Akhirnya update juga~ sebenernya udah lama sih bikinnya, cuma perbaikinnya cukup lama._.

Happy reading!


Di sekolah.

Jungkook memarkir sepedanya beserta menggembok sepedanya lalu menyimpan kunci di ranselnya agar tetap aman, karena satu sekolahan akan pergi menggunakan sebuah Bus.

Semua murid sudah berkumpul di lapangan dan membawa barangnya sendiri.

"Anak-anak, semua berbaris di lapangan!" seru orang yang tak asing bagi para murid. Dia adalah Wu Yi Fan seonsaengnim, guru yang sangat tegas dan pendirian, menurut Jungkook.

"Aku sangat tak suka dengan field trip kali ini, tolong... Andai aku bisa bersama Suga hyung disini."

"Saatnya pembagian kelompok sesuai bus." Sambung guru Wu setelahnya.

'Ini sangat membosankan, apalagi menunggu namaku untuk dipanggil.' batin Jungkook dalam hati.

"Mulai dari pertama, kelompok Pegasus."

Jungkook POV

"Mulai dari pertama, kelompok Pegasus."

Wu Seonsaengnim bilang Pegasus?!

Aku harus masuk kelompok ini!

"Kim Taeyeon, Hwang Miyoung, Kim Shinyeong, Park Hyojin, Amber Liu, Park Sunyoung, Oh Sehun, Lu Han, Moon Jongup, Choi Junhong, Lee Taemin, Kim Kibum, Jung Hoseok, Shin Peniel, Jeon Jungkook..."

Tak salah dengar?! Namaku disebut dalam kelompok tersebut? Pegasus nama spesies favoriteku?!

"Dengan pembimbing Kim Joonmyun dan ketua Jeon Jungkook, diharapkan segera masuk ke Bus."

Guru yang sangat sialan, kau membuat kesenangan ku lenyap seketika. Aku sudah bahagia mendapat nama kelompok sesuai spesies favorit ku yang tak nyata, tapi kau malah mengacaukannya dengan menunjukku sebagai ketua? Kau pikir aku memiliki tanggung jawab yang besar hah? Kau pikir aku hebat dalam mengatur? Atau kau memilih asal? Apa boleh buat.

Aku sebagai ketua mengatur barisan yang lainnya bersama Guru Kim. Semua sudah tertata rapi. Di Bus, aku duduk bersama Guru Kim di barisan paling depan karena kami lah yang mengurus semuanya.

Perjalanan dimulai dengan sangat panjang, aku hanya membuang rasa bosanku dengan mendengar lagu favoriteku menggunakan earphone dan menatap jendela agar tidak bosan.

-Jungkook POV end

Joonmyun melihat muridnya tersebut yang dari tadi hanya diam bersama dengan earphone yang menempel di kedua telinganya.

"Kau kenapa diam saja?" tanya Joonmyun pada Jungkook yang terdiam.

Merasa ada yang mengajaknya berbicara, Jungkook lalu melepas earphone nya dan memberi respon pada Joonmyun. "Tidak, Guru Kim, aku bosan karena perjalanan ini sangat memakan waktu yang cukup banyak."

Joonmyun tanpa sengaja melihat HP Jungkook yang berwallpaper foto Pegasus. "W-wallpapermu..."

"Kenapa, guru?" Jungkook memotong dengan bertanya.

"Tidak, itu mengingatkanku pada seseorang." Joonmyun menjawab dengan raut wajah yang disertai dengan senyum kesedihan.

Jungkook heran, dan ingin bertanya. "Guru Kim? Kau kenapa? Kau terlihat bersedih..." kata Jungkook sambil menenangkan Joonmyun.

Joonmyun menghela nafasnya. "Aku teringat pada anak dan istriku. Anakku menghilang, bersama dengan istriku. Dia sama sepertimu, sangat menyukai Pegasus." Joonmyun teringat kejadian lama bersama anak dan istri yang amat disayanginya lalu menitikan air matanya.

"Guru Kim... maafkan aku, jangan bersedih, aku yakin anak dan istrimu masih sangat sayang padamu... dirinya hilang belum tentu cintanya hilang." Jungkook berusaha membuat Joonmyun berhenti bersedih lalu ia segera mengeluarkan tisu dari ranselnya dan memberikannya kepada gurunya tersebut.

