Lupakan. Hanya bunga bukanlah tanda kalau keberadaanku diketahui.
Kini aku tak boleh menunda-nunda waktu untuk pulang.
-Jungkook POV end
Setelah beberapa lama menyusuri hutan, Jungkook akhirnya menemukan jalan raya. Banyak juga orang disana. Tak sedikit dari mereka menatap aneh Jungkook karena ia keluar dari hutan dan mengenakan perban kepala serta tangan.
'Datang darimana anak itu?'
'Jangan bilang dia bukan manusia'
'atau mungkin zombie?'
Jungkook tidak jengkel, justru dia malah ketawa kecil dan tidak peduli dengan raut wajah mereka. Lebih baik ia menaiki taksi yang menawari tumpangan untuknya.
"Mau kemana, nak? " Tanya sopir taksi.
"Tolong bawa aku ke Seoul."
Sopir tersebut langsung menjalankan apa perintah Jungkook. cukup jauh untuk sampai kesana, sekitar setengah jam waktu yang akan ditempuh jika tidak ada kemacetan.
Sambil menunggu, Jungkook melihat keluar kaca mobil taksi sambil memikirkan kejadian kemarin.
'Tuhan mungkin sedang berbaik hati padaku. Aku dipertemukan oleh Pegasus itu dan kejadian itu bukan khayalan. Aku berjanji akan datang lagi kesana, menungganginya' Batin Jungkook sambil tersenyum.
Jungkook terus-terusan mengkhayal tentang Pegasus, tapi untuk kali ini ia tak mengkhayal, Pegasus itu benar-benar ada dan ia sudah bisa membuktikan semuanya. Sampai akhirnya tanpa terasa sang Sopir sudah membawa Jungkook ditujuan. Entah kebetulan atau bagaimana, taksi tersebut berhenti di depan Sekolahnya yang mulai sepi. Hanya ada anggota OSIS dan murid yang ikut ekskul basket yang tersisa.
"Terima kasih, Pak. Ini uangnya." Jungkook keluar dari taksi lalu memberikan sejumlah uang.
Sopir tersebut menerimanya. "Sama-sama, nak."
Setelah melihat mobil taksi itu menjauh, kini Jungkook langsung mencari garasi untuk mengambil sepeda yang sudah terlalu lama terdiam di Sekolah.
Sepeda itu ternyata masih ada terparkir.
Namun...
Kunci sepeda tak ada padanya, ia menaroh di tas. Dan Jungkook tak tahu tas nya berada dimana, ia terjatuh ke jurang tanpa tas.
Tak tahu harus bagaimana, Jungkook tak bisa pulang. Sangat lelah jika berjalan kaki dalam keadaan belum sepenuhnya sembuh. Juga tak ada yang tahu kalau sebenarnya Jungkook terselamatkan oleh insiden itu. Kini ia kepanikan. Efek kepanikan tersebut membuat kepalanya sakit, sehingga luka kepalanya yang belum sembuh juga makin terasa sakit nyut-nyutan.
Penglihatannya semakin buram, seluruh tubuh Jungkook kini terasa sangat lemah secara tiba-tiba, kakinya tak dapat lagi menahan tubuhnya. Jungkook terkapar di depan gerbang Sekolah.
.
.
.
.
.
"Aku dimana sekarang? Jongin hyung?" Jungkook setengah sadar di atas sebuah ranjang yang empuk dan melihat kakak kelasnya yang juga Ketua OSIS, Jongin, duduk di pinggir ranjang.
"Guru Kim, Jungkook sudah bangun!"
Dalam hitungan detik setelah tersadar, Jungkook merasa ada yang mendekap tubuhnya, sangat erat. Ia langsung mendengar suara isak tangis dari orang yang memeluknya tersebut.
"Kau masih ingat aku? Ya, aku Gurumu. Murid-murid di Sekolah membenciku karena aku menghilangkan salah satu murid dan hampir diklaim sebagai guru tak bertanggung jawab!"
"Guru Kim..."
"Jongin yang membawamu kesini. Kukira aku takkan melihatmu lagi, namun ternyata aku salah sangka. Maaf jika ini berlebihan."
Saat ini Jungkook tak bisa berkata apa-apa mendengar kata-kata gurunya, Joonmyun. Seseorang yang telah membuatnya menghilang selama 4 hari di Hutan.
Rasa marah sama sekali tak memasuki batin Jungkook karena kesalahan Joonmyun. Jungkook telah memaafkannya.
