Title : CONFESSION
By : Scarlet.44
Pair : SasuSaku, other pair
Warning : OOC, typo, etc
.
.
.
.
Chapter 4
Pagi menjelang, dimana Sakura mulai hari ini diharuskan berangkat kesekolah sendiri karena Ino akan berangkat bersama Sai sekarang. Orang tua mereka sedikit pemaksa, seperti apapun Ino menolak, keputusan mereka tetap teguh. Dengan berdalih kebaikan keluarga Shimura, mau tak mau akhirnya Ino terpaksa menurutinya. Sakura sendiri memilih berangkat naik bus daripada diantar supir pribadi mereka. Perdebatan kakaknya dengan ibunya membuat perasaan bersalah muncul dihati kecilnya. Ia tak mau Ino terus-terusan menentang orang tua mereka hanya karena dirinya. Ino adalah anak kebanggaan keluarga, setidaknya ada dia menggantikan posisi mengecewakan Sakura-yang hanya pelengkap keluarga.
Hati Sakura makin dongkol saat memasuki kelasnya. Hinata terihat tengah bercanda bersama teman-temannya yang lain dibangku Ten-ten. Melihat kedatanga Sakura, Ten-ten tersenyum kecil pada Sakura, sedangkan Hinata langsung memalingkan wajahnya. Seolah kehadiran Sakura adalah virus pengganggu. Sakura tersenyum kecut, dia tahu Hinata pasti sangat kecewa atas kejadian kemarin. Dengan langkah ogah-ogahan, Sakura berjalan kearah bangkunya. Ia melirik ke arah Hinata sekilas dan menghela nafas, jelas sekali kalau mata Sakura berpendar sedih. Namun, jika melihat Hinata yang sekarang tersenyum –walaupun bukan dengannya, tak dipungkiri hatinya ikut lega. Bukankah lebih baik melihatnya tersenyum daripada menangis seperti kemarin?
"Sakura!" satu tepukan dipundaknya membuat Sakura mendongak dan mendapati Naruto tengah tersenyum padanya. "Heum-kau tidak bersama denga Hinata lagi?" Sakura melirik kearah bangku Hinata dan mata mereka bertemu untuk beberapa saat sampai Hinata memalingkan wajahnya –lagi. Terlihat jelas kalai gadis bermata violet itu membencinya.
"Dia salah paham padaku" ujarnya lirih.
"Salah paham? Kenapa? Apa-" Naruto mendekat pada Sakura "-karena Uchiha Sasuke itu?" Sakura mengangguk. "Tapi mereka sudah putus bukan?" Kali ini Sakura menggeleng. Ia mengisyaratkan pada Naruto untuk menatap kearah bangku Hinata lagi. Dahi Naruto mengernyit heran saat melihat Sasuke menghampiri Hinata dan memeluknya dari belakang dengan sangat posesif, padahal kemarin jelas-jelas dia melihat Hinata dan Sasuke bertengkar hebat didepannya.
"Mereka bersama lagi" Sakura menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan menghela nafas. "Semua ini salahku. Kalau saja aku tak memberitahu Hinata masalah Sasuke dan Shion-senpai., pasti Hinata masih bersamaku sekarang" Naruto ikut menghela nafas dan mengusap rambut belakang Sakura.
"Berapa kali kubilang padamu untuk berhenti menyalahkan dirimu sendiri hah?! Semua ini karena keadaan, bukan murni kesalahanmy Sakura. Lagipula ini terjadi karena Uchiha Sasuke yang brengsek itu. Aku jadi tidak rela kalau Hinata harus bersamanya lagi" Sakura menggeleng pelan, menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya. Matanya terlalu enggan untuk melirik keadaan sekitar. Jika Naruto kembali kekelasnya nanti, Sakura harus bagaimana? Ia merasa sendiri sekarang. Seolah mengerti kegalauan sahabatnya, Naruto mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan benar saja, semua teman kelasnya tertilah tak acuh padanya. Ia berpaling lagi dan kini matanya bertemu dengan mata Hinata, beberapa detik dan Hinata memalingkan wajahnya. Entah apa yang dipikirkan Hinata, Naruto tidak tahu.
'Sepertinya aku perlu berbicara pada Hinata' batinnya.
