CONFESSION
By : Scarlet 44
Remake from : Blood Type-B
Pair : SasuSaku, other pair
Warning : OOC, typo, etc
.
.
.
.
.
.
Haloo readers(^o^)
Maafkan saya kalau sudah menelantarkan ff ini *alay
Ga usah banyak basa basi, ayok baca wkwkwk
CHAPTER 9
.
Di salah satu kamar yang terlihat elegan dan rapi, sesuatu –atau lebih tepatnya seseorang tengah menggeliat tak nyaman. Dengan perlahan gadis bermata emerald itu menggerakkan tubuhnya untuk duduk diatas ranjang berukuran king size itu. Sakura gadis itu mengusap – usap kedua matanya dan mengerjapkannya perlahan. Sedikit demi sedikit ia mulai terjaga, dan menyadari kalau dia berada di rumah kekasihnya. Kekasih? Hh, entahlah. Sakura sendiri tidak yakin harus mengakui Sasuke itu sebagai kekasih atau tuannya. Semua perlakuan Sasuke padanya memang istimewa, namun semua itu karena Tayuya. Yah, Tayuya, sahabatnya.
"Hhh, bangun tidur aku sudah memikirkannya." keluhnya dan berakhir dengan desahan kecewa. Ia menunduk dan meremas sprei ranjang Sasukeperlahan. "Tidak mungkin." gumamnya serak. "Aku tidak mungkin memikirkan Sasuke sampai seperti ini. Ini…rasanya aneh."
Cklek.
"Ah, kau sudah bangun?" sapaan dari arah kamar mandi membuat Sakura mendongakkan kepalanya dan mendapati Sasuke dan sudah berbalut pakaian santai dengan handuk di lehernya. Tetes – tetes air membasahi wajahnya. Bahkan dengan pakaian lengkap begitu, Sakura sudah merasakan pipinya memanas. Bukan karena Sasuke terlihat seksi, namun pemuda jangkung itu terlihat segar dan bersinar di matanya. Dan Sakura harus akui rasanya semakin aneh saja ketika bersama Sasuke. Satu minggu…satu bulan…dua bulan…yah, tak terasa sudah dua bulan mereka menjalani hubungan sepihak ini. Hubungan atas permintaan Sasuke. Hubungan yang tidak didasari cinta.
Sakura ingat betul, seminggu dia tinggal di rumah Sasuke dan semua orang di rumah Sasuke memperlakukannya dengan baik. Terutama Itachi. Dia sangat menyayangi Sakura, membuatnya nyaman berada di rumah Sasuke. Dan selama seminggu itu pula Sakura tahu, kedua orang tua Sasuke jarang dirumah. Hanya ada beberapa maid dan kakaknya yang selalu pulang larut karena pekerjaannya sebagai dokter muda. Sakura dapat menyimpulkan, pasti Sasuke juga merasakan apa yang selama ini dia rasakan. Kehilangan kasih sayang, atau bisa dikatakan kesepian. Ia yakin itu menjadi alasan kenapa Sasuke sangat kehilangan Tayuya. Pastilah Tayuya satu – satunya gadis yang mengerti dirinya dan selalu menemaninya. Hh, betapa rendahnya Sakura jika dibandingkan seorang gadis baik seperti itu. Apa yang bisa dibandingkan? Jelas‒jelas mereka tidak sama.
"—ra, Sakura!"
"Hah?" Alis Saduke terangkat sebelah. Masih pagi tapi kenapa Sakura terlihat seperti orang linglung. Apa semalam dia lupa kalau ia menginap di rumah Sasuke lagi?
"Kau melamun?"
"Huh?" Mata Sasuke berputar malas. Ada apa dengan anak kecil ini? pikirnya.
"Kau kenapa?"