Baju di bagian pundak Jungkook terasa basah. Sepertinya Joonmyun sedang menangis, menangis bahagia karena do'anya telah terkabul, terlihat seperti Ayah yang kehilangan anak selama setahun.
Jungkook tersenyum dan membalas pelukan gurunya. "Guru... Tenanglah. Aku disini sekarang. Kau harusnya senang. Bukan malah bersedih.."
Joonmyun melepaskan pelukan seraya menghapus air matanya dengan tangan. "Aku senang jika kau kembali kesini. Kau penyelamatku, nak. Semoga atas kembalinya dirimu, semua murid menerima ku kembali."
"Baguslah Guru. Terima kasih telah mengistirahatkanku disini dan Jongin hyung, terima kasih telah membawaku kesini." Jungkook senyum ke arah Joonmyun dan Jongin.
"Sama-sama." Balas kedua lawan bicara Jungkook.
Di tengah-tengah itu Jungkook teringat sesuatu. Ia teringat oleh bodyguardnya, Suga. Dan ingin segera kembali ke rumahnya sendiri.
"Ngomong-ngomong, apakah aku bisa kembali ke Rumah? Bagaimana dengan keadaan Suga hyung?"
"Oh iya." Jongin mengambil sesuatu di kantong jaketnya dan memberikan pada Jungkook.
"Ini, dari bodyguardmu. Dia ingin kau membacanya."
Penerima surat itu langsung mengambil dan membukanya. Ia mendapati sebuah surat dan sebuah kunci yang merupakan kunci rumahnya.
'Untuk: Majikan muda
Aku harus pergi hari ini. Bukan bermaksud tak ingin menjadi bodyguardmu lagi. Tapi aku harus melanjutkan kuliah di luar negeri yang sempat terhenti karena harus menjagamu. Ku harap kau dapat mengurus dirimu sendiri, Kookie. Karena kau pernah bilang kan kalau 'Aku sudah besar, hyung!' kan? Ya, sekarang saatnya kau membuktikannya!
Kunci rumah ku titipkan padamu ya. Hm... Aku senang sekali saat mendengar dari kakak kelasmu kalau kau telah ditemukan setelah 4 hari menghilang. Jika kau tak ingin tinggal sendiri, carilah teman yang bisa mengurusmu. Tapi jika tak ada teman yang bisa, tinggallah bersama gurumu itu. Aku yakin dia guru yang baik mau mengurusmu.
Tolong do'akan aku juga ya disini. Aku akan kuliah selama sekitar 6 tahun, maaf jika itu terbilang cukup lama. Aku janji, saat kuliahku sudah selesai, aku akan kembali menemuimu lagi bersama Pegasus khayalanmu!"
Suga.'
Jungkook terkekeh sendiri membaca surat tersebut. Ternyata Suga masih ingat kalau Jungkook pernah berkata bahwa dirinya sudah besar, juga masih mengungkit-ungkit tentang Pegasus.
"Apa isi suratnya?" tanya Joonmyun.
"Tidak, Guru. Suga hyung pergi kuliah ke luar negeri."
"Hm. Kalau begitu, kau akan tinggal dengan siapa?"
Masih terlalu muda, tak memungkinkan Jungkook untuk tinggal sendirian. Bukan karena takut, ia hanya kesepian, dan membutuhkan orangtua sama seperti orang lain.
"Sepertinya jika tinggal dengan teman akan merepotkan mereka. Apa aku boleh tinggal dengan Guru?" pinta Jungkook.
Joonmyun membalas dengan senyuman. "Tentu, nak! Tinggallah disini, aku akan mengurusmu."
"Ehm... Guru Kim, aku pulang dulu ya? Sudah malam." Pamit Jongin.
"Ah, baiklah. Sekali lagi, terima kasih kau telah membawanya kesini." Jawab Joonmyun.
"Ne, sama-sama guru." Jongin menunduk 90 derajat.
Jongin meninggalkan rumah Joonmyun yang bisa terbilang mewah. Karena Joonmyun adalah guru terkaya di Sekolah. Namun hanya tinggal sendiri dan mengurus segala urusan sendiri.
Ia merasa beruntung ada Jungkook. karena Joonmyun tak mempuyai anak lagi. Sedangkan Jungkook tak mempunyai Ayah. Bisa dibilang mereka saling melengkapi satu sama lain.
Sedikit bingung dengan perban Jungkook yang terlihat utuh dan darahnya sedikit terlihat dari luar.