"Heum-Naruto" Naruto mengalihkan pandangannya pada Sakura yang kini menatapnya ragu. "Maukah kau menemaniku pergi ke suatu tempat sepulang sekolah nanti? Setiap akhir Sabtu, biasanya aku kesana bersama Hinata, tapi-"
"Baiklah" Sakura mendongak dan mengulas senyum simpul.
"Hinata" Naruto menepuk pundak Hinata yang sedang membaca buku ditaman sekolah. Naruto menoleh ke kanan dan kiri, tengah mengawasi keadaan sekitar. Beruntung karena Sasuke tak bersama Hinata. Ini akan mempermudah perbincangan mereka tanpa ada pengganggu seperti Sasuke.
"Iya, ada apa Naruto?" Naruto tersenyum dan duduk disamping Hinata.
"Heum –kau ada masalah apa dengan Sakura? Hinata tersentak dan mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya pada Naruto yang menatapnya bingung. Hinata sendiri tidak tahu kenapa ia bisa semarah ini pada Sakura, yeah –mengecewakan jika mempunyai sahabat yang menusuk dari belakang seperti itu. Tapi kalau dipikirkan lagi, sepertinya Sakura takkan setega itu untuk menyakiti hatinya. Ia menghela nafas lalu menatap Naruto dengan pandangan sendu.
"Aku juga tak tahu. Dia sangat mengecewakanku kemarin"
"Memang apa yang dilakukan Sakura?" kedua tangan Naruto menumpu pada bangku yang didudukunya dan menatap ke dalam mata violet Hinata.
"Kau tahu-" Hinata menghela nafas lagi, rasa kecewa yang sangat tiba-tiba muncul dipermukaan hatinya. Hatinya gelisah, entah karenaapa. " –kemarin dia berciuman dengan Sasuke didepan mataku" Mata Naruto membulat sempurna. "Dan Sakura yang mencium Sasuke. Aku bingung Naruto. Kalau memang Sakura menyukai Sasuke, seharusnya dia jujur saja padaku daripada harus menyakitiku seperti itu, menjebak Sasuke dan Shion senpai, dia melakukan cara yang memalukan dan itu menyakitkan" dahi Naruto berkerut heran.
"Tapi bukankah Sasuke sangat membenci Sakura?" Hinata mengangkat sedikit wajahnya yang mulai memerah menahan tangis. "Jadi, kau percaya begitu saja kalau Sakura yang menjebakmu?"
"Tapi Sakura kan yang menyuruh ke toilet melihat Sasuke dan Shion-senpai berciuman?"
"Lalu –menurutmu itu suatu kesengajaan? Sakura sengaja melakukannya, begitu?" pertanyaan Naruto yang seolah menuntut membuat Hinata semakin tersudut. "Kau berteman dengannya sudah lama, seharusnya kau paham betul sifat Sakura. Dan aku rasa Sakura tidak menyukai Sasuke, yeah –kurasa pandangan mereka penuh kebencian, buka sebaliknya" Hinata tertegun sejenak. Perkataan Naruto ada benarnya juga. Sasuke memang hanya melakukan pembullyan kecil terhadap Sakura, namun kelama-lamaan , bullyan itu menjadi siksaan yang tak bisa dianggap main-main. Perlakuan Sasuke seolah menjadi ajang balas dendam, seolah ia telah mengenal Sakura sejak lama.
Lalu siapa yang harus ia percaya sekarang ini?
"Aku tidak –tahu" lirih Hinata.
"Aku akan menyelidikinya" Naruto berdiri dari duduknya dan menatap Hinata lembut. "Aku harus tahu apa alasan Sasuke membenci Sakura dan aku akan membuktikannya padamu kalau semua kekecewaan mu itu hanyalah salah paham. Akan kupastikan kalau bukan Sakura yang salah disini" Naruto tersenyum dan Hinata hanya menundukkan wajahnya. Entah kenapa, melihat Naruto yang begitu perhatian pada Sakura membuat rasa sesak tersendiri disudut hatinya.
'Naruto terlihat begitu bersemangat dengan apapun yang berhubungan dengan Sakura. Apa benar dia menyukainya
CONFESSION-SasuSaku-
Pulang sekolah...
"Ino!"
"Berhenti mengikutiku Sai! Pulanglah sendiri! Kau membuat moodku semakin buruk!" bukannya menghentikan langkahnya, Sai justru menarik tangan Ino hingga gadis itu berbalik.
