Title : CONFESSION
By : Scarlet.44
Pair : SasuSaku, other pair
Warning : OOC, typo, etc
Chapter 6
Cklek.
Sakura baru saja melangkah keluar dari kamar Sasuke. Ia mengeratkan cengkeraman di dadanya dan tubuhnya sedikit bergetar. Ia menatap langit – langit lantai dua ini dan mendesah pelan. Ucapan Sasuke tadi tak dipungkiri membuat dadanya semakin tertekan benda berat. Ia bersandar pada dinding dan mengusap peluh di pelipisnya. Kepalanya terasa pening karena memikirkan banyak hal.
"Kau pembunuh dan aku sangat membencimu, Sakura"
"Apa maksudmu?"
"Hhh—kau bahkan terlalu bodoh untuk mengerti maksudku."
"Sas—"
"Kau bisa keluar sekarang. Aku butuh istirahat!"
Tubuh Sakura sedikit merosot ketika teringat ucapan Sasuke sebelum ia keluar tadi. Permintaan maafnya –yang secara tidak langsung– telah ditolak mentah – mentah. Dan lagi—Sasuke menudingnya sebagai seorang pembunuh. Memang sejak kapan Sakura bisa membunuh? Sejak kapan dia tahan melihat darah? Bahkan melihat darahnya sendiri saja Sakura ingin pingsan. Membunuh? Sakura pikir itu hanyalah alasan konyol Sasuke. Dadanya naik turun sebelum akhirnya membuang nafas melalui mulutnya secara perlahan. Dengan langkah yang berat ia menuruni tangga untuk menemui teman – temannya.
"Eoh, Sakura. Apa yang kalian bicarakan?" Hinata yang melihat raut wajah Sakura hanya mampu menghela nafas. Sepertinya pembicaraan SasuSaku tidak berjalan baik. Sakura mudah ragu dan sangat sensitif, sedangkan Sasuke egois dan pemarah. Susah sekali mendamaikan dua orang dengan tabiat buruk seperti itu. "Saku—" Tiba - tiba Sakura menerjangnya dengan sebuah pelukan sementara kedua obsidiannya mulai meneteskan liquid bening. Hinata tersentak kecil. Akhirnya tangannya mengusap – usap punggung Sakura perlahan. "Shh—jangan menangis. Tidak apa-apa, Sakura. Aku akan berbicara pada Sasuke nanti." Sakura menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku akan melakukannya, Saku"
Sai menatapnya dengan pandangan iba, bagaimana pun dia tahu alasan apa yang membuat Sasuke membenci Sakura. Ino sendiri tampak termenung dan menatap adiknya khawatir, sedikit demi sedikit dia mulai tahu kalau adiknya selama ini bermasalah dengan seseorang. Ino tak heran lagi jika setiap kali pulang ke rumah selalu ada hal berbeda dari Sakura. Seperti rambutnya berlumurkan telur, seragamnya sobek, atau wajahnya babak belur. Mungkin ini juga menjadi salah satu alasannya. Sedangkan Naruto sendiri tengah mengerang frustasi. Tangannya mengepal kuat menahan amarah.
"Sasuke memang keterlaluan!" umpatnya. "Rupanya dia memang minta dipukul lagi—" Naruto baru saja ingin melangkah tapi tangan Sai sudah menghalanginya. Sai menggeleng pelan dan Naruto hanya dapat berdecak sebal.
"Aku dan Hinata yang akan bicara padanya nanti." ujar Sai kemudian. Sakura melepaskan pelukannya dan menghampiri Ino.
"Nee-chan, aku mau pulang." ucapnya lirih sembari mengusap – usap pipinya yang basah. Ino hanya mampu memberikan tatapan memohon pada Sai. Sai yang menyadarinya pun mengangguk mengiyakan permintaan tidak langsung suaminya itu.
"Sebaiknya aku pamit pada Itachi nii-san dan Sasuke. Kita pulang bersama – sama." Hinata berbicara dan mulai melangkah menuju dapur dimana Itachi tengah berkutat disana.
"Aku antar pulang, Hinata!" Naruto berteriak kecil dan Hinata pun mengangguk sebagai jawaban.
CONFESSION-SasuSaku-
Sebuah mobil sport putih baru saja memasuki sebuah rumah besar berarsitektur eropa dengan dua pilar megah di kedua sisi pintu utama. Dua orang maid membukakan pintu utama dan salah satunya membukakan pintu mobil sebelah kanan, dimana Ino tengah duduk manis di sana. Ino tersenyum dan maid itu membungkuk mempersilahkan sang majikan untuk keluar. Ino pun mengikuti maid itu memasuki rumah besarnya, meninggalkan Sai dengan beberapa belanjaan dalam bagasinya. Dengan dibantu satu maid yang membukakan pintu tadi, Sai membawa seluruh belanjaan tadi ke dapur.
