Taraaaaa!

Akhirnya update juga :3

Maaf kalo yang ini rada-rada pendek -.-

Abis aku ngebet sih pengen nge-publish (?)


Oh iya, disini sudah mulai-mulai ya fantasy-nya ya (?), Soalnya ada paranormal, paranormal-nya bias Fany pula /apa

Happy reading yo~~~! :3


-Jungkook POV end

Itu Jimin. Dan Jungkook yakin kalau ia tak salah mengira.

Masih benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi di perpustakaan ini. Kenapa ia melihat orang yang ia kenal disini? Pada saat-saat ini juga? Dan kenapa hanya 1 orang? Bukti apa yang bisa membuktikan kalau ia adalah penyebab ini semua?

Jungkook hanya menemukan bulu-bulu putih yang tadinya menghalangi penglihatannya, kini ia menyimpannya karena menurutnya sepertinya itu berguna.

Tak peduli pada keadaan cuaca dan kerusakan, Jungkook mendekati Jimin, lalu memakaikannya jaket yang awalnya dikenakannya walaupun pada akhirnya ia mengalah jadi kedinginan dan basah kuyup.

"Jimin?"

"..."

"Bagaimana bisa kau disini?!"

"..."

Merasa Jimin tak memberi jawaban sedikitpun, Jungkook tak ingin berlama-lama di tempat rusak yang sudah dingin akibat hujan ini. Jungkook menundukkan badannya, lalu menawarkan punggungya untuk Jimin.

"Naiklah."

Jimin mengangguk, walaupun kakinya masih sangat sakit, ia masih bisa sedikit bergerak untuk segera naik ke punggung milik Jungkook. Jimin melingkarkan tangannya di leher Jungkook, sedangkan tangan Jungkook menahan kaki Jimin di bagian tekukan lututnya.

"Aku.. Hiks. Tanganku sakit..."

"Bertahanlah. Aku akan berusaha membawamu pulang."

'Mengapa dia bisa sampai kesini? Bukannya dia tersegel? Beruntung aku tinggal bersama Guru Kim, dan beruntungnya lagi rumah Guru Kim tak jauh dari sini.' Batin Jungkook dalam hati sambil tak berhenti berjalan.

Jalan yang ia tempuh terlihat sangat sepi karena sudah cukup larut malam. Terus berjalan cepat melawan derasnya hujan, walaupun angin yang sangat dingin telah menusuk kulit dan menghalangi langkahnya, hal itu bukanlah sebuah hambatan bagi Jungkook untuk tetap membawa Jimin sampai kediamannya.

"Guru Kim tolong buka pintunya!"

Tidak ada respon. Sepertinya Joonmyun sudah tertidur.
Ia mencoba membuka pintu, ternyata tak terkunci.

Dengan cepat, Jungkook pun menggendong Jimin yang kini sangat lemah sampai ke kamar tamu.

Ia meng-handuk-i Jimin yang sangat basah, namun Jungkook tak bisa mengobati luka Jimin.

Melakukan apa yang bisa dilakukannya, Jungkook mencari-cari apa saja yang bisa mengobati luka. Sampai akhirnya ia mendapatkan kotak P3K dan langsung kembali ke kamar.

Jungkook lalu mengeluarkan obat dan kapas, mungkin ia tahu Jimin akan merasa kesakitkan jika merasakan obat ini di bagian lukanya, namun tak ada cara lain yang bisa dilakukannya pada saat larut malam seperti ini.

"Awh!" keluh Jimin kesakitan.

"Diamlah, atau lukamu tambah parah."

Jimin mencoba untuk diam saja. Ingin mengeluarkan suara namun tetap menuruti apa yang Jungkook katakan, dan menampakkan ekspresi sakit karena obat merah yang dipakaikan Jungkook tak akan menyembuhkan luka di kaki dan punggung, pikirnya.

Sambil mengobati, Jungkook ingin mencoba menghilangkan rasa kebingungannya tentang kerusakan Perpustakaan dengan bertanya.

