CONFESSION

By : Scarlet.44

Remake From : Blood Type-B

Pair : SasuSaku, other pair

Warning : OOC, typo, etc

.

.

.

.

.

.

Chapter 7

Bel istirahat baru saja berbunyi lima menit yang lalu, namun Hinata tak menemukan keberadaan Sakura di bangkunya. Pagi ini dia mendiamkan Hinata karena kejadian di taman waktu itu. Ia mendesah kecewa, tidak menyangka kalau Sakura akan mengetahui semua rahasia ini secepat itu. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah meminta maaf. Dia tak mau kalau Sakura membencinya. Sudah banyak masalah terjadi diantara mereka dan Hinata tak mau memperkeruh keadaan. Tangannya mengobrak – abrik isi tasnya untuk mencari ponselnya. Setelah menemukan smartphone berwarna putih itu, ia segera mendial nomor yang tercantum dengan nama 'Naruto'.

"moshi—"

"Naruto, kita cari Sakura. Aku rasa dia masih marah pada kita." potong Hinata.

"Sekarang? Aduh—tidak bisa! Aku dihukum Tsunade sensei, Hinata. Tadi aku lupa tidak mengerjakan PR." Hinata membuang nafas jengkel. Naruto itu selalu saja melakukan hal – hal memalukan seperti itu. Tidak mengerjakan PR, tidur di kelas, membolos, pura – pura sakit lalu tidur di UKS, dan lainnya. Alasan konyol yang terlalu populer di kalangan anak sekolahan. Mana ada guru yang akan percaya dengan alasan yang selalu sama setiap harinya seperti itu? Kalau Naruto menjadi kekasihnya, Hinata pasti sudah menjambak rambutnya frustasi. Eh? Kekasih? Apa yang kau pikirkan Hinata!

"Baiklah. Aku akan mencarinya sendiri. Ck—dasar bodoh!"

"Hei, jangan memanggilku seperti itu. Aku ini pintar, hanya bosan sekolah saja." Mata Hinata berputar malas. Tingkat kepedean Naruto sepertinya mulai naik rating. Dari tampan di tambah kata pintar untuk sekarang, dan itu bukan Hinata yang mengatakannya ok? Dia mengakuinya sendiri. Mengargumenkan kalau dirinya itu pintar, tampan dan seksi. Euh.

"Whatever! Aku akan mencari Sakura. Bye."

"Ok, bye."

Pip.

Hinata berlari – lari kecil saat menemukan sosok Sakura yang tengah bersandar di pohon oak kesayangannya di taman sekolah. Dia tersenyum kecil saat melihat dahi Sakura berkerut. Jemari lentiknya membalik halaman dari buku yang dipegangnya. Kelihatannya dia tengah menikmati novel yang dibacanya. Dengan langkah perlahan Hinata menghampiri sosok sahabatnya itu dan duduk tepat di sampingnya, memeluk kakinya sendiri sementara matanya melirik isi bacaan Sakura.

"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Sasuke." ujarnya tiba – tiba. Sakura langsung teralih dari bukunya untuk menatap Hinata yang duduk di sampingnya. Sakura hanya menganggukkan kepalanya dan kembali meneruskan bacaan novelnya. Hinata memainkan jarinya dan mengigit bibir bawahnya karena terlalu gugup. Entah kenapa perasaan bersalahnya semakin membesar sekarang. Kenyataan pahit yang diterimanya adalah semua kesalahan sendiri. Ia teringat bagaimana Sakura yang menderita selama ini karena dia tak mempercayainya, dan karena rahasia kemarin, dia semakin meruntuki kebodohannya karena tidak pernah memperhatikan Sakura selama ini. Sahabat macam apa dia ini? Apa rasanya sesakit ini ketika ia dulu mengacuhkan Sakura? Hinata menyandarkan tubuhnya pada pohon oak itu dan memperhatikan Sakura yang bahkan tak terusik oleh kehadirannya. Helaan nafas terdengar lagi dari mulut Hinata. Ia sangat merasa bersalah pada Sakura.

"Sa—kura." Sakura tak bergeming. "Gomen-ne Sakura-chan" lirih Hinata. Sakura berhenti membaca, namun tak menoleh sedikit pun kearah Hinata. "Semua ini salahku karena tak mempercayaimu. Aku terlalu dibutakan oleh bualan Sasuke. Maafkan aku Sakura-chan. dan—" Hinata menunduk. "Maaf telah merahasiakan tentang masalah Tayuya dan Sasuke." Kali ini, helaan nafas keluar dari mulut Sakura. Ia menutup bukunya dan menatap Hinata lembut.

"Aku mengerti." Hinata mengangkat wajahnya dan menemukan Sakura yang tengah tersenyum padanya. "Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu, kalian, kau dan Naruto." Sontak Hinata langsung memeluk Sakura. Begitu mudahnya Sakura memaafkan atas semua kesalahannya –sejak awal. Mungkin apa yang pernah dikatakan Naruto memang benar, Sakura memang malaikat kecil mereka.

"Maaf Sakura-chan."Hinata mengeratkan pelukannya. "Terima kasih, teman."


