Maaf ya di chapter 2 ku tulis ada ukenya, tapi sebenernya ukenya ada di chapter ini, serius deh aku gak boong._.

Happy reading!


Tapi ia bukanlah sesosok manusia yang sama sepertiku.

Sangat jauh dari dugaanku...

Dan bahkan mungkin tak ada yang percaya aku melihatnya...

Dari kejauhan...

Seperti sedang di Surga melihatnya...

Itu Pegasus.

Cantik sekali...

Dia berwarna putih mempunyai sayap serta memiliki rambut dan ekor dengan warna yang sama, warna-warni berkelip seperti glitter. Ia sangat terlihat terang, sehingga meskipun cahaya malam sangat gelap hanya ditemani bulan dan bintang, makhluk tersebut masih bisa terlihat dengan sangat jelas.

Aku takjub sekali melihatnya. Apa aku tak salah lihat? Apakah Suga hyung akan mengejekku lagi?

Haha, kali ini aku yang menang~

Aku mencoba mendekatinya dengan mengendap-endap, semakin dekat dan... aku membelai bulu kepalanya yang sangat lembut. Ternyata dia sedang tidur, maka itu dia tak sadar aku sedang membelainya.

Aku tak ingin kembali ke kamar, aku ingin tetap disini.

Meskipun angin malam yang dingin menusuk kulitku hingga aku hanya bisa merasakan hawa yang sangat dingin di dalam tubuhku.

Aku enggan untuk pergi...

-Jungkook POV end

Pagi telah tiba, Jungkook tertidur di halaman. Setelah beberapa saat dia terbangun dan tak mendapati Pegasus tersebut serta melihat rumah mewah yang kemarin menjadi tempat diselamatkan, berubah drastis menjadi sebuah gubuk yang sangat kumuh.

"Kenapa jadi begini? Bu-bukannya kemarin ada Pegasus dan rumah mewah?" Jungkook bingung sendiri setelah bangun tidur dan bertanya-tanya.

"Kau jangan heran, semua indah pada waktunya." Secara tiba-tiba ada manusia yang membalas pertanyaannya.

Jungkook berpikir takkan ada yang menjawabnya, ketika mendengar suara, ia pun menoleh ke sumber suara yang berasal dari sesosok manusia."Kau siapa? Dimana pegasus itu? Siapa pemilik rumah ini?" Jungkook terkejut, tapi bukan terkejut karena pegasus itu tak ada, tapi terkejut karena orang yang dilihatnya kini seperti pernah dia kenal.

"Aku tau kau akan terkejut melihatku. Kenalkan, aku Jimin, umurku 17 tahun, akulah pemilik gubuk ini." Jimin memperkenalkan diri lalu mengulurkan tangan.

'Wajahnya memukau. Nama yang bagus, Jimin.' Batin Jungkook dalam hati.

"Aku... Jungkook, dan aku 16 tahun." Ujar Jungkook sambil membalas uluran tangan. "sepertinya aku mengenalmu." Jungkook mengangkat sebelah alisnya.

"bioskop." Jimin hanya membalas singkat.

*flashback*

"Hey, kamu." sapa seseorang yang duduk di samping Jungkook.

"Ya, kenapa?" Jungkook menjadi sedikit terkejut, karena orang tersebut tak dikenal Jungkook

"Filmnya tak seru? Aku saja sampai teriak."

Jungkook mengingat kalau orang yang dikenalnya tersebut memiliki tubuh yang kekar dan berotot.

"Hey!"

"Eh, maafkan aku. Iya, filmnya gak serem, aku tak takut sama sekali." ujarku sedikit cepat.

"Haha, kau berani sekali, ya. Aku malah takut banget."

"Ku lihat-lihat badanmu bagus, tapi kenapa takut? Sifatmu tak sesuai dengan bentuk tubuhmu yang sangat kekar ini, harusnya kau bisa berani sepertiku karena mereka hanya layar." aku langsung panjang lebar tanpa berpikir.

"Aku memang begini. Sifatku sangat bertolak belakang pada diriku yang sebenarnya. Aku pengalaman, karena sesuatu."

*flashback end*

Jungkook mengingat semuanya. Tak ada sesuatu yang terlupakan dari bagian situ. "Aku mengingatmu. Kau yang teriak-teriak ketika kita di bioskop." Jungkook mengatakan hal yang diingatnya saat itu.

"Ya, kau benar. Inilah alasan mengapa aku takut. Aku tersegel di daerah ini dan aku takut sendirian, tapi untungnya tempat ini tak pernah ku temui hantu. Akhirnya aku melihatmu yang terjatuh di jurang, aku menolongmu dan memberi perban pada kepala dan tanganmu yang berdarah-darah. Lalu kau akhirnya terbangun setelah selama 3 hari." Jimin menjelaskan secara panjang lebar.

