CONFESSION

By : Scarlet.44

Remake from : Blood Type-B

Pair : SasuSaku, other pair

Warning : OOC, typo, etc

.

.

.

.

.

.

Haloo...

Sorry kalau baru muncul, masih ada yg berminat gak sama ni cerita hehe :v

Cukup basa-basi nya... Check it out

Chapter 8

Pagi itu disekolah Sakura dihebohkan oleh desas–desus disana sini, wajah–wajah kesal serta kaget dan tatapan kebingungan beberapa siswa saat sebuah mobil yang ditumpangi Sasuke baru saja terparkir sempurna di parkiran sekolahan. Masalahnya bukan sang pemilik yang memang sudah populer semenjak dulu, tapi gadis mungil yang baru saja keluar dari pintu sisi kanan mobil. Semua tahu dia siapa, tentu saja adik Ino, Haruno Sakura. Sasuke langsung meraih tangan Sakura dan membawanya pergi diiringi tatapan–tatapan tidak mengenakkan disekitar sana. Bagaimana tidak bingung kalau seorang yang amat dibenci Sasuke kini justru digandengnya dan bahkan terlihat sangat mesra. Sakura memilih menunduk, mengikuti tarikan tangan Sasuke yang entah akan membawanya kemana. Banyak orang berbisik–bisik membuat wajah Sakura semakin tertekuk. Sasuke sendiri memilih mengabaikan tatapan–tatapan itu dan berjalan dengan angkuhnya.

Ino dan Sai yang baru saja sampai di sekolah dibuat heran karenanya. Baru saja mereka keluar dari mobil sudah banyak siswa menggerombol dan berbisik–bisik tidak jelas. Mereka mengerutkan dahi tidak paham. Namun senggolan Sai pada lengannya membuat perhatian Ino dari sekitarnya kini teralih pada sosok yang lebih kecil dari pemuda tinggi yang menggandengnya. Matanya membulat saat menyadari kalau itu adiknya.

"Sai-kun, Sasuke akan membawa Sakura kemana? Kita harus mencegahnya." Sai mengangguk dan berjalan dibelakang Ino yang sudah mempercepat langkahnya. Dari arah lain tampak Kai tengah berjalan santai di koridor dan Hinata yang baru saja dari perpustakaan dengan beberapa buku di tangannya. Hingga enam orang itu bertemu di satu titik koridor.

"Sasuke!" Ino berlarian kearah mereka dan menatap Sasuke tajam. "Mau kau apakan adikku hah?!" ketusnya kemudian. Ia menarik tangan Sakura dan membawanya ke belakang punggungnya, berniat menjauhkannya dari Sasuke. Naruto dan Hinata saling pandang dan ikut menatap Sasuke tajam. "Menjauh dari adikku!" Senyuman remeh tergambar di bibir Sasuke.

"Kau mau aku menghajarmu lagi?" Naruto pun ikut mengancam. Hinata menghampiri Sakura yang sedari tadi tampak gelisah dan gugup. Ia terlihat menarik–narik lengan Ino namun diacuhkan oleh sang empunya.

"Saku, kau tidak apa–apa kan?" Hinata bertanya khawatir.

"Memang dia aku apakan?" Sasuke bertanya ketus bahkan setengah berteriak karena tak suka cara bertanya Hinata yang seolah mengatakan kalau dia ini berbahaya untuk Sakura. Hell, Sasuke bukan monster. Kenapa semua orang berlebihan saat melihatnya bersama Sakura?

"Sudah kubilang hentikan sikap kekanak–kanakanmu itu, Sasuke" Kali ini Sai ikut bersuara membela Sakura.

"Memangnya apa yang akan aku lakukan pada kekasihku sendiri eoh?"

Deg.

Semua mata disana, bahkan beberapa siswa di koridor yang menyaksikan pertengkaran kecil itu langsung terbelalak. Uchiha Sasuke, manusia dingin yang terkenal sangat membenci seorang Haruno Sakura mengatakan kalau gadis mungil itu kekasihnya? Naruto dan Hinata bahkan menganga lebar dengan tidak elitnya. Gadis mungil yang dibicarakan tampak menunduk dengan wajah yang sedikit memerah. Entah kenapa, Sakura merasa senang dan lega. Dengan begini dia tak perlu repot–repot menjelaskan bukan?

"Kekasih?!" Oke, bahkan mulut Naruto belum mengatup sedari tadi. Ino langsung berbalik dan menatap Sakura seolah menuntut kejujuran dari mulutnya. Sakura hanya tersenyum bodoh dan mengangguk pelan. Pemuda paling tinggi pun mengulum senyum puas. Sakura benar–benar menepati janjinya untuk bersikap layaknya kekasih untuknya.