CONFESSION-SasuSaku-


Sejak kejadian di taman waktu itu, Sakura benar – benar menghindari Sasuke. Namun bukan ingin menghindar dari tanggung jawabnya toh Sakura tetap mengirim surat ke loker Sasuke yang berisikan kata – kata maaf, hanya menghindar untuk tidak bertatapan muka dengan Sasuke. Dan setiap hari pula Sasuke menyobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dia benci kata – kata maaf Sakura. Tapi dia tak tahu kenapa, melihat Sakura yang terus menghindarinya membuat dia merasa aneh. Walaupun mereka sekelas, namun tak sekalipun Sakura meliriknya. Bahkan ketika dia –Sakura, sebagai ketua kelas tengah membagikan buku tugas para siswa, dia hanya akan meletakkan buku Sasuke diatas mejanya tanpa melirik pemiliknya. Dan anehnya, Sasuke merasa tak suka dengan sikap Sakura yang seperti itu. Ia merasa, Sakura tak benar – benar merasa bersalah padanya.

Ini hari Sabtu, dimana dia telah membuat perjanjian dengan Hinata. Mungkin gadis itu mengajaknya berkencan untuk terakhir kalinya. Hhh—entahlah. Sekarang Sasuke dan Hinata tengah pulang bersama dengan berjalan kaki. Hinata yang berjalan di depannya, sedangkan Sasuke mengekor di belakang, mengikuti kemana Hinata membawanya. Sesekali ia menatap punggung Hinata atau melirik daerah sekitar yang tidak terlalu asing dimatanya.

"Kita akan kemana?" Sasuke bertanya karena Hinata tak kunjung membuka suara sejak keluar dari gerbang sekolah, membuatnya bingung karena langkah kaki mereka membawa keduanya menuju—pemakaman?

"Kita akan menemui Tayuya" ujar Hinata tanpa mengalihkan pandangannya.

"Hh?" Sasuke sedikit tersentak saat Hinata mengatakan nama itu. Ternyata gadis ini tahu tentang Tayuya? Dia benar – benar mendengar percakapannya dengan Sakura? Atau memang Hinata telah mengetahuinya lebih dulu. "Ck, aku tidak tahu apa maumu. Tapi ayo selesaikan ini dan pulang. Aku lelah." Nada suara Sasuke yang terkesan dingin berbanding terbalik dengan isi hatinya yang bertanya – tanya akan rencana Hinata –yang bahkan ia tak bisa menebaknya sama sekali.

"Sstt—sebaiknya kau diam dan ikuti aku,Sasuke" Sasuke memutar bola matanya malas. Tiba – tiba Hinata menghentikan langkahnya, menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya kemudian tersenyum simpul. Ia menarik tangan Sasuke bersembunyi di balik pohon –tempat dimana ia bersembunyi dulu.

"Hei, apa – apaan ini?!" tanya Sasuke sedikit emosi karena sikap Hinata yang tak mengenakkan. Dia tadi mengajak ke makam Tayuya, sekarang justru bersembunyi. Sebenarnya apa mau gadis bermata violet ini? Sasuke mendengus dan mengacak rambutnya frustasi. Kepalanya terlalu pusing untuk menebak – nebak maksud dan tujuan Hinata mengajaknya kesini.

"Diamlah atau kita akan ketahuan. Tunggu lima menit lagi dan kau akan tahu." Dengusan Sasuke menandakan kalau ia tengah jengkel. Semua yang dikatakan Hinata hanya membuatnya makin penasaran tanpa ada penjelasan sedikit pun. Setelah lima menit lebih menunggu, apa yang dilihatnya benar – benar membuatnya tercengang. Ia melihat Sakura berlari – lari kecil dengan membawa bunga, sementara Naruto dibelakangnya tengah berjalan santai dengan menyimpan kedua tangannya di saku celananya. Mata Sasuke membulat saat melihat Sakura berhenti di makam kekasihnya, Tayuya.

"Apa yang dilakukannya?"

"Lihat saja." Senyum lebar terpampang di wajah Hinata. Membuat Sasuke semakin merasakan hal aneh pada hatinya. Ia dapat melihat Sakura dan Naruto yang memandang kearah foto Tayuya dan tangan Sakura mengusap foto itu. Dua tangkai bunga tulip putih yang dibawanya, ia letakkan di samping foto itu.

"Apa maksudmu menunjukkan ini padaku?" Hinata memutar badannya dan melipat kedua tangannya.

"Tidakkah hatimu tersentuh oleh perlakuan Sakura selama ini? Setiap akhir pekan ia pasti memintaku atau Naruto menemaninya ke makam Tayuya untuk berkunjung. Dia berharap, dengan begitu dia akan dipertemukan denganmu dan meminta maaf padamu." Hinata menerawang dari balik pohon, melihat Naruto dan Sakura tengah bercakap dengan foto Tayuya. Seolah mereka berbicara langsung pada Tayuya.

"Hhh—ini hanya rencana kalian kan?" Sasuke tertawa remeh. Dia mungkin tersentuh kalau ini bukan rekayasa mereka. Tapi menurutnya, ini hanyalah bualan yang direncanakan mereka agar Sasuke memaafkan Sakura. Tak mudah baginya mempercayai semua ini. Semua terasa sangat ganjil di matanya. Seolah banyak kata 'tidak mungkin' dan 'bohong' dari dalam otaknya.