"Jadi Shion dan Karin ditugaskan disini?" Sai bertanya setelah mereka memasuki dapur.
"Iya tuan muda." jawab Shion sopan dengan senyuman cantik di wajahnya. Sai mengangguk – angguk paham.
"Shion, tolong buatkan kami makan malam. Tadi kami tidak sempat mampir ke restaurant." Shion mengangguk dan mulai melaksanakan permintaan Sai. Setelah mencuci tangannya, Sai pun berjalan keluar dapur dan mulai menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Cklek.
"Ino?"
Sai tersenyum mendapati tubuh Ino yang sudah dibungkus selimut hingga lehernya. Tampaknya sang istri sudah sangat lelah. Ia mengusap rambut Ino dan mengecup puncak kepalanya. Ino yang memang belum tidur, membuka sedikit selimutnya dan berbalik menatap Sai dengan raut wajah sedih.
"Aku tak tahu kalau adikku punya masalah rumit seperti itu. Aku tidak menyangka kalau Sasuke sering membully nya. Aku bukan nee-chan yang baik untuknya. Aku bahkan tak bisa melindunginya dari tangan – tangan jahil itu." Sai tersenyum dan mengusap rambut Ino sayang.
"Jika kau bukan nee-chan yang baik, pasti kau masuk daftar orang yang dihindari Sakura. Tapi—jika melihat dari cara Sakura menatapmu dan memperlakukanmu secara lembut, sepertinya kau justru berada di nomor teratas dari daftar orang terbaik dalam hidup Sakura." Ino menarik selimutnya hingga bawah dagunya dan menatap Sai dengan pandangan tak percaya. "Ayolah Ino, kau itu nee-channya. Dan dia menyayangimu. Sakura bukan orang yang mudah membenci orang lain kan? Buktinya saja dia bersungguh – sungguh meminta maaf pada Sasuke." Tangan kanannya mengelus surai Ino dan sedikit menyingkirkannya sebelum mendaratkan kecupan kecil di dahinya.
"Sai"
"Hm?"
"Terima kasih." Alis Sai terangkat satu. "Karena kau selalu menenangkanku. Aku—menyukainya." Jantung Ino berdegup saat kalimat terakhir keluar dari mulutnya. Dia menundukkan kepala saat merasakan tatapan Sai yang terarah padanya. Tawa kecil dari bibir tipis Sai langsung mendominasi suasana hening beberapa detik yang lalu.
"Itu terdengar seperti kata 'I Love You' di telingaku." Dan pukulan kecil dilayangkan Ino di lengan Sai. Dengan wajah yang memerahInon terus mengumpat suaminya yang selalu saja menggodanya.
"Berhenti menggodaku Sai!"
"Aku kan menggoda istriku. Apa masalahmu, Shimura Ino?" nada suara Sai dibuat seolah tengah marah. Bukannya sebal wajah Ino justru makin memerah.
"Oh—shit! You're jerk! Hate you!"
"Thank you. Love you too."
Cuph.
Satu kecupan singkat di bibirnya berhasil membuat wajah Ino kembali memerah hingga ujung kupingnya. Ia berpaling dan menutup wajahnya dengan selimutnya. Sai yang melihat tingkah menggemaskan Ino hanya bisa mendekatkan tangannya dan menyibak selimut itu perlahan. Ino mengerjap – kerjapkan matanya beberapa kali saat wajah Sai yang bergerak semakin dekat. Saat nafas mereka mulai beradu, Ino menuruti instingnya untuk mulai menutup matanya.
Deg
Deg
Deg
Lagi – lagi jantungnya berdegup kencang saat bibir Sai kembali menyentuh miliknya. Sensasi hangat mulai menjalari tubuhnya. Tangan Sai mendekapnya lebih erat dan kedua tangan Ino secara otomatis melingkari leher Sai. Sai menggerakkan bibirnya dan kedua bibir itu mulai saling memagut. Menimbulkan decakan manis yang mengisi seluruh sudut ruangan. Menjadi melodi indah di telingan keduanya. Lidah saling menyapa dan beradu dalam rongga Ino. Saliva yang entah milik siapa sudah keluar melalui sudut bibir Ino dan mengalir menuju lehernya. Intensitas ciuman itu semakin french dan udara panas mulai mengepul di sekitar mereka. Tangan Sai bergerak lincah di punggung Ino, membuat pola berputar tak beraturan dan membuat Ino merasakan sensasi geli dan nikmat dalam satu waktu. Perasaan membuncah yang baru pertama kali dirasakannya. Aneh. Kenapa dia diam saja saat Sai menyentuhnya? Apa—dia benar – benar telah memiliki perasaan pada pemuda ini?
