya padanya. Hinata akan membencinya.

"Kau membohongiku Sakura. A-aku tidak menyangka kau membohongiku. Hiks" Hinata berbalik cepat dan berlari pergi, sebelum Sakura mengejarnya.

"Kau kalah Haruno Sakura. Bahkan kau tak bisa menyentuhku seujung kuku pun" Sasuke tersenyum meremehkan. Ia mendorong bahu Sakura dan beranjak pergi. Meninggalkan Sakura yang mematung disana, rasanya ia ingin menangis, tapi tak ada satupun air mata yang mampu keluar. Membuat rasa sesak itu kian menguat.

"Hinata-chan" Sakura ambruk. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tak ada isakan yang mampu meringankan bebannya. Dia sangat ingin mati sekarang.

Bel jam akhir pelajaran baru saja berdenting. Sakura terpaksa bolos di jam pelajaran sehabis istirahat tadi karena Sasuke menyeretnya pergi dan tentang masalah dikoridor tadi, ia belum berani berhadapan dengan Hinata. Apa yang harus dilakukannya nanti? Ia yakin Hinata takkan mempercayainya.

"Ck, sial" rutuknya saat sudut bibirnya terasa perih. Ia membuka pintu kelasnya perlahan. Karena bel baru saja berbunyi dan guru baru saja keluar. Ia sangat bersyukur saat para siswa sibuk sengan urusannya masing-masing, sehingga takkan ada yang memperhatikannya. Bukankah sangat memalukan datang dengan wajah babak belur seperti ini?

"Eh? Temari? Kenapa duduk disini?" Sakura bertanya kaget saat melihat Temari yang menempati bangku Hinata.

"Hinata tadi minta tukar tempat duduk. Tak apa-apa kan?" Dada Sakura terasa sesak kembali. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Hinata duduk bersama Ten-ten. Sakura menghela nafas kemudian duduk di bangkunya.

"Sakura-san, apa kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat dan sudut bibirmu berdarah. Kau baru saja dipukul orang?" Sakura hanya mengulas senyum simpul.

"Aku tidak apa-apa Temari-san, hanya kelelahan. Aku tadi terbentur tembok saat kembali ke kelas, jadinya bibirku berdarah" Temari hanya mengangguk-angguk menanggapinya. Sakura melipat kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya disana. Apa ia bisa hidup tenang setelah ini? Apa dia harus pergi seperti perkataan Sasuke? Apakah dia kalah kali ini? Entahlah.

Dan Sakura rasa, cinta didunia ini sudah menghilang. Dia hidup bukan dilingkungan orang yang menginginkannya. Dia hidup di lingkungan orang-orang yang membencinya, membuat Sakura berharap Tuhan akan mengambil nyawanya sekarang juga.

'Tak ada cnta untukmu, Sakura. Tak ada kasih sayang yang bisa kau dapatkan lagi, Kau tidak diinginkan di dunia ini-"


"TBC"


Hai-haiii! Makasih banget yang sudah review, follow, and favorite, hehe^^ Ini author udah update kilat, mungkin chap selanjutnya gak bisa kilat karena udah mulai masuk sekolah. Tapi nanti tetep diusahaiin^^

Mind to review?^^