"Apa kami terlihat sedang berakting di matamu? Tidakkah kau melihat ketulusannya? Dia selalu menangis karena merasa bersalah padamu!" Emosi Hinata sedikit tersulut. Mungkin permintaan maaf ini begitu konyol di mata orang lain, tapi tidak bagi Sakura. Hinata tahu, Sakura bukan tipe orang yang mudah melupakan masalah dalam hidupnya. Dia pasti akan meminta maaf sekecil apapun kesalahannya. Dan seenak jidat saja Sasuke menumpahkan semua pada Hinata. Bertindak seolah Hinata lah yang paling bersalah disini. "Bahkan Sakura sempat marah padaku dan Naruto karena tidak memberitahukan tentang hubungan Tayuya denganmu!"

"Jadi kau tahu bahkan sebelum Sakura?" Hinata meremas tangannya menahan rasa kesalnya yang menumpuk.

"Yeah—Naruto yang tahu lebih dulu. Tidak sengaja tahu, tepatnya." Sasuke mengedarkan pandangannya pada Sakura. Yeah—dia sadar, apa yang dilakukan mereka terasa nyata dan bukan akting. Tak mau semakin merasakan hal aneh itu, Sasuke memalingkan wajahnya.

"Aku pulang." ujarnya kemudian. Sasuke beranjak pergi, meninggalkan Hinata yang menatap sendu kearahnya. Sasuke memejamkan matanya barang sebentar. Kepalanya terasa sakit dan pening. Yeah, terlalu banyak hal yang dipikirkannya sekarang. Ini itu dan semua hal menyangkut satu nama, Sakura. gadis mungil itu benar – benar telah menyita seluruh perhatiannya. Sasuke mendongak menatap langit sore yang mulai gelap. Ia menghela nafas perlahan, menahan sesak yang tiba – tiba saja meremas dadanya dengan sangat kuat.

Untuk pertama kalinya, Sasuke merasa bersalah pada Sakura.


CONFESSION-SasuSaku-


Jam di dinding sebuah bar menunjukkan bahwa ini pukul 1 dini hari. Di sebuah meja bar, terlihat seorang pemuda menenggak segelas minuman beralkohol. Dari raut wajahnya yang memerah dan pergerakan gelasnya yang melambat, ia pasti sudah menghabiskan beberapa botol minuman itu. Dia, Uchiha Sasuke. Setelah pulang dari rumah keluarga Sabaku bersama kakaknya semalam, dia memutuskan kesini. Menghabiskan sisa malamnya dengan beberapa botol alkohol yang menemaninya. Semua terasa berat baginya. Dan satu nama itu lagi yang membuatnya terlihat menyedihkan seperti ini.

"Apa yang kau—huks lakukan padaku, Haruno Sakura?!" rancaunya dengan cegukan dalam kalimatnya, menandakan kalau ia memang telah mabuk berat. "Kenapa kau membuatku seperti ini—hahh!." Sasuke menatap sekeliling bar dan mendengus kesal saat melihat beberapa pasangan intim tengah bercumbu di setiap sudut ruangan. "HEY KAU! BERIKAN AKU BOTOL LAGI!" teriaknya pada bartender di depannya.

"Heum—tuan, anda sudah menghabiskan 3 botol."

"SHIT!" Sasuke mencengkeram kerah bartender yang melayaninya. "BERIKAN BRENGSEK! AKU AKAN MEMBAYARNYA—huks. BODOH!" Setelah melepaskan cengkeramannya, bartender itu menuruti perintah Sasuke untuk mengambilkan satu botol lagi. Kepala Sasuke langsung merebah lemah di meja bar. Kepalanya sudah berkunang dan pandangannya buram. Ia tertawa bodoh. Namun jika dilihat secara seksama, sudut mata kanannya meneteskan liquid bening. Mengalir dan masuk ke dalam mata kirinya, lalu mengalir kembali melalui sudut mata kiri hingga jatuh menjadi genangan di meja bar. Yeah—Sasuke menangis. Bahkan ia tak tahu pasti apa yang membuatnya menangis. Kenapa perasaannya begitu lemah? Kenapa dia selalu kalah dengan perasaannya? Kenapa dia—sangat merasa bersalah pada Sakura?

"Sabaku Tayuya, sebenarnya bukan anak kandung kami, Sasuke. Dia anak angkat kami. Kami mengangkatnya sewaktu dia masih bayi karena kami tak kunjung memiliki keturunan. Tentu kami mengangkatnya dari keluarga yang kami kenal baik karena kami adalah teman bisnis."

Sasuke tertawa miris. Liquid demi liquid mulai mengalir dengan bebas. Wajahnya semakin memerah dan basah. Entah apa yang ditangisinya, ia tak tahu. Menyesalkah? Sangat. Ia sangat sangat menyesal.