"Terima kasih, nak. Kau membuatku sedikit tenang sekarang." lalu Joonmyun memeluk murid yang lebih tinggi daripadanya itu dan kembali tersenyum.

"Sama-sama, guru. Sebenarnya aku memasang wallpaper ini karena aku sangat mencintai spesies tersebut." ujar Jungkook sambil melepaskan pelukan mereka.

Saat Joonmyun belum berkata apa-apa, Jungkook lalu bertanya lagi. "Guru, aku ingin bertanya. Salahkah jika aku mencintai spesies ini?"

Joonmyun tersenyum pada muridnya. "Tentu tidak. Kau tau? Cinta itu apa adanya. Cinta itu tak peduli apapun kekurangan dengan makhluk yang dicintainya. Baik penyuka sesama jenis, atau spesies yang bukan manusia."

Jungkook hanya mengangguk paham. Berpikir bahwa dia tetap mencintai apa yang dicintainya sekarang walaupun dia tau Pegasus itu tidak ada.

"Sebaiknya kau berusaha mencapai apa yang ingin kau capai, aku mendukungmu, nak."nasehat Joonmyun lalu mengusap punggung muridnya tersebut.

"Sebaiknya kau cari hiburan saja sekarang, perjalanan masih panjang."

"Baiklah, guru." obrolan mereka berakhir sampai disitu.

'Guru Kim beda sekali dengan Suga hyung-_- dan Guru Kim lebih baik, hahaha.' batin Jungkook.

Jalan demi jalan mereka lewati selama berjam-jam. Tak terasa tujuan sudah di depan mata, di sebuah hutan yang lumayan ramai dengan pohonnya.

Kini bus kelompok Pegasus berhenti bersama bus milik kelompok lainnya. Saatnya mereka turun dari bus dan membawa barang pribadi masing-masing.

"Semuanya, ayo keluar! " Joonmyun memerintah.

-Jungkook POV

Demi apa? Ini tempat yang sangat ngeri bagiku...

Hutan yang lumayan liar dengan hewan yang ada di dalam situ tak kalah liar.

Sebenarnya ini field trip atau tempat pembantaian?

Baiklah, 'Pasrah' adalah jalan terbaikku, aku sebagai ketua hanya bisa mengatur para teman-temanku yang masih tertidur di dalam bus.

Malam telah tiba, kelompok Pegasus harus mencari tempat sendiri untuk membangun sebuah kemah. Kami memilih tempat yang agak jauh dari kelompok lain agar kerusuhan kami tak mengikut sertakan mereka juga. Ya... secara kebetulan sekali, Guru Wu memasukkan semua orang yang suka ribut dalam satu kelompok, wkwk.

Semua sudah beres, terlebih aku yang paling banyak membereskan tenda para teman-temanku. Ya, aku tak tau kenapa dengan masuk kelompok Pegasus semangatku jadi meningkat walaupun aku tau tempat ini menyerupai hutan Belantara...

"Kita kekurangan kayu bakar untuk penghangatan, Jungkook, kau sebagai ketua harus mencarinya!" Joonmyun memerintahkan.

Aku? Kenapa harus aku? Ya, aku tau aku ketua, tapi tak harus sampai segininya...!

"Aku?" aku bertanya untuk diriku sendiri.

"Iya, kamu, kau kan pemberani?"

Mudah sekali Guru Kim mengatakan aku 'Pemberani' dengan lidahnya. Iya aku tahu aku ini pemberani, Tapi apa kau pikir hutan ini aman? Sudah sekian kali aku berkata 'Pasrah' dalam hati. Mau gimana lagi? Ini juga untuk keperluan orang lain. Jadi mau tidak mau aku harus mencarinya.

Aku melangkahkan kakiku pelan untuk mencari kayu bakar sendirian sepanjang jalan dengan hanya penerangan senter. Sampai sejauh ini aku hanya mendapati pohon utuh, tak ada sama sekali kayu yang bisa diambil untuk menjadi penghangatan.

Dalam hitungan detik, suasana sangat gelap. Kenapa tiba-tiba penerangan sudah tiada?

Aku seakan seperti orang buta untuk kali ini.