Ciuman Sai turun ke leher Ino. Mengisap kuat satu titik disana membuat Ino menggelinjang tidak nyaman. Memang ini seharusnya menjadi malam pertama mereka, tapi Sai tak ingin memaksa Ino. Dia ingin Ino sendiri yang memintanya. Tapi ketika mulai menyentuh Ino, rasanya dia tak ingin berhenti menjelajahi makhluk hawa yang paling manis ini, kenapa?
"Euunghh~" Ciuman di leher Ino terlepas dan meninggalkan jejak merah keunguan disana. Tanda paten Sai pada tubuh Ino. Nafas Ino terengah. Disatu sisi Sai ingin melanjutkannya, namun disisi lain, dia tak mau Ino melakukannya hanya atas dasar nafsu. Dia ingin mereka melakukannya atas dasar cinta. Dan sekarang, Sai belum merasakan itu pada Ino. Ino belum sepenuhnya mencintainya.
"Kenapa berhenti?" Ino menatap bingung kearah Sai. Lingkaran tangan di leher Sai terlepas dan mulut Ino berdecak sebal. Kesal karena Sai membangkitkannya tapi tak ada niatan untuk meneruskan. Bibir Sai mengulum senyum dan tangannya mengusap surai Ino.
"Aku ingin kita melakukannya setelah kau siap." Kedua mata Ino menatapnya lucu. "Aku akan menunggu sampai kau benar – benar mencintaiku. Kita melakukan itu bukan untuk suatu keharusan Ino. Aku ingin melakukannya ketika hatimu benar – benar menjadi milikku. Aku takkan menyentuhmu sebelum kau benar – benar membalas perasaanku." Ino tertegun. Dia tak menyangka kalau Sai akan berucap hal dewasa melebihi dirinya. Kadang dia bingung, siapa yang lebih muda disini?
"Kau benar—" Ino memalingkan wajahnya. "Aku memang belum mencintaimu." Matnya terkatup rapat, seolah enggan melihat wajah kecewa yang sering Sai tunjukkan padanya. Dada Ino mulai terasa ditekan oleh sesuatu. Otak dan hatinya tidak sinkron. Dia berpikir kalau dia belum mencintai Sai, tapi kenapa hatinya seolah menyuarakan sebaliknya?
"Aku mengerti. Maka dari itu aku akan menunggumu." Usapan lembut di puncak kepalanya membuat Ino mendongak. Ia balas tersenyum. "Nah, Shion sudah menyiapkan makan malam. Sebaiknya kita turun atau makanannya keburu dingin." Ino mengangguk imut. Sai segera menarik tubuh itu berdiri. Ino mengikutinya dan kini berdiri diatas ranjangnya. Sai yang baru ingin melangkah hanya menatap heran karena Ino tak kunjung turun dari peraduannya. "Apa yang kau tunggu?" Kedua tangan Ino tiba – tiba terulur ke depannya.
"Gendong." rengeknya kemudian. Sai terkekeh kecil sebelum akhirnya menuruti permintaan sang istri –yang bisa dikatakan langka ini.
CONFESSION-SasuSaku-
"Ini masalah serius, Hinata. Aku rasa Sasuke benar – benar membenci Sakura" Naruto berjalan mondar – mandir di depan Hinata, membuat gadis itu berdecak kesal.
"Kau membuatku pusing,Naruto"
"Kalau hanya sekedar benci saja tak apa. Tapi Sasuke itu gila. Dia menyiksa Sakura sebagai ajang balas dendamnya. Oh—kekasihmu sungguh sialan, Hinata. Dia benar – benar membunuh Sakura" Bukannya menanggapi keluhan Hinata, Naruto justru beragumen sendiri. Hinata hanya memutar bola matanya malas. Yeah, Naruyo boleh saja khawatir, tapi kekhawatirannya itu sangat berlebihan. Mana mungkin Sasuke akan membunuh Sakura. "Ini bukan hanya membunuhnya secara perlahan, Hinata. Tapi juga menyiksa Sakura. Sasuke sudah kembali ke sekolah dan tadi pagi dia meletakkan anak ayam mati di loker Sakura, dan Sakura menjerit histeris setelahnya. Ck, keterlauan! Shit!" Kepalan tangan Naruto mendarat secara kasar di permukaan batang pohon oak di taman sekolahnya.
"Tenanglah, Naruto. Kita hanya perlu mencari cara agar Sasuke mau menerima kenyataan itu dan melepaskan Sakura. Hhh—hanya Tayuya yang bisa membantu kita disaat seperti ini." Hinata menundukkan wajahnya.
"Tayuya? Kau gila! Kita akan membangkitkannya dari kubur atau memanggil rohnya, begitu?" Hinata mendesis lalu menjitak puncak kepalanya Naruto dan terdengar kata 'aduh' cukup keras dari bibir sexy nya. "Kenapa memukulku, eoh?"