"Dia—dia anak kandung keluarga Haruno. Saudara kembar Haruno Sakura, Haruno Tayuya. Tayuya tahu tentang itu, karena kami memberitahunya. Setiap akhir pekan, orang tua kandungnya akan bertemu dengan Tayuya dan Tayuya tidak mempermasalahkan tentang pengangkatan dirinya dalam keluarga Sabaku. Karena baginya, kami juga keluarga."

Saudara kembar? Sasuke kembali tertawa. Konyol. Hidupnya terasa konyol sekarang. Itukah jawaban dari keanehannya selama ini? Kemiripan Sakura dengan Tayuya, jadi ini alasannya? 'Hhh—kau menyedihkan Uchiha Sasuke'

"Kedua saudaranya tak ada yang tahu kalau mereka masih memiliki Tayuya. Kalau tidak salah, Ino memang masih berumur 2 tahun saat itu. Tayuya juga tak mempermasalahkan itu. Berulang kali orang tuanya menawarkannya untuk bertemu Sakura dan Ino, tapi dia menolak. Karena Tayuya tahu, hidupnya tak akan lama lagi untuk lebih mengenal saudara – saudaranya. Ia tak mau mereka memiliki kenangan buruk bersamanya."

Sasuke merasa dipermainkan sekarang. Hidupnya bagaikan drama yang telah ditulis dalam lembaran usang. Kusam, kusut, lusuh, dan miris. Kisah yang ia tak tahu seperti apa endingnya. Mungkin hanya penyesalan saja yang tertulis dalam kisahnya. Menyedihkan dan betapa buruknya perangainya. Dalam hatinya kini hanya tersisa penyesalan. Penyesalan yang mungkin sangat sulit untuk diakuinya kelak.

"Tayuya terkadang diam – diam selalu memperhatikan saudaranya. Entah itu Ino atau Sakura. Dan suatu hari saat Tayuya harus dirawat di rumah sakit, dia juga terkejut karena saudara kembarnya mengalami gagal jantung. Sampai akhirnya Tayuya memberanikan diri bertemu Sakura. Dekat dan bersahabat dengannya."

Sasuke menenggak kembali minumannya. Ia meringis ketika merasakan lidahnya sudah mati rasa, terlalu banyak merasakan sensasi dingin dan menusuk dari minuman beralkohol itu. Sakura, wajahnya serasa terus berputar dalam ingatan Sasuke. Bagaimana ekspresi gadis itu saat dia menyiksa Sakura dan memperlakukannya dengan sangat tidak manusiawi. Bagaimana saat pertama kalinya, Sasuke melihat mata emerald gadis itu menangis di depannya.

"Dan pada hari 'itu', Tayuya mengalami masa buruk. Dia pingsan setelah berjalan – jalan bersama Sakura. Dokter bilang, kesempatan hidupnya hanyalah tinggal 10% saja. Kami putus asa, kami tak tahu apa yang harus kami lakukan selain menghubungi keluarga kandungnya yang juga tengah menunggui Sakura. Setelah Tayuya siuman dan mengetahui semuanya, dia berkata pada kami dan orang tuanya, bila dia ingin jantungnya di donorkan pada Sakura. Ini adalah alasan utama Tayuya mendonorkan jantungnya, dia ingin selalu hidup bersama Sakura. Dia merelakan hidupnya demi saudaranya. Dengan jantung yang berada di dalam tubuh Sakura, meyakinkannya untuk selalu hidup bersama Sakura. Bersama saudaranya."

"Aaarggh!" Sasuke mengerang frustasi. Ia mencengkeram gelasnya, membuat beberapa tetes air bercipratan keluar. "Kenapa kau membuatku seperti ini, Haruno Sakura! Aku membencimu! Sangat membencimu!" teriaknya frustasi. Mengabaikan seluruh pandangan bingung dan iba dari setiap manusia yang menghabiskan waktunya disini. Sasuke berdiri dari duduknya, berjalan gontai kearah kamar yang telah dipesannya. Menolak setiap rayuan gadis malam yang ditujukan padanya. Ia ingin istirahat sekarang. Ia menutup kasar pintunya sebelum akhirnya menjatuhkan diri atas ranjang. Matanya semakin memburam dan kepalanya semakin pusing. Ia tersenyum kecil saat melihat di sudut kamarnya, bayangan seorang gadis yang menatapnya dengan wajah sendu dan sedih.

"Tayuya-chan. Aku harus bagaimana?"

Dan suara lirih Sasuke menjadi kalimat terakhir sebelum ia kehilangan kesadarannya.


CONFESSION-SasuSaku-


Di atap sekolah, terlihat dua orang tengah berkutat dengan kesibukannya masing – masing. Naruto yang merebahkan dirinya di lantai atap sembari membaca komiknya, sedangkan Hinata lebih memilih menikmati angin sore dan sekali – kali mencuri pandang kearah pemuda berkulit tan disampingnya itu. Ia mengulum senyum. Entah mengapa menghabiskan waktu bersama Naruto selalu membuatnya nyaman. Seperti sekarang ini, seharusnya mereka sudah memasuki kelasnya dan mengikuti jam pelajaran terakhir namun keduanya justru membolos bersama di atap.

"Naruto" panggil Hinata.