"Ah, tidak apa‒apa. Maaf, aku melamun." Sasuke mengangguk – angguk paham. Ia kemudian mengambil nampan berisikan roti panggang dengan selai coklat kacang dan susu strawberry di atas nakas dekat almari pakaian. "Tadi pagi maid sudah menyiapkan ini untukmu. Karena kau terlihat sangat lelap, aku tak berani membangunkanmu." Sakura mengangguk paham. "Nah, sekarang mandilah. Setelah itu kau habiskan sarapanmu ini." Anggukan dari Sakura dan Sasuke pun meletakkan nampan itu di nakas samping tempat tidurnya. Sasuke bergegas membenahi penampilannya sedangkan Sakura sendiri mulai berjalan kearah kamar mandi. "Sakura!" Langkahnya terhenti.
"Ya?"
Cup.
"Selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan." Sakura mengerjap – kerjapkan matanya perlahan. Sa‒Sasuke menciumnya? Walau pun hanya di dahi, tapi itu cukup membuat jantungnya berdegup tak tenang. Sasuke tersenyum, yang entah mengapa terlihat sangat tampan di matanya. Ah, kau kenapa Sakura? Apa yang kau pikirkan? Bahkan hingga Sasuke keluar dari kamar itu, Sakura masih terbengong di depan pintu kamar mandi.
Tangannya meraba kaos bagian dadanya, dimana detakan tak normal berada, dada yang bergemuruh dan membuat perutnya tergelitik. Dia tak mengerti kenapa perasaannya menghangat? Kenapa semua gejala saat bersama Sasuke mirip dengan apa yang dirasakannya pada Sai? Tidak, Sakura berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia tak mungkin menyukai sosok Sasuke. Apalagi mengingat hubungan mereka hanya karena Tayuya, membuat sudut hatinya berdenyut. Berbagai pertanyaan muncul di otaknya. Dimana di satu sisi, Sakura tahu betul gejala‒gejala aneh yang mungkin semua orang menyebutnya 'jatuh cinta', namun disisi lain, dia juga menepis perasaan itu. Dia tak mau membuat Sasuke membencinya lebih dari ini. Tidak, tidak boleh.
"Astaga Sakura! Mandi!" Ia segera berlari kecil setelah menepuk dahinya sendiri dengan cukup keras.
CONFESSION -SASUSAKU-
Hinata melipat kedua tangannya dan menatap sebal kearah Naruto. Sedangkan pemuda berkulit tan itu justru asyik memperbaiki rambut kuningnya di kaca spion sepeda motornya. Sudah sepuluh menit Hinata tetap berdiri dengan posisi itu namun Naruto justru mengacuhkannya. Hinata yang kesal akhirnya memilih berjalan melewati Naruto setelah berhasil menyenggol bahu Naruto dengan keras. Melihat Hinata yang tampak marah, Naruto gelapan. Dia segera mengenakan helmnya dan melajukan sepedanya beriringan dengan langkah Hinata.
"Hinata.. Kau marah ya?" Naruto merajuk dengan nada yang membuat Hinata mual. "Ayolah, jangan marah. Kita kan ada kencan lagi nanti malam. Kau mau pangeranmu yang tampan ini menangis di tengah jalan, huh?" Hinata berhenti. Dahinya tampak berkerut.
"Dasar gila!" gumam Hinata teramat lirih. Hinata berbalik menatap tajam kearah Naruto. "Jangan membuatku bertambah mual Naruto. Aduh, perutku serasa di kocok blender." Mata bulat Hinata berputar jengah dan akhirnya kembali melanjutkan langkah kakinya. Naruto mencibir dan turun dari sepeda motornya.
Greb.
Hinata berhenti. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang saat merasakan kedua tangan berkulit tan itu tengah melingkar posesif di bahunya. Bahkan wajahnya mulai dihingkapi rona merah saat merasakan Naruto menghembuskan nafas dengan sengaja di sekitar tengkuknya. Bahkan bibir Naruto 'sedikit' menyentuh permukaan kulitnya. Ya Tuhan, tolong Hinata. Dia ingin pingsan sekarang juga. Kakinya terasa meleleh.