"Itu hanya sebuah perumpamaan atau pengandaian, Naruto. Kau pikir aku mau berhubungan dengan hantu apa?" Naruto tidak menyahut. Dia sibuk meruntuki sifat jahil Sasuke yang kelewatan itu. Oh—kenapa guru – guru seolah tak mau tahu dengan kelakuan salah satu muridnya itu? Apa karena Sasuke disini sebagai anak sang donatur utama sekolah? Kalau memang begitu, sekolah ini sama saja dengan sekolah lainnya dalam negeri. Selalu tunduk dengan orang yang lebih berkuasa dan memiliki banyak uang. "Kita harus bagaimana?"
"Hhh—aku bingung. Sebaiknya aku mencari tahu hubungan Sakura dengan Tayuya."
"Kenapa kita harus mencari tahu hubungan tentang mereka?"
"Aku merasa ada alasan lain yang lebih kuat kenapa Tayuya mendonorkan jantungnya. Itu pasti akan membantu kita membela Sakura dihadapan Sasuke" Kyungsoo mengangguk paham. "Dan—apa kau tidak sadar?"
"Sadar—sadar apa?"
"Wajah Sakura dan Tayuya itu sangat mirip."
"Eh?" Mata bulat Hinata mengerjap imut. Jari telunjuknya mengetuk – ketuk dagunya pelan seolah tengah berpikir. "Iya ya—kalau di lihat secara teliti dan mendetail, mereka itu memang mirip. Yeah—aku tidak yakin sih, karena aku hanya melihat fotonya. Tapi aku percaya ucapanmu. Hhihi." Naruto menjetikkan jarinya senang. Hinata itu cukup pintar untuk dijadikan partner.
"Nah—untuk sekarang ini, kita hanya perlu menjaga rahasia ini dari Sakura. Sampai kita menemukan hal ganjil lain, tak ada yang boleh mengatakan ini pada Sakura—"
"Tidak mengatakan apa padaku?"
Deg.
Naruto dan Hinata sama – sama mematung mendengar penuturan lembut dan mengintimidasi dari arah belakang mereka. Suara itu, suara Sakura. Naruto tak berbalik dan masih memunggungi Sakura. Jantung keduanya, Naruto maupun Hinata, berdebar saat tatapan tajam Sakura menembus dinding kebohongan mereka.
"Kalian menyembunyikan sesuatu kan?" tambahnya kemudian. Tubuh keduanya menegang seketika. Sakura melangkah semakin dekat membuat Naruto langsung berbalik dan menatap Sakura takut – takut. "Kalian tahu sesuatu tentang Tayuya kan?" Hah—Hinata ingin bumi menelannya sekarang juga.
"I—itu. Itu—"
"Katakan Naruto! Apa yang aku tidak tahu. Ada apa dengan Tayuya dan Sasuke?" Deg. Mata Sakura membulat saat menyadari sesuatu yang ganjil diantara kedua nama itu. "Uchiha –Uchiha Sasuke" ucapnya tergagap. Tangan kanannya membekap mulutnya sendiri. Hinata mencoba mendekat kearah Sakura, namun gadis itu mundur dua langkah. Ia menggeleng – gelengkan kepalanya dan airmata mulai menumpuk di dalam kelopaknya. "Kenapa kalian merahasiakan hal penting seperti ini, hah?!" Sakura membentak dan tetes demi tetes liquidnya mulai berlomba keluar.
"Kami tidak bermaksud—"
"Kalian jahat!" Sakura memotong perkataan Hinata "Kalian sudah tahu tapi kenapa kalian merahasiakannya dariku?! Jadi—jadi selama ini Sasuke membenciku karena itu? Hiks." Sakura berjongkok dan menutupi wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangannya. "Ya Tuhan—hiks. Aku benar – benar jahat pada Sasukel. Dia pantas membenciku. Hiks."
"Tidak Sakura—ini bukan salahmu—"
"Tidak Hinata. Ini salahku. Hiks. Aku memang pantas dibenci. Aku—hiks membuat kesempatan hidup Tayuya sirna. Sasuke pasti menderita selama ini. Dia pasti sangat tertekan selama ini. Dia pasti merindukan Tayuya. Aku—aku—hiks aku bersalah." Sakura mencengkeram erat kemejanya. Lengan blazernya sudah basah oleh airmatanya. Hinata mendekat dan langsung mendekap tubuh ringkih Sakura. Mengusap – usap punggungnya, mencoba menenangkan. Naruto mengacak rambutnya. Dia meruntuki dirinya sendiri yang tak menyadari kehadiran Sakura disekitar mereka tadi.