'Bagaimana bisa perban itu dipasang? Hm... Barangkali ia ke Puskesmas atau RS, Tapi apa mungkin ia bisa ke Puskesmas atau RS? Sendirian? Dan bagaimana dia bisa sampai kesini? Jongin saja menemukannya di depan Sekolah dalam keadaan Jungkook sudah berperban.' Batin Joonmyun penuh pertanyaan.
.
Pagi.
Mulai saat ini Joonmyun sudah menjadi Ayah angkat Jungkook. Tetapi Jungkook tetap memanggil dengan sebutan 'Guru Kim'. Baginya, orang yang pantas dipanggil 'Ayah' hanya orang yang sudah membesarkannya selama 7 tahun dulu, Ayah kandung.
Saatnya Jungkook bersama Joonmyun ke Sekolah. Barang-barang Jungkook sudah berada di rumah Joonmyun. Tapi Jungkook masih gugup berangkat ke Sekolah. Temannya pasti terkejut, dan mungkin namanya sudah dicoret sebagai murid. Namun ia yakin, orang yang sudah jadi Ayah angkatnya tersebut tak membiarkan itu terjadi.
Raut wajah Jungkook menunjukkan keresahan, di respon oleh gurunya.
"Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja, nak." Joonmyun mengelus punggung Jungkook yang sudah ditutupi seragam.
Murid dari guru tersebut membalas dengan senyum dan anggukan kepala.
School
Meskipun Jungkook belum sepenuhnya sembuh, ia tetap ingin bersekolah. Entah mengapa alasannya.
Guru dan murid tersebut sudah sampai di Sekolah. Namun sang guru tiba-tiba meninggalkan anak angkatnya di depan gerbang karena terburu-buru harus ke ruang guru.
Jungkook sedikit lupa kemana arah kelasnya.
"Kook! Kau darimana?! Apakah aku sedang melihat hantu?! Kepalamu kenapa di perban?!"
Merasa ada yang menanggil namanya, dan memberi pertanyaan. Jungkook masih sangat kenal dengan suara itu, sahabatnya sejak SMP, Taehyung.
"Hantu tak mempunyai kaki. Aku terjatuh lalu kepala dan tanganku luka berat, dasar sahabat bodoh." Jungkook mulai jengkel.
Taehyung menggosok-gosokan kedua matanya. "T-tapi... A-ada yang mengatakan kau tak ditemukan lagi saat menghilang di hutan, bahkan tanda-tanda kehidupan di jurang sama sekali tak terdeteksi, hanya menemukan sebuah kalung dan semua menyalahkan guru kita yang terkaya itu.. Entahlah siapa namanya aku lupa." Jelas Taehyung dengan nada sendat.
"Kim Joonmyun?"
"Ya! Kau benar. Harusnya beliau keluar saja dari Sekolah karenanya kau menghilang. Banyak sekali yang hampir membenci beliau, untungnya saja kau selamat.."
"Aku salah apa sampai punya sahabat sebodoh kau? Itu hal sepele. Yang penting sekarang aku selamat!"
Jungkook emosi. Ia tak suka jika guru yang kini jadi Ayah angkatnya terus disalahkan, karena ia tahu Joonmyun tak bermaksud membuatnya menghilang dan juga sudah memberinya tumpangan rumah yang sangat nyaman.
"Mengapa begitu? Tapi semua berakhir kau terluka."
Tak menjawab pertanyaan sang sahabat, Jungkook langsung meninggalkan Taehyung dan berusaha mengingat arah kelasnya.
"Hey tunggu aku!"
Terus jalan ke kelas. Sampai akhirnya di kelas, Jungkook tetap tak menghiraukan panggilan sahabatnya. Ia terbawa emosi. Tapi kini emosinya berubah menjadi bingung saat melihat anak kelas seluruhnya terkejut.
Muncul berbagai pertanyaan antara seluruh murid sekelas.
"Jungkook!"
"Bagaimana bisa kau kembali?!"
"Ini arwah? Sejak kapan arwah bisa sekolah?"
"Yah kupikir guru kita yang terkaya itu sudah tak bisa kita beri julukan sebagai 'Guru kaya namun miskin akan pertanggungjawaban'."
"Haha. Ku kira guru itu akan keluar dari Sekolah besok hanya karena murid kelas kita yang tak ada apa-apanya ini."
"Tamatlah sampai kesini. Guru kaya yang dianggap miskin jadi teranggap kaya lagi."