"Kenapa kau menolak permintaan calon pacarmu ini, hum?" Detakan di jantungnya makin menggila.
"Pa‒pacar? Pacar apa?!" Hinata mendorong lengan Naruto yang melingkar padanya hingga terlepas. Ia menunduk melihat kearah sepatunya, bermaksud menyembunyikan rona di wajahnya. Oh sial! batinnya.
"Jadi kau tidak mau memiliki pacar yang tampan, dan seksi sepertiku ini?" Hinata menjulurkan lidahnya, ingin muntah. Entah kenapa akhir‒akhir ini tingkat rasa percaya diri Naruto bertambah. Ini sudah terjadi semenjak kencan pertama mereka bulan lalu. Dan itu membuat Hinata bergidik ngeri.
"Perbaiki dulu otakmu itu Tuan Uzumaki." Hinata melanjutkan langkahnya namun Naruto menghentikannya dengan mencekal lengannya. Hinata menoleh dan sedikit tertegun melihat senyuman di wajah Naruto. "A‒apa?" tanyanya gugup.
"Sudah jam 8 lebih, princess." Naruto tersenyum makin lebar dan idiot.
"Tunggu! Jam 8? Astaga , kita terlambat!" Hinata segera menyeret lengan Naruto kearah sepeda motornya yang terparkir beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Segera saja Naruto menaiki sepeda motornya dan meminta Hinata untuk mengenakan helmnya.
"God, apa lagi ini…susah sekali." Naruto yang mendengar Hinata menggerutu pun menatapnya heran. Terlihat Hinata yang tengah kebingungan mengenakan helm. Kedua tangan Naruto pun terjulur kearah dagu Hinata dan membenahinya. Lagi‒lagi Hinata dapat merasakan pipinya yang memanas karena jarak wajah Naruto yang begitu dekat dengannya. Hinata menekan kepala Naruto dengan kasar setelahnya. Ia menaiki sepeda motor Naruto dan mengabaikan tatapan heran pemuda tan itu. "Ayo berangkat."
"Pengangan dulu, sayang." Pipi Hinata bertambah merah.
"Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Itu menggelikan. Ayo cepat, kita sudah terlambat lima menit!" omel Hinata, masih dengan wajah yang memerah hingga telinganya. Aneh sekali bukan? Bahkan Sasuke belum bisa membuatnya blushing lebih parah dari ini. Karena Naruto mengacuhkannya, ia menghela nafas pasrah. Dengan terpaksa ia melingkarkan tangannya pada pinggang Naruto dengan erat. Kai tersenyum penuh arti, ia pun melajukan sepedanya dengan kecepatan sedang, ingin merasakan momentnya bersama Hinata. Soal jam sekolah? Biar nanti urusannya.
CONFESSION -SASUSAKU-
Di koridor kelas, Ino terus saja menyentuh layar smart phonenya, jari‒jarinya menekan angka yang sudah dihafalnya di luar kepala dan meletakkan ponselnya di telinga setelahnya. Beberapa kali ia menggerutu karena mail box terus menyapanya. Hampir saja dia membanting ponselnya kalau suara Sai menghentikannya.
"Tidak diangkat?" Sai bertanya khawatir. Ino mengangguk lemah.
"Saku mematikan handphonenya. Kemarin tou-san dan kaa-san juga tidak bisa menghubunginya. Kami khawatir." Sai mengusap rambut Ino sayang, membuat Ino tersenyum manis.
"Mungkin dia bersama Sasuke."