"Shhh—sudahlah. Semua sudah terjadi. Kami akan membantumu untuk mendapatkan maaf dari Sasuke" Sakura mengangkat wajahnya yang memerah dan basah. Menatap Hinata dengan tatapan memohon. Tangannya mencengkeram lengan Hinata.
"Aku mohon—ceritakan semua yang kalian tahu tentang Sasuke." Dengan sangat terpaksa, Hinata dan Naruto menceritakan semuanya. Bahkan tak terlewat satu pun. Tentu diiringi dengan isakan penyesalan dari Sakura.
CONFESSION-SasuSaku-
Sakura berjalan tanpa arah di koridor. Langkahnya tergesa karena ingin mencari seseorang. Sasuke, yeah—dia ingin mencari Sasuke untuk meminta maaf kembali. Ia abaikan semua tatapan bingung siswa di koridor. Pasti karena penampilannya yang buruk ini. Baju dan rambut yang berantakan sementara pipinya penuh dengan lelehan air mata. Sekarang dia mulai mengerti kenapa Sasuke mengatakan kalau dia pembunuh. Ini alasannya. Alasan kenapa Sasuke sangat membencinya. Dan kini—Sakura kembali merasakan sesak memenuhi rongga dadanya. Perasaan bersalah yang berkumpul dan menumpuk di dalam hatinya.
Dia tak menemukan dimana pun Sasuke berada. Ia menyerah. Langkahnya mulai membawanya ke toilet. Mungkin guyuran air dingin di wajahnya akan terasa menyejukkan dan mengurangi sedikit bebannya. Tanpa menunggu lagi dia membuka pintu toilet. Matanya membulat dan jantungnya mulai berdegup tak tenang. Sudah dua kali ia mengalami hal ini dengan orang yang sama namun lawan main yang berbeda. Sasuke tengah berciuman panas dengan Amaru, kakak kelasnya, di sebuah bilik yang terbuka. Tangan Sasuke yang mulai nakal menyusup di balik kemeja Amaru membuat Sakura memalingkan wajahnya. 'Jantungku lagi – lagi memberontak. Ini aneh—dan menyakitkan.' Dengan seluruh keberanian yang ditumpuknya, Sakura segera membuka suara –atau lebih tepatnya sebuah jeritan.
"SASUKE?!"
Kedua insan yang mendengar teriakan itu langsung melepas pagutannya. Sasuke berbalik dan berdecak kesal saat melihat Sakura memergokinya untuk kedua kalinya. Amaru sendiri tampak membenahi bajunya sebelum akhirnya memilih pergi, sama persis dengan yang dilakukan Mei Terumi dulu.
"Kau lagi. Kau selalu saja mengangguku, Haruno Sakura!"
"Maaf." lirih Baekhyun. Sasuke sedikit tersentak dengan ucapan Sakura yang terdengar lemah, tidak seperti pertama kali ia memergokinya. "Maafkan aku,Sasuke." lanjutnya kemudian. Dan lagi – lagi air mata sialan itu sudah menumpuk di matanya. Membuat pandangannya mengabur saat menatap Sasuke.
"..."
"Aku mohon jangan sakiti Hinata lagi, Sasuke. Sudah cukup kau mengkhianatinya." Hinata berkacak pinggang dan meludah ke samping. Muak dengan sikap sok peduli Sakura. "Bisakah kau putuskan saja hubungan kalian? Kau menyakitinya Sasuke."
"..."
"Sasuke—"
"Berhentilah ikut campur urusanku, Haruno Sakura!" Sakura langsung tertunduk. "Kau itu memang penganggu. Kau membuatku semakin membencimu! Kau memang tak pantas hidup!" Deg. Sakura dapat merasakan hatinya berdenyut sakit. Entah mengapa kalimat Sasuke seolah mengatakan kalau dia memang tak pantas mendapatkan hidupnya, tak pantas mendapatkan jantung Tayuya sebagai penumpu hidupnya selama ini. "Aku muak dengan semua permintaan maafmu itu. Aku benci pada orang yang menghancurkan kebahagian orang lain sepertimu." Sasuke menunjuk kearah Sakura membuat nyali Sakura semakin menciut. "Aku tahu—kau menyukai Sai kan?" Lelehan airmata Sakura semakin banyak.
"Aku tidak—aku—"
"Yeah, kau itu memang pembawa sial dan penghancur kebahagian orang lain. Kau menyukai Sai yang jelas – jelas menyukai Ino. Dasar tak tahu malu! Lalu, kau akan mengacaukan kehidupan mereka berdua seperti kau mengacaukan hidupku?!"
"Aku tidak—hiks aku bukan orang seperti itu, Sasuke!"
"Kau menyedihkan, Sakura! Dan kau pantas mendapatkan ini!"