Astaga.

Ternyata senternya mati saat tanganku masih belum meraba satu pun kayu bakar.

Sialan. Bagaimana bisa aku mencari kayu bakar kalau senternya tak berenergi lagi?

Dan yang lebih sialan lagi, sekarang aku dimana? Aku sudah terpisah sangat jauh daripada kelompok dan Guru Kim. Mereka dimana? Aku tadi lewat jalan mana saja?

Ya, Tuhan! Tolong diriku!

-Jungkook POV end

Jungkook hanya berjalan tanpa tau arah dan berharap bisa menemui teman-teman sekelompoknya. Tak ada yang bisa ia lihat kecuali langit dan pohon-pohon tanpa sebuah cahaya setitikpun. Angin malam sangat membuatnya makin merinding, apalagi disini tak ada manusia lain selain dirinya membuat suasana semakin dingin.

Jungkook merasa kini langkahnya bukan menginjak sebuah tanah hutan lagi.

Dan...

"HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Jungkook berteriak bukan karena menemui makhluk halus atau sejenisnya yang bisa membuat orang berteriak sangat nyaring. Seperti yang diketahui, Jungkook bukanlah orang yang penakut.

Melainkan dia terjatuh ke jurang yang sangat dalam.

-Sementara itu di kelompok Pegasus

"Jungkook-ssi lama sekali" keluh Taemin.

"Dia kan yang termuda disini, pasti dia kesusahan mencarinya." Taeyeon menyambung.

"Kalau dia yang termuda, mengapa harus dia yang menjadi ketua? Bukankan itu sangat berbahaya?" Hoseok menyambung kembali dan berfirasat buruk.

"Guru Kim! Aku punya firasat buruk pada Ketua!" panik Luhan pada Joonmyun.

Joonmyun memiliki firasat yang sama seperti Hoseok dan panik seperti Luhan. Jungkook masih kecil, ia pikir masih belum terlalu dewasa untuk mengatur orang yang ada di kelompoknya yang semuanya lebih tua daripada dirinya sendiri.

Untuk saat ini Joonmyun sangat panik, namun ia tak memperlihatkan kepanikannya. Mengetahui murid yang dekat dengannya tersebut tak kembali ke tempat membuat perasaannya sangat resah.

"Sekarang, aku akan mencarinya, Sehun, bisa kau temani aku?" pinta Joonmyun pada murid namja bermuka dinginnya tersebut.

Sehun menatapnya, ia merespon sambil melebarkan matanya. Namun murid yang dingin tersebut tetap menerimanya. "Aku mau, tapi bawa Luhan, ne? Aku tak ingin terpisah darinya." jawab Sehun sambil merangkul Luhan.

Joonmyun hanya menggeleng, tapi dia tetap meng-iya-kan kata-kata Sehun.

-Joonmyun POV

Hoseok mungkin benar, mengapa Jungkook yang terpilih sebagai ketua? Padahal Jungkook masih terlalu muda, bahkan yang termuda diantara kami.

Aku harus mencarinya di berbagai tempat, sebentar lagi sudah mau Subuh, jadi penerangan alami sedikit membantu pencarian.

"Jungkook, kau dimana?" teriakku yang hanya bisa memanggil ke segala arah.

Tak ada yang merespon panggilanku satupun, yang terdengar hanya suara hewan-hewan kecil dan hentakan kakiku bersama dua murid yang menemaniku berjalan.

"Guru Kim!" panggil Sehun seperti menemukan sesuatu.

Aku langsung melihat sesuatu yang ditemui oleh Sehun. Sebagai guru yang dekat dengan Jungkook, sangat tak asing melihat benda itu. Kalung, berbandul pegasus.

"Kalung ini bagus sekali." ujar Luhan ketika melihat kalung tersebut.

"Ini milik Jungkook." aku berkata spontan tanpa berpikir.

Sehun dan Luhan melihatku dengan tatapan terkejut. Mereka langsung bertanya-tanya satu sama lain tentang kalung yang ternyata milik Jungkook.

"Berarti dia menghilang? Masa hanya ada kalung disini?" Luhan bertanya dengan nada yang sendat.

"Disini ada jurang, Luhannie. Hati-hati." Sehun memperingatkan sambil mencegah tubuh Luhan agar tidak terjatuh ke jurang.