"Ya, aku harap begitu." Helaan nafas Ino berderu pelan. "Dan aku harap Sasuke menjaganya. Aku harus bertemu dengannya nanti. Aku akan ke kelasmu pada waktu istirahat." Ino tersenyum dan Sai mengangguk. Mereka kembali melanjutkan langkah mereka ke kelas Ino di lantai tiga. Sudah menjadi kebiasaan kalau Sai akan mengantarkan Ino terlebih ke kelasnya sebelum ia sendiri kembali ke kelasnya di lantai dua. Setelah sampai, Ino menatap Sai di ambang pintu kelasnya.
"Terima kasih, Sai-kun." Kali ini Sai tersenyum.
"Hn. Aku nanti akan berbicara pada Sakura." Ino menggeleng pelan.
"Biar aku yang berbicara pada anak itu untuk berhenti membuat semua orang khawatir."
"Baiklah." Sai mendengus kecewa. Kentara sekali kalau dia juga mengkhawatirkan Sakura. Bersama Sasuke? Sedikit banyak, dia pasti khawatir. Sai belum bisa sepenuhnya percaya pada Sasuke. Benarkah Sasuke memperlakukannya dengan baik? Atau ini adalah sebagian dari rencana Sasuke? Mempermainkan hati Sakura? Sasuke akan lebih memilih berkencan dengan banyak wanita . Dia benar‒benar belum bisa mempercayai sahabatnya itu. Sai harus membicarakan masalah ini dengan Sasuke.
"‒‒Sai, Sai-kun!" Sai tersentak saat Ino menepuk pundaknya. "Kau melamun?"
"Ah tidak. Baiklah, aku kembali ke kelas." Ino mengangguk dan Sai pun berlalu, masih dengan pandangan menerawang seperti tengah memikirkan sesuatu. Dan Ino tertegun di depan kelasnya, menatap punggung Sai yang semakin kecil dari pandangannya. Ini…pertama kalinya, sejak mereka menikah, Sai melupakan ciuman kecil di dahi Ino. Mereka sudah terbiasa sebelumnya. Ino juga berusaha untuk tidak menolaknya. Toh, mereka akan tetap hidup bersama meski harus menolaknya. Tapi kali ini, hari ini, bahkan sejak kemarin Sakura menghilang, Sai tampak termenung dan mudah melamun. Dua bulan lebih bersama Sai, Ino betul sifat pemuda berkulit putih itu. Dia tak kan memikirkan sesuatu dengan begitu keras kalau dia tidak benar‒benar peduli akan sesuatu itu.
"Kau berbeda, Sai-kun. Apa yang membuatmu seperti itu? Kau‒‒memikirkan Sakura? Atau..kau memiliki perasaan padanya? Apa selama ini kalian saling mencintai?" gumamnya lirih bersamaan dengan hilangnya punggung Sai di balik tangga.
CONFESSION -SASUSAKU-
Cklek.
Angin berhembus kencang sesaat setelah Sakura membuka pintu atap sekolah. Perasaan risau sejak tadi pagi membuatnya tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya. Akhirnya ia memilih tempat yang jarang dikunjunginya ini menjadi tempat pelariannya untuk saat ini. Dia butuh sendiri dan berpikir jernih. Ia mencengkeram sedikit ujung seragamnya. Ia sudah mengigit bibir bawahnya sedari tadi hingga memerah. Apalagi yang membebani pikirannya kalau bukan masalah Sasuke.
"Kenapa seperti ini? Kenapa sakit sekali? Ini semakin aneh. Tidak seharusnya aku memiliki perasaan ini pada Sasuke. Jangan Sakura remas bagian dadanya dengan mata yang sudah berkaca ‒ kaca, hingga detik berikutnya liquid bening itu turun perlahan di pipi tirusnya. Kenapa dia menjadi cengeng seperti ini hanya karena Sasuke? Bahkan dulu dia masih bisa menahan airmatanya saat Sai berada di pelukan kakaknya. Setidaknya, dia masih bisa menunjukkan senyuman palsu pada kakaknya untuk menutupi rasa sedihnya. Tapi kali ini beda. Rasanya sangat sakit, dan dia tak bisa menahannya lagi. Perlahan, suara isakan kecil mulai terdengar dan isakan‒isakan berikutnya menandakan betapa sakitnya dia sekarang.