Byurrr.
Tubuh Sakura mulai terasa basah. Dinginnya suhu toilet serta keadaannya yang tengah menangis langsung membuat tubuhnya mengigil. Entah sejak kapan Sasuke membawa ember dan menyiramkan air padanya. Dari pekatnya warna air di lantai toilet, sepertinya itu air bekas pel. Sasuke tersenyum meremehkan sebelum akhirnya keluar setelah menyenggol bahu Sakura kasar. Saat tangannya ingin meraih knop pintu, dorongan dari luar membuktikan kalau pintu sudah dibuka dari sisi lain. Menampilkan sosok Hinata dan Naruto yang menganga melihat pemandangan di depan mereka. Sasuke hanya menatap mereka datar dan melenggang pergi.
"HEI! UCHIHA SASUKE?! BRENGSEK KAU!" Naruto ingin mengejarnya dan berniat memberikan pukulan lagi, namun tangan Hinata mencegahnya dan mengisyaratkan pada Naruto untuk melihat keadaan Sakura. Naruto dan Hinata pun menghampiri Sakura yang terduduk di lantai dengan tangan yang mengusap – usap hidungnya. Mata keduanya membulat saat hidung Sakura mengeluarkan darah segar.
"Sakura! Kau mimisan!" pekik Hinata kaget. Dia langsung mengambil sapu tangan dari sakunya dan menempelkannya pada hidung Sakura. Menyuruhnya mendongak untuk menghentikan aliran darahnya. "Naruto—cepat hubungi Ino nee-chan!" Dengan sigap Naruto menuruti perintah Hinata. Mengambil ponselnya dan menelephone Ino. "Kenapa kau bisa mimisan hah?!"
"..."
"Astaga! Aku lupa kalau Sakura alergi dingin, nee-chan!" Naruto menepuk jidatnya dengan keras setelah mendengar penuturan Ino di seberang telephone. Naruto mematikan sambungan beberapa menitnya tadi, lalu menghampiri Sakura yang dipapah Hinata keluar.
"Apa kata Ino nee-chan?"
"Kita disuruh membawanya ke UKS. Sakura alergi dingin. Dia selalu mimisan kalau sampai terkena hawa dingin yang berlebihan. Sebaiknya kita menyuruhnya istirahat sebelum nanti dia mengigil karena demam." Hinata mengangguk. Dengan keyakinan penuh akhirnya Naruto menggendong Sakura di punggungnya –dengan dibantu Hinata butuh kehangatan sekarang. Hinata yang berada di belakang Naruto tersenyum miris.
'Aku tahu kau sangat mencintainya, Naruto. Perhatianmu pada Sakura melebihi perhatian seorang teman. Yeah—setidaknya aku tahu kalau ada orang sebaik kau yang akan menjaga Sakura. Lebih baik dari siapapun.' Dan bisa dipungkiri lagi, kalau Hinata tengah menahan rasa cemburu di hatinya, yang entah sejak kapan dia mulai menyadarinya. Kalau dia memang telah jatuh ke dalam pesona Naruto.
UKS
"Eungh~" Sakura mengerjap – kerjapkan matanya perlahan. Disusul dengan pemandangan raut wajah khawatir dari teman – temannya. Apa tadi dia pingsan?Sakura mendudukan dirinya dibantu oleh Ino. "nee-chan—" panggilnya lemah. Ino mengeratkan genggamannya. "Aku pingsan ya?"
"Heum." Ino mengangguk. "Jangan terlalu memikirkan banyak hal. Kau harus rileks mulai sekarang. Banyak istirahat dan—HEI! SAKURA!" Ino berteriak saat Sakura melompat dari ranjangnya dan berlari keluar. Mengabaikan teriakan Ino dan NaruHina darisana. Berlari kencang agar mereka tak dapat menangkapnya. Oh—pasti Sakura akan mencari Sasuke lagi. Beruntung, karena jam pelajaran baru telah dimulai sedari tadi, akan memudahkan pencarian Sakura dan Sasuke pasti membolos sekarang. Ia yakin.
CONFESSION-SasuSaku-
Terlihat seorang pemuda dengan tinggi diatas rata – rata tengah mencengkeram kerah gadis yang lebih kecil darinya. Mereka, Sasuke dan Sakura. Sasuke menatap sinis kearah Sakura sedangkan gadis mungil itu hanya tersenyum. Mengabaikan rasa perih di wajahnya yang lebam, ulah Sasuke pastinya, dan entah sudah keberapa kali wajahnya seperti ini. Ia harus siap – siap mendapat omelan lagi dari orang tuanya nanti.
"Sebaiknya kau enyah dari hidupku Haruno Sakura."