"Hn?" Naruto hanya menggumam tanpa mengalihkan pandangannya dari komik yang dibacanya. Membuat Hinata mendengus kesal. Walau pun dia keren dan yeah—orangnya friendly, tapi Naruto itu sangat menyebalkan, Hinata harus akui itu.

"Naruto" panggilnya lagi, berharap Naruto akan segera menatapnya.

"Ada apa, Hinata?" Hinata mengerucutkan bibirnya lucu karena Naruto sama sekali tak mengindahkan panggilannya. Walau pun membalas panggilannya, tapi dia tak mau menatap Hinata. Membuat gadis bermata violet itu makin jengkel. Akhirnya dengan sekali tarikan, ia berhasil merebut komik Naruto dan membuat perhatian pemuda berkulit tan itu teralih. Hinata tersenyum puas saat melihat wajah kesal Naruto. "Ada apa, Hinata?!" tanya Naruto penuh penekanan dan Hinata terkikik geli.

"Kalau bicara itu tatap lawanmu." protesnya kemudian. Naruto menghela nafas sebelum akhirnya bangun dan menatap Hinata di depannya dengan pandangan yang dingin dan menusuk. Hinata yang dipandang intens seperti itu tak bisa memungkiri kalau jantungnya berdegup tak tenang dan wajahnya mulai terasa panas. Baru pertama ini Naruto memandangnya dengan raut wajah serius seperti itu.

"Apa yang ingin kau bicarakan heum?" Naruto bertanya lembut, menambah tempo detakan jantungnya menjadi semakin cepat.

"Eh, itu...anu—err.." Hinata menggaruk pipinya saat kalimatnya tersendat – sendat. Oh, ekspresi dan suara lembut Naruto benar – benar membuatnya gugup. Ingat! Hanya suara. Tetapi jantungnya sudah kalang kabut seperti itu. "Itu, bagaimana menurutmu, Sakura dan Sasuke?" tanyanya setelah berhasil menetralkan detak jantungnya. Naruto terlihat mengerutkan dahinya, tengah berpikir. Ia menegakkan tubuhnya sebelum akhirnya menjawab.

"Aku tidak tahu. Apa kau benar – benar mengajaknya ke makam Tayuya kemarin?"

"Yeah, mau bagaimana lagi. Aku tak punya cara lain untuk mendamaikan mereka. Aku harap setelah ini Sasuke menyesal dan mau mengerti." Naruto mengangguk – angguk paham. Dia maupun Sakura memang tak mengetahui perihal Hinata yang mengajak Sasuke ke makam Tayuya untuk menjadi stalker mereka. Hinata hanya memberitahunya semalam lewat telephone. Tapi Naruto ragu, akankah cara Hinata berhasil? Melihat bagaimana keras kepalanya Sasuke, ia tak yakin.

"Apa Sasuke tidak berpikir kalau mungkin saja itu akting?" Hinata memejamkan matanya dan mengusak rambutnya sendiri. Jujur, sama dengan Naruto, ia juga tak yakin. Kemarin Sasuke tampak acuh dengan pemandangan di depannya. Seolah melihat Sakura ke makam Tayuya itu adalah hal yang biasa. Seperti saat ia menceritakan tentang Sakura yang ke makam setiap akhir pekan serta memberi bunga kesukaan Tayuya itu, ekspresi yang ditunjukkan pemuda raksasa itu tampak biasa saja. 'Sasuke, ku mohon percayalah padaku.' doanya dalam hati.

"Aku sudah meyakinkannya, Naruto. Memangnya kita kemarin terlihat berpura – pura? Aku tak memberitahumu masalah ini kan?" Naruto terkekeh kecil dan meraih tangan Hinata yang sibuk mengusak rambutnya sendiri. Memainkan jari Hinata yang entah sejak kapan mulai menjadi favoritnya.

"Yeah, semoga saja setelah ini Sasuke sadar dan semua baik – baik saja." Naruto mengaitkan jemarinya dengan jemari Hinata, mengangkat kedua tangan yang bertautan itu tinggi – tinggi dan menikmati sorotan panas matahari yang menerpa kulit keduanya. "Jarimu lucu. Kecil – kecil begini. Hhaha. Hampir sama dengan milik Sakura." Wajah Hinata perlahan memerah. Gosh, semoga saja Naruto tak menyadarinya. "Tapi—masih lentik jari Sakura. Hhaha." Sontak Hinata menarik tangannya kembali dan bibir kissablenya mengerucut ke depan beberapa centi.

"Naruto, aku boleh bertanya?" Naruto memiringkan wajahnya dan menatap Hinata penuh tanya. Hinata tampak ragu sebelum akhirnya meneruskan argumennya. "Sebenarnya, err... bagaimana perasaanmu pada Sakura? Apa—apa kau menyukainya?" Hinata memejamkan matanya sebentar. Kalimat itu terasa sangat mengintimidasi dan membuatnya gugup menantikan jawaban dari Naruto. Sedangkan Naruto sendiri hanya memandangnya bingung dengan alis yang terangkat satu.

"Kenapa memangnya?"

