CONFESSION

By :Scarlet.44

Pair : SasuSaku, other pair.

Warning : OOC, typo, etc.

Chapter 5

"Jadi apa yang dikatakan dokter, nii-San ? Kenapa Sasuke belum bangun – bangun juga?" Sai bertanya tak sabaran karena khawatir pada Sasuke yang tak kunjung membuka matanya sejak beberapa jam yang lalu. Uchiha Itachi , kakak Sasuke hanya menghela nafas dan mendudukkan dirinya diantara Hinata yang menangis dan Sakura yang menunduk sedari tadi. Sedikit menyibak poninya dan menyimpannya di belakang telinga, sekarang kentara sekali kalau wajah tampannya tengah bersedih.

"Dokter bilang Sasuke akan mengalami tidur lama untuk sementara ini."

"Tidur lama bagaimana? Koma, begitu?" Pertanyaan Sai membuat Natuto yang tengah bersandar di dinding langsung membulatkan matanya.

"Yeah—dia juga pernah mengalami ini dulu. Ini terjadi jika Sasuke sedang dalam keadaan tertekan. Biasanya dia akan tertidur tiga hari atau paling lama seminggu." Itachi memijit pelipisnya dan menghela nafas pelan. "Sai, jangan katakan pada orang tua kami ya?" Sai menyengitkan dahi, heran. Memberi tatapan seolah bertanya 'kenapa?'. Itachi yang mengerti maksud tatapan itu langsung menyahut, "Mereka sangat sibuk dengan perusahaan mereka di luar negeri. Aku yang akan menjaganya. Heum—mungkin bersama Hinata." Itachi tersenyum kecil pada Hinata disampingnya.

"Aku akan menjaganya, nii-san " jawab Hinata mantap.

"Ng—Itachi-san , aku minta maaf karena menyebabkan Sasuke seperti itu." Naruto menatap Itachi penuh dengan penyesalan. Dia tak menyangka kalau pukulannya akan berakibat seperti itu pada Sasuke. Seorang Uchiha Sasuke yang terkenal tak punya hati, sekarang terbaring lemah hanya karena sedikit pukulan dari Naruto? Sungguh, siapapun tak akan mempercayainya. Itachi tersenyum maklum dan menggeleng kecil.

"Tidak apa-apa, Naruto. Aku tahu pasti Sasuke lah yang membuat ulah. Anak itu memang seperti itu. Keras kepala dan pendendam." Sakura mengigit bibir bawahnya. Entah kenapa perasaannya gelisah sedari tadi. Ia mendengarkan baik – baik semua yang dikatakan Itachi, dan entah mengapa itu membuat dadanya terasa sesak dan ngilu disaat bersamaan. Seperti ada rasa bersalah dan entahlah—aneh. Jantungnya berdebar dengan ritme tak tenang dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia merasakan ada sesuatu yang dialami Sasuke dalam tidurnya sekarang. 'Kenapa aku sangat mengkhawatirkannya?'

"Sakura—kau terlihat gelisah sedari tadi? Kau juga berkeringat. Apa kau sakit?" Ino bertanya dengan nada khawatir pada adiknya dan sedari tadi hanya terdiam dan terus mengigit bibirnya –kebiasaannya ketika sedang gelisah.

"A—aku tidak apa-apa nee-chan. Aku hanya merasa—hm, jantungku aneh." Sakura memegangi dadanya dan sontak semua mata melihat kearah Baekhyun. Ino langsung menghampiri Sakura dan mencengkeram pundaknya.

"Jantung? Kau tak apa-apa kan? Apa itu sakit lagi? Katakan Sakura!"

"Ino, ada apa?" Sai pun ikut menimpali saat melihat Ino yang tampak panik dengan keadaan Sakura.

"Ti—tidak sakit nee-chan. Hanya saja jantungku berdetak dengan sangat cepat. Dan aku—mengkhawatirkan hal yang aku sendiri tidak tahu" Nada bicara Sakura melirih di akhir kalimatnya. Ino memeluk adiknya dan mengusap – usap rambut belakang Sakura.

"Tenanglah. Semua baik – baik saja. Ada nee-chan disini. Nee-chan pasti akan menjagamu, Saki." Sakura tersenyum kecil dan membalas pelukan Ino. Beberapa pasang mata menatap keduanya dengan pandangan haru dan senyum simpul yang terukir di wajah masing – masing. Tak beda dengan Itachi yang kini menatap Sakura dengan siratan wajah sedih.

'Sakura. Dia kah Haruno Sakura yang dicari Sasuke selama ini? Hhh—apa Sasuke menyakitinya? Dia anak yang baik kurasa.' batinnya sendu.