"Tapi—Tapi bagaimana bisa?" Ino masih saja termangu. Tak beda dengan teman–temannya yang lain. Anggukan Sakura benar–benar jawaban telak yang mengagetkan siapapun. Tak mau Sakura semakin terpojok, Sasuke kembali menyeretnya pergi dengan seringaian menyebalkan di wajahnya. Mengabaikan teriakan Ino karena tidak puas akan jawaban keduanya.

"S-Sasuke—"

"Sasuke-kun"

"Huh?" Sakura mengangkat kepalanya dengan ekspresi bingung yang lucu di wajahnya. Membuat Sasuke tertegun sejenak. Kenapa dia baru sadar kalau Sakura itu...err..imut? Sasuke berdehem pelan sebelum akhirnya mengeluarkan suara.

"Tayuya selalu memanggilku 'Sasuke-kun'. Lagipula kita seumuran kan?" Sakura mengangguk pelan. Ada rasa tidak suka ketika dia harus melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan Tayuya. Sakura menghela nafas pasrah. Bagaimanapun hanya ini satu–satunya cara supaya Sasuke mau memaafkannya. Dengan menjadi seseorang yang pernah mengisi hati Sasuke. Walaupun Sakura sadar, posisinya lebih rendah daripada Tayuya. "Kau harus memanggilku Sasuke-kun mulai sekarang. Dan ah—aku ingat! Tayuya selalu mengucapkannya dengan nada yang lucu dan manja. Kau juga harus tirukan itu!" Kepala Sakura menunduk dalam.

"Aku mengerti—Sasuke-kun"

"Lebih manja. Dan harusnya kau pasang senyum ceria di wajahmu itu." Sakura hampir saja tersedak ludahnya sendiri mendengar permintaan Sasuke. Nada manja? Haruskah nada yang biasanya ditujukkan pada Ino disaat dia merengek meminta sesuatu, kini juga harus di dengar oleh Sasuke? Bagaimana jika Sasuke menertawakannya? "Sakura?"

"A—ah iya? Ada yang kau perlukan?" Dahi Sasuke menyerngit sebelum akhirnya bibirnya melepas tawa kecil. Tawa pertama yang diperlihatkannya pada Sakura. Suara bass lucu yang terdengar nyaman di telinga Sakura. Sedang Sakura? Dia tertegun sejenak. Matanya tak bisa lepas dari sosok Sasuke yang tengah tertawa. Bagaimana senyum itu mengembang dan suara renyah yang menggelitik. Membuat dadanya bergetar tanpa ia sadari. "Ke—kenapa?" Salah satu tangan Sasuke terangkat dan mengusak rambut gulali Sakura gemas, membuat si empunya salah tingkah dengan pipi yang sedikit merona. Beruntung Sasuke tak menyadarinya.

"Aku kan memintamu memanggilku 'Sasuke-kun' heum?"

"A—ah iya, maaf... aku lupa."

"Berhenti meminta maaf." Sakura tertunduk. Mengigit bibir bawahnya saat nada bicara Sasuke berubah menjadi nada dingin. "Aku tidak suka pilihan kata itu." Anggukan pelan dapat dilihat sebagai jawaban Sakura. Melihatnya, ekspresi Sasuke melembut. "Ayo ke atap." Tanpa persetujuan Sakura, Sasuke sudah terlebih dulu menyeret tangannya kearah tangga menuju atap. Tak lupa diselilingi oleh tatapan–tatapan bingung para siswa. Karena baru kali ini Sasuke menyeret Sakura dengan senyum yang tergambar di wajahnya.

CONFESSION-SasuSaku-

"Sasuke-kun?"

"Hn?" Sasuke mengalihkan perhatiannya dari buku yang dipegangnya pada Sakura yang tengah menggaruk–garuk kepalanya sembari menyodorkan sebuah buku padanya. "Kau bingung soal yang ini?" Sakura tersenyum bodoh. Sasuke menggusak rambutnya –yang sekarang menjadi kebiasaannya ketika bersama Sakura– dan mulai mengambil alih bolpoint dan buku Sakura. "Perhatikan!" Sakura mengangguk dan langsung merapat pada Sasuke. "Seharusnya jawabanmu seperti ini—" Dan Sasuke pun mulai menjelaskan dengan detail dan teliti setiap cara yang digunakan dalam pelajaran fisika ini.

