.
Kyuhyun memandang Sungmin yang masih tidur di sebelahnya dengan damai. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Istrinya yang cantik yang sedang tertidur. Sungguh pemandangan yang indah. Untung saja hari ini hari Minggu, jadi dia bebas memandangi Sungmin seharian. Kyuhyun menepis helaian rambut yang menutupi wajah Sungmin dengan senyuman. Setelah beberapa kali membelai wajah Sungmin akhirnya gadis itu mengeliat dan membuka matanya.
"Pagi." Kyuhyun menyapa Sungmin dan mengecup bibirnya.
"Pa-pagi... Kyu-kyuhyun..." Sungmin menjawab dengan canggung. Sungmin masih belum terbiasa dengan Kyuhyun yang baik padanya.
"Kyuhyun-shhi, mau sarapan?" Sungmin merengangkan tubuhnya.
"Boleh. Bisa kita sarapan roti?" Kyuhyun tiba-tiba mau makan roti. Ditambah selai kacang pasti enak.
"Tentu!" Sungmin mengangguk dan berlari keluar kamar. Karena ini hari Minggu, jadi makan dulu baru mandi.
.
Senin pagi datang lagi. Setelah Sungmin menyiapkan sarapan, Kyuhyun berangkat kerja. Lalu setelah dia duduk bosan di depan TV, Sungmin memutuskan untuk belanja. Bahan makanan di kulkas sudah mulai menipis. Sungmin tersenyum senang saat sampai di sebuah toko yang menjual bahan makanan. Dari dulu Sungmin suka sekali memasak jadi melihat berbagai macam sayuran dan buah-buahan adalah pemadangan yang indah buat Sungmin. Saat Sungmin memasuki bagian danging, Sungmin tidak sengaja menabrak seseorang sampai mereka berdua terjatuh.
"Omo! Maafkan aku!" Sungmin buru-buru berdiri dan membantu seorang wanita yang ditabraknya.
"Ah.. tidak apa-apa... oh! Kau!" Wanita yang Sungmin tabrak berteriak saat wajah mereka bertemu.
"Ah... ya?" Sungmin memiringkan kepalanya dan menatap wanita itu heran.
"Kau tidak ingat aku ? Ah... padahal aku ingat kau." Wanita itu merengut.
"Oh.." Setelah terdiam selama beberapa saat akhirnya Sungmin ingat dan mengernyit. Dia... wanita itu... yang dulu Kyuhyun bawa ke rumah.
.
Disinilah Sungmin dengan wanita itu, di sebuah kafe terdekat. Sudah sepuluh menit sejak pesanan mereka datang tapi, mereka hanya diam saja.
"Ah... namamu? Aneh sekali kalau kita berbincang tanpa saling mengenal." Wanita itu terlihat cantik dan modis. Kalau dibandingkan dengan Sungmin... huh. Sungmin tidak mau membahasnya.
"Sungmin imnida." Sungmin sedikit membungkukan tubuhnya.
"Ah. Si brengsek itu. Siapa nama suamimu? Tega sekali." Wanita itu menggelengkan kepalanya dan menyesap kopinya.
"Kyu-kyuhyun..." Sungmin merasakan hatinya teriris. Mereka bahkan tidak saling kenal?
"Oh.. Kyuhyun? Apa kau masih bersamanya?" wanita itu meletakan cangkir kopinya dan menatap Sungmin penuh tanya.
"Iya..." jawab Sungmin ragu. Sepertinya, menerima ajakan wanita ini untuk berbincang di kafe adalah ide buruk. Rasanya Sungmin mau menangis sekarang.
"Kibum. Namaku Kibum." Wanita itu tersenyum setelah mendengus.
Sungmin hanya membalasnya dengan sebuah anggukan. Wanita itu memberikan tatapan aneh pada Sungmin dan menggelengkan kepalanya.
"Sungmin-sshi? Kenapa kau masih bersama dengan Kyuhyun?" Wanita itu mendekatkan tubuhnya pada Sungmin. Sungmin hanya diam dan menatap Kibum bingung.
"Kau tahu... kalau aku jadi kau aku akan membunuh pria itu sejak pertama aku tinggal denganya. Oh.. aku sangat jahat. Kau terlihat sangat baik." Wanita menghela napas dan menggelengkan kepalanya lagi.
Kenapa?
Iya. Kenapa Sungmin diam saja diperlakukan seperti itu?