Jungkook memahami yang dikatakan Jimin meskipun kepalanya yang sakit masih mencoba untuk mencerna perkataannya. Jiminlah yang menolongnya dari kejadian jatuh itu. Jungkook juga tak menyangka kalau ia sudah seperti orang koma saja.

"Aku tak tau harus membalas apa, tapi terima kasih." Jungkook menunduk 90 derajat pada Jimin.

Jungkook masih menatap lelaki tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia mengenakan kaos tanpa lengan dan celana panjang layaknya anak remaja laki-laki yang tinggal di perkotaan. Ya, seperti saat dia pertama kali menemui Jimin. Tubuhnya kekar, berotot, serta mereka memiliki tinggi yang hampir sama, namun Jungkook masih lebih tinggi. Jungkook masih penasaran kenapa Jimin tersegel disini dan bagaimana bisa dia ke Bioskop?

"Aku ingin bertanya. Kau darimana? Bagaimana bisa kau tersegel disini? Bagaimana bisa kau menyelamatkanku? Dan bagai mana bisa kau ke Bioskop jika kau tak bisa keluar dari sini?" Jungkook memberi pertanyaan penasarannya, dan berharap Jimin bisa menjawab semuanya.

"Hm aku akan menjawabnya. Aku hanya orang biasa sama sepertimu, tapi aku telah tersihir karena suatu hal. Aku tersegel disini karena orang tuaku sedang bermasalah lalu mengorbankan aku dan aku yang mendapat kutukan sihirnyanya, tapi sihir itu hanya datang di saat tertentu. Aku menyelamatkanmu ketika aku mendengar teriakan dari tempat yang tak jauh dari sini, ketika melihat kepala dan tanganmu berlumuran darah, aku mengobatinya. Kalau tentang bioskop itu... Aku diberi sekali kesempatan untuk keluar dari sini dan berinteraksi dengan makhluk lain, tapi aku hanya bertemu denganmu yang bisa kuajak ngobrol." Jimin menjelaskan dengan lengkap dan ceritanya sangat panjang.

Jungkook yang dari tadi mendengarkan lalu mengangguk paham mendengar jawaban yang sangat panjang lebar Jimin. Namun, Jungkook tak bertanya apa kutukan yang diberikan pada Jimin. Sebenarnya Jungkook penasaran, namun ia berpikir dua kali, menurutnya mungkin itu sebuah privasi dan Jimin pasti tak akan mengatakannya.

Di tengah-tengah itu Jungkook tiba-tiba teringat dengan pegasus yang kemarin malam. Ia memberanikan diri untuk bertanya pada Jimin tentang pegasus yang ditemuinya kemarin.

"Ngomong-ngomong. Kau tau tidak ada pegasus disini?" Jungkook bertanya dengan nada yang sedikit sendat.

Jimin langsung menatap Jungkook dengan tatapan terkejut. "Kau melihat?" Jimin bertanya balik.

"Ya, aku melihatnya sungguh. Aku ingin sekali bertemu dengannya lagi."

"Kau akan menemuinya 14 hari lagi."

'14 hari lagi? Bukankah itu sangat lama? Apa aku bisa pulang untuk menunggu waktu selama 14 hari tersebut? Aku ingin sekali bisa melihat pegasus tersebut dan menungganginya...' batin Jungkook dalam hati.

"Aku akan menunggunya." Ujar Jungkook dengan sangat penuh keyakinan hati.

Jimin mengangkat sebelah alisnya lalu bertanya, "Apa kau yakin akan menunggu? Pegasus itu hanya muncul 14 hari sekali, dan raut wajahmu menunjukkan kalau kau sangat ingin menemuinya, hm."

Jungkook tertawa. "Kau mencemburui ku?"

Jimin memasang muka masam."Cih, aku mencemburui mu? Masa bodoh." lalu Jimin membuang muka.

'Dia laki-laki. Tapi kupikir wajahnya cantik, apalagi saat memasang wajah yang sedang ngambek begitu, hahaha.' Batin Jungkook sambil tersenyum-senyum.

"Kau imut sekali." Jungkook mencubit pipi kiri Jimin dengan tangan kanannya.

Jimin kesakitan karena Jungkook mencubit pipinya dengan cukup keras lalu menepis tangan Jungkook di pipinya.

"Sakit sekali." Jimin lalu mendorong tubuh Jungkook tapi tak sampai terjatuh.

Jungkook hanya tertawa setelah melihat lelaki bertubuh kekar tersebut ternyata sifatnya seperti perempuan jika sedang ngambek ataupun marah.

Setelah beberapa saat mereka bercanda ria, perut Jungkook terasa mulai lapar. Tanpa aba-aba dia langsung melangkahkan kakinya ke gubuk tersebut, Jimin hanya mengikutinya dari belakang.