"Kenapa? Apa kau merasa terganggu dengan kehadiranku disekitarmu? Apa alasanmu?" Sakura berujar tenang, menahan perasaan bersalah yang semakin memenuhi dadanya hingga terasa sesak.
"Kurasa aku terlalu baik padamu Haruno Sakura. Seharusnya aku membunuhmu dari dulu. Dasar tidak berguna!" Sakura tersenyum kembali.
"Itu yang kuinginkan Sasuke-san. Sepertinya aku akan sangat berterima kasih jika kau membantuku untuk membunuh diriku yang tak berguna ini." Sasuke melepaskan cengkeramannya secara kasar membuat Sakura terhempas kearah pohon oak di belakangnya. Mereka memang tengah berada di taman belakang sekolah, dan jam pelajaran yang masih berlangsung menguntungkan Uchiha Sasuke untuk menyiksa Sakura tanpa diketahui siapapun.
"Benar—kau memang sangat tidak berguna!"
"Aku ingin tahu. Sebenarnya apa yang membuatmu membenciku heum?" Sasuke memutar kedua bola matanya malas. Senyuman Sakura benar – benar memuakkan dan menjatuhkan harga dirinya. "Sabaku tayuya, heum?" Mata Sakura membulat. "Apa kau pikir aku tak tahu kalau semua yang kau lakukan padaku adalah ajang balas dendammu karena Tayuya memberikan jantungnya padaku. Kau menganggapku telah membunuh Tayuyamu, begitukah?" Tangan Sasuke mengepal kuat. Hatinya juga berdenyut sakit saat seringaian Sakura melebar. Seringaian yang tampak sangat menyedihkan.
"..."
"Tapi kau salah besar Sasuke. Aku tak pernah memintanya untuk melakukan itu. Aku bahkan tak tahu kalau dia meminta hal itu sehingga membuatnya harus kehilangan nyawa." Sakura tertawa miris. "Untuk itu—aku meminta maaf padamu, Sasuke. Karena aku, kau kehilangan Tayuya" Tatapan sendu Sakura beradu dengan mata elang Sasuke. "Sebegitu cintanyakah kau pada Tayuya sampai kau melakukan ini semua? Apa sebegitu bencinya kau padaku? Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?" Wajah Sakura memerah, menahan semua liquid bening di pelupuk matanya.
Nafas Sasuke mulai memburu, dadanya naik turun menahan gejolak amarah dalam dirinya. Ada rasa kesal dan—iba? Sedih? Entah kenapa hatinya ikut sedih dan dadanya terasa sesak dihimpit oleh benda tak kasat mata. Ia juga tak mengerti ada apa dengan hatinya. Apa dia akan puas setelah membuat Sakura menderita? Tapi—kenapa mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur di bibir Sakura membuat dadanya makin sesak? Apa mungkin ia merasa bersalah karena telah menyakitinya? Sasuke mundur beberapa langkah, ia tak mampu menjawab semua pertanyaan Sakura. Ia terlalu...bingung.
"Kau tak bisa menjawabku?" Sakura mengusap wajahnya.
"DIAM!" gadis yang lebih kecil menunduk. "Jangan membicarakan hal itu denganku! Kau tak pantas menyebutkan nama Tayuya di depanku!" Akhirnya Sakura terdiam. Tak dipungkiri kalau ia tengah ketakutan sekarang. Jadi, ia memilih untuk tidak membicarakan Tayuya.
"Jika kau mau, aku akan menghilang dari hidupmu, Sasuke. Bisakah kau berhenti mempermainkan Hinata?" Sasuke tak bergeming. "Aku tahu kau tak pernah benar – benar mencintainya."
"Ya." Sasuke menggumam. "Aku memang tak pernah mencintai Hinata. Aku hanya ingin membuatnya jauh darimu dan membuatmu makin menderita. Aku membencimu Haruno. Sangat membencimu. Kau hanyalah orang menyedihkan. Itulah yang membuatku semakin membencimu. Aku benci orang lemah sepertimu ada dihadapanku. Aku benci semua yang ada padamu,Haruno Sakura. Dan aku paling benci karena kau hidup dengan jantung kekasihku." Sasuke bertutur lirih namun penuh penekanan. Matanya lebih memilih menatap tanah di bawahnya, enggan melihat wajah Sakura yang semakin menyedihkan.
"Yeah, jika ada dua orang yang saling benci hidup di tempat yang sama, maka akan merugikan orang lain. Maka dari itu, salah satu dari kita harus ada yang pergi bukan?" Sasuke tertawa hambar dan menyeringai sinis.
"Pergi. Pergilah Haruno Sakura."