Heran, sedang apa mereka? Sakura sendiri juga awalnya bingung ketika Sasuke mengajaknya membolos dan justu membawanya menuju atap. Dia mengira kalau Sasuke akan menyuruhnya ini itu atau mungkin mengerjakan hal–hal yang pantas untuk seorang pembantu –karena Sakura masih berpikir dia adalah pembantu Sasuke–. Namun ketakutannya justru berbalik 360 derajat saat Sasuke mulai menyuruhnya duduk bersila di lantai atap dan menyuruhnya mengeluarkan semua buku pelajarannya. Bahkan Sakura dibuat bingung ketika Sasuke menanyakan pelajaran apa paling tidak dikuasainya? Dan saat Sakura mengatakan 'fisika', Sasuke dengan segera membolak–balik halaman soal pada buku fisika dan mulai menyuruh Sakura untuk mengerjakannya. Sakura masih terbengong saat itu. Namun dengan senyuman –yang entah mengapa selalu membuat hatinya menghangat, Sasuke mengatakan kalau dia akan mengajari semua pelajaran yang ia tidak bisa.

"Kau mengerti?" Sakura tersenyum lebar dan mengangguk cepat. "Coba kau kerjakan yang ini." Keraguan Sakura entah menguap kemana. Yang jelas, mereka terlihat sangat dekat sekarang. Pasti tidak ada yang menyangka kalau Sasuke dulu bahkan ingin membunuhnya. Sasuke juga tidak tahu. Kenapa dia melakukannya sampai sejauh ini. Kenapa rasa penyesalannya itu membuatnya bersikap seperti ini. Dia juga tak tahu kenapa setiap melihat pergerakan menggemaskan Sakura, selalu membuatnya tersenyum. Bahkan ia tak menyadari pergerakannya sendiri ketika ia mulai mendekati Sakura yang tampak sedang serius. Tak mengerti dorongan darimana, kedua tangan besarnya melingkari pinggang Sakura dari belakang. Saat dia merasakan tubuh kecil di depannya menegang, ia mengeratkan pelukannya.

"S -Sasuke—"

Cup.

Deg.

Jantung Sakura langsung berdesir ketika dia merasakan lehernya tersentuh sesuatu yang lembut. Yang entah kenapa membuat persendiaannya melemas. Entah kenapa membuat kulitnya merinding. Perutnya serasa di gelitik oleh benda tak kasat mata. Membuat gerakan tubuhnya menggelingjang dan gelisah tak nyaman. Sentuhan itu berubah menjadi hisapan cukup kuat hingga membuat Sakura ingin pingsan sekarang juga. Dan rasa hangat mulai menjalari tubuhnya ketika ciuman itu terlepas dan meninggalkan jejak disana. Oh, mungkin semua orang biasa menyebutnya kissmark.

Sasuke tersenyum puas saat melihat hasil karyanya di tengkuk Sakura. Tubuh mungil yang didekapnya benar–benar menegang dan tak bergerak sama sekali. Mungkin Sasuke berpikir Sakura mati kalau saja tidak menyadari deru nafasnya. Sasuke mengusap kissmark buatannya perlahan. Ia yakin kalau tanda ini tak akan hilang selama seminggu.

"Sas—Sasuke—"

"Kau tidak boleh menolak apapun yang kulakukan padamu. Ingat?" Wajah Sakura mulai memerah hingga ujung kupingnya. Tak dipungkiri keringat dingin muncul di permukaan pelipisnya. Oh, jangan lupakan jantungnya yang berdetak abnormal. Badannya masih kaku dan sulit untuk digerakkan. Alhasil ia hanya mengangguk kaku tanpa membalikkan badannya untuk menghadap Sasuke. "Aku yakin kau tahu betapa brengseknya aku. Aku suka keluar malam dan pulang dalam keadaan mabuk lalu bersenang–senang dengan perempuan." Sakura tak mengerti kenapa dadanya perlahan merasakan sesak ketika Sasuke mulai menceritakan keburukannya. Ok, mungkin jika mendengar dari orang lain, Sakura merasa biasa saja. Tapi mendengar dari mulut Sasuke sendiri, rasanya sangat aneh. "Tapi aku berani bersumpah kalau ini adalah karya pertamaku. Aku bahkan tidak pernah melakukan ini pada Tayuya. Kau beruntung Haruno Sakura."

Deg. First?