Mendengar itu, Jungkook mengepal tangannya kuat. Ia ingin sekali memukul orang yang mengganggap dirinya bukan apa-apa, juga terlebih jengkel karena orang meremehkan kebaikan guru yang sudah baik pada dirinya. Namun apa daya, tangan kanannya masih belum kuat untuk memukul, sedangkan kiri masih berlumuran darah yang ditutupi perban.
'Sabar' adalah pilihan terbaik Jungkook. Namun, jika diejek lagi dalam jangka waktu lama, tanpa segan-segan ia akan memukul dan tak peduli jika diberi hukuman.
Untuk hari ini Jungkook tak ingin dekat dengan siapa-siapa. Setiap orang yang melihatnya lewat pasti langsung membicarakan Joonmyun. Sehingga selama jam pertama mulai sampai pulang sekolah, hanya menghabiskan waktu hanya bersama Taehyung. Walaupun selama bersama Taehyung pun Jungkook tetap tak banyak bicara.
Setelah pulang sekolah. Jungkook memasuki kamarnya di rumah Joonmyun yang terlihat mewah juga luas. Ia melempar tas ke sembarang arah dan merebahkan diri di ranjang.
Tertarik untuk melihat-lihat barang milik Joonmyun, ia mencoba iseng membuka isi laci yang berada di kamar Jungkook mendapatkan sesuatu, buku biasa yang terlihat sudah lama, berisi tulisan tangan, dan terdapat sebuah foto. Jungkook tertarik untuk membacanya.
'Sepertinya milik Guru Kim, dan ini adalah sebuah buku harian yang sudah berumur tua.' batin Jungkook.
'Air mata selalu keluar ketika mengingat anakku menghilang 1 tahun yang lalu, dan istriku juga ikut serta. Kini aku hanya sendiri ditemani rumah mewah bersama harta yang berlimpah. Namun bagiku, istri dan anak laki-laki sangat berarti, jauh lebih daripada segala barang mewah yang ku punya. Entah mereka kemana, kuharap mereka masih bernyawa, kembali kesini dan mengingatku. Menjadi keluarga bahagia sama seperti saat menikah juga waktu anak pertamaku dilahirkan.'
Jungkook juga membaca halaman yang lain.
'Ingat ketika anakku masih berumur 8 tahun, aku mengajarkannya cara bermain musik. Alhasil, ia bisa memainkan alat musik dengan sempurna. Terlebih pada piano. Aku dan istriku sangat bangga ketika melihatnya bermain untuk kami. Namun itu kebahagiaan masa lampau... kini piano itu kosong, tak ada yang memainkan dan terdiam kesepian tanpa ada orang ahli yang memainkannya seperti... anakku.'
Tersentuh, itulah yang dirasakan Jungkook ketika membaca halaman di buku tersebut. Kesedihan Joonmyun sama seperti yang disedihkan Jungkook saat ingat orangtuanya.
"Aku rindu Ayah, yang sudah disana. Dan ibu, kapan kau pulang? Apa kau lebih memilih pekerjaan dibandingkan aku?"
Jungkook memperhatikan foto yang terselip. Terlihat Joonmyun yang masih terlihat cukup muda, bersama istri dan menggendong anaknya yang masih bayi.
"Guru Kim dulu tampan juga ya, istrinya juga cantik. Andaikan anaknya masih ada mungkin bisa setampan dan seramahnya juga, atau mungkin setara denganku, hahaha. Tapi mengapa Guru Kim tak sama sekali menyebutkan nama anak laki-laki itu?"
"Hey apa yang kau lakukan? Ayo kita makan."
Terkejut mendengar suara tak asing membuka pintu kamarnya tiba-tiba, Jungkook langsung segera menyembunyikan buku harian milik Joonmyun di balik badannya.
"Tidak, guru. Oh baiklah, kau duluan saja."
"Hm." Balas Joonmyun langsung meninggalkan Jungkook.
.
.
.
Hari ini adalah hari Minggu, tepatnya malam Senin. Saat-saat dimana para murid Sekolah sangat benci, karena keesokannya mereka harus kembali mengenakan seragam.
Tak terasa waktu telah berlalu cukup lama. Sudah 9 hari Jungkook tinggal bersama Joonmyun. Selama sudah dirawat oleh Joonmyun, akhirnya perban kepala Jungkook bisa dilepas.
Saat semua telah kembali normal, di sekolah Jungkook tak diomongkan lagi. Namun, ayah angkatnya tetap diomongkan. Itulah sebab Jungkook memilih untuk terus diam dan tak menanggapi walaupun ia jengkel.
Tanpa tersadarkan, Jungkook mengingat sesuatu.