"Bagaimana bisa kau ke perpustakaan sekolahku?"

"Hujan... Kilat..."

"Lalu?"

"Maaf tapi aku tidak bermaksud apa-apa!"

"Ada apa denganmu hah?" tanya Jungkook benar-benar tak mengerti.

Jimin menggeleng dan tak mengatakan apa-apa lagi. Jungkook tak bisa memaksanya berbicara karena ia tahu Jimin sangat merasa sakit dan lemah.

.

Pagi telah tiba. Jungkook masih belum menunjukkan dirinya.

Sedangkan Joonmyun bangun paling awal. Masih shubuh, namun ia sudah menggunakan baju lengkap untuk mengajar ke Sekolah, datang terlalu pagi sudah menjadi hal biasa baginya. Setelah siap, Joonmyun ingin membangunkan anak angkatnya.

Jika ingin ke kamar Jungkook di lantai 2, sebelum menaiki tangga, ia melewati kamar tamu yang pintunya masih terbuka. Awalnya Joonmyun acuh saja ketika lewat kamar itu. Tiba-tiba ia memundurkan langkahnya, dan pandangannya terfokus pada seseorang yang terbaring disitu.

"Apa aku mengenalnya...?"

"Guru Kim, itu temanku. Ia semalam ku lihat sedang terluka parah, Apa kau tidak keberatan dengannya?"

Suara anak angkat itu hampir mengejutkan Joonmyun yang dari tadi melamun melihat Jimin dari luar kamar. Jungkook muncul tiba-tiba dari belakangnya dalam keadaan sudah berpakaian seragam lengkap disertai dengan tas.

"Kau mengejutkanku saja. Tumben pagi sekali kau bangun, jadi ia teman yang kamu maksud?"

Jungkook mengangguk sekali. "Ia juga menolongku saat aku menghilang di hutan."

Anak ini ada-ada saja."Ooh... Ayo kita berangkat ke Sekolah sekarang saja"

"Bagaimana dengannya?"

"Rumah ku kunci, ia takkan kabur selama kunci berada di tanganku."

"Baiklah, Guru..."

Sudah pasti Jungkook adalah murid paling pertama datang. Sekolah masih terlihat sepi, dan masih terlihat kerusakan di perpustakaan. Seluruh murid dan guru yang datang setelahnya membicarakan tentang kerusakan perpustakaan yang tak diketahui sebabnya.

Jungkook hanya diam di kelas, mungkin ia tak akan memberitahunya pada siapapun tentang kerusakan itu. Sampai mengetahui penyebab sesungguhnya.

"Hey Kook! Ayo kita ke lantai bawah, kau harus melihat kerusakan itu."

Jungkook memutar bola matanya ketika melihat kalau ajakan itu berasal dari Taehyung, sesungguhnya ia malas. Tak ada yang tahu kalau Jungkook lah saksi utamanya.

"Aku bingung apa yang menyebabkan kerusakan ini."

"Entah." Jawab Jungkook.

"Apa kau tau tentang kerusakan ini? Kau kan tinggal di rumah guru yang kaya itu, dekat sini"

"Tidak tahu." Bohong Jungkook.

Ding.. Dong...

Bel masuk telah berbunyi. Semua yang melihat kerusakan tadi lalu kembali ke kelas masing-masing. Namun masih ada beberapa guru yang tetap disana, Joonmyun salah satunya.

Di Kelas, Jungkook masih memikirkan kejadian tak masuk akal semalam.

"Pelajaran pertama hari ini IPA kan?"

Sahabatnya tersebut menoleh "Iya. Tadi aku dapat informasi, guru kita baru untuk hari ini, kita akan mempelajari semua yang berhubungan dengan luar angkasa"

'Aku benci IPA... Lebih daripada matematika...' batin Jungkook.

"Selamat pagi murid-murid!" sahut Guru baru yang dimaksud Taehyung tadi.

Jungkook yang duduk paling depan bisa membaca tag name yang dipakai di jas sebelah kiri lelaki itu dengan jelas bertuliskan "Zhang Yixing" masuk ke kelasnya.