Sakura mengerjap sekali dua kali. Benarkah yang Sasuke katakan? Kalau dia pernah tidur dengan siapa saja, kenapa ini menjadi karya pertamanya? Apa ini berarti Sasuke tak benar–benar menyentuh orang–orang itu? Sasuke tidak benar–benar menginginkannya? Senyum tipis terukir di bibir Sakura walaupun Sasuke tak menyadarinya. Tangan Sasuke kali ini melingkari leher Sakura dengan posesif. Ia meletakkan dagunya diatas kepala Sakura dan sesekali meniup–niup rambut pink Sakura.

"Aku senang kau menepati janjimu untuk menjadi Tayuya. Aku berharap, kau tidak terpaksa melakukannya." Mendengar nada sedih dalam kalimat Sasuke membuat mata Sakura perlahan memanas. Sakura seolah ikut merasakan rasanya kehilangan. Seolah merasakan bagaimana sakitnya Sasuke saat ini. Sakura mulai berpikir, dia harus melakukan yang terbaik untuk Sasuke sampai saatnya nanti. Sampai saat dimana dia diharuskan pergi dari kehidupan Sasuke.

CONFESSION-SasuSaku-

Hinata terlihat sangat gelisah. Sedari tadi ia hanya mengaduk–aduk ramennya tanpa ada niat untuk memakannya. Selama pelajaran pagi, Sakura dan Sasuke menghilang entah kemana. Sesekali ia menatap sekelilingnya dan menghembuskan nafas ketika tak menemukan Sakura. Apa yang sebenarnya terjadi? Berkencan dengan Sasuke? Sepertinya itu mustahil. Di pikir dengan otak kiri maupun otak kanan, Hinata tak bisa menemukan jawabannya. Kenapa semua begitu rumit. Baru beberapa hari yang lalu Sasuke membully Sakura habis–habisan. Tapi sekarang? Dia bahkan mengumumkan secara langsung pada seluruh sekolah kalau Sakura itu kekasihnya. Hinata mengacak rambutnya frustasi. Apa yang terjadi antara Sasuke dan Sakura?

"Kau kenapa?" Hinata menggeleng pelan, masih mengacak–acak rambutnya kesal. Otak cerdasnya bahkan tak mampu memberikan alasan tepat tentang hubungan SasuSaku. "Kau memikirkan Sakura dan Sasuke?" Ekspresi wajah Hinata langsung memelas ketika Naruto melontarkan jawaban telaknya.

"Aku merasa aneh Naruto. Bagaimana mungkin bisa mereka—akh, aku bingung."

"Sama." Wajah Hinata terangkat perlahan, menatap manik tajam Naruto. "Aku juga tak mempunyai jawaban atas semua pertanyaanku sendiri. Sasuke benar–benar sulit ditebak." Naruto tersenyum miris. Hinata yang menyadari senyuman Naruto hanya mampu menundukkan kepalanya. Pasti Naruto cemburu, begitulah pikirnya. "Lagipula—kenapa kau memikirkannya sampai seperti itu? Apa kau masih mencintai Sasuke?" Tanpa berpikir dua kali, Hinata langsung menggeleng.

"Aku bahkan ragu kalau dulu aku mencintainya." Tawa renyah Naruto langsung menyapa gendang telinganya. "Kenapa?" tanya Hinata polos.

"Kau ini lucu. Bagaimana mungkin kau menerima Sasuke begitu saja jika kau tidak mencintainya? Dasar aneh." Hinata merengut. Itu semua kan gara–gara bertemu denganmu, Tuan Uzumaki, batinnya kesal. Ingat kan sehari setelah Hinata dan Sasuke jadian, Hinata bertemu dengan Naruto pada malam harinya. Dan semenjak itu pula Hinata meragukan perasaannya. Apalagi setelah kepindahan Naruto di sekolahnya, Hinata lebih banyak memperhatikan kebersamaan NaruSaku daripada Sasuke sendiri. "—nata?"

"Hh?"

"Ck, kau melamun lagi?" Dengan polosnya Hinata mengangguk. "Aku tadi bertanya, kenapa kau menerima Sasuke kalau kau tidak menyukainya?" Hinata berjengit. Apa tadi dia kebanyakan melamun sampai tak mendengarkan pertanyaan Naruto? Jari telunjuk Hinata mengetuk–ketuk dagunya pelan dan matanya menatap langit–langit kantin. Seolah sedang menerawang jawaban disana.

"Mungkin karena aku belum pernah pacaran. Jadi yah...aku terima saja." Ia menggedikkan bahu acuh. "Kau sendiri, bagaimana perasaanmu saat tahu kalau Sakura sekarang bersama Sasuke?" Naruto menghentikan suapan ramennya dan menatap Hinata dengan alis saling bertautan.