"Aku tak sadarkan diri selama 4 hari, besoknya aku tinggal bersama Guru Kim, dan sejak awal sekolah sudah 9 hari aku dirawat."
.
"Tunggu dulu"
.
"14 hari yang lalu?"
.
"Kenapa?"
.
"Apa aku melupakan sesuatu?"
.
"Kuda bersayap malaikat..."
.
"Pegasus."
.
"Ya. Kini aku ingat janjiku."
.
"Tapi ini kan sudah jam 10 malam?"
Teringat janjinya dengan sangat tiba-tiba.
Ingin segera pergi kembali melihat Pegasus yang sudah 2 minggu tak ia temui. Namun tak mungkin Jungkook pergi tanpa izin, apalagi pada malam Senin ini. Ia pasti meminta izin pada Ayah angkatnyanya agar bisa berusaha kembali menepati janjinya.
Jungkook lalu menghampiri Joonmyun di Sofa yang sedang sibuk dengan buku di tangannya. "Guru, apa aku boleh keluar rumah? Aku akan tinggal di rumah temanku. Sampai besok saja. Aku janji akan pulang."
Joonmyun menoleh. "Tidak boleh."
"Kenapa?!"
"Besok Senin! Kau harus sekolah. Tak ada kata 'terlambat' setiap kali upacara."
"Aku takkan lama... Aku janji, Guru..."
Joonmyun lalu mengambil 3 buah buku dan 1 map dokumen di meja kerjanya.
"Bawakan ini dulu, kembalikan buku ke perpustakaan, dan letakkan dokumen ini di atas mejaku di ruang guru."
"Ayolah... Kau bisa mengembalikan ini sendiri. Sekali ini saja aku keluar ya?"
"Antarkan dulu, baru kuizinkan kau."
'Guru Kim sialan.' Batin Jungkook sambil memasang ekspresi jengkel.
Joonmyun melihat ekspresi muridnya yang memberi isyarat penolakkkan.
"Kenapa? Ayo jalankan! Kau sudah besar. Katanya kan kamu mau jalan keluar."
"Guru punya tangan, punya kaki, apakah kau tak bisa menggunakannya?"
"Jeon Jeongguk!"
"Baiklah guru..." Jungkook akhirnya angkat tangan.
Mau tak mau, Jungkook tetap menjalankan apa yang diperintahkan ayah angkatnya tersebut. Demi apapun, ia akan tetap berusaha agar janjinya tak teringkari.
Jungkook pergi keluar rumah menggunakan celana jeans panjang, kaos, beserta jaket agar tak kedinginan. Hanya jalan kaki dengan tas di punggungnya, karena dari rumah Joonmyun ke Sekolah tak terbilang jauh. Untung saja jalan tak ramai, semua orang pasti sudah tidur karena tak ingin terlambat di hari Senin.
Berjalan terus untuk menjalankan perintah. Saat sampai di depan Sekolah. Disana tak kalah sepi dengan jalan yang ia tempuh. Pintu gerbang tak terkunci, dengan cepat Jungkook memasuki pintu gerbang yang tak ada penjaga sama sekali.
Tak bisa melihat apa-apa dengan sempurna, dikarenakan tak ada penerangan apapun.
Gelap.
Sebelum ia mencoba masuk, Jungkook sudah merasa merinding dan tegang. Terasa seperti saat menghilang di hutan, namun kali ini di Sekolah bertingkat tanpa cahaya. Tak tahu dimana ia bisa menyalakan lampu luar agar dapat penerangan. Meskipun begitu, Jungkook tetap memberanikan diri.
JDEEERRRRRR
Jungkook langsung masuk Sekolah dengan cepat. Suara kilat telah terdengar sangat jelas. Hampir membuat tuli. Hujan lalu turun di saat bulan Purnama sedang dengan indahnya menunjukkan diri.
Ingin segera cepat menyelesaikan perintah Joonmyun. Sudah 4 kali tangga ia lewati seorang diri. Jungkook hafal jalan menuju ruang guru, oleh sebab itu walaupun cukup gelap, Jungkook bisa sampai ke tujuan. Lalu membuka pintu ruang guru.
Lampu di ruang guru ternyata masih nyala. Mendapati meja bertuliskan 'Kim Joonmyun', Jungkook lalu meletakkan dokumen yang sedari tadi dibawanya.