"Pagi guru." jawab seluruh murid.

"Perkenalkan, aku guru baru di SMA ini, namaku Zhang Yixing, kalian boleh memanggilku Zhang atau Xing, salam kenal." ujar Yixing sambil tersenyum menunjukkan dimplenya sambil menunduk 90 derajat.

Ketika melihat Yixing, Jungkook menilai penampilannya yang menggunakan jas sangat formal. Wajahnya terlihat awet muda, karena jasnya juga berwarna sama seperti yang digunakan murid, ia juga terlihat seperti murid, menurut Jungkook. 'Sepertinya beliau lebih baik daripada guru yang sebelumnya'

"Hari ini aku akan mempelajari tentang Bulan, minggu depan tentang tata surya."

Yixing membuka kertas gulungan besar, kertas itu bergambar macam-macam bulan dan sedikit tulisan tentang macam-macam bulan itu. Lalu menempelkannya ke papan tulis dan kembali menghadap ke arah murid.

"Kalian pasti tidak asing bukan ketika mendengar nama 'Bulan Purnama'?"

"Bulan penuh yang sangat indah, guru!" secara tiba-tiba murid perempuan bernama Hayoung menjawabnya.

"Ya, dia sangat terlihat indah, lebih indah lagi jika ia disertai dengan bintang-bintang. Namun munculnya tidak sering, ada yang tahu kapan saja ia muncul?"

Taehyung yang duduk di sebelah Jungkook langsung mengangkat tangannya ingin menjawab. "14 hari sekali!"

"Benar! Lebih tepatnya ketika terjadi pasang surut setiap 2 kali dalam sebulan."

-Jungkook POV

Sepertinya aku tak asing dengan penjelasan dari Guru Xing dan jawaban dari Taehyung.

Aku ingat sekali ketika aku sempat menghilang di hutan. Bulan purnama sedang menunjukkan diri dengan indahnya ditemani oleh bintang-bintang, dan disaat yang sama juga aku melihat Pegasus itu, lalu Jimin mengatakan kalau ia hanya menunjukkan diri setiap 14 hari sekali.
Kemarin, ada juga bulan purnama, tapi aku tak sempat melihat kuda cantik itu.

"Hey kamu, berapa kali sebulan purnama muncul?"

Berarti, pegasus itu hanya muncul pada saat bulan purnama? Unik sekali hanya muncul malam hari, apalagi disaat yang tertentu saja. Pantas sekali jika fajar telah menyingsing ia langsung menghilang dengan sangat tiba-tiba.

"Kamu yang di depan, jawab pertanyaanku!"

Untuk 14 hari setelah kemarin aku tak boleh melewati waktu itu, aku harus melihatnya kembali tepat pada saatnya. Tak boleh ada kegagalan seperti kemarin. Aku benar-benar sangat merindukan sosok indahnya.

"Hey, kamu!"

"Aduh!"

Ya! Guru baru itu melemparkan penghapus papan tulisnya tepat di kepalaku! Apakah tak ada cara lain untuk membuatku tersadar dari lamunan, hah?

"Kau mendengar apa yang ku bilang tadi?"

Tentu saja aku mendengar, memangnya dia pikir gendang telingaku tak berfungsi? Dan pasti aku bisa menjawabnya dengan lancar. "Ia muncul 2 kali dalam sebulan, atau lebih tepatnya ketika pasang surut yang terjadi setiap 2 minggu sekali."

"Baiklah, kau benar. Ku kira kau daritadi tak mendengarku."

.

Pelajaran berakhir, kata-kata dari guru Zhang tadi masih terpikir olehku tentang pelajarannya. Beliau benar-benar membuatku ingin tahu.
Dengan langkah yang sedikit pelan untuk menemui guru Kim, aku pun merasa ada yang menabrak bahu kiri ku dengan bahu kirinya juga, dan kami sama-sama langsung menghentikan langkah.

"Pulanglah, ini kuberi kunci rumah." Ujarnya sambil memberi kunci ke tanganku.