"Eung—kau terlihat begitu mengkhawatirkannya. Kau—kau pasti sangat menyukai Sakura kan?" Hinata mengigit bibir bawahnya. Takut kalau – kalau jawaban Naruto akan membuatnya membenturkan kepalanya ke tembok setelahnya. Oh ayolah—Sasuke baru saja menyakitinya, dia hanya mau move on dan memperbaiki hatinya kembali. Bisakah Naruto memberinya jawaban yang memuaskan?

"Yeah—" Naruto berujar dengan suara yang berat dan Hinata menatap Naruto dengan pandangan yang tak biasa. "Aku menyukainya. Sangat."

Deg.

Beginikah jawaban Naruto? Apa dia harus menerima ini dengan lapang dada? Hinata dapat merasakan dadanya tertindih benda tak kasat mata itu lagi. Oh sial, matanya mulai berkaca – kaca. Bisakah dia tak sesensitif ini? Bagaimana kalau sampai Naruto tahu tentang perasaannya? Bukankah akan semakin memalukan?

"Dia begitu baik. Sakura itu perhatian, penuh kasih sayang, penyabar, dan friendly. Dia juga tak jelek – jelek amat, cantik malahan. Hahha"

'Hentikan Naruto! Kau menyakitiku!'

"Aku ingat, saat kecil. Dia itu—pernah aku cium karena membuatku iri dengan mainan barunya. Dia tak mau meminjamkannya padaku, jadi aku menghadiahi dia ciuman supaya dia mau meminjamkannya. Dan itu berhasil. Yeah, walau hanya kecupan di pipi, sih." Naruto menerawang kearah langit. Tak menyadari tatapan memburam disampingnya.

'Kau jahat, Naruto.'

"Aku rasanya ingin kembali ke masa kecil kami. Dimana aku selalu bisa melihat senyumnya. Sayang, senyum itu sudah sangat jarang ditampilkan sekarang."

'Sebegitu sayangnyakah kau padanya?'

"Hhh—yeah, aku menyayanginya, sahabat kecilku." Hinata tiba – tiba berdiri, membuat Naruto langsung menegakkan tubuhnya dan menatap tubuh kaku Hinata yang sudah membelakanginya. Kedua tangan Hinata tampak mengepal kuat, menahan perasaannya yang kalut.

"A—ah, aku harus pergi, Naruto. Rasanya ingin ke toilet. Bye." Hinata langsung berlari tanpa mau mendengarkan teriakan Naruto padanya. Saat punggung itu sudah hilang di balik pintu atap, Naruto kembali mengedarkan pandangannya. Memegangi dadanya yang bergemuruh di dalam sana. Sebuah senyuman –atau lebih tepatnya sebuah seringaian muncul di bibirnya. "Bodoh." Itulah kalimat terakhir Naruto sebelum akhirnya memejamkan matanya, menikmati pijitan angin sore pada kulit tannya.


CONFESSION-SasuSaku-


Sudah beberapa hari ini Sakura menghilang dari kehidupannya. Mereka memang sekelas, tapi Sakura benar – benar telah menepati janjinya dengan cara menghindarinya. Bukankah Sakura pernah bilang kalau dia akan menjauh dari hidup Sasuke setelah Sasuke putus dengan Hinata? Tapi bukannya senang, Sasuke justru merasa kurang. Apa karena tak ada manusia penganggu yang selalu disiksanya itu? Atau dia merasa kehilangan boneka sebagai bahan pelampiasannya itu? Ataukah karena ia sudah merasa menyesal telah memperlakukan Sakura seperti itu? Semua rasanya makin rumit.

"Kau kenapa, Sasuke?" Sai menenggak colanya sementara matanya menatap heran kearah Sasuke yang sedari tadi hanya memainkan makanannya tanpa berniat untuk memakannya. Tidak biasanya seorang Sasuke akan murung seperti ini. "Hey!" Sai mengguncang lengannya karena tak mendapat respon apapun. Sasuke mendecih pelan dan menenggak cola miliknya sendiri. "Kau itu kenapa hah?" tanya Sai yang semakin sebal dengan sikap Sasuke.

"Aku tidak apa – apa."

"Itu tandanya kau memang kenapa – napa" Sasuke menunduk, kembali mengaduk – aduk spaghettinya tanpa nafsu. "Kau ada masalah di rumah?" Sasuke menggeleng pelan. "Lalu?" Tak ada suara apapun selain hiruk pikuk cafe yang dikunjungi mereka ini. Sai menghela nafas pelan. "Ceritakan padaku, Sasuke. Mungkin aku bisa membantu. Aku tak punya banyak waktu sekarang. Aku harus menjemput istriku di rumahnya." Lagi – lagi Sasuke mendecih.

"Cih, mentang – mentang kau mendapatkan gadis itu. Sialan!" Sai terkekeh mendengarnya. "Tak ada yang bisa kuceritakan, Sai." Sasuke menarik untaian spaghettinya dan memakannya dengan malas.

"Apa—ini tentang Sakura?" Kerja tangan Sasuke berhenti, namun hingga beberapa detik tak ada suara yang membenarkan ataupun menyalahkan pertanyaan Sai. Sasuke terdiam, namun pikirannya bekerja. Apa benar yang dipikirkannya sedari tadi adalah Sakura? Sai yang melihat reaksi Sasuke pun sudah dapat menebaknya dengan mudah.