Sontak yang ada di pikiranku adalah, apakah Jungkook terjatuh? Atau tidak?

Tapi jika tidak, tak ada kemungkinan kalung ini terlepas. Kalung ini terlepas dalam keadaan talinya putus, bukan dalam keadaan yang utuh.

Mungkin lebih baik yang kulakukan adalah mencari Jungkook kebawah sambil berpikir dia masih hidup atau tidak, yang jelas aku harus bertanggung jawab.

"Kalian bisa menemani aku ke bawah?" pintaku pada kedua muridku.

"Ke bawah jurang? Aku tidak mau, Guru." jawab Luhan dengan muka sedikit takut.

"Aku ikut Luhan." Sehun mengikuti.

Murid kelas kepala, mereka tak mau membantu untuk menemukan ketua kelompok mereka sendiri, hah? Baiklah, aku sebagai guru hanya bisa bertanggung jawab pada muridku yang menghilang dan tak kembali tersebut.

Sehun dan Luhan pergi meninggalkanku sendiri di tempat di temukan kalung tersebut, kalung itu aku yang pegang sekarang.

Langkah demi langkah ku lewati, sampai akhirnya aku tiba di bawah. Untung saja matahari telah menunjukkan diri, aku tak perlu penerangan untuk mencari di tempat yang gelap jika malam hari ini. Ku harap aku dapat menemukan muridku tersebut dalam keadaan selamat.

Tak ada tanda kehidupan manusia disini...

Kosong, hanya ada pohon dan tumbuhan lainnya yang terlihat.

Jungkook...

Apa mungkin dia...?

Tidak. Tidak mungkin, t-tapi... dia benar-benar tidak ada disini.

Lalu kalung ini bagaimana? Tak mungkin. Jika Jungkook menghilang jauh dari benda ini, dia pasti berada disini...

Apakah aku guru yang jahat baginya? Atau sang Kepsek yang memilihnya menjadi ketua lebih jahat lagi?

Sudahlah, aku yang lebih merasa bersalah daripada siapapun. Aku yang pertama kali menyuruhnya untuk mencari kayu bakar, tapi hasilnya tetap tidak dapat. Sia-sia aku menyuruh Jungkook jika akhirnya seperti ini. Mungkin aku juga akan menyalahan Yi Fan, dia tahu kalau Jungkook berjiwa kepemimpinan, tapi apa dia tidak berpikir tentang umur? Dia berarti salah, bukan?

Hm. Aku hanya berharap Jungkook selamat, karena dialah murid yang paling dekat denganku. Dia murid kesayanganku, seperti anak walaupun kami hanya bertemu di Sekolah.

Aku melihat ada banyak tumbuhan bunga disitu, aku memetiknya dan meletakkannya di tempat kemungkinan Jungkook terjatuh, lalu berdo'a agar Sang Tuhan bisa menjaga Jungkook dengan baik jika dia tak tau arah.

Aku mengepal kedua tanganku menjadi satu, lalu memulai do'a. "Tuhan, tolonglah Kau jaga muridku itu, dia masih sangat muda. Ku harap dia bisa kembali karena kehendakmu dalam keadaan selamat dan tidak hilang ingatannya."

Aku hanya bisa berharap Tuhan mendengar dan mengabulkan do'aku untuk muridku tersebut.

Dengan hati yang belum tenang, aku pergi dan meninggalkan tempat itu dengan berlinang air mata karena aku tak menemukan tanda-tanda kehidupan Jungkook sama sekali, hanya ada kalung di atas jurang dan aku menyimpan kalung ini agar bisa menjadi kenang-kenangan jika muridku tersebut tak akan kembali lagi.

-Joonmyun POV end

Setelah mencari dan tak mendapatkan muridnya yang hilang tersebut, Joonmyun kembali ke tempat dimana kelompok Pegasus berkumpul. Disana hanya ada Sehun, Luhan, Hoseok, Taeyeon dan Amber. Mereka seperti terkejut karena Joonmyun kembali hanya sendirian dengan raut wajah yang sangat mencemaskan.

"Guru Kim, Dimana ketua?" Amber sebagai orang pertama yang bertanya.