Ternyata itu ayah angkatku, untung saja kami bertemu disini dan aku tak perlu mencarinya lagi. "Kau ada urusan apa, Guru?"

"Tak hanya aku, tapi hampir sebagian besar guru. Kami masih mencari tahu penyebab kerusakan perpustakaan itu, untuk saat ini belum ada tanda apapun."

Astaga. Hal ini bahkan masih dicari tahu sekali penyebabnya.

Apa aku perlu memberitahukannya?

Tidak. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin, aku hanya saksi pertama.

"Baiklah, guru."

- Jungkook POV end

Cklek

Sepi, seperti tak ada tanda kehidupan di rumah itu. Memang sudah biasa, karena rumah mewah yang ia tinggali bukanlah bertempat di kawasan yang selalu ribut atau seperti pinggir jalan raya yang juga selalu terdengar suara kendaraan bermotor, juga Jungkook hanya tinggal berdua dan kini ditambah satu.

Tunggu dulu, bertambah satu?

Sekarang Jimin...

Dengan sigap Jungkook melempar tasnya ke sembarang arah lalu segera melihat ke kamar yang ditiduri oleh Jimin kemarin.

Tidak ada.

Panik, itu yang dirasakan Jungkook sekarang.
Jimin mungkin tak tahu apa-apa tentang rumah ini, ia selama hampir 9 tahun hanya hidup di Hutan, tanpa ada satupun yang menemaninya, namun Jungkook berpikir kalau Pegasus yang ia lihat adalah salah satu temannya.

"Kuda... Ini... Orang ini siapa ya?"

Gendang telinga Jungkook te-respon ketika mendengar suara pelan itu, berasal dari lantai 2. Langkah Jungkook cukup cepat untuk menaiki tangga panjang. Rasa panik tak lagi memasuki batin Jungkook, kini ia lega setelah mendapati Jimin. Sedikit heran karena Jimin mengelus-elus patung Kuda yang ia yakini milik Joonmyun, seperti kuda itu adalah temannya sendiri.

"Kau ini, kenapa kau keluar kamar? Dan... Untuk apa kau melihat patung kecil itu?" tanya Jungkook sambil menaikkan sebelah alisnya.

Jimin yang menyadari ada yang mengajaknya berbicara, ia lalu mengalihkan pandangannya ke Jungkook, namun hanya sekilas dan kembali mengelus patung yang terbuat dari kramik itu. "Ti... Aku hanya ingin melihat patung kuda ini..." jawabnya tanpa melihat Jungkook.

"Kenapa memangnya?"

"A... Aku takut..."

Dalam hitungan detik setelah menanyai Jimin, sesuatu telah mendekap Jungkook.

Jimin terlihat sangat sedih, ia pun memeluk Jungkook erat dengan melingkari tangannya di pinggang Jungkook.
Sejujurnya Jungkook sangat bingung, Jimin sangat terlihat aneh untuk saat ini, bukan hanya hari ini, tapi sudah dari kemarin. Ia sepertinya sedang mengeluarkan perasaannya dengan air mata di dada bidang Jungkook yang ditutupi seragam sekolah, Jungkook pun membalas pelukannya lebih pelan.

"Hiks... Hiks..."

"Uljima... Uljima..."

Ketika membalas pelukan Jimin, Jungkook melihat kaos bagian belakang yang digunakan Jimin cukup banyak noda merah yang sepertinya tak henti-hentinya untuk terus keluar, darah, seketika Jungkook langsung melepaskan pelukannya, dan mendapati baju bagian dadanya telah dibasahi air mata, namun Jungkook tak peduli.

"Tak ada waktu lagi buat menangis, kau harus memakai perban baru."

Jimin hanya menggeleng.

"Kenapa? Kalau tidak disembuhkan kau mau gimana, hah?"

Tok.. Tok.. Tok..

"Ck."

Ada yang mengetuk pintu, Jungkook meyakini itu adalah Joonmyun. Dengan langkah cepat ia pun turun tangga dan meninggalkan Jimin yang terdiam masih menangis.