"Nii-nii-san?" Sakura menatap Itachi ragu. "Bo—bolehkah aku ikut menjaga Sasuke ?" Beberapa wajah disana menunjukkan ekspresi yang berbeda – beda. HinaInoSai menatap Sakura bingung sedangkan Naruto menatapnya kesal. Untuk apa Sakura mengkhawatirkan orang yang selalu menyakitinya? Harusnya Sakura tak usah kemari dan biarlah Naruto yang mempertanggung jawabkan perbuatannya. Iya kan?

"Tentu saja boleh. Kalian semua boleh menjaga Sasuke." Itachi tersenyum sangat tampan, membuat mereka pun merasa kehangatan seorang kakak menguar darinya. Sakura mengangguk dan tersenyum kecil. Naruto hanya mendengus pelan dan memalingkan wajahnya.

"Sakura, aku akan pergi dulu mencari makanan untuk kita. Aku tinggal, tak apa kan?" Sakura tersenyum dan mengangguk kecil. Hinata pun pergi meninggalkan Sakura dan Naruto, serta Sasuke yang masih terbaring di ranjangnya. Naruto menghela nafas dan mendekati Sakura, mencengkeram pundaknya pelan, membuat Sakura menatap Naruto bingung.

"Kenapa—kenapa kau mau menjaganya?" Sakura menatap Naruto barang sebentar kemudian beralih pada tubuh lemah Sasuke. Tatapannya berubah menjadi sendu dan itu adalah pandangan yang pertama kali ditunjukkan pada pemuda tinggi itu –walau Sasuke tak melihatnya. Kelakuan Sakura yang tidak biasa, tak urung membuat Naruto heran dan merasa ada suatu hal aneh yang terjadi pada Sakuta. Sakura menghela nafas. Rasa aneh itu datang lagi. Melihat keadaan Sasuke yang seperti itu seolah membuatnya ikut bersedih. Tapi Sakura benar – benar tak tahu, apa alasannya harus bersedih melihat keadaan Sasuke? Tapi saat mendengar cerita Itachi kemarin malam, telah meyakinkan dirinya sendiri kalau Sasuke tidaklah seburuk yang dia kira. Sasuke pasti punya alasan kenapa sangat membencinya.

"Aku tidak tahu, Naruto. Hanya sebuah dorongan yang aku sendiri tak tahu darimana datangnya." Naruto menggaruk pipinya bingung.

"Hhhh—terserah kaulah. Kau memang terlalu baik, Sakura jelek." Sakura tersenyum kecil. "Aku akan menyusul Hinata, aku takut dia tak bisa membawa makanannya sendiri." Sakura mengangguk kecil, dan Naruto pun memutar badannya untuk segera keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Sakura dan Sasuke berdua. Sakura melangkah mendekati katil dan duduk di kursi disamping ranjang Sasuke. Tatapan matanya menyiratkan kesedihan yang sangat. 'Aku bahkan tak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang. Harusnya aku membencimu kan? Tapi—ada sesuatu yang mmebuatku tak bisa membencimu, Sasuke. Dan—aku sendiri tak tahu itu apa.'

"Sasuke" Sakura menunduk menatap tangan Sasuke. Ia akan berusaha berbicara dan berharap semoga saja Sasuke mendengarnya. "Maaf jika aku membuatmu marah selama ini. Aku tahu kau sangat membenciku. Dan pasti kau mengutukku karena berani duduk disini bersamamu. Tapi—bisakah kau beri aku alasan kenapa kau membenciku?" Gadis mungil itu menggigit bibir bawahnya saat merasakan dadanya sedikit tertekan. 'Lagi – lagi perasaan ini', batinnya. "Kau tahu? Aku tak bisa hidup dalam lingkungan orang – orang yang membenciku. Aku tak sanggup, Sasuke. Aku mohon, jangan ambil Hinata dariku. Aku tak memiliki siapapun selain Hinata sebagai sahabatku. Hhh—Ino nee-chan akan pergi, dan aku tak yakin Naruto akan selalu ada untukku. Jadi aku mohon, biarkan aku berteman dengan Hinata"

"..."

"Maaf Sasuke. Maafkan aku. Tapi aku takkan bisa menjauh dari Hinata" Satu bulir bening berhasil menetes dan mengalir di pipinya. Sakura buru – buru mengusapnya dan tersenyum pahit. "Di benci itu tidak enak, Sasuke. Aku tidak berbohong—hhh. Aku berharap kau tak pernah merasakannya. Ini—sangat tidak menyenangkan. Ini menyesakkan Sasuke. Sangat. Hiks." Sakura mencengkeram kuat dadanya. Kenapa dia merasakan ini? Kenapa dia merasa sangat bersalah pada Sasuke? Kenapa jantungnya berdegup tak tenang seperti ini?