"Biasa saja. Aku hanya takut kalau Sasuke mempermainkan sahabatku." Kepala Hinata mendekat beberapa senti saat kata 'sahabat' keluar dari mulut Naruto.

"Sahabat?"

"Huh? Kenapa?"

"K—Kau tidak cemburu atau apa begitu?" Raut wajah bingung Naruto benar–benar membuat Hinata ingin menonjoknya sekarang juga. Dia ini pura–pura biasa saja atau memang tak merasakan apapun? Beberapa detik kemudian Naruto terbahak membuat Hinata menganga.

"Kenapa aku harus cemburu hah? Ahhaha. Bodoh!" Jari telunjuk Naruto menuding Hinata yang tengah kebingungan, sedangkan tangan kirinya sibuk memegangi perutnya karena tertawa terlalu lama. Tangan mungil milik gadis bermata violet itu terulur dan mencubit lengan Naruto karena kesal. Bagaimana tidak kesal? Tawa Naruto membuat mereka berdua menjadi perhatian di kantin yang ramai itu. Ada tatapan aneh dan tidak suka dari beberapa orang karena menganggu jam istirahat mereka.

"Bukankah kau menyukai Sakura? Sakura itu—cinta pertamamu kan?" Bahu Naruto bergetar pelan saat ia menahan tawanya. Semenit kemudian, helaan nafas keluar dari mulutnya untuk menetralkan perasaan geli akan pertanyaan Hinata. Ia tersenyum lembut dan mengusap–usap tengkuknya.

"Siapa bilang Sakura cinta pertamaku?" Wajah polos Hinata membuat Naruto ingin tertawa lagi, namun ia urungkan karena takut Hinata akan marah nantinya. "Jika kau bertanya apa aku menyukainya? Tentu saja aku menyukainya. Dia itu kan sahabatku." jelas Naruto. Hinata tampak terdiam dan masih mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Naruto. "Tapi jika kau bertanya tentang cinta pertama, Sakura itu bukan cinta pertamaku. Cinta pertamaku itu—" Naruto menggantung kalimatnya, membuat Hinata menyerngit heran dengan rasa penasaran yang memuncak. "Cinta pertamaku itu Ino nee-chan."

"Haaah?" Hinata mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengusap wajahnya dan mengorek kupingnya. Dia tidak salah dengar kan?

"Ekpresimu berlebihan, Hinata. Lagipula itu dulu saat kita masih kecil. Itu juga terjadi karena Sakura selalu menggodaku. Tapi percayalah, perasaan itu sudah menghilang. Lupakan tentang Ino nee-chan, itu cuma cinta monyet. Sepertinya aku juga sudah menemukan cintaku yang sesungguhnya." Ok, kali ini jantung Hinata berdegup saat melihat dengan jelas Naruto menyeringai kearahnya. Tanpa merasa terganggu keadaan kantin yang ramai, Naruto justru menatap Hinata intens. Hinata mulai mengeratkan genggaman sumpitnya saat wajah Naruto mulai mendekat. Saat merasa wajah itu terlampau dekat, Hinata sontak memejamkan matanya dengan jantung yang sudah berdegup tak tenang.

Cup.

Hinata membuka matanya dan mengerjap beberapa kali saat merasakan hidungnya dikecup seseorang. Tentu saja pelakunya adalah Naruto. Naruto tersenyum lembut dan mengusak rambut Hinata. Tanpa memperdulikan tatapan penuh tanya Hinata, ia melanjutkan makan siangnya. Sedang Hinata? Oh, jangan tanya lagi. Wajahnya memerah bahkan sampai ujung kupingnya. Ia menunduk mencoba menyembunyikan wajahnya yang berbinar senang.

"Besok malam kita kencan."

"Hah?"

CONFESSION-SasuSaku-

"Kau senang?"

"Tentu saja Sai, aku sangat merindukan Saku. Dan aku yakin, kaa-san dan tou-san ada dirumah sekarang." Setelah keluar dari dalam mobilnya, Ino bergegas pergi meninggalkan Sai di belakangnya. Dia sudah sangat rindu dengan rumah besarnya. Ino memekik senang saat pintu besar rumahnya mulai terbuka. Sai yang melihat tingkah istrinya itu hanya tersenyum simpul.