Jungkook membuka pintunya. "Guru Kim, kau..."

"Hah, Guru Zhang?"

"Selamat siang, maaf aku datang. Kau ternyata yang dimaksud Joonmyun anak angkat?"

"Iya, aku adalah anak angkatnya. Ada apa?"

"Apa aku bisa menemui Joonmyun sekarang?"

"Guru Kim? Dia... Belum pulang. Bukannya sedang mengurus tentang kerusakan perpustakaan itu?"

"Oh, aku lupa. Itu memang benar. Aku tak ikut karena aku harus meneliti banyak hal lagi."

"Meneliti apa? Hm... Silakan masuk, duduklah di ruang tamu ini." Tawar Jungkook.

Mereka berdua pun duduk. Yixing menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Begini, aku adalah seorang ilmuan, aku juga tahu banyak tentang ilmu alam yang tidak diketahui banyak orang."

"Benarkah? Jadi kau..."

"Ya, aku adalah paranormal. Tapi kau jangan salah, aku bukanlah yang seperti kau pikirkan." Dengan jujurnya tanpa mengatakan kalau hal itu adalah sebuah rahasia, Yixing mengatakan kalau dirinya adalah seorang Paranormal. Yang Jungkook ketahui, paranormal adalah yang bisa melihat sesuatu apa yang tidak bisa orang biasa lihat, bukan hanya hantu

"Jadi? Kenapa kau bisa menjadi guru?"

"Aku juga manusia, aku juga ingin menghidupkan diriku sendiri. Menjadi seorang paranormal bukanlah sebuah pekerjaan."

"Jadi? Bisa kau bacakan mantra yang kau miliki? Dan apabila aku mendengarnya akan bereaksi?"

"Maaf, aku tak bisa mengatakannya. Mantra ini hanya berfungsi pada yang benar-benar membutuhkan hal baik maupun jahat. Tapi sampai saat ini, aku tak pernah menggunakan ilmu jahat."

"Waeyo? 1 mantra baik saja bisa?"

Nampak Yixing kini berpikir mantra apa yang harus ia bacakan sekarang, lalu segera menyebutkannya."Si diguaro él."

Wajah dan tatapan mata Yixing terlihat sangat serius ketika membacakannya. Tak ada apa-apa yang terjadi pada Jungkook, namun kini ia mendengar suatu suara manusia.

"Ah!"

"Jimin!"

Jungkook baru ingat kalau ternyata sedari tadi ia meninggalkan Jimin karena kedatangan Yixing, ia pun langsung menaiki tangga lagi dan melihat Jimin yang... Sekarang sudah bersih dari darah.

"Apa yang ter... Kenapa luka ini bisa hilang?"

"Seseorang membaca sebuah mantra padaku."

Jangan-jangan... "Ayo kita turun ke bawah."

Mereka berdua turun tangga, dengan Jimin yang kini dituntun oleh Jungkook dengan cara memegang kedua pundaknya dengan kedua tangan.

"Guru Zhang, mantramu tadi artinya apa?"

"Sembuhkanlah."

"Kau tahu? Dia tadi punggungnya dipenuhi darah, dan ketika kau membaca mantranya, luka itu sembuh."

Wajah Yixing yang tadi serius kini berubah menjadi ekspresi terkejut, matanya langsung membulat, ia lalu mendekati Jimin yang berada di tuntunan Jungkook. Yixing memegang tangannya, melihat telapak tangan Jimin dengan serius dan menatap dalam mata Jimin. Jungkook yang berada di sampingnya hanya bisa melirik bingung dengan apa yang Yixing lakukan.

Yixing menatap Jungkook. "Bisakah kau menjauh sedikit?"

"Baiklah..."

"Apakah ia mengetahui kau yang sebenarnya?" bisik Yixing pada Jimin, dan hanya dibalas dengan gelengan kepala.

"Hm. Sebaiknya kau istirahat ke kamarmu."

Jimin pun pergi meninggalkan Yixing dan Jungkook.