"Kau kenapa?" Ino mendengus kesal, tak mau menatap mata Sai. "Kau marah karena tadi pagi aku menjemputmu dan membiarkan Sakura berangkat sendiri?" Sai menghela nafas. "Kalau kau mau besok Sakura akan berangkat bersama kita. Kau mengkhawatirkannya kan?" Ino menatap tajam kearah Sai.
"Tidak usah menjemputku lagi! Lebih baik aku naik bus bersama Sakura!" Ino menyentak cengkraman Sai dan membenarkan letak tasnya. Kakinya melangkah kembali, namun tangan Sai menghentikannya –lagi. "Sai!"
"Kau pulang bersamaku. Kau tanggung jawabku sekarang!" suara Sai meninggi, membuat beberapa pasang mata di koridor menatap duo populer ini dengan heran. "Ayo pulang"
"Aku tidak mau! Minggirlah, aku akan mencari Sakura"
"Dia pasti sudah pulang bersama Naruto. Kau itu egois sekali hah?!" mata Ino membulat, sedangkan Sai sendiri merutuki kalimat pedas yang keluar dari bibir tipisnya barusan. Oh –Ino benar-benar benci disebut egois.
"Minggir!" Ino melepas paksa tangan Sai dan segera berlari menjauhinya. Beberapa kali ia menoleh kebelakang, berusaha waspada kalau-kalau Sai mengejarnya. Dan benar saja, pemuda berkulit pucat itu masih saja mengekorinya layaknya anak bebek. "Ishh –dasar bocah siala –"
Brukk.
"AWW!"
"Ino!" Sai segera berlari menghampiri Ino yang baru saja terjunkal hingga hidungnya menyentuh lantai dengan mulusnya. Sai menarik lengan Ino hingga gadis itu menatapnya dengan wajah yang memelas. "Pfft –hidungmu , ahhahaha. Hidungmu memerah. Ahahahah" Ino mengerjapkan matanya beberapa kali. Shimura Sai? Tertawa? Tatapan cengo Ino tak ada bedanya dengan siswa yang tak sengaja melihat tawa Sai. Sai? Yang bahkan harga senyum nya saja setinggi langit sekarang tertawa karena Ino? Sumpah demi apapun, Ino ingin membenturkan kepalanya sekarang juga. Mendapati fakta kalau setiap harinya Sai hanya tersenyum kecil, tak pernah sampai terpingkal seperti itu. Dan tawa renyahnya itu, entah kenapa membuat jantung Ino berdegup tak tenang.
"..."
"Ino?" Sai tersenyum dan melambaikan tangannya di depan wajah Ino. "Kau tidak apa-apa?" Ino tersadar. Ia meringis pelan sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Kau itu ceroboh ya" tangan Sai mengusak rambut Ino gemas. Oh, ayolah, kenapa wajah Ino jadi merah?. Tiba-tiba saja Sai berjongkok di depan Ino, membuatnya mengernyit heran. "Naiklah, aku akan menggendongmu sampai diparkiran". Lagi-lagi Ino mengerjapkan matanya imut.
Sai yang memang tidak sabaran langsung menarik Ino dan mengangkatnya dipunggung. Ino hanya diam, mungkin shock. Ino tak bisa menggambarkan perasaannya. Setia Sai berbuat lembut kepadanya, rasa kesal itu hilang entah menguap kemana.
"Sai memang hebat. Ckck, kau mau kugendong seperti itu baby?"
"Ish, dasar idiot"celetuk Hinata sebal dan ia berjalan mendahului Sasuke. Sasuke yang disebelahnya hanya terkekeh pelan, sampai akhirnya ia menangkap keberadaan Sakura dikoridor lain, tengah menatap Ino dan Sai dengan pandangan yang tak dapat digambarkan. Gadis itu masih terdiam disana sampai Naruto menepuk bahunya. Sakura tersenyum kecil dan akuhirnya pergi bersama Naruto.
'Ada apa dengan kurcaci itu? Kenapa ia memandang Ino dan Sai seperti itu?'
"Sasuke!" Sasuke tersentak dan menoleh kearah Hinata.