Sungmin tidak tahu. Sungmin hanya ingin membuat orang tuanya percaya kalau Sungmin baik-baik saja. Hanya itu. Sungmin tidak pernah memikirkan hal lain. Kyuhyun... yang mendiamkannya... Kyuhyun yang tidur dengan wanita lain.. tiba-tiba hati Sungmin terasa sangat sakit sampai gadis itu menangis. Menangis tanpa suara.
"Sungmin-sshi? Oh. Astaga. Aku minta maaf. Maaf. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu atau apa..." Kibum bergegas duduk di sebelah Sungmin dan merangkul Sungmin. Sesekali dia mengusap punggung Sungmin dan terus berkata maaf.
"Kyu-kyuhyun... menolongku." Sungmin tersenyum pahit saat menatap Kibum. Dia sedikit menyeka air matanya dengan tissue yang Kibum berikan.
"Oh... iya. Lupakan saja. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa. Aku... hanya heran kenapa kau masih mau bersamanya... Kau tahu..." Kibum berkata dengan panik. Dia merasa bersalah sekarang.
"Iya. Tidak apa-apa. aku memang bodoh. Dulu, waktu sekolah aku selalu dapat rangking rendah." Sungmin mencoba tersenyum tapi air matanya terus mengalir.
"Oh... sudah jangan menangis." Kibum terus mengusap punggung Sungmin.
"Dulu... karena aku bodoh, aku tidak punya teman... jadi aku selalu sendirian. Kyuhyun-sshi adalah orang pertama yang memberiku sebuah hadiah. Selain ibu dan ayah... tentunya. Saat aku pergi berkumpul dengan keluarga besar ayah aatu ibu... sepupuku akan menjauhiku... waktu Kyuhyun-sshi memberikanku sebuah permen cokelat rasanya hatiku sangat damai. Aku merasa... dihargai..." Sungmin berkata sambil terus memegangi dadanya. Ini yang dia perlukan. Dia perlu seorang teman untuk bercerita. Dia kesepian.
"Kibum-sshi, mau mendengar sebuah cerita?" Sungmin tersenyum senang kepada wanita itu.
"Oh. Tentu saja." Kibum menangguk. Sejujurnya dia bingung harus apa.
"Ibu sering menceritakan ini padaku... dulu ada seorang pemuda yang sangat baik hati. Apa pun yang orang minta pasti akan dia berikan. Dia adalah seorang kaya yang mempunyai sebuah hutan luas yang penuh dnegan berbagai macam makanan. Namun, dia tidak bahagia karena keluarganya membencinya. Dia sangat kesepian. Suatu hari.. seorang ibu datang padanya untuk meminta sebuah apel dari pohon yang ada di belakang rumahnya. Tentu saja pemuda itu langsung memberikannya. Dia senang karena dia bisa membuat orang lain senang. Tapi lama-kelamaan ibu itu datang setiap hari untuk meminta apel bahkan sampai akhirnya ibu itu meminta pohon apel tersebut. Karena pria itu baik... pria itu memberikannya. Lalu, kebaikan pemuda itu tersebar kemana-mana sampai semua orang datang ke rumahnya untuk meminta sesuatu. Sampai akhirnya, pemuda itu menjadi seorang gelandangan karena semua yang dia punya sudah menjadi milik orang lain. Setelah semua yang dia berikan kepada orang lain, pemuda itu malah diusir dari hutan miliknya sendiri. Setelah itu, pemuda itu memutskan untuk menggembara. Dia hanya membawa bajunya yang melekat di tubuhnya. Di dalam perjalanan, ada seseorang yang meminta celananya, bajunya, lalu yang terakhir sepatunya, sampai akhirnya dia telanjang. Setelah dia berjalan cukup jauh dia sampai di sebuah hutan yang berbahaya. Di sana dia bertemu dengan beberapa monster yang kelaparan. Monster-monster itu meminta kakinya, lalu tangannya. Sampai akhirnya dia tidak bisa bejalan dan hampir mati kehabisan darah. Sebelum dia mati... seseorang datang kepdanya dan memberikan dia sebuah kertas. Di sana tertulis, dasar bodoh. Lalu, setelah itu pemuda itu menangis.. dan dia berkata. Ah... Kibum-sshi? Kau tahu apa yang dikatakannya?" Sungmin menyeka air matanya dan menatap Kibum dengan sebuah senyuman. Kibum hanya menggeleng.