"Ah, nona Ino dan tuan Sai datang?" seorang maid yang baru saja membukakan pintu tampak terkejut dengan kehadiran InoSai yang tiba–tiba. Ino hanya mengangguk cepat dan langsung melesat mencari kedua orang tuanya. Ia tadi mendapat pesan singkat dari Sakura kalau tou-san dan kaa-saannya ada di rumah malam ini. Jadi, tanpa menunggu lagi Ino merengek pada Sai untuk diantarkan berkunjung ke rumahnya. Dia sudah sangat merindukan sosok ibunya.

"Nona Sakura belum pulang semenjak kemarin, katanya dia menginap di rumah temannya, apa Tuan nona Ino tahu?" Ino menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sang maid yang sedikit menunduk. Ia menyengit heran dan mendekat ke arah maid itu.

"Sakura belum pulang sejak kemarin?"

"Iya nona. Kemarin malam Nona Sakura bertengkar dengan Tuan besar lalu pergi dari rumah dan belum kembali sampai sekarang. Saya menghubungi ponselnya, tapi yang menjawab temannya dan temannya itu bilang kalau nona Sakura akan menginap di rumahnya untuk seminggu ke depan." Sai dan Ino saling bertatapan bingung.

"Siapa nama temannya?" Kali ini Sai yang bertanya.

"Kalau saya tidak salah, namanya Uchiha Sasuke." Ino membelalakkan matanya saat mendengar nama itu. Sasuke? Kenapa Sakura bisa berada di rumah Sasuke? Apa ini juga ada hubungannya dengan keanehan tadi pagi? "Tuan dan Nyonya sebenarnya sudah pulang dari kemarin, tapi saya tidak tahu kalau nona akan berkunjung sekarang." Helaan nafas keluar dari bibir tipis Ino. Namun bukan masalah Sakura yang tidak memberitahunya sejak kemarin, melainkan 'mengapa Sakura ada dan menginap di rumah Sasuke'.

"Ya sudah, aku akan menghubungi Sakura dan menyuruhnya pulang besok. Sekarang, aku akan menemui kaa-san."

"Tapi—" Ino berhenti melangkah dan berbalik –lagi. "Tuan besar sedang ada tamu, nona."

"Apa penting?" Ino memutar bola matanya malas. Tidakkah orang tuanya itu mengenal kata 'rumah'? Kenapa mereka lebih banyak menghabiskan hidupnya di kantor perusahaan, di luar kota, bahkan di luar negeri, daripada berada di rumah menemani kedua anaknya. Mungkin Ino memang memiliki Sai sekarang. Tapi bagaimana dengan Sakura? Ingin sekali Ino membawa Sakura ke rumah yang ditinggalinya sekarang. Tapi dia takut kalau Sai tidak menyukai itu.

"Iya—Tuan besar bilang dia tak mau diganggu. Dan—Akh! Nona!" Tanpa mau mendengar penuturan maidnya Ino segera berjalan menuju ruang tamu yang terletak di tengah rumah besar itu. Ruang tamu disini memang letaknya di tengah bangunan, bukan di depan layaknya rumah–rumah biasanya. Jadi tidak heran jika Ino perlu beberapa menit untuk mencapai ruang tamunya. Sai masih setia mengekor di belakangnya. Ia agaknya heran ketika Ino berhenti mendadak.

"Ino, ada apa?"

"Itu kan keluarganya Tayuya, Sai."

Deg.

Jantung Sai langsung berdegup saat nama Tayuya disebutkan Ino. Bagaimana pun dia tahu semua tentang Tayuya dan Sasuke. Juga hubungan InoSaku dengan Tayuya. Bagaimana jika Ino membencinya karena tidak mengatakan hal penting seperti ini? Ah, semoga saja dia bisa menyimpan ekspresi keterkejutannya ini dengan wajah datar seperti biasa.

"tou-san?!" Semua yang berada di ruang tamu itu terkejut melihat Ino yang tengah menatap bingung empat orang dewasa disana. "Ah, selamat malam Tuan Sabaku, Nyonya Sabaku." Ino dan Sai membungkuk kecil dan dibalas oleh dua orang dewasa bermarga Sabaku disana. "Tidak biasanya anda berdua kemari." Ino tersenyum diakhir kalimatnya, walaupun wajahnya benar–benar menggambarkan kalau ia tengah kebingungan. Tuan maupun Nyonya Sabaku tampak gugup, bingung ingin menjawab apa. Tuan Haruno berdehem dan memandang beberapa orang disana.

"Lebih baik kita beritahu Ino. Tak ada gunanya juga kita terus menyembunyikannya." tutur Tuan Haruno membuat Ino makin bingung. "Kemarilah. Duduk dan dengarkan kami." Ino menurut, ia pun mendekat dan duduk disamping ibunya. Tanpa disadari Ino, Sai tersenyum lega. Akhirnya Tuan Haruno memberitahu Ino juga. Tuan Haruno berdehem sekali lagi sebelum akhirnya menyuruh Tuan Sabaku menjelaskan terlebih dahulu.