Greb. Ia dapat merasakan pelukan hangat seseorang.
"Aku disini, menangislah Sakura" Dan berakhir dengan tangis yang menggema dan remasan kuat di blazer pemuda yang lebih tinggi darinya ini.
Flashback.
Itachi tadi pagi memberikan bekal pada Sakura untuk di makan bersama Sasuke di sekolah. Bel istirahat baru saja berbunyi. Akhirnya, dengan sedikit keberanian, dia menghampri Sasuke dan mengajaknya makan. Sasuke pun tersenyum dan segera menggandeng tangan kekasih kecilnya itu keluar kelas. Namun saat beberapa langkah dari pintu kelas, sebuah suara menghentikan langkah mereka.
"Sakura!" Sakura berbalik dan melihat Hinata berlari kearahnya. Ia tersenyum kecil. "Kau harus membantuku, kali ini penting sekali." Dahi Sakua berkerut heran.
"Ada apa?"
"Kemarin saat selesai olah raga, aku memasukkan kertas partitur musik di loker pakaianku dan lupa membawanya pulang." Mata Sakura membulat. Itu kan kertas yang akan mereka gunakan untuk pelajaran terakhir nanti? Kertas itu berisikan lagu yang mereka ciptakan dan harus dinyanyikan mereka saat pelajaran musik nanti. Bisa‒bisa mereka dihukum karena tak melaksanakan tugas kelompok dengan baik. "Maafkan aku karena ceroboh. Tapi sekarang kau harus membantuku untuk mencarinya." Hinata langsung menarik tangan Sakura tanpa menunggu balasan dari Sakura.
"Aku akan menunggumu di ruang musik!" Sasuke berteriak sembari menenteng kotak bekal yang entah sejak kapan berada di tangannya. Sakura mengangguk dan tersenyum. Ia pun mengikuti Hinata dengan langkah yang lebih lebar dari sebelumnya. Berharap ini akan segera selesai dan Sasuke takkan terlalu lama menunggunya. Well, menunggu itu sangat membosankan bukan?
Hampir dua puluh lima menit Sakura habiskan di ruangan olah raga, tepatnya di ruangan dengan beratus ‒ ratus loker di dalamnya. Ia sedikit mengomel pada Hinata yang sangat lambat ‒menurutnya‒, mungkin karena panik dan sedikit takut akan omelan Sakura, Hinata sampai bertanya pada setiap siswa di ruangan olah raga itu. Dan berakhir dengan datangnya Naruto membawakan kertas itu. Kertas itu ternyata di titipkan pada Naruto kemarin, saat Hinata mendadak harus ke toilet, karena lupa, kertas itu terbawa Naruto pulang. Dan Sakura pun berteriak kesal setelahnya.
Hosh..hosh…
Dengan kecepatan penuh, Sakura berlari dari ruang olah raga ke ruang musik yang jaraknya bisa dikatakan cukup jauh dari tempat mereka ‒Sasusaku‒ rencanakan untuk makan siang. Ia menumpukan tangan kirinya di tembok, dan mengusap sedikit peluhnya. Jam di tangannya menunjukkan kalau waktu istirahat hanya tersisa 7 menit saja. Gawat. Sasuke pasti akan memarahinya. Ia segera berdiri dan berjalan cepat kearah pintu ruang musik yang sudah terbuka. Segera saja memasang senyum termanis yang ia punya. Baru saja ia ingin bersuara, dia justru dikejutkan oleh pemandangan di depannya. Dan ini…..ketiga kalinya, ia melihatnya. Tapi kali ini ialah yang merasakan kekecewaan itu, karena status mereka sekarang. Disana, di dalam ruang musik…
Sasuke berciuman dengan orang lain….