"Dia bilang, terima kasih. Seumur hidupku belum pernah ada yang memberikanku hadiah. Lalu dia mati. Cerita itu.. mengajarkanku untuk terus berbuat baik. Walaupun orang lain tidak menganggapnya." Kali ini Sungmin tersenyum senang.
"Ah... Sungmin-sshi." Kibum langsung memeluk gadis itu dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Sungmin.
"Maafkan aku. Aku memang wanita bodoh." Kibum berkata disela-sela tangisnya.
.
Sungmin pulang dengan beberapa kantung sayur-mayur. Setelah sedikit kerepotan untuk membuka pintu akhinya dia berhasil membawa semua kantong-kantong belanjaannya ke dalam rumah. Setelah itu dia memindahkannya ke dalam kulkas sambil bersenandung. Rasanya sangat lega setelah memberitahu apa yang dia rasakan kepada seseorang. Walaupun, dia tidak begitu kenal orang itu. Setelah mereka berdua menangis habis-habisan di kafe. Kibum berjanji pada Sungmin kalau dia akan mencoba mencintai suaminya dengan tulus dan tidak selingkuh lagi. Dia juga berjanji kalau dia akan membunuh Kyuhyun kalau pria itu berani selingkuh atau menyakiti Sungmin.
Dulu waktu Sungmin terlahir dengan IQ dibawah rata-rata, ibunya menangisinya tiap malam. Sungmin bisa membaca saat umurnya 13 tahun. Gadis itu bahkan harus bersekolah di sekolah khusus. Hanya ibunya temannya. Pertemuannya dengan Kyuhyun membekas dihatinya. Hari itu dia seperti diberikan kekuatan untuk tersenyum. Keluarganya bersekolah di luar negri dengan kemampuan di berbagai bidang. Jadi, waktu Sungmin memutuskan untuk tidak kuliah seluruh kerabatnya mencibir. Tidak ada yang tahu kalau Sungmin selalu menangis setiap acara keluarga. Menikah adalah hal terbesar yang dilakukannya dalam hidupnya. Apalagi menikahi seseorang seperti Kyuhyun. Tidak ada lagi yang menganggap remeh ibunya. Karena itu dia harus bertahan demi ibunya. Apa pun yang terjadi, dia akan membuat ibunya terus tersenyum secerah senyuman ibunya di pesta pernikahannya dengan Kyuhyun.
.
"Sungmin... Sungmin..." Sungmin mengeliat saat pipinya dielus lembut. Saat dia membuka matanya dia melihat Kyuhyun yang tersenyum padanya.
"Kau tertidur di sini ya?" Kyuhyun duduk di samping Sungmin dan mengcup dahi Sungmin.
"Ma-maaf." Sungmin memberikan sebuah senyum paksaan pada Kyuhyun. Dia tidak tahu harus percaya pada Kyuhyun atau tidak. Kyuhyun yang besikap baik padanya mungkin hanya sebuah mimpi. Kyuhyun bisa berubah kapan saja dan Sungmin siap akan itu.
"Tadi aku mampir ke sebuah toko mainan... ibu bilang kau suka kelinci." Kyuhyun menyerahkan sebuah boneka kelinci berwarna merah muda. Rasanya Sungmin mau menangis. Dia suka sekali kelinci. Bolehkan dia berharap?
"Iya.." Kata Sungmin sambil menarik boneka itu kepelukannya dan menangis.
"Eh... kenapa menangis?" Kyuhyun panik dan memeluk Sungmin. Kyuhyun menyeka air mata gadis itu berkali-kali.
"Aku senang... terima kasih." Sungmin balas memeluk Kyuhyun. Kyuhyun yang kebingungan hanya diam dan mengelus kepala gadis itu.
"Maafkan aku..." Kyuhyun berkata setelah beberapa saat. Kali ini, Sungmin yang bingung. Gadis itu mendongak dan menatap Kyuhyun heran.
"Aku menunggumu... untuk memukulku. Tapi, kau tidak melakukannya. Aku menunggumu meneriakiku tapi, kau tidak melakukannya. Aku menunggumu, lari dariku tapi kau malah tersenyum dangat manis... Sungmin... katakan sesuatu... tampar aku." Kyuhyun menatap Sungmin dalam.
"Ke-kenapa?" Sungmin hampir melompat saat melihat Kyuhyun menangis.