Di balik pintu ruangan, sebuah tangan besar mencengkeram pundak gadis mungil bermata violet itu. Menguatkan hati Hinata saat melihat pemandangan di depannya. Melihat sahabatnya menangis dalam kesendirian, meminta maaf atas sesuatu yang tak diketahuinya, seakan ikut menghujam jantungnya. Hinata pun ikut merasakan sesak di dadanya sampai tetes demi tetes liquid keluar dari pelupuk matanya. Sebegitu berharganyakah persahabatan mereka sampai Sakura harus menangis untuk mempertahankannya? Dia yang bahkan membenci Sakura hanya karena gadis itu berciuman dengan Sasuke. Apa dia bisa disebut sahabat yang baik? Entah mengapa, Hinata merasa tak pantas menjadi sahabat seorang Haruno Sakura.

"Apa kau masih membencinya?" Pemilik tangan itu, Naruto menatap sendu kearah Hinata. Sontak Hinata berbalik dan memeluk erat Naruto. Mencengkeram baju belakang Naruto dan meluapkan perasaannya disana. Mencari ketenangan dalam pelukan pemuda berkulit tan itu. Berharap Naruto memahaminya dan meminjamkan pelukannya barang sebentar saja. Naruto dapat merasakan Hinata menggelengkan kepalanya pelan dan dia tersenyum simpul. Tangannya secara otomatis terangkat dan mengusap – usap rambut Hinata. Memberikan apa yang diharapkan Hinata. Sebuah tempat untuk bersandar.

"Aku—hiks, aku tak pernah membencinya, Naruto. Aku percaya pada Sakura. A—aku menyayanginya. Hiks."

"Aku tahu." Naruto masih mengusap – usap rambut Hinata, sedangkan kedua obsidiannya menatap nanar kearah Sakura yang menunduk, masih dengan tetesan liquid bening di pipinya yang semakin basah. Isakan dua manusia di depannya, tak urung membuatnya ikut bersedih dan menangis dalam diam.


CONFESSION-SasuSaku-


"Kau kemarin bolos eoh?" Sakura mengangkat wajahnya dan menemukan Ten-ten tengah menatapnya dengan senyuman lucu di wajahnya. Kedua sudut bibir Sakura melengkung membalas senyuman ramah Ten-ten. Ten-ten mengacak sedikit rambutnya dan duduk disamping Sakura. "Kau dan Hinata kemana saja sampai tidak masuk sekolah?"

"Heum—menjaga Sasuke." Jemari lentik Sakura terus memutar - mutar sendotannya, memainkan es di dalam jusnya. Mengabaikan kerutan di dahi Ten-ten yang bingung akan jawaban Sakura.

"Aku menganggap hal yang dilakukan Hinata itu biasa karena dia adalah kekasih Sasuke. Tapi—err.. kenapa kau juga ikut menjaga Sasuke?" Sakura memiringkan kepalanya bingung. "Maksudku—yeah, Sasuke itu selalu bersikap buruk padamu kan Sakura?" Kepala gadis yang lebih kecil mengangguk – angguk paham. Namun jujur, dia tak punya jawaban pasti tentang pertanyaan Ten-ten. Dia sendiri juga bingung kenapa dia rela membolos hanya untuk menjaga orang yang selalu membully nya? Apakah dengan itu Sakura berharap kalau Sasuke bisa berbaikan dengannya? Ah—entahlah.

"Aku juga bingung Ten-ten. Hhehe." Sakura terkekeh kecil.

"Kau ini aneh." Sentilan kecil dari jari Ten-ten menyentuh permukaan dahinya membuat Sakura mengerucutkan bibirnya kesal. "Memangnya apa yang terjadi pada Sasuke? Bukankah dia hanya berkelahi dengan Naruto? Kenapa jadi menginap beberapa hari di rumah sakit seperti itu?" Sakura menyeruput jus strawberry nya pelan, sekaligus mencerna pertanyaan Ten-ten.

"Kata Nii-san, kakak Sasuke, dia mengalami tidur panjang seperti koma begitu. Sasuke sering mengalaminya jika pikirannya sedang tertekan." Mulut Ten-ten membulat seolah mengerti maksud perkataan Sakura.

"Aku pernah tau kelainan seperti itu, pamanku juga pernah mengalaminya. Tapi—bukankah itu hanya terjadi pada orang – orang yang mengalami masa – masa buruk di masa lalunya?" Alis Sakura bertautan. "Maksudku—Sasuke punya masalah apa sampai dia tertekan seperti itu. Jika dilihat – lihat, Sasuke itu orangnya bermulut besar, menyebalkan, dan tipe – tipe troublemaker yang suka menimbulkan masalah bagi orang lain. Seolah mencari kesenangan hidup dengan menyiksa orang. Lalu apa yang membuatnya tertekan? Ck, sungguh tidak dapat dipercaya seorang Uchiha Sasuke seperti itu."