Dan Sakura dapat melihat tangan Sasuke yang berada di dalam kemeja orang itu serta mengusap punggungnya dengan lihai. Terlihat sekali kalau mereka tengah melakukan french kiss dengan kasar, seolah mengumbar nafsu disana. Sakura mematung di depan pintu, cukup terkejut dan kakinya melemas seketika. Dada Sakura berdenyut sakit. Bahkan untuk melangkah pergi darisana pun ia tak bisa. Harusnya, ia memang sadar, kalau dia bukan orang yang berarti untuk Sasuke. Dia bukan Tayuya, dia hanya sedang dibutuhkan oleh Sasuke yang mungkin juga bisa dibuang setelah Sasuke bosan. Dia bukan siapa‒siapa, jadi Sasuke akan melakukan semuanya sesuka hatinya. Ia tak berhak untuk melarangnya? Meski pun itu berciuman. Kau, bukan siapa‒siapanya Haruno Sakura.
Sakura mundur beberapa langkah ke belakang, ia menghembuskan nafasnya yang terasa berhenti di tenggorokan. Dengan keyakinan yang ia buat sendiri, Sakura berusaha melangkah pergi. Mungkin dia butuh udara, dadanya terasa sesak.
#Sasuke's side
Setelah melihat Sakura pergi, Sasuke melepaskan tautan bibirnya ,membenahi pakaiannya dan mengenakan kembali jas sekolahnya. Chanyeol terdiam. Dalam hati dia merasa bersalah telah menyakiti Sakura, tapi dia harus melakukan ini dan biarlah Sakura membencinya. Ini lebih baik untuk mereka.
"Kau menyesal?" .
"Tidak , ini yang terbaik untuk kami berdua." jawabnya lirih.
"Aku bingung, kenapa kau harus meminta bantuanku untuk ini. Padahal biasanya kau melakukannya dengan suka rela. Yeah, maksudku kau tidak pernah melakukan ini karena orang lain. Kau bahkan biasa saja saat kekasihmu sebelumnya, yang bernama Hinata itu menangis karena memergoki kita. Ada apa denganmu? Kemana si brengsek Sasuke sebelumnya?"
"Dia berbeda . Aku tidak bisa menyakitinya."
"Tch, terserah kau saja"
Jangan mencintaiku, Sakura. Aku tak pantas untukmu….
Brak!
"Sai…" Mata Sasuke melihat Sai tengah menatapnya tajam seolah mengulitinya saat ini juga. Sai melangkah kearahnya dan satu tonjokan kasar mendarat mulus di wajahnya.
"Kau‒‒kau benar‒benar brengsek Sasuke! Ternyata kau hanya ingin mempermainkan hatinya? Oh bagus sekali. Kau terlihat semakin brengsek sekarang." Sasuke tersenyum remeh dan mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangannya. "Kau masih bisa tersenyum hah!" Mata Sai berkilat marah.
"Ada apa Sai, bukankah kau tahu kalau aku memang brengsek selama ini?"
Bug!
Satu pukulan kembali mendarat di wajahnya.
"Kau‒‒jangan pernah berani kau mendekati Sakura lagi! Atau kau mati di tanganku!" Sasuke menatap datar pada Sai.
"Tidak, aku tidak akan berhenti."
"Brengsek!"
Bug!
Dan dengan satu pukulan terakhir Sai berlari pergi darisana.
"Kekuatan cintakah? Hhaha. Kau bahkan tak menjelaskan pada temanmu tadi kalau kau melakukan ini juga demi Sakura. Oh lucu sekali. Aku seperti melihat drama." Sasuke memalingkan wajahnya dan mendengus kesal.
"Diam kau! Akh‒‒wajahku."
Flashback end.
"Sai‒‒hiks." Sai terus mengusap rambut Sakura yang berada di pelukannya.