"IYA BABY, AKU DATANG"
"ISHHH –Dasar idiot"
CONFESSION-SasuSaku-
Naruto tertegun saat Sakura membawanya ke pemakaman. Seingatnya belum ada sanak saudara keluarga Haruno yang meninggal, lalu kenapa Sakura kesini? Dan wajah Sakuira sumigrah seakan ingin bertemu orang yang special disini. Oh disini? Mungkinkah teman Sakura adalah hantu? Naruto merasa gila terhadap pemikiran konyolnya itu. Melihat Naruto kebingungan, Sakura tersenyum kecil. Ia menarik tangan Naruto mendekat agar tak tertinggal dibelakang.
"Aku akan mengenalkanmu pada teman lamaku" Tanpa protes Naruto mengikuti kemana Sakura membawanya. Mereka berhenti disebuah makam dimana nisannya bertuliskan nama 'Sabaku Tayuya' dengan foto hitam putih seorang gadis remaja berambut panjang, yang –heum cukup cantik menurut Naruto. Sayang, dia tak mengenal gadis ini. "Dia Tayuya, beri salam Naruto" Naruto tersentak kemudian tersenyum konyol.
"Ha-halo Tayuya, aku Naruto, teman Sakura kecil ini"
Bletak
"Kenapa kau memanggil aku kecih heh?" Sakura bersungut lucu dan Naruto hanya terkekeh. Tangan Sakura terulur dan mengusap foto lama itu. "Tayuya, gomen ne, hari ini aku tak membawa bunga. Tadi aku terburu-buru, aku tak mau Naruto kabur" Naruto mengernyitkan dahinya. "Dia itu suka membohongiku! Katanya mau menemani, tapi ternyata ia meninggalkanku"
"Hei Sakura! Itu kan waktu kita masih kecil dulu" Sakura menjulurkan lidahnya, mengejek Naruto."Jadi –" Naruto ikut menatap foto lama itu. " –siapa Tayuya?" Sakura tersenyum simpul dan masih menatap wajah cantik Tayuya.
"Kau ingatkan dulu kecil ini aku sakit-sakitan?" Naruto mengangguk pelan. "Aku punya penyakit jantung. Saat aku berada disekolah menengah pertama, aku melakukan kegiatan berat hingga aku harus dirawat dirumah sakit berbulan-bulan. Disana, aku bertemu Tayuya, ia menderita kanker rahim stadium akhir. Awalnya aku kaget, pasalnya ia selalu terlihat ceria. Walau wajahnya pucat, matanya memancarkan sempat iri padanya" Sakura menghela nafas. "Kami bersahabat dekat semenjak itu. Dia juga sering menceritakan kekasihnya waktu itu, walau aku belum bertemu dengan kekasihnya, dia bilang kekasihnya sangat baik, tapi ia mengecewakannya karena penyakit yang dideritanya. Dokter bilang kesempatan hidupnya hanya 10% dan tanpa persetujuanku, ia mendonorkan jantungnya padaku.
"Apa kekasihnya tahu?"
"Awalnya tidak, tapi setelah berita meninggalnya Tayuya, pasti dia tahu. Aku belum pernah bertemu kekasihnya. Aku pun tak tahu kekasihnya membenciku atau tidak. Bagaimanapun aku menggunakan jantung Tayuya. Aku merasa bersalah pada kekasihnya." Sakura mencengkram dadanya kuat-kuat. "Karena aku belum mencari keberadaan kekasihnya, makanya setiap akhir pekan aku mengunjungi makam Tayuya sebagai tanda terima kasihku, mungkin saja aku bisa bertemu dengan kekasihnya disini. H-hh aku tak menyangka Tayuya akan melakukan ini padaku" Entah kenapa dadanya terasa sesak. Dia tahu Tayuya melakukannya dengan tulus untuknya. Pemberian berharga untuk seorang sahabat, tapi Sakura merasa bersalah pada kekasih Tayuya. Ia beruntung, keluarga Tayuya memaklumi keinginan Tayuya untuk mendonorkan jantungnya.
"Apa kau berniat mencari kekasihnya?"