"Kami ingin membicarakan tentang Tayuya, Ino." ujar Tuan Sabaku. Dalam otaknya, Ino sudah menerka–nerka apa yang akan dibicarakan Tuan Sabaku. Apa mereka akan menuntut dan meminta jantung Tayuya kembali? Ah, rasanya mereka takkan setega itu. Atau mereka meminta ganti rugi uang atau perusahaan ayahnya? Atau mereka ingin mengambil Sakura? "Ino-chan?"

"Ah maaf paman, saya melamun."

"Tidak apa-apa. Kau pasti bingung dengan kehadiran kami." Ino mengangguk ragu. "Hhh—Tayuya itu sebenarnya...saudara kandung kalian." Tubuh Ino menegang saat mendengar penuturan itu. Matanya masih menyorotkan kebingungan dan penuntutan jawaban membuat beberapa orang lainnya menghela nafas. "Paman mengangkatnya saat dia masih bayi karena keluarga Sabaku tidak memiliki keturunan." Ino menundukkan wajahnya. Hey, rasanya sangat aneh ketika kau tak mengetahui apapun tentang saudara sedarahmu. Bahkan Ino hanya berbicara beberapa kali dengan Tayuya, itupun saat ia menjenguk Sakura dulu. Dia tak menyangka kalau Tayuya itu saudara mereka.

"Ino-chan." Ibu Ino mengenggam tangan putrinya dan memberi usapan lembut di punggung tangan Ino. "Sakura dan Tayuya itu kembar. Walaupun tidak identik karena, tapi senyum mereka sama. Dan mereka juga punya pesona yang sama, yaitu wajah ceria mereka yang akan membuat siapapun ikut tersenyum." Mata Nyonya Haruno mulai berkaca–kaca. Ada perasaan sesak yang mengumpul di dadanya saat mengingat wajah Tayuya yang manis. Tak jauh beda dengan Ino, walaupun dia diam dan tak menunjukkan ekspresi apapun selain kaget, tentu saja hatinya juga sedih karena orang tuanya tak memberitahunya tentang fakta ini. Terlebih lagi, bagaimana jika Sakura tahu?

"Tuan dan Nyonya Sabaku menyadarkan kami, kalau sikap kami pada Sakura itu keterlauan. Seharusnya kami tidak mendiamkannya, seharusnya kami menyayanginya, seharusnya kami tidak pernah menyakitinya. Sebagai orang tua, kami merasa gagal." Tuan Haruno berkata dengan memijit pelipisnya pelan. "Setiap melihat Sakura, kami selalu teringat Tayuya, itu membuat luka karena kehilangan Tayuya kembali muncul dalam hati kami. Kami merasa gagal menjaga Tayuya. Bahkan kami tak siap ketika Tayuya harus meninggalkan kami." Nyonya Hrauno kini telah terisak pelan, membuat Ino mengulurkan tangannya dan memeluk pundak ibunya.

"Saku-chan—hiks—kaa-san benar–benar menyesal telah mengabaikannya selama ini." Ino terus mengusap–usap pundak ibunya. "Sebenarnya kami tidak berniat membandingkannya denganmu Ino, tapi...tapi kami ingin dia seperti Tayuya. Hiks. Tayuya gadis yang pintar, dia baik, ceria dan pribadi yang mandiri. Berbanding terbalik dengan Sakura. Itu membuat kami bersedih karena menganggap Sakura menyiayiakan jantung pemberian Tayuya. Hiks—seharusnya, dia menjaga dan memanfaatkan kehidupan keduanya. Tapi apa? Saku-chan selalu mengecewakan kami."