Sakura menatap jus di depannya yang tinggal separuh. Jarinya memutari gelas dan dahinya berkerut sedari tadi, seolah memikirkan apa yang baru saja dikatakan Ten-ten. Semua yang dilontarkan Ten-ten adalah pertanyaan yang selama ini dipikirkannya. Apa yang membuat seorang Sasuke tertekan? Dan beberapa pertanyaan itu berhasil membuat Sakura penasaran dengan sisi lain Sasuke yang tak pernah ditunjukkannya.

"Ten-ten, aku pergi dulu yah. Aku harus mencari Naruto"

"Okay!" Ten-ten mengangkat jari jempolnya dan Sakura segera melesat pergi mencari kelas Naruto. Beruntung saat di persimpangan kelas, dia bisa melihat Naruto yang berjalan di depannya, segera berlari dan menepuk pundak Naruto. Pemuda berkulit tan itu berbalik dan tersenyum kearah Sakura. Satu tangannya melepaskan earphone yang dikenakannya dan memberi tatapan pada Sakura seolah bertanya 'ada apa?'.

"Naruto, maukah kau membantuku?" Persimpangan empat di dahi Naruto menunjukkan kalau ia tengah bingung.

"Membantu apa?"

"Aku ingin tahu semua tentang Sasuke" Mata dan dahi Naruto makin berkerut heran.

"Kenapa?"

"Mungkin saja dengan begitu, aku akan bisa berbaikan dan damai dengan Sasuke. Aku—aku ingin mencari tahu tentang masa lalu Sasuke. Yeah, bisa dikatakan kita akan membantunya melupakan kenangan buruknya itu."

"Hei, sejak kapan kau peduli dengan orang menyebalkan seperti dia?"

"Aku mohon, Naruto. Aku serius dengan hal ini. Ini adalah satu – satunya cara membuat kami berbaikan atau setidaknya dia akan mengijinkan Hinata berteman denganku dan melupakan masalah kami—hm, tentang—yeah kau tahulah masalahku dan Hinata" Naruto memutar bola matanya bosan.

"Ck, kau terlalu baik, Sakura"

"Biarlah."

"Baiklah. Terserah kau saja, ."


CONFESSION-SasuSaku-


Sudah 3 hari Sasuke dirawat di rumah sakit itu, ini adalah hari ke empat dimana Naruto baru saja dihubungi Hinata kalau Sasuke mulai melakukan pergerakan. Tentu saja Naruto harus datang, bagaimana pun juga dia bukan pengecut yang akan kabur dari tanggung jawabnya. Dia akan datang sebagai laki – laki, kalau perlu dia akan meminta maaf pada Sasuke –walau pun masih terasa berat untuk melakukannya. Sebelum ia sempat berbelok, suara – suara dari beberapa perawat penjaga membuat langkah kakinya berhenti.

"Jadi Sasuke itu dirawat disini lagi?"

"Iya—begitulah. Aku suster yang ditugaskan untuk menjaganya." Naruto menyembunyikan badannya, sekedar ingin tahu kenapa para suster itu membicarakan Sasuke. Dan lagi, kenapa mereka terlihat sangat mengenal Sasuke? Apa Sasuke memang sering mengalami tidur panjang seperti itu dan dirawat disini? "Hhh—semenjak kematian kekasihnya, Sasuke-san sering mengalami koma tanpa sebab. Kadang dia tiba – tiba pingsan dan tidur begitu lama. Terkadang juga karena merasa tertekan dengan memikirkan berbagai hal, dia bisa tertidur kembali. Kasihan dia."

"Kekasihnya yang bernama Tayuya itukah?"

"Iya, Tayuya yang meninggal dua tahun yang lalu. Sasuke-san pasti sangat mencintainya. Dia sampai depresi seperti itu."

Deg.

Naruto membulatkan matanya. Dia tak salah dengar kan? Sasuke itu kekasih Tayuya? Bukankah Tayuya adalah seseorang yang sering dikunjungi Sakura? "—yang kutahu mereka adalah Keluarga Uchiha." Great! Sakura pernah mengatakan itu. Berarti—yeah, Sasuke adalah orang yang dicari Sakura selama ini.

"Setelah tahu siapa yang mendapat donor jantung dari Tayuya, Sasuke-san sering uring – uringan. Katanya dia juga sering menyakiti orang di sekitarnya, bahkan dia menyakiti dirinya sendiri. Sasuke-san katanya sangat membenci orang yang mengambil jantung kekasihnya itu."

"Tapi bukankah itu keinginan kekasihnya sendiri?"

"Yeah—kau tahulah. Seseorang kalau sudah sangat mencintai—" Naruto berlalu, dia tak ingin mendengarkan percakapan itu lebih banyak. Informasi yang didapatkannya sudah cukup untuk menguatkan dugaannya. 'Jadi itu alasan Sasuke membenci Sakura? dia tahu kalau Sakura lah yang mendapatkan donor jantung itu? Hhh—Sasuke keterlaluan.'