"Aku bahkan sudah mencarinya kemana-mana Naruto, rumah yang dulu ditinggali kekasihnya kosong. Sejak kematian Tayuya, keluarga kekasihnya pindah entah kemana. Aku juga tidak tahu nama kekasihnya, yang kutahu ia berasal dari keluarga Uchiha" Naruto mengangguk-angguk paham. Pasti berat menjadi Sakura. "Kekasihnya –hhh , pasti sangat membenciku Naruto. Aku telah membuat kesempatan Tayuya hidup lenyap" Tangan Naruto terulur dan mendekap tubuh mungil Sakura.
"Shhh –ini bukan kesalahanmu Sakura. Ini adalah keinginan Tayuya. Pasti kekasihnya akan memahaminya nanti" Naruto terus mengusap punggung Sakura.
Tanpa Sakura ketahui, Naruto melirik ke arah pohon yang tak jauh dari sana. Matanya bertemu dengan mata violet Hinata yang tengah mengintip mereka. Ia tersenyum kecil sebelum melihat tubuh Hinata berbalik. Naruto tahu bahwa Hinata tengah menangis disana. 'kau tidak benar-benar membencinya Hinata' Naruto mengulum senyum dan mengeratkan pelukannya.
Sementara di balik pohon, Hinata membekap mulutnya menahan isakan. Walaupun Naruto sudah memergokinya , setidaknya Sakura tak menyadari kehadirannya. 'Go-Gomen ne Sakura'
"Wuahh –banyak sekali Naruto! Kelihatannya enak" Sakura histeris saat melihat hidangan makan malam yang disediakan restaurant yang dikelola Naruto , Naruto bersekolah sekaligus mengurus restaurant ini. Dan malam ini Naruto sengaja membawa Sakura kesini, berdalih untuk menhibur Sakura dan sepertinya berhasil. Buktinya saja Sakura menunjukkan wajah penuh binarnya.
"Kau boleh menghabiskan semuanya kalau kau mau. Dan mendapat es krim strawberry dan yogurt sebagai penutupnya. Bagaimana?" Mata da mulut Sakura membulat lucu.
"Benarkah?"
"Tentu saja"
"TERIMA KASIH NARUTO" Sakura memeluk sahabatnya dan mulai menatap semua makanan di meja. Sesekali ia menjilat bibirnya sendiri saat melihat makanan yang sangat nikmat itu. Garpunya menunjuk makanan itu seolah bingung. "Err... Aku harus makan yang mana dulu yah? Ini? Atau ini? Naruto memutar bola mata bosan.
"Semuanya boleh kau makan Sakura"
"Ahh –kau benar! Selamat makan" Naruto hanya tersenyum simpul saat Sakura mencicipi semua makanannya. Setidaknya masih ada ia dan Ino yang menjaganya. Naruto tahu tentang Sakura, tentang orangtuanya yang selalu membandingkannya dengan Ino, Sasuke yang selalu membullynya, dan sekarang Hinata yang menjauhinya. Pasti Sakura tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini dalam hidupnya, dan itu membuat Naruto bertekad menjaga malaikat kecilnya ini.
"Kau tidak makan?" Sakura bertanya.
"Aku makan kok" Sakura mengangguk pelan dan melahap makanannya lagi. Dan yang dijanjikan Naruto pun datang. Ia mendapat ice cream kesukaannya dan yogurt rasa pisang yang belum pernah dicobanya.
"Kau Kenyang?"
"Heum" Sakura mengangguk imut dan Naruto pun tersenyum. "apalagi ini gratis. Hihihi" Naruto mengusak rambut Sakura.
"Kalau begitu aku antar pulang?" Sakura menggangguk lagi. Naruto pun mengantar Sakura pulang dengan mobilnya. Sekitar setengah jam kemudian, mobil Naruto berhenti didepan minimarket dekat rumah Sakura.
"Kau pulang saja, aku hanya perlu membelikan Ino nee-chan ice cream coklat dan pulang" Naruto menghela nafas dan mengangguk. Sebenarnya ia ingin mengantar Sakura pulang, tapi secara terang-terangan ia memintanya pulang. Kalau sudah seperti itu, Naruto hanya bisa menurutinya. Sakura menghela nafas lega dan ia masuk ke minimarket. Beberapa menit kemudian ia keluar membawa sekotak ice cream coklat kesukaan nee-channya. Ia tersenyum saat membayangkan Ino akan memekik senang dan mengecupnya seperti biasa. Ia suka setiap kali Ino memanjakannya.