"Sakura tidak mengewakan kalian." Ino sedikit mengigit bibir bawahnya, perasaan sesak benar–benar menumpuk di dadanya dan sulit untuk dikeluarnya. "Sakura adalah Sakura, Tayuya adalah Tayuya. Walaupun mereka kembar, bukan berarti mereka harus sama dalam segala hal. Tuhan itu pasti dan akan selalu adil. Walau pun Tayuya nyaris mendekati kata sempurna, tapi dia memiliki kekuarangan, yaitu penyakitnya. Dan Sakura, walau pun dia selalu mengecewakan, tapi dia telah bersedia menggantikan hidup Tayuya untuk kita. Dia tak pernah protes ketika kalian memamerkan piala–piala yang sering kudapat itu kan? Walaupun Sakura tak berprestasi sepertiku ataupun seperti Tayuya, tapi dialah orang pertama yang bertepuk tangan padaku ketika aku berhasil. Sakura juga selalu menjadi orang pertama yang memelukku ketika aku bersedih." Ino memberi jeda, airmatanya benar–benar sudah menumpuk dan minta untuk dikeluarkan sekarang juga. Ia terisak kecil dan setetes air mengalir di pipinya. "Sakura—dia orang pertama yang menyambut kalian ketika kalian kelelahan setelah seharian bekerja. Sakurajuga yang selalu tersenyum ketika tou-san dan kaa-san mengalami kesuksesan."

"Bagaimana kalau hanya ada aku. Aku pasti sibuk belajar ketika kalian pulang dari kantor. Aku pasti sibuk menulis catatan sekolah ketika seharusnya aku membuatkan kopi hangat untuk kalian. Aku terlalu sibuk dengan prestasi–prestasi bodoh itu tanpa tahu apapun tentang perusahaan kalian. Aku yang terlalu kalian banggakan ini, bahkan tak begitu punya banyak waktu untuk memperhatikan kalian. Jadi aku mohon, berhentilah menganggap Sakura itu Tayuya. Berhentilah mengacuhkan Sakura karena dia terlalu mengecewakan. Berhentilah menyakitinya jika kalian tak ingin mendapat predikat orang tua yang buruk dari kami. Aku dan Sakura sangat menyayangi kalian. Kami pasti akan melakukan apapun yang membuat kalian bangga. Walaupun Sakura hanya bisa melakukan hal kecil seperti menyeduh kopi untuk kalian, maknanya justru lebih besar daripada segudang prestasi yang kuberikan selama ini. Kami menyayangi kalian, sangat." Ibu Ino yang sudah menangis sedari tadi langsung memeluk Ino erat. Terisak sangat hebak di bahu anaknya. Sai yang melihat sikap dewasa Ino pun tersenyum simpul. Dalam hati, ia benar–benar telah bersyukur karena mendapatkan Ino sebagai pedamping hidupnya.

CONFESSION-SasuSaku-

Di sebuah kamar, tepatnya diatas sebuah ranjang, tampak seorang pemuda berperawakan tinggi tengah memeluk seorang gadis mungil dari belakang. Jemarinya terus bermain di helaian rambut madu milik tubuh kecil itu. Dan nampaknya si mungil justru terlelap nyaman tanpa merasa risih dengan belaian Sasuke di rambutnya. Sasuke terus saja melakukannya walau ia tahu Sakura sudah tertidur semenjak satu jam yang lalu. Tapi entah kenapa, memperhatikan wajah polos itu ketika tidur sangat menyenangkan baginya. Bahkan ia tak menyadari kalau sudah berpuluh–puluh menit ia habiskan hanya untuk memperhatikan wajah Sakura.

"Aku merasa seperti tengah memeluk Tayuya." gumam Sasuke pelan, dengan senyuman yang tak pernah lepas bibirnya. Bukankah Sasuke terlihat manis sekarang? Berterima kasihlah padanya karena masih memiliki hati untuk menyusupkan kata 'menyesal' ke dalamnya. Mengingat bagaimana buruknya kelakuannya, membuat sesak tersendiri di sudut hatinya. "Maafkan aku karena meminta hal konyol padamu."

"..."

"Aku berjanji akan membuatmu lupa dengan semua perlakuanku dulu, aku akan menghapus semua memori sedihmu, walaupun itu terasa mustahil. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku takkan menyakiti apa yang dititipkan Tayuya padamu." Sasuke mendesah. Tangannya berhenti memainkan rambut Sakura dan beralih mengusap surainya dengan lembut. "Tapi aku yang bodoh ini, takkan pantas untukmu Sakura. Aku hanya mampu membahagiakanmu disaat sekarang ini, dan memberimu luka pada akhirnya. Jadi aku mohon padamu—" Tangan Sasuke mendekap tubuh Baekhyun lebih erat dan mendaratkan kecupan–kecupan kecil di pelipisnya..

"Aku mohon..."

.

.

.

"Aku mohon jangan mencintaiku."

TBC

.

.

.

Haloo, sudah lama tak berjumpa, akhirnya bisa lanjut ni cerita juga

Masih ada yang nunggu ni ff gak haha..

Kayaknya Sasu udh ada rasa tuh ke saku

Review, favorite and follow yaaa...

See you next chapter

Bye-byeeeee