Cklek.

"Ah—kau datang, Naruto" Naruto tersenyum pada Itachi. Dia mengalihkan pandangannya kearah Sasuke. Dan benar saja, pemuda itu mulai menggerakkan kelopak matanya –walau pun belum terbuka sepenuhnya.

"Sakura tak datang?"

"Ah—dia sudah pulang. Katanya ada urusan keluarga." Hinata menjawab. Naruto mengangguk paham. Dia mengambil ponsel di sakunya dan mengirim pesan pada Sakura, untuk memberitahukan perkembangan Sasuke. Beberapa menit setelahnya, dia merasakan ponselnya bergetar.

From : Sakura.

Baguslah. Semoga dia cepat sadar. Aku tidak bisa datang kesana. Hari ini kan pernikahan Ino nee-chan dan Sai. Keluargamu bahkan diundang. Kkeke~

Naruto tersenyum kecil melihat isi pesan Sakura. Yeah, keluarganya memang dekat dengan keluarga Haruno. Jadi tidak heran kalau mereka pun diundang. Sebenarnya Naruto juga diharuskan ikut, sayangnya dia harus ke rumah sakit dikarenakan Sasuke. Dia akan menemui Ino besok.

"Sakura kah?" Naruto mengangguk mengiyakan pertanyaan Hinata. "Memangnya ada urusan keluarga apa?"

"Mereka mengunjungi neneknya yang sakit."

"Oh, begitu ya." Naruto mengangguk –lagi. Dia tahu kalau pernikahan ini rahasia, tentu saja dia takkan memberitahukan pada Hinata kalau Ino dan Sai akan menikah.

"Eungh." Sebuah suara serak berhasil menyita perhatian ketiga manusia disana. Itachi mendekati katil dan mengenggam tangan Sasuke. Mata Sasuke mengerjap perlahan, membiasakan retinanya dengan cahaya yang memasukinya. Dengan pandangan yang meremang, ia mencoba bangun dengan dibantu kakaknya. Mengedarkan pandangannya sementara tangannya sibuk memegangi kepalanya. "Nii—nii-san—hh?"

"Iya Sasuke, nii-san disini."

"Ahh—kuh kenapah?" tanyanya dengan suara yang serak. Itachi mengusap rambut adiknya dan tersenyum lembut.

"Kau tertidur lagi." Sasuke memilih diam. Kepalanya masih terasa pening dan matanya berkunang – kunang. Dia mendapati Hinata yang tengah tersenyum lega dan—Naruto?

"Kenapa—hh kau, ada—disini?"

"Aku bukan pengecut yang akan kabur dari tanggung jawabku, Sasuke" Sasuke terkekeh kecil.

"Kau tak buruk juga." Naruto melipat kedua tangannya dan memutar bola matanya malas. Lagi, Sasuke mengedarkan pandangannya yang makin lama mulai terlihat jelas. Dahinya berkerut karena tak mendapati seseorang yang mengisi alam bawah sadarnya beberapa jam –atau mungkin hari?, yang lalu. 'Ck, kemana anak itu? Dia tak kemari?' Sasuke menggeleng – gelengkan kepalanya pelan. 'Hhh—untuk apa aku mencarinya? Ck, sialan!'

"Kau tak apa-apa?" Sasuke tersenyum pada Hinata dan mengangguk pelan.

"Aku baik – baik saja."


CONFESSION-SasuSaku-


"nee-chan~ kau terlihat cantik." Ino mengerucutkan bibirnya saat Sakura mengatakannya cantik.

"Ck, jangan membuatku malu, Sakura-chan"

"Hhhihi." Sakura menepuk – nepukkan tangannya pada gaun putih Ino, mungkin bermaksud menghilangkan debu make up yang menempel. Sakura harus akui, Ino memang sangat menawan, tak heran jika banyak orang yang memujinya. "Sai beruntung mendapatkanmu nee-chan. Kau sangat cantik. Dia pasti akan membuat teman – temannya iri." Ino menjitak puncak kepala Sakura dan disusul ringisan kecil dari pemuda yang lebih mungil itu.

"Aku masih belum tertarik pada Sai itu, Sakura. Ini hanya sebatas permintaan tou-san dan kaa-san yang terpaksa ku turuti."

"Eh—jangan begitu nee-chan. Aku melihatnya loh." Sakura menaik turunkan alisnya menggoda Ino, sedangkan sang kakak hanya menyengit heran.

"Melihat apa?"

"Kau dan Sai—" Sakura menarik tengkuk Ino dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ino lalu berbisik. "—kisseu." Ino segera menjauhkan wajahnya dan mendengus kesal. Rona merah muda mulai menjalari kedua pipi Ino, membuat Sakura langsung terpingkal.