Sesekali Sakura bersenandung lirih untuk menghilangkan kesunyian. Saat hampir sampai ia mengangkat kepalanya dan langsung disuguhi pemandangan yang membuat dadanya sesak. Disana, didepan rumahnya, dibawah lampu, ia melihat Sai memberi kecupan dibibir pada Ino. Sakura menutup mulutnya dan mundur beberapa menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya berlari pergi, tanpa disadari dua insan itu tentunya.
Ia berhenti berlari dan mengusapkan wajahnya yang entah kapan mengeluarkan liquid-liquid yang dihasilkan matanya. Kenapa hatinya masih merasa sakit? Apa benar ia masih mencintai Sai? Tidak –ia tidak boleh mencintai Sai, dia harus melupakannya karena ia tahu benar bahwa Sai akan menjadi milik kakaknya. Terlebih kejadian tadi meyakinkan kalau Sai mencintai Ino.
'Tidak –Sakura, kau harus menghilangkan perasaan ini' hiks hiks. Dan isakan demi isakan menemaninya dalam kesunyian malam itu.
Cklek
"Habis kencan?" Sasuke bertanya tanpa mengalihkan pemandangan dari televisi. Sepertinya televisi itu lebih menarik dari pada wajah sumringah Sai yang aneh dimatanya. Sai menggumam dan merebahkan dirinya disamping Sasuke. "Kau terlihat senang, apakah Ino sudah menerimamu?"
"Belum –" Sai memberi jeda dengan satu tarikan nafas " –tapi hampir" Sasuke melirik kearah Sai dengan alis terangkat satu.
"Benarkah?"
"ya, buktinya tadi ia menerima ciumanku"
"Wah!Kalian Sudah naik level, hebat juga kau Sai. Hari ini kalian berciuman, mungkin besok sudah saling menghangatkan" goda Sasuke.
"Ck, hentikan pemikiran mesummu itu Sasuke" Tawa Sasuke makin lebar. "Bagaimana kau dengan Hinata mu" tawa Sasuke perlahan mengecil.
"Aku belum melakukan apapun dengannya. Atau setidaknya belum"
"Hentikan saja! Kau hanya akan merusak anak orang, lagipula kau tidak benar-benar menyukai Hinata kan?" Seringai Sasuke melebar.
"Tepat sekali~"
"Cih, menjijikan" Sasuke tergelak lagi. Ia menepuk kepala Sai lalu akhirnya kembali menonton acara olahraga. Beberapa menit mereka habiskan dalam hening sampai akhirnya Sai membuka suara kembali. "Lalu –Sakura bagaimana?". Kali ini tatapan Sasuke sinis kepada Sai. Dia mendecih tak suka. "Hentikan Sasuke. Aku tak ingin kau menyesal pada akhirnya. Sakura itu orang baik".
"Dia pembunuh"
"Sasuke, -dia"
"SHIT! DIAM KAU SAI!" Sasuke membanting remote TV dan beranjak dari sana. Entah mengapa susasana hatinya kangsung memburuk jika mendengar nama itu. Meninggalkan Sai yang hanya dapat menghela nafas. Ia menatap punggung Sasuke hingga menghilang dibalik pintu kamarnya. Sasuke memang sering menginap di apartemen Sai, itulah mengapa ia memiliki kamar khusus disini. Keluar masuk seenaknya, bahkan terkadang ia membawa wanita kemari. Nasehat Sai tak ada yang didengarkannya.
Sakura menelusuri lorong sekolahnya dengan wajah muram. Percakapan keluarganya pagi ini tak urung membuat suasana hatinya bertambah sedih. Baru kemarin malam ia merasakan senang dan sedih disaat yang bersamaan. Langkahnya semakin lama semakin berat kala ia mengingat dikelasnya ada Hinata, Sasuke dan –Sai.
"Pernikahan akan dilaksanakan 4 hari mendatang. Keluarga Shimura dan keluarga kita telah sepakat untuk mempercepat pernikahannya. Lagi pula Ino dan Sai tidak keberatan kan?"
Mengingat perkataan ayahnya, ingin rasanya Sakura membenturkan kepalanya di dinding berkali-kali kalau perlu sampai mati.
"Dan –Ino akan tinggal bersama Sai dirumah baru. Satu lagi, karena kalian belum lulus sekolah, pernikahan kalian belum disahkan secara tulihan, hanya disahkan secara lisan. Kalian mengerti?"