"Tentu. Aku akan pergi dari hidupmu. Seperti katamu, aku terlalu menyedihkan untuk hidup di dunia yang sama denganmu." Sakura beranjak pergi. Meninggalkan Sasuke yang setia mematung disana. 'Kenapa hatiku sakit sekali?' Sasuke menyentuh dadanya yang entah mengapa semakin lama semakin sesak. Rasanya sangat aneh. Melihat punggung Sakura yang semakin menghilang, seolah membuat oksigen di paru – parunya juga ikut lenyap. Entah apa yang dirasakannya ini. Ia juga tak mengerti.
"Uchiha Sasuke?" Sasuke menoleh dan sedikit tersentak mendapati Hinata tengah tersenyum padanya. "Aku melihatnya. Aku mendengar semuanya." Hinata menghela nafas dan menatap sedih kearah Sasuke. "Kecewa memang, tapi aku tak mau terjatuh semakin dalam olehmu. Maka dari itu, hubungan kita berakhir sampai disini." Sasuke membuang nafas dan mengusap wajahnya kasar.
"Hhh—terserah kau saja." Sasuke hendak pergi, tapi suara lembut Hinata berhasil menginterupsinya.
"Jika kau mau ikut aku di hari Sabtu sepulang sekolah, aku akan sangat berterima kasih padamu Sasuke. Anggap saja itu hutangmu padaku karena telah mempermainkanku." Sasuke berbalik dan menyerngit heran. "Anyway, ini berhubungan dengan Tayuya dan Sakura." Tanpa berpikir lagi, Sasuke mengangguk dan meneruskan langkahnya yang tertunda.
CONFESSION-SasuSaku-
Sasuke berulang kali mengusap wajahnya dan mengerang frustasi. Kenapa melihat wajah Sakura yang seperti itu selalu mengingatkannya pada Tayuya? Kenapa dia selalu terbayang wajah Sakura yang basah karena airmata itu? Kenapa dia harus lemah hanya karena kemiripan mereka? Seharusnya dia senang jika Sakura berniat pergi dari hidupnya. Tapi kenapa ada sesuatu yang membuatnya frustasi? Perasaannya. Kenapa perasaannya bisa selemah ini? Kenapa dia harus punya perasaan kalau hanya berfungsi untuk mengasihani orang lain? Kasihan? Apa benar hanya rasa kasihan?
"Aaargh!"
"Berhenti mengacak rambutmu seperti itu, Sasuke!" Itachi mengomel kesal karena melihat tingkah Sasuke yang sangat menyebalkan sedari tadi. "Kau kenapa?"
"Haruno Sakura sialan!" Bukannya menjawab, Sasuke justru berteriak makin menggila. Untung saja mereka di rumah berdua dengan beberapa maid. Kalau ada ayah dan ibunya, pasti Sasuke sudah ditendang dari rumah karena bersikap layaknya orang gila seperti itu. Itachi yang mendengar nama itu disebutnya tentu saja kaget. Gelas jus di tangannya ia taruh kembali. Ia pun menghampiri Sasuke dan duduk di sebelahnya.
"Apa kau menyiksa anak itu?" Sasuke menatap datar kakaknya sebelum akhirnya mendengus dan memalingkan wajahnya kearah lain. "Kau akan menyesal Sasuke!"
"Ini bukan urusanmu!" ketus Sasuke.
"Seharusnya kau tidak memperlakukan Sakura seperti itu, Sasuke. Tayuya takkan menyukai dirimu yang seperti ini."
"Apa maksudmu?!" Nada suara Sasuke terdengar sangat jengkel. Kenapa semenjak Itachi bertemu Sakura, laki-laki yang lebih tua 3 tahun darinya itu seperti terus membelanya. Apa semua orang memang selalu membelanya? Bahkan Hinata yang dia kira sudah jatuh dalam pesonanya justru memilih mengakhiri hubungan mereka dan kembali bersama Sakura. Sai juga selalu menasehatinya layaknya orang tua, dan Sasuke sangat jengkel akan hal itu juga. Oh—kepala Sasuke serasa ingin pecah sekarang.
"Kau memang tak tahu apa – apa, Sasuke." Mata menatap Itachi bingung.
"Ck, sebenarnya apa yang kau bicarakan?!" Emosi Sasuke benar – benar tersulut. Bahkan sedari tadi dia memanggil kakaknya dengan sebutan 'kau'. Tanda kalau Sasuke benar – benar tengah marah.
"Besok kita akan berkunjung ke rumah keluarga Sabaku. Sebaiknya kau mendengar sendiri dari mereka." Itachi beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Sasuke yang termangu dengan perasaan bingung dalam hatinya. Apa yang perlu mereka bicarakan? Memangnya apa hubungan Sakura dengan Tayuya? Apa yang tidak diketahuinya selama ini? Dan suara bantingan vas bunga pun akhirnya memecah kesunyian malam itu.
-TBC-
Update kilat ni^^
Mind To Review?