"Sakura!"

"Ahhahha." Ino merengut dan memalingkan wajahnya yang telah merah padam. Sakura memang paling bisa menggodanya. Sakura langsung memeluk kakak kesayangannya ini dan memberikan kecupan kecil di pipi Ino. Melihat tingkah Ino yang menggemaskan, selalu berhasil membuatnya ikut tersenyum. 'Kalian saling mencintai nee-chan. Aku akan mendukung kebahagiaan kalian.'

Acara pesta pun digelar secara sederhana di sebuah aula hotel. Para undangannya hanyalah rekan – rekan bisnis ayah dan ibunya serta rekan dari keluarga Shimura. Mereka mengundang seorang pastur untuk mengikrarkan janji suci kedua mempelai. Dan di menit ke 20 ini, Sakura telah menyiapkan dirinya untuk tersenyum. Menguatkan hatinya untuk ikut berbahagia. Di depan sana, kakaknya sudah bersanding dengan Sai, berhadapan dengan pastur yang akan membimbing ikrar suci mereka. 'nee-chan, Sai—semoga kalian berbahagia.' doanya dalam hati. Dan setelah kedua ikrar dilantunkan dengan lantang, semua undangan bertepuk tangan, disusul dengan kedua cincin berukirkan nama masing – masing yang melingkar manis di jari lawannya. Hingga akhirnya, pertahanan Sakura runtuh saat Sai mencium Ino dengan lembut. Bulir – bulir airmata menuruni pipinya dengan bebas. Bersamaan dengan rasa sesak yang sedari tadi ditahannya. Sakura mengusap pipinya cepat dan ikut bertepuk tangan.

Ino menundukkan wajahnya yang merona. Semenjak acara berlangsung bahkan hingga acara puncak pun jantungnya tak lelah – lelahnya berdegup dengan kecepatan tak normal. Sai tersenyum kearahnya, mengusap pipi Ino lalu mendekapnya. Mati – matian Ino menahan nafasnya, sentuhan Sai lagi – lagi membuatnya merasakan sensasi aneh itu. Jantung yang berdegup kencang, desiran aneh dalam darahnya, bahkan ia merasakan perutnya geli oleh sesuatu yang tak nampak. Seperti menggelitik dan menyenangkan. Membuat senyum cantik yang tak pernah luntur dari wajah manisnya.

"Setelah ini kita akan ke rumah Sasuke. Itachi nii-san mengirim pesan padaku, katanya Sasuke sudah dibawa pulang." Sai berbisik lirih saat acara utama baru saja berakhir. Ino mengangguk paham. Bukankah sudah kewajibannya sebagai suami yang menjabat posisi istri, untuk mengikuti kemana pun suaminya pergi? Oh—Ino, kau sudah belajar menjadi istri yang baik ternyata.

"Sakura akan ikut?" Sai mengangguk.

"Setelah kita membereskan rumah baru, kita akan menjemput Sakura dan berangkat bersama. Bagaimana?" Kali ini Ino mengangguk dan Sai pun melempar senyum simpulnya.

Sakura menyibukkan dirinya dengan makan beberapa camilan dan minum beberapa gelas air. Mencoba mengabaikan perasaan sesak yang sempat di deranya beberapa menit yang lalu, bahkan mungkin masih membekas sampai sekarang. Dia terus menyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik – baik saja. Sai akan bahagia bersama nee-chan nya begitu pun sebaliknya. Yang perlu dilakukannya hanyalah melupakan perasaannya dan mencari seseorang baru yang mungkin akan membuatnya melupakan Sai. 'Kau bisa Sakura, fighting!' semangatnya dalam hati. Sakura menelan kue di tenggorokannya dengan berat. Rasa sesak yang membekas tadi tak urung membuatnya kesulitan saat menelan makanan. Dengan tegukan terakhir di gelasnya, Sakura menghela nafas lega. Ia mengedarkan pandangannya hingga melihat beberapa orang berjas tengah berkerumun di pojok ruangan.

Memang bukan pemandangan yang menarik, karena rata – rata tamu undangan mereka memang rekan perusahaan yang pastinya semua mengenakan pakaian formal. Hanya saja, pria berjas dan wanita paruh baya disampingnya benar – benar menyita perhatiannya. 'Bukankah itu ayah dan ibu Tayuya? Kenapa mereka ada disini? Mereka mengenal keluargaku?' Sakura menggaruk pipinya. 'Apa mereka memang saling mengenal? Tapi—bagaimana bisa? Apa ini karena donor jantung yang dilakukan Tayuya? Tapi mereka terlihat sangat dekat dan saling kenal sejak lama. Apalagi tawa tou-san sepertinya sangat akrab.'

"Sak—"

"Eh? Nee-chan. Kenapa?"

"Nanti kita akan kerumah Sasuke. Dan kau harus ikut!"