"Kyuhyun-sshi jangan menangis... maafkan aku." Sungmin menjadi khawatir dan menghapus air mata Kyuhyun secepat mungkin.
"Jangan minta maaf. Hanya aku yang pantas minta maaf di sini. Aku hanya marah. Aku marah pada diriku sendiri. Aku menyakitimu begitu dalam... Kenapa kau bisa memaafkanku secepat itu?" Kyuhyun pasti terlihat cengeng sekarang. Dia tidak peduli. Dia hanya ingin melampiaskan semua beban hatinya selama sebulan ini.
"Ak-aku tidak apa-apa Kyuhyun-sshi..." Sungmin memeluk Kyuhyun erat dan membiarkan pria itu menagis di bahunya. Kyuhyun sesekali merintih sampai membuat Sungmin mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun. Kyuhyun terasa sangat rapuh.
"Aku merasa sangat tidak pantas... tapi.. bisakan kita memulainya dari awal? Ak-aku..." Kyuhyun berhenti berbicara karena Sungmin sudah menciumnya. Setelah beberapa kali saling memanggut, Sugmin mengangguk. "Tuntu saja. Kita mulai dari awal..." lanjut Sungmin.
"Terima kasih... sekarang kau jangan menangis.." Kyuhyun menyeka air mata Sungmin dan tersenyum senang. Pria itu mengeluarkan dua buah pemen cokelat dari saku bajunya dan berkata, "Hai. Aku Kyuhyun. Kenapa menangis? Ini. Untukmu." Kyuhyun meletakan sebuah permen cokelat di atas tangan Sungmin itu dan tersenyum. "Aku menabung untuk membelinya. Jadi, kau harus senang dan bangga. Aku orang yang tidak suka berbagi." Lanjut Kyuhyun.
Sungmin hanya terdiam dan menerima sebuah permen cokelat itu. Dengan perlahan Sungmin mengamati bungkusnya. Ah.. sama. Permen cokelat yang sama seperti dulu. Sambil tersenyum Sungmin membuka pembungkusnya dan memakan permen cokelat itu.
"Enak? Aku beli yang paling mahal. Jangan bilang-bilang ibuku ya." Kyuhyun menambahkan sambil tertawa.
"Iya. Tidak akan aku bilang siapa-siapa." Sungmin berbisik dan ikut tertawa.
"Kita mulai dari awal..." Kyuhyun berkata lagi dan Sungmin menangguk.
.
.
Kyuhyun kecil masih duduk diam saat seorang wanita datang dan memeluk gadis kecil di depannya. Gadis menangis lagi setelah wanita itu memeluknya. Saat Kyuhyun melirik ke arah ibunya, Kyuhyun kaget karena ibunya juga ikut menangis.
"Minnie-ah... maafkan ibu ya. Ibu tidak akan membiarkan kau sendirian lagi... maaf..." Wanita itu terus emngucapkan kata maaf dan memeluk gadis itu erat. Kalau wanita ini ibunya, artinya gadis ini tidak menagis karena ibunya. Ibunya juga menangis dan minta maaf.
Diam-diam Kyuhyun memasukan dua bungkus permen cokelat yang tadi dia makan dengan gadis itu ke sakutnya. Kalau ibunya tahu... bisa bahaya. Setelah itu Kyuhyun merengut tidak senang. Tadi Kyuhyun sudah dengan susah payah membuat gadis itu diam. Dia sampai memberikan sebuah pemen cokelatnya yang berharga. Siapa sih ahjumma ini?
"Pergi!" Kyuhyun berteriak dan menarik gadis itu dari pelukan ibunya. "Tadi dia sudah berhenti menangis... ahjumma membuat dia menangis lagi!" Kyuhyun berteriak marah. Ahjumma ini pasti tidak tahu kalau Kyuhyun sudah mendapatkan sabuk kuningnya di kelas Taekwondo. Awas saja.
Ibunya dan ahjumma itu menatap Kyuhyun heran. Anehnya gadis di sebelah Kyuhyun berhenti menangis dan menatap Kyuhyun.
Kyuhyun memeriksa uang di saku bajunya. Hmm... masih ada sedikit. Kalau dia beli permen cokelat yang paling mahal hanya cukup untuk membeli satu... tapi kalau dia membeli permen cokelat yang harganya lebih murah bisa dapat dua.