Sakura ingat Ino hanya mengangguk pasrah. Tapi ia bisa melihat tak ada lagi keraguan di mata Ino. Bukankah itu berarti mereka saling mencintai? Maafkan adikmu yang bodoh ini nee-chan.
"Kami akan merahasiakan pernikahan kalian dari sekolah. Dan Sakura –kau harus menjaga sikapmu nanti. Jangan sampai kau membocorkannya. Aku tak mau nee-chan mu menjadi bahan pergunjingan disekolah. Kau mengerti?"
"Akh!" Sakura mengacakkan rambutnya. Ia sedang dalam mood yang buruk untuk belajar. Mungkin ia akan bolos. Tempat bolos utama –atap sekolah. Setidaknya ia akan merasa tenang disana.
Cklek.
"Kau membolos ya?"
"Eh?" Sakura mengerjakan matanya imut. Tidak heran sih kalau ia bertemu Sai disini. Sai memang hampir setiap hari membolos. Tapi herannya nilainya selalu diatas Sakura. Sakura tersenyum kecil dan berjalan menuju Sai. "Kai membolos juga?" Sakura balas bertanya.
"Yeah –seperti yang kai lihat" Sai tersenyum kecil. "Tapi aku tidak sendiri"
"Benarkah?"
"Yah –" cklek. Tepat disaat bersamaan, pintu atap kembali terbukan dan menunjukkan wajah yang sangat familiar bagi Sakura. "Nah –dia sudah datang" Sai melambai dan pemuda itu menatap geram kearah Sakura.
"KAU!"
"Sasuke –"
"Cih, apa yang kau lakukan disini hah?!" Sakura menunduk, bertemu Sasuke disaat seperti ini bukanlah waktu yang tepat. Ia tengah bersedih sekarang, dan disisi lain ia merasa takut Sasuke akan memukulnya. "Pergi kau dari sini" Sasuke menarik kerah Sakura hingga tubuh mungil itu sedikit terangkat. Sakura memejamkan matanya rapat-rapat, menanti pukulan yang akan diberikan Sasuke.
"Sasuke! Hentikan"
"Diam kau Sai! Aku muak melihatnya"
"SASUKE?!"
"Shit! Shit! Diam!" Sasuke menatap tajam Sakura dan gadis mungil itu hanya merasakan panas dilehernya. Sasuke mengeratkan cengkramannya hingga wajah mereka terpaut beberapa senti saja. Tak ada pergerakan dari Sasuke, matanya sibuk mengamati wajah Sakura yang membuatnya merasa aneh, bukan aneh dalam artian menyukainya, tetapi aneh karena ia mirip seseorang.
'Wajahnya –kenapa aku baru menyadarinya? Sakura mirip dengannya. Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin'
Brakk.
Semua yang diatap menoleh dan mendapati tiga orang tengah berdiri disana dan menatap SasuSakuSai dengan ekspresi terkejut. Apalagi melihat Sasuke mencengkram kerah Sakura hingga Sakura terlihat kesakitan.
"HEI! SASUKE!"
Buuuuuk.
Sasuke tersungkur, satu bogeman panas mendarat dipipi kanannya. Naruto,sang pelaku mencengkram kerah Sasuke dan memberi pukulan lagi. Entah kenapa Sasuke hanya diam tak melawan. Matanya justru beralih pada Sakura yang terduduk dilantai bersama Ino yang memeluknya. Naruto terus saja memukul Sasuke, hingga Sai dapat melerainya. Sasuke terbaring dilantai dengan banyak luka diwajahnya. Hinata menghampiri Sasuke namu mata pemuda itu tak bisa lepas dari Sakura. Samar-damar ia bisa mendengar Naruto yang memakinya dan Hinata yang memanggil namanya dengan nada khawatir. Bibir Sasuke mengulas sedikit senyuman sebelum akhirnya kesadarannya memudar –tepat saat bibirnya menggumamkan sebuah nama.
"Tayuya –"
Brukk.
" –ke! Sasuke!"
-TBC-
Hai! Sorry kalau update nya lama^^. Kalian tenang aja, Saki emang tersakiti, tapi nanti happy ending kok ^^
Mind to Review?