"HAH?!" Mata dan mulut Sakura sontak menganga lebar. "Ke—kenapa aku harus ikut? Ti—tidak, aku tidak mau." Kepalanya menggeleng – geleng mendengus dan menjitak puncak kepala adiknya. "Pokoknya tidak mau, nee-chan. Titik."


CONFESSION-SasuSaku-


"Jadi—Tayuya itu kekasih Sasuke?" Naruto mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Hinata. Mereka tengah berada di dalam mobil Naruto menuju rumah Sasuke untuk menjenguknya. Setelah keluar dari rumah sakit, Sasuke pulang bersama kakaknya, sedangkan NaruHina pulang ke rumah Hinata terlebih dahulu dan memutuskan ke rumah Sasuke lagi sekitar pukul sembilan malam. Hinata menumpu sisi kepalanya dan memijit pelipisnya pelan. "Aku tidak menyangka." Naruto melirik sedikit kaca spionnya lalu beralih menatap Hinata.

"Aku juga kaget awalnya. Tapi aku sekarang tak heran kenapa Sasuke sangat membenci Sakura. Aku sudah membuktikannya kan?"

"Kau tak bohong kan, Nauto?"

"Untuk apa aku bohong. Tak ada untungnya juga." Hinata menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "Aku mohon padamu, Hinata—" Naruto menelan salivanya dan melirik Hinata dari kaca spion depan. "Jangan terlalu mencintai Sasuke" Hibnata menoleh dan memberi tatapan bingung. "Yeah, aku pikir dia tak benar – benar mencintaimu, Hinata. Aku tak mau kau sakit hati karenanya. Kalian masih bisa menjalin hubungan, tapi jangan terlalu memberikan cinta seutuhnya pada Sasuke" Hinata melotot. "Aku hanya memberi saran Hinata. Jangan menatapku seperti itu." Dan gadis itu mendengus pelan.

"Memangnya kenapa kalau aku mencintai Sasuke?"

"Kau boleh mencintainya. Hanya saja jangan berlebihan. Kau tahu—aku peduli padamu, Hinata" Mata bulat Hinata mengerjap perlahan. Naruto? Peduli padanya? Apa dia tidak salah dengar? Oh—terima kasih Tuan Uzumaki, kau berhasil membuat kedua pipi Hinata merona. 'Oh tidak, perasaan ini lagi. Mana mungkin aku jatuh cinta lagi? Kau gila, Hinata!' Hinata menepuk – nepuk puncak kepalanya pelan.

"Hei, kau tidak apa-apa?"

"Yeah, aku baik – baik saja, Naruto. Terima kasih."

"No problem."

Sementara itu di kediaman Sasuke, sebuah mobil sport berwarna putih baru saja memasuki halaman rumahnya. Tiga pintu terbuka dan menampakkan Sai, Ino, serta Sakura –yang terus mengerucutkan bibirnya sedari tadi. Hatinya masih sangat dongkol untuk bertemu Sasuke. Hei, Sasuke dalam keadaan sadar itu sangat menakutkan ketimbang saat ia tidur dan Sakura berharap Sasuke sedang tidur sekarang. Baru saja mereka akan memasuki rumah, sebuah mobil berhenti di belakang mobil mereka. Semua menoleh dan tersenyum mendapati NaruHina keluar dari dalam mobil itu. Naruto berbisik pelan pada Hinata, agar tidak memberitahukan pembicaraan mereka pada Sakura. Hinata hanya mengangguk dan tersenyum kearah Sakura yang berlari – lari kecil menghampiri mereka.

"Naruto, Hinata—aku tak mau masuk." rengeknya kemudian. Hinata terkekeh melihat sikap manja Sakura yang jarang sekali ditunjukkannya. Naruto hanya mengerutkan dahi dan menarik tangan Sakura memasuki rumah besar itu, mengikuti jejak SaiIno yang telah masuk ke dalam. Hinata menatap punggung keduanya dengan pandangan sendu. 'Oh ayolah—Naruto sangat memperhatikan Sakura, Hinata. Kau telah salah mengartikan perhatian Naruto selama ini.' Dan Hinata pun mulai melanjutkan langkahnya memasuki rumah Sasuke.

Sementara SaiIno dan NaruHina memasuki kamar Sasuke, tubuh Sakura justru berdiri kaku di luar pintu kamar Sasuke. Sakura terlihat mengigit kuku jarinya sementara kaki kanannya sibuk terayun ke depan dan ke belakang. Lagi – lagi dia bingung apa yang harus dilakukan. Haruskah dia masuk? Bagaimana kalau Sasuke langsung membentaknya atau mengusirnya? Sakura masih terdiam di depan pintu sampai bunyi 'cklek' menandakan kalau pintu telah dibuka seseorang. Sakura mendongak dan mendapati Hinata memandangnya dan tersenyum lembut.