"Kau tak pantas menangisinya. Tenanglah. Aku disini." Sakura mencengkeram erat blazer belakang Sai. Rasa sesaknya benar‒benar tak mau hilang. Kenapa semakin aneh? Apa benar kau telah mencintainya, Sakura? Bahkan Sai, cinta pertamamu yang sekarang tengah memelukmu tak lagi membuat debaran kuat di dadamu lagi. Tapi kenapa harus Sasuke?
CONFESSION -SASUSAKU-
Hinata menarik lengan Naruto dan berlarian menuju lantai tiga, menuju ke kelas Ino. Dari raut wajahnya, Hinata terlihat sangat panik, sedangkan Naruto tampak lebih tenang dan mengikuti kemana Hinata menyeretnya. Saat di tangga menuju laintai tiga, ia melihat Ino tengah bercengkrama dengan seniornya.
"Ino nee-chan" Hinata melepaskan cengkeramnnya pada Naruto dan menghampiri Ino dengan setengah berlari. Ino pun menatap Hinata seolah bertanya‒tanya.
"Ada apa, Hinata-chan?"
"Gawat Nee-chan!"
"Gawat kenapa?"
"Sai memukul wajah jelek Naruto, ah maksudku memukul Sauke di ruang musik." Naruto memutar bola matanya malas. Naruto gemas sekali ingin mencubit bibir kissable Hinata yang selalu berbicara seenaknya itu. Sedangkan Ino membulatkan matanya dan langsung menarik tangan Hinata pergi, diikuti oleh Naruto dibelakangnya.
.
Cklek
"Sasuke, dimana Sai sekarang?" kali ini Ino bertanya dengan nada tegas.
"Mungkin dia mencari adikmu." jawabnya lirih dan terkesan malas.
"Apa maksudmu?"
"Bisakah kalian semua pergi? Kalian membuatku bertambah kesal!" Seru Sasuke
"Baiklah, kami pergi."
"Tapi ‒‒"
"Kita pergi. Sepertinya Sasuke butuh sendiri." Hinata menatap tajam kearah Sasuke yang lebih memilih memalingkan wajahnya kearah lain. Ia pun mengikuti Ino keluar dari ruang musik. Sedangkan Naruto masih berada di dalam menatap Sasuke dengan heran.
"Ini pasti ada hubungannya dengan Sakura, kan? Tidak cukupkah kau menyakitinya selama ini? Kau menyakitinya seperti ini pun, Tayuya tidak akan kembali. Kau melakukan hal yang sia‒sia, Sasuje." Sasuke mendongak menatap Naruto dengan pandangan penuh arti. "Menyakiti Sakura, sama saja dengan menyakiti Tayuya. Harusnya kau tahu betul itu." Sasuke menghela nafas.
"Kau salah. Ini‒‒bukan karena Tayuya. Aku hanya tak ingin Sakura merasakan hal yang lebih sakit dari yang kulakukan selama ini. Aku hanya ingin segera mengakhirinya."
"Kau‒‒mencintainya?" Sasuke sedikit tersentak mendengar gumaman Naruto. "Kau‒‒melakukan ini karena kau mulai mencintainya? Kau tak mau menyakitinya." Sasuke sebenarnya tak ingin mengakuinya, tapi kenapa sepertinya tebakan Naruto semuanya benar. "Ah lupakan saja. Aku hanya asal bicara. Memangnya apa yang membuat Sai memukulmu?" Naruto mengalihkan pembicaraan, dia hanya tak mau Sasuke geram, menyerangnya dan membuat kekacauan di ruang musik lagi.
Sasuke menghela nafas pelan.
"Aku‒‒tidak mencintainya." Ada perasaan asing yang menekan dada Sasuke. Dia pernah merasakannya, hanya saja dia tak berani menebak perasaan ini. Dia tidak boleh membiarkan perasaan itu menjalar hingga saraf‒sarafnya. Cukup dia memberikan semua perasaannya pada Tayuya. Jangan lagi. Dia juga tak ingin kecewa seperti dulu.