Dan tanpa disangka...

Ini bukanlah sebuah gubuk,

Ini rumah mewah sama persis yang ditempati oleh Jungkook ketika dia terbangun.

Jungkook berhenti ketika berada di ruang tamu tempat tersebut sambil ternganga diam melihat isi rumah tersebut karena ini 100 persen sangat berbeda daripada yang dilihat dari luar.

"Kau jangan mengherankan ini..." Jimin datang sambil memperingatkan Jungkook yang ternganga di dalam rumah tersebut.

Jungkook tak mendengarkan apa yang Jimin katakan, dia masih terus memandangi tempat tersebut dengan ternganga.

Jimin menggoyangkan tangan di depan wajah Jungkook untuk memastikan Jungkook masih tersadar dari takjubannya atau tidak.

"Hello..." Jimin masih menggoyangkan tangannya.

Jungkook lalu tersadar dari lamunannya sambil menggelengkan kepalanya. Lalu mendapati Jimin yang berada di dekatnya sambil menatapnya.

"Hey" Jimin memiringkan kepala sambil tetap menatap Jungkook.

'Astaga, dia makin terlihat cantik kalau menatap seperti itu.' Batin Jungkook ketika melihat Jimin menatap di sebelahnya dengan sangat dekat. Jimin melihat Jungkook yang hanya sebentar tersadar, lalu memasang raut wajah bengong sambil menatap dirinya yang sedang berada di samping Jungkook.

'Tapi mungkin perasaanku memilih untuk lebih menyukai seekor Pegasus yang indah kemarin.'

"Hey!" Teriak Jimin yang membuat Jungkook kembali tersadar.

"Eh, maafkan aku." Jungkook tersadar lalu menggosok-gosok telinganya karena teriakan Jimin sangatlah terbilang keras, seperti saat bertemu di Bioskop.

Jungkook membuka mulutnya kembali seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi

"Kau lapar, kan? Ayo makan. Kau duduk di meja makan saja." Jimin memotongnya.

Jungkook hanya mengangguk lalu berjalan menuju meja makan letaknya tak jauh dan tak jadi mengatakan apa yang ingin ia katakan. Karena perutnya memang sudah tak bisa diajak kompromi lagi.

Ia lalu duduk di kursi meja makan. Dan menunggu Jimin yang mungkin akan kembali dengan membawa sesuatu yang bisa menghilangkan dahaganya.

Tak sampai 10 menit menunggu, Jimin sudah datang bersama nampan di tangannya diisi dengan sup dan piring yang hanya berjumlah 1.

"Kenapa piringnya hanya satu? Kau tak mau makan?" Jungkook bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya pada Jimin.

Jimin nampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Jungkook, cukup lama otaknya mencerna tentang apa yang ingin dia katakan untuk menjawab pertanyaan Jungkook.

"hey? Kau mendengarku tidak?" Jungkook yang merasa pertanyaannya tak langsung dijawab lalu kembali bertanya pada Jimin yang sedang berpikir.

Jimin akhirnya menjawab.

"Aku tak lapar, aku tidak ingin makan pagi. Aku lebih suka makan di saat sedang malam saja, haha." Jimin menjawab sambil sedikit tertawa.

Jungkook hanya bisa percaya dengan apa yang Jimin katakan meskipun Jungkook masih curiga dari ekspresi yang diberikan dari Jimin padanya.

Setelah itu Jungkook lalu memakan sup yang menurutnya cukup lezat tersebut, dan Jimin hanya duduk bersebrangan dengan Jungkook di meja makan sambil melirik ke Jungkook.

Tak lama bagi Jungkook untuk menghabiskan makanan, lalu dia meminum segelas air putih yang sudah di sediakan di meja tersebut sampai habis. Jungkook sudah merasa puas, dia tak tau harus berkata apa pada Jimin atas kebaikannya meskipun belum berjalan dalam jangka waktu yang lama.

"Terima kasih makanannya, aku suka." Jungkook berkata sambil tersenyum pada Jimin.

"Oh ya? Sama-sama, terima kasih kembali karena sudah memujinya." Balas Jimin dan juga membalas senyum dari Jungkook.

Saat ini Jungkook sekarang sedang berpikir. Dia ingin kembali namun juga tak ingin meninggalkan tempat tersebut, bahkan dia tak tau sekarang sedang berada dimana. Dia ingin sekali lagi menemui kuda pegasus yang dilihatnya kemarin malam. Namun, Jimin mengatakan pegasus itu hanya muncul 14 hari sekali.

'bukankah itu sangatlah lama?' Jungkook berpikir dalam hati.

Jungkook ingin bertanya pada Jimin cara untuk kembali, dan Jungkook akan kembali lagi ke tempat tersebut. Namun Jungkook berpikir lagi, apa bisa dia kembali ke sini 14 hari lagi?