"Aku telah menduganya." Hoseok seakan tau apa yang akan dijawab oleh Joonmyun.

Yang lain hanya terkejut, ada juga yang berduka, seperti mengganggap kalau ketua mereka sudah tiada. Padahal Joonmyun tak berkata sepatah katapun untuk menjelaskan apa yang dia lakukan di lokasi tersebut. Joonmyun langsung duduk sendiri di atas tanah dan menangis.

Tak terasa 2 hari telah berlalu. Semua murid sudah menyiapkan barang masing-masing. Tapi tak ada yang mau membereskan barang-barang milik Jungkook. Hanya tenda Jungkook beserta barang-barangnya yang belum dibereskan.

"Hey kalian, tak adakah yang bisa merapikan tenda milik Jungkook?" Joonmyun bertanya pada semua muridnya.

"Bukan tanggung jawab kami." Zelo menjawab sendiri.

Yang lain tak menjawab seakan setuju dengan jawaban singkat dari sang murid yang memiliki badan tertinggi tersebut.

Joonmyun menghela nafas pasrah. Berpikir bahwa semua murid menyalahkannya dan sesuai yang dikatakan, dia yang bertanggung jawab dan dia juga yang membereskan barang milik Jungkook dengan hati yang sangat dipenuhi dengan kesabaran.

Semua sudah siap. Joonmyun yang membawa barang berlebih adalah yang paling lambat masuk ke Bus. Canggung dengan murid lain yang tak tau apa itu kebaikan seorang guru. Kini semua akan kembali ke Seoul, namun tanpa Jungkook. Tak ada yang mengetahui hal ini kecuali Joonmyun, teman sekelompok, dan murid lain yang sekelas dengan Jungkook. Mereka akan merahasiakan keberadaan Jungkook yang menghilang, meskipun begitu, Joonmyun tetap memberitahu Suga agar ia tak bingung menunggu Jungkook yang sudah lama tak kembali walaupun berakhir dengan kekhawatiran yang amat mendalam.

Sementara itu...

"Aduh, tubuhku sakit sekali." Keluh seorang pemuda sambil memegang kepalanya untuk bangkit dari ranjang empuk yang ia tiduri.

-Jungkook POV

"Aku dimana? Bukannya aku sedang bersama guru dan temanku? Mengapa aku berada disini? Siapa yang membawaku kesini?"Aku bertanya-tanya meskipun aku tau takkan ada yang menjawabnya sambil menahan sakit yang merasuki seluruh badanku.

Saat ini aku berada di dalam sebuah rumah, rumah ini mewah sekali, apakah benar ada rumah semewah ini di dalam hutan? Hukum alam yang terbilang mustahil. Ku yakin pasti ada pemiliknya, dan pemiliknya pasti orang yang sangatlah kaya.

Aku mencoba bangkit dari ranjang dan melihat ke luar jendela yang letaknya disamping ranjang ini. Walaupun kini kakiku sangat sakit untuk melangkah, aku tetap sangat penasaran pada tempat yang sangat mewah ini.

Diluar gelap,di balik jendela aku tak bisa melihat apa-apa selain langit malam disertai bintang yang berkelap-kelip, cukup indah untuk dipandang. Dan sepertinya bulan purnama akan muncul sekarang. Kali ini bulan purnama akan terlihat sangat cantik karena ditemani oleh banyak bintang yang selalu berada di dekatnya.

"Aku tak menyangka bisa kesini... tempat ini bagus sekali, aku bahkan tak tau siapa pemiliknya."

Tunggu dulu, aku tak tau pemiliknya?

Mungkin aku harus mencarinya sampai ketemu.

Aku mencari kemanapun tak ada manusia atau makhluk lain yang menunjukkan diri, meski kaki ini terkilir aku tetap mengusahakannya untuk berjalan. Jika ia tak ada di dalam, pasti ia sekarang sedang di luar rumah.

Aku memilih keluar dari pintu depan rumah tersebut untuk keluar mencari ke halaman dan berharap menemukan siapa saja yang mungkin berada di sekitar tempat aku di selamatkan.

Dan..

Aku menemukannya.


TBC

Review jangan lupa reader~~

Semangatin aku juga ya buat ngelanjutin ceritanya^^

Hope you like it!