"Sebaiknya kalian bicara berdua." ucapnya kemudian. Sakura menggeleng – geleng pelan. Berdua? Dengan Sasuke? Apa yang harus mereka bicarakan? Tak mau menunggu lebih lama lagi Hinata menarik tangan Sakura. Sampai mata sabitnya menemukan Sasuke yang tengah balik menatapnya dengan tatapan mengintimidasi, Sakura mengigit pelan bibir bawahnya. Jantungnya berdegup tak menentu saat mata Sasuke mengunci dirinya, membuat langkah kakinya makin berat saat menapaki lantai kamar Sasuke.

"Kenapa dia ada disini?" Deg. Sakura menundukkan wajahnya. Keberanian yang telah dipupuknya selama beberapa jam ini menghilang entah kemana. "Aku tak tahu kalau kalian membawa kurcaci ini." Hinata mendecih sebelum akhirnya menarik Sakura mendekat.

"Sebaiknya selesaikan urusan kalian berdua, Sasuke. Aku tak suka kau bermusuhan dengan Sakura. Sakura itu sahabatku dan kau kekasihku, setidaknya kalian mau berteman walaupun tak terlalu akrab." Nada bicara Hinata yang penuh penekanan membuat Sasuke memalingkan wajahnya kesal. "Nah—kami akan keluar Sakura. Fighting!" bisik Hinata sebelum mengajak Naruto dan SaiIno keluar dari kamar Sasuke.

Cklek.

Bunyi pintu tertutup sempurna membuat jantung Sakura semakin meronta. Kedua tangannya saling bertautan menahan perasaan gugup yang tiba – tiba saja menderanya. Sasuke pun masih terdiam. Dia sibuk memandangi sosok di depannya. Sosok yang sangat mirip kekasihnya dulu. Dia heran, kenapa mereka begitu mirip? Melihat Sakura sekarang seolah tengah melihat Tayuya dalam versi wanita yang berbeda. Aneh.

"Sa-Sasuke." Baekhyun bergumam lirih, berusaha menghilangkan keheningan suram yang tercipta diantara mereka.

"Hm."

"Maaf."

"Untuk apa?" tanya Sasuke dingin. Sakura menggaruk tengkuknya sebelum akhirnya maju dua langkah mendekati ranjang Sasuke. Dengan sedikit gemetar, ia ulurkan tangannya ke depan Sasuke. "A—aku ingin kita berdamai." lanjutnya gugup. Sasuke tertawa remeh dan Sakura dapat merasakan hawa disekitarnya yang berubah begitu tegang dan menyeramkan.

"Atas dasar apa kau mengajakku berdamai? Siapa kau berani mengajakku berdamai?" Sakura menelan salivanya dengan susah payah. Tak mendapat respon positif, ia menarik kembali tangannya. Ia tak mengerti kenapa Sasuke begitu menyeramkan sekarang. Semenjak menjadi kekasih Hinata, sikap Sasuke padanya makin menyebalkan. Semua kata – kata yang dilontarkan begitu menusuk dan membuat hatinya merasakan nyeri.

"Kenapa kau tak mau?"

"Itu urusanku."

"Sasuke—"

"Ck, sialan!" Sasuke berdecak kesal.

"Aku tak tahu apa salahku padamu,Sasuke. Apa alasanmu membenciku? Kenapa kau tidak mau berteman denganku dan kenapa kau bersikap seolah aku ini kecoak yang perlu kau musnahkan dari lingkunganmu?" Sakura memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Ia dapat melihat mata Sasuke membulat –entah karena apa, dan selanjutkan pemuda tinggi itu memalingkan wajahnya. Seolah enggan menatapnya.

Sasuke terdiam. Dia masih memalingkan wajahnya dari Sakura. Menatap wajah Sakura selalu mengingatkannya pada sosok kekasihnya itu dan entah kenapa dia tak sanggup menatap mata yang berkaca – kaca itu. Ada perasaan aneh seperti iba dan—sedih memasuki sudut hatinya.

"Katakan Sasuke. Aku hanya ingin tahu apa salahku padamu?" Bulir – bulir air mulai mengalir di wajah cantiknya. Satu punggung tangannya mengusap buliran di pipinya dengan kasar. Melihat Sasuke yang bahkan tak bergeming membuat Sakura harus menelan pil kekecewaan. Ia memutuskan untuk berbalik, ia tak mau Sasuke melihat lebih lama sisi lemahnya. Saat tangannya memutar knop pintu, Sasuke mulai bersuara dan sederet kalimat yang meluncur dari bibirnya membuat Sakura membeku di tempatnya.

"Kau pembunuh, Haruno Sakura. Dan aku sangat membencimu."


-TBC-


Sorry telat update nya ^^

Mind to Review?