Kemudian dengan mantap Kyuhyun menarik tangan gadis itu keluar rumah. "Ayo, kita beli permen cokelat lagi." Kata Kyuhyun penuh janji. Dia sudah tidak peduli kalau ibunya akan memarahinya. Dia tidak suka melihat gadis ini menangis.
Setelah Kyuhyun dan gadis itu pergi ibu Kyuhyun dan ibu Sungmin saling bertatapan penuh tanya.
"Ah... dia Cho Kyuhyun, anakku." Ibu Kyuhyun tersenyum senang.
.
.
Sudah tiga hari Kyuhyun terus memikirkan si gadis pemen cokelat. Setelah makan permen cokelat bersama gadis itu menghilang. Ibunya bilang gadis itu pindah ke Jepang dan saat Kyuhyun bertanya pada ayahnya, ayahnya bialng Jepang itu snagat jauh dari Korea. Jadi, Kyuhyun hanya bisa merengut kesal setiap memikirkan gadis itu. Pokoknya dia akan ke Jepang kalau dia sudah besar. Harus!
.
.
Fin.
a/n: Kali ini beneran fin. Oh... curhat dikit boleh ya? Jadi sebenernya waktu saya buka ffn saya mau post ini. Soalnya setelah saya post saya ngerasa juga kalo ini ff gak jelas banget. Hahaha. Jadi saya bikin sequel aja. Seharusnya ini mah digabung aja ya? Maaf ya. Waktu bikinnya buru-buru. Hehehe. Terus saya liat komen yang bikin sakit mata. Beneran deh. Sebelom liat review ini saya juga udah ngerasa ceritanya gak jelas.. jadi saya mau bikin sequel. Yah.. saya tau saya gak sempurna jadi saya pasti terima semua kritik apalagi saran. Tapi, kalo emang gak suka sama ffnya mohon kritiknya yang baik bahasanya. Terus kalo emang gak suka sama tulisan saya tolong block aja akun ini. Maaf kalo gak suka sama ff ini. Saya nulis karena seneng aja kok. Jadi.. tadi ada guest yang bikin komen gini,
thor ini story benar2 ga msk akal
ada gitu suami bawa selingkuhan ke rumah trs ML di dpn istrinya ?
Yg ada selingkuhan itu di umpetin
Sebodoh2 nya manusia klo di hianati di selingkuhin smp d bw ke rmh yrs ML masa ga marah ?
thor bikin ff yg realistis n logic dong
Situ mikir pk otak kan bukan pake pantat
Klo yg mikir otak yg kluar pst bgs realistis n logic
Nah klo yg kluar dr pantat kan TAi menurut sy situ mikirnya pake pantat jd story situ ky tai ga berguna sm sx.
Klo kyu mw selingkuh trs ML yah d luar rmh lah
Klo min tau kyu selingkuh kan bs mergokin di luar
Masa ming ga marah ? ga sakit hati ? Ga merasa harga dirinya di injak2 ?
Masa gada tindakan min yg bikin kyu spya menyesal ? Masa kyu ga dpt ganjaranya dah jahat sm min ?
Hrsnya bikin ff yg jln ceritanya realistis n logic
Ada pesan positif yg bs di sampaikan
Enak bgt ya jd kyu jd org jahat n kejam trs penjahat kelamin tp gada hukuman n penyesalan
Kasian bgt min pasrah aja di injak2 harga dirinya
Min ky pengemis cinta ky ga laku aja di perlakukan semena2 sm kyu
FF yg sangat hancur n gagal totallll
Thor klo blm bs jd author berkualitas mending belajar aja dlu dr pd bikin sampah di ffn
Saya biasa aja kalo dia bilang ff ini jelek atau apa. Banyak kok yang protes sama jalan ceritanya yang emang saya akuin aneh hahahaha. Tapi bahasanya bikin mata saya sakit. Apa lagi bagian saya mikir pake pantat. Ini yang ini,
Situ mikir pk otak kan bukan pake pantat
Klo yg mikir otak yg kluar pst bgs realistis n logic
Nah klo yg kluar dr pantat kan TAi menurut sy situ mikirnya pake pantat jd story situ ky tai ga berguna sm sx.
Aduh. Maaf ya kalo saa nyampah ffn. Saya tau dan nyadar banget tulisan saya masih banyak kurangnya tapi, saya mirki pake otak kok^^
Jadi yah... saling menghargai aja ya.
Sorry for typo~~
Makasih udah baca ya. Maaf kalo ceritanya gak jelas ._.