"Melelahkan sekali. Baiklah Guru Kim. Tugasmu sudah kukerjakan! Apa sekarang aku boleh kembali ke Hutan untuk menemui spesies cantik tersebut?! Jika tidak, kau bukan Ayah angkatku lagi Guru!" Jungkook berteriak sendiri melampiaskan kekesalannya di ruang guru.
BRRUUKKK!
-Jungkook POV
Suara apa itu?
.
Keras sekali. Barangkali ada benda jatuh di luar.
.
Tapi tak mungkin benda jatuh sekeras ini kan?
.
Aku tak peduli. Kini tugas terakhirku hanyalah mengembalikan buku ini ke Perpustakaan.
Lagi-lagi aku harus menuruni 4 kali tangga. Guru Kim terlalu jahat bagiku. Jahat. Jahat sekali. Tapi aku menyayanginya sebagai Ayah angkat, hahaha.
Perpustakaan letaknya berada di samping Sekolah.
Kini aku langsung menghampiri Perpustakaan yang kini... Terlihat aneh?
.
Sungguh, benar-benar aneh.
.
Pintu rusak dalam keadaan terbuka?
.
Penasaran, aku mencoba terus berjalan masuk. Beberapa langkah setelah itu, aku pun masuk, tapi entah kenapa kepalaku masih terasa terhujani.
.
Aku bingung mengapa tak ada atap yang seharusnya melindungiku dari guyuran air hujan.
.
Terlihat buku-buku yang sudah ditata rapi berubah jadi berhamburan tak beraturan, juga basah karena air hujan.
.
Langit-langit perpus yang tadinya adalah atap, berubah menjadi hancur berkeping-keping dan tak bisa menaungiku dari hujan.
.
Lantai 2 sudah benar-benar terlihat rusak, ambruk, buku yang letaknya di lantai 2 juga tak kalah berantakan.
.
Aku mendongak ke atas, dan kini aku mendapati serta merasakan langit yang sedang menghujan.
.
Sebenarnya apa yang terjadi pada perpustakaan ini?
.
Apa suara keras gemuruh yang kudengar tadi asalnya dari tempat ini?
.
Tapi apa penyebabnya? Tak ada pesawat jatuh, atau apalah semacamnya.
.
Kini pandanganku terasa terhalangi.
.
Oh. Ternyata hanya bulu.
.
Unik sekali jika ada hewan bersayap yang membuat kerusakan ini.
.
Sepertinya aku harus menyimpan bulu ini.
.
Namun aku juga berpikir tak mungkin, barangkali saja ini bulu badminton atau sesuatu yang mempunyai bulu juga seperti... Kemoceng?
.
Tapi sejak aku bisa melihat dunia, aku tak pernah sama sekali melihat ada bulu kemoceng berwarna putih.
.
Lupakanlah.
.
Hanya aku seorang diri saja yang berada di tempat ini, dan aku bukanlah saksi atas kejadian ini sebelumnya. Tapi aku saksi pertama yang melihat kerusakan ini.
.
Dan apakah benar-benar hanya aku yang berada disini dan melihat kerusakan sangat tak masuk akal ini?
.
"Sakit... Hiks, hiks."
.
Suara siapa itu?!
.
Bagaimana bisa ia berada disini?
.
Kali ini aku benar-benar ingin tahu, mendengar itu aku langsung mencari sumber yang terdengar sangat dekat.
.
Aku menemukannya. Ia juga sesosok manusia sama sepertiku.
.
Ia terduduk dalam keadaan melipat kaki dan menutup wajah dengan kedua tangannya di balik salah satu rak buku.
Punggung dan kakinya terluka.
Apa mungkin lukanya itu membuktikan bahwa ia yang membuat kerusakan perpustakaan ini?
Mungkin. Tapi ia tak mungkin sengaja, ia meringis terus dan terus.
Walaupun hujan sangatlah deras, aku dapat mendengar suara isak tangis yang berasal dari dirinya.
Menyadari kedatanganku, orang itu mencoba melihatku walau hanya sekilas, dan kembali menutup wajah sambil menangis tersedu-sedu.
Wajahnya masih bisa dilihat walaupun suasana sangat gelap dan ditemani air yang tidak berhenti untuk menghujan.
Mencoba mengingat, bukannya aku pernah bertemu dengannya? Tapi kapan? Bertemu dimana? Dan dia siapa?
.
Mungkin sekarang aku ingat.
.
Dia...
.
.
.
Jimin?
TBC
mungkin update-an bakal berlangsung cukup lama, soalnya mikirin sambungan cerita susahh banget, apalagi ntar kenaikan kelas akhir TT
Reviews please? ;)