"..."

"Kau masih membencinya? Hentikan Sasuke. Dia sama sekali tidak bersalah." Tak ada jawaban, hanya detingan sumpit yang dibanting saja yang terdengar. Sasuke mengusap kasar wajahnya. Selera makannya benar – benar menghilang. "Aku lihat dia menghindarimu beberapa hari ini. Memang apa yang kalian lakukan sebelumnya? Aku melihatmu bertemu dengannya di taman beberapa hari sebelumnya."

"Hhh—dia memintaku menjauhi Hinata, karena dia tahu kalau aku tak benar – benar menyukainya."

"Lalu?"

"Awalnya aku tidak mau. Melihatnya menderita adalah prioritas utamaku." Sai mendengus kesal. Tak suka jika adik iparnya harus menjadi korban dari sikap kekanakan Sasuke ini. "Tapi, dia berjanji akan menjauhiku jika aku mau meninggalkan Hinata"

"Jadi, itu perjanjian kalian?"

"Yeah, mungkin. Aku tetap tidak setuju awalnya. Tapi, saat Sakura pergi, Hinata datang dan mengatakan kalau dia mendengar semuanya. Lalu, kami putus." Sai mengangguk. Sekarang dia tahu kenapa Hinata dan Sasuke tak pernah terlihat bersama lagi. Jadi inikah alasannya? Setidaknya Hinata tak akan dipermainkan lagi oleh Sasuke.

"Kau patah hati, begitu?"

"Bukan. Aku sama sekali tidak sakit hati karena itu. Hanya saja—aku tidak menyangka kalau Sakura benar – benar menghindariku. Maksudku, yeah—" Helaan nafas pasrah terdengar kembali. "Aku terlalu bingung."

"Kau mulai menyukai keberadaan Sakura?"

Deg.

"Kau merasa sepi ketika dia menghilang?" Sasuke masih terdiam. Meresapi setiap kalimat telak yang keluar dari mulut sahabatnya itu. "Apa susahnya mengakui itu, Sasuke. Kau merasa bersalah padanya kan?" Diam. Terlalu banyak pertanyaan di dalam otaknya yang membuat Sasuke makin bingung. "Jangan menyiayiakannya Sasuke. Aku tak mau kau menyesal. Jangan membuat dirimu sendiri terkesan sangat jahat di matanya. Kalian sama – sama menderita kan? Sakura dengan rasa bersalahnya dan kau sendiri dengan rasa kehilanganmu. Akhiri saja. Apa selamanya kalian akan seperti itu?"

"..." Sai meniti jarum jam di pergelangan tangannya dan berdecak kecil.

"Aku terlambat sepuluh menit, Sasuke. Ino akan membunuhku. Baiklah aku pergi dulu. Jangan pulang terlalu malam dan jangan pergi ke club lagi. Kau tahu betapa khawatirnya Itachi nii-san saat kau menghilang kemarin malam?" Sasuke berdecak kesal.

"Sudah sana pergi!" usirnya kemudian. Sai nyengir kuda sebelum akhirnya melangkah keluar dari cafe. Meninggalkan Sasuke yang masih duduk terdiam memandang sisa spaghettinya. Uh, selera makannya benar – benar telah menghilang. Pemuda tinggi itu berdiri dan melangkah meninggalkan cafe setelah membayar makanannya.

Dengan malas ia mengendarai mobilnya mengelilingi kota tanpa tujuan pasti. Entah sadar atau tidak, dia berhenti di depan kediaman Sakura. Ia berdecak kesal saat menyadari tingkah anehnya sendiri. Ia baru saja akan melajukan mobilnya pergi kalau saja tak melihat sosok mungil tengah keluar dari rumahnya dengan sedikit terburu – buru. Ia dapat melihat dengan jelas wajah putihnya yang basah oleh liquid matanya. Dia—menangis? Sosok itu masih melangkah –setengah berlari– berlawanan arah dari mobil Chanyeol. Chanyeol kembali menstarter mobilnya dan mengikuti langkah terburu – buru itu dari belakang.

Sakura tampak terisak dengan tangan yang terus mengusap permukaan pipinya. Sungguh demi apapun ingin sekali ia pergi dari rumahnya itu. Setelah kepergian Ino, Sakura merasa sendiri. Ketika ia menuntut sedikit perhatian dari orang tuanya, orang tuanya justru membentaknya dan mengatakan kalau Sakura itu manja. Siapa yang tidak kecewa kalau setiap saat ia terus saja dibandingkan dengan Ino. Kadang Sakura berpikir, lebih baik dia mati karena penyakit jantungnya dulu daripada hidup dalam kesendirian seperti itu. Ia melangkah makin cepat hingga tiba – tiba terhenti di depan mini market. Ia mengusap wajahnya dengan cepat sebelum akhirnya melangkah memasuki market itu. Beberapa menit di dalam dan keluar membawa strawberry ice cream di tangannya.