"Aku ingin bertanya padamu." Jungkook langsung berbicara di tengah keheningan meja makan.

"Apa?" Jimin menjawab dengan pertanyaan singkat.

"Aku ingin kembali ke tempat tinggal asalku. Aku akan balik lagi untuk menemui pegasus itu. Bisakah kau memberi tahuku dimana jalan keluar?"

Jimin mencerna pertanyaan Jungkook. Dan sedang memikirkan cara agar Jungkook bisa keluar dari tempat yang tersegel itu.

Tapi Jimin baru ingat, tempat ini hanya tersegel untuk dirinya. Bukan untuk orang lain, jadi Jimin akan memberi tau Jungkook cara agar Jungkook bisa pergi dari tempatnya itu.

"Kau hanya perlu meninggalkan daerah rumahku ke arah utara, kau akan menemui tempat dimana kau terjatuh." Jimin menjawab dengan singkat namun masih bisa dimengerti oleh Jungkook.

"Begitu saja? Ku pikir rumahmu jauh dari tempat kejadian itu." Jungkook menghela napas lega karena dia tak perlu jalan jauh-jauh untuk menemukan tempat yang masih ia ketahui letaknya.

Jimin hanya menyangga wajah dengan tangan kanannya di atas meja dengan muka yang datar.

"Kapan kau akan pergi?"

Jungkook lalu menatapnya. "Besok, aku harus tetap sekolah untuk melanjutkan pendidikanku." Jawab Jungkook, lalu dia menanyai Jimin balik "Kau tak sekolah?"

Jimin sesungguhnya tak tahu apa itu 'Sekolah', sudah hampir 10 tahun Jimin tersegel sendirian dan tak ingat apa-apa dengan apa yang terjadi padanya sebelum ia tersegel dalam jangka waktu yang terbilang sangat lama.

"Tidak. Aku membesarkan diriku sendiri di tempat ini. Aku tak pernah sebelumnya berinteraksi dengan orang lain selain kau." Jimin menjawab dengan jawaban yang kurang bisa dimengerti Jungkook.

'Aku bingung. Dia manusia atau apa? Sekolah tidak, mengenal orang tidak. Tapi dia punya rumah yang semegah ini dengan hanya tinggal 'Seorang Diri'.' Batin Jungkook setelah mendengar jawaban dari Jimin.

"Oh iya, perbanmu kepala dan tanganmu jangan di lepas dulu ya. Itu sangat penuh dengan darah pada saat kau terjatuh. Akan infeksi jika dilepas, tunggu sekitar seminggu lagi lukamu akan hilang." Jimin memperingatkan Jungkook yang kepala dan tangannya masih dibalut oleh perban.

'Dia bahkan pintar juga, sepertinya dia berbakat dalam kedokteran. Tapi kepintaran itu ada pada dirinya tanpa pendidikan sekolah?' Jungkook masih bingung dan sangat bingung dengan makhluk penolong yang berada bersamanya sekarang.

"Aku janji akan kembali kesini. Tapi kau jangan menyembunyikan pegasus itu dari aku, ne?" Jungkook memerintahkan Jimin.

Jimin menghela nafas dengan sangat malas.

"Terserah tentang apa maumu." balas Jimin seadanya.

'Dia dingin sekali ya ternyata.' batin Jungkook.

Pagi.

Pagi yang lumayan cerah. Inilah saatnya bagi Jungkook harus kembali ke tempat tinggal asalnya. Uangnya masih ada terbawa ketika ia terjatuh, dia memakai baju yang sama saat field trip dan meminjam jaket milik Jimin untuk sementara.

"Aku pamit ya. Ingatlah, aku akan kembali kesini lagi. Aku berjanji." Jungkook berpamitan pada Jimin di halaman rumahnya.

"Baiklah, jangan ingkar pada janjimu."

-Jungkook POV

Aku melangkah semakin jauh dari rumah Jimin. Aku meninggalkannya setelah sekitar 4 hari tinggal di rumahnya. Cukup nyaman, aku tak tau nasibku bagaimana jika tak ada pertolongan darinya.

Berjalan lurus selama beberapa menit, sampai akhirnya mendapati tempat yang sedikit ku ingat dan tak asing lagi dimataku.

Inilah tempat aku terjatuh.

Aku melihat ada beberapa tangkai bunga yang sudah layu di tempat insiden itu terjadi.

Apakah ada yang mengetahui keberadaannku?


TBC

Gimana reader(s)?^^

Udah ada bau-bau uke kan disini? /what

Ya, Park Jimin. Biarpun dia punya abs/? tetep aja aku lebih dukung dia jadi uke. abis kalo bersanding ama Jungkook, Jimin menurutku kelihatan lebih ke-cewek-an /dipukul Jimin

Review don't forget :D