"Sudah, lupakan saja ucapanku."
"Sai memukulku karena aku menyakiti Sakura lagi. Aku hanya ingin berhenti. Aku ingin mengakhiri semuanya." Sasuke tersenyum kecut kearah Naruto. "Jaga Sakura untukku, Naruto. Aku mengandalkanmu." Dan dengan permintaan kecil itu, Sasuke pergi dari ruang musik. Meninggalkan Naruto yang menganga dan dahi berkerut heran.
Apa mungkin tebakannya benar?
#HinaIno side
"Ayo cepat !" Mereka ‒atau lebih tepatnya Hinata‒ menaiki anak tangga menuju atap dengan tergesa‒gesa.
"Jangan berlarian Hinata! Tangga ini tinggi, kau bisa terjatuh." Hinata mengerucutkan bibirnya. Kenapa Ino bisa santai seperti itu? Mungkin saja saat ini Sakura menangis atau Sai kesakitan karena babak belur kan?
"Ah nee-chan~"
Cklek.
Deg.
Ino mematung di ambang pintu. Hinata yang di belakangnya menyingkirkan tubuh Ino karena penasaran dengan apa yang terjadi di depan mereka. Dan hasilnya, matanya melotot sempurna dengan mulut yang menganga lebar. Sai‒‒mencium Sakura? Ino tak memalingkan wajahnya. Pandangannya kosong dan dingin. Hinata dapat merasakan aura tak mengenakkan disekitarnya.
"Nee‒nee-chan…" Hinata menepuk pundak Ino dengan hati‒hati, namun tak ada respon.
"Ino‒‒/Ino nee ‒‒" Entah sejak kapan tautan mereka ‒Saisaku‒ terlepas dan telah menyadari kehadiran Hinata juga Ino. Ino menatap datar keduanya. Hingga saat Sai mendekat, Ino berbalik dan segera berlari menuruni anak tangga.
"Ino! Kau salah paham." Sai berteriak namun Ino tak menggubrisnya dan semakin mempercepat larinya. Sai pun belari menyusul Ino dan meninggalkan HinaSaku berdua. Kyungsoo menatap Sakura cengo.
"A‒apa y‒yang kalian lakukan tadi?" Sakura yang matanya masih sembab, kini menghasilkan liquid bening lagi. Urat kakinya serasa lemah untuk menopang tubuhnya. Ia berjongkok dan menutupi wajahnya. Menangis lebih keras dari yang tadi, membuat Hinata gelagapan dan segera menghampiri Sakura serta memberikan pelukan penenang. Dia yakin, Sakura punya alasan telah melakukan hal itu dengan Sai. Sakura tak mungkin menyakiti kakaknya.
"Hiks‒‒apa yang telah kulakukan, Hinata. Apa yang telah kulakukan pada hyungku. Hiks. Aku telah menyakiti Ino nee . Hiks."
.
.
"Eung, Sai, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Se‒sebenarnya, aku menyukai‒ah tidak, aku mencintaimu dari dulu. Bahkan sebelum kau dijodohkan dengan Ino nee-chan."
"A‒apa?"
"Maafkan aku. Aku hanya ingin mengatakannya. A‒aku tak ingin kau membalasnya. Aku tahu kau sudah mencintai nee-chan ku. Maafkan aku, Sai. Aku hanya tak ingin memendamnya semakin lama. Aku tak memaksamu. Kau milik nee-chan sekarang."
"Maaf."
"Tidak apa‒apa. Aku tahu. Bolehkah aku meminta sesuatu? Aku berjanji itu akan menjadi hal terakhir sebelum aku melupakan perasaanku."
"Baiklah. Apa itu?"
"Cium aku…"
TBC
Selamat baper"an bagi yang berminat wkwk
Jangan lupa tinggalkan jejak ya(^o^)
Mind to review, follow, favorite?