Di sisi lain, Sasuke masih mengamati sosok itu. Sosok yang entah sejak kapan selalu mengusiknya. Membuatnya merasa gila karena terus memikirkan tentangnya. Saat Sakura melanjutkan langkahnya, Sasuke kembali mengikutinya. Tiba – tiba Sasuke menambahkan kecepatannya dan berhenti tepat di depan tubuh Sakura yang menegang –mungkin dia kaget. Sasuke keluar dari mobilnya membuat gadis yang lebih pendek membelalakkan matanya. Tanpa persetujuan Sakura, ia menarik tangan Sakura dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Sakura tak protes, ia masih termangu dengan sosok Sasuke yang tiba – tiba saja muncul dan menculiknya ini. Mobil telah melaju dengan kecepatan sedang. Sakura yang tersadar mulai kelagapan. Ice cream yang berada di tangannya meleleh yang mengotori lengannya.

"Jangan menatapku seperti itu,Haruno Sakura." Mata emerald Sakura mengerjap pelan sebelum akhirnya berpaling.

"K—kau, kau mau membawa ku kemana?"

"Ikut saja." tegas Sasuke tanpa memalingkan wajahnya pada Sakura. "Dan hapus air mata bodohmu itu. Kau terlihat konyol saat menangis sementara mulutmu penuh dengan ice cream yang meleleh." Sakura tergagap. Dengan cepat ia mencari – cari tisue di dalam mobil Sasuke dan menyeka bibir serta lengannya yang belepotan ice cream.

Beberapa menit mereka habiskan dalam diam. Sasuke masih melajukan mobilnya mengelilingi kota tanpa tujuan, sedangkan Sakura lebih memilih diam dan menghabiskan sisa ice creamnya. Sesekali ia melirik ke arah Sasuke lalu menunduk setelahnya. Sungguh demi apapun, Sakura sedikit takut pada Sasuke. Takut kalau Sasuke menyakitinya lagi. Apa Sasuke nanti akan memarahinya karena mengirimkan surat – surat pemintaan maaf itu padanya?

"Aku tidak suka kau mengirim surat tidak penting itu dan mengotori lokerku." ujar Sasuke dengan nada dingin membuat nyali Sakura menciut. Ternyata benar, masalah surat itu. "Aku ingin kau menghentikan itu mulai besok."

"Ma—maafkan aku."

"Jika kau benar merasa bersalah padaku, harusnya kau tidak menghindariku layaknya pengecut." Mata Sakura menatap takut pada Sasuke . "Kau pikir dengan memberiku beratus – ratus surat aku akan memaafkanmu?" Kepala Sakura tertunduk. Keberaniannya makin lenyap ketika tatapan mata Sasuke menghujam miliknya. Mobil Sasuke makin melambat dan berhenti tepat di depan taman kota. Pemuda tinggi itu menghela nafas, berdoa dalam hati semoga apa yang akan dilakukannya nanti bukanlah masalah untuknya. Lagipula ia tak mau terus – terusan merasa bersalah seperti ini. Sasuke masih terlalu gengsi untuk mengakuinya. Apalagi setelah semua yang telah dilakukannya pada gadis mungil itu. Sasuke akan menebusnya dengan caranya sendiri.

"Haruno Sakura." Sakura mengangkat wajahnya takut – takut. "Apa kau benar – benar merasa bersalah padaku?" Mengigit bibir bawahnya sebelum akhirnya kepala Sakura mengangguk perlahan. "Aku akan memaafkanmu kalau kau melakukan sesuatu untukku." Penuturan lembut Sasuke berhasil membuat binar di mata Sakura. Apa Sasuke memberinya kesempatan? Tentu Sakura takkan pernah menyiayiakan hal itu. "Apapun itu." Dengan ragu, akhirnya Sakura mengangguk.

"Akan aku lakukan." Sasuke memutar badannya, menatap intens ke dalam mata Sakura, menuntut kesungguhan dalam kalimatnya.

"Kau yakin?" Anggukan patuh menjadi jawaban Sakura.

"Baiklah. Pertama, jangan menghindariku karena kau terlihat sangat pengecut dengan bersembunyi di balik surat – surat bodohmu itu. Kedua, kau akan mengikuti kemanapun aku pergi." Sedikit banyak Sakura bingung, apa Sasuke sedang memanfaatkannya? Menjadikannya pembantu atau apa? Sakura ingin bertanya namun suara Sasuke menginsterupsinya terlebih dahulu. "Ketiga, kau akan melakukan apapun yang kumau. Keempat, kau takkan pernah menolak apapun yang aku lakukan padamu. Dan terakhir—" Sasuke terlihat membuang nafas perlahan. Jantung Sakura semakin berdebar kala menanti kalimat selanjutnya dari Sasuke. "Yang terakhir, mulai besok bersikaplah layaknya kekasihku. Kau akan menggantikan Tayuya selama yang aku mau." Penuturan terakhir Sasuke membuat mulut Sakura menganga selebar – lebarnya.

"Menjadi—Tayuya? Sas—" Dan benda dingin nan lembut yang menempel dengan bibirnya membuat persedian Sakura melemas seketika.


-TBC-


Sorry banget ya telat update hehe. Makasih yang udah review dan setia baca ni cerita.

Oh ya, author mau promote IG baru hehe "Khusus Anime" Follow ya : scarlet44anime

Mind To Review^^