"Jungkook."

"Ya?"

"Kau jangan pernah mempermainkan makhluk itu."

"Makhluk itu? Jimin?"

Yixing memejamkan matanya sekitar 5 detik untuk berpikir, lalu membuka matanya kembali. "Ya. Kau harus mengetahuinya, ia tak memiliki hati."

"Maksudmu?!"

"Kau tidak tahu dia. Kau jangan pernah sembarangan dengannya. Hidupkan dia terus."

Cklek

"Yixing, sedang apa kau disini?" tanya Joonmyun yang tiba-tiba pulang.

Menyadari kedatangan Joonmyun, Yixing pun berdiri."Ah, Joonmyun. Tidak, aku hanya ingin memberi ini." Ujarnya sambil memberi beberapa buah dokumen. "Berikan besok kepada Kepala Sekolah."

"Baiklah, terima kasih." Balas Joonmyun lalu menunduk 90 derajat.

"Apakah kau telah mendapatkan penyebab kerusakan tadi?"

"Tidak, tapi sepertinya karena kesambar petir dari hujan deras kemarin. Sangat dahsyat, dan kami pikir juga karena Perpustakaan itu kurang kuat."

"Kau salah mengira." Jawaban pendek dari Yixing membuat Joonmyun bingung dan semakin berpikir, Yixing adalah guru baru, bagaimana caranya ia mengetahui itu? Tanpa respon Joonmyun, Yixing lalu meninggalkan rumah itu.

Ketika melihat Yixing sudah cukup jauh dari pintu rumahnya, Jungkook pun memanggilnya. "Guru Zhang!"

Pemilik nama tersebut menghentikan langkah kakinya.

"Dimana rumahmu?"

"Kau tidak perlu mengetahuinya." Jawab Yixing tanpa menghadap ke Jungkook, lalu kembali berjalan.

Kau membuatku ingin menjadi muridmu...

-Jimin POV

Aku tahu orang tadi, ia adalah seorang paranormal yang mengetahui segala hal tentang orang yang tersihir sepertiku, yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya. Tatapan matanya benar-benar sangat meyakinkan.

Ku lihat dari pandangannya tadi, sepertinya ia melarangku untuk memberitahu kepada Jungkook. padahal ku pikir Jungkook bukanlah orang jahat, sedangkan ia tadi mengisyaratkan padaku sesuatu yang sangat membahayakan.

Jangan, aku tahu kalau Jungkook akan menyukai hal ini. Tapi aku tetap harus menuruti apa kata paranormal tadi. Jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan meminta sedikit ilmu baik.

Aku bosan jika harus berada diatas ranjang terus. Aku mencoba membangkitkan diri, dan berjalan melihat-lihat barang di kamar ini. Aku pernah melihat semua benda ini di rumahku yang jauh di Hutan, terkecuali pada 1 benda.
Benda itu kaca, namun namanya bukanlah Kaca, dari kejauhan aku melihatnya bisa memantulkan bayangan benda yang berada di dekatnya. Dan mungkin aku bisa melihat diriku sendiri di depan benda panjang itu. Kudekatkan diriku sampai akhirnya berada di depan benda yang belum ku tahu namanya itu.

Tapi...

Kenapa bukan bayanganku dengan fisik manusia yang terlihat di benda itu?

Aku melihat diriku sebagai sesosok...

Kuda?

Dan... Kemana sayapku menghilang?!


TBC

Kookie gak tau siapa Jimin yang sebenarnya...

Tapi reader pasti tau kan? Iya kan? tau kan? tau donkk :3

Uwaahhhh! Fany seneng banget sumpah waktu banyak yang muji fanfic ini

Maaf ya lanjutannya pendek, soalnya gak banyak waktu :(

Ini fanfic kayanya BTSEXO ya XD wkwk, abis mereka itu 2 boyband yang kusuka banget~~

Fany janji deh chapter selanjutnya bakal lebih panjang dan alurnya gak terlalu lambat, kkk~ .

Tolong supportnya buat yang Chapter 6 ^^